• Tidak ada hasil yang ditemukan

Formula Mantra Jaran Goyang

Dalam dokumen makalah santet (Halaman 21-37)

Sebagaimana mantra SM, bersadarkan hasil temuan di lapangan terdapat tiga varian mantra JG, yakni mantra JG1, JG2, dan JG3. Sebagaimana dalam mantra SM, pembahasan formula mantra JG dilakukan secara “berlapis”, dimulai dengan pembahasan perbandingan antarvarian teks mantra. Untuk mempermudah hal tersebut, berikut ini dikutip teks mantra JG1, JG2, dan JG3 secara berjajar dalam bentuk tabel.

Tabel 4

FORMULA MANTRA JARAN GOYANG

Jaran Goyang 1

__________

---(1) Bismillāhir rahmānir rahīm

__________________ ---(2) Niat isun matek aji Jaran Goyang

_______________________ ---(3) Sun goyang ring tengah latar

__________________ ---(4) Sun sabetake gunung gugur

________

---(5) Sun sabetake lemah bangka

________

---(6) Sun sabetake segara asat

________

---(7) Sun sabetake ombak sirep

_________

---Jaran Goyang 2

___________

---(1) Bismillāhir rahmānir rahīm

__________________ ---(2) Niat isun matek aji Jaran Goyang

______________________ _

---(3) Sun goyang ring tengah latar

__________________ ---(4) Sun wolak-walik jantung atine

___________

---(5) Sun remet-remet limpane

__________

---(6) Sun kerik-kerik sikile

__________

---(7) Kecaruk turu sun tangekna

________ ________ ---(8) Kecaruk tangi sun lungguhna

________ __________ ---(9) Kecaruk lungguh sun degna

__________ ______ ---(10) Kecaruk ngadeg sun lakokna

__________ ________

Jaran Goyang 3

___________

---(1) Bismillāhir rahmānir rahīm

__________________ ---(2) Niat isun matek aji JaranGoyang

_______________________

---(3) Sun goyang ring tengah latar

__________________ ---(4) Sedulur papat lima badan

---(5) Kaki dhanyang nini dhanyang

_________ _________

---(6) Bapa dhanyang ibu dhanyang

_________ _________ ---(7) Kuma poteh asale bapak ira

_______ __________ ---(8) Kuma abang asale emak ira

________ _________ ---(9) Roh ira mandi roh isun mandi

__________ __________ ---(10) Sukmanira mandi sukmanisun madi

(8) Sun sabetake atine jebeng beyine …

_______________________ ________

---(9) Kadhung edan sing edan

________________ _________ ______ ---(10) Kadhung gendheng sing gendheng

___________ _________ ---(11) Kadhung bunyeng sing bunyeng ___________ ________ ---(12) Aja mari-mari __________

---(13) Kadhung sing isun hang nambani

______________________ ---(14) Sih-asih kersane Gusti Allah

____________________ ---(15) Lā ilāha illallāh ___________ Muhammadur rasūlullāh __________________ ---(11) Kecaruk mlaku sun playokna

__________ ________ ---(12) Sun kenengna jebeng beyine …

____________________

---(13) Kadhung edan sing edan

_________________

---(14) Aja mari-mari

__________

---(15) Kadhung sing isun hang nambani

______________________ ---(16) Sih-asih kersane Gusti Allah ____________________ ---(17) Lā ilāha illallāh ___________ Muhammadur rasūlullāh __________________ ---(11) Ciptanira mandi ciptanisun mandi

__________ ___________ ---(12) Sun tamanna jebeng beyine

____________________ ---(13) Kadhung edan sida edan

_________________

---(14) Aja mari-mari

__________

---(15) Kadhung sing isun hang nambani

______________________ ---(16) Sih-asih kersane Gusti Allah

____________________ ---(17) Lā ilāha illallāh ___________ Muhammadur rasūlullāh ___________________

---Kutipan dalam tabel tersebut menunjukkan adanya persamaan formula dalam perbandingan antarvarian teks mantra. Hal itu dapat dilihat pada masing-masing varian mantra JG, khususnya pada larik-larik yang ditandai dengan garis utuh sepanjang satu larik. Persamaan formula dalam perbandingan mantra JG1, JG2, dan JG3 tersebut berupa formula sintaktis dan formula repetisi

tautotes. Formula sintaktis adalah formula yang berupa perulangan kalimat, sedangkan formula repetisi tautotes adalah formula perulangan kata dalam sebuah konstruksi larik. Formula sintaktis terdapat pada unsur judul, unsur pembuka, unsur niat, sebagian kecil unsur sugesti, sebagian besar unsur tujuan, dan unsur penutup. Unsur judul, unsur pembuka, dan unsur niat masing-masing mantra terdapat pada larik yang sama, yakni larik paling atas, larik (1), dan larik (2). Formula sintaktis dalam unsur tersebut berbunyi Jaran Goyang (unsur judul), Bismillāhir rahmānir rahīm (unsur pembuka), dan Niat isun matek aji Jaran Goyang (unsur niat). Sementara itu, dalam unsursugesti terdapat satu larik yang membentuk formula sintaktis, yakni larik (3) yang berbunyi Sun goyang ring tengah latar.

Adapun dalam unsur tujuan terdapat lima larik yang membentuk formula sintaktis, yakni dalam mantra JG1 terdapat pada larik (8)-(9) dan (14), dalam mantra JG2 terdapat pada larik (12)-(16), sedangkan dalam mantra JG3 terdapat pada larik (11)-(15). Tiga larik terakhir dalam unsur tujuan pada masing-masing varian mantra tersebut merupakan bentuk formula sintaktis dengan perulangan satu larik penuh, yakni aja mari-mari,kadhung sing isun hang nambani, dan sih-asih kersane Gusti Allah. Sementara itu, larik pertama dan kedua dalam unsur tujuan pada masing-masing varian mantra merupakan bentuk formula sintaktis yang mengalami variasi dengan pola matra yang sama. Larik pertama tersebut berbunyi sun sabetake atine jebeng beyine…dengan variasi sun kenengna jebeng beyine… dan sun tamanna jebeng beyine…, sedangkan larik kedua berbunyi kadhung edan sing edan dengan variasi kadhung edan sida edan. Variasi pada larik pertama memiliki arti yang sama (pada kata sabetake, kenengna, dan tamanna), sedangkan pada larik kedua memiliki arti yang berbeda, khususnya pada mantra JG3 (variasi kata sing dan sida).Adapun unsur penutup pada ketiga varian mantra terdapat pada larik terakhir setiap teks mantra, yang berbunyi Lā ilāha illallāh Muhammadur rasūlullāh. Dengan demikian, semua unsur yang membentuk struktur pada mantra JG1, JG2, dan JG3 memiliki persamaan formula, kecuali pada sebagian besar unsur sugesti dan sebagian kecil unsur tujuan. Adapun formula repetisi tautotes terdapat pada larik (9) mantra JG1, larik (13) mantra JG2, dan larik (13) mantra JG3.

Formula-formula sintaktis tersebut dimanfaatkan untuk mengungkapkan satu ide hakiki. Artinya, bentuk formula sintaktis yang terdapat pada perbandingan antarvarian mantra JG dimanfaatkan untuk menegaskan adanya satu ide pokok. Ide tersebut sesuai dengan arti atau makna bentuk formulanya. Karena formula sintaktis tersebut merupakan bentuk perulangan kalimat secara utuh, ide hakiki yang diungkapkan adalah makna kalimat itu sendiri. Ide hakiki formula sintaktis pada unsur judul menunjukkan adanya sebuah identitas salah satu mantra pengasihan Using yang bernama Jaran Goyang. Identitas tersebut berguna untuk membedakannya dengan mantra-mantra lain dalam lingkup komunitas Using. Istilah Jaran Goyang mendapat inspirasi dari senijaranan

[30]

yang senantiasa bergoyang sehingga diharapkan si objek yang menjadi sasaran akan bergoyang bagai kuda kepang.

Sementara itu, ide hakiki formula sintaktis pada unsur pembuka, sebagaimana yang telah dibahas pada mantra SM, adalah adanya penghargaan atau penghormatan terhadap Sang Pencipta dengan cara menyebut nama Allah. Penyebutan tersebut mengindikasikan atau mengandaikan bahwa kekuatan-kekuatan magis tidak akan efektif khasiatnya apabila tidak mendapat izin Sang Pencipta. Hal yang hampir sama juga terjadi pada ide hakiki dalam unsur penutup mantra.Bahkan, sebagaimana yang telah dibahas dalam mantra SM, tidak hanya Tuhan yang disebut dalam unsur penutup mantra, tetapi juga Muhammad. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mantra Using

tidak semata-mata merupakan tradisi lokal Using, tetapi ia telah mendapat pengaruh unsur-unsur budaya luar, khususnya Islam.

Sementara itu, ide hakiki formula sintaktis pada unsur niat adalah matek aji. Frase matek aji tidak hanya sekadar berarti ‘menggunakan kesaktian’, tetapi lebih dari itu, yakni bagaimana kesaktian itu digunakan dengan penjiwaan yang khidmat. Artinya, keyakinan yang tulus dan rasa empati yang mendalam merupakan modal dasar dalammatek aji. Adapun ide hakiki formula sintaktis pada unsur sugesti adalah goyang. Ide tersebut tidak hanya terkait dengan nama mantra itu sendiri (Jaran Goyang), tetapi juga terkait dengan seni jaranan yang senantiasa dipentaskan di latar (‘halaman’). Sementara itu, ide hakiki larik pertama pada unsur tujuan adalah kenengna (dengan variasi sabetake dantamanna), sedangkan pada larik kedua adalah edansing edan dan edan sida edan. Makna kata kenengnatersebut adalah agar si objek terjerat hatinya dan mencintai si subjek, sedangkan makna edan sing edan danedan sida edan adalah tergila-gila dan gila. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa orang yang terkena kekuatan gaib mantra JG dapat mengalami kondisi psikologis yang berbeda-beda, yakni dari yang tergila-gila sampai yang gila. Dengan demikian, akibat yang dirasakan atau diderita oleh si objek yang menjadi sasaran kekuatan mantra JG bervariasi. Hal tersebut disebabkan adanya variasi atau perbedaan unsurtujuan dalam masing-masing varian mantra JG.

Berdasarkan data mantra JG yang dapat dijangkau oleh peneliti (yakni JG1, JG2, dan JG3), dapat diketahui bahwa (setidak-tidaknya) terdapat tiga variasi pengaruh mantra JG. Pertama, kondisi tergila-gila dengan intensitas tinggi (tercermin pada mantra JG1). Dalam unsurtujuan pada mantra JG1 terdapat perulangan atau pola repetisi yang diyakini mampu mengintensifkan kekuatan magi, yakni perulangan dengan variasi pada fraseedan sing edan ke dalam frase gendheng sing gendheng, dan bunyeng sing bunyeng. Kedua, kondisi tergila-gila dengan intensitas rendah (tercermin pada mantra JG2). Dikatakan memiliki intensitas rendah karena frase edan sing edan pada mantra JG2 tidak mengalami perulangan dalam larik berikutnya. Ketiga, kondisi gila (tercermin pada mantra JG3). Meskipun frase edan sida edan tidak mengalami perulangan pada larik berikutnya, mantra JG3 memiliki akibat yang paling fatal bila dibandingkan dengan varian mantra JG lainnya, yakni gila (sida edan). Ketiga kondisi psikologis tersebut (yakni sangat tergila-gila, tergila-tergila-gila, dan gila) memiliki korelasi dengan ide hakiki formula repetisi tautotes, yakni perulangan kata edan dalam satu konstruksi larik. Adapun ide hakiki tiga larik terakhir pada unsur tujuan adalah ancaman agar tidak sembuh (aja mari), si subjek yang akan menyembuhkan (isun hang nambani), dan kehendak Allah (kersane Gusti Allah). Pernyataan aja mari dan isun hang nambani tersebut akan terwujud dalam realitas. Artinya, seseorang yang terkena kekuatan gaib mantra JG akan sulit untuk disembuhkan (aja mari). Namun, hal itu menjadi mudah apabila yang menyembuhkan adalah orang yang memantrainya (isun hang nambani). Hal semacam itu banyak ditemukan dalam realitas empiris di lapangan.

Meskipun mantra JG dapat membuat seseorang menjadi gila, yang berarti merugikan orang lain, mantra tersebut termasuk mantra pengasihan. Selain itu, di dalam mantra tersebut disebutkan bahwa apa yang akan terjadi adalah sebuah pengasihan atas kehendak Allah (sih-asih kersane Gusti Allah). Meskipun termasuk mantra pengasihan, mantra JG mengandung unsur belas kasih yang relatif rendah. Hal itu, selain terindikasi dari akibat yang diderita oleh si objek, juga terindikasi dari penyebutan kata sih-asih yang hanya satu kali (tidak mengalami perulangan sebagaimana dalam mantra SM). Penyebutan frase kersane Gusti Allah menunjukkan bahwa

pemanfaatan mantra JG tidak hanya terbatas pada relasi sosial (hubungan horizontal), tetapi juga menyangkut relasi transendental (hubungan vertikal) dengan kualitas yang bervariasi.

Selain formula, dalam perbandingan antarvarian teks mantra JG juga terdapat ekspresi formulaik. Unsur-unsur yang memiliki persamaan formula antarvarian teks merupakan ekspresi formulaik, karena tersusun atas dasar pola formula. Pola formula merupakan pola yang secara teratur memanfaatkan kata atau frase dalam kondisi matra yang sama. Pola dalam formula sintaktis pada unsur judul, unsur pembuka, unsur niat, sebagian kecilunsur sugesti, sebagian besar unsur tujuan, dan unsur penutup tersusun atas perulangan kalimat secara utuh. Sementara itu, pola dalam formula repetisi tautotes tersusun atas perulangan kata edan.

Bentuk formula tidak hanya terdapat pada perbandingan antarvarian teks, tetapi juga terdapat pada masing-masing varian teks mantra, khususnya pada bagian unsur sugesti dan unsur tujuan. Berikut ini dibahas formula teks masing-masing varian mantra (JG1, JG2, dan JG3) yang terdapat pada unsur sugesti dan unsurtujuan. Dari kutipan dalam Tabel 4 dapat dijelaskan adanya formula pada masing-masing varian teks mantra JG, khususnya yang berpola paralelisme dan repetisi. Formula yang berpola paralelisme dapat dipilah menjadi tiga bagian.Pertama, formula paralelisme sintaktis. Formula tersebut terdapat pada unsur sugesti dalam mantra JG1, JG2, dan JG3. Di dalam formula tersebut juga terdapat formula yang berpola repetisi, yakni formula repetisi anafora, repetisi tautotes, dan formula konkatenasi. Kedua, formula paralelisme sinonim. Formula tersebut terdapat padaunsur tujuan dalam mantra JG1. Di dalam formula tersebut juga terdapat formula yang berpola repetisi, yakni formula repetisi anafora dan repetisi tautotes. Ketiga, formula paralelisme yang membentuk larik. Formula tersebut terdapat pada unsur sugesti dalam mantra JG2. Di dalam formula tersebut juga terdapat formula yang berpola repetisi, yakni formula repetisi anafora. Berikut ini penjelasan ketiga macam formula tersebut.

Formula paralelisme sintaktis terdapat pada unsursugesti dalam mantra JG1, JG2, dan JG3. Formula paralelisme sintaktis dalam mantra JG1 terdapat pada larik (4)-(7) dan (8), sedangkan dalam mantra JG2 terdapat pada larik (7)-(11). Sementara itu, dalam mantra JG3, formula tersebut terdapat pada larik (5)-(6), (7)-(8), dan (9)-(11). Formula tersebut membentuk kerangka larik dengan isi yang bervariasi. Dalam mantra JG1, kerangka larik dibentuk oleh perulangan frase yang sama, yakni frase sun sabetake, sedangkan variasi isi terdapat pada frasegunung gugur, lemah bangka, segara asat, dan ombak sirep. Pola paralelisme sintaktis dalam unsur tujuan pada larik (4)-(7) tersebut mencapai puncak atau semacam kesimpulan pada unsur tujuan, khususnya larik (8), yakni pada frase atine jebeng beyine…. Dengan demikian, larik (8) mantra JG1 merupakan bentuk formula dalam satu varian teks sekaligus dalam perbandingan antarvarian teks.

Sementara itu, pada larik (3)-(4) dalam mantra JG2, perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata kecaruk dan sun, sedangkan variasi isi terdapat pada kata turu-tangekna, tangi-lungguhna, lungguh-degna, ngadeg-lakokna, dan mlaku-playokna. Adapun perulangan kata yang membentuk larik dalam mantra JG3 dipilah menjadi tiga bagian, yakni bagian pertama pada larik (5)-(6), bagian kedua pada larik (7)-(8), sedangkan bagian ketiga pada larik (9)-(11). Bagian pertama, perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata dhanyang, sedangkan variasi isi meliputi kata kaki-bapa dan nini-ibu. Bagian kedua, perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata kuma, asale, dan ira, sedangkan variasi isi meliputi kata poteh-abang dan bapak-emak. Bagian ketiga, perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata ira-mandi dan isun-mandi,

[31] sedangkan

variasi isi meliputi kata roh, sukma, dancipta.

Di dalam formula paralelisme sintaktis mantra JG1, JG2, dan JG3 tersebut juga terdapat formula berpola repetisi. Pada larik (4)-(8) mantra JG1 terdapat formula repetisi anafora, sedangkan pada larik (7)-(11) mantra JG2 terdapat formula repetisi anafora dan formula konkatenasi. Sementara itu, pada larik (5)-(6) dan (9)-(11) mantra JG3 terdapat formula repetisi tautotes, sedangkan pada larik (7)-(8) dalam mantra yang sama terdapat formula repetisi anafora. Formula repetisi anafora adalah pola repetisi yang berwujud perulangan kata atau frase pertama pada sebuah larik ke dalam posisi yang sama pada larik-larik berikutnya, sedangkan formula konkatenasi adalah pola repetisi kata/frase terakhir suatu larik ke dalam kata/frase awal atau tengah pada larik berikutnya. Sementara itu, formula repetisi tautotes adalah pola repetisi kata atau frase dalam sebuah konstruksi larik. Formula repetisi anafora dalam mantra JG1 berupa perulangan frase sun sabetake, sedangkan dalam mantra JG2 berupa perulangan kata kecaruk dalam setiap awal larik.

Dalam mantra JG3, formula repetisi anafora berupa perulangan kata kuma dalam setiap awal larik. Sementara itu, formula konkatenasi dalam mantra JG2 mengalami variasi atau perubahan. Artinya, kata terakhir suatu larik yang diulang menjadi kata di tengah pada larik berikutnya mengalami variasi atau perubahan, yakni perubahan dari kata bentukan ke kata dasar. Hal semacam itu juga terjadi pada mantra SM2, sebagaimana telah dibahas. Pada larik (7) mantra JG2, kata tangekna mengalami perulangan atau konkatenasi menjadi kata tangi pada larik (8). Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam proses konkatenasi terjadi perubahan dari kata bentukan menjadi kata dasar. Demikian juga dengan larik (8)-(11). Konkatenasi dari larik (8) ke larik (9) adalah kata lungguhna ke katalungguh, sedangkan konkatenasi dari larik (9) ke larik (10) adalah kata degna ke kata ngadeg. Adapun konkatenasi dari larik (10) ke larik (11) adalah kata lakokna ke kata mlaku. Sementara itu, formula repetisi tautotes dalam mantra JG3 pada larik (5)-(6) berupa perulangan kata dhanyang, sedangkan pada larik (9)-(11) berupa perulangan kata roh-mandi, sukma-mandi, cipta-mandi dalam satu konstruksi larik.

Sementara itu, formula paralelisme sinonim terdapat pada larik (9)-(11) mantra JG1. Formula paralelisme sinonim merupakan kesejajaran yang menggunakan kata berbeda, tetapi memiliki arti sama. Kesejajaran tersebut terlihat pada penggunaan kata kadhung dan sing dalam matra yang sama, sedangkan sinonim terdapat pada kata edan,gendheng, dan bunyeng. Meskipun memiliki nuansa yang agak berbeda, ketiga kata tersebut mengacu pada kondisi psikologis yang sama, yakni gila. Di dalam formula paralelisme sinonim tersebut juga terdapat formula repetisi anafora dan repetisi tautotes. Formula repetisi anafora terdapat pada perulangan kata kadhung dalam setiap awal larik, sedangkan formula repetisi tautotes terdapat pada perulangan kata edan, gendheng, danbunyeng dalam sebuah konstruksi larik.

Adapun formula paralelisme yang membentuk larik (dengan isi yang bervariasi) terdapat pada unsur sugesti dalam mantra JG2, yakni pada larik (4)-(6). Formula paralelisme tersebut berupa frase, yakni gabungan katasun dengan kata ulang wolak-walik, remet-remet, dan kerik-kerik. Ketiga kata ulang tersebut merupakan bentuk variasi yang memiliki makna sama (atau hampir sama), yakni sebuah upaya untuk mengganggu atau menggoda. Di dalam formula paralelisme yang membentuk larik tersebut juga terdapat formula repetisi anafora, yakni berupa perulangan kata sun pada setiap awal larik.

Sebagaimana yang terjadi dalam varian mantra SM, khususnya SM2, dalam varian mantra JG juga terdapat larik yang secara langsung tidak menunjukkan adanya kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama. Larik tersebut adalah larik (4) mantra JG3.

[32] Meskipun demikian, larik tersebut termasuk sebagai bentuk formula. Sebab, ia merupakan

larik yang melandasi larik-larik berikutnya atau larik yang diuraikan ke dalam larik-larik berikutnya, terutama larik (5)-(8). Oleh karena itu, larik (4) mantra JG3 tersebut dapat disebut sebagai klausa superimpos (superimposed clause), yakni klausa yang berlapis, sedangkan larik (5)-(8) dapat dikatakan sebagai klausa subordinat (subordinate clause).[33]

Bentuk-bentuk formula tersebut diungkapkan dalam rangka untuk menyampaikan ide hakiki. Berikut ini dibahas ide hakiki yang disampaikan dalam bentuk formula, baik yang berpola paralelisme maupun repetisi. Ide hakiki formula paralelisme sintaktis dalam mantra JG1 adalah sabetake, yakni penggunaan kekuatan dengan cara dicambukkan. Hal tersebut didukung atau dipertegas oleh ide hakiki formula repetisi anafora yang berupa perulangan frase sun sabetake pada setiap awal larik. Kekuatan tersebut dicitrakan sebagai kekuatan yang sangat dahsyat sehingga apa pun yang

dicambuk menjadi hancur

(gunung menjadi gugur, lemah menjadibangka, segara menjadi asat dan ombak menjadi sirep). Dengan kekuatan semacam itu maka ketika “dicambukkan” kepada ati seseorang, ia akan “hancur” atau “luluh”. Artinya, orang tersebut akan jatuh cinta secara berlebihan kepada si pemantra. Dengan demikian, makna perulangan kata sabetake yang digabung dengan frase yang variatif pada pola paralelisme sintaktis tersebut adalah untuk membangun sugesti atau imageatas kekuatan dahsyat mantra yang bersangkutan.

Sementara itu, ide hakiki formula paralelisme sintaktis dalam mantra JG2 adalah upaya agar si objek senantiasa melakukan aktivitas secara berkelanjutan. Hal itu tercermin dari rentetan kata terakhir pada masing-masing larik [larik (7)-(11)], yakni tangekna, lungguhna, degna, lakokna, dan playokna. Fenomena seperti itu hampir sama dengan yang terjadi atau terdapat pada mantra SM2, sebagaimana telah dibahas. Perbedaannya, dalam mantra SM2, yang melakukan adalah sira atas perintah isun, sedangkan dalam mantra JG2, yang melakukan adalah isun(sun) sendiri. Dengan demikian, dalam mantra JG2, isun selalu berusaha agar si objek senantiasa melakukan aktivitas secara berkelanjutan. Misalnya, ketika si objek sedang tidur (turu), isun membangunkannya (tangekna), dan ketika si objek sudah bangun (tangi), isun “mendudukkannya” (lungguhna). Begitu seterusnya, hingga ketika si objek sedang berjalan (mlaku) pun isun mempengaruhinya untuk berlari (playokna). Hal tersebut mengandung makna bahwa si objek tidak boleh dalam keadaan diam (turu), tetapi harus selalu beraktivitas yang berujung pada mendekatnya si objek kepada si subjek (pemantra). Dalam mendekat pun tidak dilakukan dengan cara berjalan (mlaku), tetapi dengan cara berlari (playokna), dengan harapan agar tujuan si subjek dalam memikat si objek dapat lebih cepat tercapai.

Sementara itu, formula repetisi anafora dan formula konkatenasi dalam mantra JG2 tersebut memberi penegasan dalam rangka membangun sugesti terhadap kekuatan gaib. Perulangan kata kecaruk dalam posisi matra yang sama dan perulangan kata bentukan menjadi kata dasar (tangekna-tangi, lungguhna-lungguh, degna-ngadeg,dan lakokna-mlaku) menimbulkan citra penyemangat dalam mempertegas sugesti tersebut.

Sementara itu, ide hakiki formula paralelisme sintaktis dalam mantra JG3 dibagi menjadi tiga bagian, mengingat bentuk formula dalam mantra tersebut juga dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, memiliki ide hakikidhanyang. Dhanyang adalah roh leluhur yang tinggal di tempat-tempat tertentu yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai garis keturunan mereka. Istilah kaki-nini yang digabung dengan kata dhanyang diartikan sebagai garis keturunan yang setara dengan kakek dan nenek, sedangkan bapa-ibu setara dengan ayah dan ibu. Penyebutan bapa-ibu tersebut memiliki arti yang berbeda dari penyebutan bapak-emak pada larik berikutnya. Penyebutan yang terakhir

tersebut memiliki arti “orang tua biologis”. Adapun penyebutan dhanyang-dhanyang tersebut memiliki makna bahwa mereka diharapkan bersedia membantu kepada pemantra melalui kekuatan gaibnya sehingga akan terhimpun kekuatan gaib yang lebih dahsyat dalam mantra yang bersangkutan. Bagian kedua, memiliki ide hakiki kuma dengan variasi poteh dan abang. Hal tersebut sama dengan fenomena yang terjadi pada mantra SM3. Sebagaimana yang telah dibahas dalam mantra SM3, dalam mantra JG3 ini kuma poteh memiliki arti cairan putih yang berasal dari bapak, yakni berupa sperma, sedangkan kuma abang adalah cairan merah yang berasal dari ibu, yakni berupa darah keperawanan (ovarium). Menyatunya kedua cairan itu melambangkan embrio kehidupan yang didasarkan oleh cinta kasih. Bagian ketiga, memiliki ide hakiki mandi(‘manjur’), khususnya dalam keterkaitannya dengan kepemilikian bersama antara ira dan isun. Mandi adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya efektivitas kekuatan gaib. Kekuatan gaib akan dapat

Dalam dokumen makalah santet (Halaman 21-37)

Dokumen terkait