BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.16. Erythropoiesis
2.1.7. Feritin
Feritin adalah salah satu protein yang penting dalam proses metebolisme besi di dalam tubuh. Sekitar 25 % dari jumlah total zat besi dalam tubuh berada dalam bentuk cadangan zat besi (depot iron), berupa feritin dan hemosiderin. Feritin dan hemosiderin sebagian besar terdapat dalam limpa, hati, dan sumsum tulang. Feritin adalah protein intra sel yang larut didalam air, yang merupakan protein fase akut. Hemosiderin merupakan cadangan besi tubuh berasal dari feritin yang mengalami degradasi sebagian, terdapat terutama di sumsum tulang, bersifat tidak larut di dalam air. 13,15,38
Pada kondisi normal, feritin menyimpan besi di dalam intraseluler yang nantinya dapat di lepaskan kembali untuk di gunakan sesuai dengan kebutuhan. Serum feritin adalah suatu parameter yang terpercaya dan sensitif untuk menentukan cadangan besi pada orang sehat. Serum feritin < 12 ug/l sangat spesifik untuk defisiensi zat besi, yang berarti bila semua cadangan besi habis, dapat dianggap sebagai diagnostik untuk defisiensi zat besi. 24,26,38
2.1.7.1. Struktur dan fungsi feritin
Ferritin adalah kompleks protein yang berbentuk globular, mempunyai 24 subunit- subunit protein yang menyusunnya dengan berat molekul 450 kDa, terdapat di semua sel baik di sel prokayotik maupun di sel eukaryotik. Pada manusia, subunit - subunit pembentuk feritin ada dua tipe, yaitu Tipe L (Light) Polipeptida dan Tipe H (Heavy) Polipeptida, dimana masing - masing memiliki berat molekul 19 kD dan 21 kD Tipe L yang disimbolkan dengan FTL berlokasi di kromosom 19 sementara Tipe H yang disimbolkan dengan FTH1 berlokasi di kromosom 11.39,40,41
Feritin mengandung sekitar 23% besi. Setiap satu kompleks feritin bisa menyimpan kira – kira 3000 - 4500 ion Fe3+ di dalamnya. Feritin bisa ditemukan atau disimpan di liver, limpa, otot skelet dan sumsum tulang. Dalam keadaan normal, hanya sedikit feritin yang terdapat dalam plasma manusia. Jumlah feritin dalam plasma menggambarkan jumlah besi yang tersimpan di dalam tubuh kita. Bila dilihat dari stuktur kristalnya, satu monomer feritin mempunyai lima helix penyusun yaitu blue helix, orange helix, green helix, yellow helix dan red helix dimana ion Fe berada di tengah kelima helix tersebut.39,41
Besi bebas bersifat toxic untuk sel, karena besi bebas merupakan katalisis pembentukan radikal bebas dari Reactive Oxygen Species (ROS)
melalui reaksi Fenton. Untuk itu, sel membentuk suatu mekanisme perlindungan diri yaitu dengan cara membuat ikatan besi dengan feritin. Jadi feritin merupakan protein utama penyimpan besi di dalam sel. 39,40,41
2.1.7.2. Hubungan feritin dan CRP
Besi berperan penting dalam pembentukan sel-sel darah merah, pengangkutan elektron, imunitas tubuh serta proses tumbuh kembang terutama motorik dan mental. Kekurangan zat besi berhubungan dengan kejadian infeksi dan inflamasi, hal ini digambarkan dengan perubahan kadar feritin serum, zat besi serum, dan saturasi transferin pada saat fase akut. Beberapa penelitian menunjukkan beberapa penanda proses inflamasi yang dapat digunakan untuk menggambarkan proses inflamasi yang berkaitan dengan perubahan kadar zat besi dalam tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan penanda protein fase akut yang paling sering yaitu C-Reaktive Protein.42
Protein fase akut memegang peran dalam proses inflamasi yang kompleks. Konsentrasi protein fase akut akan meningkat secara signifikan selama proses inflamasi akut misalnya adanya infeksi, tumor, tindakan pembedahan, infark miokard. Peningkatan tersebut disebabkan oleh peningkatan sintesis di hati namun tidak dapat digunakan untuk menentukan penyebab inflamasi. Pengukuran protein fase akut dapat digunakan untuk mengamati progresivitas dari inflamasi serta melihat respon terapi dengan
menilai kapan protein fase akut mulai meningkat dan kapan kadar yang tertinggi tercapai.43
Kadar CRP kan meningkat cepat pada infeksi disebut respon fase akut. Peningkatan CRP berhubungan dengan peningkatan konsentrasi interleukin-6 (IL-6) didalam pasma yang sebagian besar diproduksi oleh makrofag. Makrofag merupakan sel imun yang berperan langsung dengan kadar zat besi dalam tubuh manusia. Makrofag membutuhkan zat besi untuk memproduksi highly toxic hydroxyl radical , juga merupakan tempat penyimpanan besi yang utama pada saat terjadi proses inflamasi. Sitokin, radikal bebas, serta protein fase akut yang dihasilkan oleh hati akan mempengaruhi homeostasis besi oleh makrofag dengan cara mengatur ambilan dan keluaran besi sehingga akan memicu peningkatan retensi besi dalam makrofag pada saat terjadi inflamasi. Besi juga mengatur aktivitas sitokin, proliferasi, dan aktivitas limfosit sehingga diferensiasi dan aktivasi makrofag akan terpengaruh.44
2.2. Donor darah
Donor Darah adalah proses dimana penyumbang darah secara suka rela diambil darahnya untuk disimpan di bank darah atau di UTD, dan sewaktu-waktu dapat dipakai pada transfusi darah.1,2,45,46 Mengenai pendonor darah telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 7 tahun 2011 tentang pelayanan darah, Bab VI pasal 28-33.45
2.2.1. Jenis donor darah
Pada dasarnya ada 3 macam donor darah, yaitu .45,46
1. Donor keluarga atau donor pengganti : darah yang dibutuhkan pasien dicukupi oleh donor dari keluarga atau kerabat pasien.
2. Donor komersial: menerima uang/hadiah untuk darah yang disumbangkannya (bukan oleh keinginan menolong orang lain).
3.
Donor sukarela: orang yang memberikan darah, plasma atau komponen darah lainnya atas kerelaan sendiri tanpa menerima pembayaran.
2.2.2. Pendonor regular :
Seorang donor yang memenuhi kriteria dibawah ini dapat dimasukkan dalam registerasi donor regular.1,45,46
1. Telah setuju mendonasikan darahnya secara teratur, yaitu : paling sedikit 1 kali sampai dengan 4 kali dalam satu tahun untuk pria 4 kali dan 3 kali untuk wanita.
2. Telah mendonasikan darahnya dalam satu tahun terakhir apabila diminta.
3. Tidak pernah menunjukkan suatu masalah selama donasi darah, seperti pingsan atau memiliki perangai yang tidak baik.
4. Pada umumnya dalam keadaan sehat.
5. Dapat dengan mudah dihubungi oleh UTD dan dapat datang ke UTD tanpa kesulitan.
2.2.3. Syarat-syarat menjadi donor darah 1,2,45,46
• Umur 18-60 tahun ( usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat izin tertulis dari orang tua)
• Berat badan minimal 45 kg
• Tidak memiliki penyakit jantung, paru-paru, kanker, tekanan darah tinggi, Diabetes Melitus, Epilepsi, Hepatitis B atau C, Sifilis, dan HIV serta berprilaku beresiko tinggi.
• Tekanan darah baik sistole antara 100-180 mmHg, diastole antara 60- 100 mmHg
• Denyut nadi teratur yaitu sekitar 50 – 100 kali/ menit
• Hemoglobin pria minimal 13 g/dL sedangkan perempuan minimal 12 g/dL.
• Interval donor minimal 12 minggu atau 3 bulan sejak donor darah sebelumnya (maksimal 5x dalam setahun).
2.2.3.1. Pada saat kapan harus menjadi pendonor darah yaitu 2,46 :
2. Setelah operasi kecil, tunggu hingga 6 bulan. 3. Setelah operasi besar, tunggu hingga 12 bulan. 4. Setelah transfusi, tunggu hingga 12 bulan.
5. Setelah tato, tindik, tusuk jarum, dan transplantasi, tunggu 12 bulan. 6. Bila kontak erat dengan penderita hepatitis tunggu hingga 12 bulan. 7. Sedang hamil, tunggu 6 bulan setelah melahirkan.
8. Sedang menyusui, tunggu hingga 3 bulan setelah berhenti menyusui. 9. Setelah penyakit malaria tunggu hingga 3 tahun setelah bebas dari
gejala malaria. Bila tinggal di area endemis malaria selama 5 tahun, sebaiknya tunggu 3 tahun setelah keluar dari area endemis.
10. Bila sakit tifus tunggu 6 bulan setelah sembuh. 11. Setelah vaksin, tunggu 8 minggu.
12. Ada gejala alergi, tunggu selama 1 tahun setelah sembuh.
13. Ada infeksi kulit pada daerah yang akan ditusuk, tunggu 1 minggu setelah sembuh.
2.2.4. Pengambilan dan pengumpulan darah
2.2.4.1. Informasi untuk donor.
Setiap donor harus terlebih dahulu mendapatkan46:
b. Pengisian daftar isian donor
c. Penandatanganan persetujuan tundakan medis (informed consent) d. Pemeriksaan pendahuluan terdiri dari penimbangan berat badan, Hb,
golongan darah dan pemeriksaan fisik oleh dokter.
2.2.4.2. Pengambilan Darah
Pengambilan darah donor dilakukan pada donor yang telah lolos seleksi. Seluruh proses pengambilan darah harus terdokumentasi dengan baik. Darah harus disadap secara aseptis menggunakan alat steril dan dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi dan terlatih dalam hal pengambilan darah.46-49
2.2.4.3. Penyimpanan Darah
Darah disimpan dalam kantong plastik yang mengandung larutan Acid Citrate Dextrose ( ACD ) atau Citrate Phosphat Dextrose ( CPD ) dan disimpan di lemari pendingin dengan suhu 40C. ACD dan CPD merupakan anti koagulan yang banyak dipakai untuk menyimpan darah. Sitrat dalam larutan berperan sebagai anti koagulan sedangkan dextrose berguna untuk sumber energi bagi sel darah merah. Anti koagulan yang lain adalah heparin, karena mempunyai waktu paruh yang singkat (4 jam), jarang digunakan. Darah lengkap dengan anti koagulan ACD dan CPD masa simpan 21 hari
setelah penyadapan dan darah lengkap dengan anti koagulan CPD-Adenin masa simpan 35 hari setelah penyadapan.46
2.2.4.4. Reaksi selama dan sesudah donasi.
Reaksi pada donor jarang terjadi yaitu :46-48
1. Ringan : gejala vasovagal tanpa kehilangan kesadaran.
2. Sedang: gejala yang sama seperti pada reaksi ringan dilanjutkan dengan kehilangan kesadaran.
3. Berat : semua gejala diatas disertai dengan kejang-.kejang
Donor darah sebaiknya dilakukan secara rutin 3 bulan sekali. Hal ini dilakukan karena proses pergantian sel darah merah membutuhkan waktu kurang lebih 120 hari (3 bulan), sehingga, diharapkan setelah 3 bulan, sel-sel telah kembali matur atau dewasa.1,46
2.2.5. Interval donor darah
Semua donor harus mendapat informed consent beserta penjelasan mengenai resiko transfusi. Donor harus dijelaskan bahwa darah akan diuji terhadap penyakit infeksi seperti hepatitis, sifilis dan HIV. 45-48
2.2.6 Prosedur donor darah
2.2.6.1.
• Flebotomi meliputi penusukan vena dan pengambilan darah. Dilakukan dengan standard umum. Donor diletakkan dengan posisi setengah berbaring/berbaring. Kulit pada fosa antekubital dibersihkan dengan preparat yodium. Dipasang tourniket, dan dilakukan tusukan vena. Pengambilan 300 ml darah dilakukan 10-15 menit. Setelah jarum diambil, donor diminta mengangkat lengan keatas, dan dilakukan penekanan dengan kassa steril selama 2-3 menit atau sampai perdarahan berhenti, kemudian ditutup dengan plester. Donor diminta untuk tetap berbaring sampai mereka siap untuk duduk, biasanya dalam 1-2 menit..1,46,47
Flebotomi.
• Donor kemudian diminta untuk tidak melepas plester dan menghindari mengangkat beban berat selama beberapa jam, jangan merokok selama 1 jam dan tidak minum minuman keras selama 3 jam, diminta menambah asupan cairan selama 2 hari dan dianjurkan makan makanan yang seimbang selama 2 minggu.1,46
• Label pada kantong darah dan tabung harus diperiksa dengan teliti sebelum dan sesudah pendonoran untuk mencegah terjadinya kesalahan yang dapat berakibat fatal bagi resipien.1,46,47,48,49
2.2.6.2. Hemaferesis.
Hemaferesis adalah istilah umum yang merujuk kepada pengambilan whole blood dari seorang donor atau pasien, pemisahan menjadi komponen- komponen darah, penyimpanan komponen yang diinginkan dan pengembalian elemen yang tersisa ke donor atau pasien.46,47
2.2.6.3. Plasmaferesis.
Prosedur dimana sejumlah unit darah dari donor diambil untuk mendapatkan mendapatkan plasmanya, diikuti dengan penginfusan kembali sel-sel darah merah donor. Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan plasma atau fresh frozen plasma.46,47
2.2.6.4. Sitaferesis.
Sejumlah besar trombosit atau leukosit dapat dikoleksi dari donor tunggal menggunakan sentrifugasi aliran intermiten atau kontinyu.46,47
2.2.6.5. Plateleferesis/Tromboferesis.
2.2.6.6. Transfusi autolog
Transfusi autolog adalah transfusi darah yang paling aman, dimana donor juga berlaku sebagai resipien sehingga menghilangkan resiko terjadi ketidakcocokan dan penyakit yang ditularkan melalui darah. 45,47
2.2.7. Volume darah donasi
Jumlah darah yang akan disumbangkan bervariasi, tergantung volume kantong dan berat badan pendonor. Volume kantong ada yang 250 cc, 350 cc, 450 cc, 500 cc. Ketika donasi berarti memberikan 10% dari total volume darah didalam tubuh. Volume darah maksimal yang bisa diambil adalah 10,5 cc/ kg BB..1,46,47
2.2.8. Komponen Darah
Dari satu kantong darah dapat dihasilkan komponen darah yaitu: darah lengkap, darah merah pekat, trombosit pekat, plasma segar beku, plasma cair, dan cryoprecipitate. 1,2,45,46
2.3. Kadar serum feritin pada pendonor
Beberapa penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar serum feritin pada pendonor khususnya pada pendonor regular. Retrovirus Epidemiology Donor Study-II (REDS-II) Donor Iron Status Evaluation (RISE) study of the National Heart, Lung, and Blood Institute melakukan peneltian
terhadap 2425 wanita dan pria, didapati dua pertiga pendonor reguler perempuan (66%) dan pendonor reguler laki-laki (49%) menderita defisiensi besi.50 Mittal dkk juga mendapatkan bahwa dari populasi pendonor laki-laki, 49% didapati defisiensi besi pada pendonor regular dengan donasi 3- 4x/tahun.51 Toby L. Simon dkk di Mexico (1981) meneliti terhadap 516 pendonor wanita dan 505 pendonor laki-laki. Pendonor wanita dan laki-laki dibagi atas 2 kelompok, yang pertama kali donasi, dan 2-6 kali donasi/tahun. Hasilnya antara kelompok 1 dan 2 pendonor wanita dan pria terdapat perbedaan kadar serum feritin yang signifikan (p=0,0003) dan (p=0.0001).4 Zahra Mozaheb dkk, Iran (2010) meneliti terhadap 235 pendonor laki-laki yang dibagi 3 kelompok yaitu yang bukan pendonor sebagai kelompok kontrol, 2-3 kali donasi/thn sebagai kelompok kasus. Hasilnya terdapat perbedaan yang signifikan kadar serum feritin antara kelompok kontrol dan kasus (p=0,0000).6 Okpokam dkk, Nigeria (2011) meneliti terhadap 163 pendonor laki-laki yang dibagi atas 1 kali donasi/kontrol, 2 kali donasi/thn, 3 kali donasi /thn, 4kali donasi/thn. Didapatkan adanya perbedaan yang signifikan kadar serum feritin ((p<0.05).7 Norashikin dkk, Malaysia (2005) meneliti sebanyak 211 pendonor laki-laki dengan membandingkan 3 kelompok yaitu 1 kali donasi, 2-4 kali donasi, dan >5 kali donasi dalam 2 tahun terakhir. Hasilnya terdapat perbedaan yang signifikan kadar serum feritin antara 1 kali donasi dengan >5 kali donasi(p=0,001) .8 Saleh M. Abdullah, Saudi Arabia (2009) melakukan penelitian pada 182 pendonor laki-
laki, di bagi atas : kelompok 1: pendonor baru, kelompok 2 : 1kali donasi/ 3 tahun, kelompok 3 : 2-5 kali / 3 tahun. Hasilnya didapatkan adanya perbedaan yang signifikan kadar serum feritin antara kelompok 1 dan 3 (p=0,000).9
Beberapa peneliti di atas ada yang membandingkan pendonor regular yang mengkonsumsi zat besi dengan yang tidak mengkonsumsi zat besi (Simon T.L ,Mozaheb Z).4,6 Ternyata didapati bahwa pada pendonor regular yang mengkonsumsi zat besi terdapat penurunan kadar serum feritin yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsi zat besi.
2.4. Penyebab defisiensi besi pada pendonor reguler
Defisiensi besi adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan besi tubuh. 27-31
Menurut Bakta (2006) anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh karena26,29:
1. Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari:
a. Saluran cerna: tukak peptik, pemakaian salisilat b. Saluran kemih: hematuria.
c. Saluran nafas: hemoptisis.
2. Faktor nutrisi, kurangnya jumlah besi total dalam makanan atau kualitas besi yang rendah.
3. Kebutuhan besi meningkat, seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan, dan kehamilan.
4. Gangguan absorbsi besi, seperti pada gastrektomi dan kolitis kronik, atau dikonsumsi bersama kandungan fosfat (sayuran), tanin (teh dan kopi), polyphenol (coklat, teh, dan kopi), dan kalsium (susu dan produk susu).
Guidelines for Adolescent Nutrition Services (2005) menyebutkan penyebab terjadinya defisiensi besi salah satunya berhubungan dengan frekwensi donor darah.54
Tabel 2.3. Faktor resiko terjadinya defisiensi besi54
Stang J, Story M (eds) Guidelines for Adolescent Nutrition Services (2005)
Pada orang sehat, satu kali donor darah sebanyak 400-500 ml dapat mengeluarkan 225 mg besi karena setiap 1,0 ml darah mengandung 0,5 mg
besi. Besi yang dikeluarkan berbeda pada laki-laki dan perempuan, pada laki- laki 236 mg sedangkan pada perempuan 213 mg. Besi yang tersimpan pada perempuan 30% lebih rendah daripada laki-laki (Simon TL,Finch CA).52,53
Telah diketahui bahwa di dalam darah terdapat komponen-komponen darah dimana jumlahnya 45% dari volume darah sedangkan plasma jumlahnya 55% dari volume darah. Feritin dalam plasma, jumlahnya sangat kecil yaitu sebanding dengan konsentrasi feritin didalam tubuh atau apabila terdapat 1µg feritin serum setara dengan 10 mg simpanan besi dan setiap 1ml eritrosit mengandung 1,1 mg besi.13,14,16 Jika dalam 1 ml darah terdapat 0,5 mg besi maka setiap kali donasi sebanyak 300 ml darah, zat besi yang akan keluar adalah sebanyak 150 mg sehingga kebutuhan akan zat besi harus terpenuhi untuk aktivitas eritropoiesis.
Bila kebutuhan zat besi didalam darah tidak terpenuhi maka feritin akan melepas besi dalam jumlah yang banyak dan bila kebutuhan untuk pembuatan hemoglobin meningkat maka cadangan besi akan di mobilisir secara cepat. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan cadangan besi dan bila berlanjut terus akhirnya cadangan besi menjadi kosong dan aktivitas eritropoiesis akan menurun.11,13,15
Berbeda pada keadaan seperti infeksi, inflamasi atau proses keganasan, pemakaian zat besi sebagai hasil pemecahan oleh sel-sel sistem retikulo endothelial berjalan lebih perlahan disebabkan karena adanya perubahan kemampuan pelepasan zat besi menurun mengakibatkan
pelepasan zat besi ke eritroid menjadi kurang, transport zat besi dari pool plasma ke sum-sum tulang menjadi kurang, konsentrasi plasma zat besi menurun dan aktivitas eritropoiesis menurun sehingga dijumpai feritin yang meningkat pada keadaan ini.11,23,29
Di PMI cabang Medan, setelah melakukan donor darah pada institusi tertentu atau lembaga sosial kemasyarakatan selalu membagikan suplemen besi 1 hari sekali dalam 3 hari. Pertanyaannya adalah apakah suplemen besi tersebut cukup dikonsumsi memenuhi kebutuhan besi dalam tubuh sampai pada masa donasi kembali. Apabila pendonor tidak memenuhi kebutuhan zat besinya sendiri baik melalui makanan dan suplemen besi maka akan beresiko terjadinya penurunan kadar serum feritin, hingga terjadinya defisiensi besi sampai anemi defisiensi besi..
Klasifikasi defisiensi besi :21,24,29,36
1. Deplesi besi (iron depleted state): cadangan besi menurun, tetapi penyediaan besi untuk eritropoiesis belum terganggu.
2. Eritropoiesis defisiensi besi (iron deficient erythropoiesis): cadangan besi kosong, penyediaan besi untuk eritropoiesis terganggu tetapi belum timbul anemia secara laboratorik.
Tabel 2.4. Diagnosis defisiensi besi55
Iron status Stored iron Transport iron Functional iron Iron deficiency anemi Low Low Low
Iron deficient erythropoiesis Low Low Normal Iron depletion Low Normal Normal Normal Normal Normal Normal Iron overload High High Normal
Sumber: Centers for Disease Control and Prevention,
1998.Recommendations to Prevent and Control Iron Deficiency in the United States. Morb Mortal Wkly Rep; 47: 1-36.
Untuk itulah betapa pentingnya memperhatikan kebutuhan zat besi khususnya pada pendonor reguler dengan frekwensi 3-4 kali/tahun karena lebih beresiko mengalami defisiensi besi.
Pada penelitian ini akan dilakukan pemeriksaan feritin, hemoglobin dan hematokrit. CRP diperiksa untuk menghindari adanya bias karena inflamasi dapat menyebabkan cadangan zat besi bertambah.
2.5. Pemeriksaan laboratorium
1. Pemeriksaan komponen simpanan besi
• Feritin serum . Kadar feritin dalam serum sangat kecil, secara garis besar sebanding dengan simpanan besi sehingga dapat membantu
untuk evaluasi status besi termasuk menegakkan diagnosa defisiensi besi.27-31
2. Pemeriksaan komponen transport besi30,31,34,36
• TIBC : pemeriksaan untuk melihat kapasitas ikatan besi dalam serum, jadi TIBC akan meningkat pada konsentrasi besi rendah dan menurun pada besi serum yang tinggi.
• Saturasi transferin adalah transferin yang terikat dengan besi. Pada saturasi transferin yang rendah merupakan indikasi tingginya proporsi iron binding site yang kosong.
• Kadar besi serum (SI) adalah pemeriksaan jumlah total besi dalam serum.
3. Pemeriksaan komponen pada eritrosit.34-37
• Eritrosit protophorphirin (Ep) adalah suatu prekursor dari hemoglobin sehingga konsentrasi Ep didalam darah meningkat ketika produksi hemoglobin terjadi kekurangan besi dan merupakan indikator awal terjadinya anemi defisiensi besi.
• Hemoglobin dan hematokrit. Merupakan refleksi jumlah besi fungsional dimana pada mikronutrien besi, perubahan kadar hemoglobin dan hematokrit hanya terjadi pada stadium defisiensi besi (spesifik menentukan anemi defisiensi besi).
• Mean Corpusculer Volume (MCV) adalah volume rata-rata eritrosit, MCV akan menurun apabila kekurangan zat besi semakin parah. Dihitung dengan membagi hematokrit dengan angka sel darah merah. Nilai normal 70 -100 fl, mikrositik < 70 fl dan makrositik > 100 fl.
• Mean Corpuscle Haemoglobin (MCH) adalah berat hemoglobin rata- rata dalam satu sel darah merah. Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan angka sel darah merah. Nilai normal 27-31 pg, mikrositik hipokrom < 27 pg dan makrositik > 31 pg.
• Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) adalah konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata. Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan hematokrit. Nilai normal 30-35% dan Hipokrom < 30%.
2.5.1. Alat dan prinsip kerja
2.5.1.1. Pemeriksaan darah lengkap
Dengan alat automated cell counting Sysmex XT 2000i.57 2.5.1.1.1 Prinsip pemeriksaan hemoglobin.
Membran sel darah merah dilisis oleh Sysmex XT 2000i, kemudian molekul hemoglobin dilepas. Ion ferro dalam molekul hemoglobin oleh Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dirubah menjadi ferri yang disebut methemoglobin. Methemoglobin dengan SLS membentuk komplek disebut
SLS-Hb, komplek tersebut dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm.27,57
2.5.1.1.2. Prinsip pemeriksaan hematokrit.
Sampel darah EDTA dihisap, kemudian dicampur dengan reagen cellpack, kemudian dilewatkan tabung yang dilengkapi dengan tranducer dan sensor start-sensor stop. Tranducer akan mengukur tinggi pulsa yang dengan volume sel darah merah, start sensor-stop sensor mengukur volume whole blood.57
2.5.1.1.3. Prinsip pemeriksaan jumlah eritrosit
• Electrical Impedance
• Sel lewat melalui apertura sehingga ketika terjadi perbedaan resistensi melalui apertura itu, maka tertangkap sebagai sinyal listrik. Besarnya sinyal yang ditangkap tersebut menentukan jumlah dan ukuran sel yang lewat 27,57
Spesimen : darah EDTA
2.5.1.2. Pemeriksaan feritin58
Alat: Cobas E 601 dengan metode ECLIA (Electrochemiluminiscence Immunoassay) atau analyzer immunoassay.
Prinsip kerja27,58 :
Serum yang mengandung feritin ditambahkan dengan antibody monoklonal untuk feritin (yang berasal dari tikus) yang dilekatkan pada biotin.
Setelah itu ditambahkan antibodimonoklonal yang telah dilabel dengan ruthenium sehingga terbentuk komplek sandwich.
Kemudian ditambahkan mikropartikel yang dilapisi streptavidin, komplek yang terbentuk berikatan dengan fase solid melalui interaksi biotin dengan streptavidin.
Campuran reaksi diaspirasi dalam cell pengukur dimana mikropartikel secara magnet ditangkap pada permukaan elektroda.
Substansi yang tidak berikatan dibuang melalui procell.
Aplikasi voltase (tegangan) pada elektroda menginduksi emisi chemiluminescence (ECL) terjadi reaksi antara kompleks ruthenium dengan TPA (trypropylamin) yang distimulasi secara elektrik untuk menghasilkan emisi cahaya.
Jumlah cahaya yang dihasilkan berbanding lurus dengan kadar analit dalam sampel.
Reagent-working solutions27,58 :