BAB VIII KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH BAB IX PENUTUP
2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat
2.1.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial 1 Pendidikan
Dengan demikian, maka diperlukan sebuah strategi dalam penanggulangan kemiskinan yang dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan yang melibatkan semua pihak baik, pemerintah, dunia usaha, perguruan tingggi, lembaga swadaya masyarakat setempat, maupun masyarakat miskin sendiri.Tiga pilar penanggulangan kemiskinan yang harus dibangun terus menerus kedepan di Sulawesi Tengah yaitu:
1) Memperluas kesempatan kerja (Promoting Opportunities for the Poor)
2) Meningkatkan pemberdayaan masyarakat (Facilitating Empowerment)
3) Memperkuat ketahanan sosial (Enhancing Social Security).
2.1.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial 2.1.2.2.1 Pendidikan
2.1.2.2.1.1. Angka Rata-Rata Lama Sekolah dan Angka Harapan Lama Sekolah
Pembangunan di sektor pendidikan, diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pendidikan dengan memanfaatkan secara optimal fasilitas pendidikan yang ada.
Keberhasilan pembangunan di sektor pendidikan dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain yaitu: Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS), Angka Harapan Lama Sekolah (HLS), Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM).
Sepanjang Tahun 2013-2017, Angka Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) di Provinsi Sulawesi Tengah cenderung mengalami peningkatan, yakni dari 7,82 tahun pada Tahun 2013 menjadi 8,29 tahun pada Tahun 2017. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata lama sekolah bagi penduduk usia sekolah di Sulawesi Tengah telah mencapai kelas 2 (dua) pada jenjang pendidikan tingkat pertama (SLTP).
Dilihat dari capaian angka Harapan Lama Sekolah pada periode yang sama, juga menunjukan tren peningkatan yakni dari 12,36 tahun pada Tahun 2016 menjadi 13,04 tahun pada Tahun 2017.
Perubahan RPJMD Provinsi Sulteng Tahun 2016-2021 BAB II - 43
Gambar 2.21
Perkembangan Angka Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS) Provinsi Sulawesi Tengah
Tahun 2013 – 2017
Sumber: BPS, Tahun 2018.
2.1.2.2.1.2. Angka Partisipasi Kasar (APK)
Salah satu indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan, yakni melalui Angka Partisipasi Kasar (APK).
APK adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun atau rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkatpendidikantertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitandengan jenjang pendidikan tertentu. APK ini menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan.
Capaian APK SD di Sulawesi Tengah pada Tahun 2017 sebesar 104,19 persen, sementara capaian APK SMP sebesar 91,86 persen dan capaian APK SMA sebesar 84,85 persen.
Perubahan RPJMD Provinsi Sulteng Tahun 2016-2021 BAB II - 44
Gambar 2.22
Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK)
Menurut Jenjang Pendidikan di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2014-2017
Sumber: BPS, 2018.
Perspektif kabupaten/kota, pada Tahun 2017 capaian APK SD tertinggi terdapat di Kabupaten Tojo Una-Una sebesar 109,76 persen dan terendah terdapat di Kabupaten Banggai Laut sebesar 95,80 persen.
Gambar 2.23
Capaian APK SD/MI Kabupaten/Kota Tahun 2017
Sumber: BPS, 2018.
Perubahan RPJMD Provinsi Sulteng Tahun 2016-2021 BAB II - 45
Capaian APK SMP pada Tahun 2017 tertinggi terdapat di Kabupaten Banggai Laut sebesar 106,94 persen dan terendah di Kabupaten Banggai Kepulauan sebesar 86,70 persen.
Gambar 2.24
Capaian APK SMP Kabupaten/Kota Tahun 2017
Sumber: BPS, 2018.
Pada jenjang SMA Tahun 2017, capaian APK tertinggi terdapat di Kota Palu sebesar 97,49 persen dan terendah di Kabupaten Tojo Una-Una sebesar 68,65 persen.
Gambar 2.25
Capaian APK SMA Kabupaten/Kota Tahun 2017
Sumber: BPS, 2018.
Perubahan RPJMD Provinsi Sulteng Tahun 2016-2021 BAB II - 46
2.1.2.2.1.3. Angka Partisipasi Murni (APM)
Sama halnya APK, Angka Partisipasi Murni (APM) juga merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM ini melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut, atau dengan perkataan lain APM adalah perbandingan penduduk usia antara 7 hingga 18 tahun yang terdaftar sekolah pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama.
Capaian APM pada seluruh jenjang pendidikan di Provinsi Sulawesi Tengah pada Tahun 2013-2016 mengalami peningkatan. Pada Tahun 2016 capaian APM SD/MI sebesar 92,74 persen meningkat dibanding Tahun 2015 sebesar 92,35 persen. Sementara capaian APM SMP/MTs pada Tahun 2016 sebesar 72,16 persen meningkat dibanding Tahun 2015 yang sebesar 71,10 persen. Sedangkan capaian APM SMA/MA/SMK pada Tahun 2016 sebesar 63,80 persen meningkat dibanding Tahun 2015 yang sebesar 63,32 persen.
Gambar 2.26
Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2014-2017
Sumber: BPS, 2018.
Perubahan RPJMD Provinsi Sulteng Tahun 2016-2021 BAB II - 47
Perspektif spasial kabupaten/kota, pada Tahun 2017 capaian APM SD tertinggi terdapat di Kabupaten Banggai sebesar 96,05 persen dan terendah di Kabupaten Banggai Laut sebesar 84,35 persen.
Gambar 2.27
Capaian APM SD Kabupaten/Kota Tahun 2017
Sumber: BPS, 2018.
Pada jenjang SMP, pada Tahun 2017 capaian tertinggi terdapat di Kabupaten Morowali Utara sebesar 83,42 persen dan terendah di Kabupaten Banggai Kepulauan yaitu 63,55 persen.
Gambar 2.28
Capaian APM SMP Kabupaten/Kota Tahun 2017
Sumber: BPS, 2018.
Pada jenjang SMA, pada Tahun 2017, capaian APM tertinggi terdapat di Kota Palu sebesar 73,26 persen dan terendah di Kabupaten Tojo Una-Una sebesar 55,58 persen.
Perubahan RPJMD Provinsi Sulteng Tahun 2016-2021 BAB II - 48
Gambar 2.29
Capaian APM SMA Kabupaten/Kota Tahun 2017
Sumber: BPS, 2018.
2.1.2.2.2. Kesehatan
Pembangunan di bidang kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional Indonesia yang diatur di dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Dijelaskan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah secara sinergis, berhasil guna dan berdaya guna, sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.
Secara substansi, pemerintah maupun pemerintah daerah telah berupaya secara optimal dalam membangun derajat kesehatan masyarakat melalui sinergitas kebijakan pembangunan kesehatan yang diejawantahkan dalam bentuk pelaksanaan program dan kegiatan.
Capaian kinerja pembangunan kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah dapat dilihat dari beberapa perkembangan indikator kesehatan, antara lain: Angka Harapan Hidup, Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, dan Persentase Balita Gizi Buruk.
Selama periode Tahun 2014-2018, perkembangan Angka Harapan Hidup di Provinsi Sulawesi Tengah cenderung meningkat, yakni dari 67,18 tahun pada Tahun 2014 menjadi 67,9 tahun pada Tahun 2018. Sementara perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) pada periode yang sama cenderung menurun, yakni dari 215 per 100.000
Perubahan RPJMD Provinsi Sulteng Tahun 2016-2021 BAB II - 49
Kelahiran Hidup pada Tahun 2014 menjadi 153 per 100.000 kelahiran hidup pada Tahun 2018.
Angka Kematian Bayi (AKB) selama periode Tahun 2014-2018 mengalami trend penurunan, yakni dari 10,4 per 1000 kelahiran hidup pada Tahun 2014 menjadi 8,7 per 100.000 Kelahiran Hidup pada Tahun 2018.
Angka Kematian Balita (AKABA) pada periode sama mengalami penurunan, yakni pada Tahun 2014 sebesar 11,7 per 1000 Kelahiran Hidup menjadi 0,6 per 1000 Kelahiran Hidup.
Perkembangan persentase balita gizi buruk selama periode 2014-2018 menunjukkan trend yang membaik, yakni dari 0,79 persen pada Tahun 2014 berkurang signifikan menjadi 0,15 persen pada Tahun 2018.
Tabel 2.20
Capaian Indikator Kinerja Pembangunan Kesehatan di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2014 – 2018
NO. INDIKATOR KESEHATAN 2014 2015 2016 2017 2018
1 Angka Usia Harapan Hidup (Tahun) 67,18 67,26 67,31 67,32 67,9 2 Angka Kematian Ibu (per 100.000 KH) 215 208 155 141 153 3 Angka Kematian Bayi (per 1000 KH) 10,4 11,0 11 10 8,7 4 Angka Kematian Balita (per 1000 KH) 11,7 11,3 11,71 1 0,6 5 Persentase Balita Gizi Buruk (%) 0,79 0,35 0,16 0,15 0,15
Sumber: Dinkesda Provinsi Sulteng, 2019.