• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH

Boks 5 Reformasi dan Modernisasi Administrasi Perpajakan

Latar Belakang dan Tujuan

R

eformasi administrasi perpajakan jangka menengah (3-5 tahun) yang digulirkan Pemerintah sejak tahun 2001 diarahkan untuk mendukung pencapaian visi DJP, yaitu menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen perpajakan kelas dunia, yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat, serta misi fiskal, yaitu menghimpun penerimaan negara dari sektor pajak yang mampu menunjang kemandirian pembiayaan pemerintah berdasarkan Undang-undang Perpajakan dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi.

Secara garis besar, ada tiga tujuan yang secara spesifik hendak dicapai oleh reformasi administrasi perpajakan jangka menengah, yaitu : (i) tercapainya tingkat kepatuhan perpajakan yang tinggi; (ii) tercapainya tingkat kepercayaan terhadap administrasi perpajakan; dan (iii) tercapainya produktivitas aparat perpajakan yang tinggi.

Program dan Kegiatan

P

rogram dan kegiatan dalam kerangka reformasi dan modernisasi perpajakan dilakukan secara komprehensif, yang meliputi aspek perangkat lunak, perangkat keras dan sumber daya manusia. Reformasi perangkat lunak mencakup perbaikan struktur organisasi dan kelembagaan, serta penyempurnaan dan penyederhanaan sistem operasi (mulai dari pengenalan dan penyebaran informasi perpajakan, pemeriksaan dan penagihan, pembayaran, pelayanan, hingga pengawasan) agar lebih efektif dan efisien. Keseluruhan operasi dilakukan dengan berbasis teknologi informasi dan ditunjang oleh kerjasama operasi dengan instansi lain.

Reformasi perangkat keras diupayakan melalui pengadaan sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan mutu sehingga dapat menunjang upaya modernisasi administrasi perpajakan di seluruh Indonesia. Program reformasi pada aspek sumber daya manusia ditempuh melalui penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional. Program ini dilakukan antara lain melalui pelaksanaan uji kemampuan dan kelayakan secara ketat, penempatan aparat sesuai kapasitas dan kapabilitasnya, reorganisasi, kaderisasi, pelatihan dan program pengembangan self capacity.

Untuk uji coba pelaksanaan keseluruhan program tersebut secara utuh telah dipilih Kanwil DJP WP Besar sebagai proyek percontohan. Kanwil DJP WP Besar merupakan Kantor Pelayanan Pajak percontohan yang modern, yang didukung oleh organisasi yang ramping, teknologi informasi yang memberikan percepatan pelayanan sekaligus pengawasan yang baik, dan sumber daya manusia yang profesional dengan kode etik yang ketat. Keberhasilan pengimplementasian Kantor Pelayanan Pajak modern ini akan dilanjutkan ke kantor-kantor lainnya di seluruh Indonesia secara bertahap.

Perbaikan Peraturan

S

ebagai bagian dari reformasi administrasi perpajakan, Pemerintah juga akan melakukan amandemen terhadap Undang-undang tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP), dan penyempurnaan terhadap peraturan terkait lainnya. Revisi UU KUP dan peraturan terkait lainnya tersebut, dan penerapan praktik good governance dilaksanakan dalam konteks penegakan hukum dan keadilan, yang memayungi semua lini dan tahapan operasional.

pengembangan dan pengawasan e-filing, e-registration, e-payment, dan e-counseling. Sejalan dengan itu, Pemerintah juga akan terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran wajib pajak dalam menunaikan kewajiban perpajakannya melalui kampanye sadar dan peduli pajak. Selain dilakukan melalui billboard, videotron, highway information system, dan komik pajak untuk konsumsi anak-anak, kampanye sadar dan peduli pajak tersebut juga dilaksanakan melalui media elektronik. Di samping itu, optimalisasi penerimaan pajak juga akan dilakukan melalui program canvassing, peningkatan manajemen pemeriksaan pajak, serta mengintensifkan penagihan tunggakan pajak.

Sementara itu, penerimaan PPh migas dalam tahun 2005 ditetapkan Rp13,6 triliun, atau 0,6 persen terhadap PDB. Jumlah ini, berarti mengalami penurunan Rp9,5 triliun, atau 41,1 persen dari sasaran penerimaan PPh migas yang ditetapkan dalam APBN-P 2004. Lebih rendahnya rencana penerimaan PPh migas tahun 2005 ini dikarenakan asumsi harga minyak yang digunakan sebagai dasar perhitungan APBN 2005 (US$24/bbl) jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan asumsi harga minyak pada APBN-P 2004 (US$36/ bbl).

Penerimaan PPN dan PPnBM dalam tahun 2005 ditetapkan Rp98,8 triliun, atau 4,5 persen terhadap PDB. Jumlah ini, berarti mengalami peningkatan Rp11,3 triliun, atau 12,9 persen bila dibandingkan dengan sasarannya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp87,5 triliun. Peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM tersebut didasarkan atas kalkulasi perkiraan terjadinya peningkatan nilai transaksi ekonomi yang merupakan obyek PPN dan PPnBM, selaras dengan peningkatan kegiatan ekonomi seperti tercermin pada asumsi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada tahun 2005. Faktor lain yang juga turut berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan PPN adalah perkiraan terjadinya tambahan penerimaan (potential gain) PPN dari kebijakan perluasan basis pajak sebagaimana diusulkan dalam amandemen Undang-undang PPN dan PPnBM.

Untuk mendukung pencapaian sasaran penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2005 tersebut, Pemerintah juga akan melakukan berbagai upaya dan langkah-langkah administratif, di antaranya berupa: (i) penagihan kembali PPN yang tertunda; (ii) penghitungan kembali atas pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan; dan (iii) penelitian kembali atas WP yang memperoleh fasilitas pembayaran pendahuluan. Namun, untuk mendorong perkembangan kegiatan ekonomi, langkah-langkah administratif tersebut juga akan diiringi dengan upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada WP, terutama dalam hal pengurusan restitusi secara cepat dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam tahun 2005, penerimaan PBB dan BPHTB ditetapkan Rp13,5 triliun, atau 0,6 persen terhadap PDB. Jumlah tersebut bersumber dari penerimaan PBB Rp10,3 triliun atau 0,5 persen terhadap PDB, dan penerimaan BPHTB Rp3,2 triliun atau 0,1 persen terhadap PDB. Apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2004 sebesar Rp13,4 triliun, maka penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2005 tersebut berarti mengalami peningkatan sebesar Rp0,1 triliun atau 0.7 persen. Berlawanan dengan itu, rasio penerimaan PBB dan BPHTB terhadap PDB juga mengalami

Target penerimaan PPh migas: 0,6 persen terha-dap PDB. Penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2005 ditargetkan 4,5 persen terhadap PDB. L a n g k a h - l a n g k a h kebijakan administratif di bidang PPN dan PPnBM tahun 2005. Sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2005 Rp13,5 triliun (0,6 persen terhadap PDB).

penurunan, dari 0,7 persen dalam tahun 2004 menjadi 0,6 persen dalam tahun 2005.

Target penerimaan PBB dan BPHTB tersebut didasarkan atas perkiraan kondisi perekonomian yang terus membaik, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada sektor konstruksi dan transaksi properti pada tahun 2005. Di samping itu, berbagai upaya yang akan dilakukan, seperti program ekstensifikasi melalui digital mapping, dan penyempurnaan sistem administrasi perpajakan diharapkan juga turut berperan dalam pencapaian sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tersebut.

Di bidang cukai, dalam APBN 2005, penerimaan cukai ditetapkan Rp28,9 triliun, atau 1,3 persen terhadap PDB. Jumlah ini, berarti meningkat Rp0,5 triliun atau 1,8 persen, bila dibandingkan dengan sasarannya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp28,4 triliun atau 1,4 persen terhadap APBN-PDB. APBN-Peningkatan sasaran penerimaan cukai tersebut, didasarkan atas perkiraan terjadinya peningkatan produksi rokok, baik sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM), maupun sigaret putih mesin (SPM). Peningkatan produksi rokok tersebut didorong oleh kebijakan HJE dan tarif cukai yang stabil, serta meningkatnya permintaan, sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat. Di samping itu, pengenaan cukai atas produk kaset/CD/VCD/ DVD dan LD mulai tahun 2005 diperkirakan dapat memberikan tambahan penerimaan cukai tergantung pada tarif cukai yang akan dikenakan. (Lihat Boks 6: Penambahan Barang Kena Cukai (BKC) atas Kaset/VCD/DVD dan LD). Seluruh hasil dari penerimaan cukai terhadap produk kaset/CD/ VCD/DVD dan LD akan dialokasikan untuk upaya-upaya pengawasan dan penegakan hukum terhadap produk-produk bajakan tersebut.

Di samping peningkatan produksi dan penambahan barang kena cukai (BKC) tersebut, dalam rangka mengamankan sasaran penerimaan cukai tahun 2005, berbagai kebijakan dan langkah-langkah administrasi yang telah ditempuh dalam tahun 2004, terutama langkah dan upaya dalam menanggulangi peredaran rokok polos dan pita cukai palsu, akan terus semakin dimantapkan. Selain itu, berbagai langkah administratif lainnya di bidang cukai juga akan lebih dimantapkan pada tahun 2005, di antaranya berupa penerapan excise service system (ESS), yaitu komputerisasi pelayanan pita cukai hasil tembakau untuk mempercepat pelayanan pita cukai dan meningkatkan akurasi data cukai hasil tembakau. Sejalan dengan itu, juga akan dilakukan langkah-langkah peningkatan sistem pengawasan dalam rangka penegakan hukum di bidang cukai, dan perlindungan masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana pengawasan, serta peningkatan pengetahuan dan keahlian SDM di bidang pengawasan. Berbagai langkah tersebut, juga akan disertai dengan peningkatan pelaksanaan verifikasi dan audit yang akan dilakukan melalui: penetapan kriteria dokumen cukai yang memperoleh prioritas utama; pelaksanaan audit secara reguler maupun insidensial serta audit bersama-sama DJBC, DJP dan BPKP; pemantauan pelaksanaan tindak lanjut temuan hasil audit; serta pengkajian dan penyempurnaan sistem dan prosedur kegiatan verifikasi dan audit.

L a n g k a h - l a n g k a h kebijakan administratif untuk mendukung pe-nerimaan PBB dan BPHTB.

Sasaran penerimaan cukai 2005: Rp28,9 triliun (1,3 persen terha-dap PDB).

Beberapa kebijakan di bidang cukai yang akan ditempuh dalam tahun 2005.

Upaya Pemberantasan Pembajakan Kaset, CD, VCD, DVD,