• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Layanan Urusan Pilihan 1. Kelautan dan Perikanan

BAB 6 KAIDAH PELAKSANAAN

22. Kepemudaan dan Olahraga

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan 1. Kelautan dan Perikanan

Produksi subsektor perikanan khususnya perikanan laut sangat dominan di Kabupaten Bangka Barat mengingat Pulau Bangka dikelilingi oleh lautan dengan sumberdaya laut yang relatif besar untuk dikembangkan. Diantara komoditi yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi antar lain adalah ikan kerapu, kakap merah,

udang, cumi-cumi, sirip ikan, dan lain-lain. Selain potensi tangkapan di laut, potensi yang tak kalah besarnya adalah perikanan budidaya di sekitar pesisir, namun saat ini belum maksimal dikembangkan oleh masyarakat.

Permasalahan di bidang perikanan yang dihadapi hingga saat ini di antaranya adalah masih maraknya pencurian ikan (illegal fishing), ancaman kerusakan terumbu karang yang dapat mengurangi hasil tangkapan ikan, serta tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), serta modal melaut seperti sarana/prasarana menangkap ikan yang mahal.

Peningkatan jumlah masyarakat nelayan dalam empat tahun terakhir cukup menjelaskan bahwa subsektor perikanan termasuk yang diminati masyarakat sebagai ladang usaha. Adanya sumber daya alam subsektor perikanan dan sumber daya manusia yang bergerak di subsektor tersebut selanjutnya masih memerlukan keterlibatan pemerintah daerah guna meningkatkan nilai tambah bagi perbaikan kehidupan nelayan dan perbaikan ekonomi daerah secara keseluruhan.

Tabel 2.56 Jumlah Masyarakat Nelayan di Kabupaten Bangka Barat Tahun 2008-2013

No. Kecamatan Tahun

2008 2009 2010 2011 2012 2013 1. Muntok 915 1.195 385 615 424 433 2. Simpangteritip 554 702 358 360 513 529 3. Tempilang 454 835 478 440 546 557 4. Kelapa 131 252 213 228 244 253 5. Jebus 677 812 427 205 170 171 6. Parittiga 303 313 318

Jumlah Rumah Tangga 3.584 2.476 1.861 2.151 2.210 2.261 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka Barat, Tahun 2014

Sejak tahun 2008, angka jumlah nelayan cukup fluktuatif. Penurunan jumlah nelayan terjadi dari tahun 2008 hingga tahun 2010, dan kemudian meningkat lagi hingga tahun 2012. Namun, secara total dalam lima tahun terakhir, jumlah nelayan berkurang cukup banyak yakni dari 3.584 jiwa pada tahun 2008 menjadi 2.544 jiwa pada tahun 2012.

Gambar 2.12 Jumlah Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2008 -2014

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka Barat, Tahun 2015

Berdasarkan hasil diskusi dengan aktor-aktor pembangunan (stakeholders), penyebab turunnya produksi perikanan antara lain aktivitas kapal hisap di pesisir yang merusak ekosistem laut, berkurangnya wilayah penangkapan ikan, dan serta menurunnya minat warga untuk berprofesi sebagai nelayan akibat daya tarik sektor lain yang lebih menjanjikan (pertambangan).

Kecenderungan yang mirip juga terlihat dari jumlah produksi perikanan tangkap dari tahun 2008-2013, produksi relatif menurun hingga tahun 2010 dan kemudian menanjak naik hingga tahun 2013. Meskipun jumlah nelayan pada tahun 2013 lebih sedikit ketimbang jumlah nelayan pada tahun 2008, produksi perikanan tangkap pada tahun 2013 lebih besar dari tahun 2008.

Gambar 2.13 Jumlah Produksi Perikanan Budidaya Kabupaten Bangka Barat Tahun 2011 – 2014 (Ton)

Secara keseluruhan, produksi perikanan di Kabupaten Bangka Barat masih sangat didominasi oleh perikanan tangkap ketimbang perikanan budidaya, kecuali untuk Kecamatan Muntok yang memiliki produksi perikanan budidaya lebih dominan. Oleh karena itu, keberadaan dan kondisi dari wilayah penangkapan ikan sangat berpengaruh terhadap produksi perikanan di Kabupaten Bangka Barat.

2. Pertanian

Kabupaten Bangka Barat merupakan daerah potensial untuk pengembangan sektor pertanian dimasa kini dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan adanya ketersediaan lahan, juga didukung oleh tingkat kesuburan tanah, iklim dan suhu yang mendukung komoditi pertanian. Tanaman pertanian yang giat dikembangkan sekarang antara lain padi-padian, palawija, sayuran, dan buah-buahan.

Selain itu, Kabupaten Bangka Barat juga memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang perkebunan. Secara umum perkebunan yang ada di Kabupaten Bangka Barat dapat dipisahkan menjadi perkebunan rakyat dan perkebunan swasta. Perkebunan rakyat yang banyak diusahakan antara lain adalah tanaman lada dan karet, sedangkan perkebunan swasta mengusahakan tanaman kelapa sawit. Namun demikian, masyarakat saat ini sudah mulai bergerak untuk membuka kebun kelapa sawit.

Tabel 2.57 Statistik Tanaman Pangan Kabupaten Bangka Barat Tahun 2011-2013

No. Uraian 2009 2010 2011 2012 2013

1

Padi Ladang

- Luas Panen (ha) 2.467 796 1.733 1.727 1.668 - Produksi (ton) 1.727 875,10 3.334 3.119 3.153

2

Jagung

- Luas Panen (ha) 127 104 101 18 101

- Produksi (ton) 381 260 303 66 312

3

Ubi Kayu

- Luas Panen (ha) 429 541 236 168 177

- Produksi (ton) 7.722 8.688 3540 2798 2652

4

Ubi Jalar

- Luas Panen (ha) 124 90 76 68 82

- Produksi (ton) 1.860 1.170 912 626 628

5

Kacang Tanah

- Luas Panen (ha) 60 79 44 44 50

- Produksi (ton) 92 110,60 86 45 45

Gambar 2.14 Produksi Tiga Komoditi Utama Tanaman Perkebunan Rakyat Kabupaten Bangka Barat Tahun 2011-2014 (ton)

Sumber: Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kab. Bangka Barat, Tahun 2014.

Sebagai sebuah sektor yang direncanakan akan dikembangkan kedepannya, sektor pertanian di Kabupaten Bangka Barat membutuhkan perhatian lebih. Potensi terbesar pertanian di Kabupaten ini terletak pada Kelapa Sawit, Karet, dan Lada. Ketiga potensi unggulan ini perlu diberikan intervensi kebijakan yang tepat, baik itu untuk proses peningkatkan produktivitas maupun memberikan nilai tambah pada produk tersebut.

Tabel 2.58 Angka Produktivitas Pertanian di Kabupaten Bangka Barat

Sumber: Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, Tahun 2015

Peningkatan memang terjadi di sektor-sektor unggulan, khususnya di tahun 2013, namun pada tahun 2014 terjadi penurunan dengan demikian perlu ada upaya-upaya

Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 2014

1. Produktivitas sawit masyarakat

(ton/tahun/Ha) 10,03 11,70 15,9 15,91 16,5 10,77

2. Produktivitas karet masyarakat

(ton/tahun/Ha) 12,48 3,37 4 3,99 4,1 3,70

3. Produktivitas lada masyarakat

(ton/tahun/Ha) 1,43 1,87 1,4 1,39 1,45 1,38

4. Produktivitas Ladang

(ton/hektar) 0,79 0,80 1,8 1,89 1,91 -

5. Produktivitas Sawah

sistematis untuk menjadikan pertanian di Kabupaten Bangka Barat lebih berdaya saing Sementara untuk tingkat produktifitas sawah dan ladang, tidak mengalami peningkatakan yang signifikan. Dapat dilihat pada tabel di atas, bahwa peningkatan hanya berkisar antara 2-4%; bahkan pada periode tertentu mengalami penurunan. Sehingga dalam melakukan proyeksi untuk tahun 2025, proyeksi dilakukan dengan pendekatan konservatif; menimbang isu pembukaan lahan baru pertanian belum memberikan kejelasan untuk kedepannya.

Tabel 2.59 Proyeksi Produktivitas Pertanian di Kabupaten Bangka Barat

No. Pertanian 2015 2020 2025

1 Produktivitas sawit masyarakat (ton/tahun/Ha) 17.16 18.95 20.92 2 Produktivitas karet masyarakat (ton/tahun/Ha) 4.26 4.70 5.19 3 Produktivitas lada masyarakat (ton/tahun/Ha) 1.50 1.66 1.83

4 Produktivitas Ladang (ton/hektar) 1.92 1.97 2.02

5 Produktivitas Sawah (ton/hentar) 2.49 3.03 3.69

Sumber: Analisis Proyeksi, Tahun 2014.

3. Kehutanan

Jika dibandingkan antara luas kerusakan kawasan hutan (41.927 Ha) dengan luas kawasan hutan produksi (77.742 Ha), maka didapatkan rasio kerusakan yang cukup signifikan. Hal ini perlu menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, sebab kerusakan yang besar ini dapat merugikan potensi kehutanan secara keseluruhan. Pemerintah perlu mengembalikan secara kontinu kawasan hutan yang telah rusak sehingga dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat. Hutan memiliki fungsi ekologi dalam menjaga lingkungan hidup serta dapat memiliki nilai ekonomis yang kontinu jika digarap secara berkelanjutan.

Tabel 2.60 Indikator Bidang Kehutanan Tahun 2012-2014

Uraian 2012 2013 2014

Kerusakan kawasan hutan (Ha) 42.108 41.927,5 41.874,5

Kerusakan lahan/ APL (Ha) 10.784 9.924,60 8.753,6

Hutan tanaman rakyat (Ha) 88,06 139,12 115,17

Beberapa komoditas hutan yang diperkirakan akan bernilai tinggi di tahun 2025 diantaranya adalah kebutuhan bahan baku mebel serta bio energi. Kebutuhan industri pengolahan kayu seperti mebel diperkirakan akan terus meningkat dan terbuka untuk menjadi komoditas ekspor sebab beberapa negara industri seperti Tiongkok mulai membatas penebangan pohon di dalam negeri. Selain itu, kebutuhan beberapa jenis juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bio mass yang diperuntukkan untuk energi. Saat ini produk fuel palette yang berasal dari kayu menjadi incaran beberapa negara maju sebagai sumber energi. Kayu pohon Lamtoro merupakan salah satu yang baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku feul palette.