BAB II. KONDISI UMUM LOKASI KEGIATAN
D. Flora dan Fauna di PT. HKI
Berikut list Flora berdasarkan dokumen yang dimiliki PT. HKI yang ada di areal PT. Hutan Ketapang Industri dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2. Flora di PT. HKI
Adapun untuk Fauna di PT. HKI berdasarkan sumber dokumen yang dimiliki dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini :
Tabel 3. Fauna di PT.HKI
BAB III. METODOLOGI
A. Waktu dan Personil Pelaksana
Kegiatan Survey keberadaan Beruang Madu dan pendugaan awal mengenai potensi daya dukung dilaksanakan selama 6 (enam) hari dari tanggal 11 s/d 16 November 2020 dan dilaksanakan oleh 6 (orang) orang dari Balai KSDA Kalbar dan SKW I Ketapang.
Tabel 4. Tim Pelaksana Survey Keberadaan Beruang Madu di PT. HKI.
No Nama/NIP Jabatan
1 Yoga Budihandoko,S.Hut / 198405162010121004
Pengendali Ekosistem Hutan Pertama pada kantor SKW I Ketapang
2 Irmawan Pengolah Data pada Resort Kendawangan Seksi Konservasi Wilayah I
3 Muhammad Syarifudin Pengolah Dara ( Kepala Resort ) pada Resort Seriam Seksi Konservasi Wilayah I
4 Tiusman Petugas Lapangan Pada Resort Seriam
5 Rahmad Dian,S.Hut Bhakti Rimbawan Lingkup SKW I Ketapang 6 Andreas Budiman Silalahi Bhakti Rimbawan Lingkup SKW I Ketapang
B. Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu : 1. Peta Kerja, Peta Situasi
2. Kompas
8. Peralatan Rintis
9. Tally sheet pengamatan perjumpaan langsung dan tidak langsung
C. Ruang lingkup kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara mencari jejak-jejak satwa Beruang Madu sebanyak mungkin di dalam transek yang telah dibuat selama periode waktu kegiatan di kawasan PT.HKI dan juga diikuti dengan pengamatan habitat satwa
D. Parameter kegiatan
Parameter-parameter yang diambil atau diukur dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1. Keberadaan Beruang Madu dengan tidak langsung melalui jejak aktivitas satwa tersebut, berupa bekas cakaran, koyakan dan sarang di pohon.
2. Kondisi habitat Beruang Madu, dari vegetasi terutama yang berpotensi sebagai sumber pakan, parameter ini diambil untuk pendugaan awal daya dukung areal yang disurvey terhadap satwa Beruang Madu.
E. Metode Kerja
Tahapan kerja untuk pelaksanaan kegiatan – kegiatan ini adalah : 1. Survey Keberadaan Beruang Madu
Satwa Beruang Madu merupakan satwa yang hidup soliter serta sangat sensitif terhadap kehadiran manusia. Oleh karena itu untuk memastikan keberadaan Beruang Madu lebih menggunakan metode tidak langsung. Jejak aktivitas satwa liar tersebut dapat berupa bekas tapak kaki di permukaan tanah, feses (kotoran), bagian – bagian badan yang ditinggalkan, suara, sarang, bau – bauan atupun tanda – tanda lainnya. Jejak-jejak aktivitas ataupun tanda – tanda yang ada di lapangan yang dapat dipergunakan sebagai indikator ada atau
Gambar 2. Ciri khas sarang orangutan (1; foto oleh Kisar Odom) jika dibandingkan dengan sarang elang (2; foto oleh Suci Utami-Atmoko), tupai besar (3; foto oleh Suci
Utami-Atmoko) dan Beruang Madu (4a & 4b; foto oleh Nuzuar).
2. Kondisi habitat sebagai representasi gambaran potensi daya dukung serta ancaman yang ada pada areal yang disurvey.
Daya dukung habitat adalah kapasitas optimum suatu habitat untuk mendukung populasi satwaliar tertentu, sehingga dapat hidup secara normal. Menurut Alikodra (1990) dalam UGM 2007, pengertian umum habitat adalah sebuah kawasan yang terdiri dari komponen fisik maupun abiotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembang biaknya satwa liar. Satwa liar menempati habitat yang sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya, karena habitat mempunyai fungsi menyediakan makanan, air dan pelindung. Tipe habitat merupakan komponen-komponen sejenis pada suatu habitat yang mendukung sekumpulan jenis satwa liar untuk beraktivitas. Tipe habitat yang diperlukan suatu satwa di-identifikasi
melalui pengamatan fungsi-fungsinya, misalnya untuk makan atau bertelur. Struktur vegetasi berfungsi sebagai pengaturan ruang hidup suatu individu dengan unsur utama adalah: bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk (UGM, 2007).
Kondisi habitat kali ini adalah kembali memantau perubahan – perubahan dan situasi terkini dari habitat Beruang Madu khususnya yang berada dalam koridor dan didalam konsesi PT.HKI, mulai dari vegetasi, sumber air dan gangguan.
Untuk mengetahui kualitas habitat dilakukan dengan analisis vegetasi.
Dengan metode pengkajian secara cepat (
rapid assesment
) didalam transek pengamatan yang berjarak ± 1 Km setiap jalur transek (disesuaikan dengan kondisi lapangan), setiap 200m dilakukan pengambilan data vegetasi pada radius 10m dan mencatat data tumbuhan dengan diameter diatas 10 cm, transek pengamatan dapat dilihat pada Gambar 3 dibawah ini :Gambar 3. Metode yang digunakan adalah
variable circular point
dengan intervalAnalisis Vegetasi menghasilkan Indeks Nilai Penting (INP) untuk jenis dominan di setiap tingkat pertumbuhan, di mana INP terdiri atas kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif dengan nilai maksimum 300 % pada tingkat pohon dan tingkat tiang sedangkan untuk tingkat semai dan tingkat pancang nilai maksimum INP ialah 200% yang
200m
terdiri dari jumlah kerapatan relatif (KR) dan frekuensi relatif (FR). 3. Frekuensi suatu jenis (F):
F
= Σ sub petak ditemukan suatu jenisΣseluruh sub petak contoh 7. Indeks Nilai Penting (INP) (%)
Untuk tingkat pohon adalah INP = KR + FR + DR
F. Tahapan Pelaksanaan
1. Pada hari pertama tim melakukan
briefing
bersama dengan manajemen PT.HKI untuk mempersiapkan pelaksanaan survey, mulai dari pematangan metode jalur jelajah, perlengkapan , personil dan logistik.
2. Pada tahun 2020 transek dibuat sebanyak 7 transek utama. Sedangkan pada tahun 2019 transek berjumlah 8 (delapan) transek, dimana terdapat 1 tambahan transek yang berada di ujung utara koridor Beruang Madu yang berbatasan dengan Kawasan Hutan Lindung Sungai Tengar _ Pesaguan.
Pada tahun 2020 tidak dilakukan survey pada wilayah tersebut dikarenakan keterbatasan akses dan kondisi transek yang tergenang pada musim hujan.
3. Pelaksanaan monitoring pada tahun 2020, transek diprioritaskan pada jalur jelajah. Jalur jelajah ini sekaligus juga dengan pengambilan data vegetasi, pada tahun 2017 jalur vegetasi lebih banyak dibuat karena didukung dengan personil yang lebih banyak dan adanya tenaga botanis.
Gambar 4. 7 transek survey monitoring Beruang Madu di Koridor Beruang Madu PT.HKI tahun 2018 dan 2019
4. Pembagian tugas tim menjadi 2 untuk pencarian jejak sekaligus pengambilan data vegetasi, dan situasi pada habitat Beruang Madu.
5. Kompilasi data yang berhasil terkumpul 6. Analisis data lapangan
7. Pembuatan laporan
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Keberadaan Beruang Madu
Sebagaimana survey keberadaan Beruang Madu yang dilaksanakan pertama kali pada tahun 2017 keberadaan satwa ini dinyatakan extant, demikian pula dengan monitoring yang dilakukan pada tahun 2019 bahwa Beruang Madu masih nyata keberadaannya di wilayah koridor. Hal tersebut terbukti dengan adanya perjumpaan jejak – jejak yang ditinggalkan oleh satwa tersebut,meskipun seperti sebelumnya tidak terjadi perjumpaan langsung. Berikut jejak – jejak Beruang Madu yang dijumpai selama survey dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini :
Gb 5.1. Cakaran Beruang Madu di pohon
Penaga Gb 5.2. Bekas cabikan pada batang
pohon Akasia
Gb 5.3. Bekas galian pada tanah Gb 5.3. Sarang Beruang
Berikut dibawah ini disajikan seluruh perjumpaan jejak Beruang Madu selain perjumpaan sarang.
Tabel 5. Jejak – jejak Beruang Madu pada lokasi survey
No. Koodinat Keterangan
Jejak Jenis Pohon Nama Latin
S E
1 02.30828 110.27639 Cabikan Akasia Acacia mangium
2 02.32165 110.27672 Cabikan Samak
3 02.32721 110.26082 Cabikan Akasia Acacia mangium 4 02.32216 110.27907 Cabikan Mahang
5 02.32248 110.27526 Cabikan Meranti
6 02.32294 110.27993 Cabikan Penaga Schima wallichii 7 02.32397 110.28035 Cabikan Penaga Schima wallichii 8 02.31430 110.27904 Cakaran Penaga Schima wallichii 9 02.31350 110.27413 Cakaran Menjalin
10 02.31482 110.27375 Cakaran Akasia Acacia mangium
11 02.31487 110.27391 Cakaran Ladi
12 02.32162 110.27176 Cakaran Akasia Acacia mangium 13 02.32161 11027182 Cakaran Penaga Schima wallichii 14 02.32134 110.27296 Cakaran Akasia Acacia mangium 15 02.32141 110.27310 Cakaran Akasia Acacia mangium 16 02.32124 110.27390 Cakaran Penaga Schima wallichii 17 02.32147 110.27310 Cakaran Akasia Acacia mangium 18 02.32153 110.27662 Cakaran Penaga Schima wallichii 19 02.32151 110.27664 Cakaran Akasia Acacia mangium 20 02.32153 110.27672 Cakaran Akasia Acacia mangium 21 02.32163 110.27667 Cakaran Akasia Acacia mangium
22 02.32165 110.27672 Cakaran Samak
23 02.32167 110.27668 Cakaran Akasia Acacia mangium 24 02.33008 110.26775 Cakaran Akasia Acacia mangium 25 02.32981 110.26740 Cakaran Penaga Schima wallichii 26 02.32978 110.26733 Cakaran Akasia Acacia mangium 27 02.32963 110.26671 Cakaran Kondang
28 02.32968 110.26651 Cakaran Samak
29 02.32880 110.26493 Cakaran Penaga Schima wallichii 30 02.32730 110.26026 Cakaran Samak
31 02.32235 110.27956 Cakaran Pekawai
32 02.32261 110.27948 Cakaran Penaga Schima wallichii
33 02.32261 110.27948 Cakaran Kasia Acacia mangium 34 02.32291 110.27988 Cakaran Akasia Acacia mangium 35 02.32295 110.27995 Cakaran Mahang
36 02.32391 110.28042 Cakaran Penaga Schima wallichii 37 02.32391 110.28042 Cakaran Penaga Schima wallichii 38 02.32368 110.28036 Cakaran Akasia Acacia mangium 39 02.32368 110.28036 Cakaran Akasia Acacia mangium 40 02.32364 110.28034 Cakaran Akasia Acacia mangium 41 02.32364 110.28034 Cakaran Akasia Acacia mangium 42 02.32387 110.28045 Cakaran Penaga Schima wallichii 43 02.32414 110.28068 Cakaran Akasia Acacia mangium 44 02.32475 110.28113 Cakaran Akasia Acacia mangium 45 02.32540 110.28147 Cakaran Akasia Acacia mangium 46 02.32540 110.28147 Cakaran Akasia Acacia mangium 47 02.32717 110.27278 Cakaran Akasia Acacia mangium 48 02.32717 110.27278 Cakaran Akasia Acacia mangium 49 02.32717 110.27278 Cakaran Akasia Acacia mangium 50 02.32389 110.28028 Cabikan Akasia Acacia mangium Sumber : Data primer survey keberadaan Beruang Madu di PT. HKI 2020
Dari data perjumpaan jejak Beruang Madu pada Kegiatan Survey tahun 2020, dari 50 jejak yang di temukan di lapangan 8 jejak Beruang Madu berupa cabikan/koyakan di batang pohon, sedangkan 42 jejak lainnya merupakan cakaran. Jenis pohon Akasia yang paling banyak di temukan jejak cakaran Beruang Madu
Data jejak Beruang Madu (
Helarctos malayanus
) sendiri tidak hanya berupa cakaran, cabikan/koyakan, dan galian di permukaan tanah, tetapi jejak keberadaan Beruang Madu juga bisa di lihat dari perjumpaan sarang di lapangan.Adapun hasil perjumpaan sarang pada survey keberadaan Beruang Madu (
Helarctos malayanus
) tahun 2020 seperti pada tabel berikut :Tabel 6. Perjumpaan Sarang Beruang Madu di Lokasi Survey
No. Koordinat Tinggi
Sarang (m)
Diameter (cm)
Nama Pohon
S E
1 02.31350 110.27413 10 28 Menjalin
2 02.32729 110.26025 5 28 Samak
3 02.32808 110.26191 3 25 Akasia
4 02.32707 110.25990 5 28 Penaga
Sumber : Data primer survey keberadaan Beruang Madu di PT. HKI 2020 Gb. 6.1. Cabikan/Koyakan Beruang
Madu
Gb 6.2. Cakaran Beruang Madu
Gb 7. Sarang Beruang Madu (
Helarctos malayanus
)2. Kondisi Habitat
a. Potensi Daya Dukung
Pendugaan awal mengenai potensi daya dukung habitat dilakukan melalui pendekatan komponen habitat, di mana habitat berfungsi sebagai tempat untuk hidup, tempat mencari makan, tempat berlindung dan tempat berkembang biak.
Adapun komponen habitat yang dapat mengendalikan kehidupan satwa liar (Shawn, 1985), terdiri dari:
1. Pakan (f
ood
), merupakan salah satu komponen habitat yang paling nyata dan setiap jenis satwa mempunyai kesukaan yang berbeda dalam memilih pakannya. Sedangkan ketersediaan pakan erat hubungannya dengan perubahan musim;Gb 8. Pohon buah yang ditemukan saat Survey Beruang Madu (
Helarctos
malayanus
).Berikut disajikan hasil analisa vegetasi dari data yang diambil hanya di dalam transek :
Tabel 7. Hasil Analisis Vegetasi Pada Habitat Beruang Madu
sumber : Data primer survey keberadaan Beruang Madu di PT. HKI 2019
2. Pelindung (
cover
) adalah segala tempat dalam habitat yang mampu memberikan perlindungan bagi satwa dari cuaca dan predator, ataupun menyediakan kondisi yang lebih baik dan menguntungkan bagi kelangsungan kehidupan satwa ;Sebagaimana disebutkan dalam penelitian Nur Anita Gusnia dkk tahun 2013 bahwa kebutuhan tempat berlindung untuk Beruang Madu adalah salah satunya keberadaan tumbuhan pada tingkat pohon dengan diameter cukup besar untuk dapat memanjat dan memiliki tajuk yang rindang sebagai naungan. Selain itu juga Beruang Madu kadang menggunakan lubang pada batang pohon yang sudah mati sebagai tempat untuk tidur. Lubang atau celah dalam batu pun tidak menutup kemungkinan untuk tempat berlindung, dan pada koridor Beruang Madu sebagian merupakan perbukitan yang terbentuk dari bebatuan sehingga terdapat banyak celah membentuk lubang yang dapat dijadikan tempat berlindung.
3. Air (
water
), dibutuhkan oleh satwa dalam proses metabolisme dalam tubuh satwa. Kebutuhan air bagi satwa bervariasi, tergantung air dan/atau tidak tergantung air. Ketersediaan air pada habitat akan dapatmengubah kondisi habitat, yang secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh pada kehidupan satwa;
Koridor Beruang Madu di dalamnya terdapat banyak perbukitan dan hal tersebut berdampak pada melimpahnya sumber air, terdapat banyak mata air dan membentuk sungai serta anak sungai sebagaimana pada gambar di bawah ini.
Gambar 9. Sungai dan Anak Sungai dalam Koridor
Meskipun pelaksanaan survey kali ini adalah saat penghujung musim kemarau, dengan curah hujan yang masih minim namun sumber – sumber air masih mudah dijumpai. Hampir seluruh jejak baik terutama cakaran pada pohon , galian pada tanah dijumpai pada lokasi yang dekat sumber air. Sebagaimana peta di atas hampir seluruh jalur sungai maupun anak sungai berwarna merah yang artinya kesesuaian habitat Beruang Madu tinggi. Berikut di bawah ini beberapa dokumentasi sumber air yang ada dalam koridor Beruang Madu.
Gb 10. Anak sungai yang ada di dalam jalur transek survey Beruang Madu (
Helarctos malayanus
)4. Ruang (
space
), dibutuhkan oleh individu-individu satwa untuk mendapatkan cukup pakan, pelindung, air dan tempat untuk kawin. Besarnya ruang yang dibutuhkan tergantung ukuran populasi, sementara itu populasi tergantung besarnya satwa, jenis pakan, produktivitas dan keragaman habitat. Tipe habitat merupakan komponen-komponen sejenis pada suatu habitat yang mendukung sekumpulan jenis satwa liar untuk beraktivitas. Tipe habitat yang diperlukan suatu satwa di identifikasi melalui pengamatan fungsi- fungsinya, misalnya untuk makan atau bertelur.Jika mengacu kepada daya jelajah Beruang Madu, dalam Penilitian jangka panjang pertama di dunia terhadap Beruang Madu (
Helarctos malayanus
) di alam yang dilakukan di Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa rata-rata seekor Beruang Madu betina memerlukan wilayah jelajah tidak kurang dari 500 Ha untuk hidup dalam setahun. Sedangkan diperkirakan bahwa Beruang Madu jantan memerlukan wilayah jelajah sekitar 1,500 Ha per tahun dan koridor Beruang Madu di PT HKI adalah seluas : 5.536,07 Ha, dan sekitar 2.697,33 ha yang berada dalam konsesi PT.Hutan Ketapang Industri.b. Gangguan Pada Habitat Beruang Madu
Berdasarkan hasil temuan di lapangan bahwa keberadaan koridor Beruang Madu dijumpai banyak aktivitas manusia, mengingat Koridor Satwa ini terbagi menjadi dua bagian besar yang dipisahkan oleh jalan provinsi sehingga sangat mudah untuk mengakses ke dalam hutan atau kawasan yang menjadi habitat Beruang Madu ini.
Dari 7 jalur pengamatan Beruang Madu tahun 2020, di mana 4 di antaranya berada tidak jauh dari jalan provinsi, sehingga menjadi transek - transek yang sangat rawan mengalami gangguan. Beruang Madu mengalami berbagai ancaman baik yang terjadi secara alami maupun akibat manusia seperti penangkapan liar, perdagangan Beruang baik hidup maupun bagian – bagian tubuhnya, konflik dengan manusia, fragmentasi dan isolasi habitat, degradasi hutan, konversi lahan, kebakaran dan kekeringan. Adapun gangguan atau ancaman yang dijumpai nyata selama survey dilakukan disajikan pada gambar 11 di bawah ini :
Gambar 11.1. Aktifitas penebangan
liar jalur transek Gb. 11.2. Aktifitas perburuan satwa di jalur Transek
Gb. 11.3 Kebun Warga tepat di jalur
transek Gb. 11.4 Perkebunan Sawit warga di
sekitar koridor Beruang Madu
Gb. 11.5. Jalur Akses masyarakat Gb. 11.6. Aktifitas Perladangan
B. Pembahasan
1. Keberadaan Beruang Madu
Tanda – tanda yang diakibatkan oleh suatu tingkah laku satwa liar pada saat mencari makan , kawin, dan mandi /berkubang sangat membantu
kita dalam melakukan identifikasi jenis satwa liar. Tanda tersebut dapat berupa : gigitan – gigitan pada daun yang dimakan, gigitan – gigitan pada kult pohon dan akar pohon, adanya sisa buah – buahan, dan adanya jalur lintasan satwa.
Beruang Madu akan mencakar dan merobek batang kayu untuk mencari sarang lebah. Tanda cakaran ini juga terlihat dari aktivitas beruang yang memanjat pohon. Tanda cakaran dapat bertahan hingga beberapa bulan maupun beberapa tahun. Berikut di bawah ini disajikan data hasil survey keberadaan Beruang Madu mulai dari tahun 2017 s/d 2019.
Tabel 8. Perjumpaan Jejak tahun 2017 s/d 2020
No Jejak 2017 2018 2019 2020
Berdasarkan pada Tabel 8, menunjukkan perbandingan pada perjumpaan jejak setiap tahunnya, baik itu jejak Cakaran/cabikan, Galian, Maupun Sarang. Pada tahun 2020 ini perjumpaan jejak Beruang mengalami peningkatan terutama pada perjumpaan Cakar/Cabikan jika di bandingkan dengan 3 kegiatan survey sebelum yaitu pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Pada kegiatan survei keberadaan Beruang Madu pada tahun 2020 mengalami penuruan dalam hal perjumpaan sarang Beruang Madu (
Helarctos malayanus
), di mana pada tahun 2020 hanya di jumpai 4 sarang Beruang Madu (Helarctos malayanus
). Penurunan temuan perjumpaan sarang Beruang Madu tahun 2020 kemungkinan karena adanya perubahan daerah jelajah satwa Beruang Madu terutama dalam hal mencari sumber makanan, mencari tempat perlindungan yang baru.Jika disajikan dalam grafik maka akan berbentuk seperti pada gambar di bawah ini :
Gambar 12. Grafik Perjumpaan Jejak Beruang Madu
2. Kondisi Habitat
Saat survey pertama kali dilakukan pada tahun 2017 tercatat 109 jenis tumbuhan, Sebanyak 68 jenis tumbuhan pada umumnya dengan habitus pohon yang menjadi potensi tumbuhan pakan satwa Beruang Madu. Dan 73 jenis tumbuhan merupakan tercatat dalam plot pengamatan vegetasi dengan INP tertinggi adalah Akasia. Hasil analisis tahun 2019 menghasilkan akasia sebagai INP tertinggi, sedangkan pada tahun 2020 ini Analisis vegetasi menghasilkan INP tertinggi adalah jenis pohon Akasia (
Acasia mangium
) dan di susul oleh pohon Penaga (Schima wallichii ).Dari pemantauan lapangan kali ini, skala gangguan dan ancaman terhadap habitat Beruang Madu masih sama seperti tahun sebelumnya, seperti
illegal
logging
, perladangan, dan perkebunan. Jika dilihat dengan kondisi terkini kondisi koridor Beruang Madu mungkin gangguan pada tahun - tahun yang akan datang mengalami peningkatan, karena aktifitas masyarakat di sekitar koridor beruang masih tetap ada.V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Indikasi keberadaan Beruang Madu dalam bentuk perjumpaan jejak berupa cakaran , sobekan , sarang dan lainnya dijumpai pada 7 transek dari 7 transek yang dibuat.
2. Hasil temuan jejak keberadaan Beruang Madu meningkat di bandingkan 3 tahun sebelumnya, terutama pada perjumpaan Cakar/Cabikan, hampir di 7 (Tujuh) transek dijumpai jejak Beruang Madu.
3. Hasil perjumpaan jejak Beruang Madu tahun ini Cakaran/Cabikan 50 temuan, 4 Sarang dan 6 Galian.
4. Hasil Analisis Vegetasi Akasia memiliki INP tertinggi menyusul kemudian Pohon Penaga
5. Gangguan terhadap habitat dan koridor Beruang Madu di areal konsesi berupa kebakaran , perladangan,
illegal loging
, dan perburuan. Jika dibandingkan dengan kondisi survey pada tahun 2017 gangguan masih jauh lebih rendah.B. Saran
1. Monitoring keberadaan Beruang Madu perlu dilakukan secara berkala dan dengan sumber daya yang kurang lebih sama.
2. Penambahan jalur transek pengamatan Beruang Madu.
3. Harus dilakukan pemulihan areal yang terbakar dengan melakukan penanaman tanaman produksi dipadukan dengan tanaman pengayaan (tanaman buah – buahan) terutama pada sempadan sungai (paling banyak dijumpai jejak Beruang Madu).
4. Perlu dilakukan edukasi dan penyadartahuan masyarakat terutama yang berada di sekitar lokasi habitat koridor Beruang Madu, dan pelibatan aktif dalam upaya – upaya konservasi pada lingkup PT. HKI serta mendorong kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar.
5. Penguatan perlindungan dan pengamanan pada habitat Beruang Madu, terutama dari pembakaran hutan, kemudian perburuan, ilegal logging serta bertahap penyelesaian konflik tenurial.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Alikodra, H. S. 2002. Pengelolaan Satwa liar Jilid 1. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan Kampus Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
2. Bismark M. 2011. Prosedur Operasi Standar (SOP) Untuk Survey Keragaman Jenis Pada Kawasan Konservasi. Bogor
3. Fredriksson et al.2006. Pemakan Buah (Frugivory) Beruang Madu (
Helarctos malayanus
) Dirangkaikan dengan Fluktuasi Perubahan Fenologi Pembuahan Akibat Pengaruh El Nino, Kalimantan Timur, Indonesia.Balikpapan
4. Gusnita Nur Anita dkk.2013. Penggunaan Ruang oleh Beruang Madu di Areal Konservasi IUPHHK-HTI PT.RAPP Estate Meranti. IPB.Bogor
5. Seksi Konsevasi Wilayah I Ketapang BKSDA KALBAR Dan PT. HKI.
2017. Laporan Survey Keberadaan Beruang Madu Serta Pendugaan Awal Potensi Daya Dukung Habitat Tahun 2017. Ketapang
6. PT.HKI. 2018. Laporan Survey Monitoring Keberadaan Serta Gangguan Terhadap Habitat Dan Koridor Beruang Madu (
Helarctos malayanus
).Kecamatan Kendawangan