• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN RELEVAN

2. Fonologi, Sintaksis, Semantik, dan Pragmatik

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis,

dan membicarakan runtutan bunyi bahasa. 104 Secara etimologi, kata

fonolgi terbentuk dari kata fon yang bermakna bunyi dan logi yang

bermakna ilmu. 105 Pada umumnya, bunyi bahasa diklasifikasikan

menjadi bunyi vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Pita suara yang terbuka sedikit ini menjadi bergetar ketika dilalui arus udara yang dipompakan paru-paru. Selanjutnya, arus udara itu keluar melalui rongga mulut tanpa mendapat hambatan-apa-apa, kecuali bentuk rongga mulut yang berbentuk tertentu, sesuai dengan jenis

vokal yang dihasilkan.106

103Triningsih, Op. Cit., h. 41.

104Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), h. 102.

105Ibid. 106Ibid., h. 113.

Selanjutnya, bunyi konsonan terjadi setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu. Jadi, beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa; sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan, arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan. Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak, sedangkan bunyi

vokal semuanya adalah bersuara.107

b. Sintaksis

Secara etimologis, sintaksis berasal dari bahasa Belanda syntaxis. Di

dalam bahasa Inggris, sintaksis dikenal dengan istilah syntax. Semantara

itu, dari sisi kaidah penyerapan bahasa asing, istilah sintaksis dalam bahasa Indonesia memiliki kedekatan dengan istilah bahasa Belanda

syntaxis. Adapun pembahasa sintaksis secara berturut-turut dimulai dari

frasa, klausa, sampai pada tataran kalimat.108

1. Frasa

Frasa merupakan satuan gramatikal berupa gabungan kata dan bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang

mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.109 Ciri utama

frasa ialah berupa kelompok kata, tidak predikatif, dan tidak melampaui batas fungsi atau hanya menduduki satu fungsi. Tidak melampaui batas fungsi sintaksis maksudnya frasa itu hanya menduduki satu fungsi. Frasa itu bisa menduduki fungsi subjek saja, atau menduduki fungsi predikat saja, atau menduduki fungsi objek saja, atau menduduki fungsi pelengkap saja, atau menduduki fungsi

107Chaer, Ibid., h. 113.

108La Ode Sidu, Sintaksis Bahasa Indonesia, (Kendari: Unhalu Press, 2013), h. 21.

keterangan saja. Dengan demikian, frasa merupakan konstituen

pengisi fungsi-fungsi sintaksis.110

2. Klausa

Klausa merupakan kelompok kata yang predikatif. Klausa merupakan tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frasa dan di bawah kalimat. Ciri utama klausa adalah ciri predikat,

yang kehadirannya adalah wajib.111 Di pihak lain, S. Effendi, Djoko

Kentjono, dan Basuki Suhardi menyatakan, “Klausa adalah satuan gramatikal yang disusun oleh kata dan atau frasa; di dalamnya terdapat satu hubungan predikatif (atau hubungan subjek-predikat). Klausa pada umumnya merupakan konstituen dasar kalimat.”112

3. Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi akhir, dan juga terdiri atas klausa. Kalimat boleh terdiri atas satu klausa atau lebih. Kalimat dalam bentuk tulisan memiliki kriteria yang mengikat, seperti huruf kapital di awal kalimat dan diakhiri dengan salah satu tanda perhentian

seperti titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!).113

Kalimat umumnya berwujud serangkaian kata yang disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Tiap kata dalam kalimat, mempunyai tiga klasifikasi, yaitu berdasarkan kategori sintaksis, fungsi sintaksis, dan peran semantisnya.

a. Kategori Sintaksis

Bahasa Indonesia memiliki empat kategori sintaksis utama, yaitu verba atau kata kerja, nomina atau kata benda, adjektiva atau kata sifat, dan adverbia atau kata keterangan. Selain itu, ada

110Sidu, Ibid., h. 23.

111Ibid., h. 42-43.

112S. Effendi, dkk., Tata Bahasa Dasar Bahasa Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

2015), h. 36.

juga kelompok lain yang dinamakan kata tugas, yang terdiri atas beberapa subkelompok kecil, misalnya preposisi atau kata depan,

konjungtor atau kata sambung, dan partikel.114

b. Fungsi Sintaksis

Setiap kata atau frasa dalam kalimat mempunyai fungsi yang mengaitkannya dengan kata atau frasa lain yang ada dalam kalimat tersebut. Fungsi itu bersifat sintaksis, artinya berkaitan dengan urutan kata atau frasa dalam kalimat. Adapun fungsi sintaksis utama dalam bahasa adalah predikat, subjek, objek,

pelengkap, dan keterangan.115 Predikat dalam bahasa Indonesia

dapat berwujud frasa verbal, adjektival, nominal, numeral dan preposisional. Selain predikat, kalimat umumnya mempunyai subjek yang biasanya terletak di depan predikat. Subjek dapat berwujud nomina, tetapi pada keadaan tertentu kategori kata lain juga dapat menduduki fungsi subjek. Ada juga kalimat yang mempunyai objek. Pada umumnya, objek yang berupa frasa nominal berada di belakang predikat yang berupa frasa verbal transitif aktif. Objek tersebut berfungsi sebagai subjek jika

kalimat tersebut diubah menjadi pasif.116

Selanjutnya, yang dinamakan pelengkap atau komplemen mirip dengan objek. Pelengkap pada umumnya berupa frasa nominal dan frasa nominal itu juga berada di belakang predikat verbal. Perbedaan yang penting adalah pelengkap tidak dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Di sisi lain, pelengkap mirip dengan keterangan juga. Kedua-duanya membatasi acuan konstruksi yang bergabung dengannya. Perbedaannya ialah pelengkap pada umumnya wajib hadir untuk melengkapi

114Hasan Alwi, dkk., Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai

Pustaka, 2008), h. 35-36. 115Ibid., h. 36. 116Ibid., h. 36-37.

konstruksinya, sedangkan keterangan tidak. Tempat keterangan biasanya bebas, sedang tempat pelengkap selalu di belakang verba(beserta objeknya). Keterangan ada yang menyatakan alat,

tempat, cara, waktu, kesertaan, atau tujuan.117

c. Peran Semantis

Pada dasarnya, setiap kalimat memerikan suatu peristiwa yang melibatkan satu peserta atau lebih, dengan peran semantis yang berbeda-beda. Peserta tersebut dinyatakan dengan nomina atau frasa nominal. Peran semantis terdiri atas pelaku, sasaran, pengalam, pemeruntung, dan atribut. Adapun penjelasan mengenai peran semantis tersebut adalah sebagai berikut.

1) Pelaku

Pelaku adalah peserta yang melakukan perbuatan dan dinyatakan oleh verba predikat. Peserta umumnya manusia atau binatang. Peran pelaku merupakan peran semantis utama subjek kalimat aktif dan pelengkap pasif.

2) Sasaran

Sasaran adalah peserta yang dikenai perbuatan dan dinyatakan oleh verba predikat. Peran sasaran merupakan peran utama objek atau pelengkap.

3) Pengalam

Pengalam adalah peserta yang mengalami keadaan atau peristiwa dan dinyatakan predikat. Peran pengalam merupakan peran unsur subjek yang predikatnya adjektiva atau verba taktransitif yang lebih menyatakan keadaan.

4) Peruntung

Peruntung adalah peserta yang beruntung dan yang memperoleh manfaat dari keadaan, peristiwa atau perbuatan

117Alwi, dkk., Ibid., h. 38.

yang dinyatakan oleh predikat. Partisipan peruntung biasanya berfungsi sebagai objek, atau pelengkap, atau sebagai subjek

verba jenis menerima atau mempunyai.

5) Atribut

Kalimat yang berpredikat nomina, predikat tersebut

mempunyai peran semantis atribut.118

c. Semantik

Secara etimologis, istilah semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari

kata semantics dalam bahasa Inggris. Istilah tersebut diperkenalkan oleh

organisasi filologi Amerika pada tahun 1894. Secara terminologi, semantik

adalah bidang linguistik yang mengkaji arti bahasa.119 Sementara itu, Drs.

Aminuddin memaparkan bahwa semantik yang semula berasal dari bahasa

Yunani, mengandung makna to signify atau memaknai. Sebagai istilah

teknis, semantik mengandung pengertian “studi tentang makna”, dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantik

merupakan bagian dari lingustik.120

d. Pragmatik

Kata pragmatik berasal dari bahasa Inggris pragmatics dan dari bahasa

Yunani pragmatikos. Pragma memiliki arti persoalan yang ada di tangan,

tindakan, dengan analogi pada lingusitik. Pragmatik merupakan ilmu yang menelaah tentang relasi antara bahasa dan konteks yang menjadi dasar bagi pemahaman bahasa atau menelaah tentang kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. Pragmatik mempunyai tiga konsep dasar yaitu tindak

komunikatif, peristiwa komunikatif, dan situasi komunikatif.121

118Alwi, dkk., Ibid., h. 334-335.

119Makyun Subuki, Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa, (Jakarta: Tanspustaka,

2011), h. 4.

120Aminuddin, Semantik: Pengantar Studi tentang Makna, (Bandung: Sinar Baru, 1988), h. 15.

Lebih lanjut, terkait dengan pragmatik, Brown dan Levinson menyatakan bahwa dalam memperlakukan secara wajar lawan tuturnya, penutur menggunakan strategi linguistik yang berbeda-beda. Strategi tersebut adalah strategi kurang sopan, agak sopan, sopan, dan paling sopan. Keempat strategi ini harus dikaitkan dengan parameter pragmatik. Ada tida parameter pragmatik, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Tingkat jarak sosial

Dalam tingkat ini, penuutur dan lawan tutur ditentukan berdasarkan paremeter perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural.

2. Tingkat status sosial

Dalam tingkat ini, penutur dan lawan tutur didasarkan pada kedudukan asimetrik. Contoh: di ruang praktik seorang dokter memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari seorang polisi. Akan tetapi, di jalan raya polisi dapat menilangnya bila dokter tersebut melakukan pelanggaran. Dalam konteks yang terakhir ini, polisi memiliki kedudukan yang lebih tinggi.

3. Tingkat peringkat tindak tutur

Tingkat ini didasarkan pada kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur yang lain. Misalnya, di dalam situasi normal, meminjam mobil kepada seseorang mungkin dipandang tidak sopan, atau tidak mengenakkan. Akan tetapi, di dalam situasi yang mendesak, semisal untuk mengantar orang sakit keras, tindakan itu wajar-wajar saja.122

Dokumen terkait