BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Formulasi Sediaan Sabun Cair Transparan
Sediaan yang dibuat dalam penelitian ini adalah sabun cair transparan
yang dapat membersihkan kulit dari kotoran yang berupa minyak, debu dan sel
kulit mati. Sabun ini digunakan dengan shower puff. Formula yang digunakan
adalah formula yang dimodifikasi dari formula sabun cair transparan oleh Flick
(1995). Penelitian mengenai sabun cair transparan ini dilakukan untuk
menghasilkan sabun cair transparan yang aman dan acceptable bagi konsumen.
Viskositas dan busa menjadi penting dalam penelitian terkait dengan
acceptability dari sediaan sabun cair transparan. Sabun cair transparan memiliki
tingkat viskositas tertentu agar tidak mengalir tumpah melalui sela-sela jari ketika
dituang ke tangan (Matsuda, 1982). Sedangkan busa yang melimpah bertujuan
untuk memenuhi acceptability dan aspek psikologis dari konsumen.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah desain faktorial dua faktor
dua level. Desain formula yang dibuat berjumlah empat yaitu formula 1 (level
rendah NaCl dan level rendah CAPB), formula a (level tinggi NaCl dan level
tinggi CAPB), formula b (level rendah NaCl dan level tinggi CAPB), dan formula
ab (level tinggi NaCl dan level tinggi CAPB).
Surfaktan yang digunakan dalam pembuatan sabun cair transparan ini
adalah sodium lauryl sulphate (SLS) sebagai surfaktan primer dan
larut dalam air dingin, namun kelarutannya meningkat seiring dengan kenaikan
suhu (Mitsui, 1997). Maka dalam pembuatan digunakan air hangat untuk
melarutkan SLS. SLS dicampur terlebih dahulu dengan propylene glycol (PG)
untuk mempermudah kelarutan SLS dalam air karena PG berperan sebagai vehicle
untuk SLS yang sukar larut dalam air (Barel et al, 2001)
Pada formula digunakan disodium EDTA (Na2EDTA). Na2EDTA adalah
pengawet yang berfungsi sebagai chelating agent. Na2EDTA akan mengkelat ion
kalsium dan magnesium yang terdapat dalam hard water ( Rowe et al, 2009)
dengan membentuk kompleks yang larut dari ion kalsium dan magnesium
sehingga terbawa oleh air (Anonim b, 2007). Oleh karena itu air yang digunakan
dalam penelitian adalah aquademineralisata (ADM). ADM tidak mengandung
mineral logam. ADM dihangatkan lalu ditambahkan Na2EDTA hingga terlarut
sempurna. Selanjutnya campuran SLS dan PG dilarutkan hingga sempurna.
Fragrance merupakan bahan aditif yang paling penting pada produk
cleansing, agar dapat diterima oleh konsumen (Barel et al, 2001). Dalam formula
yang digunakan adalah minyak apel. Minyak apel ditambahkan setelah campuran
SLS dan PG larut dalam ADM yang mengandung Na2EDTA.
CAPB dapat mengurangi iritasi dari turunan alkil sulfat dan alkil ether
sulfat, contohnya sodium lauryl sulphate dan sodium laureth sulphate (Butler,
2000). Tujuan penambahan CAPB adalah mengurangi iritasi dari SLS yang
digunakan pada formula serta menghasilkan busa yang lebih banyak karena
dikombinasikan dengan SLS. CAPB ditambahkan ke dalam campuran dan
Sabun yang diaplikasikan ke kulit dapat mengurangi atau menghilangkan
keutuhan lapisan hidrolipid. Hidrolipid merupakan barrier kulit, yang dapat
membantu menjaga kelembaban kulit. Adanya aksi penghilangan lipid tersebut,
mengakibatkan perubahan topografi kulit dan kualitas sensor kulit, sehingga dapat
terjadi dryness, roughness, flakiness, dan rasa pengetatan (tightening feeling) pada
kulit (Thibodeau, dan Amari, 2009). Gliserin adalah humektan dan memiliki
kemampuan higroskopis seperti NMF. Humektan adalah bahan larut air dengan
kemampuan absorpsi air yang baik (Baumann, 2009). Humektan bekerja
mempertahankan air yang ada dalam kandungan kulit, sehingga diperoleh sensasi
lembab di kulit (Rieger, 2000). Gliserin ditambahkan agar memberikan efek
lembab dan after feel yang baik pada kulit.
Cocamide DEA dicampur terlebih dahulu dengan gliserin karena
penimbangan C-DEAdalam jumlah sedikit. Pencampuran ini agar C-DEA dapat
tercampur homogen dalam sediaan. Campuran ini kemudian ditambahkan ke
dalam campuran sebelumnya lalu dihomogenkan. C-DEA akan berinteraksi secara
molekuler dengan surfaktan anionik dan CAPB yang bersifat anionik pada
suasana basa. Surfaktan anionik pada larutan normalnya berbentuk spherical
micelles yang relatif sama ukurannya, akan berubah strukturnya menjadi batang
atau seperti cakram, bahkan membentuk jaringan. Jika dilihat secara mikroskopis,
perubahan struktur ini berakibat pada peningkatan viskositas (Oudt, 2004).
Range pH normal acid mantle adalah 4,5 sampai 6,5 (Walters and
Roberts, 2008). Agar dapat membersihkan kotoran dan minyak dari kulit maka
karena itu pH sabun pada sediaan sabun cair transparan berkisar pada 7 – 8.
Sebelum penambahan larutan NaCl, pH sediaan diukur dengan kertas pH. Apabila
pH lebih dari 8 maka ditambahkan beberapa tetes larutan asam sitrat 50%. Bila
pH kurang dari 7 maka ditambahkan larutan NaOH 10%. Penambahan larutan
pengatur pH dilakukan agar diperoleh pH sediaan pada 7-8. Selain itu pH basa
akan mengakibatkan CAPB bersifat anionik sehingga dapat mendukung kerja SLS
yang merupakan surfaktan anionik.
NaCl merupakan garam yang dapat mengubah karakter ionik sediaan
sehingga mempengaruhi viskositas sediaan (Rowe et al, 2009). Viskositas
bergantung pada jumlah elektrolit yang ditambahkan. Penambahan elektrolit
umumnya berkisar antara 0,1 – 3 % b/v, disesuaikan dengan komposisi bahan serta
konsentrasi dan viskositas yang diinginkan (Oudt, 2004). Penambahan NaCl
dimaksudkan untuk mengatur viskositas suatu sediaan. Oleh karena itu larutan
NaCl ditambahkan terakhir dalam proses pembuatan. NaCl ditambahkan dalam
bentuk larutan agar homogen dalam sediaan.
Uji iritasi ataupun subjective assessment tidak dilakukan oleh peneliti
karena keterbatasan waktu penelitian. Walaupun demikian, bahan-bahan yang
digunakan dalam sabun cair transparan adalah bahan-bahan yang telah umum
digunakan pada sediaan sejenis di pasaran. Selain itu bahan-bahan yang
digunakan dalam formula jumlahnya masih berada dalam range penggunaan
sehingga sediaan sabun cair transparan aman untuk digunakan. Perbandingan
persentase jumlah penggunaan bahan-bahan dalam sediaan sabun cair transparan
Tabel III. Jumlah penggunaan bahan dalam ± 300 g sabun cair transparan
Campuran Komposisi (gram) Jumlah bahan yang digunakan
gram (g) persen (%)
A Demineralized water 145 48,33
Na2EDTA 0,30 0,1
B Sodium lauryl sulphate 58 19,33
Propylene Glycol 10 3,33 C Cocoamidopropyl betaine 21-30 7-10 D Fragrance 0,50 0,16 E Glycerin 24 8 Cocamide DEA 1,5 0,5 F Asam sitrat 50% q.s. pH 7-8 NaOH 50% G Demineralized water 30 10 Sodium Chloride 3-6 1-2