• Tidak ada hasil yang ditemukan

Film & Web Series

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 27-33)

4. Memuaskan Keinginan

2.4. Film & Web Series

2.4.1 Film Sebagai Media Komunikasi

Dewasa ini, film serta berbagai media yang bersifat audio-visual dianggap sebagai salah satu media komunikasi yang cukup ampuh. Sifat audio-visual ini merangsang indera penengaran dan pengelihatan manusia dalam waktu sekaligus sehingga cukup memungkinkan untuk informasi yang diserap dengan lebih baik. Profesor Anderton, salah seorang guru besar bidang pendidikan Universitas Colorado pernah mengungkapkan bahwasanya kita harus melihat film dari segi ‘technical communication’ dan juga ‘social communication’. Dari sisi ‘technical communication’ artinya

35

kita nelihat film sebagai alat yang berhubungan erat dengan perkembangan teknologi. Dimana usaha manusia dalam penyempurnaan teknologi takkan pernah berhenti. Bahkan manusia itu sendiri tidak dapat memastikan batas kemampuannya dalam mengembangkan dan melengkapi teknologi dalam hal ini pengembangan film. Di sisi lain, film jika dilihat dari sisi ilmu sosial terutama ilmu komunikasi, perlu diperhatikan pesan yang disampaikan melalui film dan kepada siapa pesan tersebut disampaikan. Pada sisi inilah terletak ilmu pendidikan yang mempelajari tingkat-tingkat kecerdasan manusia dalam memilih pesan dan mengatur cara penyampaiannya kepada sasaran (audience), dan pada titik inilah terletak peran ilmu komunikasi34.

Dalam publisistik sendiri, apa yang disebut massa meliputi semua orang yang menjadi sasaran-sasaran komunikasi massa yakni para lembaga pers, film, radio, dan juga telveisi. Pengertian massa disini mencakup semua pembaca surat kabar, penonton film, serta pendengar siaran radio dan televisi. Sementara itu, menurut Wilbur Schramm suatu komunikasi dengan media akan efektif jika memenuhi empat syarat, diantaranya35 :

1. Proses komunikasi tersebut haruslah mampu menarik perhatian massa 2. Komunikasi harus menggunakan lambang-lambang atau tanda-tanda

yang memiliki kesamaan makna atau pemahaman yang sama antara komunikator dan komunikan

3. Pemberitaan harus memenuhi kebutuhan informasi para komunikan

34 H. Amura. Perfilman di Indonesia dalam Era Orde Baru. (Jakarta : Rakan Offset. 1981) hal 3

35 Lee, Oey Hong. Op. Cit hal 26

36

4. Upaya pemenuhan kebutuhan informasi harus sesuai pula dengan budaya komunikan sehingga mempermudah penyerapan informasi

Maka dari itu, jika ditinjau dari pendapat Schramm, film sebagai sebuah media penyampaian pesan dengan unsur cerita di dalamnya haruslah sesuai dengan empat syarat tersebut agar dapat mempertahankan penonton dan juga menyampaikan pesan dengan efektif kepada penonton. Seiring perkembangan zaman, film juga tidak hanya memiliki fungsi untuk serta merta menyampaikan pesan kepada penonton tapi juga menjadi media yang dapat diandalkan dalam mengiklankan produk lewat cerita.

2.4.2 Unsur Film

Film secara umum dibagi atas dua unsur pembentuk yakni unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur ini saling berkesinamnungan untuk membentuk sebuah film. Dalam film fiksi, unsur naratif menjadi motor penggerak sebuah cerita. Unsur ini terdiri dari tokoh, konflik, lokasi, dan waktu. Sementara unsur sinematik merupakan aspek teknis pembentuk film yang terdiri dari empat elemen pokok yakni mise-en-scene (latar tempat, tata cahaya, kostum, dll), sinematografi, editing, dan suara36.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa film dilihat dari cara bertuturnya, terdapat film cerita dan non cerita dibagi menjadi tiga; film fiksi, film dokumenter, dan film eksperimental. Film fiksi masuk ke dalam jenis film cerita sementara dokumenter dan eksperimental adalah jenis film noncerita.

36 Paratista, Himawan. Memahami Film. (Yogyakarta : Montase Press. 2017) hal 23

37

Film dokumenter memiliki konsep realisme (nyata), sementara eksperimental berkonsep formalisme (abstrak). Sementara fiksi berada di antara kedua konsep tersebut37.

2.4.3 Web Series

Web series atau dikenal juga sebagai webisode (web episode) merupakan salah satu hasil praktik dari media baru yang muncul berkat internet. Webseries memiliki konsep yang mirip dengan program televisi regular, yakni cerita bersambung dengan pengembangan cerita setiap episodenya. Webseries adalah bentuk baru dalam iklan di internet38.

Web series sebagai iklan film adalah iklan yang berjalan sebagai rangkaian episode yang ditayangkan dalam situs atau platform tertentu.

Menurut Shimp durasi webseries umum ditemui antara 15 detik – beberapa menit. Dalam web series, iklan tidak dijabarkan secara gamblang, melainkan menjadi sebuah konten cerita yang mampu mengisahkan pesan yang memuat informasi atau himbauan yang kiranya memberi manfaat atau nilai positif bagi masyarakat dengan mengaitkan pada merek tertentu atau citra sebuah produk yang pada akhirnya dapat membangun ikatan antara merek (perusahaan) dengan konsumen. Maka dari itu, dalam pembuatan sebuah konten webseries cendrung menggunakan pendekatan sebuah film dalam membangun pesan lewat cara bertutur cerita.

37 Op. Cit. Hal 29

38 Sandra Moriarty, Mitchell, Wells. Advertising Edisi ke Delapan, (Jakarta : Prenadamedia Group, 2009) Hlm 492

38 2.5. Teori Agenda Setting

Dalam penyusunan pesan, media dapat menggunakan berbagai cara dalam penyusunan menyusun isu-isu untuk dibagikan kepada masyarakat.

Salah satunya disebut sebagai agenda setting atau penyusunan agenda. Teori ini pertama kali dirumuskan oleh seorang jurnalis Amerika bernama Lippmann dimana menurut pandangannya, masyarakat tidak merespon pada kejadian sebenarnya dalam lingkungan namun pada gambaran dalam kepala yang ia sebut sebagai lingungan palsu (pseudoenvironment). Hal ini dikarekanan lingkungan yang sebenarnya terlalu besar, kompleks, dan menuntut adanya kontak langsung sehingga ada begitu banyak keragaman pesan yang tidak dapat langsung diterima39.

Dengan kata lain, penyusunan agenda membentuk gambaran atau isu penting dalam pikiran masyarakat. Penyusunan agenda atau agenda setting ini dibentuk karena media harus selektif dalam melaporkan berita. Media menjadi gerbang informasi yang membuat pilihan tentang apa yang harus disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya karena dengan meyakini apa yang dianggap penting, hal ini dapat memengaruhi bagaimana seseorang menentukan pilihan40.

39 Stephen W. Littlejohn, Karen A. Foss. Theoris of Human Communication 9th ed. (Jakarta : Salemba Humanika, 2014) hlm 415

40 Ibid. hlm 416

39 2.6. Definisi Kesehatan

2.6.1. Konsep Sehat – Sakit

Sehat-sakit adalah konsep yang terbilang subjektif, dimana pemaknaannya tergantung seseorang dengan latar belakang lingkungan dan budaya tertentu menilai. Maka dari itu perlu dibedakan antara konsep penyakit (disease) dan konsep sakit (illness) sehingga kita dapat memahami apa itu sehat dan perasaan baik-baik saja atau tidak sakit41.

Penyakit (disease)

Sakit (Illness)

Tidak Ada (Not Present)

Ada (Present)

Tidak dirasakan (not preceived)

I II

Dirasakan (Preceived) III IV

Tabel 2.1 Konsep Sehat – Sakit

Keterangan :

Daerah I : Seseorang tidak menderita penyakit dan tidak merasakan sakit. Orang tersebut dianggap sehat dari kacamata medis

Daerah II : Seseorang didiagnosa menderita penyakit tapi orang tersebut tidak merasakan sakit. Seseorang tersebut masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari secara

41 Cecep Triwibowo, Pengantar Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, (Jakarta: Nuha Media Press, 2015) Hlm 20-21

40

normal. Konsep sehat inilah yang kebanyakan dianut oleh masyarakat

Daerah III : Daerah dimana seseorang tidak menderita penyakit,

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 27-33)

Dokumen terkait