Senin, 30 Desember 2013
TRADISI SANTET SEBAGAI PRANATA BUDAYA
LOKAL: Kajian Kelisanan Mantra Sabuk Mangir
dan Jaran Goyang dalam Budaya Using,
Banyuwangi
OLEH Heru S.P. SaputraFakultas Sastra Universitas Jember
Pendahuluan
Sudah menjadi realitas empiris bahwa sastra, baik lisan maupun tulis, merupakan salah satu bentuk ekspresi estetis yang sarat dengan muatan budaya. Di dalam kedua bentuk karya tersebut terjadi dialektika budaya yang saling mengisi dan melengkapi. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kajian-kajian sastra tulis (khususnya sastra Indonesia modern), dari segi kuantitas, lebih mendominasi, sedangkan kajian-kajian sastra lisan cenderung sebagai “anak tiri” yang dinomorduakan (Suryadi, 1993: 8-9). Ketimpangan semacam itu menggelisahkan, terutama apabila mengacu pada konsepsi awal yang dilontarkan Teeuw (1988:304-305) bahwa sastra, baik dari segi sejarah maupun tipologi, tidak baik apabila diadakan pemisahan antara sastra lisan dan sastra tulis. Keduanya harus dipandang sebagai kesatuan dan keseluruhan, yakni tidak dipecah-belah berdasarkan pertentangan yang tidak hakiki. Selain itu, perlu dihindari adanya pertentangan dalam penilaian, seolah-olah hanya sastra tulis saja yang mempunyai nilai (tinggi).
Fenomena “penganaktirian” sastra lisan tidak sejalan dengan realitas empiris yang menunjukkan bahwa sastra lisan dan sastra tulis tidak sekadar hidup berdampingan, tetapi keduanya mempunyai keterpaduan atau keterjalinan antara yang satu dengan yang lain (Teeuw, 1988:280). Keterpaduan atau keterjalinan tersebut tidak hanya terbatas pada persoalan yang menyangkut medianya, yakni tulisan dan lisan (Teeuw, 1988:281), tetapi juga menyangkut persoalan konvensi atau struktur, baik pada genre puisi maupun prosa. Menurut Damono (1999:5), puisi Indonesia modern, yang nota bene adalah sastra tulis, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konvensi kelisanan. Bahkan, menurutnya, piranti puitik yang kini lekat menjadi idiomatik dalam puisi Indonesia modern, seperti rima, irama, metrum, aliterasi, asonansi, repetisi, paralelisme, onomatope, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan bunyi, terinspirasi oleh tradisi sastra lisan
pembantu pengingat (mnemonic device) (Danandjaja, 1984:2). Eksistensi tradisi lisan dalam masyarakat tertentu senantiasa menimbulkan pandangan yang pro dan kontra, yakni pandangan yang ingin melestarikan (bersifat positif) dan pandangan yang ingin meninggalkannya (bersifat negatif). Tradisi lisan dapat dipilah menjadi beberapa bagian atau klasifikasi, salah satu di antaranya adalah sastra lisan (Hutomo, 1991:11). Demikian juga dengan folklor, khususnya folklor lisan. Folklor lisan meliputi beberapa bagian, salah satu di antaranya adalah sastra lisan. Dengan demikian, sastra lisan merupakan salah satu bagian tradisi lisan dan folklor.
Sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya masyarakat pemiliknya, sastra lisan tidak hanya mengandung unsur-unsur keindahan (estetis), tetapi juga mengandung berbagai informasi tentang nilai-nilai kebudayaan folk yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebagai salah satu data budaya, sastra lisan dapat diperlakukan sebagai “pintu masuk” untuk memahami salah satu atau keseluruhan unsur kebudayaan yang bersangkutan (Ahimsa-Putra, 1999a:2).
Sebagaimana telah disinggung bahwa kajian terhadap sastra lisan tidak dapat dilepaskan dari konteks kebudayaan atau masyarakat pemiliknya Dalam wilayah kebudayaan Jawa Timur, secara empiris, pemetaan kebudayaan dapat dipilah menjadi enam
[2]
variasi regional kebudayaan, salah satu di antaranya adalah kebudayaan Using. Dalam konteks kebudayaan Using, sastra lisan Using dapat dipilah menjadi cerita rakyat (prosa lisan) dan puisi rakyat (puisi lisan). Prosa lisan Using dapat dipilah menjadi tiga klasifikasi, yakni mite, legenda, dan dongeng, sedangkan puisi lisan Using dapat dipilah menjadi enam klasifikasi, yakni basanan, wangsalan, sanepan, batekan, syair, danmantra (Ali, 1994:241; Basri, 2000:6-9).Dari beberapa klasifikasi prosa lisan dan puisi lisan Using tersebut, salah satu yang memiliki sifat paling sakral adalah puisi lisan Using jenis mantra (selanjutnya disebut mantra Using). Mantra Using merupakan doa sakral kesukuan yang mengandung magi dan berkekuatan gaib yang dimanfaatkan sebagai sarana untuk membantu mempermudah dalam meraih sesuatu dengan cara jalan pintas. Oleh karena itu, mantra Using menarik sekaligus menantang untuk diteliti, khususnya dalam konteks budaya lokal.
Kemenarikan tersebut, selain karena mantra Using mempunyai keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kelompok etnik lainnya, yakni adanya empat macam magi yang terkandung dalam tiga jenis mantra,
[3]
juga karena mantra tersebut tetap survival dan sekaligus dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari oleh orang Using di Banyuwangi hingga kini. Adapun tantangannya terletak pada proses eksplorasi data, yang tidak hanya membutuhkan waktu yang cukup, tetapi juga membutuhkan persiapan psikologis yang mantap, lantaran adanya semacam trauma sosial pada masyarakat Using akibat tragedi pembantaian dukun 1998.[4]
Dari populasi mantra bermagi kuning dan merah tersebut, sampel kajian difokuskan pada mantra Sabuk Mangir (SM) yang mewakili magi kuning dan mantra Jaran Goyang (JG) yang mewakili magi merah. Pemilihan kedua mantra beserta varian-variannya tersebut dilandasi oleh tingkat popularitasnya di dalam masyarakat yang begitu tinggi, yang melebihi popularitas mantra-mantra lainnya. Popularitas kedua mantra beserta variannya tersebut merambah hingga ke berbagai kalangan masyarakat sehingga hampir semua orang Using mengenalnya.
Bertolak dari latar belakang tersebut, tulisan berikut mencoba memaparkan konvensi struktural, aspek kelisanan, dan fungsi mantra SM dan JG (jenis santet) dalam konteks budaya Using.
Adapun data yang menjadi objek kajian diperoleh melalui wawancara dengan beberapa dukun di Desa Kemiren, Olehsari, dan Mangir, Banyuwangi. Data tersebut meliputi tiga varian mantra SM dan tiga varian mantra JG (selanjutnya disebut SM1, SM2, SM3, JG1, JG2, dan JG3). Dengan demikian, terdapat tiga mantra SM dan tiga mantra JG yang berbeda. Perbedaan mantra-mantra tersebut tidak dipengaruhi oleh perbedaan asal wilayah, tetapi dipengaruhi oleh perbedaan pemerolehan ngelmu dukun yang menjadi nara sumber.
Karakteristik Budaya Using
Kajian terhadap mantra SM dan JG dapat dilakukan secara holistik apabila menempatkan mantra tersebut dalam konteks budaya Using. Secara makro, karakteristik bahasa dan budaya Using –dalam batas tertentu-- dapat dikatakan mempunyai persamaan dengan bahasa dan budaya Jawa pada umumnya. Bahasa yang selama ini digunakan sebagai alat komunikasi orang Using adalah bahasa yang oleh banyak pakar linguistik dikategorikan sebagai bahasa Jawa dialek Banyuwangi (Ali, 1994:225). Sementara itu, budaya Using yang berakar pada nilai dasar agraris tradisional dengan slametan sebagai proyeksi dari nilai rukun (yang sekaligus bentuk ekspresi dari harmonisasi hubungan dunia mikrokosmos danmakrokosmos) tersebut juga mencerminkan karakteristik budaya Jawa pada umumnya. Namun, khususnya yang berkaitan dengan bahasa, orang Using tidak mengakui bahwa bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Jawa, melainkan bahasa Using (Ali, 1991; Herusantosa, 1987). Argumentasi tentang bahasa Using itu diperkuat oleh kenyataan di lapangan bahwa bahasa Using (terutama yang masih relatif asli) tidak memiliki unggah-ungguh atau basa krama (orang Using menyebutnya besiki), baik dalam penggunaan bahasa yang menyangkut domain strata sosial maupun strata kekerabatan, kecuali menyangkut dua kata, yakni ndika dan rika (keduanya berarti ‘kamu’) yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang dihormati.
[6]
Dengan demikian, paralel dengan struktur sosial masyarakat Using, bahasa Using bersifat egaliter, yakni bahasa yang dipergunakan dengan pengandaian bahwa semua pemakai bahasa tersebut memiliki kedudukan yang setara.sosial, menurut pandangan orang Using, merupakan tanda adanya suasana ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan antara mikrokosmos dengan makrokosmos.
Ciri khas karakteristik budaya Using yang menonjol adalah sinkretis, yakni dapat menerima dan menyerap budaya masyarakat lain untuk diproduksi kembali menjadi budaya Using (Singodimayan, 1999). Selain itu, budaya Using juga akomodatif terhadap kekuatan supranatural, gaib, dan magis. Sinkretisme agama Islam dengan kepercayaan animisme-dinamisme, yang terakumulasi dalam keyakinan terhadap dhanyang,tampak dalam upacara-upacara ritual seperti Seblang, Barong, Kebo-keboan, sedangkan sinkretisme dalam dimensi kesenian tampak dalam seniPraburoro dan Hadrah Kuntulan. Seblang, Barong, dan Kebo-keboan, merupakan ekspresi religius dalam bentuk seremonial upacara ritual yang dimaksudkan sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas ketentraman hidup mereka. Dalam upacara ritual bersih desa, yang biasanya dipimpin seorang dukun, diperlukan perlengkapan sesaji sebagai persembahan kepada para dhanyang yang mbahureksa wilayah desa yang bersangkutan; upacara ritualSeblang dilakukan di Desa Olehsari dan Bakungan, Barong di Desa Kemiren, dan Kebo-keboan di Desa Alasmalang. Sementara itu, Praburoro dan Hadrah Kuntulan merupakan seni drama tari dan seni tari yang erat implikasinya dengan penyebaran Islam di Banyuwangi. Namun, kedua seni Islami tersebut mengalami transformasi dengan mengakomodasi nilai-nilai tradisional Using, termasuk munculnya penari perempuan pada Hadrah Kuntulan yang semula dianggap tabu.
Sikap akomodatif terhadap kekuatan supranatural atau kekuatan gaib yang bersifat magis juga merupakan dimensi dari sifat sinkretis budaya Using. Sebagaimana diketahui, Banyuwangi merupakan salah satu wilayah yang penduduk aslinya berbasis kekuatan supranatural dengan ditopang tradisi bermantra. Oleh karena itu, budayasantet dan sihir yang marak di kalangan masyarakat Using tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang “menghebohkan,” tetapi justru merupakan bagian integral dari khazanah budaya tradisional mereka (Saputra, 1999). Tradisi semacam itu tidak menghilang begitu saja ketika pesantren-pesantren marak balakangan ini sebab ada titik persinggungan antara tradisi kekuatan magis dengan pemanfaatan (atau penyalahgunaan) ayat-ayat Al Quran.
mendekati kategori fitnah. Sebenarnya orang Using menyadari bahwa perbuatan atau omongannya seringkali mendekati fitnah yang berarti juga menyakiti orang lain. Namun, karena di sisi lain mereka memiliki sifat bingkak, perbuatan yang mendekati fitnah tersebut tidak begitu dihiraukannya.
Perlu dijelaskan bahwa dalam budaya Using tidak dikenal adanya pembunuhan terhadap dukun dengan cara pembantaian, tetapi ada sebuah mekanisme budaya untuk menghukum dukun, yakni dengan mekanisme sumpah pocong. Bagi masyarakat Using, mekanisme sumpahpocong yang dipimpin seorang kiai yang dilakukan di bawah Al Quran di dalam sebuah masjid/langgar telah menjadi semacam institusi untuk melegitimasi kesucian/kejujuran seseorang yang tertuduh sebagai dukun (terutama dukun sihir).
[9]
Mekanisme budaya seperti itu merupakan salah satu model penyelesaian kekerasan dan sekaligus merupakan refleksi bahwa budaya Using tidak menyukai kekerasan, setidak-tidaknya kekerasan secara terbuka (Saputra, 2001a:8).Dalam konteks budaya Using, sebagaimana telah disingung, mantra Using dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu mantra jenis sihir (untuk sarana pembunuhan), santet (sarana pengasihan), dan penyembuhan (sarana pengobatan). Berdasarkan jenis maginya, mantra Using dapat dipilah menjadi empat macam tipologi, yaitu magi hitam (tergolong sihir), merah, dan kuning (keduanya tergolong santet), serta putih (tergolong penyembuhan). Perbedaan magi merah dan kuning terletak pada “misi” yang menjiwainya; magi merah didasari rasa dendam/nafsu, sedangkan magi kuning didasari ketulusan hati (Kusnadi, 1993). Empat macam jenis magi tesebut, tampaknya, berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap filosofi isi tubuh manusia yang terdiri atas sedulur papat, lima badan.
[10]
Sedulur papat merupakan refleksi empat saudara spiritual yang melingkupi tubuh manusia, yakni nafsu aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah.[11]
Nafsu aluamah merupakan refleksi dari tanah atau bumi, yang dapat dimaknai sebagai pemilikan dan berorientasi pada sikap serakah (ditandai dengan warna hitam). Nafsu amarah merupakan refleksi dari api, yang dapat dimaknai sebagai penguasaan[12]
dan berorientasi pada sikap temperamen tinggi (ditandai dengan warna merah). Nafsu supiyah merupakan refleksi dari angin yang dapat dimaknai sebagai keindahan dan berorientasi pada pola hedonisme (ditandai dengan warna kuning). Nafsu mutmainah merupakan refleksi dari air, yang dapat dimaknai sebagai pengetahuan dan berorientasi pada religiusitas (ditandai dengan warna putih). Sementara itu, lima badan merupakan unsur kelima dari konfigurasi numerologis papat-lima yang terefleksi pada “diri/badan/tubuh/pancer” yang menjadi pusat kosmis dari keempat unsur lainnya (yang ditandai dengan percampuran keempat warna tersebut) (Saputra, 2002:200-203).untuk menyalurkan kekuatan magis, sedangkan yang kedua dilandasi pengandaian bahwa segala sesuatu yang pernah bersentuhan tetap memiliki hubungan magis. Efektivitas kekuatan magi tersebut, setidak-tidaknya, memerlukan tiga unsur, yakni subjek, objek, dan bidang gravitasi (lihat, Levi-Strauss, 1997). Subjek diwakili oleh dukun, objek diwakili oleh orang yang menjadi sasaran (objek penderita), dan bidang gravitasi atau perantara dapat berupa sarana yang digunakan atau situasi kelompok masyarakat yang kondusif.
Adapun laku mistik dapat dilakukan dengan berbagai mekanisme. Namun, orang Using sering melakukan simplifikasi ketika mengungkapkan mekanisme laku mistik yang sebenarnya cenderung kompleks tersebut, yakni bahwa meknisme laku mistik berinti pada upaya untuk melakukan sat-tus. Terminologi sat-tus mengacu pada frasedisat dan ditus (keduanya berarti ‘dikuras’); disat terkait dengan isi perut, sedangkan ditus terkait dengan mata. Jadi, inti laku mistik adalah wetenge disat matane ditus (‘perut dan mata dikuras’); perut dikuras dengan cara pasa(‘berpuasa’), mata dikuras dengan cara lek-lekan (‘selalu jaga / tidak tidur’) (Saputra, 2003a:234-235).
Dengan mengacu pada konsep analogi,
[14]
seorang budayawan Using, Hasnan Singodimayan,[15]
menjelaskan kekuatan gaib tubuh manusia yang terefleksi pada mantra dengan memberikan analogi tenaga listrik. Menurutnya, tubuh manusia dapat dianalogikan dengan tenaga listrik, karena keduanya sama-sama mengandung tiga partikel massif yang bersifat nonmateri, yakni elektron, proton, dan neutron. Demikian juga, kekuatan tubuh manusia yang berupa kekuatan gaib. Kekuatan gaib tubuh manusia bersifat nonmateri, yakni berupa bioelektron yang diperkuat dengan bioplasma. Bioelektron merupakan kekuatan pancaran tubuh manusia, sedangkan bioplasma merupakan kekuatan pancaran aura atau lingkaran dari tubuh manusia. Lebih lanjut, Singodimayan menjelaskah bahwa laku mistik tersebut sebenarnya hanya sebagai perantara untuk mencapai tingkat konsentrasi yang cukup tinggi, yang kemudian menghasilkan tenaga psikokinetis. Tenaga psikokinetis adalah tenaga pikiran manusia yang dihasilkan atas dasar konsentrasi. Dengan demikian, inti kekuatan gaib terletak pada kekuatan bioelektron, bioplasma, dan tenaga psikokinetis manusia.Mantra sebagai Puisi Lisan
Menurut Lord (1981:47), ciri utama puisi lisan adalah adanya formula dan ekspresi formulaik. Bahkan, ditegaskannya bahwa tidak ada puisi lisan yang tidak formulaik. Selain formula, Lord (1981) juga menekankan aspek kelisanan puisi lisan berupa komposisi, performance, dan transmisi. Namun, ia tidak memberi deskripsi yang eksplisit tentang ketiga konsep tersebut. Justru Finnegan (1992), dengan berpijak pada paparan Lord, mendeskripsikan secara eksplisit ketiga konsep tersebut, sebagaimana diuraikan berikut.
kolektif, keterkaitannya dengan pertunjukkan (performance), keterkaitannya dengan memorisasi, atau keterkaitannya dengan teks-pasti (fixed text) dan teks-bebas (free text).
Menurut Finnegan (1992:91-94), performance adalah suatu tipe peristiwa komunikasi yang memiliki dimensi proses komunikasi yang bermuatan sosial, budaya, dan estetik. Pertunjukan memiliki mode tindakan dengan tanda tertentu yang dapat ditafsirkan sehingga tindakan komunikasi dapat dipahami. Performance dapat dibedakan menjadi dua model, yakni model performance yang ditampilkan di hadapan audiens dan modelperformance yang ditampilkan tidak di hadapan audiens (dengan waktu dan tempat yang dikondisikan). Model yang pertama dimanfaatkan untuk tujuan hiburan (estetis), sedangkan model yang kedua untuk tujuan sakral (Suryadi, 1993:18-19).
Transmisi dimaksudkan sebagai penyebaran atau penurunan sastra lisan. Menurut Finnegan (1992:114-115), konsep transmisi tidak dapat dilepaskan dari konsep memori; dari memori berkembang menjadi transmisi. Model awal memori sering bersifat pasif sehingga memori seseorang dalam keadaan atau kondisi masyarakat “tribal” harus secara alami lebih baik daripada masyarakat “keberaksaraan.” Model berikutnya cenderung bersifat aktif, yakni berkembang dari gagasan mengenai penyimpanan memori secara kata per kata menjadi rekonstruksi dan reorganisasi dari pengetahuan sebelumnya.
Sebelum dibahas formulanya, mantra SM dan JG terlebih dahulu dibahas komposisi, performance, dan transmisinya.
Sebagaimana mantra pada umumnya, mantra SM dan JG sulit untuk ditelusuri secara pasti siapa penciptanya, di mana diciptakan, dan kapan diciptakan. Namun, berdasarkan pengetahuan umum (informal) para nara sumber, dapat diketahui bahwa mantra SM dan JG diciptakan (komposisi) secara lisan (mengutamakan memorisasi) oleh dukun (individual) yang memiliki ngelmu yang cukup tinggi (mampu melakukan manunggaling kawula-Gusti
).[16]Mantra-mantra tersebut diciptakan pada masa pascaperang Puputan Bayu (1771-1772) dengan tujuan utama sebagai sarana untuk membantu mempermudah perjodohan di antara orang-orang Using sendiri (yang saat itu cerai-berai). Adapun tempat diciptakannya mantra-mantra tersebut diperkirakan di wilayah Alas Purwo, yakni sebuah wilayah di Banyuwangi bagian selatan yang terdiri atas hamparan hutan yang angker. Sampai saat ini, wilayah Alas Purwo
[17] dikenal oleh
masyarakat Using sebagai wilayah yang paling angker dan masih digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan laku mistik.[18]Adapun proses transmisi mantra SM dan JG dilakukan secara lisan dengan cara transmisi pasif, yakni transmisi yang lebih mementingkan isi memori daripada proses memori, dengan cara menghafal kata demi kata. Hal tersebut terkait dengan sifat sakral mantra yang menuntut adanya teks-pasti, yakni teks yang tidak pernah berubah, meskipun ditransmisikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Setelah aspek komposisi, performance, dan transmisi, mantra SM dan JG dapat dideskripsikan dari segi strukturnya. Secara struktural, masing-masing data mantra SM dan JG (setelah ditranskripsi) tidak berbait (atau hanya satu bait). Dikatakan tidak berbait karena ucapan dukun terhadap larik-larik mantra tidak menunjukkan adanya jeda yang berbeda. Oleh karena itu, pentranskripsian terhadap larik-larik mantra yang diucapkan dukun --yang penulis rekam dengan tape recorder-- tersebut juga dilakukan dengan jeda yang sama, yang berarti pula satu mantra disusun dalam satu struktur bait.
[19] Masing-masing mantra tersusun atas larik-larik dengan jumlah yang berbeda-beda. Mantra
SM1, SM2, dan SM3 terdiri atas 18 larik, 16 larik, dan 13 larik, sedangkan mantra JG1, JG2, dan JG3 terdiri atas 15 larik, 17 larik, dan 17 larik.Sementara itu, masing-masing mantra tersusun atas unsur-unsur yang membentuk struktur yang utuh, atau yang oleh Piaget (1995:4-10) disebut sebagai the idea of wholeness (gagasan keutuhan atau totalitas). Gagasan keutuhan berarti bahwa struktur memiliki koherensi intrinsik, merupakan kesatuan yang bulat, dan bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur tersebut.
Secara garis besar, struktur mantra SM dan JG memiliki persamaan, yakni terdiri atas enam unsur atau bagian. Keenam unsur tersebut meliputi: unsur judul, unsur pembuka, unsur niat, unsur sugesti, unsur tujuan, dan unsur penutup. Unsur judul mantra biasanya terdiri atas kelompok kata yang diasumsikan dapat mencerminkan tujuan atau menjadi ciri khas mantra yang bersangkutan. Sementara itu, unsur pembuka pada mantra SM dan JG memiliki persamaan, yakni diambil dari bahasa Arab dan merupakan bagian dari doa yang digunakan oleh umat Islam. Unsur pembuka tersebut berbunyi Bismillāhir rahmānir rahīm. Ucapan tersebut sebenarnya tidak hanya digunakan sebagai unsur pembuka pada mantra SM dan JG, tetapi juga digunakan sebagai unsur pembukapada semua mantra Using (cenderung bersifat umum atau seragam).
Unsur ketiga dikatakan sebagai unsur niat karena bagian tersebut menggunakan kata kunci niat. Kata niat ini juga dapat dikaitkan dengan ungkapan yang menyebutkan bahwa “segala sesuatu bergantung pada niatnya”. Selain kata niat, pada unsur niat ini juga terdapat frase yang menunjukkan judul mantra yang bersangkutan. Ada sebagian masyarakat Using yang mengaitkan unsur niat dengan mantra itu sendiri secara keseluruhan atau pun hanya lafalnya.
Unsur sugesti adalah unsur yang berisi metafora-metafora atau analogi-analogi yang oleh dukun dianggap memiliki daya atau kekuatan tertentu dalam rangka membantu membangkitkan potensi kekuatan magis atau kekuatan gaib pada mantra. Artinya, sebelum sampai kepada inti mantra, ada bagian yang berisi sugesti atau analogi yang berbeda-beda antara satu mantra dengan mantra lainnya.
Sebagaimana pada unsur pembuka, unsur penutup mantra bersifat seragam atau umum. Artinya,
Unsur Pembuka (1) Bismillāhir rahmānir rahīm (1)Bismillāhir rahmānir rahīm
(1) Bismillāhir rahmānir rahīm Unsur Niat (2) Niat isun matek aji Sabuk
Mangir
(2) Niat isun matek aji Sabuk Mangir
(2) Niat isun matek aji Sabuk Mangir Unsur Sugesti (3) Lungguh isun lungguhe Nabi
Adam
Unsur Tujuan (15) Teka welas teka asih jebeng beyine…
Unsur Penutup (18) Lā ilāha illallāh
STRUKTUR MANTRA JARAN GOYANG
Unsur Judul Jaran Goyang 1 Jaran Goyang 2 Jaran Goyang 3
Unsur Pembuka (1) Bismillāhir Unsur Sugesti (3) Sun goyang ring
tengah latar
Unsur Tujuan (8) Sun sabetake atine jebeng beyine …
Teori formula dipopulerkan oleh Parry dan Lord, yang kemudian dikenal sebagai teori formula Parry-Lord. Dalam teori formula, menurut Lord (1981:5), konsep kelisanan tidak hanya dimaknai sebagai presentasi lisan, tetapi juga dimaknai sebagai komposisi selama terjadinya penampilan secara lisan. Menurut Lord (1981:30), formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan satu ide hakiki (pokok). Dengan demikian, formula merupakan frase-frase, klausa-klausa, dan kalimat-kalimat yang khas.
satu alat bantu untuk mengingat kembali dengan mudah, cepat, dan tepat, serta menjadi ungkapan tetap yang dapat bertahan hidup secara lisan.
Menurut Lord (1981:65), “tata bahasa puitik” dari puisi lisan merupakan “tata bahasa parataksis” (grammar of parataxis), yakni konstruksi kalimat, klausa, atau frase koordinatif yang tidak menggunakan kata penghubung. Analisis tekstual, khususnya analisis formula, menururt Lord (1981:45), harus dimulai dengan pengamatan yang cermat terhadap frase-frase yang mengalami perulangan. Hal tersebut dilakukan untuk menemukan formula dengan berbagai variasi polanya. Lebih lanjut, Lord (1981:47) menunjukkan benang merah analisis formula tersebut, yakni tidak ada larik atau paruh larik yang tidak membentuk pola formulaik. Larik dan paruh larik yang disebut formulaik tersebut tidak hanya mengilustrasikan pola-polanya sendiri, tetapi juga menunjukkan contoh sistem puisi lisan. Oleh karena itu, Lord (1981:47) menggarisbawahi bahwa tidak ada puisi lisan yang tidak formulaik.
Prinsip kelisanan berorientasi pada proses pembelajaran sehingga tidak
hanya terbatas pada presentasi lisan. Dengan prinsip tersebut, menurut
Lord (1981:280), teks-teks yang dianggap sakral dan harus ditransmisikan
kata demi kata (teks-pasti) tidak dapat dikatakan memiliki prinsip
kalisanan, kecuali dalam pengertian teknis (harfiah).
Dengan mengacu pada konsep tersebut, mantra SM dan JG --yang nota bene merupakan teks sakral-- yang menjadi objek kajian dalam tulisan ini, termasuk sebagai puisi lisan yang hanya memiliki aspek kelisanan sebatas dalam arti teknis. Meskipun demikian, mantra tersebut memiliki bentuk atau pola formula yang cukup dominan sehingga layak untuk dikaji formula dan ekspresi formulaiknya.
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya bahwa berdasarkan hasil temuan di lapangan terdapat tiga varian mantra SM, yakni mantra SM1, SM2, dan SM3. Ketiga varian mantra SM tersebut memiliki tingkat orisinalitas yang sama karena mantra yang satu tidak diturunkan atau merupakan versi mantra yang lain. Hal itu didasari oleh argumentasi bahwa mantra merupakan bentuk teks-pasti sehingga proses transmisinya dilakukan secara pasif dengan cara menghafal kata demi kata. Pembahasan formula mantra SM dilakukan secara “berlapis”, dimulai dengan pembahasan perbandingan antarvarian teks mantra. Pembahasan terhadap formula antarvarian teks mantra tersebut bertujuan untuk membandingkan formula yang terdapat pada varian mantra yang satu dengan yang lain. Dengan demikian, diupayakan untuk mencari persamaan-persamaan formula antarvarian teks mantra.
[20]
Untuk mempermudah hal tersebut, berikut ini dikutip teks mantra SM1, SM2, dan SM3 secara berjajar dalam bentuk tabel.Tabel 3
_______ : formula (dengan berbagai variasinya)
--- : ekspresi formulaik
Kutipan pada tabel tersebut menunjukkan adanya persamaan formula dalam perbandingan antarvarian teks mantra. Hal itu dapat dilihat pada masing-masing varian mantra SM, khususnya pada larik-larik yang ditandai dengan garis utuh sepanjang satu larik. Persamaan formula dalam perbandingan mantra SM1, SM2, dan SM3 tersebut dapat dipilah menjadi tiga pola, yakni formula sintaktis, formula repetisi yang bervariasi, dan formula repetisi tautotes. Ketiga pola formula tersebut dibahas sebagai berikut. Formula sintaktis adalah formula yang berupa perulangan kalimat. Formula sintaktis terdapat pada unsur judul,
[21] unsur pembuka, unsur niat, unsur
tujuan, dan unsur penutup. Unsur judul, unsur pembuka, dan unsur niat masing-masing mantra terdapat pada larik yang sama, yakni larik paling atas, larik (1), dan larik (2). Pola formula dalam unsur tersebut berbunyi Sabuk Mangir (unsur judul), Bismillāhir rahmānir rahīm (unsur pembuka), Niat isun matek aji Sabuk Mangir (unsur niat). Sementara itu, unsur tujuan pada masing-masing mantra terdapat pada urutan larik yang berbeda. Unsur tujuan dalam mantra SM1 terdapat pada larik (15)-(17), sedangkan dalam mantra SM2 terdapat pada larik (13)-(15). Adapun unsur tujuan dalam mantra SM3 terdapat pada larik (10)-(12). Pola formula dalam unsur tersebut berbunyi Teka welas teka asih jebeng beyine… / Asiha marang jabang bayinisun / Sih-asih kersane Gusti Allah. Sementara itu, unsur penutup pada ketiga varian mantra terdapat pada larik terakhir setiap teks mantra, yang berbunyi Lā ilāha illallāh Muhammadur rasūlullāh. Dengan demikian, semua unsur yang terdapat pada mantra SM1, SM2, dan SM3 memiliki persamaan formula, kecuali pada unsur sugesti.Adapun formula repetisi yang bervariasi terdapat pada unsur tujuan dalam masing-masing varian mantra, yakni pada larik (15)-(17) mantra SM1, larik (13)-(15) mantra SM2, dan larik (10)-(12) mantra SM3. Ketiga larik yang memuat kata welas-asih, asiha, dan sih-asih itu merupakan formula pembentuk larik yang berisi pola repetisi yang variatif. Ketiga kata itu memiliki esensi yang sama, tetapi disampaikan dalam bentuk yang berbeda sehingga ia membentuk formula dengan pola repetisi yang variatif. Adapun formula repetisi tautotes terdapat pada larik pertama unsur tujuan dalam masing-masing varian mantra, yakni pada larik (15) mantra SM1, larik (13) mantra SM2, dan larik (10) mantra SM3. Formula repetisi tautotes tersebut berupa perulangan kata teka dalam satu konstruksi larik.
pada unsur pembuka adalah adanya penghargaan atau penghormatan terhadap Sang Pencipta dengan cara menyebut nama Allah. Penyebutan tersebut mengindikasikan atau mengandaikan bahwa kekuatan-kekuatan magis tidak akan efektif khasiatnya apabila tidak mendapat izin Sang Pencipta. Hal yang hampir sama juga terjadi pada ide hakiki dalam unsur penutup mantra.Bahkan, tidak hanya Tuhan yang disebut dalam unsur penutup mantra, tetapi juga Muhammad. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mantra Using tidak semata-mata merupakan tradisi lokal Using, tetapi ia telah mendapat pengaruh unsur-unsur budaya luar, khususnya Islam.
Sementara itu, ide hakiki formula sintaktis pada unsur niat adalah matek aji. Frase matek aji tidak hanya sekadar berarti ‘menggunakan kesaktian’, tetapi lebih dari itu, yakni bagaimana kesaktian itu digunakan dengan penjiwaan yang khidmat. Artinya, keyakinan yang tulus dan rasa empati yang mendalam (barangkali dapat diidentikan dengan idiom khusyuk dalam Islam) merupakan modal dasar dalam matek aji. Oleh karena itu, seorang dukun selalu menanyakan keyakinan “pasien”-nya terhadap ngelmu magic dan mantra yang digunakan, sebab apabila tidak yakin, dukun tidak akan bersedia untuk “membantu” permintaan “pasien” tersebut. Adapun ide hakiki formula sintaktis pada unsur tujuan adalah asih atau rasa belas kasih. Rasa tersebut tidak hanya datang dari si objek yang menjadi sasaran mantra (jebeng beyine…) dan si subjek yang memantrai (jabang bayinisun), tetapi juga datang dari kehendak Sang Pencipta. Dengan demikian, pemanfaatan mantra tidak hanya terbatas pada relasi sosial (hubungan horizontal), tetapi juga menyangkut relasi transendental (hubungan vertikal).
Sementara itu, ide hakiki bentuk formula repetisi yang bervariasi adalah asih. Bentuk formula tersebut memiliki makna bahwa mantra SM mengandung “roh” yang berupa rasa belas kasih yang tulus atau mendalam. Hal itu terbukti dengan perulangan kata asih (dalam bentuk variatif) sampai tiga kali, yang berarti penegasan atau “penyangatan”.
[22]
Makna tersebut sesuai dengan magi yang terkandung di dalam mantra SM, yakni magi kuning. Magi kuning memiliki sifat ketulusan yang hampir sama atau mendekati dengan ketulusan alami.[23]
Oleh karena itu, orang yang terkena kekuatan magi mantra SM akan merasakan suatu perasaan senang (pengasihan) sebagaimana ia merasakan perasaan itu secara alami. Dengan demikian, ia tidak menyadari bahwa dirinya terkena pengaruh kekuatan gaib. Adapun ide hakiki bentuk formula repetisi tautotes adalah memberi penegasan dalam rangka membangun sugesti terhadap kekuatan gaib. Perulangan kata teka dalam satu konstruksi larik pada mantra SM1 larik (15), SM2 larik (13), dan SM3 larik (10) menimbulkan citra penyemangat dalam mempertegas sugesti tersebut. Ia memberi penekanan sugesti atas datangnya rasa belaskasih.unsur niat, unsur tujuan, dan unsur penutup tersusun atas perulangan kalimat secara utuh. Sementara itu, pola dalam formula repetisi yang bervariasi dan formula repetisi tautotes tersusun atas perulangan kata atau frase welas-asih, asiha, sih-asih, dan teka.
Bentuk formula tidak hanya terdapat pada perbandingan antarvarian teks, tetapi juga terdapat pada masing-masing varian teks mantra, khususnya pada bagian unsur sugesti. Berikut ini dibahas formula masing-masing varian teks mantra (SM1, SM2, dan SM3) yang terdapat pada unsur sugesti. Dari kutipan dalam Tabel 3 dapat dijelaskan adanya formula pada masing-masing varian teks mantra SM, khususnya yang berpola paralelisme dan repetisi. Formula yang berpola paralelisme dapat dipilah menjadi tiga bagian. Pertama, formula paralelisme sintaktis yang membentuk kerangka komposisi skematik.
[24]
Formula tersebut terdapat pada unsur sugesti dalam mantra SM1.Kedua, formula paralelisme sintaktis. Formula tersebut terdapat pada unsursugesti dalam mantra SM2 dan SM3. Di dalam formula tersebut juga terdapat formula yang berpola repetisi, yakni formula repetisi tautotes, repetisi anafora, dan formula konkatenasi. Ketiga, formula paralelisme yang membentuk larik. Formula tersebut terdapat pada unsur sugesti dalam mantra SM2. Berikut ini penjelasan ketiga macam formula tersebut.Formula paralelisme sintaktis yang membentuk kerangka komposisi skematik terdapat pada unsur sugesti dalam mantra SM1, yakni pada larik (3)-(14). Keduabelas larik tersebut, sebenarnya, merupakan formula dalam pola paralelisme sintaktis, yakni pola kesejajaran kalimat. Akan tetapi, formula tersebut dapat dipilah menjadi empat bagian yang membentuk formula baru. Empat bagian yang masing-masing terdiri atas tiga larik itu adalah bagianpertama terdapat pada larik (3)-(5), bagian kedua terdapat pada larik (6)-(8), bagian ketiga terdapat pada larik (9)-(11), dan bagian keempat terdapat pada larik (12)-(14). Keempat bagian tersebut membentuk formula yang berupa kerangka komposisi skematik, yakni pola skematik yang dapat diisi oleh kata atau frase lain yang bervariasi. Dengan demikian, unsur sugesti dalam mantra SM1 merupakan formula paralelisme sintaktis yang membentuk kerangka komposisi skematik. Hal itu dapat dilihat pada kutipan bahwa bagian pertama merupakan
kerangka komposisi skematik, sedangkan bagian kedua,
ketiga, dan keempat merupakan bentuk perulangan pola kerangka sebelumnya dengan isi yang berbeda atau bervariasi. Dengan kata lain, pola formula keempat bagian tersebut merupakan pengungkapan kembali bagian pertama ke dalam bagian kedua, ketiga, dan keempat dengan pola matra yang sama, tetapi dengan isi yang berbeda atau bervariasi.
bagian-bagian lain berisi kata ningali (‘melihat’). Munculnya bentuk variasi tersebut merupakan penyesuaian terhadap konteks sintaktisnya. Kata ningali dalam konteks tersebut dimanfaatkan karena objeknya adalah benda atau sesuatu yang dapat dilihat (seseorang yang sedang lungguh, badan, dan cahya) sedangkan kata krungudigunakan karena objeknya berupa suara. Suara hanya dapat didengar dan tidak mungkin dapat dilihat.
Sementara itu, formula paralelisme sintaktis terdapat pada unsursugesti dalam mantra SM2 dan SM3. Formula paralelisme sintaktis dalam mantra SM2 terdapat pada larik (6)-(10), sedangkan dalam mantra SM3 terdapat pada larik (3)-(4) dan (5)-(9). Formula tersebut membentuk kerangka larik dengan isi yang bervariasi. Dalam mantra SM2, kerangka larik dibentuk oleh perulangan kata yang sama, yakni kata ketok dan sira, sedangkan variasi isi terdapat pada kata turu-tangekna, tangi-lungguhna, lungguh-degna, ngadeg-lakokna, dan mlaku-playokna. Adapun dalam mantra SM3, pada larik (3)-(4), perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata kuma, asale, dan ira dengan variasi isi berupa kata poteh-abang dan bapak-emak. Sementara itu, pada larik (5)-(9) dalam mantra yang sama, perulangan yang membentuk kerangka larik terdapat pada kata sira dan isun, sedangkan variasi isi terdapat pada perulangan kata raga, sukma, cahya, dan welas asih.
tersebut berisi perulangan kata dan frase dalam satu konstruksi larik, yakni kata raga, sukma, cahya, wahyu, dan frase welas asih.
Sementara itu, formula paralelisme yang membentuk larik (dengan isi yang bervariasi) terdapat pada unsur sugestidalam mantra SM2, yakni pada larik (3)-(5). Formula paralelisme tersebut berupa frase, yakni gabungan kata isun dengan kata nyalami, njaluk tulung,
[25]
dan kongkon dalam kondisi matra yang sama. Kata nyalami, njaluk tulung, dan kongkon merupakan bentuk variasi yang memiliki makna sama (atau hampir sama), yakni permintaan tolong.Adapun larik-larik yang secara langsung tidak menunjukkan adanya kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama adalah larik (11)-(12) mantra SM2.
[26]
Meskipun demikian, kedua larik tersebut termasuk sebagai bentuk formula. Sebab, larik tersebut merupakan semacam kesimpulan dari larik-larik sebelumnya. Larik-larik-larik semacam itu sering disebut sebagai unperiodic enjambement,[27]
yakni pikiran yang sudah lengkap dalam sebuah larik, tetapi kalimatnya masih diteruskan. Artinya, larik-larik sebelumnya, khususnya larik (6)-(10), memuat gagasan yang sudah lengkap, tetapi masih diteruskan atau disimpulkan dalam larik (11)-(12) tersebut.Bentuk-bentuk formula tersebut diungkapkan dalam rangka untuk menyampaikan ide hakiki. Berikut ini dibahas ide hakiki yang disampaikan dalam bentuk formula, baik yang berpola paralelisme maupun repetisi. Formula paralelisme sintaktis yang membentuk kerangka komposisi skematik dalam mantra SM1 dimanfaatkan untuk mengungkapkan satu ide hakiki. Ide hakiki tersebut terdapat pada variasi isi dari pola kerangka komposisi skematik. Pada bagian pertama [larik (3)-(5)], ide hakiki yang diungkapkan adalah kata lungguh yang dipasangkan dengan Nabi Adam, sedangkan pada bagian kedua [larik (6)-(8)] adalah kata badan yang dipasangkan dengan Nabi Muhammad. Sementara itu, pada bagian ketiga dan keempat, ide hakiki yang diungkapkan adalah kata cahya yang dipasangkan dengan Nabi Yusuf dan kata suara yang dipasangkan dengan Nabi Daud. Makna ide hakiki yang terdapat dalam formula tersebut adalah sebuah pengandaian terhadap menyatunya empat keistimewaan yang dimiliki para Nabi ke dalam diri isun (‘saya’). Dengan keistimewaan tersebut, dirinya akan “digandrungi” oleh orang yang menjadi sasaran mantra (si objek).
pun akan berhenti ketika mendengar suara Nabi Daud. Adapun kisah keistimewaan Nabi Adam dan Nabi Muhammad (khususnya dalam kaitannya dengan kata lungguhdan badan) kurang begitu populer, setidak-tidaknya, apabila dibandingkan dengan kisah kedua Nabi yang telah dibahas sebelumnya. Namun, dapat disebutkan bahwa Nabi Adam memiliki ketinggian tubuh yang berada di atas rata-rata ketinggian manusia lainnya sehingga ketika dalam posisi duduk pun tubuhnya masih tetap relatif tinggi. Sementara itu, Nabi Muhammad memiliki postur tubuh yang ideal, yang tidak ada bandingannya dengan keidealan tubuh siapa pun. Oleh karena itu, keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki keempat Nabi tersebut digunakan olehisun atau orang yang memantrai (menggunakan mantra SM1) sebagai media untuk membangun sugesti bahwa dirinya memiliki keistimewaan sebagaimana yang dimiliki oleh keempat Nabi tersebut. Dengan demikian, keyakinannya dalam menggunakan mantra (SM1) akan semakin mantap, dan keyakinan tersebut sangat berarti terhadap tingkat kemujaraban dalam matekaji terhadap mantra yang bersangkutan.
Sementara itu, formula paralelisme sintaktis dalam mantra SM2 dan SM3 memiliki ide hakiki sebagai berikut. Ide hakiki formula paralelisme sintaktis dalam mantra SM2 adalah perintah untuk melakukan aktivitas secara berkelanjutan. Hal itu tercermin dari rentetan kata terakhir pada masing-masing larik [larik (6)-(10)], yaknitangekna, lungguhna, degna, lakokna, dan playokna. Perintah tersebut disampaikan oleh isun kepada sira agarsira melakukannya terhadap si objek. Artinya, ketika si objek sedang tidur (turu), sira harus membangunkan (tangekna), dan ketika si objek sudah bangun (tangi), sira harus “mendudukkan” (lungguhna). Begitu seterusnya, hingga ketika si objek sedang berjalan (mlaku) pun sira harus membuatnya berlari (playokna). Hal tersebut mengandung makna bahwa si objek tidak boleh dalam keadaan diam (turu), tetapi harus selalu beraktivitas yang berujung pada mendekatnya si objek kepada si subjek (pemantra). Dalam mendekat pun tidak dilakukan dengan cara berjalan (mlaku), tetapi dengan cara berlari (playokna), dengan harapan agar tujuan si subjek dalam memikat si objek dapat lebih cepat tercapai. Hal itu diperkuat oleh pernyataan pada larik (11) dan (12) bahwa upaya tersebut jangan sampai berhenti sebelum si objek turu bantal tangan isun (‘tidur berbantal lengan saya/si subjek’). “Tidur berbantal lengan” dapat diartikan sebagai tidur di atas lengan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai tidur bersama (suami-istri).
Sementara itu, formula repetisi anafora dan formula konkatenasi dalam mantra SM2 tersebut memberi penegasan dalam rangka membangun sugesti terhadap kekuatan gaib. Perulangan kata ketok dalam posisi matra yang sama dan perulangan kata bentukan menjadi kata dasar (tangekna-tangi, lungguhna-lungguh, degna-ngadeg, danlakokna-mlaku) menimbulkan citra penyemangat dalam mempertegas sugesti tersebut.
yakni berupasperma, sedangkan kuma abang adalah cairan merah yang berasal dari ibu, yakni berupa darah keperawanan (ovarium). Menyatunya kedua cairan itu melambangkan embrio kehidupan yang didasarkan oleh cinta kasih. Hal itu erat kaitannya dengan konsep isi dan wadhah yang banyak dianut oleh orang-orang yang memiliki orientasi mistik. Isi adalah benih yangselalu dibawa oleh laki-laki (simbol kelamin laki-laki), sedangkan wadhah adalah tempat yang selalu dibawa oleh perempuan (simbol kelamin perempuan). Terciptanya kehidupan manusia berasal dari pertemuan antara isi dan wadhah, yakni melalui mekanisme memasukkan isi ke dalam wadhah (hubungan seksual). Oleh karena itu, makna kuma poteh dan kuma abang dalam kaitannya dengan isi dan wadhah adalah bahwa embrio kehidupan berasal dari cinta kasih dan cinta kasih akan bermuara pada menyatunya sperma ke dalam ovarium.
Bagian kedua [larik (5)-(9)], ide hakikinya adalah kepemilikan bersama. Artinya, sesuatu yang menjadi milik iraadalah milik isun atau dapat dikatakan bahwa milikmu adalah milikku. Hal tersebut dilandasi oleh sebuah pengandaian bahwa sesuatu yang dimiliki oleh ira adalah sesuatu yang ideal, termasuk hal-hal yang mengandung unsur kekuatan gaib. Dengan pengandaian semacam itu, isun menginginkan bahwa dirinya “menyerupai” diri irasehingga semua yang ada di dalam diri ira diakui sebagai miliknya. Makna hal tersebut adalah bahwa semua kekuatan gaib milik ira “diserap” dan dimiliki oleh isun. Dengan demikian, isun memiliki kekuatan gaib yang dapat diandalkan. Sementara itu, formula repetisi anafora dan repetisi tautotes dalam mantra SM3 tersebut, sebagaimana yang terjadi pada mantra SM2, juga memberi penegasan dalam rangka membangun sugesti terhadap kekuatan gaib. Perulangan kata kuma dalam posisi matra yang sama dan perulangan kata raga, sukma, cahya, wahyu, serta frasewelas asih dalam satu konstruksi larik menimbulkan citra penyemangat dalam mempertegas sugesti tersebut.
Selain formula, di dalam ketiga varian mantra SM juga terdapat ekspresi formulaik. Semua larik yang membentuk struktur mantra SM merupakan ekspresi formulaik, karena semua larik tersebut tersusun atas dasar pola formula. Pola formula adalah pola yang secara teratur memanfaatkan kata atau frase dalam kondisi matra yang sama. Pola formula pada unsur sugesti tersusun atas larik-larik dalam satu varian teks dengan kondisi matra yang sama, baik menyangkut penggunaan kata maupun frase. Dalam mantra SM1, penggunaan kata dalam pola formula terdapat pada kata isun, lungguhe, badane, cahyane, dan suarane, sedangkan penggunaan frase dalam pola formula terdapat pada frase Nabi Adam, Nabi Muhammad, Nabi Yusuf, Nabi Daud, hang sapa ningali, hang sapa krungu, ya isun iki, dan isun iki. Sementara itu, dalam mantra SM2, penggunaan kata dalam pola formula terdapat pada kataisun, ketok, dan sira, sedangkan penggunaan frase dalam pola formula terdapat pada frase yang bersifat variatif, yakni frase isun nyalami, isun njaluk tulung, isun kongkon, ketok turu, ketok tangi, ketok lungguh, ketok ngadeg, ketok mlaku, sira tangekna, sira lungguhna, sira degna, sira lakokna, dan sira playokna. Adapun dalam mantra SM3, pola formulanya berupa frase. Frase tersebut dapat dipilah menjadi dua bagian, yakni frase yang tersusun atas kelompok kata yang bervariasi dan frase yang tesusun atas kata dan bentuk enklitik. Frase bagian pertama meliputi kuma poteh, kuma abang, asale bapak ira, asale emak ira, welas asih ira, dan welas asih isun, sedangkan frase bagian kedua meliputi raganira, sukmanira, cahyanira, wahyunira, raganisun, sukmanisun, cahyanisun, danwahyunisun.
Perlu ditambahkan bahwa formula dapat membantu terbentuknya wacana ritmis sehingga ia merupakan salah satu alat bantu untuk mengingat kembali dengan mudah dan cepat. Formula dalam mantra dapat membantu mempermudah seseorang dalam menghafalkan mantra, baik menyangkut bentuk formula dalam satu varian teks maupun dalam perbandingan antarvarian teks. Sebagaimana diketahui, pada dasarnya, mantra tidak boleh dituliskan sehingga seorang murid harus menghafal mantra dengan cara mendengarkan mantra yang dilafalkan oleh gurunya (dukun). Dengan memperhatikan bentuk-bentuk formula tersebut, seorang murid akan lebih cepat menghafal mantra karena tinggal mengisi variasi-variasi kata atau frase yang paralelistik atau repetitif ke dalam pola formula yang telah ada.
Formula Mantra Jaran Goyang
Sebagaimana mantra SM, bersadarkan hasil temuan di lapangan terdapat tiga varian mantra JG, yakni mantra JG1, JG2, dan JG3. Sebagaimana dalam mantra SM, pembahasan formula mantra JG dilakukan secara “berlapis”, dimulai dengan pembahasan perbandingan antarvarian teks mantra. Untuk mempermudah hal tersebut, berikut ini dikutip teks mantra JG1, JG2, dan JG3 secara berjajar dalam bentuk tabel.
Tabel 4
FORMULA MANTRA JARAN GOYANG
(9) Roh ira mandi roh isun mandi
__________ __________
---(10) Sukmanira mandi sukmanisun madi
tautotes. Formula sintaktis adalah formula yang berupa perulangan kalimat, sedangkan formula repetisi tautotes adalah formula perulangan kata dalam sebuah konstruksi larik. Formula sintaktis terdapat pada unsur judul, unsur pembuka, unsur niat, sebagian kecil unsur sugesti, sebagian besar unsur tujuan, dan unsur penutup. Unsur judul, unsur pembuka, dan unsur niat masing-masing mantra terdapat pada larik yang sama, yakni larik paling atas, larik (1), dan larik (2). Formula sintaktis dalam unsur tersebut berbunyi Jaran Goyang (unsur judul), Bismillāhir rahmānir rahīm (unsur pembuka), dan Niat isun matek aji Jaran Goyang (unsur niat). Sementara itu, dalam unsursugesti terdapat satu larik yang membentuk formula sintaktis, yakni larik (3) yang berbunyi Sun goyang ring tengah latar.
Adapun dalam unsur tujuan terdapat lima larik yang membentuk formula sintaktis, yakni dalam mantra JG1 terdapat pada larik (8)-(9) dan (14), dalam mantra JG2 terdapat pada larik (12)-(16), sedangkan dalam mantra JG3 terdapat pada larik (11)-(15). Tiga larik terakhir dalam unsur tujuan pada masing-masing varian mantra tersebut merupakan bentuk formula sintaktis dengan perulangan satu larik penuh, yakni aja mari-mari,kadhung sing isun hang nambani, dan sih-asih kersane Gusti Allah. Sementara itu, larik pertama dan kedua dalam unsur tujuan pada masing-masing varian mantra merupakan bentuk formula sintaktis yang mengalami variasi dengan pola matra yang sama. Larik pertama tersebut berbunyi sun sabetake atine jebeng beyine…dengan variasi sun kenengna jebeng beyine… dan sun tamanna jebeng beyine…, sedangkan larik kedua berbunyi kadhung edan sing edan dengan variasi kadhung edan sida edan. Variasi pada larik pertama memiliki arti yang sama (pada kata sabetake, kenengna, dan tamanna), sedangkan pada larik kedua memiliki arti yang berbeda, khususnya pada mantra JG3 (variasi kata sing dan sida).Adapun unsur penutup pada ketiga varian mantra terdapat pada larik terakhir setiap teks mantra, yang berbunyi Lā ilāha illallāh Muhammadur rasūlullāh. Dengan demikian, semua unsur yang membentuk struktur pada mantra JG1, JG2, dan JG3 memiliki persamaan formula, kecuali pada sebagian besar unsur sugesti dan sebagian kecil unsur tujuan. Adapun formula repetisi tautotes terdapat pada larik (9) mantra JG1, larik (13) mantra JG2, dan larik (13) mantra JG3.
Formula-formula sintaktis tersebut dimanfaatkan untuk mengungkapkan satu ide hakiki. Artinya, bentuk formula sintaktis yang terdapat pada perbandingan antarvarian mantra JG dimanfaatkan untuk menegaskan adanya satu ide pokok. Ide tersebut sesuai dengan arti atau makna bentuk formulanya. Karena formula sintaktis tersebut merupakan bentuk perulangan kalimat secara utuh, ide hakiki yang diungkapkan adalah makna kalimat itu sendiri. Ide hakiki formula sintaktis pada unsur judul menunjukkan adanya sebuah identitas salah satu mantra pengasihan Using yang bernama Jaran Goyang. Identitas tersebut berguna untuk membedakannya dengan mantra-mantra lain dalam lingkup komunitas Using. Istilah Jaran Goyang mendapat inspirasi dari senijaranan
[30]
yang senantiasa bergoyang sehingga diharapkan si objek yang menjadi sasaran akan bergoyang bagai kuda kepang.tidak semata-mata merupakan tradisi lokal Using, tetapi ia telah mendapat pengaruh unsur-unsur budaya luar, khususnya Islam.
Sementara itu, ide hakiki formula sintaktis pada unsur niat adalah matek aji. Frase matek aji tidak hanya sekadar berarti ‘menggunakan kesaktian’, tetapi lebih dari itu, yakni bagaimana kesaktian itu digunakan dengan penjiwaan yang khidmat. Artinya, keyakinan yang tulus dan rasa empati yang mendalam merupakan modal dasar dalammatek aji. Adapun ide hakiki formula sintaktis pada unsur sugesti adalah goyang. Ide tersebut tidak hanya terkait dengan nama mantra itu sendiri (Jaran Goyang), tetapi juga terkait dengan seni jaranan yang senantiasa dipentaskan di latar (‘halaman’). Sementara itu, ide hakiki larik pertama pada unsur tujuan adalah kenengna (dengan variasi sabetake dantamanna), sedangkan pada larik kedua adalah edansing edan dan edan sida edan. Makna kata kenengnatersebut adalah agar si objek terjerat hatinya dan mencintai si subjek, sedangkan makna edan sing edan danedan sida edan adalah tergila-gila dan gila. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa orang yang terkena kekuatan gaib mantra JG dapat mengalami kondisi psikologis yang berbeda-beda, yakni dari yang tergila-gila sampai yang gila. Dengan demikian, akibat yang dirasakan atau diderita oleh si objek yang menjadi sasaran kekuatan mantra JG bervariasi. Hal tersebut disebabkan adanya variasi atau perbedaan unsurtujuan dalam masing-masing varian mantra JG.
Berdasarkan data mantra JG yang dapat dijangkau oleh peneliti (yakni JG1, JG2, dan JG3), dapat diketahui bahwa (setidak-tidaknya) terdapat tiga variasi pengaruh mantra JG. Pertama, kondisi tergila-gila dengan intensitas tinggi (tercermin pada mantra JG1). Dalam unsurtujuan pada mantra JG1 terdapat perulangan atau pola repetisi yang diyakini mampu mengintensifkan kekuatan magi, yakni perulangan dengan variasi pada fraseedan sing edan ke dalam frase gendheng sing gendheng, dan bunyeng sing bunyeng. Kedua, kondisi tergila-gila dengan intensitas rendah (tercermin pada mantra JG2). Dikatakan memiliki intensitas rendah karena frase edan sing edan pada mantra JG2 tidak mengalami perulangan dalam larik berikutnya. Ketiga, kondisi gila (tercermin pada mantra JG3). Meskipun frase edan sida edan tidak mengalami perulangan pada larik berikutnya, mantra JG3 memiliki akibat yang paling fatal bila dibandingkan dengan varian mantra JG lainnya, yakni gila (sida edan). Ketiga kondisi psikologis tersebut (yakni sangat tergila-gila, tergila-tergila-gila, dan gila) memiliki korelasi dengan ide hakiki formula repetisi tautotes, yakni perulangan kata edan dalam satu konstruksi larik. Adapun ide hakiki tiga larik terakhir pada unsur tujuan adalah ancaman agar tidak sembuh (aja mari), si subjek yang akan menyembuhkan (isun hang nambani), dan kehendak Allah (kersane Gusti Allah). Pernyataan aja mari dan isun hang nambani tersebut akan terwujud dalam realitas. Artinya, seseorang yang terkena kekuatan gaib mantra JG akan sulit untuk disembuhkan (aja mari). Namun, hal itu menjadi mudah apabila yang menyembuhkan adalah orang yang memantrainya (isun hang nambani). Hal semacam itu banyak ditemukan dalam realitas empiris di lapangan.
pemanfaatan mantra JG tidak hanya terbatas pada relasi sosial (hubungan horizontal), tetapi juga menyangkut relasi transendental (hubungan vertikal) dengan kualitas yang bervariasi.
Selain formula, dalam perbandingan antarvarian teks mantra JG juga terdapat ekspresi formulaik. Unsur-unsur yang memiliki persamaan formula antarvarian teks merupakan ekspresi formulaik, karena tersusun atas dasar pola formula. Pola formula merupakan pola yang secara teratur memanfaatkan kata atau frase dalam kondisi matra yang sama. Pola dalam formula sintaktis pada unsur judul, unsur pembuka, unsur niat, sebagian kecilunsur sugesti, sebagian besar unsur tujuan, dan unsur penutup tersusun atas perulangan kalimat secara utuh. Sementara itu, pola dalam formula repetisi tautotes tersusun atas perulangan kata edan.
Bentuk formula tidak hanya terdapat pada perbandingan antarvarian teks, tetapi juga terdapat pada masing-masing varian teks mantra, khususnya pada bagian unsur sugesti dan unsur tujuan. Berikut ini dibahas formula teks masing-masing varian mantra (JG1, JG2, dan JG3) yang terdapat pada unsur sugesti dan unsurtujuan. Dari kutipan dalam Tabel 4 dapat dijelaskan adanya formula pada masing-masing varian teks mantra JG, khususnya yang berpola paralelisme dan repetisi. Formula yang berpola paralelisme dapat dipilah menjadi tiga bagian.Pertama, formula paralelisme sintaktis. Formula tersebut terdapat pada unsur sugesti dalam mantra JG1, JG2, dan JG3. Di dalam formula tersebut juga terdapat formula yang berpola repetisi, yakni formula repetisi anafora, repetisi tautotes, dan formula konkatenasi. Kedua, formula paralelisme sinonim. Formula tersebut terdapat padaunsur tujuan dalam mantra JG1. Di dalam formula tersebut juga terdapat formula yang berpola repetisi, yakni formula repetisi anafora dan repetisi tautotes. Ketiga, formula paralelisme yang membentuk larik. Formula tersebut terdapat pada unsur sugesti dalam mantra JG2. Di dalam formula tersebut juga terdapat formula yang berpola repetisi, yakni formula repetisi anafora. Berikut ini penjelasan ketiga macam formula tersebut.
Formula paralelisme sintaktis terdapat pada unsursugesti dalam mantra JG1, JG2, dan JG3. Formula paralelisme sintaktis dalam mantra JG1 terdapat pada larik (4)-(7) dan (8), sedangkan dalam mantra JG2 terdapat pada larik (7)-(11). Sementara itu, dalam mantra JG3, formula tersebut terdapat pada larik (5)-(6), (7)-(8), dan (9)-(11). Formula tersebut membentuk kerangka larik dengan isi yang bervariasi. Dalam mantra JG1, kerangka larik dibentuk oleh perulangan frase yang sama, yakni frase sun sabetake, sedangkan variasi isi terdapat pada frasegunung gugur, lemah bangka, segara asat, dan ombak sirep. Pola paralelisme sintaktis dalam unsur tujuan pada larik (4)-(7) tersebut mencapai puncak atau semacam kesimpulan pada unsur tujuan, khususnya larik (8), yakni pada frase atine jebeng beyine…. Dengan demikian, larik (8) mantra JG1 merupakan bentuk formula dalam satu varian teks sekaligus dalam perbandingan antarvarian teks.
Sementara itu, pada larik (3)-(4) dalam mantra JG2, perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata kecaruk dan sun, sedangkan variasi isi terdapat pada kata turu-tangekna, tangi-lungguhna, lungguh-degna, ngadeg-lakokna, dan mlaku-playokna. Adapun perulangan kata yang membentuk larik dalam mantra JG3 dipilah menjadi tiga bagian, yakni bagian pertama pada larik (5)-(6), bagian kedua pada larik (7)-(8), sedangkan bagian ketiga pada larik (9)-(11). Bagian pertama, perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata dhanyang, sedangkan variasi isi meliputi kata kaki-bapa dan nini-ibu. Bagian kedua, perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata kuma, asale, dan ira, sedangkan variasi isi meliputi kata poteh-abang dan bapak-emak. Bagian ketiga, perulangan kata yang sama yang membentuk kerangka larik adalah kata ira-mandi dan isun-mandi,
[31] sedangkan
Di dalam formula paralelisme sintaktis mantra JG1, JG2, dan JG3 tersebut juga terdapat formula berpola repetisi. Pada larik (4)-(8) mantra JG1 terdapat formula repetisi anafora, sedangkan pada larik (7)-(11) mantra JG2 terdapat formula repetisi anafora dan formula konkatenasi. Sementara itu, pada larik (5)-(6) dan (9)-(11) mantra JG3 terdapat formula repetisi tautotes, sedangkan pada larik (7)-(8) dalam mantra yang sama terdapat formula repetisi anafora. Formula repetisi anafora adalah pola repetisi yang berwujud perulangan kata atau frase pertama pada sebuah larik ke dalam posisi yang sama pada larik-larik berikutnya, sedangkan formula konkatenasi adalah pola repetisi kata/frase terakhir suatu larik ke dalam kata/frase awal atau tengah pada larik berikutnya. Sementara itu, formula repetisi tautotes adalah pola repetisi kata atau frase dalam sebuah konstruksi larik. Formula repetisi anafora dalam mantra JG1 berupa perulangan frase sun sabetake, sedangkan dalam mantra JG2 berupa perulangan kata kecaruk dalam setiap awal larik.
Dalam mantra JG3, formula repetisi anafora berupa perulangan kata kuma dalam setiap awal larik. Sementara itu, formula konkatenasi dalam mantra JG2 mengalami variasi atau perubahan. Artinya, kata terakhir suatu larik yang diulang menjadi kata di tengah pada larik berikutnya mengalami variasi atau perubahan, yakni perubahan dari kata bentukan ke kata dasar. Hal semacam itu juga terjadi pada mantra SM2, sebagaimana telah dibahas. Pada larik (7) mantra JG2, kata tangekna mengalami perulangan atau konkatenasi menjadi kata tangi pada larik (8). Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam proses konkatenasi terjadi perubahan dari kata bentukan menjadi kata dasar. Demikian juga dengan larik (8)-(11). Konkatenasi dari larik (8) ke larik (9) adalah kata lungguhna ke katalungguh, sedangkan konkatenasi dari larik (9) ke larik (10) adalah kata degna ke kata ngadeg. Adapun konkatenasi dari larik (10) ke larik (11) adalah kata lakokna ke kata mlaku. Sementara itu, formula repetisi tautotes dalam mantra JG3 pada larik (5)-(6) berupa perulangan kata dhanyang, sedangkan pada larik (9)-(11) berupa perulangan kata roh-mandi, sukma-mandi, cipta-mandi dalam satu konstruksi larik.
Sementara itu, formula paralelisme sinonim terdapat pada larik (9)-(11) mantra JG1. Formula paralelisme sinonim merupakan kesejajaran yang menggunakan kata berbeda, tetapi memiliki arti sama. Kesejajaran tersebut terlihat pada penggunaan kata kadhung dan sing dalam matra yang sama, sedangkan sinonim terdapat pada kata edan,gendheng, dan bunyeng. Meskipun memiliki nuansa yang agak berbeda, ketiga kata tersebut mengacu pada kondisi psikologis yang sama, yakni gila. Di dalam formula paralelisme sinonim tersebut juga terdapat formula repetisi anafora dan repetisi tautotes. Formula repetisi anafora terdapat pada perulangan kata kadhung dalam setiap awal larik, sedangkan formula repetisi tautotes terdapat pada perulangan kata edan, gendheng, danbunyeng dalam sebuah konstruksi larik.
Adapun formula paralelisme yang membentuk larik (dengan isi yang bervariasi) terdapat pada unsur sugesti dalam mantra JG2, yakni pada larik (4)-(6). Formula paralelisme tersebut berupa frase, yakni gabungan katasun dengan kata ulang wolak-walik, remet-remet, dan kerik-kerik. Ketiga kata ulang tersebut merupakan bentuk variasi yang memiliki makna sama (atau hampir sama), yakni sebuah upaya untuk mengganggu atau menggoda. Di dalam formula paralelisme yang membentuk larik tersebut juga terdapat formula repetisi anafora, yakni berupa perulangan kata sun pada setiap awal larik.
larik yang melandasi larik-larik berikutnya atau larik yang diuraikan ke dalam larik-larik berikutnya, terutama larik (5)-(8). Oleh karena itu, larik (4) mantra JG3 tersebut dapat disebut sebagai klausa superimpos (superimposed clause), yakni klausa yang berlapis, sedangkan larik (5)-(8) dapat dikatakan sebagai klausa subordinat (subordinate clause).[33]
Bentuk-bentuk formula tersebut diungkapkan dalam rangka untuk menyampaikan ide hakiki. Berikut ini dibahas ide hakiki yang disampaikan dalam bentuk formula, baik yang berpola paralelisme maupun repetisi. Ide hakiki formula paralelisme sintaktis dalam mantra JG1 adalah sabetake, yakni penggunaan kekuatan dengan cara dicambukkan. Hal tersebut didukung atau dipertegas oleh ide hakiki formula repetisi anafora yang berupa perulangan frase sun sabetake pada setiap awal larik. Kekuatan tersebut dicitrakan sebagai kekuatan yang sangat dahsyat sehingga apa pun yang
dicambuk menjadi hancur
(gunung menjadi gugur, lemah menjadibangka, segara menjadi asat dan ombak menjadi sirep). Dengan kekuatan semacam itu maka ketika “dicambukkan” kepada ati seseorang, ia akan “hancur” atau “luluh”. Artinya, orang tersebut akan jatuh cinta secara berlebihan kepada si pemantra. Dengan demikian, makna perulangan kata sabetake yang digabung dengan frase yang variatif pada pola paralelisme sintaktis tersebut adalah untuk membangun sugesti atau imageatas kekuatan dahsyat mantra yang bersangkutan.
Sementara itu, ide hakiki formula paralelisme sintaktis dalam mantra JG2 adalah upaya agar si objek senantiasa melakukan aktivitas secara berkelanjutan. Hal itu tercermin dari rentetan kata terakhir pada masing-masing larik [larik (7)-(11)], yakni tangekna, lungguhna, degna, lakokna, dan playokna. Fenomena seperti itu hampir sama dengan yang terjadi atau terdapat pada mantra SM2, sebagaimana telah dibahas. Perbedaannya, dalam mantra SM2, yang melakukan adalah sira atas perintah isun, sedangkan dalam mantra JG2, yang melakukan adalah isun(sun) sendiri. Dengan demikian, dalam mantra JG2, isun selalu berusaha agar si objek senantiasa melakukan aktivitas secara berkelanjutan. Misalnya, ketika si objek sedang tidur (turu), isun membangunkannya (tangekna), dan ketika si objek sudah bangun (tangi), isun “mendudukkannya” (lungguhna). Begitu seterusnya, hingga ketika si objek sedang berjalan (mlaku) pun isun mempengaruhinya untuk berlari (playokna). Hal tersebut mengandung makna bahwa si objek tidak boleh dalam keadaan diam (turu), tetapi harus selalu beraktivitas yang berujung pada mendekatnya si objek kepada si subjek (pemantra). Dalam mendekat pun tidak dilakukan dengan cara berjalan (mlaku), tetapi dengan cara berlari (playokna), dengan harapan agar tujuan si subjek dalam memikat si objek dapat lebih cepat tercapai.
Sementara itu, formula repetisi anafora dan formula konkatenasi dalam mantra JG2 tersebut memberi penegasan dalam rangka membangun sugesti terhadap kekuatan gaib. Perulangan kata kecaruk dalam posisi matra yang sama dan perulangan kata bentukan menjadi kata dasar (tangekna-tangi, lungguhna-lungguh, degna-ngadeg,dan lakokna-mlaku) menimbulkan citra penyemangat dalam mempertegas sugesti tersebut.
tersebut memiliki arti “orang tua biologis”. Adapun penyebutan dhanyang-dhanyang tersebut memiliki makna bahwa mereka diharapkan bersedia membantu kepada pemantra melalui kekuatan gaibnya sehingga akan terhimpun kekuatan gaib yang lebih dahsyat dalam mantra yang bersangkutan. Bagian kedua, memiliki ide hakiki kuma dengan variasi poteh dan abang. Hal tersebut sama dengan fenomena yang terjadi pada mantra SM3. Sebagaimana yang telah dibahas dalam mantra SM3, dalam mantra JG3 ini kuma poteh memiliki arti cairan putih yang berasal dari bapak, yakni berupa sperma, sedangkan kuma abang adalah cairan merah yang berasal dari ibu, yakni berupa darah keperawanan (ovarium). Menyatunya kedua cairan itu melambangkan embrio kehidupan yang didasarkan oleh cinta kasih. Bagian ketiga, memiliki ide hakiki mandi(‘manjur’), khususnya dalam keterkaitannya dengan kepemilikian bersama antara ira dan isun. Mandi adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya efektivitas kekuatan gaib. Kekuatan gaib akan dapat dirasakan oleh seseorang apabila ia memiliki kepercayaan atau keyakinan terhadap hal tersebut. Dengan demikian, peranan sugesti cukup signifikan dalam membentuk prakondisi atau image terhadap suatu kekuatan gaib agar menjadimandi.
Selain itu, banyak mantra atau ucapan dukun yang mandi karena, setidak-tidaknya, dilandasi oleh tiga hal.Pertama, landasan pemahaman dan penghayatan si subjek (dukun) terhadap rahasia kosmologi melalui simbol-simbol tubuh, baik yang berdimensi verbal maupun nonverbal, sebagai kunci pintu masuk untuk menghayati rahasia hidup atau rahasia alam.[34] Kedua, adanya kesesuaian antara lahir dan batin; menyatunya ucapan/pikiran dan tindakan; begitu niat dinyatakan, ia harus dilaksanakan.[35] Ketiga, kemampuan membangkitkan kekuatan tubuh yang berupa kekuatan bioplasma, bioelektron, dan tenaga psikokinetis melalui mekanisme laku mistik.