• Tidak ada hasil yang ditemukan

FOKUS MANAJEMEN RISIKO PADA TAHUN

Dalam dokumen Bank Central Asia Tbk 2015 (Halaman 84-86)

Di tengah situasi ekonomi yang kurang kondusif yang ditandai dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan volatilitas nilai tukar, pada tahun 2015 BCA fokus dalam memperkuat kemampuan dan respon pengendalian risiko terutama terkait risiko kredit, nilai tukar, risiko likuiditas, dan risiko operasional.

Risiko Kredit

Perlambatan ekonomi yang ditandai oleh penurunan omzet penjualan dan daya beli masyarakat, telah memperlambat penyaluran kredit perbankan dan mendorong kenaikan risiko kredit secara bank wide. Rasio kredit bermasalah industri perbankan Indonesia meningkat menjadi 2,5% pada akhir tahun 2015 dibandingkan 2,2% pada posisi yang

tanda nyata bahwa telah terjadi peningkatan risiko kredit pada industri perbankan Indonesia. Disamping itu, jumlah kredit yang direstrukturisasi oleh bank-bank nasional juga menunjukkan tren yang meningkat, dengan semakin banyak perusahaan yang ingin melakukan penjadwalan ulang waktu pembayaran kewajiban hutang.

BCA terus mewaspadai perkembangan kondisi ekonomi yang berpotensi meningkatkan risiko penurunan kualitas aset BCA ke depannya. BCA menjaga kualitas portofolio kredit melalui penerapan manajemen risiko kredit yang prudent dan menerapkan sistem early warning system untuk memantau perubahan kemampuan bayar debitur dan mengambil langkah-langkah preventif

melalui restrukturisasi dan langkah penyelesaian kredit bermasalah sedini mungkin.

Berkat penerapan manajemen risiko yang solid, BCA berhasil menutup tahun 2015 dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loans – NPL) tetap terjaga pada level yang rendah sebesar 0,7%. BCA senantiasa memantau kualitas kredit, yang dilakukan dalam setiap tahapan pemberian fasilitas kredit dari proses seleksi nasabah sampai dengan pola kebiasaan pelunasan fasilitas kredit. Secara keseluruhan, dengan penerapan prinsip manajemen risiko secara prudent untuk setiap

sektor industri, BCA dapat menjaga diversiikasi

portofolio kredit secara berkualitas dan menghindari risiko konsentrasi kredit. Per akhir tahun 2015, 10 sektor industri terbesar mencakup 56,7% dari total kredit pada segmen korporasi, komersial dan UKM.

Top 10 Sektor Industri Segmen Korporasi, Komersial dan UKM (berdasarkan klasiikasi internal BCA)*

2015 2014

Bahan Bangunan dan Konstruksi Lainnya 7,1% 6,5% Perkebunan dan Pertanian 6,7% 6,9% Otomotif dan Alat Transportasi 6,1% 6,2% Distributor, Retailer dan Toserba 6,1% 6,3% Bahan Kimia dan Plastik 6,1% 5,8% Transportasi dan Logistik 5,3% 5,8%

Pariwisata 5,1% 4,7%

Makanan dan Minuman 4,9% 4,9%

Tekstil dan Produk Tekstil 4,7% 4,8% Properti dan Konstruksi 4,6% 4,6%

Total 56,7% 56,5%

83

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015

Dalam beberapa tahun terakhir, BCA telah mengidentiikasi

sektor-sektor yang berpotensi menghadapi tekanan sejalan dengan penurunan permintaan komoditas global. BCA tidak memiliki credit appetite terhadap sektor komoditas pertambangan, terutama batubara, dan relatif tidak memiliki eksposur langsung pada sektor tersebut. Pada tahun yang ditandai dengan volatilitas nilai tukar yang tinggi, BCA senantiasa menjaga kedisiplinan dalam mengelola eksposur valuta asing dengan membatasi pemberian kredit US Dollar secara keseluruhan dan disiplin menerapkan kebijakan dalam menyalurkan kredit US Dollar hanya kepada nasabah bisnis dengan pendapatan utamanya dalam mata uang US Dollar.

Risiko Nilai Tukar

Pada tahun 2015, BCA dihadapkan pada meningkatnya risiko nilai tukar yang merupakan dampak dari volatilitas nilai tukar Rupiah terhadap USD. Dalam memitigasi risiko nilai tukar, BCA secara ketat melakukan pemantauan transaksi-transaksi valuta asing untuk memastikan transaksi-transaksi tersebut sesuai dengan ketentuan dan kebijakan internal Bank maupun Peraturan Bank Indonesia mengenai Posisi Devisa Neto (PDN). Pengelolaan transaksi valuta asing dipusatkan pada Divisi Tresuri dengan transaksi-transaksi yang terjadi di cabang di pantau, di catat dan dilaporkan kepada Divisi Tresuri pusat. Setiap cabang diharuskan untuk menutup risiko nilai tukar valuta asingnya pada setiap akhir hari kerja, dengan diberikan batas toleransi PDN pada jaringan cabang.

Di tengah ketidakpastian pasar valuta asing, BCA secara disiplin mempertahankan prinsip kehati-hatian dalam mengelola eksposur valuta asing dengan menjaga posisi devisa neto secara konservatif. Per Desember 2015, posisi devisa neto BCA tercatat sebesar 0,4%, jauh di bawah batas maksimum sebesar 20% yang diterapkan oleh regulator, sehingga risiko pasar terkait valuta asing termitigasi dengan baik.

Risiko Likuiditas

Di tahun 2015, perbankan nasional termasuk BCA mengalami kondisi likuiditas yang lebih memadai dibandingkan tahun 2014. Meskipun demikian, BCA tetap mewaspadai posisi likuiditas Bank mengingat ketidakpastian perekonomian dan kemungkinan dampak

negatif terhadap likuiditas yang dapat terjadi karena faktor-faktor eksternal di pasar keuangan global.

Ditopang oleh keunggulan perbankan transaksi, BCA memiliki posisi likuiditas yang solid bersumber dari penghimpunan dana giro dan tabungan berbunga rendah. Komposisi dana giro dan tabungan mencapai 76,1% dari total dana pihak ketiga Bank. Sejalan dengan menurunnya risiko likuiditas, secara bertahap sejak April 2014 BCA telah menurunkan tingkat suku bunga Deposito Rupiah. Pada akhir tahun 2015, tingkat suku bunga maksimum Deposito Rupiah tercatat sebesar 5,75% dibandingkan 7,75% pada akhir tahun 2014. Rasio kredit terhadap pendanaan (Loan to Funding Ratio) BCA pada akhir tahun berada pada kisaran yang sehat sebesar 81,1%.

Guna menjaga posisi dana pihak ketiga secara keseluruhan, BCA secara proaktif akan terus melakukan kajian tingkat suku bunga deposito dan dapat menyesuaikan suku bunga dalam mendukung target dana pihak ketiga secara keseluruhan.

Risiko Operasional

Manajemen risiko operasional yang andal dan efektif merupakan kunci utama dalam mempertahankan posisi BCA sebagai bank transaksi terkemuka di Indonesia. BCA menghadapi risiko operasional yang disebabkan oleh kesalahan manusia atau kesalahan dalam proses dan kegagalan pengawasan dalam kegiatan operasional sehari-hari, termasuk yang terjadi di back ofice dan cabang, maupun penipuan dan tindakan pelanggaran kebijakan Bank Lainnya. Pada tahun 2015 Bank meningkatkan Operational Risk Management Information System (ORMIS) dengan menerapkan aplikasi Key Risk Indicator berbasis web untuk menyediakan deteksi dini terhadap risiko operasional. Sistem ORMIS ini meliputi

Risk Control Self-Assessment dan Loss Event Database, yang dirancang untuk meningkatkan risk awareness dan memberikan informasi berguna untuk meminimalkan risiko operasional.

Untuk memastikan BCA dapat melayani transaksi perbankan yang berlangsung 24 jam sehari tanpa gangguan, BCA menjalankan dua data center secara redudansi yang dirancang untuk memastikan kelangsungan usaha apabila terjadi kegagalan sistem pada salah satu diantara dua lokasi data center tersebut.

84

PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015

juga mengelola suatu Disaster Recovery Center (DRC) di Surabaya. Saat ini DRC Surabaya terus dikembangkan sebagai bagian dari Business Continuity Management Bank

Command Center apabila terjadi gangguan atau bencana alam di wilayah Jakarta yang menyebabkan data center di Jakarta tidak dapat beroperasi.

Dalam dokumen Bank Central Asia Tbk 2015 (Halaman 84-86)