DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ………...………... i
KATA PENGANTAR ... iii
RINGKASAN EKSEKUTIF ………...………... iv
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
BAB I KINERJA ………... 1
A. Forum Kerja Sama Multilateral …………..……… 1
Sidang Committee on Agriculture-Special Session (CoA-SS) ... 1
B. Forum Kerja Sama ASEAN ……….………... 3
1. The Third Meeting of the Sub-Committee on ATIGA Rules of Origin (3rd SC-AROO) ... 3
2. Pertemuan the 3rd ASEAN Trade Facilitation Joint Consultative Committee (3rd ATF-JCC) ………... 6
3. Pertemuan Legal Experts ……… 8
4. The Third Meeting of the Coordinating Committee on the Implementation of the ATIGA (3rd CCA) ……… 8
5. Senior Economic Official Meeting for the Forty-Second ASEAN Economic Ministers Meeting (SEOM 1/42) ... 11
6. Rapat Kelima Sekretariat Nasional ASEAN ... 22
C. Forum Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya ………… 23
1. Pertemuan Tahunan World Economic Forum ... 23
2. Pertemuan Organizing Committee dan Editorial Committee ……… 27
3. 47th Asia Pacific Coconut Community Session/Ministerial Meeting…. 30 D. Forum Kerja Sama Bilateral ... 33
Kunjungan Kerja ke New Delhi Dalam Rangka Mengikuti Kunjungan Kenegaraan Presiden RI ... 33
E. Perundingan Perdagangan Jasa ... 36
1. Pertemuan Working Party on GATS Rules (WPGR) ... 36
2. Pertemuan Bilateral dalam rangka Services Week ... 38
3. Pertemuan Working Party on Domestic Regulation (WPDR) ... 40
BAB II PERMASALAHAN DAN TINDAK LANJUT .………... 43
A. Kendala dan Permasalahan ………... 43
1. Rangkaian Sidang ASEAN ... 43
2. Rapat Kelima Sekretariat Nasional ASEAN ... 43
3. Persiapan Penyelenggaraan Peringatan 10 Tahun Kerja Sama Tiga Negara di Bidang Karet Alam ... 43
5. Kunjungan Delegasi RI ke New Delhi, India ... 44
6. Pertemuan Working Party on GATS Rules (WPGR) ... 44
7. Pertemuan Working Party on Domestic Regulation (WPDR) ... 44
B. Tindak Lanjut Penyelesaian ……….. 45
1. Rangkaian Sidang ASEAN ... 45
2. Rapat Kelima Sekretariat Nasional ASEAN ... 46
3. Persiapan Penyelenggaraan Peringatan 10 Tahun Kerja Sama Tiga Negara di Bidang Karet Alam ... 46
4. Pertemuan ke-47 Asia Pacific Coconut Community Session ………. 46
5. Kunjungan Delegasi RI ke New Delhi, India ... 47
6. Pertemuan Working Party on GATS Rules (WPGR) ... 47
7. Pertemuan Working Party on Domestic Regulation (WPDR) ... 47
KATA PENGANTAR
Laporan Bulanan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional merupakan uraian pelaksanaan kegiatan dari tugas dan fungsi Direktorat-direktorat dan Sekretariat di lingkungan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, yang terdiri dari rangkuman pertemuan, sidang dan kerja sama di forum kerja sama Multilateral, ASEAN, APEC dan organisasi internasional lainnya, Bilateral serta Perundingan Perdagangan Jasa setiap bulan baik di dalam maupun di luar negeri.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan laporan bulanan ini adalah untuk memberikan masukan dan informasi kepada unit-unit terkait Kementerian Perdagangan, dan sebagai wahana koordinasi dalam melaksanakan tugas lebih lanjut. Selain itu, kami harapkan Laporan Bulanan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional ini, dapat memberikan gambaran yang jelas dan lebih rinci mengenai kinerja operasionalnya.
Akhir kata kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sejak penyusunan hingga penerbitan laporan bulanan ini.
Terima kasih.
Jakarta, Januari 2011 DIREKTORAT JENDERAL KPI
RINGKASAN EKSEKUTIF
Beberapa kegiatan penting yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional pada bulan Januari 2011, antara lain:
Sidang Committee on Agriculture-Special Session (CoA-SS)
Beberapa kemajuan yang dicapai dalam rangkaian sidang kali ini adalah tercatat adanya indikasi yang kuat dari para anggota akan terus melakukan konsultasi setelah sidang ini berakhir baik untuk membahas isu outstanding maupun isu teknis lainnya.
The Third Meeting of the Sub-Committee on ATIGA Rules of Origin (3rd SC-AROO)
Pertemuan antara lain membahas: (i) Self Certification; (ii) Multiple Back-to-Back CO; (iii) Mechanism for Recognition of ASEAN-Originated Products Imported under Various Forms, e.g. Form E, Form AK, Form AJ and so forth, to be cumulated under Form D; (iv)
Mechanism to Communicate and Circulate Specimen Signatures; (v) Most Appropriate ROO for Automotive Products; dan (vi) Private Sector Inputs on the ROO.
Pertemuan the 3rd ASEAN Trade Facilitation Joint Consultative Committee (3rd ATF-JCC)
Pertemuan antara lain membahas: (i) Survey of Trade Facilitation; (ii) Proposed Benchmark Indicators; (iii) Monitoring of Implementation of ASEAN Trade Facilitation Work Programme (ATF WP); dan(iv) Participation of Private Sector
Pertemuan Legal Experts
Pertemuan ini membahas: (i) perlu/tidaknya legal instrument bagi negara anggota untuk bergabung dalam self-certification pilot project; (ii) legal arrangements untuk memasukkan provisi self-certification ke dalam ATIGA ROO; (iii) draft Second Protocol to Amend the Basic Agreement of AICO; dan (iv) draft Protocol to Amend Certain ASEAN Economic Agreements related to Trade in Goods.
The Third Meeting of the Coordinating Committee on the Implementation of the ATIGA (3rd CCA)
Pertemuan ini membahas: (i) ATIGA Tariff Reduction Schedule (Annex 2 of ATIGA); (ii)
Issuance of ATIGA Legal Enactment for CLMV; (iii) ASEAN Committee on SPS (AC-SPS); (iv) Review of the Waiver for Rice and Sugar; (v) Elimination of Non-Tariff Barriers; (vi)
Development of NTM Guidelines; (vii) AICO Matters; serta(viii) ASEAN Trade Repository;
dan ASEAN Consultation to Solve Trade and Investment (ACT).
Senior Economic Official Meeting for the Forty-Second ASEAN Economic Ministers
Meeting (SEOM 1/42)
Pertemuan ini didahului dengan penyelenggaraan High-Level Workshop on the Establishment of ASEAN Trade Repository dan pertemuan kedua ASEAN Plus Working
pencapaian (deliverables) untuk tahun 2011 yang antara lain mencakup kegiatan pada keempat pilar dari AEC Blueprint.
Rapat Kelima Sekretariat Nasional ASEAN
Rapat membahas dan memutuskan hal-hal terkait dengan (i) 2011 notional calendar; (ii) Pelibatan stakeholders (People Oriented & People Centered ASEAN); dan (iii) Launching
situs ASEAN Indonesia.
Pertemuan Tahunan World Economic Forum
Pertemuan Tahunan di Davos tahun 2011 bertema besar “Shared Norms of the New Reality” dengan fokus utama pembicaraan terpusat pada isu-isu ketahanan pangan dan gejolak harga komoditas pangan internasional, pertumbuhan yang menyeluruh dan berkelanjutan, perubahan iklim serta bergesernya tata kelola global seiring dengan krisis finansial yang terjadi di tahun 2008.
Pertemuan Organizing Committee (OC) dan Editorial Committee (EC)
Tujuan pertemuan adalah sebagai persiapan penyelenggaraan peringatan 10 tahun kerja sama tiga negara di bidang karet alam. Rangkaian acara peringatan 10 tahun kerja sama tiga negara di bidang karet alam akan diselenggarakan pada tanggal 10-12 Desember 2011 di Bali dengan tema "towards an affluent natural rubber growing community”.
47th Asia Pacific Coconut Community Session/Ministerial Meeting
Pertemuan menyetujui rekomendasi pertemuan ke-44 APCC COCOTECH yang mengusulkan diadakannya multi-country clinical trials di beberapa negara anggota untuk membuktikan keandalan dan manfaat kesehatan produk-produk olahan dari kelapa
Kunjungan Kerja ke New Delhi Dalam Rangka Mengikuti Kunjungan Kenegaraan Presiden RI
Dalam rangka kunjungan kenegaraan Bapak Presiden Republik Indonesia, telah dilaksanakan rangkaian kegiatan antara lain rapat persiapan pertemuan bilateral dan
business forum, pertemuan dengan pengusaha India, pertemuan bilateral Presiden RI dengan Perdana Menteri Dr. Manmohan Singh, serta penandatanganan nota kesepahaman kerja sama bilateral antara kedua Pemerintah dan business forum.
Pertemuan Working Party on GATS Rules (WPGR)
Agenda utama sidang adalah pembahasan isu Emergency Safeguards Measures (ESM),
Government Procurement (GP), dan subsidi.
Pertemuan Bilateral dalam rangka Services Week
Delri telah melakukan pertemuan bilateral dengan Jepang, Uni Eropa, dan Australia. Pertemuan bilateral ini ditujukan sebagai follow up dari pembahasan request and offer
Pertemuan Working Party on Domestic Regulation (WPDR)
Pada umumnya negara anggota mendukung usulan work programme tahun 2011 dengan menekankan pentingnya WPDR melakukan intensifikasi perundingan dalam
formal/informal group dan small group untuk drafting process yang bersifat inclusive
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Pelaksanaan The Third Meeting of the Sub-Committee on ATIGA Rules of
Origin (3rd SC-AROO) ………. 6
Gambar 2 Pelaksanaan Senior Economic Official Meeting (SEOM-1/42) ……….. 22 Gambar 3 Pelaksanaan Acara Breakfast Session: Implications on Business of the
Inclusive Growth Paradigm of India and Indonesia - Discussion on the
Imperatives of Business of Inclusive Growth Paradigm ………. 27
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Tindak Lanjut Coordinating Committee on the Implementation of the
BAB I
KINERJA
A. Forum Kerja Sama Multilateral
Sidang Committee on Agriculture-Special Session (CoA-SS)
Sidang Committee on Agriculture-Special Session (CoA-SS) berlangsung pada tanggal 17-21 Januari 2011 di Jenewa. Sidang dipimpin oleh Ketua CoA-SS Duta Besar David Walker dan dihadiri oleh seluruh negara anggota World Trade Organization.
Pembahasan draf teks pertanian
Ketua CoA-SS menekankan program kerja yang telah disampaikan oleh Ketua Trade Negotiating Committee
pada tanggal 30 November 2010 untuk mengeluarkan draf teks ke-5 Pertanian pada Kuartal I Tahun 2011. Untuk itu Ketua CoA-SS mengusulkan pembahasan sidang CoA-SS ke depan tetap didasarkan draf Pertanian teks ke-4 bulan Desember 2008 yang akan mencakup empat komponen pendekatan utama serta usulan negara anggota yang terkait dengan draf teks ke-4 yaitu:
1) Outstanding issues, pending issues yang masih
''bracketed or otherwise annotated" dalam Draf Teks Desember 2008 serta paper yang terkait dengan isu tersebut, seperti Sensitive Products, Tariff Rate Quota (IRQ), Tariff Escalation, Tariff Quotas, Special Agricultural Safeguard (SSG), Tropical Products, Preference Erosion, Special Safeguard Mechanism
(SSM), dan Sanitary and Phyto-Sanitary (SPS);
2) Isu yang belum jelas dan memerlukan klarifikasi dalam draf teks Desember 2008, seperti yang diajukan dalam paper Argentina, China, dan India; 3) Koreksi kesalahan typographical;
4) Penyelesaian dan penyerahan data dari masing-masing negara anggota yang terkait dengan modalitas seperti data Value of Production untuk menghitung domestic support serta data domestic consumption untuk menghitung tariff quota yang baru.
Pembahasan Agriculture Week dilaksanakan dalam format perundingan informal open-ended, Room E,
Beberapa kemajuan yang dicapai dalam rangkaian sidang kali ini adalah tercatat adanya indikasi yang kuat dari para anggota akan terus melakukan konsultasi setelah sidang ini berakhir baik untuk membahas isu
outstanding maupun isu teknis lainnya. Arah
pendekatan pembahasan isu teknis dan outstanding ke depan akan lebih diserahkan ke negara-negara key players untuk menyelesaikannya baik dalam format
small groups maupun konsultasi bilateral. Indonesia terlibat aktif melakukan konsultasi bilateral dan plurilateral mengenai isu SSM dengan beberapa negara yang berkepentingan untuk mengamankan ekspor produk pertanian mereka seperti Australia, Selandia Baru, dan Norwegia.
Pertemuan Bilateral Indonesia-Australia dan Selandia Baru
Dalam pertemuan Bilateral Indonesia-Australia dan Indonesia–Selandia Baru, terungkap bahwa negera-negara maju eksportir pertanian, meyakinkan bahwa SSM akan tetap dipertahankan dalam modalitas draf teks pertanian, namun isu disiplin pelaksanaan kebijakan SSM seperti tertuang dalam draf teks W/7 perlu dibahas secara terbuka.
Australia dan Selandia Baru memahami kepentingan SSM bagi negara berkembang namun kedua negara tersebut menghimbau agar penerapan SSM tidak disalahgunakan dalam ragka mendistorsi pasar ekspor. Penerapan SSM juga dapat menjadi bumerang bagi Indonesia sebagai negara eksportir karena negara tujuan ekspor dikhawatirkan juga akan menerapkan SSM bagi beberapa komoditas pertanian tropis Indonesia. Oleh sebab itu, perlu kompromi bagi negara eksportir dan importir mengenai elemen dalam SSM. Indonesia akan terlibat aktif dalam pembahasan bilateral mengenai SSM dengan prinsip dasar mempertimbangkan kepentingan defensif dan ofensif. Dalam rangka mengintensifkan proses konsultasi yang
member-driven, Norwegia dan Australia berinisiatif menyelenggarakan pertemuan plurilateral tingkat Duta Besar/SOM tujuh negara termasuk Indonesia, Kanada, Meksiko, Kolombia, dan Mauritus. Dari komposisi peserta, dapat diartikan pertemuan plurilateral ini sebagai keinginan untuk mengumpulkan kekuatan kelompok
likeminded di “second layer” setelah G-5 (AS, UE, China, India, dan Brasil). Delegasi Indonesia dipimpin Duta Besar RI-WTO/Dewatapri II, beranggotakan unsur delegasi pusat maupun PTRI Jenewa.
Pertemuan plurilateral “Oslo Group”
Pertemuan plurilateral “Oslo Group” menghasilkan kesepakatan agar upaya plurilateral dalam format kelompok likeminded yang terbatas dalam format “Oslo Group” terus ditingkatkan untuk mendukung Ketua COA-SS dalam mencapai target penyelesaian perundingan draf modalitas pertanian pada semester I/2011. Untuk itu akan dilakukan pertemuan lanjutan pada minggu kedua bulan Februari 2011.
Para Dubes/Senior Oficials mencoba mengidentifikasi isu-isu pending utama dalam draf modalitas yang dapat didorong penyelesaiannya di Jenewa melalui semangat
problem solving. Pandangan yang mengemuka adalah SSM sebagai isu yang paling rumit secara teknis, sehingga penting untuk mendapat perhatian penyelesaiannya. Namun untuk memberikan keseimbangan, Oslo Group juga memandang perlu untuk memperhatikan penyelesaian atas isu-isu lain seperti tariff simplification.
Diharapkan jika terjadi kemajuan substantif dalam perundingan plurilateral/bilateral atas isu-isu pending, Ketua COA/SS memiliki dasar yang memadai untuk mengesahkan sidang open-ended dan menuangkannya pada Revisi 5 draf modalitas yang ditargetkan selesai pada saat hari raya Paskah tahun 2011. Mauritius mengingatkan bahwa proses perundingan antara bulan Desember 2008 sampai tahun 2010 telah menghasilkan prestasi substantif berupa penyelesaian sebagian isu preference erosion
(pisang), yang dapat menjadi sebagai salah satu dasar mengubah draf modalitas revisi 4.
Indonesia menyatakan kesiapannya untuk terus berpartisipasi dalam pembahasan problem solving atas isu SSM. Diharapkan agar sementara waktu proses ini dilakukan secara hati-hati agar Indonesia dapat memperoleh dukungan konstruktif dari para anggota G-33 dalam menyelesaikan perundingan plurilatera/bilateral atas isu SSM.
B. Forum Kerja Sama ASEAN
1. The Third Meeting of the Sub-Committee on ATIGA Rules of Origin (3rd SC-AROO)
Pertemuan berlangsung pada tanggal 10-11 Januari 2011 dan dihadiri oleh perwakilan dari negara anggota ASEAN dan Sekretariat ASEAN.
Self Certification Pertemuan mencatat pelaksanaan Pilot Project on Self Certification sejak 1 November 2010 oleh Brunei,
Malaysia, dan Singapura dan menekankan perlunya
information sharing kepada negara anggota lainnya. Pertemuan juga mencatat rencana Thailand untuk bergabung dalam pilot project mulai bulan Mei 2011, dan menghimbau kepada seluruh negara anggota untuk menyampaikan kepada Sekretariat ASEAN kebutuhan
technical assistance/capacity building untuk
mengembangkan self certification ini.
Indonesia kembali menjelaskan 4 (empat) requirements
yang diperlukan untuk dapat bergabung dalam pilot project. Melalui diskusi dan penjelasan antara peserta
pilot project dan Indonesia, maka dalam pertemuan ini “tersisa” 2 (dua) dari 4 (empat) requirements yang dipersyaratkan Indonesia untuk dapat bergabung dalam
pilot project. Kedua requirements dimaksud adalah (i) hanya menerima invoice declaration yang diterbitkan oleh certified exporter manufacturer; dan (ii) membatasi penandatangan pada invoice declaration untuk setiap
certified exporter manufacturer. Peserta pilot project
meminta Indonesia mempertimbangkan kembali dua
requirements ini untuk ditanggalkan dan segera
bergabung dalam pilot project.
Multiple Back-to-Back CO
Pertemuan kembali membahas paper Sekretariat ASEAN mengenai the Establishment of the Multiple Back to
Back CO Issuance Agreement. Mengingat beberapa
negara anggota ternyata menyampaikan kesulitannya untuk menerapkan 12 Guiding Principles yang secara prinsip sudah disetujui dalam pertemuan sebelumnya, dan tidak adanya mandat yang jelas dari AFTA Council,
pertemuan sepakat menghentikan pembahasan mengenai hal ini sampai ada perkembangan baru untuk mempertimbangkan kembali gagasan ini.
Mechanism for Recognition of
ASEAN-Originated Products Imported under Various Forms, e.g. Form E, Form AK, Form AJ and so forth, to be cumulated under Form D
Pertemuan mengkaji kembali paper Sekretariat ASEAN mengenai hal ini dan mencatat bahwa AFTA Council
belum/tidak memberikan arahan yang jelas. Beberapa negara khususnya Indonesia dan Filipina tetap berpendapat belum dapat melihat kejelasan manfaat dari mekanisme ini bagi ASEAN dan UKM. Pertemuan sepakat agar Sekretariat ASEAN memperbaiki paper-nya dengan ilustrasi yang mudah dimengerti dan kemungkinan permasalahan yang mungkin muncul dalam penerapannya, untuk selanjutnya dibahas dalam pertemuan mendatang.
Mechanism to Communicate and Circulate Specimen Signatures
Pertemuan kembali membahas mekanisme ini dan mencatat bahwa permasalahan yang muncul bukanlah antar negara anggota atau antara negara anggota dengan Sekretariat ASEAN, tetapi lebih pada mekanisme di tingkat nasional yang kurang efektif untuk menyampaikan spesimen kepada kantor pabean di seluruh entry points. Atas masukan dari negara anggota, Sekretariat ASEAN akan menyusun usulan perbaikan atas mekanisme yang sudah ada saat ini.
Most Appropriate ROO for Automotive Products
Konsultan APRIS II telah menyelesaikan kunjungan lapangan di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam serta mempresentasikan hasil akhir kajiannya. Hal menarik untuk dicatat adalah temuan konsultan bahwa industri perakitan (umumnya industri besar dengan dukungan ATPM) merasa cukup puas dengan kriteria RVC 40%, namun industry parts dan komponen (umumnya adalah perusahaan UKM dan usaha “asli” ASEAN—tanpa investasi asing) merasa berat untuk mengikuti/memenuhi kriteria RVC 40% dan lebih menginginkan penerapan kriteria CTC (change in tariff chapter seperti untuk pipa knalpot, sistem rem, dan lain-lain). Berdasarkan hasil mapping maka konsultan dimaksud menyampaikan beberapa rekomendasi, termasuk di antaranya agar masalah AICO diputuskan secepat mungkin, dan agar dilakukan penyederhanaan prosedur ekspor-impor termasuk dengan menerapkan
self certification.
Private Sector Inputs on the ROO
Pertemuan membahas surat Menteri Perdagangan dan Industri Singapura tanggal 1 November 2010 yang meneruskan usulan dari sektor bisnis bagi (i) penghapusan pencantuman invoice pada saat mengajukan permohonan SKA dan penghapusan cost
statement apabila digunakan kriteria CTC; (ii)
penghapusan nilai FOB pada SKA; dan (iii) dimasukkannya aturan ASEAN’s partial cumulation pada ASEAN+1FTAs. Posisi negara-negara anggota sangat bervariasi untuk ketiga usulan dimaksud sehingga disepakati agar setiap negara anggota menyampaikan penjelasan tertulis mengenai posisinya masing-masing untuk selanjutnya disusun sebagai masukan kepada AEM melalui SEOM.
Gambar 1. Pelaksanaan The Third Meeting of the Sub-Committee on ATIGA Rules of Origin (3rd SC-AROO)
2. Pertemuan the 3rd ASEAN Trade Facilitation Joint Consultative Committee (3rd ATF-JCC)
Pertemuan berlangsung pada tanggal 11-12 Januari 2011 dan dihadiri oleh wakil seluruh negara anggota ASEAN dan wakil Sekretariat ASEAN.
Survey of Trade Facilitation
Sebagaimana dilaporkan dari pertemuan pertama dan kedua ATF-JCC, negara anggota ASEAN perlu melakukan survei nasional mengenai status trade facilitation di negara masing-masing. Survei ini pernah dilakukan di Indonesia dan Vietnam oleh konsultan ASEAN-US Technical Assistance and Training Facility (AUSTATF), namun hasilnya sangat tidak memuaskan karena sangat rendahnya respon dari dunia usaha. Untuk itu disepakati agar AUSTATF melakukan konsultasi dan kerja sama dengan World Bank untuk menggelar regional workshop
mengenai modalitas, persiapan, dan pelaksanaan survei
trade facilitation ini. Atas usulan anggota, regional workshop yang dijadwalkan ulang ke bulan Maret/ April 2011 akan mengundang pula wakil dari pelaku bisnis dan industri di ASEAN. Dengan demikian, target waktu penyampaian hasil survei itu sendiri kepada AFTA Council pada bulan Agustus 2011 diperkirakan akan mengalami penundaan, namun tetap akan menjadi salah satu deliverable utama pada tahun 2011 ini.
Proposed Benchmark Indicators
Terkait dengan hal di atas, pertemuan kembali membahas benchmark indicators untuk mengukur kemajuan kerja sama ASEAN di bidang trade facilitation. Konsep benchmarks yang telah disetujui oleh 23rd AFTA
Council menjadi rujukan ATF-JCC dalam mencoba
merumuskan quantifiable benchmarks namun negara anggota masih berbeda pandangan mengenai hal ini.
Atas saran Sekretariat ASEAN yang melakukan konsultasi dengan AUSTATF, direkomendasikan agar ASEAN menggunakan data “doing business” yang dikembangkan oleh World Bank yang secara jelas dapat mengidentifikasikan “time and costs” terkait kegiatan ekspor dan impor. Berdasarkan masukan ini, Sekretariat ASEAN akan memperbaiki matriks Proposed Benchmark Indicators untuk mendapatkan pertimbangan anggota namun negara anggota juga diminta memberikan masukan terhadap matriks yang ada.
Monitoring of Implementation of ASEAN Trade Facilitation Work
Programme (ATF WP)
Pertemuan membahas status usulan Indonesia untuk memasukkan ke dalam ATF-WP: (i) pelaporan kemajuan penerapan International Sanitary and Phyto-Sanitary
Mechanism dalam rangka harmonisasi prosedur
karantina dan inspeksi; dan (ii) pertukaran informasi pengembangan electronic certification system di masing-masing negara anggota. Pada prinsipnya usulan ini diterima baik namun ATF-JCC masih perlu mempertimbangkan kaitanya dengan tugas ASEAN Committee on SPS yang saat ini belum terbentuk. Untuk itu, masing-masing negara anggota dan Sekretariat ASEAN diminta mengkonsultasikan hal ini kepada perwakilan SPS masing-masing.
Participation of Private Sector
Pertemuan membahas daftar usulan yang disampaikan oleh berbagai perwakilan bisnis khususnya yang terkait dengan trade facilitation. Pertemuan juga membahas matriks tanggapan yang disusun oleh Sekretariat ASEAN dan meminta agar tanggapan dimaksud di-reformat
berdasarkan common queries dan menambahkan kolom
“responsible party/ASEAN sectoral body(ies).”
Pertemuan juga sepakat agar tanggapan ini dapat diselesaikan sebelum diselenggarakannya konsultasi dengan Federation of Japan Chamber of Commerce and Industry in ASEAN pada bulan Juli 2011 di Kuala Lumpur, dan untuk itu Sekretariat ASEAN akan mensirkulasikan matriks hasil perbaikannya selambatnya tanggal 28 Februari 2011 untuk mendapatkan tanggapan maupun
3. Pertemuan Legal Experts
Pertemuan berlangsung secara paralel dengan pertemuan ATF-JCC dan CCA pada tanggal 12-13 Januari 2011. Delegasi Indonesia terdiri dari wakil dari Kemlu dan Pusat Pelayanan Advokasi Kerja Sama Internasional, serta Direktorat Kerja Sama ASEAN, Kemendag.
Pertemuan ini membahas (i) perlu/ tidaknya legal instrument bagi negara anggota untuk bergabung dalam
self-certification pilot project; (ii) legal arrangements
untuk memasukkan provisi self-certification ke dalam ATIGA ROO; (iii) draft Second Protocol to Amend the Basic Agreement of AICO; dan (iv) draft Protocol to Amend Certain ASEAN Economic Agreements related to Trade in Goods.
Legal instrument Khusus mengenai legal instrument untuk menerapkan
self certification, Indonesia dan beberapa negara lainnya menggarisbawahi kemungkinan diperlukannya proses ratifikasi karena penerapan self certification secara definitif (mulai 2012) akan terkait dengan keberadaan Undang-Undang Kepabeanan. Sementara mengenai
draft Second Protocol to Amend the Basic Agreement of AICO, pertemuan sepakat untuk menunggu arahan SEOM mengenai kelanjutan dari skim AICO itu sendiri. Pertemuan juga sepakat untuk melakukan konsultasi domestik apakah draft Protocol to Amend Certain ASEAN Economic Agreements related to Trade in Goods
kelak harus melalui proses ratifikasi sebelum berlaku efektif.
4. The Third Meeting of the Coordinating Committee on the Implementation of the ATIGA (3rd CCA)
Pertemuan berlangsung pada tanggal 12-14 Januari 2011, dihadiri oleh wakil dari seluruh negara anggota ASEAN dan Sekretariat ASEAN. Pertemuan CCA ini menerima laporan-laporan yang disampaikan dari pertemuan-pertemuan SC-AROO, ATF-JCC, dan legal expert serta membahas isu-isu yang belum/ tidak dapat disepakati dalam ketiga forum tersebut.
ATIGA Tariff Reduction Schedule (Annex 2 of ATIGA)
Pertemuan mencatat bahwa Laos dan Kamboja telah menyampaikantariff schedule-nya masing-masing untuk tahun 2010-2012 dan 2010-2015 melalui surat Sekretaris Jenderal ASEAN kepada seluruh Menteri AFTA
Menteri AFTA Council masing-masing menyampaikan persetujuannya secara ad-referendum agar Laos dan Kamboja dapat segera menerapkan tariff schedule-nya. Pertemuan juga sepakat meminta Vietnam menyampaikan tariff schedule setidaknya hingga tahun 2013, termasuk di dalamnya 47 pos tarif untuk
automotive dan bicycle yang selama ini tidak
dicantumkan besaran tarifnya.
Issuance of ATIGA Legal Enactment for CLMV
Kamboja menginformasikan bahwa legal enactment
belum dapat diterbitkan sampai AFTA Council
memberikan persetujuan, sehingga sementara ini masih memberlakukan tariff schedule untuk tahun 2010 tanpa kemungkinan bagi dilakukannya refund pada saat 2011 schedule diterapkan. Laos telah menerbitkan legal
enactment untuk tahun 2010-2012, sehingga
persetujuan AFTA Council lebih merupakan kebutuhan akan formalitas hukum. Sementara itu Vietnam menginformasikan bahwa legal enactment untuk CEPT AFTA berlaku sampai tahun 2013.
ASEAN Committee on SPS (AC-SPS)
Pertemuan mencatat bahwa terms of reference
pembentukan AC-SPS telah disahkan oleh the 24th AFTA Council, dan sepakat agar AC-SPS segera diaktivasikan guna menyepakati program kerja dan rencana kegiatannya. Untuk itu negara anggota kembali diminta untuk menyampaikan nama-nama wakilnya yang akan duduk dalam AC-SPS kepada Sekretariat ASEAN dan memulai kerjanya secara inter-sessional.
Review of the Waiver for Rice and Sugar
Pertemuan meminta Indonesia dan Filipina untuk menyusun justifikasi apabila ingin memperpanjang fasilitas waiver untuk produk beras dan gula berdasarkan Protocol to Provide Special Consideration on Rice and Sugar (untuk menunda penurunan tarif dan mempertahankannya pada General Exception List). Kedua negara menyatakan akan menyiapkan usulan berikut data yang diperlukan untuk disampaikan pada pertemuan CCA mendatang. Kesepakatan CCA mengenai usulan Indonesia dan Filipina ini akan disampaikan kepada SEOM guna direkomendasikan kepada AFTA Council pada bulan Agustus 2011.
Elimination of Non-Tariff Barriers
Pertemuan antara lain membahas penghapusan NTMs
tranches ketiga (2012) bagi Filipina serta program penghapusan NTMs dalam tiga tranches bagi Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam (2013, 2014, dan 2014), dan updates on newly introduced NTMs. Filipina
menyatakan tidak ada rencana penghapusan NTMs pada
tranches ketiga karena NTMs yang berlaku sudah sesuai ketentuan WTO. Demikian pula dengan Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam. Keempat negara anggota tersebut menyatakan belum ada rencana untuk melakukan penghapusan karena NTMs yang diterapkan sudah sesuai dengan ketentuan WTO.
Pertemuan menyadari tidak banyak kemajuan yang dapat dicapai dalam program penghapusan NTMs sesuai mandat ATIGA karena masing-masing negara menyatakan NTMs yang diterapkannya tidak melanggar ketentuan WTO. Negara anggota sepakat untuk mencoba mendapatkan masukan dari pelaku usaha dan melakukan dialog yang melibatkan “regulator” dan dunia usaha. Sekretariat ASEAN akan menyiapkan detail dari rencana ini sebelum pertemuan CCA berikutnya.
Development of NTM Guidelines
Pertemuan mencatat hasil studi konsultan ADB mengenai berbagai licensing yang diterapkan di masing-masing negara ASEAN, serta rekomendasi yang dihasilkan dari studi ini. Disepakati agar seluruh negara anggota melakukan konsultasi domestik atas rekomendasi konsultan ini dan atas draft Import
Licensing Procedures (ILP) Guidelines, dan
menyampaikan tanggapan atau saran perbaikan kepada Sekretariat ASEAN. ILP Guidelines ini selanjutnya akan disampaikan kepada SEOM untuk disahkan pada pertemuan AFTA Council ke-25.
AICO Matters Anggota CCA mencatat bahwa pertemuan WGIC yang
berlangsung pada tanggal 13-14 Desember 2010 tidak mencapai kata sepakat sehingga CCA saat ini tidak dalam posisi untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan penyesuaian skim AICO dengan ATIGA. Pertemuan sepakat untuk meminta arahan dan keputusan SEOM utamanya untuk isu yang terkait dengan (i) kelanjutan Certificate of Eligibility (COE) yang diterbitkan sebelum Januari 2005 yang masih mengenal
tariff bands 0%-3%; dan (ii) kelanjutan skim AICO itu sendiri.
ASEAN Trade Repository Pertemuan mencatat rencana dilaksanakannya
High-Level Workshop on the Establishment of ATR pada tanggal 18 Januari 2011 di Jakarta yang mendahului pertemuan SEOM 1/42. Delegasi Indonesia meminta dukungan CCA agar dapat merekomendasikan SEOM
ASEAN Consultation to Solve Trade and Investment (ACT)
Sekretariat ASEAN menginformasikan bahwa sampai saat ini pihaknya masih mencari penyandang dana dalam rangka memperkuat ACT yang didasarkan pada model yang dikembangkan EU. Pertemuan menekankan perlunya promosi untuk meningkatkan utilisasi ACT oleh sektor swasta, dan sepakat agar (i) Sekretariat ASEAN menyediakan link ACT pada halaman pertama website
ASEAN; (ii) Sekretariat ASEAN menerbitkan kutipan manual mengenai ACT system untuk dipublikasikan; dan (iii) membuat hyperlink antara ACT dan ATR pada saat ATR telah terbentuk.
5. Senior Economic Official Meeting for the Forty-Second ASEAN Economic Ministers
Meeting (SEOM 1/42)
Pertemuan diselenggarakan pada tanggal 19-21 Januari 2011 di Jakarta, Indonesia. Pertemuan ini dipimpin oleh Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional selaku SEOM Chair tahun ini, dan dihadiri oleh SEOM
Leaders dari seluruh anggota ASEAN serta wakil
Sekretariat ASEAN.
Pertemuan SEOM dilakukan dalam dua format. Pertama adalah dalam format retreat (SEOM Lead+2) pada tanggal 19 Januari 2011 dan kedua dalam format
plenary pada tanggal 20 dan 21 Januari 2011.
SEOM Work Program and Deliverables for 2011
SEOM membahas program kerja dan rencana pencapaian (deliverables) untuk tahun 2011 yang antara lain mencakup kegiatan pada keempat pilar dari AEC
Blueprint. SEOM sepakat bahwa untuk terwujudnya
fokus yang jelas, daftar program kerja dan rencana capaian yang akan dilaporkan kepada ASEAN Economic Ministers (AEM) ini dibagi ke dalam dua kelompok: (i) program kerja dan rencana pencapaian yang merupakan amanat dari AEC Blueprint; dan (ii) program kerja dan rencana pencapaian yang tidak termaktub dalam AEC Blueprint (termasuk rencana kerja dan rencana capaian untuk ASEAN+1 FTAs).
Di bawah mata agenda ini dibahas pula gagasan untuk merampingkan pertemuan-pertemuan dan memperkuat koordinasi antara SEOM dengan badan-badan bawahannya. SEOM sepakat agar pertemuan SEOM diadakan maksimal 3 (tiga) kali dalam setahun (di luar pertemuan preparatory SEOM yang mendahului pertemuan AEM dan AEC Council). Kesepakatan lain di antaranya adalah (i) ketua dari badan-badan bawahan
SEOM menyampaikan secara langsung laporannya kepada SEOM (hadir dalam pertemuan SEOM, tidak diwakilkan kepada Sekretariat ASEAN); (ii) badan-badan bawahan SEOM memberikan prioritas program kerja pada kegiatan yang memiliki high impacts bagi pemangku kepentingan; (iii) badan-badan SEOM mengurangi waktu pertemuan fisiknya sepanjang memungkinkan; dan (iv) laporan dan agenda SEOM dan
High-Level Task Force on Economic Integration (HLTF-EI) dipertukarkan secara rutin untuk menghindari duplikasi penanganan isu.
Comprehensive Mid-Term Review of the
AEC Blueprint
SEOM membahas draft TOR Mid-Term Review of the Implementation of AEC Blueprint yang penyusunannya dibantu oleh ERIA. Diharapkan SEOM dapat mengkonsultasikan draf TOR ini kepada sectoral bodies di masing-masing negara dan menyampaikan tanggapan selambatnya pada minggu kedua Februari 2011 agar dapat disahkan oleh AEM dalam kesempatan AEM Retreat pada tanggal 26-27 Februari 2011.
Elimination of Non-Tariff Barriers
SEOM mencatat kegiatan dan kesepakatan yang dicapai oleh CCA terkait program kerja penghapusan NTBs. SEOM menekankan arti penting program kerja ini untuk mendukung peningkatan perdagangan intra-ASEAN terutama dengan telah dihapuskannya hambatan tarif oleh ASEAN-6. Untuk itu, SEOM menginstruksikan CCA untuk memberi perhatian pada high-impact sectors
yang telah membentuk regional production base di ASEAN, yakni otomotif, eletronik, dan produk tekstil antara lain dengan menyiapkan tanggapan atas masukan yang pernah disampaikan ketiga industri ini kepada AEM, dan kemungkinan mengundang wakil asosiasi ASEAN untuk ketiga sektor ini ke pertemuan CCA.
Self Certification (SC) Pertemuan mencatat pelaksanaan pilot project on Self Certification sejak 1 November 2010 oleh Brunei, Malaysia, dan Singapura, serta pentingnya information sharing kepada negara anggota lainnya. Indonesia dan beberapa anggota lain menekankan perlunya memasukkan provisi mengenai Operational Certification Procedures (OCP) untuk SC ini ke dalam ATIGA agar negara anggota memiliki dasar hukum yang kuat untuk menerapkan dual regime of certification (conventional
dan SC) mulai tahun 2012. Untuk itu SEOM menugaskan CCA mulai menyusun draft protocol untuk mengamendemen ATIGA beserta OCP-nya guna mendapatkan pengesahan AEM pada tahun 2011 ini.
Private Sector Inputs on Rules of Origin
SEOM mencatat bahwa Sub-Committee on Rules of Origin (SCAROO) yang berada di bawah naungan CCA telah membahas surat Menteri Perdagangan dan Industri Singapura yang mengangkat usulan pelaku usaha untuk (i) menghapus keharusan menyertakan
invoice dalam pengajuan permohonan Certificate of Origin (CO) dari cost statement bila kriteria CTC digunakan; (ii) penghapusan nilai FOB pada CO; dan (iii) memasukan fasilitas ASEAN's partial cumulation ke dalam ASEAN+1 FTAs. Mengingat posisi negara anggota yang beragam menanggapi usulan ini maka sesuai kesepakatan dalam pertemuan CCA di Jakarta pada tanggal 13-14 Januari 2011, negara anggota akan memberikan penjelasan tertulis mengenai posisinya masing-masing untuk dikonsolidasikan oleh Sekretariat ASEAN dan dilaporkan kepada AEM Retreat melalui SEOM.
Standards and Conformance
Kepala Badan Standardisasi Nasional mewakili Ketua
ASEAN Consultative Committee for Standards and Quality
(ACCSQ) menyampaikan perkembangan kerja sama
standards and conformance di ASEAN, antara lain terkait Priority Integration Sectors, conformity mark,
penerapan ASEAN Cosmetic Directive, dan kerja sama
technical barriers to trade (TBTs) dengan RRT.
Dalam kesempatan ini Indonesia menginformasikan bahwa ASEAN Cosmetic Directive telah diimplementasikan penuh mulai tanggal 1 Januari 2011 dengan on-line notification system, dan Indonesia telah meratifikasi ASEAN Harmonised Electrical and Electronic Equipment Regulatory Regime (AHEEERR) pada tanggal 21 Desember 2010 dan menotifikasikannya kepada Sekretariat ASEAN pada tanggal 18 Januari 2011. Mengingat perkembangan yang pesat dalam kerja sama standar ini dan perlunya kegiatan outreach agar pemangku kepentingan lebih memahami dan memanfaatkan kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai oleh ASEAN, Indonesia mengusulkan agar ACCSQ mengkaji kembali TOR-nya dan merevisinya bila perlu.
ASEAN Single Window SEOM mencatat bahwa ASW pilot project saat ini
belum dapat dimulai karena Laos belum menandatangani MoU for the ASW Pilot Project.
Negara anggota lainnya menghimbau agar Laos segera menyelesaikan prosedur domestiknya dan segera menandatangani MoU dimaksud.
ASEAN Framework Agreement on Services
(AFAS)
SEOM mendapatkan laporan langsung dari Ketua
Coordinating Committee on Services (CCS) mengenai perkembangan pemenuhan persyaratan AFAS 8 menyusul penandatanganan Protokol dimaksud oleh AEM pada tanggal 28 Oktober 2010 di Hanoi. SEOM sepakat agar persyaratan AFAS 8 dipenuhi oleh seluruh Negara anggota selambatnya pada saat pertemuan AEM bulan Agustus 2011 meskipun disadari bahwa praktis seluruh negara anggota menghadapi kesulitan untuk memenuhi persyaratan AFAS 8 ini.
ASEAN Comprehensive Investment Agreement
(ACIA)
Indonesia dan Thailand mengindikasikan bahwa proses ratifikasi ACIA memerlukan waktu lebih lama dari perkiraan semula sehingga target waktu Entry into Force (EIF) pada bulan Februari 2011 (saat AEM
Retreat) kemungkinan besar tidak dapat dicapai.
Negara anggota lainnya meminta kedua negara untuk mempercepat penyelesaian ratifikasi masing-masing agar implementasi ACIA tidak tertunda lebih lama lagi. Khusus mengenai target waktu liberalisasi atas
reservation list pada tahun 2015, negara anggota masih berbeda pendapat mengenai batasan "2015," apakah 1 Januari 2015 atau 31 Desember 2015.
ASEAN Industrial Cooperation (AICO)
Pertemuan membahas isu yang diangkat oleh Thailand mengenai pemberlakuan ATIGA terkait keabsahan
Certificate of Eligibility/COEs yang diterbitkan sebelum Januari 2005 dan usulan perpanjangan skim AICO yang tidak dapat diputuskan oleh Working Group on Industrial Cooperation yang bertemu di Jakarta pada tanggal 13-14 Desember 2010. Thailand, yang menginginkan perpanjangan skim AICO melalui sebuah protokol, menggarisbawahi pentingnya skim AICO yang menawarkan “insentif” yang tidak diberikan ATIGA. Sementara itu Indonesia menyampaikan bahwa persetujuan prinsip dari AEM pada tahun 2009 untuk memperpanjang skim AICO ini adalah dalam rangka mengakomodasi kepentingan Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam (CLMV). Dengan adanya perubahan alasan seperti dikemukakan Thailand sepanjang tahun 2010 maupun dalam SEOM 1/42 ini, Indonesia tidak melihat adanya alasan yang kuat untuk memperpanjang skim AICO mengingat ASEAN-6 telah mencapai tingkat tarif 0% untuk seluruh produk dalam Inclusion List sejak 1 Januari 2010, dan pendapat ini didukung oleh negara lainnya (khususnya Malaysia dan Filipina).
Indonesia juga mempermasalahkan argumen Thailand bahwa AICO menawarkan “insentif” yang tidak diberikan ATIGA. Ini menunjukkan adanya perlakuan diskriminatif yang akan merugikan pengguna ATIGA, sementara ATIGA itu sendiri merupakan platform utama kesepakatan ASEAN di bidang perdagangan barang. Meskipun Thailand menekankan bahwa AEM telah memberikan mandat pada tahun 2009 untuk memperpanjang skim AICO, Indonesia menegaskan lebih baik SEOM meminta AEM mempertimbangkan kembali keputusannya daripada merekomendasikan AEM menandatangani sebuah protokol yang dapat "mencederai" ATIGA. Karena tidak dicapai kata sepakat, masalah ini akan dibahas kembali pada saat SEOM 2/42 bulan Maret 2011.
Small and Medium Enterprises
SEOM mencatat dibentuknya ASEAN SME Advisory Board (SME Board) akan mengangkat masalah-masalah SME secara lebih "prominen" untuk mendapatkan perhatian AEM. Namun terkait keinginan anggota SME
Board untuk mendapatkan letter of recognition of appointment, SEOM berpendapat bahwa hal ini cukup diselesaikan oleh Sekretaris Jenderal ASEAN. SEOM juga mencatat program kerja pembentukan ASEAN SME Development Fund yang diamanatkan AEC Blueprint dan bahwa hingga saat ini belum ditentukan sumber-sumber bagi "fund" ini. SEOM mencatat bahwa masalah access to finance ini akan dibahas oleh Expert Panel dan SME
Board dalam pertemuan pada bulan Juni 2011 di
Singapura. Intellectual Property, Competition Policy Consumer Protection dan Cooperation on Statistics
SEOM mencatat hasil-hasil pertemuan kelompok-kelompok yang menangani kerja sama di keempat bidang ini. Secara khusus SEOM juga mencatat (i) rencana pembentukan ASEAN Community Statistical
System (ACSS) Committee pada tahun 2011; (ii)
keterbatasan SDM pada unit ASEANstats di Sekretariat ASEAN; dan (iii) mekanisme paralel penyampaian data perdagangan kepada ASEANstats melalui Task Force on IMTS dan National AFTA Unit.
Private Sector Engagement
SEOM membahas secara mendalam keterlibatan sektor swasta dalam proses ASEAN, termasuk dialog antara AEM dan perwakilan bisnis seperti ABAC, US-ASEAN Business Council, Hast Asian Business Council, dan
Federation of Japanese Chamber of Commerce and Industry in ASEAN (FJCCIA). Beberapa negara anggota
mengusulkan beragam proposal mengenai ini, antara lain agar dialog AEM dengan bisnis dipandu dengan tema khusus (misalnya infrastruktur atau NTMs), agar prioritas diberikan kepada asosiasi industri ASEAN, atau agar SEOM menghadiri berbagai simposium atau seminar yang diselenggarakan oleh sektor swasta. Indonesia menekankan bahwa yang diharapkan AEM pada intinya adalah terciptanya dialog yang interaktif, responsif dan berimbang, dan agar dialog AEM dengan keempat wakil sektor swasta tersebut di atas dirasionalisasikan supaya lebih efektif dan efisien. Pertemuan menyepakati mekanisme dan format yang diusulkan Indonesia untuk dikembangkan lebih lanjut guna mendapatkan persetujuan AEM pada saat AEM Retreat. Usulan dimaksud pada intinya menyangkut pentahapan persiapan menuju dialog AEM dengan sektor swasta sebagai berikut:
1) SEOM mengundang wakil swasta ke pertemuan SEOM berikutnya guna menyampaikan masukan atau rekomendasinya. Masukan juga dapat disarikan dari papers yang pernah disampaikan oleh sektor swasta kepada AEM dalam kesempatan sebelumnya; 2) SEOM menyusun konsep tanggapan yang
terkonsolidasi dan dikelompokkan ke dalam beberapa
issue areas (misalnya customs, NTMs, investment,
standards, licensing, dan seterusnya). Mendahului tanggapan berdasarkan issue areas ini, perlu ditambahkan informasi mengenai hal-hal penting yang telah dicapai ASEAN dalam issue area masing-masing;
3) Dialog antara AEM dengan sektor swasta diintegrasikan dalam satu sesi berdurasi sekitar dua jam, di mana wakil-wakil dari ABAC, US-ABC, EABC dan FJCCIA hadir bersamaan. Dalam kesempatan ini designated AEM menyampaikan informasi dan tanggapan yang telah disiapkan sesuai issue areas
yang diserahkan kepada AEM yang bersangkutan (misalnya Indonesia untuk customs, Singapura untuk NTMs, Thailand untuk investment dan seterusnya) sementara AEM lainnya dapat memberikan tambahan informasi atau tanggapan.
Priority Integration Sectors
Di bawah mata agenda Priority Integration Sectors,
Indonesia menginformasikan penyelenggaraan
Desember 2010 yang ternyata hanya dihadiri oleh peserta dari Indonesia karena waktu yang mendesak dan promosi yang kurang optimal. Indonesia mengindikasikan kemungkinan menyelenggarakan ulang
workshop untuk sektor otomotif di tahun 2011 dengan partisipasi dari seluruh negara anggota. Indonesia juga meminta petunjuk perlu tidaknya menyelenggarakan
workshop untuk wood-based products mengingat hanya 3-4 negara anggota yang tampaknya memiliki kepentingan di sektor ini. Dalam kaitan ini Thailand mengusulkan untuk menyelenggarakan workshop bagi sub-sektor wood furniture, Indonesia akan mempertimbangkan usulan ini selain berkonsultasi dengan perwakilan ASEAN Senior Officials on Forestry
(ASOF). Namun pertemuan juga sepakat apabila tidak ada ketertarikan dari dunia usaha/industri yang bersangkutan, maka perhatian seyogyanya dialokasikan kepada langkah-langkah yang lebih produktif.
Study on Enhancing the Implementation of ASEAN Agreements
SEOM menerima hasil akhir dari kajian yang dilakukan oleh ITS Global Consultant bekerja sama dengan
University of Asia-Pacific berjudul "Study on Enhancing the Implementation of ASEAN Agreements." Kajian ini menghasilkan rekomendasi baik yang bersifat
ASEAN-wide maupun untuk masing-masing negara anggota,
yang selanjutnya akan disampaikan kepada pertemuan AEM pada bulan Agustus mendatang. SEOM sepakat untuk menugaskan CCA, CCI dan CCS untuk mengkaji dan menyampaikan masukan terkait rekomendasi yang bersifat ASEAN-wide kepada SEOM 2/42. Sementara itu, SEOM juga sepakat agar masing-masing negara anggota melakukan kajian komprehensif mengenai kesesuaian (atau ketidaksesuaian) dari peraturan perundangan dan hukum nasionalnya dengan kesepakatan ATIGA, ACIA, dan AFAS sebagaimana diindikasikan dalam kajian di atas, dan menyampaikan hasilnya kepada SEOM 3/42. Hasil kajian kolektif dan individual ini diharapkan dapat dilaporkan kepada AEM pada bulan Agustus 2011.
Matters Relating to ASEAN's Relations with Dialogue and Sectoral Partners
Di bawah mata agenda ini SEOM membahas perkembangan kerja sama ASEAN dengan para mitranya, termasuk kerja sama ASEAN-China FTA, ASEAN-Korea FTA, ASEAN-Japan CEPA, ASEAN-lndia FTA, dan ASEAN-Australia-New Zealand FTA. Di bawah ini adalah forum kerja sama yang dibahas oleh SEOM guna mendapatkan perhatian khusus dari negara anggota.
ASEAN-China FTA SEOM mencatat bahwa Brunei, Laos, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan RRT telah menerapkan OCR yang baru sejak 1 Januari 2011, sementara negara lainnya diharapkan mengimplementasikan OCR baru ini selambatnya pada tanggal 1 Juli 2011. SEOM juga mencatat bahwa
Protocol to Implement the Second Package of Specific Commitments under the ASEAN-China Trade in Services Agreement siap untuk ditandatangani oleh seluruh pihak pada saat AEM-MOFCOM Consultations pada bulan Agustus 2011.
ASEAN-lndia FTA SEOM membahas perkembangan perundingan ASEAN-India di bidang services dan investment yang cukup sulit mencatatkan perkembangan. SEOM sepakat agar ASEAN mengambil posisi lebih offensive dan mencatat bahwa: 1) India akan meninggalkan opsi "geographical carve
out" dan modalitas offer 10:10 bila ASEAN dapat menawarkan substantive package of commitments
di bidang jasa. Dalam hal ini Indonesia menginformasikan telah menyampaikan improved
offers pada tanggal 14 Januari 2011 namun
menggarisbawahi bahwa batasan "substantif" dapat diukur secara berbeda-beda, baik oleh India maupun negara ASEAN yang telah memiliki atau sedang menyelesaikan negosiasi FTA bilateral dengan India (Singapura, Malaysia);
2) Perundingan mengenai teks untuk Movement of Natural Person (MNP) yang sangat diinginkan oleh India sudah dimulai sejak akhir 2010. Pertemuan mencatat usulan untuk menggali kemungkinan adanya opsi bagi negara anggota untuk bergabung ke dalam kesepakatan MNP ini "at a later stage";
3) India sepakat untuk menggunakan pendekatan "negative list" dalam perundingan investasi seperti diinginkan ASEAN, namun ASEAN harus "bulat" untuk menggunakan "negative list" ini (Thailand menyatakan masih memerlukan konsultasi domestik karena mandatnya saat ini adalah menggunakan
"positive list");
4) Perundingan mengenai Product Specific Rules (PSR) harus didorong lebih kuat agar India menerima usulan ASEAN atas 200 produk yang memerlukan PSR. SEOM mencatat bahwa India masih menggunakan pendekatan restriktif dalam
pembahasan PSR (PSR digunakan untuk memperketat pemanfaatan preferensi tarif) sementara pendekatan ASEAN adalah agar PSR bersifat lebih fasilitatif. Diharapkan PSR ini dapat disepakati sebelum pertemuan AEM-lndia Consultations pada bulan Agustus 2011.
Emerging Regional Architecture in East Asia
SEOM membahas pelaksanaan arahan AEM untuk mengangkat secara paralel kajian mengenai EAFTA dan CEPEA ke tingkat officials. SEOM juga mencatat usulan RRT "Roadmap on Trade Facilitation among ASEAN Plus China, Japan, and Korea" dan usulan Jepang "Initial Steps toward Regional Economic Integration in East Asia: a Gradual Approach" yang di-refer kepada empat
ASEAN Plus Working Groups (on ROO, Tariff
Nomenclatures, Customs Procedures, dan Economic
Cooperation). Sebagai langkah ke depan, SEOM sepakat agar:
1) Keempat ASEAN Plus Working Groups mengkaji kembali TOR masing-masing bagi kemungkinan memasukkan elemen dari proposal RRT dan Jepang yang belum tercakup dalam working group masing-masing;
2) Sekretariat ASEAN mengkaji ulang matriks perbandingan kesepakatan bidang barang dalam ACFTA, AKFTA, AJCEP, AANZFTA, dan AIFTA guna mengidentifikasi points of convergence and divergence;
3) ASEAN Plus Working Groups segera menghasilkan rekomendasi mengenai kerangka waktu dan target pencapaian konsolidasi internal ASEAN untuk dilaporkan kepada Menteri dan Kepala Negara. Indonesia bersama Malaysia dan Filipina menekankan bahwa pendekatan terhadap emerging regional architecture melalui pembentukan ASEAN Plus Working Groups sudah tepat untuk mempertahankan sentralitas ASEAN. Namun Indonesia menggarisbawahi pentingnya keempat working groups dimaksud segera menghasilkan rekomendasi yang nyata mengingat dinamika kerja sama di Asia Timur (antara lain perundingan TPP dan bergabungnya AS dan Rusia ke dalam East Asia Summit)
telah meningkatkan tekanan bagi segera dirundingkannya EAFTA atau CEPEA.
Other Strategic Partnership:
ASEAN-Canada
Indonesia selaku Country Coordinator menggarisbawahi adanya 4 pending issues yang menghambat kemajuan penyelesaian draft text ASEAN-Canada TIFA, yakni (i)
core labor standards; (ii) human rights; (iii) Corporate Social Responsibility (CSR); dan (iv) signing. Indonesia mengusulkan agar ASEAN tetap menggunakan wordings
dalam ASEAN-US TIFA mengenai labor standard; ASEAN menerima dimasukkannya provisi mengenai CSR agar Kanada menanggalkan usulannya untuk memasukkan provisi mengenai human rights; dan mengubah format teks dari TIFA-type menjadi joint declaration-type.
Pertemuan sepakat agar negara anggota mempertimbangkan usulan ini termasuk draft Joint Declaration dan membahasnya secara inter-sessional.
SEOM juga mencatat harapan besar dari pihak Kanada agar teks ini dapat diselesaikan pada saat SEOM-Canada Consultations pada bulan Maret 2011 (saat SEOM 2/42).
Other Strategic Partnership: ASEAN-US
Indonesia sebagai Country Coordinator menyampaikan perkembangan kerja sama ASEAN-US TIFA di bidang
trade facilitation, trade finance dialogue,
government-business dialogue, trade and environment, dan
standards. Untuk trade facilitation, ASEAN kembali akan meminta klarifikasi AS mengingat usulan AS bersifat bilateral sehingga tidak perlu diangkat dalam forum ASEAN-US TIFA. Sementara itu untuk trade finance
dialogue, pertemuan mencatat bahwa Chamber of
Commerce and Industry dari Filipina, Vietnam, dan Indonesia telah menandatangani MoU dengan US Export-Import Bank untuk bertukar informasi peluang bisnis. Malaysia sebagai shepherd untuk government-business
dialogue menginformasikan rencana penyelenggaraan
dialog antara ABAC dengan USABC, sementara Singapura sebagai sheperd untuk standards
menginformasikan perkembangan kerja sama di bidang
standards yang terus berjalan maupun yang diusulkan yakni di bidang Medical Devices, Automotive Safety, Electrical Equipment, Building Constructions. Indonesia juga mengindikasikan usulan USABC kepada AEM Chair
(Indonesia) untuk menyelenggarakan AEM Roadshow to
the US pada tanggal 16-18 Mei 2011 mendahului
pertemuan APEC Ministers Responsible for Trade di Montana. Usulan ini akan dibahas pada saat AEM
Retreat pada tanggal 26-27 Februari 2011 untuk
Indonesia yang juga bertugas sebagai shepherd untuk
trade and environment dialogue menginformasikan
kesediaan USTATF untuk mengorganisasi sebuah
workshop mengenai keterkaitan perdagangan dengan isu lingkungan. Untuk itu Indonesia mengusulkan agar
workshop dimaksud dapat diselenggarakan pada saat SEOM 2/42 di Singapura.
Other Strategic Partnership: ASEAN-EU
Mengingat proposal EU "ASEAN-EU Trade Dialogue"
telah disepakati dalam SEOM-EU Consultations di Brunei tahun lalu, maka SEOM meminta Sekretariat ASEAN bersama Vietnam sebagai country coordinator untuk menyusun ASEAN-EU Trade and Investment Work
Programme guna dibahas dalam SEOM-EU
Consultations pada bulan Maret 2011 di Singapura. Sementara itu Indonesia menyampaikan secara umum rencana penyelenggaraan ASEAN-EU Business Summit
yang direncanakan pada tanggal 5 Mei 2011 disusul dengan AEM-EU Trade Commissioner pada tanggal, 6 Mei 2011 namun detail rencana ini akan dikomunikasikan lebih lanjut.
Other Strategic Partnership: ASEAN-GCC
Terkait usulan GCC untuk melakukan pertemuan membahas kerja sama perdagangan dan invesatasi di Oman, maka SEOM menugaskan Sekretariat ASEAN untuk menyusun agenda/ indicative topics yang dapat diusulkan. Bila agenda/ indicative topics telah disusun maka SEOM akan memutuskan tanggapan atas usulan GCC untuk mengadakan pertemuan di Oman. SEOM juga meminta kesediaan Brunei untuk menjadi
country coordinator untuk forum SEOM-GCC
Consultations dan Brunei akan mempertimbangkan hal ini.
Other Strategic Partnership:
ASEAN-Russia
SEOM membahas status terakhir dari engagement
antara ASEAN dan Rusia. Dalam kaitan ini SEOM meminta Sekretariat ASEAN untuk mendapatkan informasi mengenai ASEAN-Russia Business Council, dan bersama Kamboja selaku country coordinator menyusun TOR pembentukan Joint Expert Group yang akan ditugaskan menyusun comprehensive economic cooperation roadmap.
Gambar 2. Pelaksanaan Senior Economic Official Meeting
(SEOM-1/42)
6. Rapat Kelima Sekretariat Nasional ASEAN
Pada tanggal 4 Januari 2011 bertempat di ruang Nusantara Kementerian Luar Negeri telah diselenggarakan pertemuan/ rapat anggota Sekretariat Nasional ASEAN yang secara khusus membahas hal-hal terkait dengan kepemimpinan Indonesia dalam ASEAN pada tahun 2011.
Prioritas Indonesia pada tahun 2011
Dirjen Kerjasama ASEAN Kemenlu, menginformasikan hasil-hasil rapat di tingkat Menteri, Wakil Presiden dan Kabinet yang berlangsung pada bulan Desember 2010. Pada intinya disepakati 3 (tiga) hal yang menjadi prioritas Indonesia pada tahun 2011 ini dengan tindak lanjutnya yaitu:
1) Memastikan kemajuan pencapaian ASEAN
Community 2015 pada ketiga pilar kerja sama
ASEAN. Untuk tindak lanjutnya intansi terkait diharapkan dapat mengidentifikasi deliverables
utama ASEAN di bawah kepemimpinan Indonesia; 2) Memastikan terwujudnya arsitektur kawasan dan
lingkungannya yang tetap kondusif bagi pencapaian
dynamic equilibrium di mana ASEAN tetap
memainkan peran sentral. Untuk tindak lanjutnya akan dibahas dalam forum retreat para Menteri Luar Negeri ASEAN, termasuk visi baru bagi East Asia
Summit yang keanggotaannya bertambah dengan
3) Mengantisipasi dan mencanangkan visi ASEAN pasca-2015 dengan penekanan pada peran dan kontribusi ASEAN kepada masyarakat dunia (ASEAN Community in a Global Community of Nations).
Untuk tindak lanjutnya instansi terkait diharapkan agar dapat mengidentifikasi masalah-masalah global yang dapat disikapi bersama oleh ASEAN
2011 notional calendar Mengenai 2011 notional calendar, pertemuan sepakat
agar setiap instansi menyampaikan informasi mengenai rencana penyelenggaraan sidang masing-masing, baik yang diadakan di Indonesia maupun di negara anggota ASEAN lainnya.
Pelibatan stakeholders (People Oriented & People Centered ASEAN)
Sementara untuk pelibatan stakeholders, dihimbau agar setiap instansi sesuai dengan kewenangannya dapat meningkatkan komunikasi dan dialog dengan
stakeholders masing-masing dan ditingkatkan menjelang penyelenggaraan KTT ASEAN.
Launching situs ASEAN Indonesia
Situs ASEAN Indonesia telah diluncurkan dan dapat diakses "mock-up" dari website ASEAN Indonesia pada alamat www.aseancommunityindonesia.org. Diharapkan setiap instansi yang relevan dapat ikut melengkapi
website ini yang direncanakan akan tetap tersedia dan terus di-update sampai tahun 2015 sebagai sarana komunikasi kepada publik.
C. Forum Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya 1. Pertemuan Tahunan World Economic Forum
Pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) dilaksanakan pada tanggal 26–30 Januari 2011 di Davos, Switzerland.
Beberapa tren dalam topik pembahasan
Pertemuan Tahunan di Davos tahun 2011 bertema besar “Shared Norms of the New Reality” dengan fokus utama pembicaraan terpusat pada isu-isu ketahanan pangan dan gejolak harga komoditas pangan internasional, pertumbuhan yang menyeluruh dan berkelanjutan, perubahan iklim serta bergesernya tata kelola global seiring dengan krisis finansial yang terjadi di tahun 2008. Krisis finansial global telah membawa pergeseran besar dalam pilar kekuatan ekonomi dunia yang sebelumnya berpusat di Amerika Serikat dan Eropa menjadi berpusat di Asia. Saat ini dua pertiga dari pertumbuhan dunia ditopang oleh perdagangan di Asia dan pada akhir
dekade ini diperkirakan emerging economies di Asia akan menyumbang lebih dari setengah dari ekonomi dunia dengan total GDP mencapai 45% dari GDP dunia. Asia juga akan menyumbang lebih dari setengah penduduk dunia yang diperkirakan akan mencapai 9 sampai 10 miliar di tahun 2015.
Proses transformasi di Asia
Pada saat ini Asia sedang melalui proses transformasi luar biasa baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya, maupun posisi strategis. Proses transformasi yang apabila tidak ditopang oleh tata kelola (governance) yang baik akan menyebabkan tekanan luar biasa pada kebutuhan akan pangan, energi, air dan bahan baku lainnya, dan dapat menyebabkan konflik.
Meningkatnya kerja sama dan dialog, baik kerja sama regional maupun antar negara akan sangat menentukan bagaimana negara-negara di dunia akan berhasil melewati dan mengatasi tantangan global yang timbul (keterbatasan pangan, krisis energi, keterbatasan air, dan perubahan iklim) secara bersama-sama. Dan dengan demikian akan merubah tantangan (challenges)
menjadi kesempatan (opportunity) dan akan mendorong terciptanya tata kelola baru yang tidak hanya menekankan pada pertumbuhan (growth) belaka akan tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut bersifat inklusif dan berkesinambungan. Tata kelola yang baru juga harus merefleksikan secara akurat pergeseran (shifting) kekuatan ekonomi yang baru di mana Asia adalah pemain yang perannya sangat signifikan.
Peran Indonesia dalam pembentukan tata kelola dunia yang baru
Indonesia memiliki peran yang sangat signifikan dalam pembentukan tata kelola dunia yang baru. Sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia setelah Tiongkok dan India, yang baru-baru ini digolongkan oleh Goldman Sachs sebagai “growth market” dan sebagai “I” yang berikutnya dalam BRIC, anggota G-20, dan ketua ASEAN 2011 pembentukan tata kelola dunia yang baru akan sangat membutuhkan peran aktif Indonesia.
Persiapan Pelaksanaan
World Economic Forum East Asia
Indonesia secara resmi akan menjadi tuan rumah pelaksanaan World Economic Forum East Asia pada tanggal 12-13 Juni 2011 di Jakarta. Pelaksanaan WEF-EA kali ini berbeda dengan pelaksanaan WEF-EA biasanya karena bertepatan dengan pelaksanaan 20 tahun perayaan penyelenggaraan World Economic Forum di Asia dan Keketuaan Indonesia di ASEAN.