P
erubahan format di sisi belanja negara mulai dilaksanakan dalam penyusunan RAPBN 2005, sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Perubahan-perubahan yang diterapkan pada intinya : (1) melaksanakan sistem penganggaran secara terpadu (unified budget), yaitu dengan menyatukan anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan yang sebelumnya dipisahkan; dan (2) mereklasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi, fungsi dan jenis belanja, yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja.Tujuan perubahan format adalah sebagai berikut. Pertama, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan belanja negara melalui (a) minimalisasi duplikasi rencana kerja dan penganggaran dalam belanja negara, dan (b) meningkatkan keterkaitan antara keluaran (output) dan hasil (outcomes) yang dicapai dengan penganggaran organisasi. Kedua, menyesuaikan dengan klasifikasi yang digunakan secara internasional.
Secara ringkas, beberapa perubahan pokok sebagai akibat dari penerapan 2 hal sebagaimana di atas, dapat diikuti dalam persandingan format lama dan format baru berikut.
Dalam format baru, belanja negara menurut jenis belanja (klasifikasi ekonomi) tetap dibedakan antara belanja pemerintah pusat dan belanja untuk daerah. Khusus untuk belanja pemerintah pusat, perubahan pokok sebagai akibat penyempurnaan format APBN, antara lain sebagai berikut : a. Dengan sistem penganggaran yang terpadu (unified budget), rincian belanja negara menurut
jenis belanja (ekonomi) tidak lagi memisahkan antara belanja rutin dan belanja pembangunan. b. Rincian belanja negara menurut organisasi disesuaikan dengan kementerian negara/lembaga
yang ada, dan akan termuat dalam UU APBN. Dalam format yang lama, rincian menurut organisasi hanya termuat dalam buku Satuan 3.
¾ K la s ifika s i Je n is Belan ja ¾ K las ifikas i Jen is Bela n ja
D u a l B u d g etin g U n ifie d B u d g etin g
Belan ja p u s a t terd iri d a ri 6 je n is b e lan ja (terma s u k b e lan ja p emb a n g u n an )
Belan ja p u s a t terd iri d a ri 8 je n is b e lan ja ¾ K las ifikas i O rg a n is as i ¾ K las ifikas i O rg a n is as i
T id a k terc an tu m d ala m NK d an U U A PBN teta p i h an y a te rca n tu m d a la m b u ku Sa tu an 3 y a n g d iteta p ka n d en g a n K e p p res .
D afta r o rg a n is as i p e n g g u n a an g g ara n b e lan ja n e g ara te rcan tu m d a lam N K d an U U A PBN . Ju mlah ke me n te rian n eg ara /lemb a g a d is es u a ika n d e n g a n y a n g ad a . ¾ K las ifikas i Se kto r ¾ K las ifikas i Fu n g s i
terd iri a tas 20 s ekto r d a n 50 s u b s ekto r terd iri a tas 11 fu n g s i d an 79 s u b fu n g s i Pro g ram meru p akan rin cian d ari s e kto r p ad a
p e n g e lu a ran ru tin d an p emb a n g u n a n
Pro g ram p a d a ma s in g -mas in g keme n terian n e g ara /le mb a g a d iko mp ila s i s e s u a i d en g an fu n g s in y a
N ama-n ama p ro g ra m a n ta ra p en g e lu a ran ru tin d a n p e n g e lu a ran p emb a n g u n an a g a k b erb e d a
N ama-n ama p ro g ra m te la h d is es u a ika n d e n g a n u n ified b u d g e t
¾ D as ar A lo kas i ¾ D as ar A lo kas i A lo ka s i an g g ara n b erd a s a rka n s e kto r,
s u b s e kto r d an p ro g ram
A lo ka s i an g g ara n b erd a s a rka n p ro g ram ke men te rian n e g ara /lemb a g a
c. Rincian belanja menurut jenis (tidak termasuk belanja pembangunan) terdiri dari 5 jenis belanja, yaitu : belanja pegawai, belanja barang, pembayaran bunga utang, subsidi, dan belanja rutin lainnya. Dalam format yang baru ditambah lagi dengan 3 jenis belanja baru, yaitu belanja modal, belanja hibah, dan bantuan sosial.
d. Pengeluaran pembangunan dalam format lama dikonversikan dalam format baru dan terdistribusikan ke dalam belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, bantuan sosial, dan belanja lain-lain.
Untuk lebih jelasnya mengenai penerapan perubahan format baru khususnya perubahan rincian belanja negara menurut jenis belanja (klasifikasi ekonomi) dapat diikuti dalam konversi sebagai berikut:
Sementara itu, rincian belanja menurut fungsi merupakan reklasifikasi atas program-program yang dalam format lama merupakan rincian dari sektor/subsektor. Meskipun merupakan reklasifikasi, namun program-program dalam format baru (unified budget) tidak bisa dipersandingkan dengan program-program dalam format lama, karena terdapat perbedaan program.
Fungsi/subfungsi bukan merupakan dasar pengalokasian anggaran. Pengalokasian anggaran dalam format APBN yang baru didasarkan pada program-program yang diusulkan oleh kementerian negara/lembaga. Selanjutnya, program-program tersebut dikelompokkan sesuai dengan fungsi dan subfungsinya. Dengan demikian, rincian anggaran belanja menurut fungsi adalah merupakan kompilasi dari anggaran program-program kementerian negara/lembaga. Selanjutnya, rincian belanja negara menurut fungsi hanya merupakan alat analisis (tools of analysis) yang digunakan untuk menganalisa fungsi-fungsi yang telah, sedang dan akan dilaksanakan oleh Pemerintah sesuai dengan international best practices. Dalam hal ini
A . P EN D A P A TA N N EG A R A D A N H IB A H A . P EN D A P A TA N N EG A R A D A N H IB A H I. P enerim aan D alam N eg eri I. P enerim aan D alam N eg eri
1. P enerim aan Perp ajakan 1. P enerim aan Perp ajakan 2. P enerim aan N eg ara B u kan Pajak 2. P enerim aan N eg ara B u kan Pajak II. P enerim aan Hib ah II. P enerim aan Hib ah
B . B EL A N JA N E G A R A B . B EL A N JA N E G A R A
I. B elanja Pem erintah P u sat I. B elanja Pem erintah P u sat 1. P eng elu aran R utin 1. B elanja Peg aw ai
a. B elanja Peg aw ai 2. B elanja Barang 3. B elanja M o d al b . B elanja Barang 4. P em b ay aran B u ng a U tang c. P em b ay aran B u ng a U tang 5. Su b sid i d . Su b sid i 6. B elanja Hib ah e. P eng elu aran R utin L ainn y a
7. B antuan So sial 2. P eng elu aran p em b ang u nan
8. B elanja lain-lain II. B elanja U ntuk D aerah II. B elanja U ntuk D aerah
1. D an a P erim b an g an 1. D an a P erim b an g an
2. D an a O ton om i K h us us dan P eny es uaian 2. D an a O ton om i K h us us dan P eny es uaian C . K eseim b an ga n P rim er C . K eseim b an ga n P rim er
D . Su rp lu s/ D efisit A ng g aran D . Su rp lu s/ D efisit A ng g aran E . P em b iayaan E . P em b iayaan
K O N V ER SI B EL A N JA N EG A R A M EN U R U T JE N IS BE LA N JA D A L A M I-A C C O U N T F O R M A T LA M A F O R M A T BA R U
Indonesia telah mengacu pada classification of the functions of government (COFOG) yang disusun oleh UNDP dan diadopsi GFS manual 2001 - IMF, dan hanya sedikit berbeda dengan memisahkan fungsi agama dari fungsi rekreasi, budaya dan agama (recreation, culture, and religion). Dengan demikian, dalam APBN rincian belanja negara menurut fungsi terdiri dari 11 fungsi dengan rincian;(1) pelayanan umum, (2) pertahanan, (3) ketertiban dan keamanan, (4) ekonomi, (5) lingkungan hidup, (6) perumahan dan fasilitas umum, (7) kesehatan, (8) pariwisata dan budaya, (9) agama, (10) pendidikan, dan (11) perlindungan sosial.
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003, anggar-an belanggar-anja negara disusun dengan berpe-doman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2005, dan didukung oleh Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/ Lembaga (RKA-KL). Dalam APBN 2005, anggaran belanja negara ditetapkan Rp397,8 triliun, atau 18,2 persen terhadap PDB.
strategis; serta (iii) standar akuntansi pemerintahan, agar laporan keuangan pemerintah menjadi lebih transparan dan akuntabel, sejalan dengan standar akuntansi sektor publik yang diterima secara internasional. Sejalan dengan berbagai perubahan tersebut, maka di lingkungan Departemen Keuangan dilakukan reorganisasi yang memisahkan secara tegas fungsi perumusan kebijakan, perencanaan anggaran, dan fungsi pelaksanaan anggaran di dalam unit organisasi yang terpisah. (Lihat Boks 10: Reorganisasi Departemen Keuangan). Dalam proses penyusunan APBN 2005 juga dilakukan pembaharuan, sesuai dengan penggarisan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003, yaitu anggaran belanja negara disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2005, yang didukung oleh Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL). RKP merupakan rencana pelaksanaan pembangunan pemerintah yang disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Nasional (Repenas) Transisi, yang berisi kebijakan pembangunan, baik yang terkait dengan APBN maupun yang diarahkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sedangkan RKA-KL adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu kementerian negara/lembaga, yang merupakan penjabaran dari rencana kerja pemerintah dan rencana strategis kementerian negara/lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran, serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.
Dengan format belanja negara yang baru tersebut, selanjutnya besaran-besaran anggaran belanja negara dalam APBN 2005, berikut kebijakan-kebijakan yang mendasarinya dapat disampaikan sebagai berikut.
Dalam APBN 2005, anggaran belanja negara ditetapkan Rp397,8 triliun, atau 18,2 persen terhadap PDB. Adapun penggunaan anggaran belanja negara tersebut pada intinya akan diarahkan untuk membiayai kegiatan operasional dan non-operasional pemerintah dengan efisiensi dan efektivitas yang semakin meningkat. Hal ini menjadi perhatian utama pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara, agar setiap rupiah penerimaan yang diperoleh dari rakyat dapat didistribusikan kembali dan bermanfaat, terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana bagi masyarakat dan dunia usaha, bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu, serta perbaikan pelayanan pemerintah.