• Tidak ada hasil yang ditemukan

Frame Berita Pembunuhan Engeline

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.1 Frame Berita Pembunuhan Engeline

Teks terkait pembunuhan Engeline yang dimuat oleh portal berita viva.co.id akan dianalisis menggunakan analisis framing dengan merujuk pada konsep Gamson dan Modigliani. Melalui konsep ini, frame dipandang sebagai cara bercerita (story line) yang tersusun sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna dari peristiwa yang berkaitan dengan suatu wacana. Pada rentang waktu dari 10 Juni 2015 sampai dengan 16 Juni 2015, peneliti menemukan empat teks yang berkaitan dengan pembunuhan Engeline, masing-masing terbit pada 10 Juni 2015, 12 Juni 2015, dan 14 Juni 2015.

Teks dipilih untuk dilihat framing devices atau perangkat framing (mengetahui metaphors, catchphrases, exemplar, depiction, dan visual images), selanjutnya diketahui reasoning devices atau perangkat penalaran (mengetahui

roots, appeals to principle, consequences). Teks akan dideskripsikan dengan

merujuk pada bingkai yang telah dianalisis.

1. Analisis Framing Artikel Berita 1

Judul : Mengerikan, Tubuh Angeline Penuh Luka dan Sundutan Rokok

Terbit : Rabu, 10 Juni 2015 | 17:08 WIB Penulis : Harry Siswoyo

Artikel tersebut merupakan artikel kedua yang muncul pada website viva.co.id, sesaat setelah Engeline ditemukan dalam keadaan tewas. Artikel berita ini lebih digambarkan kondisi Engeline saat ditemukan oleh pihak Kepolisian.

Jika diamati pada bagian judul, terlihat bahwa isi berita tersebut mengenai banyaknya luka dan bekas sundutan rokok pada tubuh Engeline yang ditemukan. Lewat judul yag diberikan, viva.co.id ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa kondisi jasad Engeline cukup parah. Hal tersebut dijelaskan dengan penggunaan kata „mengerikan‟ di awal judul berita. Jika ditilik dalam kaidah linguistik, kata

„mengerikan‟ merupakan verba, yakni kelas kata yang menunjukkan satu tindakan atau perbuatan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata „mengerikan‟ sebagai sesuatu menimbulkan rasa ngeri (seram yang menyebabkan berdiri bulu roma).

Core Frame (gagasan inti) yang terdapat dalam artikel „Mengerikan, Tubuh Angeline Penuh Luka dan Sundutan Rokok‟ ingin menunjukkan kondisi jasad Engeline ketika ditemukan. Adanya luka yang cukup banyak di sekujur tubuh Engeline dan dugaan penyebab tewasnya Engeline menjadi gagasan inti yang ingin disampaikan oleh viva.co.id melalui artikel berita ini. Selanjutnya, uraian tentang kondisi Engeline ketika ditemukan mengarah pada condensing

symbol yang terdiri atas framing devices dan reasoning devices.

Framing devices merupakan pembingkai yang didukung oleh pemakaian

simbol-simbol untuk memberi penekanan dan penonjolan apa yang ingin disampaikan. Simbol-simbol itu berfungsi sebagai ikon yang memberi penekanan dan penonjolan, agar penafsiran dan pemaknaan akan peristiwa lebih diterima dan dihayati oleh pembaca. Melalui artikel berita ini, perangkat pembingkai (framing devices) dapat dilihat melalui metaphors, exemplaar, catchphrases,

depiction, dan visual images.

1. Metaphors

Penggunaan metaphors dalam artikel ini tidak ditemukan oleh peneliti. Kata dan kalimat yang digunakan dalam artikel ini tidak ada yang bersifat kiasan, maupun analogi.

2. Exemplaar

Penggunaan exemplaar terlihat pada uraian kondisi jasad Engeline ketika ditemukan.

“Di antaranya luka memar di paha kanan samping luar, pada bokong kanan, pinggang kanan dan perut kanan bawah.”

Exemplaar menunjukkan bahwa viva.co.id ingin menjelaskan Engeline

tewas akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh seseorang. Pada artikel berita ini, viva.co.id menjabarkan beberapa bagian dari tubuh Engeline yang diduga menjadi sasaran kekerasan oleh pelaku ketika

membunuh Engeline. Viva.co.id juga ingin menunjukkan seluruh bagian tubuh Engeline tidak luput dari tindak kekerasan yang dilakukan pelaku. Peneliti meyakini bahwa bagian-bagian tubuh yang dijelaskan pada artikel ini merupakan bagian tubuh yang sifatnya tertutup, antara lain paha, bokong, pinggang dan perut bagian bawah. Viva.co.id secara tidak langsung menjelaskan kekerasan yang dialami Engeline bukan hanya terjadi pada bagian tubuh yang mudah dilihat saja, melainkan bagian tubuh yang biasanya ditutupi orang banyak. 3. Catchphrases

“Dari pemeriksaan awal terungkap sejumlah fakta mengerikan. Diketahui di tubuh Engeline ditemukan banyak sekali luka dan bekas sundutan rokok.”

Melalui kalimat tersebut dapat diketahui viva.co.id menunjukkan bahwa dilakukan sekali pemeriksaan terhadap jasad Engeline. Pemeriksaan yang baru dilakukan pada tahap awal tersebut, sudah menunjukkan kalau tubuh Engeline ditemukan dengan keadaan yang sangat menyeramkan. Catchphrases yang digunakan pada artikel berita ini terlihat pada kata „mengerikan‟. Penggunaan kata „mengerikan‟ pada artikel ini disandingkan dengan kata „fakta‟. Peneliti memercayai bahwa viva.co.id ingin menegaskan pelaku melakukan tindak kekerasan yang sangat kejam dengan hasil temuan pada tubuh Engeline tersebut. Hasil temuan itu selanjutnya digambarkan sebagai sesuatu hal yang benar-benar terjadi dan menimbulkan rasa ngeri bagi pembaca. 4. Depiction

Depiction (dalam Eriyanto, 2001: 263) merupakan penggambaran

atau pelukisan suatu isu yang bersifat konotatif dan umumnya untuk melabeli sesuatu. Pemakaian depiction (label) ditemukan pada penggunaan kata „bocah‟ yang dapat dilihat dalam teks berikut:

“Tak cuma itu, ditemukan juga pembusukan pada tubuh bocah yang telah dinaikkan ke kelas 3 oleh sekolahnya itu.”

Konstruksi yang ingin dibangun oleh viva.co.id melalui kalimat ini adalah menampilkan sosok Engeline yang masih anak-anak sebagai korban pembunuhan. Kata tersebut seolah-olah ingin menjelaskan seorang anak yang semestinya mendapat perlindungan dan kasih sayang justru menjadi sasaran tindak kekerasan, hingga ditemukan tewas. Artikel berita ini juga mengangkat bahwa Engeline masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar. Penggunaan label ini mengingatkan pembaca bahwa Engeline masih sangat muda dan masih memiliki jenjang pendidikan yang sangat panjang.

5. Visual Images

Jika dilihat dari artikel ini, visual images yang digunakan adalah foto beberapa petugas kepolisian yang mengevakuasi jasad Engeline di rumahnya. Jasad Engeline berada di dalam kantong jenazah berwarna oranye dan terlihat digotong oleh beberapa polisi. Melalui foto tersebut juga terlihat beberapa petugas kepolisian menggunakan masker. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa jasad Engeline mengeluarkan aroma yang tidak sedap sehingga harus menggunakan media untuk menghalau aroma tersebut, yaitu masker.

Selain framing devices, condensing symbol juga dibangun oleh reasoning

devices untuk mencapai maksud dari core frame. Reasoning devices disebut juga

perangkat penalaran merupakan ide atau pemikiran yang dikembangkan dalam artikel berita untuk menekankan kepada khalayak bahwa „versi berita‟ yang disajikan dalam artikel adalah benar. Oleh sebab itu, fakta yang dipilih secara tidak langsung dalam pandangan ini untuk memperkuat bangunan perspektif yang telah disusun oleh wartawan. Reasoning devices tersebut terdiri dari roots, appeals

to principle, dan juga consecuences. 1. Roots

Penggunaan roots dalam teks terdapat pada kalimat:

“…Angeline diduga tewas karena jeratan tali. Sebab ada bekas jeratan dan tali di leher Angeline, saat tubuhnya ditemukan.”

Maksud dari roots di atas seolah ingin menunjukkan bahwa Engeline tewas karena dijerat dengan menggunakan tali di bagian leher. Viva.co.id ingin menggambarkan bahwa dari banyaknya luka yang ditemukan di tubuh Engeline, jeratan tali di bagian leher menjadi dugaan paling kuat tewasnya Engeline. Walaupun proses autopsi belum dilakukan, namun viva.co.id telah mengkonstruksi penyebab meninggalnya Engeline dengan menggunakan dugaan kausal tadi. 2. Appeals to Principle

Penggunaan appeals to principle sebagai klaim-klaim moral dapat dilihat dalam teks:

“Bersama jasad Angeline juga terdapat kain kemben berwarna merah motif bunga. Ada pula boneka Barbie kesayangan Angeline.”

Teks di atas mengarahkan khalayak pada diri Engeline yang merupakan perempuan dan masih anak-anak. Penggunaan kata-kata pada teks di atas menggambarkan seperti anak-anak perempuan pada umumnya, bahwa Engeline juga sering bermain dengan boneka yang dimiliki. Viva.co.id secara jelas menggambarkan hal tersebut dengan menempatkan kata „motif bunga‟, „boneka‟, dan „kesayangan‟.

3. Consequences

Penggunaan consequences dalam teks ini mengarahkan pada kasus pembunuhan Engeline yang dianggap sangat penting, khususnya tergambar pada penjelasan tentang proses autopsi.

“Kini jasad Angeline tengah diautopsi, dipimpin langsung Kepala Instalasi Forensik RSUP Sanglah Denpasar, dr Dudut Rustyadi SpF dan disaksikan Kabid Dokkes Polda Bali dr Felix Sangkalia dan Kasat Reskrim Polresta Denpasar.”

Penggunaan kata-kata tersebut menunjukkan bahwa proses autopsi Engeline melibatkan orang-orang penting di bidang forensik dan kepolisian. Viva.co.id seolah ingin menggambarkan dengan terlibatnya para pemimpin di bidangnya untuk mengautopsi Engeline, kasus

Engeline seolah merupakan salah satu terbesar terkait kekerasan dan pembunuhan.

Melalui artikel berita pertama yang peneliti analisis, peneliti menemukan viva.co.id ingin menggambarkan bahwa kasus pembunuhan Engeline merupakan kasus yang mengerikan. Hal tersebut terlihat dari cara viva.co.id menguraikan tentang apa yang dialami pada jasad Engeline secara detil. Viva.co.id menjelaskan bagian-bagian tubuh Engeline yang diduga menjadi sasaran kekerasan. Lebih lanjut, viva.co.id turut menguraikan dugaan tewasnya Engeline berdasarkan adanya jeratan tali di leher. Hal tersebut diuraikan sebelum adanya pemeriksaan dari pihak Kepolisian. Dengan kata lain, melalui penggambaran banyaknya luka yang ditemukan pada jasad Engeline, viva.co.id menjelaskan bahwa pelaku melakukan tindak kekerasan yang membuat pembaca merasa iba dan ngeri.

Viva.co.id juga menggunakan kata „bocah‟ untuk menggantikan kata Engeline. Peneliti melihat bahwa viva.co.id menggiring persepsi pembaca bahwa kekerasan yang dilakukan pelaku, tidak sepantasnya dialami oleh seorang anak perempuan yang masih kecil dan sedang menempuh pendidikan.

2. Analisis Framing Artikel Berita 2

Judul : Tragedi Angeline Jangan Sampai Berbuah Misteri Terbit : Jum’at, 12 Juni 2015 | 00:17 WIB

Penulis : Aries Setiawan, Reza Fajri, Bayu Nugraha

Artikel berita ini merupakan artikel kedua yang dipilih oleh peneliti untuk diketahui frame beritanya. Artikel ini dipilih berdasarkan kelengkapan konten dalam menggambarkan kronologis pembunuhan Engeline. Selain menjelaskan tentang cerita pembunuhan Engeline, dalam artikel ini juga terdapat dua sub judul. Kedua sub judul tersebut selanjutnya masing-masing dinamai „Korban perdagangan anak?‟ dan „Kepekaan harus dibangun‟. Sesuai dengan sub judul pertama, di dalam artikel ini dibahas dugaan Engeline sebagai korban perdagangan anak karena diasuh oleh keluarga angkat. Sub judul kedua lebih mengaitkan antara kasus Engeline yang sudah terjadi dengan himbauan Komisi

Perlindungan Anak (KPAI) untuk lebih peka dengan kasus kekerasan pada anak yang terjadi pada lingkungan sekitar.

Peneliti sengaja membagi analisis framing dalam artikel ini ke dalam bagian-bagian sesuai dengan sub judul yang diberikan. Alasan pembagian ini adalah untuk menjadikan proses menganalisa lebih terstruktur dan mudah dipahami. Perbedaan konten dalam masing-masing sub judul juga menjadi pertimbangan peneliti untuk membagi analisa framing berita tersebut.

Jika ditelusuri dari judul yang diberikan, „Tragedi Engeline Jangan Sampai Berbuah Misteri‟ menandakan viva.co.id ingin mengingatkan bahwa kasus Engeline harus diusut sampai tuntas. Para pelaku pembunuhan ini juga diharapkan viva.coid untuk diselidiki lebih lanjut apakah hanya satu orang atau melibatkan orang lain.

Core frame dalam artikel berita ini ingin menunjukkan bahwa kasus

Engeline merupakan sebuah kasus besar yang harus diselesaikan sampai akhir. Pencarian para pelaku harus benar-benar dilakukan secara serius. Pencarian tersangka ini selanjutnya dapat dimulai dari orang-orang yang paling dekat dengan kehidupan Engeline. Gagasan inti pada artikel ini juga menduga kemungkinan Engeline sebagai korban perdagangan anak. Selain hal itu, gagasan inti pada artikel ini mengungkapkan bahwa kasus Engeline menjadi sorotan dan pelajaran bagi masyarakat luas. Kasus ini menjadi bukti kongkretnya kasus kekerasan anak yang terjadi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan rasa peka dan peduli masyarakat luas terhadap kasus-kasus kekerasan anak yang terjadi di sekitar lingkungan sosial.

Pada core frame terdapat condensing symbol, yang terdiri atas framing

devices dan reasoning devices. Melalui artikel ini, ditemui framing devices

sebagai berikut: 1. Metaphors

Eriyanto (2001) menjelaskan bahwa metaphors merupakan perumpamaan dan pengandaian. Jika dilihat pada artikel ini, penggunaan metaphors terlihat pada kalimat:

“Kasus kematian bocah perempuan berparas manis itu semakin menyayat hati.”

Penggunaan kata „menyayat hati‟ menunjukkan bahwa kasus tewasnya Engeline menjadi sebuah kasus yang memilukan. Jika dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyayat hati berarti melukai hati, menyakiti hati, menyedihkan hati. Peneliti percaya bahwa viva.co.id ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa kasus kematian Engeline merupakan sebuah kasus yang luar biasa menyedihkan. Kata „menyayat hati‟ menjadi gambaran betapa kejamnya pembunuhan terhadap Engeline.

2. Exemplaar

Exemplaar digunakan untuk menjelaskan kondisi tubuh Engeline

ketika ditemukan. Lebih dari itu juga dijelaskan bagian tubuh Engeline yang menjadi sasaran kekerasan.

“Berdasarkan hasil autopsi tim forensik RSUP Sanglah, di tubuh gadis cilik itu terdapat banyak luka. Di antaranya memar paha kanan samping luar, memar di bokong kanan, pinggang kanan dan perut kanan bawah.”

Melalui teks tersebut, diuraikan bagian-bagian tubuh Engeline yang ditemukan banyak luka. Melalui uraian tersebut, viva.co.id seakan ingin menyentuh perasaan pembaca setelah mengetahui kondisi luka pada korban. Lebih dari itu, Engeline yang turut digambarkan sebagai anak perempuan yang masih kecil dengan adanya luka di sekujur tubuh tentu membuat pembaca menjadi iba.

Exemplaar pada artikel berita ini juga ditemukan pada kalimat,

“Menurut Sudana, saat Angeline dibunuh, Margareth sedang berada di dalam rumah. Angeline dibunuh persis di depan kamar Margareth. Namun anehnya, Margareth mengaku tidak tahu kejadian pembunuhan anak angkatnya tersebut.”

Teks tersebut diuraikan secara mendalam mengenai tempat dibunuhnya Engeline. Uraian tersebut menjelaskan posisi Margareth ketika Engeline dibunuh dan menjawab dugaan-dugaan yang sempat diberikan kepada Margareth sebagai pembunuh Engeline. Viva.co.id memberikan kalimat yang kontras dengan menjabarkan ketidaktahuan Margareth dengan lokasi yang menjadi tempat pembunuhan.

Viva.co.id mengemas teks tersebut seakan menjadi hal yang tidak wajar ketika seseorang berada di dalam tempat yang sama dengan kejadian perkara, dan tidak mengetahui adanya kasus pembunuhan. Secara tidak langsung, Viva.co.id ingin mendalami fakta bahwa Margareth menjadi seseorang yang layak untuk diperiksa keterlibatannya atas kematian Engeline.

3. Catchphrases

Menurut Gamson dan Modigliani (dalam Eriyanto, 2001: 262),

catchphrases terdiri atas frase yang menarik, kontras, menonjol dalam

suatu wacana. Catchphrases digolongkan pada istilah, bentukan kata, atau frase kata yang merujuk pada pemikiran atau semangat tertentu. Melalui artikel berita ini, catchphrases terlihat pada,

“Saat ini Agus ditetapkan sebagai pelaku tunggal.”

Peneliti menjadikan „pelaku tunggal‟ sebagai frase yang merujuk pada pemikiran tertentu. Tunggal dalam hal ini berarti satu orang atau seorang diri. Hal tersebut menggambarkan bahwa pelaku kekerasan dan pembunuhan terhadap Engeline adalah satu orang. Portal berita

online, Viva menggunakan kata „pelaku tunggal‟ untuk merujuk pada Agus sebagai satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kasus Engeline dan ditetapkan sebagai tersangka. Selain kata tersebut, „pelaku tunggal‟ disandingkan dengan kata „saat ini‟ yang berarti masih memungkinkan adanya pelaku lain yang terlibat. Sementara penyelidikan masih berlangsung, maka masih ada kemungkinan ditetapkannya orang lain sebagai tersangka. Viva.co.id melalui kalimat tersebut menunjukkan bahwa kasus Engeline masih belum selesai dan dugaan-dugaan adanya tersangka baru masih mungkin terjadi.

4. Depiction

Azhari (2015) menjelaskan bahwa depiction merupakan cara menggambarkan fakta dengan memaknai kata, istilah, atau kalimat konotatif agar khalayak terarah ke citra tertentu. Penjelasan tersebut terlihat pada kalimat,

“Tubuhnya dikubur di belakang rumah di Jalan Sedap Malam, Denpasar. Rumah orangtua angkat Angeline, Margareth Magawe. Kondisinya mengenaskan.

Kondisi Angeline digambarkan dengan istilah „mengenaskan‟, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menyedihkan atau memilukan. Melalui teks ini, viva.co.id ingin menyampaikan kepada khalayak bahwa tubuh Engeline ketika ditemukan membuat orang lain merasa sedih atau pilu.

5. Visual Images

Melalui artikel ini, wajah Engeline menjadi foto yang digunakan viva.co.id. Terlihat bahwa Engeline menggunakan seragam sekolahnya yang berwarna biru-putih. Lebih dari itu, tergambar jelas Engeline membawa tas ransel berwarna merah muda dan sepatu berwarna senada dengan kaki putih. Pembaca dapat melihat wajah Engeline yang memberikan senyum ketika dirinya difoto, dengan keterangan foto „Angeline semasa hidup‟. Dari penjabaran tersebut, dapat diketahui foto ini diabadikan ketika Engeline akan berangkat sekolah atau telah pulang dari sekolah. Peneliti menemukan bahwa viva.co.id ingin menunjukkan bahwa Engeline sebagai korban kekerasan merupakan seorang anak yang masih kecil dan sedang duduk di bangku sekolah. Penjelasan pada framing devices tersebut kemudian didukung oleh pola-pola yang digunakan dalam reasoning devices, di antaranya adalah:

1. Roots

Pada artikel ini menunjukkan bahwa penemuan Engeline yang sempat dinyatakan hilang dan ditemukan dalam keadaan tewas membuat sedih banyak pihak. Viva.co.id mengkontruksi dengan menggambarkan proses pencarian Engeline yang cukup lama dan hasil temuan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan hingga membuat khalayak pilu.

“Pencarian bocah perempuan di Bali, Angeline, yang dinyatakan hilang sejak Sabtu, 16 Mei 2015 berakhir pilu. Dia ditemukan tak bernyawa, Rabu, 10 Juni 2015, sekitar pukul 11.30 WIB.”

2. Appeals to Principle

Perangkat penalaran pada artikel yang diterbitkan viva.co.id ini terlihat dengan menggunakan klaim-klaim moral (appeals to principle), seperti penjelasan berupa penekanan pada frekuensi pemerkosaan yang dilakukan tersangka Agus kepada Engeline. Di samping itu, kondisi Engeline yang juga diperkosa ketika sudah dalam keadaan meninggal turut dijelaskan secara berulang-ulang. Viva.co.id menunjukkan bahwa kasus pemerkosaan yang dilakukan Agus setelah Engeline wafat merupakan suatu hal yang sangat tidak lumrah terjadi.

“Sudah tewas, sudah jadi mayat, Agus masih memperkosa lagi. Jadi total, dua kali dia memperkosa Angeline, ujar Sudana.”

3. Consequence

Efek (consequence) dalam artikel ini menunjukkan bahwa proses investigasi kasus pembunuhan Engeline tidak berhenti sampai tahap ditetapkannya Agus sebagai tersangka. Melalui narasumber yag dipilih viva.co.id, Kapolda Bali menunjukkan bahwa pihak Kepolisian juga akan terus mencari penyebab pasti meninggalnya Engeline. Hal tersebut ditambah dengan pencarian orang yang bertanggung jawab atas kematian Engeline. Viva.co.id secara tidak langsung menunjukkan masih ada kemungkinan keluarga Engeline terlibat dalam kasus pembunuhan ini.

“Kapolda Bali, Inspektur Jenderal Ronny F Sompie, mengatakan keluarga Angeline pasti dimintai informasi untuk mencari tahu penyebab dan siapa yang bertanggung jawab atas kematian Angeline.”

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa di dalam artikel ini juga terdapat dua sub judul. Sub judul pertama diberikan judul „Korban perdagangan anak?‟. Jika dilihat dari konten yang ada pada sub judul ini, viva.co.id ingin menjelaskan kemungkinan Engeline sebagai korban perdagangan anak. Core

frame (gagasan inti) dalam sub judul ini mengarahkan khalayak untuk tidak terlalu

pada sub judul ini juga terdiri atas framing devices dan reasoning devices.

Framing devices dapat terlihat seperti berikut:

1. Metaphors

Peneliti tidak menemukan penggunaan metaphors yang ada pada artikel ini. Jika dilihat dari isi berita secara keseluruhan, tidak ditemukan kata atau teks yang menganalogikan dan memberikan makna tersirat terhadap sesuatu hal.

2. Exemplaar

Jika diamati konten sub judul ini, peneliti melihat penggunaan

exemplaar pada penjelasan tentang adanya kemungkinan orang lain,

yang terlibat dalam kasus pembunuhan Engeline.

“Namun, Ronny memastikan, penyidik masih mendalami kemungkinan adanya tersangka lain yang terlibat. Baik sebagai penyuruh, atau turut seta melakukan, atau membantu melakukan dalam kasus pembunuhan Angeline.”

Peneliti menemukan sekali lagi viva.co.id menguraikan bahwa kemungkinan adanya orang lain yang turut bertanggung jawab atas kematian Engeline. Peneliti beranggapan apa yang dicantumkan viva.co.id bukanlah tanpa tujuan. Dugaan-dugaan yang diberikan lewat teks pada artikel seolah ingin mengkonstruksi khalayak untuk mengiyakan adanya tersangka lain. Sementara itu, proses hukum dan investigasi masih berjalan.

3. Catchphrases

Frase yang menonjol dan digunakan oleh viva.co.id lewat artikel ini terlihat pada,

“Tapi, Rita mengaku terkejut dengan penetapan Agus sebagai pelaku tunggal dalam kasus pembunuhan disertai pemerkosaan terhadap Angeline. Pasalnya, dalam kasus hilangnya Angeline, pihak yang disebut-sebut bertanggung jawab sebelumnya adalah keluarga angkat Angeline.

Melalui teks tersebut, viva.co.id menggambarkan perasaan narasumber ketika mengetahui Agus sebagai tersangka tunggal. Penggunaan kata „terkejut‟ oleh viva.co.id yang menjelaskan tentang suatu hal yang sulit dipercayai masyarakat luas secara umum. Kalimat selanjutnya menunjukkan bahwa kemungkinan adanya tersangka kedua yang berasal dari pihak keluarga angkat Angeline. Lagi-lagi viva.co.id lewat teks yang disampaikan dan pernyataan yang diberikan narasumber menguraikan Agus tidak bertanggung jawab sendiri atas kematian Engeline.

4. Depiction

Peneliti menemukan pelabelan pada konten berita pada sub judul ini melalui kalimat,

“Terlalu dini sekali kalau kita menduga ada indikasi perdagangan anak dalam kasus Angeline. Saya kira terlalu jauh, kata Yuliana”

Dokumen terkait