• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Analisis Bivariat

5.4.2 Keeratan Hubungan Antara Asupan Karbohidrat dan Daya

Untuk mengetahui keratan hubungan antara asupan karbohidrat dan daya tahan karena data tidak terdistribusi normal maka dilakukan dengan uji Korelasi Spearman, dapat dilihat pada grafik scatter plot berikut :

asupan karbohidrat

GRAFIK SCATTER PLOT ASUPAN KARBOHIDRAT DAN ENDURANCE SAMPEL ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

Hasil perhitungan statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan (p=0,026) dengan keeratan hubungan sedang (r=0,377). Koefisien korelasi yang diperoleh dari hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan menunjukkan adanya korelasi positif atau hubungannya searah yaitu dengan meningkatnya asupan karbohidrat maka akan meningkatkan daya tahan.

Kontribusi asupan karbohidrat terhadap daya tahan sebesar 20 % (R2 = 0,200) atau dengan kata lain 80 % dipengaruhi faktor lain seperti usia, kegiatan fisik, jenis kelamin, asupan zat gizi, dan perilaku. (Sharkey, 2003) Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan pada atlet sepak bola di Klub Ricks Bandung tahun 2010 menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan (endurance) (p=

0,000) dengan keeratan hubungan sedang (r= 0,587) (Agustina, 2010).

Terdapat persamaan hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan

(endurance). Hal ini menunjukkan bahwa asupan karbohidrat mempunyai kontribusi terhadap peningkatan daya tahan (endurance) pada atlet squash maupun atlet sepak bola.

Konsumsi karbohidrat bertujuan untuk meningkatkan simpanan glikogen otot dan hati di dalam tubuh dan menjaga levell glukosa di dalam darah sehingga laju poduksi energi melalui pembakaran karbohidrat saat berolahraga squash dapat tetap terjaga. Selain itu ditujukan untuk mengganti sekaligus memulihkan jumlah glikogen otot dan hati yang terpakai saat latihan atau pertandingan (Irawan, 2007). Karbohidrat yang diberikan sebaiknya dalam bentuk karbohidrat kompleks, karena bila diberikan karbohidrat sederhana yang terbentuk lemak bukan glikogen.

Sumber karbohidrat kompleks seperti nasi, mie, roti, bihun, keentang dan lain-lain dapat menyediakan kebutuhan vitamin, mineral dan serat yang berguna untuk atlet squash.(Drummond, 2004)

Porsi karbohidrat yang tepat dalam tata gizi adalah penting karena karbohidrat adalah sumber daya (energi) yang dipergunakan oleh otot untuk latihan berat dan penampilan maksimal dalam kompetisi. Selama kerja berat sumber daya utama adalah karbohidrat. Apabila glikogen otot terkuras hingga hampir habis, maka latihan dengan intesitas tinggi tidak dapat ditampilkan. (Giriwijoyo dan Sidik 2012)

5.4.2.1. Keeratan Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Endurance Pada Sampel Laki-Laki

GAMBAR 5.3

GRAFIK SCATTER PLOT ASUPAN KARBOHIDRAT DAN ENDURANCE SAMPEL LAKI-LAKI ATLET SQUASH DI BANDUNG

TAHUN 2015

Hasil perhitungan statistik dengan uji korelasi Pearson menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel laki-laki (p=0,303) dengan keeratan hubungan sedang (r=0,135). Koefisien korelasi yang diperoleh dari hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan menunjukkan adanya korelasi positif atau hubungannya searah yaitu dengan meningkatnya asupan karbohidrat maka akan meningkatkan daya tahan pada sampel laki-laki.

asupan karbohidrat

400.00 350.00

300.00 250.00

200.00

daya tahan tubuh

47.50

45.00

42.50

40.00

37.50

35.00

R Sq Linear = 0.03

Pada sampel laki-laki asupan karbohidrat tidak berpengaruh besar tehadap daya tahan tubuh. Karena kontibusi asupan karbohidrat dan daya tahan tubuh untuk sampel laki-laki hanya 3 % (R²=0,03) atau dengan kata lain 97% dipengaruhi oleh faktor lain. Laki-laki berpotensi memiliki kekuatan otot yang lebih kuat dibandingan perempuan karena otot pada laki laki lebih sedikit mengandung lemak. (Priatna, 2001)

5.4.2.2. Keeratan Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Endurance Pada Sampel Perempuan

asupan karbohidrat

400.00 350.00

300.00 250.00

200.00

daya tahan tubuh

50.00

48.00

46.00

44.00

42.00

40.00

38.00

36.00

R Sq Linear = 0.736

GAMBAR 5.4

GRAFIK SCATTER PLOT ASUPAN KARBOHIDRAT DAN

ENDURANCE SAMPEL PEREMPUAN ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

Hasil perhitungan statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel

perempuan (p=0,032) dengan keeratan hubungan antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel perempuan sebesar 0,604 dan kontribusi asupan karbohidrat terhadap daya tahan sebesar 73% pada sampel perempuan (R²=0,736). Koefisien korelasi yang diperoleh dari hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan menunjukkan adanya korelasi positif atau hubungannya searah yaitu dengan meningkatnya asupan karbohidrat maka akan meningkatkan daya tahan pada sampel perempuan.

Terdapat hasil yang berbeda antara keeratan hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel laki-laki dan perempuan. Yang artinya sampel perermpuan lebih membutuhkan asupan karbohidrat yang cukup untuk menunjang daya tahan tubuh yang baik dibandingkan dengan sampel laki-laki. Karena rata-rata perempuan memiliki kebugaran aerobik antara 15 sampai 25% lebih kecil dari laki-laki sehingga asupan sangat berpengaruh terhadap daya tahan atlet perempuan (Sharkey, 2003).

Atlet putri membutuhkan asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral yang cukup, apabila seorang atlet putri kekurangan energi dan lemak hal ini akan mempengaruhi hormon reproduksinya, kekurangan hormon reproduksi pada atlet putri dapat mengakibatkan amenorrhea, tidak hanya itu dalam jangka waktu yang panjang atlet putri juga dapat mengalami osteoporosis karena hormon reproduksi terutama esterogen berpengaruh pada pembentukan dan pembongkaran tulang. (Saputri, 2012)

5.4.2.3. Keeratan Hubungan Asupan Karbohidrat Dan Endurance Tubuh Berdasarkan Umur ( ≤ 16 Tahun)

asupan karbohidrat

400.00 350.00

300.00 250.00

200.00

daya tahan tubuh

50.00

48.00

46.00

44.00

42.00

40.00

38.00

36.00

R Sq Linear = 0.317

GAMBAR 5.5

GRAFIK SCATTER PLOT ASUPAN KARBOHIDRAT DAN ENDURANCE SAMPEL UMUR ≤ 16 TAHUN ATLET SQUASH DI

BANDUNG TAHUN 2015

Hasil perhitungan statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel yang berumur ≤ 16 tahun (p=0,006) keeratan hubungan antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel yang berumur ≤ 16 tahun sebesar 0,573 dan kontribusi asupan karbohidrat terhadap daya tahan sebesar 31% pada sampel yang berumur ≤ 16 tahun (R²=0,317). Koefisien korelasi yang diperoleh dari hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan menunjukkan adanya korelasi positif atau hubungannya searah yaitu dengan meningkatnya asupan karbohidrat maka akan meningkatkan daya tahan pada sampel yang berumur ≤ 16 tahun.

Karena pada usia 15-16 tahun merupakan puncak prestasi pada atlet squash di Lodaya Squash Club dan Bandung Squash Club sehingga asupan karbohidrat yang di konsumsi harus mencukupi untuk kebutuhannya agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Konsumsi karbohidrat bertujuan untuk meningkatkan simpanan glikogen otot dan hati di dalam tubuh dan menjaga level glukosa darah sehingga laju produksi energi melalui pembakaran karbohidrat saat berolahraga dapat tetap terjaga. Pengaruh positif konsumsi karbohidrat terhadap daya tahan karena adanya tambahan glukosa dari hati ke dalam aliran darah sehingga level glukosa didalam darah dapat dipertahankan dan dapat membantu menghambat terjadinya kelelahan dalam olahraga ketahanan berdurasi panjang (Irawan, 2007).

5.4.2.4.Keeratan Hubungan Asupan Karbohidrat Dan Endurance Tubuh Berdasarkan Umur ( ≥ 16 Tahun)

asupan karbohidrat

400.00 350.00

300.00 250.00

200.00

daya tahan tubuh

45.00

42.50

40.00

37.50

35.00

R Sq Linear = 0.02

GAMBAR 5.6

GRAFIK SCATTER PLOT ASUPAN KARBOHIDRAT DAN ENDURANCE SAMPEL UMUR ≥ 16 TAHUN ATLET SQUASH DI

BANDUNG TAHUN 2015

Hasil perhitungan statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel yang berumur ≥ 16 tahun (p=0,331) keeratan hubungan antara asupan karbohidrat dan daya tahan pada sampel yang berumur ≥ 16 tahun sebesar 0,170 dan kontribusi asupan karbohidrat terhadap daya tahan sebesar 2% pada sampel yang berumur ≥ 16 tahun (R²=0,002). Koefisien korelasi yang diperoleh dari hubungan asupan karbohidrat dan daya tahan menunjukkan adanya korelasi positif atau hubungannya searah yaitu dengan meningkatnya asupan karbohidrat maka akan meningkatkan daya tahan pada sampel yang berumur ≥ 16 tahun.

Hal ini dapat disebabkan karena atlet yang berumur ≥ 16 tahun sudah lebih lama menekuni olahraga squash, sehingga asupan karbohidrat tidak banyak berpengaruh terhadap daya tahan. Selain itu ada faktor lain yang mempengaruhi daya tahan, seperti jenis kelamin, asupan zat gizi, kegiatan fisik dan perilaku. (Sharkey, 2003)

5.4.3 Keeratan Hubungan Antara Pengetahuan Gizi dan Endurance Untuk mengetahui keeratan hubungan antara pengetahuan gizi dan daya tahan karena data tidak terdistribusi normal dilakukan dengan uji Korelasi Spearman, dapat dilihat pada grafik scatter plot berikut :

skor pengetahuan

GRAFIK SCATTER PLOT PENGETAHUAN GIZI DAN ENDURANCE PADA ATLET SQUASH DI BANDUNG TAHUN 2015

Dari grafik scatter plot pada gambar 5.7 dapat diketahui bahwa semakin meningkat tingkat pengetahuan gizi menggambarkan peningkatan daya tahan tubuh.

Hasil analisis data mendapatkan nilai korelasi sebesar r=0,113.

Hasil ini menunjukkan keeratan hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dan daya tahan sebesar 0,113 dan kontribusi pengetahuan gizi terhadap daya tahan hanya 4%. Dan secara statistik hubungan tidak bermakna p=0,288. Ketidakeratan tersebut dikarenakan pengetahuan gizi bukanlah faktor langsung yang dapat mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang, karena orang yang memiliki pengetahuan yang baik belum tentu menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak terjadi perubahan perilaku. Pengertian diatas dapat dihubungkan dalam penelitian ini, dimana atlet yang memiliki pengetahuan yang cukup belum

tentu daya tahan tubuhnya baik karena belum tentu pengetahuannya diterapkan untuk melakukan perilaku yakni usaha-usaha dalam meningkatkan daya tahan tubuh ( Aurelia, 2007)

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan pada atlet sepak bola di Klub Sepakbola PSIM Yogyakarta tahun 2007 menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan gizi dan daya tahan (endurance) (p= 0,924) dengan keeratan hubungan sedang (r=

0,023). (Aurelia,2007)

Dokumen terkait