• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I KINERJA

C. Forum Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya

C. Forum Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya 1. Pertemuan Tahunan World Economic Forum

Pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) dilaksanakan pada tanggal 26–30 Januari 2011 di Davos, Switzerland.

Beberapa tren dalam topik pembahasan

Pertemuan Tahunan di Davos tahun 2011 bertema besar “Shared Norms of the New Reality” dengan fokus utama pembicaraan terpusat pada isu-isu ketahanan pangan dan gejolak harga komoditas pangan internasional, pertumbuhan yang menyeluruh dan berkelanjutan, perubahan iklim serta bergesernya tata kelola global seiring dengan krisis finansial yang terjadi di tahun 2008. Krisis finansial global telah membawa pergeseran besar dalam pilar kekuatan ekonomi dunia yang sebelumnya berpusat di Amerika Serikat dan Eropa menjadi berpusat di Asia. Saat ini dua pertiga dari pertumbuhan dunia ditopang oleh perdagangan di Asia dan pada akhir

dekade ini diperkirakan emerging economies di Asia akan menyumbang lebih dari setengah dari ekonomi dunia dengan total GDP mencapai 45% dari GDP dunia. Asia juga akan menyumbang lebih dari setengah penduduk dunia yang diperkirakan akan mencapai 9 sampai 10 miliar di tahun 2015.

Proses transformasi di Asia

Pada saat ini Asia sedang melalui proses transformasi luar biasa baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya, maupun posisi strategis. Proses transformasi yang apabila tidak ditopang oleh tata kelola (governance) yang baik akan menyebabkan tekanan luar biasa pada kebutuhan akan pangan, energi, air dan bahan baku lainnya, dan dapat menyebabkan konflik.

Meningkatnya kerja sama dan dialog, baik kerja sama regional maupun antar negara akan sangat menentukan bagaimana negara-negara di dunia akan berhasil melewati dan mengatasi tantangan global yang timbul (keterbatasan pangan, krisis energi, keterbatasan air, dan perubahan iklim) secara bersama-sama. Dan dengan demikian akan merubah tantangan (challenges) menjadi kesempatan (opportunity) dan akan mendorong terciptanya tata kelola baru yang tidak hanya menekankan pada pertumbuhan (growth) belaka akan tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut bersifat inklusif dan berkesinambungan. Tata kelola yang baru juga harus merefleksikan secara akurat pergeseran (shifting) kekuatan ekonomi yang baru di mana Asia adalah pemain yang perannya sangat signifikan.

Peran Indonesia dalam pembentukan tata kelola dunia yang baru

Indonesia memiliki peran yang sangat signifikan dalam pembentukan tata kelola dunia yang baru. Sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia setelah Tiongkok dan India, yang baru-baru ini digolongkan oleh Goldman Sachs sebagai “growth market” dan sebagai “I” yang berikutnya dalam BRIC, anggota G-20, dan ketua ASEAN 2011 pembentukan tata kelola dunia yang baru akan sangat membutuhkan peran aktif Indonesia.

Persiapan Pelaksanaan World Economic Forum East Asia

Indonesia secara resmi akan menjadi tuan rumah pelaksanaan World Economic Forum East Asia pada tanggal 12-13 Juni 2011 di Jakarta. Pelaksanaan WEF-EA kali ini berbeda dengan pelaksanaan WEF-EA biasanya karena bertepatan dengan pelaksanaan 20 tahun perayaan penyelenggaraan World Economic Forum di Asia dan Keketuaan Indonesia di ASEAN.

Sehubungan dengan pelaksanaan WEF-EA telah dilakukan beberapa kali pertemuan baik di dalam negeri sebagai koordinasi antar Kementerian maupun mengambil momen di Davos di mana seluruh

stakeholders berkumpul untuk menghadiri Pertemuan

Tahunan WEF.

Sesi Asia Brainstorming For 2011 East Asia Summit

Di sela-sela pertemuan tahunan WEF di Davos dilakukan sesi Asia Brainstorming For 2011 East Asia Summit. Dalam sesi ini dilakukan diskusi dan tukar pendapat mengenai topik-topik serta tema bagi WEF-East Asia yang akan berlangsung di Jakarta pada tanggal 12-13 Juni 2011. Salah satu kemungkinan sesi adalah yang berkaitan dengan New Vision of Agriculture di mana akan dibahas pentingnya kemitraan swasta dan pemerintah (public private partnership) untuk mengatasi kelangkaan bahan pangan yang diakibatkan oleh berbagai faktor, di antaranya perubahan iklim. Selanjutnya juga telah diadakan pertemuan terpisah dengan tim WEF yang bergerak di bidang tersebut dan telah pula melakukan koordinasi dengan Kementerian terkait sehubungan dengan usulan sesi ini.

Sesi debriefing Selain itu juga diadakan sesi debriefing segera setelah IBC session. Sesi debriefing ini dihadiri oleh seluruh anggota WEF yang berasal dari Indonesia termasuk wakil Indonesia dalam Young Global Leaders, forum WEF untuk calon pemimpin potensial masa depan. Dalam sesi debriefing ini dibahas hal-hal sehubungan dengan persiapan penyelenggaraan WEF-EA di Jakarta, antara lain:

1) Penandatanganan MoU antara WEF dengan Panitia Pelaksana di Indonesia. Hal ini sudah ditindaklanjuti dengan koordinasi antar Kementerian dan direncanakan MoU dapat ditandatangani secepatnya;

2) Meningkatkan partisipasi swasta dalam rancangan sesi acara WEF-EA sehingga Indonesia mendapatkan sesi yang strategis dengan ekspos maksimum;

3) Mendiskusikan keterlibatan daerah/provinsi dalam WEF-EA terutama di beberapa sesi yang relevan sehingga hasil WEF-EA dapat juga dirasakan manfaatnya oleh daerah;

4) Mendiskusikan strategi komunikasi yang tepat baik baik untuk dalam negeri maupun luar negeri.

Pertemuan Terbatas Tingkat Menteri Perdagangan World Trade Organization (WTO)

Salah satu agenda penting dalam World Economic

Forum adalah mendorong percepatan perundingan

perdagangan Putaran Doha. Dalam kaitan tersebut telah diadakan Pertemuan Terbatas Tingkat Menteri World

Trade Organization (WTO) pada tanggal 29 Januari

2011.

Pertemuan terbatas tersebut secara reguler diadakan sejak pertemuan tahunan WEF tahun 2007 yang diselenggarakan oleh Sekretariat WTO dan Menteri Perdagangan Swiss selaku tuan rumah. Pada pertemuan tahun ini terdapat 24 menteri dari negara maju, negara berkembang, negara kecil (small and vulnerable), dan negara kurang berkembang/LDCs (Least Developed

Countries) yang turut hadir. Tingginya antusiasme para

Menteri menghadiri konsultasi WTO merupakan gambaran akan harapan untuk menyelesaikan putaran Doha yang telah berlangsung selama sembilan tahun terakhir. Indonesia merupakan anggota yang dipandang sangat penting oleh negara lain karena posisi Indonesia sebagai Emerging Economy dengan pangsa ekspor ke dunia yang semakin besar, anggota G20, maupun Ketua G-33 (kelompok negara berkembang di WTO yang memperjuangkan perlindungan terhadap masa depan produksi petani kecil).

Dalam pertemuan tersebut, seluruh Menteri Perdagangan yang hadir sepakat untuk mengadopsi

Roadmap yang disampaikan oleh Dirjen WTO, yaitu:

pada bulan April 2011 diselesaikannya draft Revised

text; pada bulan Juli 2011 negosiasi DDA diselesaikan;

dan pada akhir Desember 2011 scheduling telah dituntaskan.

Penyelesaian putaran Doha

Pertemuan juga menyepakati pentingnya penyelesaian putaran Doha sesuai jadwal pada tahun 2011 ini. Dalam kesempatan tersebut, telah disampaikan dukungan penyelesaian Putaran Doha dan komitmen Indonesia untuk tidak hanya menyerahkan penyelesaian isu-isu Putaran Doha pada tataran perunding teknis akan tetapi langsung melibatkan menteri dan leaders.

Kegagalan Putaran Doha merupakan hal yang dikhawatirkan akan dapat merusak sistem perdagangan multilateral yang telah banyak berjasa menopang bangkitnya perekonomian dunia dari keterpurukan akibat krisis tahun 2008. Selain itu penyelesaian Putaran Doha merupakan respon yang tepat atas perubahan

peta perdagangan global di mana 31% dari total perdagangan dunia merupakan perdagangan antara negara berkembang.

Penyelesaian Putaran Doha juga akan makin memperkuat pengaturan perdagangan dunia dalam menghadapi bahaya proteksionisme serta dampak negatif proliferasi regional trade agreement. Putaran Doha merupakan solusi penataan kembali pelbagai aturan perdagangan seperti subsidi pertanian, aturan anti dumping, dan lain-lain yang apabila tidak selaras dengan prinsip perdagangan terbuka yang dianut oleh WTO maka akan sangat mengganggu kredibilitas sistem perdagangan multilateral dunia.

Indonesia secara konsisten menyampaikan pentingnya proses perundingan yang menempatkan kepentingan perdagangan negara berkembang sebagai fokus dengan terus mengembangkan program Aid for Trade untuk mendukung pengembangan kapasitas produksi dan ekspor negara berkembang serta pentingnya melindungi kepentingan petani.

Gambar 3. Pelaksanaan Acara Breakfast Session: Implications on Business of the Inclusive Growth Paradigm of India and Indonesia - Discussion on the Imperatives of Business of Inclusive Growth Paradigm

2. Pertemuan Organizing Committee (OC) dan Editorial Committee (EC)

Pertemuan Pertama Organising Committee (OC) dan

Editorial Committee (EC) diselenggarakan pada tanggal

Mr. Yium Tavarolit selaku Acting Chief Executive Officer (CEO) International Rubber Consortium Limited (IRCo) dan dihadiri oleh anggota OC dan EC dari lndonesia, Malaysia, dan Thailand.

Tujuan pertemuan adalah sebagai persiapan penyelenggaraan peringatan 10 tahun kerja sama tiga negara di bidang karet alam.

Acara peringatan 10 tahun kerja sama tiga negara di bidang karet alam

Rangkaian acara peringatan 10 tahun kerja sama tiga negara di bidang karet alam akan diselenggarakan pada tanggal 10-12 Desember 2011 di Bali dengan tema

"towards an affluent natural rubber growing community”.

Acara tersebut rencananya akan diawali dengan sidang komite-komite yaitu Committee on Strategic Market

Operation (CSMO), Expert Group on Establishment of Regional Rubber Market (EGERRM), Komite Statistik,

dilanjutkan dengan joint meeting ke-2 antara Board of

Directors (BoDs) IRCo dan International Tripartite Rubber Council (ITRC) pada tanggal 10-11 Desember

2011.

Acara utama akan diadakan pada tanggal 12 Desember 2011 yaitu Ministerial Committee Meeting (MCM) dan

grand dinner yang akan dihadiri oleh Menteri

Perdagangan Indonesia, Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi, Malaysia dan Minister of

Agriculture and Cooperatives, Thailand. Sebelum acara

tersebut, turnamen golf akan dilakukan pada pagi hari dan dilanjutkan dengan rubber conference pada siang hari.

Grand dinner IRCo Selain para menteri yang saat ini menjabat, pada grand

dinner IRCo akan mengundang pihak-pihak yang terkait

dengan ITRC/IRCo maupun pioneer ministers yaitu (i) Ibu Rini M.S. Soewandi, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia; (ii) Mr. Prapat Panyachatraksa, mantan Deputy Minister of Agriculture and Cooperatives, Thailand; dan (iii) Dato' Seri Dr. Lim Keng

Yaik mantan Minister of Primary Industries, Malaysia. Salah satu mata acara dalam grand dinner adalah pemberian penghargaan berupa sertifikat kepada satu

smallholder yang dipilih dari tiap-tiap negara. Tiap smallholder diberikan waktu tiga menit untuk

menampilkan presentasi yang dapat berbentuk video klip dan foto-foto terkait aktivitas di bidang karet alam. Selanjutnya, bahan presentasi dari tiap-tiap negara akan

digabung menjadi satu presentasi berdurasi 10 menit yang akan ditayangkan pada acara grand dinner. Untuk Indonesia, GAPKINDO akan menentukan smallholder tersebut.

Pimpinan pertemuan mengusulkan agar acara peringatan dilaksanakan di tempat penandatanganan

Bali Declaration sepuluh tahun lalu (Istana Tampak

Siring). Mengenai permintaan ini, telah diindikasikan dalam pertemuan bahwa proses untuk penggunaan Istana Tampak Siring membutuhkan proses perizinan yang tidak sederhana dan umumnya Istana Tampak Siring digunakan untuk acara-acara yang melibatkan dan dihadiri oleh Kepala Negara. Berkaitan dengan tempat penyelenggaraan tersebut, anggota OC sepakat untuk memberikan mandat kepada anggota OC Indonesia sebagai tuan rumah untuk menentukan tempat pelaksanaan yang representatif bagi para menteri di Bali.

Usulan biaya penyelengaraan sidang

Terkait biaya penyelenggaraan, pertemuan sepakat mengusulkan agar biaya acara ditanggung oleh IRCo kecuali biaya yang akan ditanggung oleh Indonesia sebagai tuan rumah dan maupun biaya yang akan ditanggung oleh ketiga negara. Berkenaan dengan biaya turnamen golf, pertemuan sepakat agar biayanya ditanggung oleh masing-masing peserta. IRCo mengusulkan agar OC Indonesia dapat bekerja sama dengan GAPKINDO dalam pengaturan turnamen golf tersebut.

Pertemuan mengusulkan agar biaya penyelenggaraan sidang pada tanggal 10-11 Desember 2011 ditanggung oleh Indonesia. Sedangkan biaya rubber conference

Ministerial Committee Meeting, Grand Dinner, door gifts

serta Commemoration Book diusulkan dibiayai bersama-sama oleh ketiga negara (cost sharing)

Menanggapi usulan cost sharing tersebut, perwakilan Ditjen KPI menyampaikan akan memberikan informasi lengkap pada pertemuan mendatang guna memeriksa kesesuaian dengan peraturan pertanggungjawaban keuangan negara di Indonesia. Terkait cost-sharing ini, pertemuan sepakat untuk membicarakan lebih lanjut pada pertemuan OC berikut.

Pertemuan sepakat pula agar anggota OC Indonesia dapat memberikan perkiraan jumlah biaya dan tempat penyelenggaraan, baik sidang, tempat turnamen golf,

dan tempat grand dinner pada pertemuan OC dan EC mendatang, yang rencananya akan dilaksanakan bersamaan dengan penyelenggaraan sidang ITRC ke-19 di Kuala Terengganu, Malaysia awal bulan Maret 2011. Pada acara grand dinner juga akan diluncurkan

Commemoration Book. Terkait visi dan misi, anggota OC

dan EC sepakat agar hal ini dibahas pada Sidang ITRC ke-19 mendatang.

3. 47th Asia Pacific Coconut Community Session/ Ministerial Meeting

Sidang APCC ke-47 diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada tanggal 25-28 Januari 2011. Pertemuan dipimpin oleh Mr. Jirakorn Kosaisawe, Director General,

Department of Agriculture and Cooperatives of Thailand,

selaku tuan rumah dan ketua APCC serta Mr. Romulo Arancon, Executive Director APCC.

Pertemuan dihadiri oleh negara-negara anggota APCC yaitu: Federated States of Micronesia, Fiji, India, Indonesia, Kiribati, Malaysia, Marshall Islands, Papua New Guinea, Filipina, Samoa, Solomon Islands, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Hadir pula dalam pertemuan tersebut pengamat dari Secretariat of the Pacific

Community (SPC), dan Rainbow Sustainable Solution

(RSS).

Pembukaan oleh tuan rumah

Mrs. Weena Pongpattananon, Deputy Director General,

Department of Afgriculture, mewakili pemerintah

Thailand selaku ketua APCC dan tuan rumah, menyampaikan harapannya agar pertemuan The 47th

Asia Pacific Coconut Community Session/ Ministerial Meeting dapat menjadi pertemuan yang efektif untuk

saling menukar pengalaman dan pengetahuan di bidang produksi hingga pemasaran produk komoditas kelapa. Disebutkan bahwa pemerintah Thailand menaruh perhatian yang tinggi untuk upaya pengembangan kelapa serta berharap dapat meningkatkan kerja sama pengembangan komoditas tersebut melalui kegiatan APCC. Thailand merupakan salah satu pendiri APCC pada tahun 1969 bersama dengan Sri Lanka, India, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Pembukaan oleh ketua APCC

Mr. Romulo Arancon, Jr., Executive Director APCC, dalam pembukaannya menyebutkan bahwa Sidang APCC ke-47 berupaya untuk mendapatkan hasil-hasil yang lebih substantif melalui presentasi country paper dari para negara anggota. Masing-masing negara

anggota diminta untuk menyampaikan perkembangan data dan informasi serta kebijakan nasional yang terkait dengan komoditas kelapa untuk kurun waktu tiga tahun terakhir, khususnya mengenai perkembangan produksi, riset, investasi, penanaman kembali pohon kelapa, pendidikan serta pelatihan untuk para petani.

Saat ini, negara-negara anggota APCC tengah menikmati harga jual yang tertinggi yang pernah dialami komoditas kelapa. Executive Director APCC menegaskan pentingnya dukungan politik dari pemerintah masing-masing untuk dapat meneruskan pengembangan, rehabilitasi serta peningkatan produksi komoditas kelapa secara berkesinambungan.

Presentasi Country-Paper Pertemuan mencatat country-paper para negara anggota APCC serta pengalaman dari masing-masing negara menangani produksi dan pemasaran komoditas kelapa. Disebutkan, sekalipun terjadi peningkatan harga di dalam negeri maupun di pasar internasional, umumnya negara produsen kelapa mengalami penurunan produksi disebabkan oleh berbagai faktor seperti pohon kelapa yang sudah menua, terjadinya hama dan penyakit, perubahan cuaca yang cepat dan tidak menentu, minat petani untuk menanam komoditas yang lebih bernilai komersial, kurangnya pelatihan dan riset, serta dukungan infrastruktur yang belum memadai.

Pemerintah di masing-masing negara anggota berupaya untuk meningkatkan produksi kelapa yang pada umumnya ditanam oleh para petani berskala kecil, tradisional, dan miskin. Sekalipun tahapan pengembangan kelapa berbeda-beda di antara anggota APCC, masing-masing pemerintah menyadari pentingnya peningkatan produksi kelapa dalam rangka ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan, dan perolehan devisa. Filipina, Indonesia, dan Sri Lanka merupakan eksportir utama produk kelapa di dunia dengan tujuan pasar di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia, ASEAN, dan Afrika Selatan.

Di Indonesia, sebanyak 98% perkebunan kelapa dimiliki oleh para petani berskala kecil (smallholders) dan sebanyak 61% produksinya ditujukan untuk pasar dalam negeri. Pada tahun 2009 Indonesia mengekspor coconut

Indonesia menargetkan program intensifikasi tanaman kelapa di atas lahan sebesar 1,4 juta hektar. Dalam kesempatan tersebut, Indonesia menawarkan kesediaannya untuk mendukung program-program peningkatan kapasitas produksi kelapa yang dilakukan melalui APCC.

Laporan Executive Director APCC

Mr. Romulo Arancon, Jr., Executive Director APCC, melaporkan produksi komoditas kelapa di negara-negara anggota APCC, evaluasi kegiatan proyek APCC tahun 2010, dan usulan proyek baru untuk tahun 2011 ED APCC menjelaskan bahwa tantangan utama pemasaran internasional produk minyak kelapa adalah adanya kompetisi yang ketat dari produk kelapa sawit, kacang kedelai, sunflower, rapeseed, minyak zaitun, dan jagung. Menurutnya, untuk menghadapi tantangan tersebut, minyak kelapa harus dapat membuktikan keandalannya dan jaminan ketersediaan pasokan.

Executive Director APCC mendesak agar pemerintah

masing-masing anggota APCC menggalakkan program-program yang sasaran utamanya adalah peningkatan produksi melalui penanaman kembali, rehabilitasi serta fertilisasi lahan perkebunan kelapa, dan pengembangan produk (value added product).

Adapun program baru kegiatan APCC yang diusulkan untuk tahun 2011, di antaranya yaitu (i) Consultative

meeting on Phytoplasma/Wilt diseases on coconut; (ii) Conduct of the APCC workshop on coir fibre processing;

(iii) APCC workshop on value-added coconut product; (iv)

reguler/ ad-hoc publications; dan (v) generic market promotion. Pertemuan menyambut baik laporan serta

usulan program baru kegiatan APCC tersebut di atas.

Endorsement of the 44th APCC COCOTECH

Meeting

Pertemuan menyetujui rekomendasi pertemuan ke-44 APCC COCOTECH yang mengusulkan diadakannya

multi-country clinical trials di beberapa negara anggota untuk

membuktikan keandalan dan manfaat kesehatan produk-produk olahan dari kelapa. Hal ini terutama untuk memerangi pencitraan yang negatif terhadap kesehatan manusia atas produk-produk olahan kelapa oleh beberapa kalangan konsumen. Pertemuan juga menyambut baik usulan COCOTECH untuk melakukan studi mengenai komoditas kelapa terkait dengan perubahan iklim dan strategi peningkatan kesejahteraan di kalangan petani dan masyarakat pengelola komoditas kelapa.

Proposal Pengenaan Standar Kualitas Produk Kelapa

Menanggapi usulan atas pengadopsian APCC tentang standar kualitas produk kelapa, pertemuan menegaskan bahwa standar APCC untuk 15 jenis produk kelapa hanya digunakan sebagai referensi atau pedoman bagi negara-negara anggota APCC yang ingin menyusun dan mengembangkan standar kualitas nasionalnya.

Administrative Matters Melalui pemilihan secara tertulis, Mrs. Wilaiwan Twishsri dari Thailand, dipilih oleh para negara anggota dengan mendapatkan nilai tertinggi sebagai APCC

Assistant Director, terhitung aktif mulai tanggal 1

September 2011 untuk periode selama tiga tahun. Pertemuan mencatat keinginan Pemerintah Palau dan Tuvalu untuk bergabung sebagai APCC regular member. Brasil, Kenya, Meksiko, dan Nigeria telah menyampaikan keinginannya untuk bergabung sebagai APCC associate

member.

Menanggapi usulan APCC Executive Director untuk mempertimbangkan keinginan Jamaika bergabung sebagai regular member dengan voting rights, Indonesia didukung oleh para anggota APCC lainnya, mengusulkan supaya voting rights untuk sementara ini dibatasi dahulu untuk negara-negara anggota di kawasan Asia dan Pasifik. APCC tetap melakukan perluasan kerja sama dengan negara-negara di luar kawasan dengan memperluas associate membership-nya.

Untuk tahun 2011, Pemerintah Solomon Islands akan menjadi ketua APCC dan wakilnya oleh Pemerintah Vietnam. Direncanakan pertemuan ke-48 APCC Session akan diadakan di Solomon Islands pada minggu ke-4 bulan November 2011.

D. Forum Kerja Sama Bilateral

Kunjungan Kerja ke New Delhi Dalam Rangka Mengikuti Kunjungan Kenegaraan Presiden RI

Kunjungan kerja ke New Delhi, India dalam rangka kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia dilaksanakan pada tanggal 23 – 27 Januari 2011.

Pertemuan Presiden RI dengan Perdana Menteri Dr. Manmohan Singh

Pada kesempatan pertemuan dengan Perdana Menteri Dr. Manmohan Singh, secara umum telah dibahas isu-isu bilateral, regional, dan global yang menjadi perhatian kedua negara. Isu bilateral yang dibahas adalah evaluasi Kemitraan Strategis yang dibentuk pada saat kunjungan pertama Presiden RI pada tahun 2005.

Pelaksanaan Kemitraan Strategis telah mengalami berbagai kemajuan antara lain di bidang politik, keamanan, perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, pertanian, olah raga, pariwisata, dan pertukaran budaya antara kedua negara. Pemimpin kedua negara sependapat perlu dilanjutkan upaya peningkatan perluasan hubungan ekonomi perdagangan di masa depan karena kedua negara mempunyai peluang yang dapat dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat kedua negara. Kedua negara juga bertekad untuk bekerja lebih erat dalam menghadapi tantangan global.

Setelah pertemuan bilateral, pemimpin kedua negara menyaksikan penanda tanganan 15 (lima belas)

Memorandum of Understanding antar kedua pemerintah yaitu: Forum Menteri Perdagangan Dua Tahunan; Bantuan Hukum Timbal Balik dalam masalah Pidana RI-India; Ekstradisi; Pendidikan; Scientific and

Technological; Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;

Migas; Pengolahan Urea; Kelautan dan Perikanan; Transportasi Udara; Pertukaran Intelijen Keuangan antara Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan; Layanan Cuaca, Iklim, Geofisika. dan Peringatan Dini Bahaya Pesisir; Zona Perdagangan Bebas BP Batam dengan Santacruz Electronics Export

Processing Zone; dan Kerja sama antara Dewan Pers

RI-India. Nota kesepahaman tersebut telah ditanda tangani oleh para menteri dan kepala lembaga kedua Negara.

MoU on Biennial Trade Ministers Forum yang ditanda

tangani oleh Menteri Perdagangan RI dan Menteri Perdagangan dan Industri India bertujuan untuk meningkatkan kerja sama perdagangan barang dan jasa agar tercapai target nilai total perdagangan sebesar US$ 25 milyar pada tahun 2015. Di samping itu akan dibentuk Forum Perdagangan dan Investasi antara kedua Menteri Perdagangan untuk memanfaatkan peluang dan identifikasi potensi perdagangan serta investasi kedua Negara. Forum Menteri Perdagangan

Dokumen terkait