BAB IV : TRANSKRIPSI DAN ANALISIS LAGU FARITIA HALU
4.1.2 Deskripsi Analisis Melodi Lagu Faritia Halu
4.1.2.7 Formula Melodi
Formula melodi dalam pembahasan ini diartikan sebagai bentuk penyajian melodi dalam lagu Faritia Halu. Malm menjelaskan bahwa terdapat lima istilah yang dapat digunakan untuk mengalisis formula melodi yaitu :
1. Repetitive adalah bentuk nyanyian dengan melodi pendek yang diulang-ulang.
2. Iterative adalah bentuk nyanyian yang memakai formula melodi yang kecil dengan kecenderungan pengulangan-pengulangan di dalam keseluruhan nyanyian.
3. Strophic adalah bentuk melodi yang diulang tetapi menggunakan teks nyanyian yang baru atau berbeda.
4. Reverting adalah bentuk yang apabila dalam nyanyian terjadi pengulangan pada frasa pertama setelah terjadi penyimpangan-penyimpangan melodi.
5. Progressive adalah bentuk nyanyian yang terus berubah dengan menggunakan materi melodi yang selalu baru.
Dari beberapa istilah tersbut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bahwa bentuk penyajian melodi dalam lagu faritia halu termasuk ke dalam kategori repetitive.
4.1.2.7. Kontur
Kontur adalah garis pergerakan melodi dalam sebuah nyanyian.
Malm membedakan kontur ke dalam beberapa jenis, sebagai berikut:
1. Ascending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk naik dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.
2. Descending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk turun dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah.
3. Pendulous yaitu garis melodi yang bentuk gerakannya melengkung dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah, kemudian kembali lagi ke nada yang lebih tinggi atau sebaliknya.
4. Conjuct yaitu garis melodi yang sifatnya bergerak melangkah dari satu nada ke nada yang lain baik naik maupun turun.
5. Terraced yaitu garis melodi yang bergerak berjenjang baik dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah atau dimulai dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.
6. Disjucnt yaitu garis melodi yang bergerak melompat dari satu nada ke nada yang lainnya, dan biasanya intervalnya di atas sekonde baik mayor maupun minor.
7. Static yaitu garis melodi yang bentuknya tetap yang jaraknya mempunyai batas- batasan.
Berdasarkan istilah beberapa kontur di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pergerakan melodi pada nyanyian Faritia Halu terdiri dari:
- Kontur ascending dan decending
- Kontur static
- Kontur conjuct
Beberapa gaya musikal dari lagu Faritia Halu yang dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Lagu Faritia Halu dinyanyikan dengan birama 4/4.
2. Lagu Faritia Halu dinyanyikan secara antusias.
3. Lagu Faritia Halu terdiri dari sembilan ruang birama.
4. Lagu Faritia Halu menggunakan dua tanda legato pada pertengahan lagu.
4.2 Kesimpulan
Komposisi di dalam lagu Faritia Halu menggunakan tangga nada diatonik.
Bila dilihat berdasarkan teks lagu, Faritia Halu mengungkapkan rasa kepedulian dan dorongan semangat terhadap orang-orang yang sedang melakukan
aktivitas di ladang. Bila dilihat berdasarkan kecepatannya, lagu Faritia Halu ini sangat cocok dinyanyikan dengan kecepatan sedang. Selanjutnya lagu ini tergolong repetitive artinya nyanyian ini tergolong dalam melodi yang dinyanyikan secara berulang-ulang.
BAB V
KONTINUITAS DAN KAJIAN NILAI SOSIAL DALAM FARITIA HALU
Bab ini akan membahas mengenai nilai-nilai sosial dan kontinuitas kesenian Faritia Halu. Pembahasan ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan terkait nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam Faritia Halu. Mengenai bentuk penyajian serta bagaimana keberlanjutan Faritia Halu akan menjadi aspek penting yang akan dibahas dalam bab ini, mengingat salah satu tujuan dari pembahasan skripsi ini yaitu mengkaji tentang keberlanjutan Faritia Halu dengan melihat eksistensi Faritia Halu pada dua dekade yaitu pada masa sejarah dan masa modernisasi. Oleh karena itu diharapkan kajian keberlanjutan Faritia Halu pada dua dekade tersebut akana menjelaskan tentang keberlanjutan Faritia Halu dimasa yang akan datang.
5.1 Kajian Nilai Sosial yang Terkandung di dalam Kesenian Faritia Halu Nilai sosial merupakan nilai yang yang dianut oleh masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Nilai-nilai sosial dalam Faritia Halu merupakan wujud dari identitas diri masyakat desa Lawelu sehingga dapat disebut sebagai jati diri atau kepribadian (Robert Sibarani, 2012:142-143). Dengan itu dapat dikatakan bahwa kepribadian masyarakat setempat di representasikan melalui nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam kebudayaan Faritia Halu.
Nilai-nilai sosial yang terkandung dalam kesenian Faritia Halu secara tidak sadar tampil secara tersirat di dalam teks nyanyian Faritia Halu bahkan secara tidak langsung telah mempengaruhi tingkah laku kebudayaan masyarakat setempat. Berdasarkan kajian makna teks pada pembahasan bab sebelumnya, berikut ini adalah nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam kesenian Faritia Halu.
5.1.1 Pengorbanan
Dalam kehidupan individu banyak hal yang ingin dicapai, tentunya untuk mencapai keinginan tersebut maka setiap orang harus melakukan suatu usaha dan hal ini disebut dengan pengobanan. Pengorbanan tersebut dapat berupa waktu, tenaga, pikiran dan lain sebagainya. Begitu pula halnya dalam kesenian Faritia Halu. Terkait teks nyanyian Faritia Halu terdapat kalimat “ta bokai, ta folala” yang mengandung arti bahwa mari kita buka dan beri jalan. Kalimat tersebut merupakan sebuah kiasan yang mengandung arti tersirat, yaitu menggambarkan semangat para pemain Faritia Halu untuk mendorong petani-petani agar antusias bekerja untuk mencapai sebuah cita-cita yaitu demi terselesaikannya pekerjaan diladang.
Dalam penyajian Faritia Halu, demi keberhasilan kegiatan Faritia Halu maka orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini harus lebih dahulu mengorbankan tenaga yaitu mereka melompati ruas-ruas bambu sambil bernyanyi.
Tanpa sebuah pengorbanan para pemain Faritia Halu tentunya kegiatan ini tidak akan terlaksana dengan semestinya.
5.1.2 Kerja Keras
Kerja keras merupakan sebuah tindakan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berulang-ulang sampai hasil yang diinginkan bisa tercapai. Dalam masyarakat Nias arti kerja keras itu diwujudkan dalam bentuk kegiatan seperti bertani, beternak, bersawah dan sebagian menjadi pelaut.
Adapun nilai kerja keras tersirat di dalam Faritia Halu. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan sehari-hari masyarakat yaitu melakukan pekerjaan di ladang untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan.
5.1.3 Gotong Royong
Gotong royong adalah hubungan kerjasama sekelompok individu untuk melakukan suatu pekerjaan. Demikian pula dalam Faritia Halu, terdapat nilai gotong royong yang tersirat di dalamnya. Seperti yang telah diketahui bahwa kesenian Faritia Halu memiliki ciri khas menggunakan ruas-ruas bambu, tentunya untuk mempersiapkan bambu-bambu tersebut maka sekelompok individu akan melakukan kerja sama. Dalam teks Faritia Halu juga terdapat kalimat “afu alio halőwő da”. Artinya agar pekerjaan kita segera selesai dan kalimat ini mengandung makna sebuah hubungan kerja sama dan saling tolong-menolong dalam melakukan pekerjaan di ladang dengan sebuah tujuan yang ingin dicapai yaitu pekerjaan segera selesai.
5.1.4 Kebersamaan
Kebudayaan Nias identik dengan tarian dan vokal begitu pula dengan nyanyian Faritia Halu. Dalam penyajian nya, nyanyian Faritia Halu tidak dinyanyikan oleh satu orang saja, tetapi dinyanyikan oleh banyak orang. Hal ini tentunya sangat relevan dengan nilai kebersamaan. Kebudayaan Faritia Halu tidak dapat disebut sebagai Faritia Halu jika tidak dilakukan oleh sekelompok individu, justru semakin banyak orang yang terlibat di dalam Faritia Halu maka kegiatan ini akan semakin lebih bernuansa. Itu sebabnya mengapa nilai kebersamaan di dalam Faritia Halu sangat penting.
5.1.5 Religius
Faritia Halu tidak hanya sekedar kegiatan rutinitas yang dilakukan ketika panen, akan tetapi dalam Faritia Halu terdapat unsur keagamaan. Kegiatan melompati ruas-ruas bambu merupakan suatu ungkapan sukacita sekaligus rasa syukur kepad Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang berhasil dan memuaskan. Berdasarkan hal itu dapat dikatakan bahwa Faritia Halu memiliki nilai keagamaan. Hal tersebut sangat berkaitan dengan mulai asal mula berkembangnya Faritia Halu di pulau Nias dan bersamaan masuk nya agama di pulau Nias pada tahun 1960-an.
5.1.6 Peduli Sosial
Peduli sosial merupakan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada oranglain dan masyarakat yang membutuhkan. Demikian juga di dalam Faritia Halu, tidak hanya sekedar untuk mencapai suatu tujuan tanpa menjunjung tinggi nilai peduli sosial. Masyarakat yang terlibat dalam Faritia Halu memiliki sikap peduli terhadap sesama individu dengan saling membantu orang-orang disekitar mereka. Hasil panen yang didapatkan pada saat itu tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka akan membagikan dengan masyarakat lain yang membutuhkan.
5.2 Kontinuitas dan Perubahan Faritia Halu
Kontinuitas merupakan situasi yang diharapkan dalam menentukan sikap untuk menetapkan ‘sesuatu’ dapat hidup, ditunjang oleh tindakan-tindakan dari masyarakat yang menginginkannya tetap berlanjut (Nurmanela, 2014:251-252).
Nurmaneal kemudian berpendapat bahwa keberlanjutan’sesuatu’ agar tetap hidup itu tergantung dari sejarah dan latarbelakang lingkungan yang akan menentukannya. Berdasarkan pendapat Nurmanela tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk melihat bagaimana eksistensi Faritia Halu dalam masyarakat Nias saat ini. Bagaimana latarbelakang sejarah penggunaan Faritia Halu dari masa dulu, masa kini dan masa yang akan datang penting untuk dibahas pada bagian kontinuitas.
Terkait kontinuitas, Merriam menjelaskan bahwa keberlanjutan sebuah kebudayaan selalu ditandai dengan perubahan. Perubahan terjadi karena kebudayaan itu sendiri bersifat dinamis, terus bergerak sesuai dengan perubahan zaman (Herskovits dalam Merriam, 1964:303).
Selanjutnya, untuk mengkaji eksistensi Faritia Halu, penulis akan membahas eksistensi Faritia Halu dalam dua dekade waktu Sejarah (tahun 1960-1999) dan modernisasi (tahun 2000-sekarang). Namun sebelum membahas lebih lanjut terkait dengan kontinuitas Faritia Halu, berikut ini kumpulan tahun-tahun penting dalam perkembangan peradaban suku Nias dari berbagai sumber seperti tulisan Sonjaya (2008), Hammerle (1998: 2001;2008), Tuanko Rao (1964),Titi (2015) dan Happy (2019).
5.2.1 Masa Sejarah (1960-1999)
Setelah masa kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1960-an merupakan masa dimana negara China masih menduduki pulau Nias. Pada saat itu masyarakat Nias sudah mengenal budaya dan mempertahankan kebudayaan mereka salah satunya yaitu kebudayaan Faritia Halu. Pertama sekali kebudayaan ini berkembang di desa Lawelu, tepatnya di kecamatan Ulu Moro’ő. Berdasarkan informasi dari bapak Sukarman Gulő, secara geografis tempat ini teletak di atas gunung dan terdapat sebuah Omo Hada yang menjadi tempat perkumpulan masyarakat di hari-hari tertentu untuk mengadakan pertemuan.
Bila dilihat berdasarkan letak geografisnya yaitu disekitar gunung, maka masyarakat desa ini sebagian besar bekerja sebagai petani. Para masyarakat pada zaman itu lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar yaitu sebagai petani, sehingga mereka berinisiatif untuk menciptakan sebuah suasana baru dan disebut sebagai Faritia Halu.
Faritia Halu menjadi sebuah simbol sukacita dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi para petani. Rasa sukacita tersebut terlihat dari ciri khas para pemain Faritia Halu yang melompat-lompat. Selain menjadi sebuah simbol sukacita, Faritia Halu juga menjadi simbol bagi para masyarakat untuk bekerja dan saling bergotong-royong.
Masyarakat Nias pada zaman itu menggunakan benda-benda disekitar mereka untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Begitu halnya dengan Faritia Halu, masyarakat Nias menggunakan peralatan berupa bambu dalam permainan ini untuk menghasilkan bunyi sebagai ritem. Walaupun sebenarnya dalam permainan ini yang digunakan yaitu alat penumbuk padi (alu), namun dengan menggunakan bambu sama sekali tidak mengurangi makna dari Faritia
Halu. Selain menggunakan bambu, masyarakat pada zaman itu juga belum mengenal pakaian yang terbuat dari tekstil sehingga pada zaman itu mereka menggunakan pakaian yang terbuat dari dari kulit pohon atau menenun serat-serat kulit pohon atau rumput. Adapun pakaian untuk pria dinamakan tradisional Nias
“Oholu” dan untuk perempuan di namakan “Baru Ladari” (lihat Gambar 5.1 dan 5.2).
Gambar 5.1 : Oholu (sumber : Museum Pusaka Nias)
Gambar 5.2 : Baru Ladari
Pada tahun yang sama juga yaitu pada tahun 1960 merupakan masa dimana mulai masuknya kebudayaan luar di Nias salah satunya yaitu China.
Pastor Hammerle menulis di dalam buku Asal Usul Masyarakat Nias menerangkan bahwa pada pertengahan abad ke-13 s/d 20, orang China berimigrasi ke Indonesia melalui daratan Filipina. Kedatangan China membawa pengaruh kesenian dan motif kesenian tersebut tertampung di kepulauan Indonesia serta mengalami asimilasi khususnya di Kalimantan.
Terkait dengan keberadaan Nias pada masa itu mulai menerima kebudayaan luar, kemungkinan besar telah terjadi kontak budaya Nias dengan kebudayaan lain. Ciri khas Faritia Halu ternyata memiliki kemiripan dengan kebudayaan lain, seperti di Filipina, Malaysia sedangkan di Indonesia terdapat di Kalimantan, Flores, dan Ambon. Namun, bila dilihat dari kemiripan cara bermain dan tujuan dari kebudayaannya, Faritia Halu memiliki kemiripan yang dekat dengan kebudayaan Filipina dan Kalimantan.
Pastor Hammerle menulis di dalam buku Asal Usul Masyarakat Nias menerangkan bahwa pada pertengahan abad ke-13 s/d 20, orang China berimigrasi ke Indonesia melalui daratan Filipina. Kedatangan China membawa pengaruh kesenian dan motif kesenian tersebut tertampung di kepulauan Indonesia serta mengalami asimilasi khususnya di Kalimantan. Tulisan pastor Hammerle ini mendukung tentang eksistensi Faritia Halu kemungkinan besar mendapat pengaruh dari wilayah kebudayaan lain dan telah terjadi kontak budaya dengan wilayah-wilayah yang bersangkutan.
Menurut Purcel (1977) di dalam bukunya The Chinese in South East Asia ,migrasi China ke Nusantara di bagi dalam tiga tahap, pertama pada masa kerajaan, kedua pada masa kedatangan Eropa dan ketiga pada masa penjajahan Belanda. Pada tahap ketiga ini berkaitan dengan migrasi China di Kalimantan dan Nias.
Mengingat pada masa itu Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda, maka Belanda sengaja mendatangkan China di Kalimantan, pantai Sumatera (termasuk Nias), dan pesisir Utara Jawa. Adapun tujuan Belanda mendatangkan China ke wilayah-wilayah tersebut yaitu untuk mengatasi proyek pertambangan dan perkebunan.
Pada abad ke XVII bangsa Eropa datang ke wilayah Asia Tenggara.
Kedatangan bangsa Eropa tersebut terdiri dari Portugis, Belanda, Inggris dan Spanyol. Kemudian mereka menjadikan beberapa pelabuhan di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia sebagai pusat kegiatan ekonomi. Dalam situasi tersebut orang China menjadikan ini sebagai peluang untuk melakukan migrasi dan melakukan perdagangan. Orrang-orang China yang melakukan migrasi ke Indonesia melewati jalur daratan Filipina. Dalam proses melalui jalur Filipina tersebut tentunya terjadi kontak budaya antara China dan Filipina sehingga tidak menutup kemungkinan apabila kebudayaan Filipina termasuk tarian Ni Tikling ini masuk ke Kalimantan dan Nias.
5.2.2 Modernisasi (2000-sekarang)
Masa modernisasi dapat diartikan sebagai proses transmisi dari kehidupan masyarakat tradisional menuju kehidupan yang lebih maju. Adapun perkembangan modernisasi di pulau Nias ditandai dengan perkembangan sistem pendidikan, teknologi informasi dan transportasi. Dengan ada nya perkembangan tersebut maka pola pikir masyarakat Nias juga amengikuti perubahan zaman, hal ini ditandai dengan semakin banyaknya masyarakat Nias yang merantau ke negeri orang untuk menempuh pendidikan.
Sejak terjadinya gempa bumi di Nias pada bulan Maret tahun 2005, kejadian ini membawa perubahan besar dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Nias. Dengan kedatangan warga negara asing dari luar negeri ke Nias untuk memberikan bantuan bantuan bencana alam mengakibatkan terjadinya kontak budaya dengan masyarakat lokal. Dibalik duka yang dialami masyarakat Nias pada masa itu, secara tidak sadar telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Nias ke arah modernasasi sampai hari ini.
Adapun dampak perubahan pola dari modernisasi pada masyarkat Nias, terlihat dari perubahan tingkah laku mereka dalam melaksanakan tradisi mereka, termasuk dalam Faritia Halu. Sejak zaman modernisasi ini, kegiatan Faritia Halu tidak lagi dilakukan sebagaimana mestinya, akan tetapi pada masa kini dijadikan sebagai sebuah pertunjukan dalam acara penyambutan tamu-tamu besar di pulau Nias. Selain itu, penggunaan alat musik tradisional sudah jarang digunakan dalam Faritia Halu, penggunaan alat musik tradisional kini diganti dengan
menggunakan audio MP3 ataupun menggunakan alat musik electrophone seperti keyboard.
Berdasarkan hal ini, lambat laun makna Faritia Halu yang sebenarnya semakin dilupakan. Menurut informasi ibu Marta, fenomena ini terjadi karena faktor keterbatasan dalam membuat instrumen musik tradisional di zaman ini sekaligus keinginan masyarakat yang lebih menginginkan proses yang instan zaman kini. Faktor lainnya yang mengakibatkan hal ini terjadi yaitu dikarenakan mata pencaharian masyarakat Nias saat ini tidak hanya petani saja, namun terdiri dari berbagai macam pekerjaan saat ini seperti guru, nelayan, pengusaha bahkan sebagaian merantau di tanah orang untuk menempuh pendidikan.
Berdasarkan fenomena di atas, penulis berpendapat bahwa telah penggunaan Faritia Halu mengalami pergeseran makna. Dahulu Faritia Halu dianggap sebagai salah kebudayaan yang dijunjung tinggi namun saat ini konsep nya telah mengalami perubahan bahkan sebagian besar masyarakat kini sudah tidak mengetahui makna sebenanrnya dari Faritia Halu dan kini eksistensi Faritia Halu hanya dijadikan sebagai ajang formalitas. Melihat situasi seperti itu penulis berpendapat bahwa penggunaan IPTEK dalam Faritia Halu akan tetap digunakan mengingat semakin canggih nya IPTEK pada zaman ini. Berikut penulis akan menjelaskan dalam bentuk tabel tentang perubahan Faritia Halu pada masa sejarah, modernisasi dan kemungkinan yang akan terjadi setelah masa sekarang ini (lihat tabel 5.2)
Masa Sejarah Moderniasasi Proyeksi Perubahan yang akan terjadi pada masa yang akan datang
5.3 Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian nilai-nilai sosial dalam Faritia Halu, penulis menemukan lima jenis nilai sosial yang terkandung dalam kebudayaan Faritia Halu antara lain yaitu (1) pengorbanan ; (2) kerja keras; (3) religius; (4) peduli sosial; (5) gotong-royong; (6) kebersamaan. Keenam nilai-nilai tersebut menggambarkan perilaku masyarakat di desa Lawelu. Bila dilihat dari eksistensi Faritia Halu dapat dilihat dari dua waktu yaitu masa sejarah dan modernisasi.
Berdasarkan dua periode waktu tersebut Faritia Halu mengalami perubahan pengunaan dan fungsi.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa Faritia Halu merupakan sebuah kesenian Nias yang berupa tarian dan nyanyian yang diiringi oleh alat musik tradisional. Adapun alat-alat musik tersebut yaitu aramba, doli-doli, faritia, koko, boku-boku, duri doke, koroco, tutuhao dan fondrahi tutu. Begitu juga dengan nyanyian dalam kesenian ini yang berjudul Faritia Halu. Pada dasarnya Faritia Halu berfungsi sebagai bentuk sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hasil panen yang bagus.
Selain itu Faritia Halu juga digunakan untuk mendorong dan memberi semangat kepada sekelompok individu yang sedang melakukan pekerjaan di ladang
Faritia Halu tidak hanya sebagai permainan, akan tetapi memiliki nilai-nilai sosial yang secara tidak langsung mempengaruhi perilaku sekelompok masyarakat. Hal itu terlihat dari kegiatan sehari-hari mereka yang saling membantu dan beegotong-royong. Keunikan yang terdapat di dalam Faritia Halu menambah kekayaan budaya Nias khusus nya di Nias Barat sekaligus menjadi identitas kebudayaan Nias.
Tidak tertutup kemungkinan setelah diketahui Faritia Halu memiliki kemiripan dengan kebudayaan lain seperti pada kebudayaan Kalimantan dan Filipina. Hal itu disebabkan karena pada masa sejarah, pulau Nias mulai menerima kebudayaan-kebudayaan dari luar. Hal itu berawal dari penduduk China yang memasuki atau bermigrasi ke pulau Nias melalui daratan Filipina.
Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa pulau Nias telah mengalami kontak budaya dengan daerah-daerah lain.
Perkembangan Faritia Halu dibagi ke dalam dua masa, yaitu masa sejarah dan masa modernisasi. Setelah pulau Nias mengalami peristiwa bencana alam yaitu gempa bumi, kebudayaan Faritia Halu mulai pudar. Hal itu ditandai dengan penampilan Faritia Halu tidak digunakan lagi ketika bekerja diladang akan tetapi kini digunakan sebagai ajang pertunjukan. Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu adalah pekerjaan masyarakat yang sebagian besar tidak bekerja lagi sebagai petani.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi, penulis dapat menyimpulkan Faritia Halu bukan kebudayaan lokal yang dimiliki oleh Nias.
Selanjutnya Faritia Halu telah mengalami pergeseran makna dan mengalami banyak perubahan-perubahan bila dilihat dari penggunaan dan fungsi sosialnya.
6.2 Saran
Tulisan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan baik dari teknik penulisan terutama cara penyampaian informasi yang terkandung didalamnya.
Oleh karena itu dibutuhkan perbaikan-perbaikan guna menyempurnakan tulisan ini. Diharapkan kepada penulis yang akan mengidentifikasi Faritia Halu selanjutnya untuk dapat menganalisis struktur musikal dalam Faritia Halu dan mengidentifikasi perkembangan Faritia Halu lebih banyak.
Penulis juga mengharapkan kepada pelaku-pelaku seni khususnya ono niha untuk mencari tau lebih banyak lagi tradisi musik ono niha, karena hal itulah yang menjadi ciri khas ono niha. Kepedulian pemerintah dan orang tua untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nias kepada generasi muda juga sangat diharapkan guna terus melestarikan budaya ono niha.
DAFTAR PUSTAKA
Dachi, Calvin. 1992. Hoho: Tradisi Musik Vokal Nias. Buletin Mahasiswa Etnomusikologi- Medan, Vol. 1, No. 1, hal. 25 s.d. 26
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka
Devale, Carole sue. 1990. “Organising organology”. Dalam Selected Reports in Ethnomusicoloy. California. University of California. Volume VIII, Januari 1990 Hammerle, Johannes. 2001. Asal usul masyarakat Nias suatu
Devale, Carole sue. 1990. “Organising organology”. Dalam Selected Reports in Ethnomusicoloy. California. University of California. Volume VIII, Januari 1990 Hammerle, Johannes. 2001. Asal usul masyarakat Nias suatu