• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Layanan Urusan Pilihan

21. Ketahanan Pangan

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan

Layanan urusan pilihan Pemerintah Daerah terdiri dari 8 (delapan) urusan, yaitu: 1. Pertanian

Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan pertanian salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :

Produktivitas padi di Kabupaten Banjar sebagai hasil tanaman pangan utama menunjukkan angka yang berfuktuasi tiap tahun, peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2007 dengan produktivitas padi sawah dan padi ladang sebesar 37,52 Ton/Ha, kemudian menurun pada tahun 2008 dan 2009 masing-masing sebesar 33,68 dan 32,00 Ton/Ha, pada tahun 2010 meningkat signifikan menjadi 35,13 Ton/Ha.

Tabel 2.51

Produktivitas Komoditi Kabupaten Banjar pada Tahun 2006-2010

NO KOMODITI PRODUKTIVITAS (TON/HA)

2006 2007 2008 2009 2010

1 Padi Sawah 33.32 39.45 35.34 32.71 36.34 2 Padi Ladang 25.80 25.81 25.58 27.41 27.70 3 Padi Sawah & Ladang 32.01 37.52 33.68 32.00 35.13

4 Jagung 21.75 21.75 17.06 29.98 26.48 5 Kedelai - - - 10.00 11.70 6 Kacang Tanah 11.56 11.63 11.46 11.58 11.70 7 Kacang Hijau 10.11 10.11 10.26 10.36 10.26 8 Ubi Kayu 138.75 129.11 178.19 143.86 142.59 9 Ubi Jalar 101.35 98.66 102.66 99.19 100.94 10 Sayuran 60.92 45.35 45.36 30.80 0.35 Sumber: BPS Banjar, 2006-2010

Kabupaten Banjar memiliki potensi pertanian yang cukup besar, hal ini dapat dilihat dari Kontribusi sector pertanian terhadap capaian PDRB Kabupaten Banjar. Pada Tahun 2010 kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Banjar berdasarkan harga berlaku mencapai Rp 1.530.752.044,- dan berdasarkan harga konstan mencapai Rp 883.330.246,-. Adapun jumlah PDRB Kabupaten Banjar Tahun 2010 berdasarkan harga berlaku mencapai Rp 6.986.881.027,- dan berdasarkan harga konstan mencapai Rp 3.350.429.901,-. Dengan demikian dapat diketahui bahwa persentase share sektor pertanian terhadap PDRB berdsarkan harga berlaku Kabupaten Banjar pada Tahun 2010 sebesar 21,91%. Namun tidak demikian bila dibandingkan dengan Tahun 2006.

Persentase Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Banjar pada Tahun 2010 mengalami penurunan bila dibandingkan dengan Kontribusi sector pertanian terhadap PDRB Kabupaten Banjar Tahun 2006.

Dimana pada tahun 2006 persentase Kontribusi sector pertanian terhadap PDRB Kabupaten Banjar mencapai 28,01%. Berikut gambaran secara lengkap mengenai Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Banjar Tahun 2006-2010.

Tabel 2.52

Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB Kabupaten Banjar Tahun 2006-2010

NO URAIAN Dalam Ribuan Rupiah

2006 2007 2008 2009 2010

1 Jumlah Kontribusi Sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan

ADH Berlaku 1,037,257,058 1,157,635,604 1,280,652,418 1,376,527,089 1,530,752,044 ADH Konstan 747,309,404 773,732,738 823,263,775 845,965,520 883,330,246 2 Jumlah PDRB ADH Berlaku 3,703,128,416 4,169,079,669 5,293,653,559 6,148,811,632 6,986,881,027 ADH Konstan 2,611,360,965 2,770,283,563 3,007,649,974 3,193,543,959 3,350,429,901

3 Share Sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan Terhadap PDRB (%)

Share 28.01 27.77 24.18 22.39 21.91

Sumber: PDRB Kabupaten Banjar Tahun 2006-2010 2. Kehutanan

Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan kehutanan salah satunya dapat dilihat dari indikator Kinerja sebagai berikut:

Tingkat kerusakan hutan sekarang ini menyebabkan keprihatinan yang besar bagi semua pihak. Praktek illegal logging dan illegal trading, perambahan hutan, kebakaran hutan, pembukaan hutan untuk keperluan diluar sektor

merupakan faktor utama penyebab kerusakan hutan. Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis (GRHLK) merupakan salah satu upaya percepatan rehabilitasi hutan dan lahan kritis yang diarahkan untuk penanggulangan bencana alam banjir dan kekeringan secara terpadu dengan peran semua pihak (pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengusaha, dan lain-lain) melalui mobilitasi sumber daya.

Pembangunan kehutanan tetap memerioritaskan peningkatan fungsi hutan melalui peningkatan kualitas hutan, sehinggga fungsi hutan baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berperan sebagai penyangga kehidupan bagi masyarakat. Keberadaan kawasan hutan di Kabupaten Banjar memerlukan upaya pembinaan dan pengendalian sehingga dapat berfungsi maksimal sebagai penyangga kehidupan masyarakat. Data luas kawasan hutan pada tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.53. Luas Kawasan Hutan di Kabupaten Banjar Tahun 2010

NO KAWASAN HUTAN LUAS (Ha)

1 KAWASAN LINDUNG 43,127,917

2 KAWASAN HUTAN PRODUKSI

TERBATAS 24,546,602

TETAP 84,546,602

KONVERSI 2,100,479

3 KAWASAN HUTAN KONVERSI 96,827,986

JUMLAH 251,149,586

Menjaga kelestarian lingkungan menjadi satu upaya nyata yang harus dilakukan guna kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Salah satu hal yang sangat erat kaitannya dengan pelestarian lingkungan adalah keberadaan hutan yang harus mendapat perlindungan dalam perkembangan akhir-akhir ini, dimana menjadi satu hal yang mengkhawatirkan jika terjadi kerusakan hutan berdampak pada musibah berupa bencana banjir dan sebagainya.

Dalam rangka menjaga kelestarian hutan, juga perlu dilakukan upaya penanaman khususnya pada lahan kritis. Data menunjukkan bahwa di Kabupaten Banjar terdapat cukup luas lahan kritis. Pada tahun 2003 terdapat 121.052 Ha lahan kritis dan pada tahun 2008 adalah seluas 120.953 Ha. Perkembangan luas lahan kritis yang ada di Kabupaten Banjar, secara sebaran terlihat pada tabel berikut. Secara jelas terlihat betapa penting upaya untuk melakukan penanaman dan pemulihan dan peningkatan kondisi lahan yang telah menurun kondisinya.

Tabel 2.54 Persebaran Lahan Kritis dan Sangat Kritis di Kabupaten Banjar tahun 2010

NO URAIAN JUMLAH

1

DI DALAM KAWASAN HUTAN

KRITIS (Ha) 95,460.50

AGAK KRITIS (Ha) 61,540.10

POTENSIAL KRITIS (Ha) 65,297.00

TIDAK KRITIS 2,603.00

SANGAT KRITIS 7,015.30

2

DI LUAR KAWASAN HUTAN

KRITIS (Ha) 5,473.70

AGAK KRITIS (Ha) 92,269.60

POTENSIAL KRITIS (Ha) 97,793.20

TIDAK KRITIS 6,833.10

SANGAT KRITIS 3,003.50

Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Banjar Tahun 2010

Salah satu upaya yang dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan hidup, adalah dengan mengoptimalkan penurunan jumlah lahan kritis yang ada di Kabupaten Banjar. Melalui upaya ini diharapkan akan menjadi satu hal positip bagi generasi yang akan datang, mengingat keberadaan hutan yang mendatangkan banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat terutama bagi iklim dan kondisi lingkungan hidup. Beberapa upaya nyata yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Banjar, dalam rangka memperbaiki kondisi kawasan hutan dan lahan guna meningkatkan kualitas lingkungan hidup adalah dengan upaya rehabilitasi lahan.

Data berikut ini memperlihatkan Luas Kegiatas Rehabilitasi lahan di Kabupaten Banjar yang mencerminkan besarnya kepedulian Pemerintah dan Masyarakat terhadap perlunya menjaga kualitas lingkungan hidup.

Tabel 2.55. Perkembangan Luas Kegiatan Rehabilitasi Lahan tahun 2006- 2010 di Kabupaten Banjar

NO TAHUN KAWASAN (Ha) DALAM KAWASAN (Ha) LUAR KETERANGAN

1 2006 25 0 APBD II

2 2007 46 0 APBD II

3 2008 372 0 DAK-DR, DAK HUT/DBH-DR

4 2009 10 0 APBD II

5 2010 500 0 DAK-DR, DAK HUT/DBH-DR

JUMLAH 953 0

Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Banjar Tahun 2010

Berdasarkan Tabel diatas diketahui bahwa luas kegiatan Rehabilitasi lahan dari tahun 2006 – 2010 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2006 luas kegiatan Rahabilitasi Lahan di dalam Kawasan Hutan seluas 25 Ha meningkat menjadi 46 Ha pada tahun 2007. Pada tahun 2008 luas kegiatan rehabilitasi lahan menjadi seluas 372 Ha tetapi menurun menjadi hanya 10 Ha pada tahun 2009. Pada tahun 2010 luas kegiatan rehabilitasi lahan seluas 500 Ha. Adapun Sumber Dana untuk kegiatan rehabilitasi kawasan hutan selama ini berasal dari APBD dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Disamping upaya rehabilitasi lahan, juga telah dilakukan reboisasi terhadap kawasan hutan pada beberapa lokasi yang ada di wilayah Kabupaten Banjar. Upaya reboisasi ini merupakan satu wujud nyata dari kesadaran Pemerintah dan Masyarakat terhadap arti penting dari keberadaan kawasan hutan yang menjadi paru-paru bumi, yang menjadi satu penyangga kehidupan

masyarakat dalam satu daerah yang memiliki kawasan hutan. Berbagai lokasi dan besarnya pembiayaan dalam upaya pembangunan bidang kehutanan ditunjukkan pada sebaran kegiatan reboisasi dibeberapa lokasi kecamatan sebagaimana termuat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.56. Perkembangan Kegiatan Reboisasi di Kabupaten Banjar Tahun 2006 – 2010

NO TAHUN LUAS (Ha) LOKASI JENIS TANAMAN KETERANGAN

1 2006 25 Kec. Sei. Pinang Karet, Mahoni, Jati APBD II (KABUPATEN)

2 2007 - - - -

3 2008 265 Kec.Paramasan, S.Pinang Karet, Mahoni, Jati DAK-DR, DAK BID HUT (DBHDR) 4 2009 10 Kec. Sei. Pinang Karet, Mahoni APBD II (KABUPATEN) 5 2010 118 Kec. Sei. Pinang & kec. Pengaron Karet, Mahoni, Jati APBD II (KABUPATEN) Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Banjar Tahun 2010