• Tidak ada hasil yang ditemukan

2) Bengkokkan 3 buah besi 1 dengan ukuran 0.3 m dari ujung besi

1.3.2. Fragmentasi dan pemulihan anemon

a. siapkan wadah berisi air laut dan letakan termometer di dalamnya. b. ambil anemon, masukkan ke dalam wadah. Tambahkan air laut

hingga anemon terendam.

c. masukan bongkahan es hingga suhu air mencapai 24-20°C. Penurunan suhu ini bertujuan untuk mengurangi rasa sakit pada anemon saat dilakukan proses pemotongan/fragmentasi.

Gambar 4.2. Wadah yang dilengkapi termometer, berisi air laut, anemon, dan es batu (Sumber: KKHL, 2019)

d. sebaiknya es yang digunakan masih di dalam plastik yang tidak bocor agar tidak menurunkan salinitas, kecuali menggunakan es yang dibuat dari air laut habitat anemon.

e. angkat anemon ke atas papan pemotongan, kemudian anemon dirapikan agar terlihat posisi mulutnya untuk membuat garis simetris/dua bagian yang sama, seperti pada gambar 4.3.

Gambar 4.3. Merapikan anemon untuk melihat posisi mulut (Sumber: KKHL,

2019)

f. Potong anemon secara vertikal dengan menggunakan pisau yang bersih, tajam dan tidak berkarat. Pada saat pemotongan harus langsung terpotong, untuk mengurangi stres pada anemon.

Gambar 4.4. Pemotongan anemon (Sumber: KKHL, 2019)

g. setiap anemon indukan dipotong menjadi 2 atau 4 potongan. Setiap potongan anemon harus memiliki bagian mulut yang memadai agar

dapat meregenerasi mulut, anus dan organ dalam yang utuh (Gambar 4.5).

Gambar 4.5. Fragmentasi anemon menjadi empat bagian (Sumber: Rifa’i dan Kudsiah, 2007)

h. Dalam proses pemotongan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) kemungkinan anemon akan mengeluarkan lendir sebagai bentuk alami

untuk memperbaiki jaringan yang rusak.

2) setelah proses fragmentasi, anemon bisa langsung ditempatkan di perairan dalam waring (gambar 4.6) atau dimasukkan ke dalam keranjang yang ditempatkan di dalam bak/akuarium, dengan memasukkan juga ikan badut untuk membantu proses pemulihan penyempurnaan tubuh anemon (gambar 4.7).

3) anemon diberi pakan tambahan berupa artemia/spirulina/rotifer. 4) lama penempatan anemon tergantung proses pemulihan luka (sekitar

1-9 hari).

Gambar 4.6. Anemon hasil fragmentasi dalam waring/kurungan (Sumber: Rifa’i et al., 2018)

Gambar 4.7. Anemon hasil fragmentasi disertai ikan badut dalam keranjang (Sumber: KKHL, 2019)

1.3.3. Penebaran

a. anemon yang telah siap tebar dipindahkan ke dalam wadah sterofoam.

b. jika jarak cukup jauh, anemon disiapkan di dalam kantong plastik berisi oksigen.

c. sebelum diletakkan di lokasi penebaran, sebaiknya dilakukan aklimatisasi untuk mengurangi tingkat kematian anemon.

d. wadah berisi anemon (dalam keadaan tertutup) diletakan di permukaan air laut lokasi penebaran. biarkan selama 30-60 menit. e. buka wadah di dalam air laut dan biarkan wadah dalam keadaan

miring, air laut di dalam wadah akan bercampur dengan air laut di lokasi penebaran. biarkan anemon keluar dengan sendirinya.

1.3.4. Monitoring

a. monitoring anemon di lokasi penebaran dilakukan setiap bulan.

b. formulir monitoring rehabilitasi anemon sebagaimana tabel 4.1 berikut.

1. Surveyor : 2. Waktu : 3. Lokasi : 4. Koordinat : Nomor (individu ke-n) Jenis Anemon Warna Anemon* Kondisi Luka** Diameter Badan (cm) Jenis Substrat*** Kedalaman (m) Suhu Air (oC) pH Perairan**** Oksigen Terlarut (ppm) **** Kekeruhan (NTU) **** 1 2 dst Keterangan:

* diisi dengan: cerah, memutih, gelap

** diisi dengan: tertutup sempurna, sedikit terbuka, terbuka lebar

*** diisi dengan: Pasir, lumpur, patahan karang, karang hidup, karang mati, karang mati ditumbuhi algae, atau kombinasi **** diisi jika peralatan tersedia

Catatan Tambahan:

c. Kelompok Masyarakat (Pokmas) dapat dilibatkan dalam rehabilitasi dan monitoring serta menjaga anemon yang telah ditebar. Formulir monitoring keterlibatan masyarakat sebagaimana terlampir tabel 4.2.

Tabel 4.2. Lembar Monitoring Keterlibatan Masyarakat

No Nama Kelompok Jenis Kegiatan Rehabilitasi Anggota Jumlah / Lokasi Tempat hasil kegiatan Keterangan 1

2 3 dst

2. Personil dan Peralatan 2.1. Personil

Anggota tim rehabilitasi setidaknya ada yang berlatar belakang ilmu perikanan yang memahami biologi BCF dan perairan, minimal dapat snorkling atau menyelam dan berenang. Khusus untuk tenaga pemotong wajib mengetahui teknis pemotongan anemon. Selebihnya bisa tenaga lapang yang bisa melakukan pencatatan dan wawancara. Jumlah tim/personil tergantung banyaknya anemon yang akan direhabilitasi.mPersonil dari tim rehabilitasi dapat terdiri dari:

a. koordinator (1 orang minimal berlatarbelakang belakang ilmu perikanan); b. pencatat (1 orang);

c. pemotong (minimal 2 orang); d. penebar (minimal 2 orang); dan

e. pendamping/nelayan/pembudidaya BCF (minimal 2 orang). 2.2. Peralatan dan Bahan

Peralatan dan bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut: a. sarung tangan;

c. wadah plastik/ember; d. buoy (pelampung);

e. alat selam dasar (google eye, fin dan snorkel); f. kamera digital;

g. saringan plastik besar atau tutup sajen nasi; h. pinset;

i. pisau yang bersih dan tajam; j. label;

k. papan lebar tipis/kaca; l. termometer;

m. es batu; n. anemon;

o. ikan badut (amphiprion oscellaris) (jika tersedia); p. air laut; dan

q. makanan anemon berupa artemia/spirulina/rotifer. 3. Tahapan Kegiatan dan SOP

Secara umum tahapan kegiatan adalah sebagai berikut: 3.1. Perencanaan

Dalam rangka meminimalisir kejadian yang tidak diharapkan dalam melakukan kegiatan rehabilitasi anemon sebagai mikrohabitat BCF perlu dilakukan perencanaan yang optimal agar pelaksanaan dapat berjalan dengan baik dan sesuai target yang diharapkan. Adapun hal yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut:

a. melakukan rapat persiapan teknis untuk mengidentifikasi dan menentukan lokasi dan waktu rehabilitasi, tim teknis lapangan, kebutuhan anggaran, dan kebutuhan data;

b. mempersiapkan surat pemberitahuan rencana rehabilitasi mikrohabitat BCF dari kepala upt untuk dkp kabupaten/kota dan lembaga terkait lainnya;

c. koordinator satker/koordinator kegiatan menyampaikan surat usulan rencana pelaksanaan kepada kepala upt untuk mendapatkan surat tugas;

d. kepala UPT mengeluarkan surat pemberitahuan dan surat tugas pelaksanaan rehabilitasi anemon sebagai mikrohabitat BCF yang di tembuskan kepada dinas/lembaga terkait;

e. mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam melakukan kegiatan rehabilitasi anemon sebagai mikrohabitat BCF.

3.2. Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan ini dibagi menjadi 3 tahap utama, yaitu:

a. sebelum keberangkatan, yaitu dengan melakukan briefing yang dipimpin oleh ketua tim sebelum berangkat ke lokasi untuk:

1) memastikan lokasi rehabilitasi aman melalui pengecekan kondisi cuaca melalui informasi dari BMKG;

2) memastikan kelengkapan peralatan rehabilitasi; dan

3) memastikan kelengkapan P3K dan alat keselamatan lainnya. b. Pelaksanaan rehabilitasi, dengan melakukan:

1) briefing singkat penggunaan peralatan dan metode;

2) pastikan lokasi rehabilitasi sesuai dengan lokasi yang sudah direncanakan;

3) lakukan kegiatan rehabilitasi sesuai metode;

4) catat waktu mulai dan akhir kegiatan rehabilitasi; dan 5) dokumentasikan pelaksanaan rehabilitasi.

c. Setelah pelaksanaan kegiatan, meliputi: 1) perjalanan kembali ke lokasi awal;

2) menginventarisir dan membersihkan peralatan yang masih bisa digunakan untuk kegiatan rehabilitasi berikutnya;

3) mengumpulkan seluruh lembar data hasil kegiatan; dan

4) menyimpan dan membersihkan seluruh peralatan yang telah digunakan.

3.3. Pelaporan

a. Kompilasi data hasil pelaksanaan rehabilitasi, simpan dalam folder yang tersusun berdasarkan tanggal pelaksanaan, yang meliputi: 1) data hasil pelaksanaan rehabilitasi dalam bentuk spreadsheet

(MS.Excel);

2) file digital form hasil pelaksanaan rehabilitasi sebagai back up file. Dapat dilakukan dengan memotret/scan lembar hasil pengamatan; dan

3) hasil dokumentasi berupa foto/video selama kegiatan b. Finalisasi Laporan

1) susun laporan sesuai format penulisan pelaporan kegiatan rehabilitasi anemon sebagai mikrohabitat BCF; dan

c. Sajikan seluruh poin di atas menjadi sebuah laporan ringkas kepada Kepala UPT dengan dilampiri hasil dokumentasi dan lembar data.

d. Selanjutnya Kepala UPT dapat menyusun laporan yang ditujukan kepada Direktur KKH dengan outline sebagai berikut:

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan METODOLOGI Waktu kegiatan

Lokasi kegiatan (sajikan peta wilayah) Metode yang digunakan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pembahasan PENUTUP Kesimpulan Saran/rekomendasi DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

e. Direktur KKHL menyampaikan laporan kepada Dirjen PRL sebagai bagian dari pengelolaan jenis ikan.

3.4. Alur SOP

Prosedur operasi standar (standard operating procedure/SOP) diperlukan sebagai alur proses yang memuat tahapan kegiatan, pelaksana dari masing-masing tahapan, output dari setiap tahapan serta baku mutu waktu. Format SOP ditunjukkan pada Tabel 4.3.

Nomor SOP :

Tanggal Pembuatan :

Tanggal Revisi :

Tanggal Efektif :

Disahkan oleh : Kepala UPT

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT

Balai/Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Nama SOP : Rehabilitasi Anemon Mikrohabitat Banggai Cardinalfish

Dasar Hukum Kualifikasi pelaksana:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan

2. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 49/KEPMENMEN-KP/2018 Penetapan Status Perlindungan Terbatas Ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni)

3. Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 53/KEPMEN-KP/2019 tentangKawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Banggai, Banggai Laut, Banggai Kepulauan, Dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah.

4. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 24/PERMEN-KP/2016 tentang Tata Cara Rehabilitasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil

1. Pelaksana harus memiliki pengetahuan tentang identifikasi dan bioekologi BCF dan anemon 2. Pelaksana harus memiliki pengetahuan awal terkait kondisi lokasi survei, memiliki pengetahuan

dalam rehabilitasi mikrohabitat BCF

3. Pelaksana harus memiliki kemampuan snorekeling/menyelam 4. Pelaksana harus memahami cara fragmentasi anemon

5. Pelaksana harus memiliki pengetahuan terkait kamera dan memiliki keterampilan pengoperasian kamera dan teknik memotret di bawah air

6. Pelaksana harus memahami pengumpulan, penyusunan, dan analisa data hasil survei, serta memahami format pelaporan

Keterkaitan Peralatan dan Bahan

1. SOP Administrasi 2. SOP Restoking BCF 3. SOP Monitoring BCF

1. Peta yang menunjukkan lokasi rehabilitasi mikrohabitat BCF 12. Termometer

2. Papan lebar tipis/kaca 13. Label

3. Sarung tangan 14. GPS

4. Kantung plastik 15. Es batu

5. Wadah plastik/ember 16. Air Laut

6. Makanan anemon berupa artemis/spirulina/rotifer 17. Kamera bawah air 7. Alat selam dasar (google eye, fin dan snorkel) 18. Pinset

8. Pisau yang tajam, bersih, tidak berkarat 19. Anemon

9. Saringan plastik besar / tudung saji nasi 20. Buoy (pelampung) 10. Ikan badut (Amphiprion oscellaris) 21. Alat pengolah data 11. Obat-obatan dan perlengkapan P3K

Peringatan Pencatatan dan Pendataan

1. Pemotongan anemon yang tidak tepat dapat menyebabkan luka anemone sulit sembuh bahkan bisa menyebabkan kematian anemon

1. Jenis, jumlah, ukuran Anemon 2. Koordinat lokasi rehabilitasi KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Alur Pelaksanaan Rehabilitasi Anemon sebagai Mikrohabitat Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni)

No. Uraian Kegiatan

Pelaksana Mutu Baku

Keterangan Pelaksana/ Tim Rehabilitasi Koordinator Kegiatan/ Satker Kepala

UPT Kelengkapan Waktu Output

1 Membentuk tim rehabilitasi mikrohabitat BCF,

menandatangani surat tugas, dan memberikan arahan

RKAKL, TOR, Draft SK tim,

draft surat tugas, draft surat pengantar

2 jam Surat tugas, SK tim, surat pengantar

2 Menyiapkan perencanaan dan

pembagian tugas anggota; mempersiapkan peralatan dan bahan untuk rehabilitasi mikrohabitat BCF sesuai dengan metode yang ditentukan

RKAKL, TOR, SK tim, surat tugas, surat pengantar, peta lokasi, Juknis Rehabilitasi, informasi cuaca, peralatan survei, alat tulis

8 jam Rundown rehabilitasi

mikrohabitat BCF Benih anemon yang akan diperbanyak telah siap

3 Melaksanakan fragmentasi anemon sesuai dengan metode yang ditentukan, melaksanaan penebaran anemon sesuai dengan metode yang ditentukan, dan menginventarisi catatan pelaksanaan kegiatan

Surat tugas, surat pengantar, Juknis

Rehabilitasi Anemon, benih anemon untuk

diperbanyak, peta lokasi, informasi cuaca, peralatan survei, alat tulis

3 hari 1. Hasil fragmentasi anemon yang disimpan dalam jaring/kurungan 2. Anemon telah ditebar di

lokasi yang telah ditentukan 3. Catatan pelaksanaan

penebaran anemon

4. Draft laporan pelaksanaan kegiatan 1. Waktu tidak termasuk perjalanan PP ke lokasi; 2. Waktu tidak termasuk pemulihan anemon setelah fragmentasi sekitar 1-9 hari

4 Menganalisis data, menyusun laporan pelaksanaan dan laporan perjalanan dinas kegiatan

rehabilitasi mikrohabitat BCF

1) Excel tabulasi data hasil pengamatan;

2) Hasil pengolahan data

3 hari LPD, Draft laporan hasil Rehabilitasi Anemon sebagai Mikrohabitat Banggai Cardinalfish

Jika laporan ada revisi, maka dikembalikan kepada tim pelaksana untuk diperbaiki 5 Menerima, dan memeriksa

laporan hasil Juknis Rehabilitasi Anemon sebagai Mikrohabitat Banggai Cardinalfish

LPD, Draft laporan hasil

pendataan/monitoring 1 jam Laporan hasil rehabilitasi anemon sebagai mikrohabitat BCF

Tidak

Dokumen terkait