• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORMULA PENGHITUNGAN INDIKATOR SPM BIDANG PENDIDIKAN

No Jenis Pelayanan Indikator SPM Formula 1 SARANA DAN

PRASARANA Tersedia satuan pendidikan dalam jarak yang terjangkau dengan berjalan kaki yaitu maksimal 3 km untuk SD/ MI dan 6 km untuk SMP/MTs dari kelompok permukiman permanen.

Prosentase Jumlah kelompok pemukiman permanen di Kab/Kota yang sudah dilayani SD/ MI dalam jarak kurang dari 3 km.

Prosentase Jumlah kelompok pemukiman permanen di Kab/Kota yang sudah dilayani SMP/MTs dalam jarak kurang dari 6 km. 2 Jumlah peserta didik dalam

setiap rombongan belajar untuk SD dan MI tidak melebihi 32 orang, dan untuk SMP dan MTs tidak melebihi 36 orang. Untuk setiap rombongan belajar tersedia 1 (satu) ruang kelas.

Prosentase Jumlah keseluruhan rombel SD/MI di wilayah Kabupaten/Kota yang tidak melebihi 32 orang.

Prosentase Jumlah ruang kelas SD/MI

dibagiJumlah rombel SD/MI di wilayah Kabupaten/Kota.

Jumlah keseluruhan rombel SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota yang tidak melebihi 36 orang.

Prosentase Jumlah ruang kelas SMP/MTs dibagiJumlah rombel SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota.

3. Di setiap SMP dan MTs tersedia ruang laboratorium IPA yang dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk 36 peserta didik dan minimal satu set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen peserta didik.

Prosentase Jumlah keseluruhan SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki ruang laboratorium IPA yang dilengkapi dengan meja dan kursi untuk 36 peserta didik.

Prosentase Jumlah keseluruhan SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki satu set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen peserta didik.

4 Di setiap SD/MI dan SMP/ MTs tersedia satu ruang guru yang dilengkapi dengan meja dan kursi untuk setiap orang guru, kepala sekolah dan staf kependidikan lainnya;

Prosentase Jumlah sekolah di wilayah

Kabupaten/Kota yang memiliki satu ruang guru dan dilengkapi dengan meja dan kursi untuk setiap orang guru, kepala sekolah dan staf kependidikan lainnya.

No Jenis Pelayanan Indikator SPM Formula dan di setiap SMP/MTs

tersedia ruang kepala sekolah yang terpisah dari ruang guru.

Prosentase Jumlah sekolah di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki satu ruang guru dan dilengkapi dengan meja dan kursi untuk setiap orang guru, dan staf kependidikan lainnya; dan ruang kepala sekolah yang terpisah dari ruang guru.

5 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Di setiap SD/MI tersedia 1 (satu) orang guru untuk setiap 32 peserta didik dan 6 (enam) orang guru untuk setiap satuan pendidikan, dan untuk daerah khusus 4 (empat) orang guru setiap satuan pendidikan.

Prosentase Jumlah keseluruhan SD/MI di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki satu orang guru untuk setiap 32 peserta didik. Prosentase keseluruhan SD/MI di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki 6 (enam) orang guru [atau 4 (empat) orang guru untuk daerah khusus].

6 Di setiap SMP dan MTs tersedia 1 (satu) orang guru untuk setiap mata pelajaran, dan untuk daerah khusus tersedia satu orang guru untuk setiap rumpun mata pelajaran.

Prosentase Jumlah keseluruhan SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki guru untuk setiap mata pelajaran [atau untuk daerah khusus 1 (satu) guru untuk setiap rumpun mata pelajaran.

7 Di setiap SD dan MI tersedia 2 (dua) orang guru yang memenuhi kualifikasi

akademik S1 atau D-IV dan 2 (dua) orang guru yang telah memiliki sertifikat pendidik.

Prosentase Jumlah keseluruhan SD/MI di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki 2 orang guru yang memenuhi kualifikasi akademik S1 atau D-IV.

Prosentase Jumlah keseluruhan SD/MI di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki 2 orang guru yang telah memiliki sertifikat pendidik. 8 Di setiap SMP dan MTs

tersedia guru dengan kualifikasi akademik S-1 atau D-IV sebanyak 70% danseparuh diantaranya (35% dari keseluruhan guru) telah memiliki sertifikat pendidik, untuk daerah khusus masing-masing sebanyak 40% dan 20%.

Prosentase Jumlah keseluruhan SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki guru dengan kualifikasi S1 atau D-IV ≥ 70% [untuk daerah khusus ≥ 40%.

Prosentase Jumlah keseluruhan SMP atau MTs di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki guru dengan sertifikat pendidik ≥ 35% [untuk daerah khusus ≥ 20%].

9 Di setiap SMP dan MTs tersedia guru dengan kualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah memiliki sertifikat pendidik masing-masing satu orang untuk mata

Prosentase Jumlah keseluruhan SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki guru dengan kualifikasi akademik S1 atau D-IV dan telah memiliki sertifikat pendidik, masing-masing 1 (satu) orang untuk mapel Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

No Jenis Pelayanan Indikator SPM Formula pelajaran Matematika, IPA,

Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

10 Di setiap Kabupaten/Kota semua kepala SD dan MI berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah memiliki sertifikat pendidik.

Prosentase Jumlah SD/MI di wilayah

Kabupaten/Kota yang berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah bersertifikat pendidik. 11 Di setiap Kabupaten/Kota

semua kepala SMP dan MTs berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah memiliki sertifikat pendidik.

Prosentase Jumlah Sekolah SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota yang kepala sekolahnya berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah bersertifikat pendidik.

12 Di setiap Kabupaten/Kota semua pengawas sekolah dan madrasah memiliki kualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah memiliki sertifikat pendidik.

Prosentase Jumlah pengawas sekolah atau madrasah di wilayah Kabupaten/Kota yang berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah bersertifikat pendidik.

13 KURIKULUM Pemerintah Kabupaten/ Kota memiliki rencana dan melaksanakan kegiatan untuk membantu satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran yang efektif.

Bila Kab/kota memiliki rencana dan telah melaksanakan kegiatan untuk membantu sekolah mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran yang efektif. Bila memiliki rencana tetapi belum melaksanakan.

bila tidak memiliki rencana untuk membantu sekolah dalam mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran yang efektif.

14 PENJAMINAN MUTU

PENDIDIKAN

Kunjungan pengawas ke satuan pendidikan dilakukan satu kali setiap bulan dan setiap kunjungan dilakukan selama 3 jam untuk melakukan supervisi dan pembinaan.

Prosentase Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang mendapat kunjungan oleh pengawas satu kali setiap bulan dan setiap kunjungan selama ≥ 3 jam.

15 SARANA DAN

PRASARANA Setiap SD dan MI menyediakanbuku teks yang sudah disertifikasi oleh Pemerintah mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS dengan perbandingan satu set untuk setiap peserta didik.

Jumlah set buku teks Mata pelajaran (Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS) yang sudah disertifikasi yang disediakan dibagi

Jumlah peserta didik, sebagai prosentase. Prosentase Jumlah SD/MI di wilayah

Kabupaten/Kota yang telah memenuhi IP-15.1 Sekolah.

No Jenis Pelayanan Indikator SPM Formula 16 Setiap SMP dan MTS

menyediakan buku teks yang sudah disertifikasi oleh Pemerintah mencakup semua mata pelajaran dengan perbandingan satu set untuk setiap peserta didik.

Jumlah set buku teks mata pelajaran yang sudah disertifikasi.

Jumlah peserta didik.

Jumlah SMP/MTS yang telah memenuhi IP-16.1 Sekolah.

Jumlah SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota. 17 Setiap SD dan MI

menyediakan satu set peraga IPA dan bahan yang terdiri dari kerangka manusia, model tubuh manusia, bola dunia (globe), contoh peralatan optik, kit IPA untuk eksperimen dasar, dan poster IPA.

Prosentase Jumlah SD/MI di wilayah

Kabupaten/Kota yang memiliki set peraga dan bahan IPA secara lengkap.

18 Setiap SD dan MI memiliki 100 judul buku pengayaan dan 10 buku referensi, dan setiap SMP dan MTs memiliki200 judul buku pengayaan dan 20 buku referensi.

Jumlah judul buku pengayaan dan referensi 110 judul buku.

Jumlah judul buku pengayaan dan referensi 220 judul buku.

Jumlah SD/MI yang telah memenuhi (hasil rumus di atas.

Jumlah SD/MI di wilayah Kabupaten/Kota. Jumlah SMP/MTs yang telah memenuhi (hasil rumus di atas).

Jumlah SMP/MTs di wilayah Kabupaten/Kota. 19 PENDIDIK

DAN TENAGA KEPENDIDIK-AN

Setiap guru tetap bekerja 35 jam per minggu di satuan pendidikan termasuk kegiatan tatap muka di dalam kelas, merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja Guru.

Jumlah rata-rata jam kerja per minggu seluruh guru tetap.

Jumlah keseluruhan guru tetap di satuan pendidikan.

Jumlah satuan pendidikan yang telah memenuhi (hasil rumus di atas). Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota.

No Jenis Pelayanan Indikator SPM Formula 20 Satuan pendidikan

menyelenggarakan proses pembelajaran selama 34 minggu per tahun dengan kegiatan tatap muka sebagai berikut: Kelas I-II: 18 jam per minggu, Kelas III : 24 jam per minggu, Kelas IV–VI: 27 jam per minggu, dan Kelas VII– IX : 27 jam per minggu.

Prosentase Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang

menyelenggarakan proses pembelajaran di sekolah selama 34 minggu per tahun dengan kegiatan tatap muka seperti di indikator.

21 KURIKULUM Setiap Satuan Pendidikan menyusun dan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai ketentuan yang berlaku.

Prosentase jumlah keseluruhan satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kotayang menerapkan KTSP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

22 Setiap guru menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun berdasarkan silabus untuk setiap mata pelajaran yang diampunya.

Prosentase jumlah keseluruhan guru di satuan pendidikan yang menerapkan RPP berdasarkan silabus untuk mata pelajaran yang diampunya.

Prosentase jumlah satuan pendidikan di wilayah kabupaten/kota yang setiap guru menerapkan RPP.

23 PENILAIAN

PENDIDIKAN Setiap guru mengembangkan dan menerapkan program penilaian untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar peserta didik.

Prosentase jumlah keseluruhan guru di satuan pendidikan yang mengembangkan dan menerapkan program penilaian untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar peserta didik.

Prosentase Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang telah memenuhi (hasil rumus di atas).

24 PENJAMINAN MUTU

PENDIDIKAN

Kepala sekolah melakukan supervisi kelas dan memberikan umpan balik kepada guru dua kali dalam setiap semester.

Prosentase Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang kepala sekolahnya melakukan supervisi kelas dan memberikan umpan balik kepada guru dua kali dalam setiap semester.

25 Setiap guru menyampaikan laporan hasil evaluasi mata pelajaran serta hasil penilaian setiap peserta didik kepada Kepala Sekolah pada akhir.

Jumlah keseluruhan guru di satuan pendidikan yang menyampaikan laporan hasil evaluasi mata pelajaran serta hasil penilaian setiap peserta didik kepada Kepala Sekolah pada akhir semester.

No Jenis Pelayanan Indikator SPM Formula semester dalam bentuk

laporan hasil prestasi belajar peserta didik.

Prosentase Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang telah memenuhi (hasil rumus di atas).

26 Kepala Sekolah atau Madrasah menyampaikan laporan hasil Ulangan Akhir Semester (UAS) dan Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) serta Ujian Akhir (US/UN) kepada orang tua peserta didik dan menyampaikan rekapitulasinya kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag pada setiap akhir semester.

Prosentase jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang kepalanya menyampaikan laporan hasil Ulangan Akhir Semester (UAS) dan Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) serta Ujian Akhir (US/UN) kepada orang tua peserta didik.

Prosentase Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang kepalanya menyampaikan rekapitulasi hasil tes tengah tahunan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota/ Kandepag pada setiap akhir semester. 27 MANAJEMEN

SEKOLAH Setiap satuan pendidikan menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Prosentase Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki rencana kerja tahunan.

Prosentase Jumlah satuan pendidikan di wilayah Kabupaten/Kota yang memiliki laporan tahunan.

Jumlah satuan pendidikan di wilayah

Kabupaten/Kota yang memiliki komite sekolah yang berfungsi baik.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasal 17 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan urusan wajib yang harus diemban oleh kabupaten/kota di Aceh. Dengan demikian, Kota Banda Aceh sebagai daerah otonom juga memiliki urusan wajib tersebut. Urusan wajib penyelenggaraan pendidikan dimaksud, menurut Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyangkut Pendidikan Dasar dan Menengah, juga melekat pada pemerintah kabupaten/kota.

Dalam kaitan dengan pendidikan dasar ini Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun wajib

mengikuti pendidikan dasar, dimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi pihak yang harus memastikan terselenggarakannya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat.

Berdasarkan aturan tersebut, maka Pemerintah (Pusat dan Daerah) bertanggung jawab untuk membangun sekolah, membayar gaji guru, menyediakan sarana fisik, fasilitas ruang kelas, dan peralatan kantor sekolah dengan dana yang berasal dari APBD dan APBN. Daerah yang memiliki pendapatan asli daerah yang tinggi, akan memiliki peluang lebih besar untuk membantu pemenuhan kebutuhan dana penyelenggaraan sekolah. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan operasional non personalia pendidikan dasar selain dibiayai oleh Pemerintah Pusat yang disebut dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Pemerintah Kota Banda Aceh juga telah menyediakan dana penunjang guna membiayai operasional pendidikan lainnya pada setiap tahun

anggarannya, yang disebut dengan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA). Hal ini didasarkan pada konsep, bahwa Otonomi Daerah harus didefinisikan sebagai pelimpahan hak dan kewenangan bagi Pemerintahan dan Rakyat di daerah untuk merencanakan program-program pembangunan daerah di semua sektornya secara otonom dan mandiri1.

Lebih lanjut, bahwa dasar hukum yang juga dapat digunakan dalam pembiayaan pendidikan adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2008 Tentang Pendanaan Pendidikan, sebagaimana dimaksudkan

dalam Pasal 26 ayat (2). Yaitu pendanaan biaya nonpersonalia untuk satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar, baik formal maupun nonformal, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya, menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah dan harus dialokasikan dalam anggaran Pemerintah Daerah. Selain itu, Pasal 39 ayat (3) dari PP tersebut, juga menyebutkan bahwa syarat pemberian bantuan pendanaan oleh Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya harus diatur dengan Peraturan Kepala Daerah (Perwal/Perbup).

B. Identifikasi Masalah

Sejak tahun 2011, satuan pendidikan dasar di Kota Banda Aceh selain mendapatkan dana BOS yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), juga memperoleh Dana Penunjang Pendidikan (BOSDA) dari Anggaran Pendapatan Belanja Kota Banda Aceh. Mulai tahun 2011 Pemerintah Kota Banda Aceh telah menyediakan dana penunjang pendidikan sebesar Rp. 17.804.205.000, yang dilanjutkan pada tahun 2012 sebesar 9.129.010.000,- dimana untuk BOSDA SD dan SMP Rp. 2. 723.010.000,- sedangkan untuk BOSDA SMA dan SMK sebesar Rp. 5.918.600.000,-.

Dana Penunjang Pendidikan Dasar yang disebut dengan BOSDA itu, didistribusikan kepada 71 Sekolah Dasar Negeri dan 19 Sekolah Menengah Pertama Negeri yang bernaung di bawah Pemerintah Kota Banda Aceh. Letak sekolah tersebut menyebar pada kecamatan-kecamatan dalam wilayah Kota Banda Aceh.Lokasi dimaksud, ada yang berada pada pusat Kota Banda Aceh, dan ada pula yang berada di pinggiran Kota Banda Aceh. Sementara letak dari sekolah-sekolah tersebut telah mempengaruhi pada jumlah siswa yang bersekolah di situ. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Negeri yang letaknya di pusat kota jumlah siswanya lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Negeri yang letaknya di pinggiran kota. Akibatnya, sekolah-sekolah tersebut dapatlah kemudian diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu Sekolah Besar, Sekolah Sedang, dan Sekolah Kecil.

Pemberian BOS dan BOSDA kepada sekolah-sekolah selama ini, hanya didasarkan pada jumlah siswanya, sebagaimana dapat diketahui dari Peraturan Walikota Banda Aceh Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Banda Aceh Tahun 2012. Maka semakin banyak jumlah siswa, semakin besar pula jumlah BOS dan BOSDA yang diterima sekolah, dan sebaliknya, semakin sedikit jumlah siswa maka semakin kecil pula BOS dan BOSDA yang diterima sekolah.

Kondisi ini telah menyebabkan terjadinya kesulitan pengembangan bagi sekolah-sekolah kecil, bahkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang minimal saja sekalipun dari sekolah tersebut terasa sulit terpenuhi.Sedangkan Sekolah Besar dan Sekolah Sedang, lebih memiliki peluang bagi pengembangan diri sekolah-sekolah tersebut. Realitas dimaksud telah mempengaruhi kepada minat orang tua dan calon siswa dalam memilih sekolah. Sekolah besar dan sedang telah menjadi prioritas pertama dan kedua dalam pemilih sekolah oleh para orang tua dan calon siswa, sedangkan sekolah kecil dipilih ketika calon siswa telah gagal diterima di sekolah besar dan sedang. Akhirnya kondisi ini telah menyebabkan ketidakmerataan mutu pendidikan pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Negeri yang terdapat di Kota Banda Aceh.

Di sisi lain pemberian dana BOSDA dimaksud, dalam kenyataannya belum cukup memberi rangsangan bagi upaya peningkatan mutu Pendidikan Dasar di Kota Banda Aceh. Hal ini terjadi karena porsi penggunaan dana BOSDA lebih banyak ke Belanja Pegawai (dalam hal ini honorarium), dibandingkan pada pembiayaan untuk program peningkatan Mutu Pendidikan dan Mutu Layanan Pendidikan. Misalnya, pembiayaan bagi program-program peningakatan kapasitas Sumber Daya Guru dan pembiayaan atas usaha-usaha penertiban sistem tata-kelola sekolah yang partisipatif, terbuka, bertanggung-jawab dan adanya kepastian pelaksanaan aturan yang adil dan tidak diskriminatif.

C. Tujuan dan Kegunaan

Naskah akademik2 ini disusun untuk menjadi rujukan dasar bagi perancangan muatan Peraturan Wali Kota Banda Aceh tentang Dana Penunjang Pendidikan Berkeadilan, yang tentu penyusunannya harus dilandasi pada tinjauan-tinjauan filosofis, sosiologis dan yuridis. Lantas, naskah akademik ini, diharapkan dapat memberikan masukan nilai-nilai dan menjadi pedoman yang jelas dalam perancangan muatan-muatan

2 Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan

menyebutkan, bahwa Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi, atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat

substansial aturan-aturan yang seharusnya dikandung dalam Peraturan Walikota nantinya. Sehingga terjalinlah harmonisasi dan sinkronisasi antara Peraturan Walikota tentang Dana Penunjang Pendidikan yang nantinya dirancang dan berbagai peraturan perundang-undangan lain yang relevan dengan prinsip-prinsip tata kelola dana BOSDA yang sesuai dengan tuntutan manajemen modern yang bersifat partisipatif, terbuka (transparent), bertanggung-jawab (akuntabel) dan memiliki tingkat kepastian penegakan hukum yang berkeadilan dan nondiskriminatif.

D. Metode Pendekatan

Proses penyusunan naskah akademik yang akan menjadi rujukan dan pedoman dasar dalam perancangan Peraturan Wali Kota Banda Aceh tentang Dana Penunjang Pendidikan Berkeadilan (BOSP) bagi Pendidikan Dasar Kota Banda Aceh, telah melalui berbagai tahapan proses dan pendekatan, seperti apa yang akan diuraikan sebagai berikut:

(1) Adanya pertemuan reguler Forum Peduli Pendidikan Kota Banda Aceh untuk membahas seputar

persoalan pola distribusi dan pengaruh kontributif dana BOS bagi proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah. Forum Peduli Pendidikan Kota Banda Aceh ini terdiri dari para pihak yang meliputi: Dinas Pendidikan, MPD, Perwakilan Sekolah Jenjang SD dan SMP, Perwakilan Komite Sekolah jenjang SD dan SMP, PGRI, LSM Peduli Pendidikan, Media dan Perwakilan masyarakat. Dari diskusi intensif dalam Forum Multi Stakeholder inilah lahir sejumlah penilaian kritis terhadap dana BOS dan lahirnya gagasan-gagasan kreatif untuk menjadi solusi upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan. Rekomendasi utamanya adalah, bahwa dana BOS dan BOSDA harus dikelola secara lebih partisipatif, transparan, akuntabel dan berkeadilan, demi upaya meminimalisir kesenjangan kemajuan antar sekolah, untuk kemudian dapat membangun secara bersama-sama dan untuk kemajuan bersama dari semua sekolah yang ada di kota Banda Aceh.

(2) Dilakukannya penelusuran dan penelaahan dokumen secara kritis dan mengembangkan suatu analisis komprehensif menyangkut alasan-alasan dan tujuan-tujuan mendasar yang selama ini melatari kebijakan pengalokasian Dana Penunjang Pendidikan Dasar dalam APBK kota Banda Aceh;

(3) Melakukan diskusi-diskusi akademik dengan para pihak yang berkompeten, menyangkut aturan-aturan perundang-undangan baik pada tingkat nasional maupun daerah, menyangkut dasar hukum pengalokasian Dana Penunjang Pendidikan Dasar dan menyangkut kerangka pola distribusi dan mekanisme pengelolaan yang harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip Good Governance;

(4) Pengamatan atas realitas lapangan tentang praktek penyediaan dan distribusi Dana Penunjang Pendidikan Dasar oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, sesungguhnya memerlukan suatu sistem tata kelola yang benar, transparan, akuntabel dan partisipatoris.

BAB II

LANDASAN FILOSOFIS,