BAB II BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG ISLAM DAN NEGARA
D. Formalisasi Syariat Islam
Dalam agama syariat merupakan ruh, syariat memainkan peranan penting dalam kehidupan beragama, syariat merupakan sesuatu yang terdapat pada agama yang harus dijalankan, ia merupakan jalan, cara serta metode yang digunakan oleh agama tertentu untuk merealisasikan tujuan dan inti agama yang dimaksud, sesuai dengan tempat agama itu dilahirkan dan disebarkan.
Secara etimologi, syariat berarti peraturan atau ketetapan yang Allah perintahkan kepada hamba-hambanya.44 Seperti, puasa, salat, haji, zakat dan seluruh kebajikan. Kata syariat berasal dari kata syara’a al-syai’a yang berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu.45
Sejumlah kamus bahasa menyebutkan bahwa syari’ah atau syir’ah dalam arti dasarnya adalah sumber air atau jalan kemata air.46 Syariat adalah jalan luas yang harus dilalui oleh orang-orang beriman. Dalam Islam jalan yang dimaksud
43
Masdar F. Mas’udi, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, dalam E. Shobirin Nadj dan Naning Mardiniah, (ed), Diseminasi Hak Asasi Manusia, 2000, h. 66-67.
44
Yusuf Qardhawi, Membumikan Syariat Islam: Kekuasaan Aturan Illahi Untuk Manusia. Penerjemah Ade Nurdin dan Risman (Bandung: Mizan, 2003), h. 13.
45
Qardhawi, Membumikan Syariat Islam, h. 13.
46
Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan: Pembelaan Kiyai Pesantren (Yogyakarta: LKIS, 2007), h. 2.
adalah jalan yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, baik yang disampaikan dalam bentuk wahyu yakni Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Syariat Islam dalam pengertian terminologinya masih menjadi perdebatan di kalangan ulama dan intelektual. Sebagian besar ulama Islam merumuskan syariat Islam sebagai aturan-aturan atau hukum-hukum tuhan yang tertuang dalam Al- Qur’an dan Sunnah. Aturan-aturan tersebut meliputi kompleksitas dan totalitas kebutuhan manusia baik secara vertikal individual, yakni hubungan individu manusia dengan sang khalik maupun hubungan horizontal kolektif, yakni hubungan antara manusia dengan manusia yang lain, bahkan juga dengan kehidupan alam sekitarnya.
Perjuangan penerapan syariat Islam bukanlah hal baru, gagasan ini sangat meramaikan perjalanan sejarah (traveling history) bangsa Indonesia. Para tokoh intelektual yang duduk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sempat berdebat keras dengan tokoh Islam nasionalis sekuler dan kalangan Kristian, mereka semua memperdebatkan dengan apa yang dinamakan dengan Piagam Jakarta. Sebagai hukum final negara.
Perdebatan seputar masalah piagam Jakarta yang mengandung tujuh kata yang diperdebatkan yaitu, ”dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” Dalam sidang BPUPKI tanggal 11 Juli 1945, wakil Kristen dari Indonesia Timur, Latuharhary, menggugat kesepakatan soal tujuh kata tersebut, yang telah dicapai dalam sidang sebelumnya, menurutnya kalimat tersebut dapat membawa kekacauan yang bukan kecil terhadap Istiadat. Ia menyarankan untuk mencari alternatif lain yang tidak banyak membawa akibat yang bisa mengacaukan rakyat Indonesia.
Soekarno yang merupakan ketua tim kecil (panitia sembilan) menolak keberatan Latuharhary, menurutnya barangkali tidak perlu diulangi bahwa preambule adalah hasil jerih payah untuk menghilangkan perselisihan antara golongan-golongan yang dinamakan golongan kebangsaan dan golongan Islam. Jadi, manakala kalimat ini tidak dimasukkan, ia yakin bahwa pihak Islam tidak bisa menerima preambule ini.47 Kemudian Soekarno menegaskan kembali bahwa ”saya kira sudah nyata kalimat dengan didasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya sudah diterima oleh panitia”.48
Dalam risalah sidang BPUPKI disebutkan, pada rapat tanggal 13 Juli 1945, Wahid Hasyim ayah dari Abdurrahman Wahid mengusulkan agar syariat yang dikatakan presiden Soekarno ditambah dengan, ”Yang beragama Islam”. Juga pasal 29 ditambahkan, ”Agama negara adalah agama Islam,” bahkan pada rapat tanggal 14 Juli 1945, tokoh Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo mengusulkan agar kata ”bagi pemeluknya” dicoret. Jadi bunyinya hanya ”ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam”, tetapi usul tersebut ditolak.
Perdebatan mengenai hal ini berlanjut di meja konstituante, mereka yang berada dalam kelompok Islam memperjuangkan kembali Piagam Jakarta, bahkan menurut Prof. Kesman Singodimejo, Ki Bagus Hadikusumo sampai meninggal dalam penantian akan kembalinya Piagan Jakarta, dalam biografinya juga dikatakan bahwa Piagam Jakarta sebenarnya merupakan ”Gentlemelis Agreement” dari bangsa ini.
Dalam konteks kekinian, Partai Keadilan (PK) yang bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Indonesia dan FIS di Aljazair, adalah
47
Adian Husaini dan Nuim Hidayat, Islam Liberal (Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Jakarta: Gema Insani, 2002), h. 138-139.
48
sebagian contoh partai-partai yang mendukung agenda penerapan syariat Islam dalam pemerintahan di sejumlah negara Muslim lain seperti, Pakistan, Yordania, Mesir, Maroko, Iran dan Kuwait. Kelompok-kelompok Islamis, mereka ikut bersaing di pentas politik nasional, masing-masing dengan menggunakan prosedur pemilihan umum.
Namun demikian, Arab Saudi salah satu negara yang secara konsisten memberlakukan syariat Islam dalam kehidupan sosial-politik melalui jalur ototarianisme bukan dibangun lewat prosedur non-demokrasi sejak kepemimpinan Muhammad Al-Saud dan Muhammad bin Abd Al-Wahhab, menyepakati suatu kontrak politik yang melahirkan kerajaan kaya minyak itu, sampai sekarang syariat Islam masih tetap berjalan.
Kemudian Afghanistan dibawah kekuasaan pemerintahan Taliban sebelum dirobohkan oleh koalisi Amerika Serikat dan sekutunya, juga menjadi contoh yang baik betapa ototarianisme menjadi jalan tol bagi pelaksanaan syariat Islam yang efektif.
Semua ini adalah peristiwa yang terjadi di Indonesia dan di negara-negara Muslim lainnya. Syariat Islam akan terus menerus menjadi sesuatu yang pasti akan diperdebatkan sepanjang masa.
Syariat Islam pasti memiliki masa depan yang cerah dalam kehidupan politik masyarakat Islam, karena dapat berperan dan akan menerus memainkan peran yang penting dalam membentuk dan mengembangkan norma-norma dan nilai-nilai etika yang dapat direpleksikan dalam perundang-undangan yang demokratis. Namun An-Naim berpendapat bahwa prinsip atau aturan syariat tidak dapat diberlakukan dan diterapkan secara formal oleh negara sebagai hukum (law) dan kebijakan public (public spehere) dengan alasan bahwa prinsip-prinsip dan
aturan-aturan ini merupakan bagian dari syariat.49 Apabila pemberlakuan syariat Islam itu diusahakan maka hal ini merupakan kehendak politik negara dan bukan hukum Islam. Bahwa adanya klaim elit penguasa yang kadang melegitimasi kekuasaan negara atas nama syariat tidak lantas berarti bahwa klaim itu benar atau mengkin dilaksanakan. Mengingat bahwa prinsip-prinsip syariat ditinjau dari watak dan fungsinya memang menolak setiap kemungkinan penerapan syariat oleh negara. Maka klaim untuk melakukan hal itu bertentangan dengan logika, sekalipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi pertentangan itu. Dengan kata lain, masalahanya bukan sekedar karena kurangnya pengalaman sehingga dapat ditingkatkan disana-sini, tapi karena tujuan yang ingin dicapai memang mustahil untuk diraih. Namun pernyataan ini tidak berarti bahwa Islam harus dikeluarkan dari perumusan kebijkan publik dan perundang-undangan atau dari kehidupan publik pada umumnya. Sebaliknya negara tidak perlu berusaha menerapkan syariat secara formal agar umat Islam benar-benar dapat menjalankan keyakian Islamnya secara sungguh-sungguh, sebagai bagian dari kewajiban beragama bukan karena paksaan negara.50
Umat Islam dimanapun berada, apakah itu sebagai mayoritas ataupun minoritas, dituntut untuk menjalankan syariat Islam sebagai bagian dari kewajiban agamanya. Tuntutan ini akan dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya manakala negara bersikap netral terhadap semua doktrin keagamaan (netral for doktrin religion) dan tidak berusaha menerapkan prinsip syariat Islam sebagai kebijakan dan undang-undang negara, artinya masyarakat tidak dapat benar-benar menjalankan agama sesuai dengan keyakinan dan pemahamannya tentang Islam, apabila orang yang menggunakan kekuasaan negara memaksakan pemahaman
49
Abdullahi Ahmed An-Naim, The Future of Syari’a in The Muslim World, Tanpa Tahun Terbit dan Penerbit, h. 7.
50
mereka tentang syariat Islam kepada masyarakat secara keseluruhan, baik Muslim ataupun non-Muslim, tapi ini tidak berarti bahwa negara dapat atau harus sepenuhnya bersikap netral karena ia merupakan lembaga politik yang sudah tentu dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan warga negara.
An-Naim mengatakan bahwa syariat Islam hanya bisa dijalankan dengan suka rela oleh penganutnya, sedangkan prinsip-prinsip syariat Islam akan kehilangan otoritas dan nilai-nilai agamanya apabila dipaksakan oleh negara. Dimana diperlukan sekularisme, yakni pemisahan antara Islam dan negara secara kelembagaan sangat diperlukan agar syariat Islam bisa berperan positif dan mencerahkan bagi kehidupan umat dan masyarakat Islam.51
Pemikir liberal kelahiran Mesir, Said Al-Asymawi turut berbicra dalam permasalahan ini, ia mengatakan bahwa syariat Islam hanyalah metode, jalan atau cara yang digunakan oleh agama tertentu untuk merealisasikan tujuan dan inti agama yang dimaksud, sesuai dengan tempat agama itu dilahirkan dan disebarkan, menurutnya tidak satupun agama yang bertujuan menjerumuskan pemeluknya kedalam jurang kenistaan, tapi sebaliknya, agama mengarahkan pemeluknya ke dunia yang lebih utama dengan tetap tidak mencerabut jiwa dari eksistensi dirinya dan dunia yang melingkupnya. Dengan demikian, syariat Islam merupakan jalan untuk mengantarkan umat ke arah perubahan yang lebih baik, utama dan maju.52
Syariat tidak lain hanyalah wadah yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Syariat Islam menghendaki hukum dan keputusan yang benar jika hukum itu diletakkan dihadapan manusia, sebagai sebuah metode dan jalan menuju kemajuan dan kemuliaan. Syariat bukan seperangkat aturan dan kaidah, syariat juga bukan fiqih yang selama ini diyakini umat Islam. Hukum-hukum
51
An-Naim, The Future of Syari’a in The Muslim World, h. 3.
52
syariat mengikuti perkembangan realitas sosial, dan selalu melangkah dalam perkembangan tersebut. Oleh karena itu, ia menjelaskan tentang dasar-dasar syariat dan membatasi objeknya dengan realitas sosial dalam membahas prinsip dasar syariat harus menjadi tujuan utama ketika hendak menerapkan syariat Islam. Jika tidak, maka ia hanya menjadi sekedar pembahasan teoritis dan penyelidikan logis yang bertentangan dengan syariat agama dan inti Islam itu sendiri.
Oleh karena itu, menurutnya dalam Islam tidak jarang menemukan orang- orang salah paham dalam memaknai syariat, bisa jadi apa yang selama ini mereka anggap syariat bukanlah syariat itu sendiri. Sebaliknya, apa yang selama ini tidak bisa anggap syariat, justru merupakan inti syariat. Oleh karena itu, menangkap arti hakiki syariat dalam konteks keberagamaan menjadi hal yang niscaya.53
53