• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : TRANSKRIPSI DAN ANALISIS LAGU FARITIA HALU

4.2 Kesimpulan

Komposisi di dalam lagu Faritia Halu menggunakan tangga nada diatonik.

Bila dilihat berdasarkan teks lagu, Faritia Halu mengungkapkan rasa kepedulian dan dorongan semangat terhadap orang-orang yang sedang melakukan

aktivitas di ladang. Bila dilihat berdasarkan kecepatannya, lagu Faritia Halu ini sangat cocok dinyanyikan dengan kecepatan sedang. Selanjutnya lagu ini tergolong repetitive artinya nyanyian ini tergolong dalam melodi yang dinyanyikan secara berulang-ulang.

BAB V

KONTINUITAS DAN KAJIAN NILAI SOSIAL DALAM FARITIA HALU

Bab ini akan membahas mengenai nilai-nilai sosial dan kontinuitas kesenian Faritia Halu. Pembahasan ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan terkait nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam Faritia Halu. Mengenai bentuk penyajian serta bagaimana keberlanjutan Faritia Halu akan menjadi aspek penting yang akan dibahas dalam bab ini, mengingat salah satu tujuan dari pembahasan skripsi ini yaitu mengkaji tentang keberlanjutan Faritia Halu dengan melihat eksistensi Faritia Halu pada dua dekade yaitu pada masa sejarah dan masa modernisasi. Oleh karena itu diharapkan kajian keberlanjutan Faritia Halu pada dua dekade tersebut akana menjelaskan tentang keberlanjutan Faritia Halu dimasa yang akan datang.

5.1 Kajian Nilai Sosial yang Terkandung di dalam Kesenian Faritia Halu Nilai sosial merupakan nilai yang yang dianut oleh masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Nilai-nilai sosial dalam Faritia Halu merupakan wujud dari identitas diri masyakat desa Lawelu sehingga dapat disebut sebagai jati diri atau kepribadian (Robert Sibarani, 2012:142-143). Dengan itu dapat dikatakan bahwa kepribadian masyarakat setempat di representasikan melalui nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam kebudayaan Faritia Halu.

Nilai-nilai sosial yang terkandung dalam kesenian Faritia Halu secara tidak sadar tampil secara tersirat di dalam teks nyanyian Faritia Halu bahkan secara tidak langsung telah mempengaruhi tingkah laku kebudayaan masyarakat setempat. Berdasarkan kajian makna teks pada pembahasan bab sebelumnya, berikut ini adalah nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam kesenian Faritia Halu.

5.1.1 Pengorbanan

Dalam kehidupan individu banyak hal yang ingin dicapai, tentunya untuk mencapai keinginan tersebut maka setiap orang harus melakukan suatu usaha dan hal ini disebut dengan pengobanan. Pengorbanan tersebut dapat berupa waktu, tenaga, pikiran dan lain sebagainya. Begitu pula halnya dalam kesenian Faritia Halu. Terkait teks nyanyian Faritia Halu terdapat kalimat “ta bokai, ta folala” yang mengandung arti bahwa mari kita buka dan beri jalan. Kalimat tersebut merupakan sebuah kiasan yang mengandung arti tersirat, yaitu menggambarkan semangat para pemain Faritia Halu untuk mendorong petani-petani agar antusias bekerja untuk mencapai sebuah cita-cita yaitu demi terselesaikannya pekerjaan diladang.

Dalam penyajian Faritia Halu, demi keberhasilan kegiatan Faritia Halu maka orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini harus lebih dahulu mengorbankan tenaga yaitu mereka melompati ruas-ruas bambu sambil bernyanyi.

Tanpa sebuah pengorbanan para pemain Faritia Halu tentunya kegiatan ini tidak akan terlaksana dengan semestinya.

5.1.2 Kerja Keras

Kerja keras merupakan sebuah tindakan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berulang-ulang sampai hasil yang diinginkan bisa tercapai. Dalam masyarakat Nias arti kerja keras itu diwujudkan dalam bentuk kegiatan seperti bertani, beternak, bersawah dan sebagian menjadi pelaut.

Adapun nilai kerja keras tersirat di dalam Faritia Halu. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan sehari-hari masyarakat yaitu melakukan pekerjaan di ladang untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan.

5.1.3 Gotong Royong

Gotong royong adalah hubungan kerjasama sekelompok individu untuk melakukan suatu pekerjaan. Demikian pula dalam Faritia Halu, terdapat nilai gotong royong yang tersirat di dalamnya. Seperti yang telah diketahui bahwa kesenian Faritia Halu memiliki ciri khas menggunakan ruas-ruas bambu, tentunya untuk mempersiapkan bambu-bambu tersebut maka sekelompok individu akan melakukan kerja sama. Dalam teks Faritia Halu juga terdapat kalimat “afu alio halőwő da”. Artinya agar pekerjaan kita segera selesai dan kalimat ini mengandung makna sebuah hubungan kerja sama dan saling tolong-menolong dalam melakukan pekerjaan di ladang dengan sebuah tujuan yang ingin dicapai yaitu pekerjaan segera selesai.

5.1.4 Kebersamaan

Kebudayaan Nias identik dengan tarian dan vokal begitu pula dengan nyanyian Faritia Halu. Dalam penyajian nya, nyanyian Faritia Halu tidak dinyanyikan oleh satu orang saja, tetapi dinyanyikan oleh banyak orang. Hal ini tentunya sangat relevan dengan nilai kebersamaan. Kebudayaan Faritia Halu tidak dapat disebut sebagai Faritia Halu jika tidak dilakukan oleh sekelompok individu, justru semakin banyak orang yang terlibat di dalam Faritia Halu maka kegiatan ini akan semakin lebih bernuansa. Itu sebabnya mengapa nilai kebersamaan di dalam Faritia Halu sangat penting.

5.1.5 Religius

Faritia Halu tidak hanya sekedar kegiatan rutinitas yang dilakukan ketika panen, akan tetapi dalam Faritia Halu terdapat unsur keagamaan. Kegiatan melompati ruas-ruas bambu merupakan suatu ungkapan sukacita sekaligus rasa syukur kepad Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang berhasil dan memuaskan. Berdasarkan hal itu dapat dikatakan bahwa Faritia Halu memiliki nilai keagamaan. Hal tersebut sangat berkaitan dengan mulai asal mula berkembangnya Faritia Halu di pulau Nias dan bersamaan masuk nya agama di pulau Nias pada tahun 1960-an.

5.1.6 Peduli Sosial

Peduli sosial merupakan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada oranglain dan masyarakat yang membutuhkan. Demikian juga di dalam Faritia Halu, tidak hanya sekedar untuk mencapai suatu tujuan tanpa menjunjung tinggi nilai peduli sosial. Masyarakat yang terlibat dalam Faritia Halu memiliki sikap peduli terhadap sesama individu dengan saling membantu orang-orang disekitar mereka. Hasil panen yang didapatkan pada saat itu tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka akan membagikan dengan masyarakat lain yang membutuhkan.

Dokumen terkait