Kota Mataram berada di atas tanah yang subur sehingga tanaman pertanian di wilayah ini tumbuh dengan subur. Luas lahan di Kota Mataram yang digunakan untuk pertanian hanya 46 persen yaitu 2.880 Ha. Produksi padi di Kota Mataram selama periode 2010 - 2012, mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Produksi padi meningkat dari 24.236 ton pada tahun 2010 menjadi 27.328 ton pada tahun 2012. Peningkatan produksi ini didukung oleh program intensifikasi pertanian sehingga waktu panen lebih pendek sehingga luas panen meningkat.
Pada komoditi tanaman pangan yang lain berbeda dengan padi, pada umumnya pada tahun 2012 mengalami penurunan produksi bahkan tidak ada nilai produksinya. Untuk tanaman kedelai nilainya turun dari 1.040 ton tahun 2010 menjadi 400 ton di periode 2012. Kondisi ini berbanding lurus dengan luas lahan
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Mataram Tahun 2015 41 tanaman kedelai tiap tahunnya, dari tahun 2010 sampai 2011 luas panen tanaman kedelai selalu turun dari 968 hektar di tahun 2010 menjadi 379 hektar di tahun 2012. Untuk produksinya Jagung di Kota mataram pada tahun 2012 ini tidak ada, terakhir pada tahun 2011 produksinya hanya mencapai 9 ton dengan luas panen 2 hektar.
b. Urusan Pilihan Pariwisata
Sebagai salah satu Destinasi pariwisata, Kota Mataram memiliki potensi strategis di bidang kepariwisatan. Wisatawan yang berkunjung ke Kota Mataram tiap tahunnya selalu meningkat, hal ini terlihat dari jumlah tamu yang menginap di hotel. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi, selama tahun 2012 pertumbuhan perhotelan meningkat dengan, dari segi jumlah Hotel dan kamar yang tersedia. Dengan Tingkat Penghunian Hotel yang naik menjadi 16,28 dapat disimpulkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Kota Mataram bertambah. Jumlah wisatawan yaitu 285.249 wisatawan. Dengan rincian wisatawan domestik 275.807 wisatawan dan asing 9.442 wisatawan. Jumlah hotel berbintang 12 hotel dengan jumlah kamar 962 dan jumlah tempat tidur sebanyak 1.613. Sementara jumlah hotel non bintang sebanyak 72 hotel dengan jumlah kamar 1.437 kamar dan 2.678 tempat tidur. Berdasarkan tingkat hunian kamar tahun 2012 sebesar 16,28. Nilai tersebut mengalami kenaikan yang signifikan dibanding tahun–tahun sebelumnya.
Sementara itu rata-rata menginap tamu asing lebih lama dibanding tamu domestik. Rata-rata tamu asing menginap 4 sampai 5 hari di tahun 2010 dan 3 sampai 4 hari pada tahun 2012 sedangkan tamu domestik 1 sampai 2 hari di tahun 2010 dan 2 sampai 3 hari pada tahun 2012. Semakin meningkatnya kunjungan wisatawan ini tidak lepas dari semakin populernya Pulau Lombok sebagai tempat tujuan wisata. Selain itu banyak penyelenggaraan kegiatan tingkat nasional yang diselenggarakan di Kota Mataram.
c. Urusan Pilihan Kelautan dan Perikanan
Kota Mataram yang daerahnya berbatasan langsung dengan laut tentunya memiliki kekayaan bahari. Salah satunya adalah perikanan laut. Produksi perikanan laut di Kota Mataram pada tahun 2011 dan tahun 2010 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya tetapi pada tahun 2012 ini produksinya turun sedikit, yaitu hanya 1.664 ton. Produksi ikan laut pada tahun 2011 adalah yang tertinggi selama empat tahun terahir yaitu sebesar, 1.701 ton. Penurunan produksi perikanan laut merupakan pengaruh cuaca yang kurang bersahabat, yaitu angin kencang sehingga nelayan cenderung mencari pekerjaan lain.
Berbeda dengan perikanan laut, produksi perikanan darat di Kota Mataram dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan sampai tahun 2012 adalah produksi yang tertinggi. Pada tahun 2009 produksi ikan air tawar mencapai 135,86 ton, pada tahun 2010 mengalami peingkatan produksi sebesar 65 ton sehingga produksinya
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Mataram Tahun 2015 42 menjadi 201,96 per tahun. Hasil tersebut berlanjut di tahun 2011 yatu produksinya mencapai 244 ton per tahun atau naik sebesar 4.82 ton atau 1,9 persen. Di tahun 2012 ini produksinya meningkat lagi menjadi 249 ton. Peningkatan ini dikarenakan karena perikanan darat dapat dibudidayakan dan di kembangkan, dibandingkan perikanan laut yang tergantung dari banyak faktor.
d. Urusan Pilihan Perdagangan
Urusan Pilihan Perdagangan dilaksanakan oleh Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota Mataram. Data yang berkaitan dengan pelaksanaan Urusan Pilihan Perdagangan, antara lain:
Perkembangan Pedagang Kaki Lima pada tahun 2011 berjumlah 28 titik dan berkembang menjadi 35 titik pada tahun 2012.
Permohonan ijin usaha meningkat 14,18% dari target 94,27%
Adanya penggangguran terbuka dimana penyerapan tenaga kerja pada tahun 2012 sebesar 59.072 orang atau meningkat 11,00% dari tahun 2011 (53.190 orang)
Nilai investasi yang terus berkembang dimana pada tahun 2012 sebesar Rp. 766.508.602.000,-, naik 38,31% sehingga total investasi keseluruhan pada tahun 2012 sebesar Rp. 2.767.459.407.000,-
Perkembangan pasar modern yang terus meningkat
Penyelesaian sengketa konsumen pada tahun 2012 belum tuntas sebanyak 5 kasus dari 21 kasus yang dilaporkan hanya baru terselesaikan 16 kasus.
Jumlah produk yang belum diawasi pada tahun 2012 ditargetkan sebanyak 89 produk sedangkan yang baru terealisasi sebanyak 10 produk atau 11,23%
e. Urusan Pilihan Industri
Sektor industri pengolahan mempunyai peranan yang cukup penting dalam pembentukan perekonomian Kota Mataram. Dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sumbangan sektor industri mencapai 10 persen.
Salah satu usaha yang harus dilakukan agar sektor industri berkembang dan menjadi motor penggerak perekonomian Kota Mataram di masa datang adalah dengan meningkatkan nilai produksi sektor industri itu sendiri. Selama kurun waktu 2008 - 2012 produksi sektor industri mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Tahun 2008 nilai produksi mencapai 785 milyar rupiah meningkat sedikit menjadi 929 milyar rupiah pada tahun 2010, 2011 sebesar 987 dan terahir pada tahun 2012 meningkat sebesar 1.015 milyar rupiah.
Data dari Dinas Koperindag Kota Mataram menyebutkan bahwa jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor industri formal maupun informal mencapai 17 ribu orang lebih pada tahun 2012 yang meningkat dari tahun sebelumnya. Jumlah usaha yang ada di Kota Mataram mengalami penurunan.Tahun 2011 jumlah usaha industri di Kota Mataram mencapai 3.103 usaha menjadi 2.686 usaha pada tahun
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Mataram Tahun 2015 43 2012, tetapi nilai investasi tetap meningkat pada tahun 2012 nilainya mencapai 80,27 Milyar.
Besarnya nilai produksi tentu tidak lepas dari nilai investasi yang telah dikeluarkan, semakin besar investasi yang dikeluarkan tentunya berbanding lurus dengan hasil yang akan di dicapai. Meningkatnya nilai produksi dari sektor industri di kota Mataram dikarenakan meningkatnya nilai investasi yang juga naik dari tahun ke tahun kecuali pada tahun 2009 yang sempat menurun. Pada tahun 2008 investasi sebesar 67 milyar rupiah, tahun 2009 sebesar 39 milyar rupiah, tahun 2010 sebesar 80 milyar rupiah, tahun 2011 sebesar 93 milyar rupiah dan tahun 2012 masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 93 milyar rupiah.
Produksi yang tinggi tercapai karena adanya faktor produksi yang berkualitas. Salah satu faktor produksi pada industri yang harus tersedia adalah Bahan Baku. Nilai bahan baku yang digunakan pada produksi sektor industri tiap tahunnya selalu meningkat. Pada tahun 2008 nilai bahan baku yang digunakan sebesar 426 milyar rupiah. Tahun 2009 sempat terjadi penurunan nilai bahan baku yang digunakan, tahun berikutnya terus meningkat hingga tahun 2012 sebesar 573 milyar rupiah.
f. Ketransmigrasian
Tujuan transmigrasi asal Kota Mataram tahun 2012 nihil, namun pada tahun 2010 dan tahun 2011 yaitu Provinsi Kalimanatan Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat, sebagaimana tabel terlampir.
Tabel 2.18
Jumlah Transmigrasi Keluar Provinsi menurut Daerah Tujuan Tahun 2010-2012
No Daerah Tujuan Jumah (KK)
TA. 2010 TA. 2011 TA. 2012
1 Kalimantan Barat 5 10 0
2 Sulawesi Tenggara 5 3 0
3 Sulawesi Barat 0 2 0
Sumber: Dinas Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Provinsi NTB, 2012
2.1.4. Aspek Daya Saing Daerah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Mataram Tahun 2014 adalah sebesar Rp. 961,096 milyar atau meningkat 18,26 persen dari yang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Mataram Tahun 2013 yaitu sebesar Rp. 812,709 Milyar.
Dari sisi daya saing anggaran daerah, penerimaan pendapatan daerah Kota Mataram tahun 2012 di dominasi oleh oleh dana perimbangan dengan perbandingan terhadap PAD sebesar 70:30 kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap penerimaan masih relatif kecil dibanding dengan sumber penerimaan dari Dana
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Mataram Tahun 2015 44 Perimbangan. Pada tahun 2011 total penerimaan daerah Kota Mataram adalah Rp. 735 milyar, meningkat Rp. 56 milyar dari tahun lalu dan Rp. 13 milyar lebih banyak dari yang ditargetkan.
Ukuran lain yang dapat menggambarkan perekonomian wilayah adalah besarnya investasi swasta yang masuk (PMA dan PMDN). Dalam era otonomi daerah, persaingan investor asing cenderung semakin ketat. Meskipun investasi asing sebagian besar merupakan industri padat modal, tetapi banyak daerah berkeinginan untuk meningkatkan investasi asing di daerahnya untuk mempercepat berkembangnya perekonomian daerah, pemerintah daerah harus mampu meningkatkan pertumbuhan investasi di daerahnya tidak hanya yang berskala besar seperti dilakukan oleh PMA atau PMDN, namun investasi yang dilakukan masyarakat menengah ke bawah juga sangat penting karena dengan bertambahnya investasi diharapkan akan dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak sehingga nantinya masalah pengangguran dapat teratasi.
Jumlah investor yang menanamkan modalnya di Kota Mataram adalah sebanyak 54 investor dengan rincian 16 Investor Asing, dan 38 Investor Dalam Negeri. Sementara jumlah investasi PMDN dan PMA di Kota Mataram pada tahun 2011 sebesar Rp. 58,066 Milyar untuk PMDN, dan Rp. 2,217 Milyar untuk PMA. Bidang usaha investasi yang telah ada saat ini antara lain:
Jasa Telekomunikasi Seluler,
Perdagangan (ekport-import),
Jasa rekreasi wisata,
Jasa konsultansi pengembangan bisnis dan manajemen,
Biro perjalanan wisata, dan,
Jasa penyediaan gedung perkantoran dan pusat bisnis. Tabel 2.19
Perkembangan Nilai Investasi PMA dan PMDN Di Kota Mataram Tahun 2007-2011 Tahun Nilai Investasi
(Milyar Rupiah) 2007 16.787,57 2008 19.641,46 2009 22.228,31 2010 40.790,00 2011 128.685.00
Sumber : Badan Penanaman Modal Provinsi NTB, 2012
Peningkatan nilai investasi yang cukup signifikan mengindikasikan iklim keamanan yang kondusif, serta peran aktif semua pihak dalam meningkatkan minat investor dalam menanamkan modalnya di Kota Mataram. Besarnya nilai investasi yang masuk juga memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan perekonomian Kota Mataram.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Mataram Tahun 2015 45 Selama kurun waktu 2007–2011 terjadi peningkatan nilai investasi yang ditanamkan di wilayah Kota Mataram. Jika dibandingkan dengan tahun 2010, peningkatan nilai investasi pada tahun 2011 mencapai 215,48 persen.
2.2. EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN RKPD SAMPAI TAHUN BERJALAN DAN REALISASI RPJMD
Bagian ini merupakan telaah terhadap hasil evaluasi status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah. Telaah dilakukan dengan melakukan akumulasi capaian program dan kegiatan tahun 2013 yang dapat dilihat dari seberapa besar capaian masing-masing sasaran strategis RPMJD 2011-2015 di tahun 2013.
Keberhasilan pelaksanaan pembangunan selama tahun 2013 dapat dilihat dari tingkat capaian masing-masing Misi RPJMD Kota Mataram Tahun 2011-2015, dengan mengacu pada penetapan sasaran-sasaran strategis dengan mengimplementasikan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagaimana Keputusan Walikota Mataram Nomor: 657/IX/2012 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama RPJMD Kota Mataram Tahun 2011-2015.
Dengan mengacu pada 5 (lima) MISI RPJMD, kerangka pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan tetap diarahkan dalam upaya pencapaian sasaran strategis melalui Indikator Kinerja Utama (IKU) pencapaian kinerja pemerintahan selama lima tahun (2011-2015). Adapun sasaran strategis dimaksud, sebagai berikut:
1. Meningkatnya kondusivitas wilayah Kota Mataram
2. Meningkatnya toleransi masyarakat dalam kehidupan beragama 3. Meningkatkan kualitas pendidikan.
4. Meningkatnya kualitas dan derajat kesehatan masyarakat
5. Meningkatnya internalisasi nilai seni dan budaya yang mencerminkan kearifan lokal.
6. Meningkatnya kesetaraan gender. 7. Meningkatnya kualitas keluarga 8. Meningkatnya pendapatan per kapita.
9. Meningkatnya upaya penanganan maslaah sosial ekonomi masyarakat. 10. Meningkatnya ketersediaan lapangan kerja.