• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LANGKAH-LANGKAH FASILITASI DESA INKLUSIF

H. Fasilitasi Penguatan Kelembagaan Sosial

I. Fasilitasi Penguatan Adat dan Budaya Desa

Penyelenggaraan Desa Inklusif juga mencakup pengembangan, penguatan dan pelestarian adat budaya dan tradisi di Desa guna memperkuat ketahanan sosial budaya masyarakat Desa. Penempatan partisipasi warga Desa termasuk kelompok marginal dan rentan, sebagai akar gerakan sosial dan budaya di Desa, dilakukan dengan cara melestarikan dan memajukan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal sebagai pedoman perilaku kepala Desa, perangkat Desa, anggota BPD dan warga Desa dalam penyelenggaraan Desa yang dikelola secara inklusif. Nilai-nilai inklusi sosial seperti keterbukaan, keramahan, kesetaraan, toleransi, sikap saling menghargai dan kesukarelaan untuk merangkul setiap perbedaan sejatinya merupakan nilai-nilai tradisional yang hidup di Desa. Penyelenggaraan Desa Inklusif akan diperkuat keberadaannya melalui penguatan nilai-nilai tradisional ini agar warga Desa lebih mudah menjalankannya.

Pendamping masyarakat Desa melakukan fasilitasi penguatan adat dan budaya dalam penyelenggaraan Desa Inklusif melalui cara-cara sebagai berikut:

1. Penulisan Sejarah Desa

Nilai-nilai tradisional diwariskan turun temurun dan menyejarah dalam adat budaya Desa. Nilai-nilai tradisional menjadi peristiwa yang dilakukan penghuni Desa pada masa lampau di tempat tertentu dan pada waktu tertentu. Sebagai peristiwa masa lampau, sejarah Desa sering dipahami sebagai peristiwa yang senyatanya ada di Desa, dan dipahami pula sebagai kisah peristiwa yang dituturkan, dituliskan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Penulisan sejarah Desa akan membantu pemerintah Desa, BPD dan warga Desa untuk dapat memahami kisah peristiwa di masa lampau. Berdasarkan sejarah Desa ini, dilacak kembali asal muasal adat dan budaya yang memuat nilai-nilai tradisional yang bercirikan inklusif. Tulisan tentang sejarah Desa menjadi bukti nyata bahwa pada masa lampau: a) nilai-nilai inklusi sosial sudah dijalankan warga Desa, atau b) nilai-nilai inklusi sosial ditabukan dan dilarang untuk dijalankan.

Kotak 28. Pelacakan Sejarah Desa Salamrejo

Penguatan adat dan budaya Desa dapat dimulai melalui pelacakan sejarah Desa. Sejarah Desa yang partisipatif lahir dari pertemuan anak muda dengan orang-orang yang dituakan untuk menggali pengalaman masa lalu, menyingkap pengetahuan tersembunyi, dialog dan konfrontasi antar pribadi terkait perubahan yang ada di Desa. Tujuannya adalah

66 menghadirkan ingatan-ingatan perubahan di Desa dan memunculkan kesadaran pentingnya sejarah bagi warga Desa.

Inilah yang dilakukan oleh Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo. Lima belas (15) anak muda dari Salamrejo, 5 perempuan dan 10 laki-laki, sebagian besar masih duduk di bangku SLTA bertanggung jawab untuk menulis sejarah Desa Salamrejo. Penulisan sejarah Desa Salamrejo juga membutuhkan keterlibatan banyak pihak dengan keahlian masing-masing melalui musyawarah kebudayaan Desa. Selama tiga hari, 15 anak muda ini mencari bekal untuk untuk melaksanakan penulisan sejarah. Sejumlah antropolog, pemerhati budaya Jawa, penulis buku, fotografer dan juga perwakilan warga dari Salamrejo diajak terlibat sejak awal. Anak-anak muda ini menggali pengetahuan mereka sebagai bekal untuk bekerja. Hasilnya adalah anak-anak muda tersebut memiliki bekal pengetahuan baru menulis sejarah sebagai langkah awal untuk mengerjakan riset dan penulisan sejarah Desa Salamrejo berupa gambaran umum Desa Salamrejo, metode penggalian data, pertanyaan kunci dan pengetahuan. Hampir 4 bulan, anak-anak muda dari Desa Salamrejo bekerja melakukan wawancara terhadap para orang-orang yang dituakan di Salamrejo untuk menuliskan kembali tempat dan bangunan sejarah, potensi Desa, ritual atau kegiatan bersama Desa dan organisasi di Desa Salamrejo. Kemudian menuliskan hasilnya dan dipresentasikan untuk mendapat masukan baru. Setelah 4 kali melakukan presentasi, akhirnya tulisan sejarah Desa dinyatakan selesai.

Penulisan sejarah Desa tersebut kemudian dibukukan dan diterbitkan menjadi buku “Salam Kemakmuran dari Bantaran Kali Progo Melacak Sejarah Desa Salamrejo”. Buku tersebut kemudian dipromosikan melalui peluncuran dan presentasi yang dihadiri oleh Bupati Kulon Progo. Berdasarkan penulisan sejarah tersebut, Kepala Desa Salamrejo menginisiasi Peraturan Desa tentang hari jadi Desa Salamrejo. Salah satu perubahan yang tampak mata adalah rasa tengang rasa Desa Salamrejo semakin meningkat. Saat ini untuk kegiatan bersama Desa, misalnya peringatan hari jadi Desa, pemerintah Desa mengajak semua perwakilan kelompok untuk terlibat.

2. Musyawarah Desa untuk Pemajuan Kebudayaan

Hasil penulisan sejarah Desa menjadi titik pangkal bagi kepala Desa, perangkat Desa, anggota BPD dan warga Desa untuk memulai perumusan gagasan tentang arah gerak pemajuan kebudayaan Desa. Upaya pemajuan kebudayaan dilakukan dengan cara melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan Desa. Arah gerak sebuah Desa mengubah dirinya menjadi Desa Inklusif merupakan bagian dari pemajuan kebudayaan ini.

67

Pemajuan kebudayaan Desa harus dibahas dan disepakati dalam musyawarah Desa. Perwakilan kelompok marginal dan rentan wajib hadir dan berpartisipasi dalam musyawarah Desa untuk mengawal upaya penguatan nilai-nilai inklusi sosial menjadi bagian dari pemajuan kebudayaan.

3. Penyusunan Peraturan Desa tentang Adat dan Budaya Desa

Kepala Desa bersama BPD akan menyusun dan menetapkan peraturan Desa tentang pemajuan kebudayaan berdasarkan hasil musyawarah Desa. Pembahasan rancangan peraturan Desa diselenggarakan melalui musyawarah BPD untuk penetapan Perdes tentang pemajuan kebudayaan Desa. Warga Desa khususnya kelompok marginal dan rentan harus memantau penyusunan peraturan Desa tentang pemajuan kebudayaan Desa agar produk hukum yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan dalam musyawarah Desa.

4. Literasi Kebudayaan Desa

Seluruh warga Desa harus ikut serta memperkuat adat dan budaya Desa yang memuat nilai-nilai inklusi sosial. Kosa kata tertentu yang digunakan dalam percakapan warga Desa, khususnya yang mengandung muatan nilai-nilai inklusi sosial, digaungkan terus-menerus menjadi kata-kata kunci pemajuan kebudayaan. Untuk itu, peraturan Desa tentang kemajuan kebudayaan Desa dijelaskan, dibelajarkan dan diperbincangkan warga Desa. Warga Desa mampu mengolah dan memahami nilai-nilai inklusi sosial yang terkandung dalam adat dan budaya Desa pada saat mereka melakukan tindakan pembacaan, perbincangan maupun penulisan tentang Desa Inklusif.

Kotak 29. Membincangkan Tentang Tradisi yang Pernah Ada di Pulau Belitung

Suku Sawang adalah salah satu etnis di Pulau Belitung yang hidupnya berpindah-pindah terutama di wilayah laut. Mereka memiliki ritual adat bernama Buang Jong. Ritual adat ini merupakan tradisi buang perahu untuk menghormati leluhur dan keluarga yang telah tiada, serta memohon kesejahteraan saat melaut. Jenis perahu yang di buang ke laut adalah perahu layar tradisional. Kegiatan ini terdiri dari nyanyian, tari-tarian dan musik tradisional bernuansa magis serta religius karena erat kaitannya dengan kepercayaan dewa-dewa terutama Desa laut. Tradisi ini sempat hilang di beberapa generasi karena adanya perubahan lokasi tempat tinggal di darat. Perpindahan ini terjadi atas kebijakan Orde Baru melalui program relokasi. Akibatnya anak-anak muda tidak dapat menyelam serta tidak memiliki keahlian lainnya sebagai anak laut.

68

Melihat hal ini Lembaga Swadaya Masyarakat “Amair” memfasilitasi pertemuan para tetua adat yang sudah berumur lansia untuk membincangkan tentang tradisi yang pernah ada. Tradisi yang mengandung nilai-nilai dalam membangun kehidupan, yang mendekatkan suku Sawang dengan leluhurnya termasuk mengembalikan nilai asal usul sebagai anak laut. Maka ritual Buang Jong ditemukan melalui cerita-cerita para tetua tentang tradisi yang pernah ada. Para tetua merasa ini perlu dihidupkan, penghormatan kepada leluhur yang telah lama hilang perlu diadakan. Lalu mereka bermusyawarah menyampaikan gagasan untuk mengembalikan Buang Jong. Ini adalah bagian dari revitalisasi budaya. Oleh karena itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mendukung bahkan membiayai ritual ini. Kini Buang Jong tidak hanya dimaknai sebagai ritual adat saja, sekarang pemerintah Desa telah mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan ritual ini melalui Dana Desa/ Anggaran Dana Desa. Kini Buang Jong menjadi ikon wisata yang selalu dinantikan di Belitung Timur.

Dokumen terkait