E. Teologi Feminis
2. Feminis Dalam Studi Alkitab Perjanjian Lama
Cerita tentang perempuan telah sepenuhnya dikeluarkan dari proses di mana budaya menemukan makna, menafsirkan masa lalu dan masa sekarang, serta mengorientasikan diri ke masa depan. Hal ini merupakan bentuk penindasan dari sistem patriakjis yang merendahkan perempuan.88
Status perempuan dalam masyarakat tergantung pada, hak dan kewajibannya secara religius, legal dan ekonomi.89 Alkitab adalah produk dari budaya patriarki, karena itu tidak mengherankan jika kisah-kisah dan aturan-aturan yang ada dalam Alkitab bersifat patriarkhis, yang juga turut mempengaruhi pembacaan dan penafsiran terhadap Alkitab. Letty M. Russel memahami Alkitab sebagai kabar baik, tulisan rahasia karena berfungsi sebagai tulisan yang memberikan semangat semangat hidup, yakni undangan Tuhan untuk bergabung dalam pemulihan keutuhan, kedamain, keadilan di dunia.90 Russel juga menambahkan bahwa, berita kitab suci selain dapat menjadi firman yang membebaskan bagi mereka yang mendengar dan bertindak di dalam iman. Namun, berita kitab suci ini perlu dibebaskan dari penafsiran seksis yang dapat mendominasi pikiran dan tindakan kita.91
Anne Clifford mengemukakan tiga cara pandang orang Kristen terhadap Alkitab.
Pertama, orang yang memandang Alkitab sebagai firman Allah yang harus diterima tanpa syarat. Kedua, Alkitab dipandang sebagai wahyu Ilahi dalam rekaman manusia yang ditulis di masa lalu oleh orang-orang yang bergumul tentang persoalan hidup dan iman. Alkitab
88
Hommes, Perubahan Peran, 83.
89
Hommes, Perubahan Peran, 71.
90
Letty M. Russel, Feminist Interpretation of the Book (Philadelpia: The Westminster Press, 1985), 137-138.
91
diterima sebagai firman Allah tetapi diberi makna baru. Ketiga, orang yang tidak dapat menentukan sikap terhadap Alkitab. Para teolog feminis ada dalam cara pandang kedua, mereka mengembangkan dengan bebas pandangannya terhadap Alkitab, dan dengannya membangun metode untuk merekonstruksi teks Alkitab.92
Schleiemacher adalah pemikir pertama yang menyeimbangkan fokus pada penulis dengan fokus pada teks. Latar belakang pemikiran ini, bahwa telah terjadi peralihan epistimologi ke ontologi sampai linguistik, dengan kata lain telah terjadi suatu pembaharuan dari pemahaman realitas kontekstual teks; antara pemahaman penulis serta pemahaman dari komunitas pembaca. Pergeseran paradigma ini turut mempengaruhi cara kita mengatahui (epistimologis) dan cara menafsirkan dunia di sekitar kita (hermeneutika). Oleh karena itu Schleiemacher menawarkan fase baru dalam konsep hermeneutik dengan memperkenalkan wacana dalam teori pengatahuan yaitu ke dalam proses pembaca. Pertama, ia menekanakan subjek (penulis) dan objek (teks) yang terlibat dalam proses interpretasi, sebaliknya pada pendekatan pencerahan bahasa dilihat secara umum (tertulis dan lisan) dipahami hanya sebagai representasi dari suatu gagasan. Kedua, Schleiermacher memperkenalkan pembaca sebagai pelaku penting dalam penjelasanya tentang lingkaran hermeneutik komunikasi; namun, dalam proses ini pembaca tetap merupakan agen pasif (yaitu sepenuhnya obyektif) dalam proses penafsiran.93
Katharina Doob Sakenfeld mengusulkan tiga aspek yang dapat digunakan oleh kaum feminis dalam menafsirkan Alkitab, yaitu:94 1) Mencari dan memperhatikan nats Alkitab yang bertantangan dengan nats yang sering digunakan untuk membatasi perempuan. 2) Memperhatikan seluruh kitab suci untuk memperoleh suatu perspektif teologis yang kritis
92
Clifford, Memperkenalkan Teologoi, 84-88.
93 Ahida E. Pilarski, “The Past and Futire of Feminist Biblical Hermeneutics”, Biblical Theology Bulletin Volume 41 No 1 (2011), 17
94
Letty M. Russel, Feminist Interpretation Of The Bible (Philadelpia: The Westminster Press, 1985), 55-56.
terhadap patriarki. 3) Memperhatikan naskah tentang perempuan dari sejarah dan cerita perempuan (dulu dan kini) yang hidup dalam lingkungan patriarki.
Melalui tiga aspek ini Sakenfeld menyimpulkan bahwa, Alkitab di satu segi dapat melukai perempuan dan mengaburkan kisah Allah, namun di segi lain Alkitab dapat menolong perempuan untuk memahami kemerdekaannya. Pendapat ini ditegaskan oleh Russel, ketika Alkitab di baca dari sudut pandang pengalaman perempuan yang tertindas, maka Alkitab dapat digunakan untuk menentang ketidakadilan serta menemui makna kehidupan dan spritulitas yang menunjang hidup.95
Elizabeth Cady Stanton dengan karyanya The Woman‟s Bible, juga turut mendukung pandangan seperti Sakenfel; melihat kitab suci sendiri memuat teks-teks yang digunakan sebagai pembenaran untuk melawan perubahan demi perbaikan kondisi kaum perempuan. Oleh sebab itu Stanton, berupaya merevisi teks-teks kitab suci dan perikop-perikop yang secara langsung mengacu kepada kaum perempuan, dan juga teks-teks di mana kaum perempuan ditonjolkan maupun dengan cara tidak menyebutkan mereka. Dengan tujuan yang sama bahwa Alkitab dapat menjadi penerang bagi perempuan. Salah satu contoh penindasan kaum perempuan ialah perkawinan, bagi Stanton orang-orang Kristen menggunakan teks-teks kitab suci guna mendukung keberadaan kaum perempuan dalam ranah rumah tangga, dengan demikian mengucilkan mereka dari lingkup publik.96
Dalam menafsirkan teks Alkitab, beberapa ahli menggunakan metode atau pendeketan yang berbeda-beda. Phyllis Trible, memberikan perhatian khusus terhadap teks Alkitab dan menolak adanya pemisahan antara teks dan tradisi. Baginya, Alkitab di umpamakan sebagai pengembara yang berkelana melewati sejarah guna menggabungkan
95
Marie Clairie Barth – Frommel, Hati Allah bagaikan Hati Seorang Ibu: Pengantar Teologi Feminis
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 33.
96
masa lampau dan masa kini. Trible menggunakan metode retorika dalam menemukan niat Allah lewat penafsiran teks.97
Bertolak dari kenyataan bahwa Alkitab dapat bersifat androsentrik dan di sisi lain teks-teks Alkitab dapat menjadi sumber kekuatan, maka Schussier Fiorenza mengusulkan metode hermeneutik kecurigaan dan hermeneutik kenangan sebagai suatu kebutuhan dalam melihat teks-teks Alkitab.98 Hermeneutik kecurigaan, menuntut seseorang untuk turut mempertimbangkan pengaruh dari berbagai peran dan pola sikap menyangkut jenis kelamin yang ditentukan secara kultural terhadap Alkitab. Titik tolaknya adalah pengandaian bahwa patriakat secara mendalam berdampak atas teks-teks Alkitab dan tafsiran-tafsiran yang mencakup bagaimana Alkitab memperlakukan perempuan di dalam berbagai penuturan kisahnya, dan juga apa yang didiamkan mengenai kaum ini. Sedangkan hermeneutik kenangan merupakan sisi lain dari hermeneutik yang mengakui perendahan martabat, pembuangan, penganiayaan yang dialami oleh perempuan dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai kenangan yang berbahaya guna menyediakan khazanah yang kaya bagi kita saat ini guna merancang sebuah teologi yang dapat menyembuhkan penderitaan dan kemerdekaan dalam perjuangan. Sejalan dengan ini maka, aturan-aturan metodologis berikut ini sangat diperlukan.99 Pertama, teks-teks dan sumber-sumber historis Yahudi maupun Kristen harus dibaca sebagai teks-teks androsentrik. Kedua, pengagungan maupun penghinaan atau marginalisasi perempuan dalam teks-teks Yahudi harus dipahami sebagai bangunan realitas sosial dalam pengertian patriakal atau sebagai proyeksi tentang realitas laki-laki. Ketiga, kanon-kanon resmi dari kanon patriakal yang dikodifikasikan pada umumnya lebih membatasi dibandingkan interaksi dan hubungan yang sesungguhnya antara perempuan dan laki-laki serta realitas sosial yang diaturnya. Keempat, status sosial-
97
Fiorenza, Untuk Mengenang, 41-42.
98
Barth – Frommel, Hati Allah, 3.
99
Elisabeth Schussier Fiorenza, Untuk Mengenang Perempuan itu (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), 148.
keagamaan perempuan yang sesungguhnya harus ditentukan melalui tingkatan onotomi ekonomi dan peranan-peranan sosial mereka dari pada oleh pernyataan-pernyataan ideologis. Dengan demikian penafsiran feminis bertugas menempatkan semua perempuan di tengah- tengah rekonstruksi historis sebagai tanggapan perempuan terhadap perubahan sosial yang mempengaruhi hidup mereka, serta upaya perempuan untuk mentransformasikan dan mengubah struktur dan pranata masyarakat.100
Ruetther, menggunakan metode „lingkaran hermeneutik‟ dalam menguji pengalaman
unik perempuan sebagai dasar dalam membangun feminis teologi dan kekuatan bagi teori kritis dalam menguji teologi tradisional dan tradisi gereja.101 Kriteria pengalamannya adalah pengalaman perempuan berdasarkan pengalaman tradisi laki-laki, pengalaman laki-laki yang telah membentuk tradisi gereja dan komunitas yang mengadopsinya, serta pengalaman universal (pengalaman laki-laki dan pengalaman perempuan setara dalam pengertian hukum). Dapat disimpulkan bahwa, melalui hermenutik lingkaran terlihat pengalaman pewahyuan telah membentuk suatu komunitas yang mempercayainya dan kemudian mengatur seluruh relasi-relasi kehidupan dalam Kitab suci hanya berdasarkan pengalaman laki-laki.102
Osiek mengklasifikasikan lima pendekatan hermeneutik yang dikembangkan oleh para ahli feminis yang dapat dilihat melalaui karya mereka. kelima posisi tersebut adalah
rejectionist, loyalist, revisionist, sublimationist, dan liberationist.103
Pertama, kelompok rejectionist yang diprakasai oleh Marry Dally, dalam perspektif ini secara total menolak kewibawaan Alkitab beserta tradisi-tradisi keagamaan, karena patriakat dianggap sebagai komponen penting dan korup dalam Yudaisme – Kristen. Bagi Daly satu-satunya prisnsip yang dapat diterima adalah ketika perempuan dan laki-laki
100
Fiorenza, Untuk Mengenang, 149-151.
101
Ruether, Sexism and, 12-13.
102
Ruether, Sexism and, 14.
103Carolyn Osiek, “The Feminist and the Bible: Hermeneutical Alternatives,” HTS Teologies Studies / Thological Studies Vol. 53, No. 4 (1997), 960
meninggalkan Yudaisme dan tradisi Kristen dan bersama-sama membentuk iman Kristen baru yang mampu menaklukan kejahatan aliran patriakal. Akhirnya arah ini menyebabkan dualisme baru, di mana kelelakian melambangkan kejahatan dan keperempuanan melambangkan kebaikan. McKay mengusulkan pilihan lain untuk meninggalkan intergritas Alkitab tetapi bukan Alkitab itu sendiri. Dengan maksud untuk menjaga integritas perempuan dengan tidak sepenuhnya menolak atau menirima status Ilahi dari Alkitab. Sebab Alkitab sebagai produk sejarah dan budaya, menyediakan akses ke suara masa lalu, suara-suara yang menawarkan wawasan ke dalam peran-peran perempuan atau kurangnya peran perempuan yang di tampilkan.104 Beberapa dari para pengikut pendekatan ini, mencoba untuk menggali kedalam teks-teks Alkitab untuk menemukan suara-suara teredan dan membawa suara-suara ini keluar dari posisi margin untuk dianalisa dan dikritik. Hermeneutik rejectionist adalah bentuk teologis yang radikal, pada akhirnya pendekatan hermenutik model ini ingin menunjukan bahwa kewibawaan yang diperoleh dari teks-teks Alkitab haruslah diukur melalui tingkat relevansi teks-teks tersebut terhadap kehidupan para pembacanya.
Kedua, kelompok heremeneutik kedua adalah loyalist, merupakan kebalikan dari hermeneutik rejectionist. Terdapat dasar pemikiran dan kebaikan tradisi Alkitab sebagai Firman Allah, yang tidak dapat ditolak dalam keadan apapun, karena sebagai Firman Allah; Alkitab membuktikan otoritas tertinggi dari Allah dengan demikian tidak bisa menindas. Kesaksian Alkitab dipandang sebagai wahyu yang memiliki status independen yang tidak perlu dibuktikan oleh otoritas manusia; Alkitab adalah pernyataan terbesar dari otoritas Allah, dalam bentuk deskriptif dan prespektif sehingga penyelidikan manusia harus tunduk. Apabila ditemukan kesalahan dari Alkitab, maka bagi mereka kesalahan terletak pada interpreter/penerjemah dan penafsiran tradisi, bukan dengan teks. Osiek memuji para
104Susan Brayford, “Feminist Criticism: Sarah Laughs Last,” dalam Joel M. Lemon and Kend Harold
Richards, Method Matters: Essay on the Interpretation of the Hebrew Bible in Honor of David L (Atlanta: Society of Biblical Laterature, 2009), 314-315.
pengikut Loyalist, yang bertekad dalam menemukan dan berfokus pada pesan yang mendasari Alkitab tentang kasih dan kebebasan manusia, sehingga memungkinkan mereka untuk menempatkan teks Alkitab yang berpusat pada kehidupan dan identitas mereka sebagai perempuan. Namun Osiek juga mengakui bahwa pendekatan Loyalist, rentan godaan yang dapat meregangkaan sejarah dan makna harafia dari teks-teks, serta memiliki kecendrungan untuk mengabaikan implikasi politik sebagai interpretasi yang kurang memadai dalam teks- teks yang bermasalah. Menurut Mckey, kelemahan dari pendekatan loyalist ialah memberikan wewenang yang telalu besar kepada Alkitab di mana perempuan dapat memainkan peran atau menyajikan cerita yang bersifat ambigu dalam bentuk yang posotif. Dengan demikian kebutuhan pendekatan ini ialah mempertahankan Alkitab ketika berhadapan dengan orang luar, namun tetap menjadikan Alkitab sebagai pusat bagi anggota komunitas iman. oleh karena itu mereka sering menuntut keterlibatan penuh dari penganut pendekatan loyalist.105
Ketiga, kelompok hermeneutik revisionis merupakan penggabungan hermeneutik
rejectionist dan loyalist. Dasar pemikiran dari kelompok ini adalah cetakan/pembentukan patriarki di dalam tradisi Yahudi –Kristen berperan secara historis, namun tidak ditentukan secara teologis. Mereka juga mengakui bahwa faktor sosial dan sejarah telah didominasi laki- laki, bersifat androsentrik, dan diskriminatif sehingga perempuan tidak dapat tampil setara dalam berbagai peran. Tradisi ini juga mampu merombak berbagai perspektif tentang teks- teks Alkitab, dan kemudian memberikan revisi terhadap teks tersebut; dan itulah tantangan agama ditujukan kepada feminis kontemporer. Pengikut pendekatan revisionist mengaggap banyak keadaan sosial dan sejarah yang berbeda namun terkait dengan tulisan, membaca, dan penafsiran Alkitab sebagai penyebab rusaknya sisi kebaikan yang terkandung dalam Alkitab. Oleh karena itu mereka menyatakan bahwa tradisi dapat di perbaiki dengan menggali lebih
105
dalam konteks dari teks agar dapat menemukan peren penting yang di mainkan perempuan. Teolog feminis yang sesuai dengan pendekatan ini ialah Phyllis Trible, dengan analisa retorikanya yang memampukannya dalam menemukan pesan yang baik dalam teks-teks yang bersifat androsentris; namun tatap memperhatikan benih-benih misogini dalam teks-teks tersebut. 106Pada akhirnya tujuan utama dari hermeneutik revisionist ialah menafsirkan ulang sumber-sumber sejarah,untuk menunjukkan berapa banyak kita benar-benar tahu tentang wanita dan kontribusi mereka terhadap pembentukan sejarah.
Empat, hermeneutik alternatif sublimationist, dasar pemikiranya ialah keliyanan feminim sebagaimana yang ditunjukan dalam citra feminim dan simbolis dalam budaya manusia. Sang liyan yakni para feminis beroperasi dengan prinsip-prinsip dan aturan sendiri, yang benar-benar berbeda dari dunia laki-laki, oleh sebab itu kesetaraan sosial atau egalitarisme dengan laki-laki terpinggirkan. Hermeneutik sublimationis fokus terhadap simbol-simbol dalam teks-teks Alkitab (Israel sebagai perawan dan pengantin Allah, gereja sebagai mempelai Kristus dan ibu orang beriman) dan kelemahan utamanya adalah kecenderungan untuk eksklusivisme dan separatisme dari dimensi sosial-politik dan kecenderungan ke arah dogmatisme pada pertanyaan peran perempuan dan sosial.
Kelima, pendekatan terakhir adalah hermeneutik liberationist, dipelapori oleh Letty Russell dan mulai dikembangkan juga oleh Elisabeth S. Fiorenza dan Rosemary Radford dengan dasar pemikirannya adalah reinterpretasi radikal terhadap eskatologi Alkitab; pemerintahan Allah dengan penebusan diproklamasikan sebagai tugas dan misi orang percaya di dunia saan ini serta harapan realisasi di masa depan. Ketika ia menulis pada tahun 1985, Osiek berpikir bahwa pendekatan liberasionis akan menawarkan yang paling menjanjikan untuk penafsiran Alkitab feminis. Berdasarkan teologi pembebasan, pendekatan ini diakui dan terus memahami penindasan perempuan sebagai bagian dari pola yang lebih besar dari
106
dominasi. Sebagai loyalis mempertahankan kebaikan yang melekat dari Alkitab, liberasionis berpendapat bahwa pesan utama Alkitab adalah pembebasan manusia dari penindasan, baik fisik maupun spiritual, dan mempertahankan bahwa tujuan penafsiran Alkitab adalah transformasi. Jika teks-teks Alkitab yang ditafsirkan tidak mempromosikan kesetaraan penuh perempuan, mereka tidak bisa dianggap sebagai firman Allah yang otentik.107 Awal realisasiny bagi perempuan berarti pembebasan dari dominasi patriarki sehingga semua orang manusia dapat untuk menjadi mitra dan sama dalam tugas bersama. Feminisme liberasionis menyatakan bahwa pesan utama dari Alkitab adalah pembebasan manusia, bahwa ini sebenarnya arti keselamatan. Ruether menemukan inti dari pesan Alkitab adalah pembebasan dalam tradisi kenabian. Pemberitaan perubahan dari praktek-praktek sosial dan ekonomi yang tidak adil adalah panggilan bersama untuk menciptakan masyarakat yang adil bebas dari segala bentuk penindasan.
Dalam melihat kelima alternatif yang disediakan oleh Osiek, penulis lebih cenderung memilih pendekatan hermeneutik liberationis. Dengan alasan bahwa, Alkitab harus dilihat dalam terang pembebasan bagi manusia entah laki-laki maupun perempuan dari belengggu ketertindasan. Sebagai pembaca Alkitab, kita tidak dapat jatuh dalam pendapat pasif tentang Alkitab yang melanggengkan dominasi, Alkitab harus tetap terbuka dalam penafsiran yang dapat mentranformasi para pembaca dan keluar dari tindakan ekslusifisme.