BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG SENI BELADIRI,
2.3 Filosofi dan Teknik dalam Jujutsu
2.3.1 Filosofi
warna terhadap esensi murni yang menjadi dasar seni beladiri Jepang
khususnya Jujutsu. Menurut Arifin, ajaran pokok Zen bertujuan untuk mencapai pencerahan jiwa lewat usaha sendiri secara tekun dan ia bisa diterima dengan mudah oleh orang Jepang yang sebelumnya telah mengenal ajaran Shinto karena Zen bisa mengakomodasi nilai-nilai budaya asli orang Jepang ke dalam penafsiran khusus ajaran Budha.
Menurut buku Jepang Dewasa Ini, ada sebelas periode utama dalam sejarah budaya Jepang :
1. Periode Jomon (8000 SM – 300 SM) 2. Periode Yayoi (300 SM – 300 M) 3. Periode Yamato (300 – 593) 4. Periode Asuka (593 – 710) 5. Periode Nara (710 – 794) 6. Periode Heian (794 – 1192) 7. Periode Kamakura (1192 – 1338) 8. Periode Muromachi (1338 – 1573) 9. Periode Edo (1603 – 1868)
10.Periode Modern (1868 – sekarang)
Bentuk awal Shinto mungkin dimulai pada periode Jomon, sedangkan kontak budaya dan perdagangan dengan Cina dan Korea dimulai luas termasuk
penggunaan aksara Kanji dan kemudian disusul masuknya agama Budha pada
periode Asuka. Sekte Chan dari agama Budha Mahayana untuk pertama kalinya dibawa oleh pendeta Eisai (aliran rinzai) pada periode Heian bersamaan dengan munculnya sebuah kelas baru dalam strata sosial Jepang, yaitu samurai, golongan
prajurit yang awalnya berasal dari kalangan petani. Sekte Chan gelombang kedua dibawa oleh Dogen (aliran soto) dan kemudian bertransformasi (setelah bersinkretisme dengan Shinto) menjadi apa yang disebut dengan Zen pada periode Kamakura.
Zen mencapai puncak perkembangannya pada periode Edo
dibawah pengaruh besar Takuan (pendeta yang juga ahli pedang ternama). Menurut legenda, ia adalah guru dari Miyamoto Musashi, samurai terbesar Jepang pada masa feodal Shogun. Takuan mendirikan kuil Tokaiji di Shinagawa, tempat ia sering menerima para ahli dari banyak jenis ilmu beladiri yang ingin mencapai kesempurnaan jiwa secara Zen. Sebelumnya semua jenis teknik pertempuran di Jepang disebut Bugei, yang hanya berisikan konsep disiplin fisik tanpa etika moral apapun . Dari sinilah ia lalu menulis dua buah buku yang berjudul “Hontai” dan “Seiko” yang keduanya berisi tuntunan nilai filosofis tingkat tinggi yang dikemudian hari dipakai sebagai semacam kitab induk semua perguruan Budo (seni beladiri yang mendasarkan ajarannya pada disiplin jiwa, moral, maupun fisik). Kedisiplinan, rasa hormat pada orang lain, sifat pantang menyerah adalah beberapa dari filosofi Zen yang kelak menjadi semacam pedoman tidak tertulis yang membentuk keunikan karakteristik sosial masyarakat Jepang di semua bidang kehidupan sampai saat ini. Hal ini sangat didukung oleh langkah politik keshogunan Tokugawa yang menerapkan politik isolasi total mulai tahun 1639 sampai 265 tahun berikutnya. Saat itu mereka benar-benar menutup seluruh pintu utama pelabuhan laut Jepang bagi dunia luar yang hal ini dilakukan untuk membendung pengaruh negara-negara kolonial besar Eropa yang pada abad ke-16
pengenalan senjata api dan penyebaran agama Kristen, dua potensi asing yang dianggap sangat berbahaya bagi kelestarian struktur sosial budaya asli ala Shintoisme yang selama ribuan tahun dianut bangsa Jepang.
Berikut adalah beberapa prinsip utama dari sekian banyak kode etik Zen yang diajarkan Takuan:
a. Zen selalu menekankan pada pengetahuan atas Satori (intuisi) dan
menolak dengan tegas kepatuhan akan seluruh aspek ritual keagamaan Budha asli India seperti patung, gambar, upacara dan lain-lain. Ajaran utama Zen menyatakan bahwa manusia terpisah dari semua benda tetapi pada saat yang
bersamaan ada pada segala realitas. Dalam Go Rin No Sho, Musashi
menjelaskan esensi Zen dalam pemahamannya sebagai seorang samurai: “Anda boleh saja menghormati Budha, namun Anda tidak boleh tergantung padanya.”
b. Mutekatsu adalah ajaran awal Takuan yang berbunyi: “Memukul adalah tidak memukul, sebagaimana membunuh adalah tidak untuk membunuh”, yang mungkin bisa dijelaskan sebagai prinsip yang menuntun seseorang untuk menaklukkan musuhnya dengan cara menghindari sejauh mungkin sebuah pertarungan atau pertarungan tanpa tangan maupun senjata. Mutekatsu sebenarnya berasal dari Muto, sebuah doktrin pertarungan spiritual “tanpa pedang” karya Yagyu Tajima dari periode Azuchi Momoyama.
c. Mushotoku adalah ajaran yang mengutamakan pelaksanaan sebuah tindakan tanpa mengharapkan pamrih apa pun.
d. Fudoshin berarti keabadian dalam hati. Keadaan di mana pikiran seorang petarung tidak dihantui oleh ketakutan akan bahaya atau serangan apa pun. Oleh Musashi diibaratkan sebagai iwa ni mi atau tubuh seperti batu. e. Hontai adalah keadaan sadar dan waspada penuh dengan pikiran dan
emosi yang tetap terkontrol baik dari seseorang dalam sebuah pertarungan. f. Hyoho adalah metode strategi bertarung yang ditulis oleh Musashi
yang menekankan pada kondisi yang ia sebut sebagai “menikmati sebuah pertarungan”. Bertujuan agar kesempurnaan kepercayaan diri bisa dicapai dengan menemukan hubungan antara pikiran dengan kemampuan bertempur. g. Musha-Shugyo adalah prinsip yang bermaksud “pemahaman
sempurna akan sesuatu dicapai lewat banyak pengalaman”, dilaksanakan dalam bentuk menimba ilmu ke banyak guru yang berbeda-beda. Di masa lampau untuk mengatasi seorang yang belajar ilmu beladiri (Budoka) yang kerap melakukan musha-shugyo (agar tidak mengungguli teknik sebuah ryu
tempat ia belajar), maka ryu tersebut akan membuat Densho (dokumen
rahasia) yang berisikan Gokuhi (teknik-teknik simpanan khusus tertinggi) yang tidak akan diberikan pada orang yang tidak diyakini kesetiaannya pada ryu yang bersangkutan.
h. Mizu-Nagare adalah prinsip yang berarti “mengalir bagai air”, sering diterjemahkan sebagai posisi tubuh yang ideal bak air yang mengalir lancar melewati tubuh untuk dapat menghasilkan kesempurnaan dari gerakan. i. Zanshin adalah prinsip kewaspadaan akan segala hal yang akan
j. No aru taka wa tsume o kakusu ( )adalah prinsip yang berarti “rajawali tidak pernah menunjukkan cakarnya”, lebih mengacu pada konteks kerendahan hati yang akan membawa kepada kemenangan. Dianalogikan bahwa orang yang cerdas tidak akan pernah menyebut dirinya cerdas pada orang lain.
k. Do yang berarti jalan merupakan konsep moral, etika dan sekaligus
estetika yang menuntun pengikutnya pada keharmonian spiritual dan material. Dalam hubungan dengan beladiri ia digunakan sebagai kode disiplin wajib yang membedakan Budo dengan Jutsu.
l. Ai yang berarti cinta atau kasih merupakan konsep dasar dari seluruh
jenis Budo di Jepang, dan menurut Zen ia dipakai sebagai pengenalan dasar oleh manusia dalam mengatur alam semesta agar menjadi kekuatan untuk menjaga keharmonisannya.
m. Gi shin fuki berarti teknik dan pikiran tidak dapat dipisahkan. n. Do mu kyoku berari tidak ada pembatasan bagi kehidupan, lebih dimaksudkan
sebagai pantang menyerah pada situasi dan kondisi apa pun.
o. Myo wa kyo-jitsu no kan ni ari berarti esensi murni sebuah teknik terletak diantara serangan dan pertahanan.
p. Bushi no nasake berarti manusia paling kuat dan berani haruslah juga menjadi manusia yang paling sopan.
q. Bushido yang berarti “jalan atau pedoman kesatriaan” memiliki tempat tertinggi dalam tradisi Budo (seni beladiri) kuno. Seorang Budoka baru