• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Layanan Urusan Wajib a Pendidikan

GRAFIK II.2 BALITA GIZI BURUK

1. Fokus Layanan Urusan Wajib a Pendidikan

Guna menjamin keberlangsungan kegiatan belajar mengajar dan terus mengembangkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, maka Pemerintah Kabupaten Pamekasan juga menyediakan sarana dan prasarana sekolah baik sarana gedung sekolah maupun tenaga pengajar atau guru. Keberadaan gedung sekolah di Kabupaten Pamekasan untuk jenjang pendidikan dasar (SD/MI) dalam kurun waktu 2009 hingga 2012 bersifat fluktuatif. Pada tahun 2009 ada sebanyak 788 gedung sekolah dasar, pada tahun 2010 jumlahnya menurun menjadi 753 gedung, pada tahun 2011 jumlahnya meningkat menjadi 770 gedung, dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 782 gedung.

Sedangkan untuk gedung sekolah tingkat SMP/MTs dalam kurun waktu 2009 hingga 2012 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 jumlah gedung SMP sebanyak 270 gedung, pada tahun 2010 mengalami kenaikan menjadi 275 gedung, pada tahun 2011 naik menjadi 318 gedung, dan pada tahun 2012 naik menjadi 345 gedung SMP/MTs. Meningkatnya sarana gedung sekolah ini karena pemerintah daerah menyadari bahwa jumlah

penduduk yang terus bertambah akan semakin meningkatkan kebutuhan akan sekolah, sehingga sarana sekolah harus terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.

Kondisi yang sama juga terjadi pada sarana gedung sekolah tingkat SMA/sederajat (SMA/MA/SMK) yang terus mengalami peningkatan kuantitas. Pada tahun 2009 jumlah gedung sekolah ini hanya 129, pada tahun 2010 naik menjadi 151 gedung, pada tahun 2011 naik menjadi 164 gedung, dan pada tahun 2012 naik lagi menjadi 167 gedung sekolah. Peningkatan jumlah gedung sekolah baik tingkat SMP/sederajat maupun SMA/sederajat ini merupakan capaian dalam rangka meningkatkan taraf pendidikan di masyarakat. Hal ini terlihat dari rasio antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah gedung sekolah.

Tabel II.29

Rasio Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2009 s.d. 2012 Kabupaten Pamekasan

No Jenjang Pendidikan 2009 2010 2011 2012

1 SD/MI

1.1. Jumlah gedung sekolah 788 753 770 782

1.2. jumlah penduduk kelompok usia 7-12

tahun 99.471 91.968 91.048 91.048

1.3. Rasio 0,79 0,82 0,85 0,86

2 SMP/MTs

2.1. Jumlah gedung sekolah 270 275 318 345

2.2. jumlah penduduk kelompok usia 13-15

tahun 39.066 44.390 50.335 50.335

2.3. Rasio 0,69 0,62 0,63 0,69

3 SMA/SMK/MA

3.1. Jumlah gedung sekolah 129 151 164 167

3.2. jumlah penduduk kelompok usia 16-18

tahun 52.134 38.827 46.906 46.906

3.3. Rasio 0,25 0,39 0,35 0,36

Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan

Jumlah guru di Kabupaten Pamekasan juga terus mengalami perkembangan. Pada tahun 2009 jumlah guru SD/MI sebanyak 10.007 guru, pada tahun 2010 naik menjadi 10.390 guru, pada tahun 2011 meningkat menjadi 16.663 guru, dan pada tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 11.206 guru. Sedangkan untuk tingkat SMP/MTs kondisi jumlah guru pada tahun 2009

sebanyak 5.145 guru, pada tahun 2010 tidak mengalami perubahan, pada tahun 2011 naik menjadi 10.342 guru, dan pada tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 6.744 guru. Jumlah guru pada tingkat SMA/SMK/MA pada tahun 2009 sebanyak 3.513 guru, pada tahun 2010 turun menjadi 3.370 guru, pada tahun 2011 naik menjadi 3.576 guru dan pada tahun 2012 naik menjadi 3.704 guru.

Keberadaan jumlah guru ini seiring dengan bertambahnya jumlah murid yang juga semakin meningkat. Penambahan jumlah guru dilakukan guna merespon kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat untuk mengenyam pendidikan. Misalnya saja jumlah murid SD pada tahun 2010 sebanyak 100.404 murid dan jumlah guru sebanyak 10.390 sehingga rasio antara guru dan murid terpaut cukup jauh. Oleh sebab itu pada tahun 2011 jumlah guru SD ditambah menjadi 16.663 sedangkan jumlah murid sebanyak 131.355 sehingga rasionya adalah 12,69 persen.

Tabel II.30

Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2009 s.d 2012 Kabupaten Pamekasan No Jenjang Pendidikan 2009 2010 2011 2012 1 SD/MI 1.1. Jumlah Guru 10.007 10.390 16.663 11.206 1.2. Jumlah Murid 104.127 100.404 131.355 96.953 1.3. Rasio 9,61 10,35 12,69 11,56 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah Guru 5.145 5.145 10.342 6.744 2.2. Jumlah Murid 43.557 44.594 77.213 49.057 2.3. Rasio 11,81 11,54 13,39 13,75 3 SMA/SMK/MA 3.1 Jumlah Guru 3.513 3.370 3.576 3.704 3.2 Jumlah Murid 31.968 28.709 30.891 36.943 3.3 Rasio 10,99 11,74 11,58 10,03

Sumber : Dinas pendidikan Kabupaten Pamekasan

Rasio antara jumlah guru dan murid yang tidak terpaut terlalu jauh ini tentu saja akan sangat meningkatkan efektifitas kegiatan belajar mengajar. Demikian juga dengan ratio gedung sekolah dan penduduk usia sekolah. Oleh sebab itu peningkatan sarana dan

prasana di bidang pendidikan perlu terus ditingkatkan mengingat masyarakat semakin sadar akan pentingnya pendidikan dan guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Pamekasan.

b. Kesehatan

Upaya pembangunan bidang kesehatan menjadi penting, karena dari sini aspek kualitas sumberdaya manusia ke depan dapat dijaga. Aspek kesehatan tidak hanya sekedar memberantas berbagai macam jenis penyakit. Tetapi pembangunan bidang kesehatan dilakukan dengan segala aspek pembangunan kesehatan itu sendiri mulai dari kehamilan, kelahiran, bayi, balita atau ibu menyusui. Dan pembangunan di bidang kesehatan ini menjadi penting ketika kualitas kesehatan suatu masyarakat dijadikan salah satu indikator dari keberhasilan pembangunan. Suatu keluarga yang sehat terutama bagi kepala keluarganya akan bisa menjamin pemenuhan kebutuhan keluarga tersebut akan kebutuhan primer seperti makan, pakaian dan rumah.

Kondisi sehat akan mendukung seorang kepala keluarga atau keluarga untuk melakukan proses produksi. Berbeda halnya dengan keluarga yang didalamnya setiapnya anggotanya banyak yang sakit atau sering sakit terutama kepala keluarga, maka akan sulit bagi keluarga tersebut untuk memenuhi kebutuhannya karena tidak ada pendapatan dan sesuatu yang untuk dikonsumsi. Ironisnya seperti yang dialami oleh banyak keluarga miskin, ketika menderita sakit apalagi yang parah seringkali mereka tidak memiliki kemampuan untuk berobat. Oleh karena itu berbagai program dibidang kesehatan telah diupayakan oleh Pemerintah Kabupaten Pamekasan terutama melalui Jamkesmas dan Posyandu. Selain program di bidang kesehatan, pemerintah juga mengupayakan pembangunan dan pemerataan sarana dan prasarana kesehatan yang tujuannya adalah memberi kemudahan

akses bagi penduduk untuk melakukan pengobatan misalnya fasilitas Rumah Sakit, Puskesmas dan fasilitas lainnya.

Menurut catatan pada tabel II.32, jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Pamekasan selama kurun waktu lima tahun terakhir tidak banyak mengalami perubahan kecuali keberadaan Posyandu, Pusling dan Puskesmas Plus. Pada tahun 2008 jumlah Posyandu sebanyak 761 unit sekarang menjadi 865 unit. Sedangkan Pusling pada tahun 2009 sebanyak 34 unit sekarang menjadi 33 unit. Sementara itu fasilitas lainnya seperti rumah sakit umum hanya 1 unit dan rumah sakit swasta hanya 1 unit saja.

Tabel II.31

Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kabupaten Pamekasan

Fasilitas Kesehatan 2008 2009 2010 2011 2012

1. Rumah sakit umum 2. Rumah sakit swasta 3. Puskesmas perawatan 4. Puskesmas non perawatan 5. Puskesmas ISO 9001:2000 6. Puskesmas plus 7. Pustu 8. Posyandu 9. Polindes 10. Pusling 11. Rumah bersalin 1 1 15 5 4 0 48 761 159 - 2 1 1 15 5 4 0 48 824 204 34 2 1 1 15 5 4 1 48 838 155 34 2 1 1 15 5 4 3 48 838 155 34 2 1 1 15 5 4 3 44 865 155 33 2

Sumber : Kabupaten Pamekasan Dalam Angka 2013

Sedangkan banyaknya tenaga kesehatan pada sarana pelayanan kesehatan di Kabupaten Pamekasan meliputi jumlah dokter umum, dokter gigi, tenaga paramedis dan Bidan (termasuk bidan PPT). Namun secara umum, jumlah tenaga kesehatan ini telah berkurang dari jumlah sebelumnya sebagaimana dapat dilihat di dalam tabel II.33. Pada tahun 2009 ada 26 dokter umum, 14 dokter gigi, namun pada tahun 2012 jumlah dokter umum bertambah menjadi 38 dokter, sedangkan dokter gigi turun menjadi 13 orang. Pada tahun 2012 terdapat 215 tenaga

keperawatan yang semula pada tahun 2009 sebanyak 122 dan 264 tenaga bidan pada tahun 2012 yang sebelumnya berjumlah 217 pada tahun 2009. Dengan adanya keberadaan bidan ini menjadikan masyarakat memiliki pilihan rasional saat melakukan persalinan. Karena keahlian yang dimiliki oleh bidan tidak diragukan karena di dapat dari hasil proses belajar dan pembekalan keterampilan sebelum bertugas. Sedangkan keterampilan yang dimiliki oleh seorang dukun biasanya didapat secara turun-temurun.

Tabel II.32

Banyaknya Tenaga Kesehatan Pada Sarana Pelayanan Kesehatan

Uraian 2009 2010 2011 2012

Dokter spesialis Dokter Umum Dokter Gigi

Tenaga Keperawatan

Bidan (termasuk Bidan PPT)

- 26 14 122 217 - 32 14 152 153 - 33 14 134 135 - 38 13 215 264

Sumber : Kabupaten Pamekasan Dalam Angka 2012

Jika keberadaan fasilitas kesehatan yang ada dirasa mampu untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan maka peningkatan kualitas perlu dilakukan dala pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Akan tetapi guna merespon semakin bertambahnya jumlah penduduk yang berdampak pula pada semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan fasilitas kesehatan maka sebaiknya peningkatan fasilitas kesehatan secara kualitas dan kuantitas perlu dilakukan agar kesehatan masyarakat lebih terjamin.

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Keberadaan ruang yang terbatas dan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya penataan ruang memerlukan penyelenggaraan penataan ruang yang transparan, efektif, dan partisipatif agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

Wilayah akan selalu berkembang sesuai dengan kondisi fisik, sosial, dan ekonomi serta kemudahan transportasinya baik internal maupun eksternal. Kondisi wilayah yang perkembangannya diarahkan melalui proses tahapan penataan ruang tentunya akan memberikan kondisi wilayah yang lebih baik/lebih ideal, dibandingkan wilayah yang perkembangannya berjalan secara alami, hal ini bisa dikaji dari perkembangan kawasan permukiman yang mengarah ke kawasan lindung, atau kawasan lindung yang dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya seperti pertanian, ladang, dan pertambangan yang tidak memperhatikan daya dukung kawasan, tentunya akan menimbulkan konflik penggunaan ruang. Perkembangan yang tidak terarah atau tidak direncanakan akan dapat memberikan dampak negatif/kerugian yang sangat besar baik kerugian material, sosial maupun kerusakan lingkungan, seperti adanya banjir yang disebabkan adanya penggundulan kawasan hutan, kegiatan pembangunan permukiman di kawasan dengan kelerengan diatas 40 % yang tidak memperhatikan daya dukung lahan.

Penataan ruang dapat diklasifikasikan berdasarkan atas sistem, fungsi utama kawasan, wilayah administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan, yaitu :

Penataan ruang berdasarkan sistem terdiri atas sistem wilayah dan sistem internal perkotaan;

Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budidaya;

Penataan ruang berdasarkan wilayah administratif terdiri atas penataan ruang wilayah nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan penataan ruang wilayah kabupaten/kota; Penataan ruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan perkotaan dan penataan ruang kawasan perdesaan; dan

Penataan ruang berdasarkan nilai strategis kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan strategis nasional, penataan ruang kawasan strategis provinsi, dan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota.

Pada hakekatnya kegiatan perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan :

Rencana umum tata ruang; dan

Rencana rinci tata ruang yang berhierarki.

Adapun rencana umum tata ruang secara hierarki terdiri atas Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota.

1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional diatur dengan peraturan pemerintah, dengan jangka waktu perencanaan untuk Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional adalah 20 (dua puluh) tahun. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional menjadi pedoman untuk :

a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional;

b. Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional;

c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional;

d. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah provinsi, serta keserasian antar sektor;

e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; f. Penataan ruang kawasan strategis nasional; dan g. Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota.

2. Rencana tata ruang wilayah provinsi ditetapkan dengan peraturan daerah provinsi, dimana rencana tata ruang wilayah provinsi menjadi pedoman untuk:

a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;

b. Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;

c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang dalam wilayah provinsi;

d. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah kabupaten/kota, serta keserasian antar sektor;

e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; f. Penataan ruang kawasan strategis provinsi; dan g. Penataan ruang wilayah kabupaten/kota.

3. Rencana tata ruang wilayah kabupaten ditetapkan dengan peraturan daerah, dimana rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi pedoman untuk :

a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;

b. Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;

c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten;

d. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan antar sektor;

e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; dan f. Penataan ruang kawasan strategis kabupaten.

Tabel II.33

Kajian Lingkungan Hidup Strategis

ISU

Dokumen terkait