• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Survei Konsumsi Makanan

2.6.1. Food Frequency

Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi jumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan, atau tahun. Selain itu dengan metode frekuensi makanan dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif. Tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi, zat gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi (Sofiah, 2010).

Kuisioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan atau makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Bahan makanan yang ada dalam daftar kuisioner tersebut adalah yang dikonsumsi dalam frekuensi yang cukup sering oleh responden (Supariasa, 2012)

Kelebihan metode food frequency:

- Relatif mudah dan sederhana

- Dapat dilakukan sendiri oleh responden - Tidak membutuhkan latihan khusus

- Dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan makan

Kekurangan metode food frequency:

- Tidak dapat digunakan untuk menghitung intake zat gizi sehari - Sulit mengembangkan kuisioner pengumpulan data

- Cukup menjemukan bagi pewawancara

- Perlu membuat percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuisioner - Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi

(Supariasa, 2012).

BAB III

KERANGKA KONSEP 3.1. Kerangka konsep

Daya tahan merupakan unsur penting dalam penampilan atlet.

Daya tahan atlet yang baik menentukan kemampuan fisik saat latihan dan saat bertanding. Dengan pengetahuan yang tepat dan benar mengenai gizi, seseorang akan berupaya untuk mengatur pola makannya dan untuk mencapai daya tahan yang optimal, diperlukan pemenuhan energi dari karbohidrat sebagai penghasil tenaga dan sumber utama untuk atlet dalam melakukan aktivitasnya. Pemberian karbohidrat bertujuan untuk membentuk glikogen otot dan hati yang dapat menghasilkan ATP (Adenosin Tri Phosphat) bagi pembentukan energi. Untuk mencapai asupan karbohidrat yang baik maka di perlukan pengetahuan gizi pula yang baik, jika asupan karbohidrat baik makan daya tahan pun akan baik.

Variabel Penelitian

1. Variabel Independen : Pengetahuan Gizi 2. Variabel Antara : Asupan Karbohidrat 3. Variabel Dependen : Endurance

Gambar 3.1

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN GIZI, ASUPAN KARBOHIDRAT DAN ENDURANCE PADA ATLET SQUASH DI BANDUNG

3.2. Hipotesis

a) A

tlet squash yang memiliki tingkat pengetahuan gizi yang baik akan memiliki asupan karbohidrat yang lebih baik.

b) A

tlet squash yang memiliki asupan karbohidrat yang baik akan memiliki endurance tubuh yang lebih baik.

c) A

tlet squash yang memiliki tingkat pengetahuan gizi yang baik akan memiliki endurance tubuh yang baik.

d) A

tlet squash laki-laki yang memiliki asupan karbohidrat yang baik akan memiliki endurance tubuh yang lebih baik.

e) A

tlet squash perempuan yang memiliki asupan karbohidrat yang baik akan memiliki endurance tubuh yang lebih baik.

f) A

tlet squash yang berusia ≤ 16 tahun yang memiliki asupan Pengetahuan Gizi Asupan karbohidrat Endurance

karbohidrat yang baik akan memiliki endurance tubuh yang lebih baik.

g) A

tlet squash yang berusia ≥ 16 tahun yang memiliki asupan karbohidrat yang baik akan memiliki endurance tubuh yang lebih baik.

3.3. Definisi Operasional 3.3.1. Asupan Karbohidrat

Asupan karbohidrat adalah jumlah karbohidrat yang di konsumsi per hari berasal dari bahan makanan yang dikonsumsi sampel selama 1 bulan terakhir dengan metode SFFQ dalam periode latihan.

Cara ukur : wawancara langsung Alat ukur : form SFFQ

Hasil : jumlah karbohidrat dalam gram Skala : interval

3.3.2. Pengetahuan Gizi

Pengetahuan gizi adalah pengetahuan yang berhubungan dengan KH dan gizi seimbang dan bagaimana frekuensi makan yang baik serta manfaatnya bagi kesehatan.

Cara ukur : wawancara langsung Alat ukur : kuesioner

Hasil : persen (%) jawaban benar Skala : interval

3.3.3. Endurance

Endurance adalah kemampuan sampel untuk melakukan tes lari selama 15 menit, jarak yang di tempuh dinyatakan dalam meter dan di hitung dengan menggunakan rumus Balke.

Rumus Balke :

VO2max : [(Jarak tempuh ÷ 15) - 133)] × 0.172) + 33.3 Cara ukur : Pengukuran tes lari selama 15 menit

Alat ukur : Stopwatch dan meteran Hasil : ml O2/kg BB/menit Skala : interval

BAB IV

METEDOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan desain cross sectional, yang melakukan pengukuran variabel dependen dan independen pada satu saat tertentu.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Maret 2015 bertempat di Bandung Squash Club dan Lodaya Squash Club.

4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi

Dalam penelitian ini populasi adalah seluruh atlet squash pada masa latihan. Sampel yang diambil memiliki syarat-syarat sebagai berikut :

Kriteria Inklusi Sampel:

1. Bersedia menjadi responden 2. Usia antara 15-19 tahun

3. Jenis kelamin responden perempuan dan laki-laki 4. Pada saat pengukuran tidak dalam keadaan sakit

Pengambilan Sampel dihitung menggunakan rumus : (Sastroamoro, 2010)

Keterangan :

n = Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Zα = Derajat kemaknaan yaitu 95% (1,96) zβ = Kekuatan uji yaitu 90% (1,282)

r = perkiraan koefisien kolerasi (0,587) (Agustina, 2010)

Dari hasil perhitungan menggunakan tersebut, maka diperoleh sampel minimal adalah 27 orang.

4.3.2 Cara pengambilan sampel

Sampel yang akan diteliti akan dipilih dengan menggunakan metode random sampling.

4.4. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis dan cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder

4.4.1 Data primer, meliputi:

 Identitas sampel, meliputi: nama, umur, dan alamat rumah dikumpulkan dengan menggunakan media kuisioner

 Data asupan karbohidrat diperoleh dengan menggunakan metode SFFQ, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara.

 Pengetahuan gizi diperoleh dari hasil mengisi kuisioner.

 Data tingkat daya tahan sampel dieroleh dari hasil tes lari 15 menit yang dinyatakan dalam meter kemudian dihitung dengan menggunakan rumus balke sehingga diperoleh nilai VO2 max dalam satuan ml O2/kg BB/menit.

4.4.2 Data sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini adalah data jumlah atlet yang terdaftar di club tersebut dan gambaran latihan atlet squash diperoleh dari keterangan pelatih setempat.

4.5 Pengolahan dan Analisis Data 4.5.1 Pengolahan Data

a. Asupan karbohidrat

Asupan karbohidrat diperoleh dari konsumsi makanan atlet dalam kurun waktu 1 bulan terakhir yang dikumpulan dengan metode SFFQ, kemudian dianalisis dengan program Nutrisurvey untuk mendapatkan hasil jumlah asupan karbohidrat yang dikonsumsi sehari.

b. Pengetahuan Gizi

Data pengetahuan gizi diperoleh dengan menggunakan kuesioner.

Dengan cara menjawab 10 pertanyaan kuesioner kemudian dinilai berdasarkan skor, dengan nilai skor dari jawab benar =1 dan salah = 0.

Lalu dihitung jumlah jawaban benar dibandingkan dengan jumlah pertanyaan x 100% dan buat dalam bentuk persen.

c. Endurance

Endurance diperoleh dari hasil pengukuran lari sampel selama 15 menit yang dinyatakan dalam meter kemudian dihitung dengan menggunakan rumus Balke sehingga di peroleh nilai VO2 max dalam satuan ml O2/kg BB/menit dilakukan 2 kali dan diambil nilai rata-rata.

4.5.2. Analisis Data a. Analisis univariat

Analisis univariat dilakukan untuk menyajikan data secara deksriptif dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Analisis ini dilakukan terhadap data umum sampel antara lain data pengetahuan gizi, asupan karbohidrat, dan daya tahan.

b. Analisis Bivariat

Analisa Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi dan asupan karbohidrat terhadap daya tahan, dianalisis dengan uji korelasi. Jika data terdistribusi normal (parametrik) maka uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi pearson dan jika data tidak terdistribusi secara normal (non parametrik) maka uji statistik yang digunakan adalah uji statistik korelasi spearman, dengan rumus uji sebagai berikut :

- Korelasi Pearson

Keterangan : r = kolerasi

Y = variabel dependen X = variabel independent n = jumlah sampel

Nilai r berada pada -1≤ r ≤ +1 a. r1

Korelasi negatif (semakin besar nilai pengetahuan gizi, dan semakin tinggi asupan karbohidrat maka semakin rendah daya tahan tubuh atlet squash di Bandung)

b. r0

Dianggap tidak ada hubungan antara pengetahuan gizi dana supan karbohidrat terhadap daya tahan tubuh atlet squash di Bandung) c. r1

Korelasi positif (semakin besar nilai pengetahuan gizi, dan semakin tinggi asupan karbohidrat maka semakin tinggi daya tahan tubuh atlet squash di Bandung)

Dengan daerah korelasi:

r= 0-0,25 hubungan lemah

r= 0,26-0,50 Sedang

r= 0,51-0,75 Baik

r= 0,76-1,0 Sangat baik

(Sastroasmoro, 1998)

- Korelasi Spearman

Keterangan :

rs = nilai korelasi spearman d = selisih ranking tiap pasangan n = jumlah sampel

Uji keberartian kolerasi Menguji hipotesis

Ho; r = 0, kolerasi tidak signifikan ( tidak ada hubungan antara 2 variabel) Ha ; r ≠ 0, kolerasi signifikan (ada hubungan 2 variabel)

(Sastroasmoro, 2010

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Lodaya Squash Club dan Bandung Squash Club. Lodaya Squah Club terletak di jalan Lodaya No. 22 Bandung, sedangkan Bandung Squash Club terletak di Jalan Menado Pojok Belitung 1 Bandung. Kedua klub ini berada dibawah naungan PSI

Bandung. Latihan dilakukan 3 kali dalam seminggu dengan frekuensi latihan 1 kali sehari. Latihan di lakukan pada sore hari yaitu pukul 16.00-19.00. Atlet yang berlatih di Lodaya Squash Club sebanyak 33 orang dan Bandung Squash Club sebanyak 30 orang terdiri dari berbagai usia dari mulai 11 tahun hingga 23 tahun.

5.2 Karakteristik Sampel

Sampel merupakan atlet tetap yang mengikuti latihan di Lodaya Squash Club dan Bandung Squash Club. Pada penelitian ini jumlah sampel adalah 27 orang dari keseluruhan atlet yang berlatih 63 orang yang dipilih berdasarkan kriteria usia 15-19 tahun.

5.2.1. Karakteristik Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL 5.1

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

No Jenis Kelamin Jumlah

n Presentase

1 Laki-laki 17 63,0 %

2 Perempuan 10 37,0 %

Jumlah 27 100,0 %

Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa sampel sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 17 orang (63,0%). Hal ini dapat menggambarkan bahwa olahraga squash lebih diminati oleh laki-laki. Hal ini disebabkan karena laki-laki lebih bertahan secara fisik untuk mengikuti program latihan yang cukup berat seperti berlatih fisik (lari, sit up, push up, dan lain-lain) untuk menunjang prestasi dalam permainan squash. Sedikitnya jumlah sampel perempuan disebabkan karena pada saat ini jumlah peminatnya lebih sedikit daripada laki-laki.

5.2.2 Karakteristik Sampel Berdasarkan Usia

Distribusi sampel berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel berikut : TABEL 5.2

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL BERDASARKAN USIA PADA ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

No Usia Jumlah

N Presentase

1 < 16 18 66,7 %

2 > 16 9 33,3 %

Jumlah 27 100,0 %

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa sampel yang berusia

≤ 16 tahun sebanyak 18 orang (66,7%), sedangkan sampel yang berusia ≥ 16 tahun sebanyak 9 orang (33,3%) Sampel pada usia ≤ 16 tahun termasuk remaja awal. Remaja pada masa ini mengalami pertumbuhan fisik dan seksual dengan cepat. Pikiran difokuskan pada keberadaanya dan pada kelompok sebaya. Identitas terutama difokuskan pada perubahan fisik dan perhatian pada keadaan normal. Kebutuhan gizi pada atlet remaja lebih tinggi untuk setiap kilogram berat badannya dibanding orang dewasa. Tambahan itu diperlukan selain untuk pemeliharaan fungsi fisiologis juga untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan yang optimal (Depkes, 1993)

.

Sampel pada usia ≤ 16 tahun lebih banyak jumlahnya karena pada usia tersebut merupakan puncak prestasi pada atlet squash di Lodaya Squash Club dan Bandung Squash Club. Selain itu, sampel pada usia tersebut cenderung lebih bertahan dan mampu menyesuaikan dengan suasana latihan yang cukup berat.

5.3 Analisis Univariat

5.3.1 Tingkat Pengetahuan Gizi

Hasil pengumpulan data tingkat pengetahuan gizi diperoleh rata-rata tingkat pengetahuan gizi adalah 69%. Tingkat pengetahuan gizi terendah yaitu 50% dan tingkat pengetahuan gizi tertinggi adalah 100%.

TABEL 5.3

SEBARAN NILAI PENGETAHUAN GIZI PADA ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

Pengetahuan Gizi Pengetahuan Gizi (%)

Rata-rata 69

Standar Deviasi 1,3

Median 70

Minimum 50

Maximum 100

Terdapat sepuluh item pertanyaan yang diajukan kepada sampel yang berkaitan dengan gizi. Beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh kebanyakan sampel diantaranya adalah mengenai makanan sumber karbohidrat yang tepat untuk daya tahan tubuh.

5.3.2 Asupan Karbohidrat

Asupan karbohidrat yang dikonsumsi per hari diperoleh melalui metoda SQFFQ, kemudian hasilnya diolah dengan menggunkan nutrisurvey. Sehingga didapat hasil sebagai berikut :

TABEL 5.4

SEBARAN NILAI ASUPAN KARBOHIDRAT PADA ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

Asupan Karbohidrat Karbohidrat (gr) % Kebutuhan

Rata-rata 278,2 75,6 %

Standar Deviasi 47,9 -

Median 267,9 72,8 %

Minimum 203,6 55,2 %

Maximum 383,6 104,2 %

Rata-rata asupan karbohidrat sampel adalah 278,2 gram (75,6%), asupan karbohidrat sampel terendah adalah 203,6 (55,2%) gram

sedangkan asupan karbohidrat sampel tertinggi adalah 383,6 (104,2 %) gram, dengan median 267,9 (72,8%) gram.

Kebutuhan rata-rata karbohidrat atlet squash adalah 65% dari kebutuhan energi total atau sama dengan 368 gr sedangkan rata-rata asupan karbohidrat sampel hanya 278,2 gr, dapat dikatakan bahwa asupan karbohidrat sampel hanya memenuhi seiktar 75,6% kebutuhan.

Hasil penelitian yang di lakukan pada atlet bulutangkis di PB Mutiara dan PB Gunadarma menunjukan bahwa rata-rata asupan karbohidrat sampel hanya memenuhi sekitar 73,2 % kecukupan.

(Permatasari,2012)

Lodaya Squash Club dan Bandung Squash Club tidak memiliki penyelenggaraan makan untuk atletnya sehinggga atlet cenderung mengkonsumsi makanan sesuai seleranya tanpa memperhatikan kebutuhan yang diperlukan baik saat latihan maupun pertandingan. Jenis bahan makanan sumber karbohidrat sampel cukup bervariasi namun asupan karbohidrat sampel masih kurang dibandingkan dengan angka kebutuhan gizi dilihat dari rata-rata konsumsi karbohidrat hanya 75,6 %.

Apabila kecukupan karbohidrat tidak terpenuhi maka permainan yang ditampilkan tidak akan maksimal. Karbohidrat merupakan sumber energi utama dan memegang peranan sangat penting untuk seorang atlet squash dalam melakukan olahraga. Pemberian karbohidrat bagi seorang atlet squash bertujuan untuk mengisi kembali simpanan glikogen otot dan glikogen hati yang telah dipakai pada kontraksi otot. Pada atlet squash yang mempunyai simpanan glikogen sangat sedikit, akan mengalami cepat lelah dan kurang berprestasi (Depkes, 2012).

5.3.4 Endurance

Endurance sampel diukur dengan lari selama 15 menit yang dinyatakan dalam jarak tempuh (meter) kemudian dihitung dengan rumus Balke.

Didapat hasil sebagai berikut :

TABEL 5.5

SEBARAN NILAI ENDURANCE PADA ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015 sedangkan daya tahan tertinggi adalah 48,6 ml O2/kg BB/menit (107,5%), dengan nilai median 40 ml O2/kg BB/menit (88,5%).

Berdasarkan batas normal daya tahan untuk atlet usia 13-29 tahun untuk laki-laki dan perempuan adalah 45,2 ml O2/kg BB/menit sedangkan rata-rata daya tahan sampel mencapai 91,6%, maka dapat diketahui kategori daya tahan sampel sebagai berikut :

TABEL 5.6

DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL BERDASARKAN TINGKAT ENDURANCE PADA ATLET SQUASH DI LODAYA SQUASH CLUB

DAN BANDUNG SQUASH CLUB TAHUN 2015 Jenis

Perempuan 9 90,0 1 10 10,0 100,0

Dari 27 sampel terdapat 10 sampel perempuan terdapat 9 sampel (90,0%) yang memiliki daya tahan kurang dan dari 17 sampel laki-laki terdapat 8 sampel (47,1%) memiliki daya tahan kurang. Hal ini diduga bahwa sebagian sampel yang memiliki daya tahan diatas nilai standar selalu melakukan latihan rutin setiap 3 kali dalam semiggu. Sebagian besar atlet yang memiliki daya tahan yang baik mempunyai prestasi yang baik dengan menjuarai kejuaraan tingkat kota ataupun tingkat nasional.

Sampel yang memiliki daya tahan tubuh yang baik mengkonsumsi karbohidrat yang mencukupi untuk daya tahan tubuhnya. Menurut Almatsier (2001) peran utama karbohidrat adalah menyediakan glukosa bagi sel tubuh yang kemudian diubah menjadi energi. Selain itu sebagian besar sampel perempuan memiliki daya tahan yang kurang. Hal ini dapat disebabkan karena jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi daya tahan. Karena rata-rata perempuan memiliki kebugaran aerobik lebih rendah 15-25 % dari laki-laki. (Sharkey,2005)

Atlet yang memiliki daya tahan tubuh kurang mengkonsumsi karbohidrat kurang dari kebutuhannya. Asupan bahan makanan sumber karbohidrat pada atlet yang memiliki daya tahan tubuh kurang yaitu bihun 2 x/ bulan (50 gram), kentang 1 x/hari (1 bh sedang), nasi 2 x/sehari (1 ctg ), roti 1 x/ bulan (35 gram), biskuit 2 x/bulan (20 gram), tempe 2x / minggu (50 gram), tahu 2 x/minggu (110 gram), buncis 3 x/bulan (50 gram), kangkung 1 x/bulan (50 gram). Buah-buahan yang dikonsumsi adalah jambu biji 1x/bulan (100 gram), melon 1x/bulan (90 gram), jeruk 2 x /minggu (110 gram) pisang 2x/minggu (40 gram).

Hasil penelitian yang di lakukan pada atlet bulutangkis di PB Mutiara dan PB Gunadarma menunjukan bahwa terdapat 60% atlet laki-laki yang memiliki daya tahan kurang dan 94,1 % sampel perempuan yang memiliki daya tahan tubuh kurang. (Permatasari,2012)

Dampak dari daya tahan (endurance) menurun adalah cepat kelelahan atau ketidakmampuan memulihkan rasa lelah dari satu latihan ke latihan berikutnya, bahkan akan mengakibatkan terjadinya cidera dan mengurangi kualitas fisik atlet untuk berprestasi dalam olahraga (Wahjoedi,2001). Dari hasil peneltian pada saat tes fisik banyak sampel perempuan pada waktu pertengahan sudah mengalami kelelahan.

5.4 Analisis Bivariat

5.4.1 Keeratan Hubungan Antara Pengetahuan Gizi dan Asupan Karbohidrat

Untuk mengetahui keeratan hubungan antara pengetahuan gizi dan daya tahan di lakukan dengan uji Korelasi Pearson, dapat dilihat pada grafik scatter plot berikut :

skor pengetahuan

10.00 9.00

8.00 7.00

6.00 5.00

asupan karbohidrat

400.00

350.00

300.00

250.00

200.00

R Sq Linear = 0.032

GAMBAR 5.1

GRAFIK SCATTER PLOT PENGETAHUAN GIZI DAN ASUPAN KARBOHIDRAT PADA ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

Hasil analisis data mendapatkan nilai korelasi sebesar r=0,179.

Hasil ini menunjukkan keeratan hubungan antara pengetahuan gizi dan asupan karbohidrat sebesar 0,179 dan kontribusi pengetahuan gizi terhadap asupan karbohidrat hanya 3%. Dan secara statistik hubungan tidak bermakna p=0,186.

Korelasi positif yang didapatkan dari penelitian sesuai dengan Soediaoetama (2000) yang berpendapat bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan gizi rendah cenderung memilih makanan dari segi penampilan makanan yang dilihatnya, sebaliknya semakin tinggi pengetahuan gizi seseorang maka akan lebih banyak mempertimbangkan zat gizi yang terkandung dalam makanan tersebut. Korelasi yang tidak cukup kuat tersebut mungkin disebabkan karena pengetahuan saja tidak cukup untuk merubah kebiasaan atlet memakan makanan yang mengandung sumber karbohidrat.

5.4.2. Keeratan Hubungan Antara Asupan Karbohidrat dan Endurance

Untuk mengetahui keratan hubungan antara asupan karbohidrat dan daya tahan karena data tidak terdistribusi normal maka dilakukan dengan uji Korelasi Spearman, dapat dilihat pada grafik scatter plot berikut :

asupan karbohidrat

GRAFIK SCATTER PLOT ASUPAN KARBOHIDRAT DAN ENDURANCE SAMPEL ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

Hasil perhitungan statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan (p=0,026) dengan keeratan hubungan sedang (r=0,377). Koefisien korelasi yang diperoleh dari hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan menunjukkan adanya korelasi positif atau hubungannya searah yaitu dengan meningkatnya asupan karbohidrat maka akan meningkatkan daya tahan.

Kontribusi asupan karbohidrat terhadap daya tahan sebesar 20 % (R2 = 0,200) atau dengan kata lain 80 % dipengaruhi faktor lain seperti usia, kegiatan fisik, jenis kelamin, asupan zat gizi, dan perilaku. (Sharkey, 2003) Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan pada atlet sepak bola di Klub Ricks Bandung tahun 2010 menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan (endurance) (p=

0,000) dengan keeratan hubungan sedang (r= 0,587) (Agustina, 2010).

Terdapat persamaan hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan

(endurance). Hal ini menunjukkan bahwa asupan karbohidrat mempunyai kontribusi terhadap peningkatan daya tahan (endurance) pada atlet squash maupun atlet sepak bola.

Konsumsi karbohidrat bertujuan untuk meningkatkan simpanan glikogen otot dan hati di dalam tubuh dan menjaga levell glukosa di dalam darah sehingga laju poduksi energi melalui pembakaran karbohidrat saat berolahraga squash dapat tetap terjaga. Selain itu ditujukan untuk mengganti sekaligus memulihkan jumlah glikogen otot dan hati yang terpakai saat latihan atau pertandingan (Irawan, 2007). Karbohidrat yang diberikan sebaiknya dalam bentuk karbohidrat kompleks, karena bila diberikan karbohidrat sederhana yang terbentuk lemak bukan glikogen.

Sumber karbohidrat kompleks seperti nasi, mie, roti, bihun, keentang dan lain-lain dapat menyediakan kebutuhan vitamin, mineral dan serat yang berguna untuk atlet squash.(Drummond, 2004)

Porsi karbohidrat yang tepat dalam tata gizi adalah penting karena karbohidrat adalah sumber daya (energi) yang dipergunakan oleh otot untuk latihan berat dan penampilan maksimal dalam kompetisi. Selama kerja berat sumber daya utama adalah karbohidrat. Apabila glikogen otot terkuras hingga hampir habis, maka latihan dengan intesitas tinggi tidak dapat ditampilkan. (Giriwijoyo dan Sidik 2012)

5.4.2.1. Keeratan Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Endurance Pada Sampel Laki-Laki

GAMBAR 5.3

GRAFIK SCATTER PLOT ASUPAN KARBOHIDRAT DAN ENDURANCE SAMPEL LAKI-LAKI ATLET SQUASH DI BANDUNG

TAHUN 2015

Hasil perhitungan statistik dengan uji korelasi Pearson menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel laki-laki (p=0,303) dengan keeratan hubungan sedang (r=0,135). Koefisien korelasi yang diperoleh dari hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan menunjukkan adanya korelasi positif atau hubungannya searah yaitu dengan meningkatnya asupan karbohidrat maka akan meningkatkan daya tahan pada sampel laki-laki.

asupan karbohidrat

400.00 350.00

300.00 250.00

200.00

daya tahan tubuh

47.50

45.00

42.50

40.00

37.50

35.00

R Sq Linear = 0.03

Pada sampel laki-laki asupan karbohidrat tidak berpengaruh besar tehadap daya tahan tubuh. Karena kontibusi asupan karbohidrat dan daya tahan tubuh untuk sampel laki-laki hanya 3 % (R²=0,03) atau dengan kata lain 97% dipengaruhi oleh faktor lain. Laki-laki berpotensi memiliki kekuatan otot yang lebih kuat dibandingan perempuan karena otot pada laki laki lebih sedikit mengandung lemak. (Priatna, 2001)

5.4.2.2. Keeratan Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Endurance Pada Sampel Perempuan

asupan karbohidrat

400.00 350.00

300.00 250.00

200.00

daya tahan tubuh

50.00

48.00

46.00

44.00

42.00

40.00

38.00

36.00

R Sq Linear = 0.736

GAMBAR 5.4

GRAFIK SCATTER PLOT ASUPAN KARBOHIDRAT DAN

ENDURANCE SAMPEL PEREMPUAN ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

Hasil perhitungan statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel

perempuan (p=0,032) dengan keeratan hubungan antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel perempuan sebesar 0,604 dan kontribusi asupan karbohidrat terhadap daya tahan sebesar 73% pada sampel perempuan (R²=0,736). Koefisien korelasi yang diperoleh dari hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan menunjukkan adanya korelasi positif atau hubungannya searah yaitu dengan meningkatnya asupan karbohidrat maka akan meningkatkan daya tahan pada sampel perempuan.

Terdapat hasil yang berbeda antara keeratan hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel laki-laki dan perempuan. Yang artinya sampel perermpuan lebih membutuhkan asupan karbohidrat yang cukup untuk menunjang daya tahan tubuh yang baik dibandingkan dengan sampel laki-laki. Karena rata-rata perempuan memiliki kebugaran aerobik

Terdapat hasil yang berbeda antara keeratan hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel laki-laki dan perempuan. Yang artinya sampel perermpuan lebih membutuhkan asupan karbohidrat yang cukup untuk menunjang daya tahan tubuh yang baik dibandingkan dengan sampel laki-laki. Karena rata-rata perempuan memiliki kebugaran aerobik

Dokumen terkait