• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI DAN METODE

Tahap 6 Folikel pasca ovulasi (setelah terjadi pemijahan).

Analisa data

1. Hasil variabel pengukuran yang menggambarkan reproduksi ikan lemuru seluruhnya dianalisa secara deskriptif (Tabulasi dan Grafik).

2. Hubungan antara panjang total dengan fekunditas dianalisa regresi berpangkat dengan persamaan:

F = aLb

dimana : (F)= Jumlah telur (fekunditas), (L) = panjang total dan (a dan b) adalah konstanta .

Perbandingan Komposisi Ukuran Panjang dengan TKG bulanan dalam 1 tahun

Lemuru di perairan Selat Mentawai pada ukuran di bawah 140 mm berada pada kondisi reproduksi yang belum matang (TKG 1-2). Lemuru mulai mengalami kematangan gonad (TKG 3) pada ukuran 140 - 150 mm, dan mulai matang gonad pada ukuran minimal 150 mm (Gambar 4).

Gambar 4. Histogram tingkat kematangan gonad ikan lemuru dengan ukuran kelas panjang pada pengamatan selama 1 tahun.

Berdasarkan pada komposisi TKG dan ukuran kelas panjang maka pertama kali ikan lemuru di perairan Siberut mulai memijah pada ukuran kelas panjang 150 – 160 mm. Ikan jantan mulai matang gonad (TKG 3) pada ukuran 153±0.73 mm dengan rata-rata panjang pada TKG 3 adalah 170 mm (Lampiran 1) dan pada ikan betina pada ukuran 163±0.62 mm dengan rata-rata panjang pada TKG 3 adalah 173 mm (Lampiran 2). Berdasarkan pada ukuran pertama kali memijah baik pada jantan maupun betina maka ukuran minimal ikan lemuru yang bisa dan boleh ditangkap di perairan pantai timur Pulau Siberut adalah pada ukuran 163 mm.

Hal yang serupa terjadi juga pada ikan lemuru di perairan Australia dan Bali. Di perairan Australia ikan lemuru pada ukuran di bawah 120 mm belum matang gonad dan ikan mulai mengalami kematangan gonad pada ukuran 140-150 mm (Gaughan dkk., 2000). Di selat Bali, ikan lemuru jantan mulai matang gonad pada saat ukuran tubuhnya 140 mm sedangkan ikan betina pada saat ukuran tubuhnya antara 135 – 150 mm (Whitehead,1985).

Ukuran pertama kali ikan mengala mi kematangan gonad sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan terutama suhu dan ketersediaan makanan/kesuburan perairan. Ikan yang hidup pada di daerah sub-tropika yang kondisi perairannya lebih dingin memerlukan waktu yang lebih lama untuk menga lami kematangan gonad dan memijah dibandingkan dengan ikan yang hidup di daerah tropik. Hal ini berkaitan dengan sistem metabolisme ikan dimana ikan yang hidup di perairan yang hangat (tropis) proses metabolisme dan perkembangan tubuhnya lebih cepat diband ingkan dengan perairan yang dingin (Florida Lakewatch, 2004). Ketersediaan makanan melalui proses up welling juga merupakan pemicu terjadinya pemijahan. Pemijahan ikan hanya akan terjadi pada saat kondisi lingkungan sesuai bagi ikan dan keturunan yang akan dihasilkan (Freon dkk.,1997).

Pengontrolan aktivitas perikanan dapat dilakukan dengan menerapkan sistem penangkapan yang ketat dan melarang dilakukannya penangkapan ikan pada waktu dan tempat tertentu. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada ikan untuk berkembang dan melakukan pemijahan sehingga keberadaan stok ikan di suatu perairan berada pada kondisi yang seimbang. Sistem kontrol dalam usaha perikanan dapat dilakukan bila telah ada suatu aturan pengelolaan perikanan di suatu wilayah. Penelitian mengenai dinamika populasi suatu stok ikan perlu untuk diketahui untuk melihat status spesies tersebut, apakah dalam kondisi yang masih baik atau sudah mengalami kondisi overfishing. Sebagai contohnya pada ikan tub gurnad Chelidonichthys lucerna di Turki, ikan mulai matang gonad pada ukuran 20 cm maka dibuat suatu aturan bahwa ukuran minimal ikan yang boleh ditangkap harus berukuran minimal 20 cm dan melarang penggunaan jaring trawl dasar pada saat musim pemijahan yang terjadi pada bulan Mei hingga Desember (Ismen dan Basusta, 2004).

Gonadal Somatic Indeks (GSI)

Nilai GSI dapat digunakan untuk menentukan terjadinya musim pemijahan pada ikan. Nilai GSI berkaitan dengan peningkatan jumlah kuning telur dan kandungan gonad ikan. Variasi nilai GSI ikan lemuru di P. Siberut setiap bulan dalam satu tahun pengamatan sangat bervariasi (Lampiran 3), peningkatan nilai GSI yang tinggi pada keseluruhan individu tanpa membedakan kelamin (gabungan) terjadi mulai pada bulan Juni (1,56) hingga bulan September (2,86). Nilai GSI terendah terjadi antara bulan Oktober (0,39) hingga Desember (0,29) (Gambar 5).

Hal yang sama juga terjadi pada nilai GSI setelah dilakukan pemisahan antara jantan dan betina (Gambar 6). Nilai GSI tertinggi pada jantan terjadi pada bulan September (3,29) dan nilai GSI terendah terjadi pada bulan Desember (0,20). Pada betina nilai GSI tertinggi juga terjadi pada bulan September (2,70) dan nilai GSI terendah terjadi antara bulan Desember (0,31).

Berdasarkan pada nilai GSI maka dapat diindikasikan bahwa awal terjadinya proses gametogenesis pada ikan lemuru di Siberut terjadi pada bulan Juni sampai Agustus dan berakhir pada bulan September hingga Oktober. Pada saat gametogenesis, terjadi pembentukan dan pengumpulan sel kuning telur serta peningkatan densitas spermatozoa sehingga berat gonad akan meningkat secara bertahap. Pada kondisi tertentu dimana energi untuk pembentukan sel gamet telah maksimal dan lingkungan perairan mendukung maka akan terjadi proses pemijahan/ovulasi sehingga volume gonad akan berkurang yang ditandai dengan terjadinya penurunan nilai GSI secara drastis.

Dilihat dari grafik nilai GSI juga dapat diketahui bahwa musim pemijahan ikan lemuru di Siberut terjadi hanya satu kali dalam satu tahun (Single Spawning). Musim pemijahan terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu antara bulan Juli hingga September dengan puncak musim pemijahan terjadi pada bulan September.

Hal yang sama juga terjadi dengan pemijahan ikan lemuru di Selat Bali yang diperkirakan terjadi pada bulan Juli karena pada bulan Juni banyak tertangkap ikan matang gonad. Pemijahan lemuru di Selat Bali terjadi di perairan pantai ketika salinitas rendah pada awal musim penghujan dan termasuk spesies yang

tidak menjaga telurnya sehingga termasuk tipe pemijahan eksternal. Tempat terjadinya proses pemijahan hingga saat ini belum diketahui dengan pasti tapi berhubungan erat dengan keadaan hidrologi perairan laut terutama dengan suhu perairan (Merta, 1992) sedangkan pada ikan Sardinella aurita yang terdapat di Venezuella berdasarkan pada nilai GSI-nya maka puncak terjadinya pemijahan terjadi antara bulan September hingga November (Guzman, 2001).

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Bulan

Nilai GSI

Gambar 5. Grafik nilai GSI ikan lemuru tiap bulan selama satu tahun. (Gabungan nilai keseluruhan sampel jantan dan betina).

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Bulan GSI Betina Jantan ___________________ Periode Pemijahan

Gambar 6. Grafik perubahan nilai GSI pada ikan lemuru jantan dan betina setiap bulan selama 1 tahun

Di perairan pantai Siberut terjadinya musim pemijahan ikan lemuru berkaitan erat dengan keadaan iklim/cuaca yang terjadi pada bulan tersebut. Hal ini terlihat dari kondisi iklim/curah hujan memiliki pola yang sama dengan peningkatan nilai GSI pada ikan lemuru. Pada bulan Juli hingga September merupakan bulan dimana terjadinya musim penghujan dengan puncaknya terjadi pada bulan September sedangkan pada bulan Juni termasuk pada bulan kemarau (Meyers, 2003). Periode musim pemijahan yang berhubungan dengan peningkatan volume air pada saat musim penghujan juga terjadi pada ikan goby, dimana pada saat musim penghujan terjadi dominasi perkembangan telur tahap maturasi (Rutaisire dan Booth, 2004). Pada ikan Sardinella aurita waktu pemijahan juga terjadi bersamaan dengan saat musim penghujan dan terjadinya upwelling (Freon dkk.,1997).

Saat terjadi musim penghujan, pasokan air tawar dari muara sungai dan air hujan menjadi lebih banyak dibandingkan dengan musim kemarau, hal ini menyebabkan salinitas perairan sekitar pantai menjadi lebih rendah. Bahan organik dan non organik yang melimpah dari daratan yang terbawa oleh aliran sungai juga memberikan tingkat kesuburan bagi perairan pantai melalui proses up welling. Pada salinitas yang rendah merupakan kondisi perairan yang sangat optimal untuk pemijahan ikan lemuru sedangkan adanya ketersediaan makanan merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya pemijahan terkait dengan strategi ikan dalam menjamin kelangsungan hidup keturunannya.

Struktur Ukuran Kelas Panjang

Pada penghitungan distribusi kelas panjang (Gambar 7) terlihat bahwa pada ukuran kelas panjang 150 mm hingga 190 mm merupakan ukuran ikan yang biasa tertangkap oleh nelayan dengan dominasi populasi ikan hasil tangkapan secara keseluruhan pada ukuran kelas antara 170 – 180 mm. Berdasarkan pada jumlah sampel keseluruhan yang berjumlah 777 ekor, ikan lemuru di Siberut memiliki rata-rata panjang 168±1.43 mm. Ukuran terkecil ikan adalah 120 mm dan ukuran terbesar ikan adalah 214 mm. Pada ikan betina ukuran panjang berkisar antara 120 mm – 214 mm dengan panjang rata-rata 172 ± 1.58 mm. Pada ikan jantan kisaran panjang antara 128 - 200 mm dengan panjang rata-rata 164 ± 1.20 (Lampiran 4).

Melihat ukuran panjang rata-rata ikan hasil tangkapan maka dapat diduga bahwa kondisi perairan dan populasi ikan lemuru yang terdapat di perairan Siberut masih dalam kondisi yang baik dan belum terjadi peristiwa overfishing dan kerusakan lingkungan perairan. Hal ini diperlihatkan dari ukuran panjang rata-rata ikan hasil tangkapan yang nilainya berada diatas ukuran panjang rata-rata ikan ketika pertama kali memijah artinya pada populasi ikan yang tertangkap sebelumnya telah melakukan pemijahan sehingga dapat meningkatkan stok populasi di perairan.

Pada ukuran panjang ikan berdasarkan waktu/bulan (Gambar 8), terlihat bahwa pada kisaran bulan dimana terjadinya pemijahan (Juni-September), populasi ikan yang mendominasi adalah pada ukuran panjang antara 170-190 mm. Pada bulan Agustus komposisi ukuran ikan berada pada kisaran yang sangat panjang dimana ikan yang paling kecil (ukuran 120 mm) sampai ukuran terbesar (220 mm) tertangkap pada bulan ini. Pada bulan dimana nilai GSI-nya rendah (Oktober-Desember) ukuran kelas panjang ikan didominasi pada ukuran 150-160 mm dengan rentang panjang mulai dari 120 hingga 180 mm. Pada bulan Desember ukuran terbesar ikan adalah pada ukuran 160-170 dan ukuran terkecil pada ukuran 120-130 dimana pada bulan sebelumnya (Oktober-November) ukuran terkecil ada pada kelas panjang 150-160 mm.

0 5 10 15 20 25 30 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 200 - 210 210 - 220

Ukuran Kelas Panjang (mm)

Frekuensi (%)

n = 777

Gambar 7. Distribusi sebaran ukuran kelas panjang ikan lemuru (n= jumlah sampel ikan keseluruhan)

Gambar 8. Distribusi kelas panjang berdasarkan waktu/bulan 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Frekuensi (%) Januari n= 52 0 5 10 15 20 25 30 35 40 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) Februari n = 50 0 10 20 30 40 50 60 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) Maret n = 56 0 10 20 30 40 50 60 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) April n = 50 0 5 10 15 20 25 30 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) Mei n = 50 0 5 10 15 20 25 30 35 120-130 130-140 140-150 150-160 160-170 170-180 180-190 190-200 > 200 Frekuensi (%) Juni n = 89 0 5 10 15 20 25 30 35 40 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) Juli n = 89 0 10 20 30 40 50 60 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) Agustus n=61 0 10 20 30 40 50 60 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) September n= 70 0 10 20 30 40 50 60 70 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) Oktober n=70 0 10 20 30 40 50 60 120 - 130 130 - 140 140 - 150 150 - 160 160 - 170 170 - 180 180 - 190 190 - 200 Frekuensi (%) November n = 70 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 120-130 130-140 140-150 150-160 160-170 170-180 180-190 190-200 >200 Frekuensi (%) Desember n =70

Perubahan Tingkat Kematangan Gonad Bulanan

Proporsi tingkat kematangan gonad berdasarkan pada waktu/bulan dalam satu tahun memperlihatkan bahwa waktu ikan akan melakukan pemijahan ditandai dengan bulan/waktu yang sama saat nilai GSI- nya tinggi. Demikian pula sebaliknya waktu/bulan dimana tidak ada aktivitas pemijahan ditandai dengan nilai GSI- nya yang rendah. Komposis TKG 3-5 (Pre Spawning) yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan komposis TKG 1-2,9 (No Spawning) terjadi pada kisaran bulan Juni hingga September. Demikian pula sesuai dengan nilai GSI yang rendah, bahwa pada kisaran bulan Oktober – Januari komposisi TKG 1-2,9

(NoSpawning) berada pada kisaran yang cukup tinggi dibandingkan dengan bulan

yang lainnya.

Gambar 9. Histogram proporsi tingkatan gonad pada individu (>140 mm FL) tiap bulan. Pembagian tahapan gonad dibagi menjadi no spawning

(TKG 1,2-9), pre spawning (TKG 3-5) dan post spawning (TKG 6-8). Ikan pada kondisi TKG 3-5 (pre spawning) ditemukan pada hampir keseluruhan bulan kecuali pada bulan Oktober, November, dan Desember. Distribusi nilai yang cukup besar pada ikan yang mengalami pre spawning

berkisar antara bulan Juni hingga September dan antara bulan Februari hingga Mei. Tahapan kematangan gonad 6-8 (post spawning) didominasi pada kisaran

antara bulan Juni hingga Oktober. Sedangkan tahapan gonad 1-2,9 (no spawning) didominasi pada kisaran bulan Oktober hingga Januari.

Berdasarkan pada distribusi TKG tersebut maka dapat diketahui bahwa musim pemijahan ikan lemuru terjadi pada kisaran antara bulan Juni hingga September. Hal ini ditandai dengan komposisi TKG post spawning pada bulan- bulan tersebut dengan puncaknya/komposisi tertinggi terjadi pada bulan September. Walaupun pada Februari hingga Mei memiliki komposisi TKG pre

spawning yang cukup tinggi tetapi komposisi TKG post spawning tidak ada yang

mendominasi. Periode TKG no spawning terjadi pada kisaran bulan Oktober hingga Januari. Pada kisaran bulan tersebut gonad ikan berada pada tahap istirahat dan tidak ada aktivitas gonad setelah melewati musim pemijahan pada bulan- bulan sebelumnya. Hal ini juga memiliki pola yang sama dengan peningkatan nilai GSI dimana pada bulan Juni hingga September merupakan musim pemijahan dan bulan Oktober-Desember merupakan fase istirahat/tidak ada perkembangan gonad ikan lemuru di P. Siberut.

Rasio Jenis Kelamin

Perbandingan antara jantan dan betina di perairan pantai timur Pulau Siberut didapatkan data bahwa jumlah lemuru jantan sebanyak 411 ekor dan betina sebanyak 366. Perbandingan antara keduanya adalah 1,12 jantan : 1 betina. Bila diklasifikasikan berdasarkan pada ukuran kelas panjang (Gambar 10) maka pada kelas panjang 120-140 mm perbandingan antara jantan dan betina adalah 0,81: 1. Pada kelas panj ang 140 -170 mm perbandingannya 1,9 : 1, sedangkan pada kelas panjang di atas 170 mm perbandingannya 0,5 : 1. Secara alami rasio kelamin pada keseluruhan populasi tanpa membedakan jenis kelamin mendekati 1:1. Hal ini menunjukkan bahwa secara alami rasio kelamin di alam berada pada kondisi yang seimbang antara jantan dan betina. Pada kondisi ukuran panjang dibawah 140 saat ikan belum mengalami kematangan gonad, jumlah ikan betina lebih banyak dibandingkan dengan ikan jantan sedangkan pada ukuran antara 140-170 mm saat terjadinya kematangan gonad dan pemijahan komposisi jantan lebih banyak dibandingkan dengan betina. Pada ukuran diatas 170 mm komposisi populasi ikan jantan adalah setengah jumlahnya dibandingkan dengan ikan betina.

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 120-140 140-170 >170 Gabungan

Ukuran kelas panjang (mm)

Persentase (%)

Jantan Betina

Gambar 10. Histogram rasio kelamin lemuru pada tiap ukuran kelas panjang

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Bulan

Persentase (%)

Betina Jantan

Gambar 11. Histogram rasio kelamin ikan lemuru berdasarkan waktu (---)= rata- rata rasio jantan, (...) = rata-rata rasio betina

Bila rasio jenis kelamin diklasifikasikan berdasarkan pada waktu (Gambar 11) maka terlihat bahwa rata-rata jumlah jantan (51,7%) lebih banyak dibandingkan dengan jumlah betina (48,3%). Pada bulan Januari ikan jantan sangat mendominasi (93%) dibandingkan dengan ikan betina. Pada saat terjadinya proses pemijahan di bula n September, terlihat bahwa komposisi rasio betina lebih banyak dibandingkan dengan jantan.

Fekunditas dan Diameter Telur

Fekunditas dari seluruh sampel pada TKG 4-6 didapatkan bahwa nilai rata- rata jumlah telur setiap 0,1 gram berat sampel adalah 449 but ir. Fekunditas total dari ikan lemuru di perairan pantai timur Pulau Siberut berkisar antara 1.688 – 21.573 butir dengan rata-rata fekunditas keseluruhan adalah 7.850 telur/betina. Jumlah sampel keseluruhan pada ikan yang berada pada TKG-4 adalah 20 ekor, pada TKG-5 sebanyak 25 ekor dan pada TKG-6 sebanyak 29 ekor. Ikan yang fekunditasnya paling tinggi adalah ikan TKG-4 yang berukuran 21 cm, berat 120,1 gr dengan jumlah telur 21.573 butir sedangkan ikan yang fekunditasnya paling rendah adalah ikan TKG-6 yang berukuran 17 cm, berat 67,2 gr dengan jumlah 1.688 butir (Lampiran 5).

Fekunditas sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan di perairan ketika proses oogenesis terjadi. Pada kondisi perairan dengan kelimpahan plankton dan zooplankton yang tinggi maka ikan yang matang gonad akan memaksimalkan proses pembentukan telur. Pada ikan betina yang matang gonad maka berat gonadnya adalah 20% dari berat tubuh sedangkan ikan jantan sekitar 10% dari berat tubuh. Fekunditas dapat juga merupakan suatu regulator dari populasi ikan dimana pada lingkungan yang memiliki tingkat predasi dan mortalitas yang tinggi maka fekunditas ikan yang hidup diperairan tersebut juga tinggi (Baker dan Heidinger, 1994).

Pada pengukuran diameter telur ikan lemuru, distribusi penyebaran ukuran diameter telurnya memiliki dua rataan ukuran diameter telur dalam gonad yang sama. Pada TKG-4 rataan ukuran diameter yang pertama berkisar antara 0,28 - 0,36 mm dan rataan kedua berkisar antara 0,47 - 0,55 mm sedangkan rata-rata ukuran diameter telur pada keseluruhan gonad adalah 0,46 mm (Gambar 12). Hal yang sama juga terjadi pada distribusi diameter telur TKG-6, rataan yang pertama berkisar antara 0,25 - 0,36 mm dan rataan yang kedua berkisar antara 0,48 - 0,57 mm dengan rata-rata pada keseluruhan gonad adalah 0,41 mm (Gambar 13).

Dilihat pada pola penyebaran ukuran diameter telur maka dapat diperkirakan bahwa tipe perkembangan telur termasuk tipe yang asinkronous dimana dalam satu gonad berkembang lebih dari satu ukuran dan tahapan perkembangan telur. Ovulasi yang pertama kali terjadi adalah pada rataan ukuran diameter telur yang

lebih besar sedangkan pada rataan diameter telur yang lebih kecilnya merupakan telur yang akan diovulasi kemudian, sehingga dapat diduga bahwa pemijahan dan ovulasi yang dilakukan oleh lemuru terjadi lebih dari satu kali dalam waktu yang berbeda walaupun masih dalam rentang musim pemijahan. Rentang waktu terjadinya ovulasi/pemijahan tergantung dari faktor alam dan kondisi lingkungan perairan. Tipe pemijahan ini merupakan salah satu strategi pemijahan karena waktu pemijahan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama ini dapat meningkatkan kelangsungan hidup keturunannya (Murua, 2003).

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 17 20 23 27 30 33 36 40 45 48 51 54 57 62 65 68 72 Diameter Telur (mm) x 10-2

Jumlah Telur (butir)

Gambar 12. Histogram distribusi diameter telur lemuru pada TKG-4 (n = 200).

0 5 10 15 20 25 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 44 48 50 52 54 56 58 Diameter telur (mm) x 10-2

Jumlah Telur (butir)

Histologis Gonad

Pada pengamatan analisa histologis testis (Gambar 14), perubahan bentuk dan struktur gonad tidak banyak mengalami perubahan yang drastis dan berbeda bila dibandingkan dengan perubahan sel pada ovarium. Testis hanya mengalami perubahan dari sel spermatogonia menjadi sel spermatozoa. Pada tahap pertama ditandai dengan adanya sel spermatogonia dan spermatosit primer dengan jumlah spermatid yang sangat kecil. Tahap kedua adalah pembelahan mitosis I spermatosit primer menjadi spermatosit sekunder (Proses Spermatositogenesis). Tahap ketiga adalah terbentuknya spermatid dari spermatosit sekunder melalui pembelahan meiosis II. Tahap keempat adalah proses pembentukan spermatozoa yang telah berbentuk kepala, leher dan ekor (Proses Spermiogenesis) yang ditandai dengan terlepasnya spematozoa dalam lumen lobul sehingga densitasnya meningkat.

Berdasarkan pada pengamatan histologis gonad/ovarium (Gambar 15) diketahui beberapa tahapan perkembangan telur. Tahap 1 yaitu tahap perkembangan sel primer ditandai dengan beberapa anak inti (nukleoli) bergabung dalam lapisan inti. Tahap 2 yaitu tahap cortical alveoli atau pembentukan kuning telur ditandai dengan adanya pembentukan protein telur dan lipid droplet dalam sitoplasma telur dan menebalnya lapisan zona radiata serta munculnya cortical alveoli dalam sitoplasma. Tahap 3 yaitu tahap vitelogenesis ditandai dengan adanya pengumpulan kuning telur dalam sitoplasma telur, ketebalan zona radiata meningkat dan lapisan sel folikel berubah bentuk. Selanjutnya perkembangan telur ditandai dengan meningkatnya akumulasi kuning telur yang mengisi hampir seluruh lapisan dalam sitoplasma dan kemudian diikuti dengan tahap ke 4 yaitu proses pematangan telur ya ng ditandai dengan bermigrasinya inti telur ke lubang mikrofil, terjadinya peleburan inti dan penyerapan air sehingga tekanan telur meningkat serta telah terjadi proses pembelahan inti (meiotik pertama). Tahap selanjutnya adalah tahapan perkembangan telur setelah proses ovulasi (Post

ovulatory folicel) yang ditandai dengan terjadinya regresi/atresia dari oosit yang

tidak terovulasi. Telur atresia adalah telur yang telah mengalami tahap maturasi akhir akan tetapi tidak diovulasikan karena sistem hormon gonad tidak bekerja

akibat kondisi lingkungan tidak mendukung sehingga telur tersebut diserap kembali oleh tubuh ikan.

Secara umum ikan yang mengalami proses pematangan telur dan sperma yang kemudian diikuti oleh ovulasi bisa saja terjadi beberapa kali dalam rentang waktu musim pemijahan karena hal ini tergantung dari proses gametogenesis pada setiap spesies. Pada ikan Sardinella ini pembentukan gamet tidak berjalan secara serentak dalam satu tahapan kematangan gonad tetapi bertahap dimana dalam satu gonad terdapat lebih dari satu tahapan kematangan gonad. Sehingga pada telur ataupun sperma yang telah mengalami kematangan akhir bila kondisi perairan sesuai dapat terjadi pemijahan tanpa mempengaruhi perkembangan sel gamet yang lainnya yang belum matang. Bahkan bila ada telur yang telah mengalami tahap maturasi tetapi tidak diovulasikan maka akan mengalami penyerapan materi telur oleh tubuh ikan (telur atresia).

Gambar 14. Pemotongan melintang testis pada berbagai tahap perkembangan. A). Tahap 1 (Immature Stage) ( Sc = Spermatosit, Sd= Spermatid, Sz=Sperma, I= tubulus seminiferus, Tanda panah= Spermatogonium). B). Tahapan Spermatogenesis C) dan D). Tahap pematangan spermatid (I= tubulus seminiferus, Sc dan tanda panah=spermatid)

Gambar 15. Pemotongan melintang ovarium ikan lemuru pada berbagai tahap kematangan. (A). Tahap 1. Ovari belum berkembang (Ep= Early perinuklear stage, Lp= Late perinuklear stage). (B). Tahap 2. (Ey=Early yolk stage, Ly= Late yolk stage). (C) dan (D). Tahap 3 (Pembentukan kuning telur ) dan Tahap 4 (Tahap pematangan akhir dan migrasi inti) (N = Inti sel , Yg=Yolk globules). Tahap 5 (Post ovulatory folicel) (Tanda panah adalah oosit atresia).

Hubungan Panjang dengan Fekunditas

Hasil analisa data hubungan antara panjang dengan fekunditas maka di dapatkan persamaan linier Y = -7.217 + 7.749X dengan nilai koefisien korelasi (r) 0,673 (Lampiran 5). Berdasarkan persamaan tersebut maka dapat diketahui bahwa setiap pertambahan panjang ikan sepanjang 1 cm maka akan jumlah telur ikan akan bertambah sebanyak 532 butir telur.

Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan pada penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal dibawah ini:

1. Pada ikan jantan ukuran pertama kali memijah adalah pada panjang 153 ± 0.73 mm dan pada ikan betina pada panjang 163 ± 0.62mm. Ukuran minimal ikan yang dapat untuk ditangkap adalah pada ukuran 163 mm.

2. Musim pemijahan ikan lemuru di perairan pantai timur Pulau Siberut terjadi antara bulan Juni hingga September dengan puncaknya terjadi pada bulan September

3. Perbandingan populasi antara jantan dan betina secara keseluruhan adalah 1,12 : 1. Pada ukuran kelas panjang 120-140 mm perbandingannya adalah 0,81: 1, kelas panjang 140 -170 mm perbandingannya adalah 1,9 : 1, dan pada ukuran >170 mm perbandingannya adalah 0,5 : 1.

4. Tipe pemijahan ikan lemuru termasuk tipe partial spawning dengan tipe perkembangan telur termasuk asynchronous.

Saran

Berdasarkan penelitian ini disarankan beberapa hal berikut ini:

1. Untuk mendukung data biologi dan reproduksi agar dapat dimanfaatkan dalam usaha pengelolaan kebijakan perikanan lemuru maka perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai dinamika populasi ikan lemuru di perairan pantai Pulau Siberut.

Dokumen terkait