• Tidak ada hasil yang ditemukan

Frekuensi, Kepadatan, Penutupan, INP, dan Biomassa

3.4 Analisa Data

4.2.3 Frekuensi, Kepadatan, Penutupan, INP, dan Biomassa

Frekuensi kehadiran jenis lamun di semua lokasi penelitian (Tabel 9) menunjukkan bahwa H. pinifolia di lokasi Andai dan Wosi mempunyai nilai yang paling tinggi. Hal ini menggambarkan kemampuan adaptasinya terhadap kondisi yang terganggu. Pada ketiga lokasi lainnya menunjukkan nilai frekuensi kehadiran yang relatif seimbang di antara jenis. Walau demikian, frekeunsi kehadiran yang tinggi ditemukan pada jenis T. hemprichii dan C. rotundata.

Tabel 9 Frekuensi kehadiran jenis lamun pada lokasi penelitian Lokasi

No. Jenis Lamun

Andai Rendani Wosi Briosi Tj. Mangewa

1. C. rotundata 0,697 0,061 0,697 0,818 2. C. serrulata 0,030 3. H. pinifolia 0,970 0,424 1,000 0,242 0,424 4. H. uninervis 0,636 0,061 0,303 5. S. isoetifolium 0,121 0,030 0,121 6. H. ovalis 0,091 0,545 0,303 0,030 0,152 7. T. hemprichii 0,879 0,788 0,879 Total 1,061 3,333 1,364 1,848 2,697

Pada lokasi yang bertipe sedimen karbonat dan jauh dari sumber limbah antropogenik/kekeruhan (Rendani dan Tanjung Mangewa) ditemukan bahwa kepadatan tegakan tertinggi pada jenis T. hemprichii (617,697 dan 828,000 tegakan/m2), sedangkan pada lokasi Briosi dengan tipe sedimen yang sama, tetapi relatif dekat dengan sumber limbah antropogenik ditemukan

C. rotundata memiliki kepadatan tertinggi (570,667 tegakan/m2). Pada lokasi lainnya yang berada dekat muara sungai dengan tipe sedimen terrigenous dan tingkat kekeruhan yang tinggi (Andai dan Wosi), jenis H. pinifolia ditemukan memiliki kepadatan yang lebih tinggi (356,848 dan 3462,182 tegakan/m2). Kepadatan rata-rata setiap jenis lamun dan secara keseluruhan di semua lokasi penelitian disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10 Kepadatan rata-rata (tegakan/m2) jenis lamun pada lokasi penelitian Lokasi

No. Jenis Lamun

Andai Rendani Wosi Briosi Tj. Mangewa 1. C. rotundata 486,182 41,455 570,667 286,424 2. C. serrulata 0,364 3. H. pinifolia 356,848 244,364 3462,182 426,909 159,03 4. H. uninervis 184,364 4,485 46,061 5. S. isoetifolium 16,121 5,818 45,818 6. H. ovalis 1,939 114,545 173,455 0,364 11,515 7. T. hemprichii 617,697 389,697 828,000 Total 358,787 1663,637 3677,092 1397,94 1376,848 Kepadatan lamun per satuan luas tergantung pada jenisnya (Nienhuis et al. 1989, diacu dalam Nasution, 2003). Jenis-jenis lamun dengan kepadatan tegakan yang tinggi biasanya juga memiliki frekuensi kehadiran dan penutupan yang tinggi (Tabel 9 dan Tabel 11). Menurut Terrados et al. (1997), umumnya kontribusi jenis lamun (misalnya kepadatan atau biomassa) cenderung didominasi oleh satu atau beberapa jenis saja dalam suatu komunitas. Hal ini diduga sangat terkait dengan kemampuan adaptasi suatu jenis lamun terhadap kondisi lingkungan setempat.

Brouns dan Heijs (1991), diacu dalam Tanaka dan Kayanne (2007), menemukan bahwa T. hemprichii dan C. rotundata adalah jenis lamun yang dominan pada lokasi-lokasi penelitiannya di Indonesia dan Papua New Guinea. Di antara kedua jenis ini, T. hemprichii lebih sensitif terhadap kekeruhan

(Terrados et al. 1997; Vermaat et al. 1997), sehingga umumnya ditemukan dominan pada daerah rataan terumbu yang mati dan rataan subtidal dengan substrat pasir dan pecahan karang, juga pada substrat campuran lumpur dan pasir serta lumpur lunak (Phillips & Meñez 1988). Jenis lainnya yang termasuk kelompok pioner, yaitu C. rotundata paling umum pada batas surut terendah, pada daerah rataan yang berpasir karbonat, walau juga melimpah pada rataan lumpur yang luas pada daerah-daerah yang terlindung, juga pada daerah estuari dan sekitar mangrove (Phillips & Meñez 1988). Sedangkan kepadatan tegakan H. pinifolia yang tinggi pada lokasi Andai dan Wosi berkaitan dengan kemampuan adaptasinya pada kondisi substrat yang terganggu (Phillips & Meñez 1988).

Berdasarkan lokasi penelitian kepadatan tertinggi ditemukan di Wosi (3677,092 tegakan/m2) dan terendah di Andai (358,787 tegakan/m2). Kepadatan lamun di lokasi Wosi dan Andai terutama disusun oleh jenis pioner berukuran kecil yang relatif tahan terhadap kondisi perairan tersebut. Zieman (1987), diacu dalam Hemminga dan Duarte (2000), mengemukakan bahwa kepadatan lamun di suatu daerah dipengaruhi oleh kondisi abiotisnya seperti kecerahan air, sirkulasi, kedalaman air, substrat, dan kandungan zat hara.

Penutupan lamun menggambarkan tingkat penutupan ruang oleh setiap jenis lamun dan/atau komunitas lamun. Informasi mengenai penutupan sangat penting artinya untuk mengetahui kondisi ekosistem secara keseluruhan serta sejauh mana komunitas lamun mampu memanfaatkan luasan yang ada (Erina 2006). Penutupan jenis lamun di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Penutupan jenis lamun (%) pada lokasi penelitian Lokasi No. Jenis Lamun

Andai Rendani Wosi Briosi Tj. Mangewa

1. C. rotundata 15,001 1,365 9,626 7,501 2. C. serrulata 0,125 3. H. pinifolia 14,064 1,501 14,046 3,251 7,126 4. H. uninervis 4,876 0,375 2,876 5. S. isoetifolium 1,250 0,500 5,500 6. H. ovalis 0,125 5,251 3,003 0,125 0,376 7. T. hemprichii 17,334 9,251 17,222 Total 14,189 45,339 18,414 23,129 40,601

Tingkat penutupan sangat berkaitan dengan kepadatan dan juga morfologi (ukuran) jenis lamun penyusunnya. Penutupan lamun yang tinggi umumnya didominasi oleh jenis dengan morfologi daun yang besar (C. rotundata dan T. hemprichii) kecuali padang lamun di Andai dan Wosi yang terutama disusun oleh jenis yang berukuran kecil. Berdasarkan lokasi, Rendani mempunyai luas penutupan yang tinggi (45,339 %) dan terendah pada lokasi Andai (14,189 %). Walau demikian, nilai persentase penutupan lamun pada lokasi Rendani dan Tanjung Mangewa termasuk dalam kondisi kurang kaya/kurang sehat (30-59,9 %), sedangkan ketiga lokasi lainnya termasuk dalam kondisi miskin (≤ 29,9 %) (Kepmen Negara LH No. 200 Tahun 2004).

Indeks nilai penting (INP) merupakan besaran yang digunakan untuk melihat seberapa penting peranan suatu jenis lamun dalam komunitasnya. Nilai INP dipengaruhi oleh nilai frekuensi, kepadatan dan penutupan jenis lamun. Komposisi, frekuensi, kepadatan, dan penutupan jenis lamun di setiap lokasi pengamatan berbeda-beda dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Oleh karena itu jenis lamun yang sama bisa saja mempunyai nilai INP yang berbeda meskipun selalu terdapat pada semua lokasi penelitian. Nilai INP setiap jenis lamun pada semua lokasi penelitian disajikan pada (Gambar 7).

Pada lokasi Andai dan Wosi, nilai INP tertinggi ditemukan pada jenis

H. pinifolia, sedangkan tiga lokasi lainnya yang bertipe sedimen karbonat

ditemukan pada jenis T. hemprichii dan C. rotundata. Nilai INP yang tinggi sangat terkait dengan kondisi perairan dan tipe substrat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa jenis pioner lebih dominan pada daerah Andai dan Wosi yang terletak dekat muara dan memiliki tipe sedimen terrigenous, dengan tingkat kekeruhan dan/atau masukkan limbah antropogenik yang tinggi. Demikian juga dengan lokasi Briosi yang bertipe sedimen karbonat, yang terutama didominasi oleh jenis pioner lainnya (C. rotundata). Kondisi sebaliknya nampak pada padang lamun lainnya yang memiliki tipe sedimen karbonat dan relatif jernih, terutama didominasi oleh jenis klimaks yaitu

Ket..: A. Andai Cr = C. rotundata B. Rendani Cs = C. serrulata C. Wosi Ho = H. ovalis D. Briosi Hp = H. pinifolia E. Tj. Mangewa Hu = H. uninervis Si = S. isoetofolium Th = T. hemprichii

Biomassa pada setiap lokasi penelitian (Tabel 12), umumnya didominasi oleh jenis yang berukuran besar dan/atau memiliki kepadatan yang tinggi, misalnya C. rotundata dan T. hemprichii, kecuali pada lokasi Andai dan Wosi yang didominasi oleh jenis lamun pioner berukuran kecil dengan kepadatan yang tinggi. Walau kekayaan jenis lamun di daerah tropis tinggi, namun biasanya terdapat satu jenis yang dominan dalam hubungannya dengan biomassa (Hemminga & Duarte 2000), karena hal ini berkaitan dengan morfologi dan laju pertumbuhan yang berbeda di antara jenis lamun (Vermaat

et al. 1995).

Tabel 12 Biomassa jenis lamun (gbk/m2 ) pada lokasi penelitian Lokasi

Jenis

Andai Rendani Wosi Briosi Tj. Mangewa

C. rotundata - 41,251 40,978 26,309 45,841 C. serrulata - 0,750 - - - H. pinifolia 5,943 3,745 92,322 2,415 23,725 H. uninervis - 7,022 - 0,121 3,855 S. isoetifolium - 0,424 - 0,078 7,918 H. ovalis 0,012 1,896 1,618 0,001 0,221 T. hemprichii - 181,316 - 67,488 431,364 Total 5,955 236,404 134,918 96,412 512,922

Keterangan : gbk = gram berat kering

Variabilitas pada biomassa berkaitan dengan variabel lingkungan, yaitu kondisi cahaya, suhu, karakteristik sedimen dan ketersediaan nutrien setempat (misalnya, Dennison & Alberte 1985; Orth & Moore 1986; Short 1987; Giesen et al. 1990; Pedersen & Borum 1993; Hemminga et al. 1994a; Lalumière et al. 1994). Kondisi lingkungan yang sesuai akan menjadikan pertumbuhan lamun menjadi cepat, sehingga memiliki kepadatan dan biomassa yang tinggi. Berdasarkan lokasi, biomassa yang tinggi ditunjukkan oleh lokasi Tanjung Mangewa dan Rendani, sedangkan paling rendah di lokasi Andai. Hal ini sangat berkaitan dengan kepadatan yang tinggi dari jenis berukuran besar (T. hemprichii dan C. rotundata) pada kedua lokasi ini, dan sebaliknya pada lokasi Andai didominasi oleh jenis berukuran kecil (H. pinifolia).

Walau produksi lamun terbagi menjadi jaringan di bawah permukaan dan di atas permukaan sedimen (Gambar 8), namun biomassa di bagian bawah (rhizoma dan akar) sering kali mendominasi biomassa total dari komunitas lamun. Alokasi biomassa di bagian bawah pada semua lokasi antara 67,77 % dan 88,68 % (Gambar 9) dengan nilai perbandingan biomassa lamun bagian bawah terhadap bagian atas pada semua lokasi antara 2,103 dan 7,831 (Tabel 13). Berdasarkan hasil beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa perbandingan biomassa bagian bawah terhadap bagian atas secara umum >1 (Stevenson 1988; Hillman et al. 1989). Kondisi ini menunjukkan bahwa alokasi sebagian besar hasil fotosintesis ditujukan pada proses-proses lainnya di dalam jaringan di bawah tanah.

Gambar 8 Diagram pembagian produksi lamun di bawah permukaan dan di atas permukaan sedimen (Pollard & Greenway 1993)

Pada lokasi bertipe substrat karbonat, perbandingan yang tinggi di antara biomassa kedua bagian lamun ini ditemukan pada lokasi Tj. Mangewa dan Rendani, sedangkan pada lokasi Briosi yang relatif dekat dengan sumber masukan antropogenik dan tingkat kekeruhan yang tinggi, nilai perbandingan kedua bagian ini lebih rendah. Nilai perbandingan pada dua lokasi yang bertipe substrat terrigenous dan keruh menunjukkan bahwa Andai lebih tinggi dari Wosi.

Tabel 13 Biomassa rata-rata (gbk/m2) dan perbandingan biomassa bagian atas dan bawah pada lokasi penelitian

Parameter Andai Rendani Wosi Briosi Tj. Mangewa Biomassa daun dan pelepah (BA) 0,674 70,618 26,723 31,070 71,373 Biomassa rhizoma dan akar (BB) 5,281 165,787 108,196 65,341 441,549

BB:BA 7,831 2,348 4,049 2,103 6,186

Keterangan: BA = biomassa atas BB = biomassa bawah

Gambar 9 Persentase biomassa bagian atas dan bagian bawah.

Pengambilan nutrien pada lamun bisa dilakukan melalui daun maupun sistem akarnya (Short & McRoy 1984; Hemminga et al. 1991; Pérez-Lloréns et al. 1993), oleh karena itu perbandingan di antara biomassa atas dan bawah bisa menjadi indikasi ketersediaan cahaya dan/atau nutrien pada suatu perairan. Pada daerah tropis yang jernih dan umumnya dengan konsentrasi nutrien terlarut dalam air laut yang lebih rendah dibandingkan dalam sedimen, pengambilan nutrien dari sedimen oleh akar menjadi lebih penting (Short 1987), walau hal ini tergantung pada perbandingan di antara luas permukaan daun dan permukaan akar yang aktif menyerap (Smith et al. 1979; Caffrey & Kemp 1992).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan perbandingan biomassa bagian bawah terhadap bagian atas permukaan merupakan suatu bentuk adaptasi terhadap kondisi kolom air yang jernih dan atau rendah nutriennya. Hasil fotosintesis S. isoetifolium pada sedimen karbonat di Dravuni dialokasikan pada peningkatan daerah permukaan akar untuk menyerap nutrien (Yamamuro et al. 1993). Demikian pula hasil penelitian Brouns (1987), diacu dalam Pollard (1999), menemukan bahwa S. isoetifolium mengatur sebagian besar produksinya ke dalam

jaringan di dalam substrat (69 %). Proporsi biomassa T. hemprichii yang dialokasikan pada bagian bawah menurun secara nyata sebagai respon terhadap penambahan nutrien kolom air (Agawin 1995, diacu dalam Agawin et al. 1996). Hasil percobaan Agawin et al. (1996) melalui fertilisasi pada kolom air terhadap jenis E. acoroides, T. hemprichii dan C. rotundata di Cape Bolinao (Filipina Barat Laut) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan biomassa daun secara nyata.

4.2.4 Pola Penyebaran

Hasil perhitungan diperoleh nilai indeks penyebaran untuk semua jenis lamun >1(Lampiran 5). Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa pola penyebaran dari setiap jenis lamun adalah mengelompok. Bentuk penyebaran yang demikian sangat terkait erat dengan bentuk pertumbuhan vegetatifnya yaitu melalui rhizoma. Odum (1993), menyatakan bahwa tipe penyebaran berkelompok pada tumbuhan dapat terjadi melalui beberapa kemungkinan yakni respon individu terhadap kondisi lokal, perubahan-perubahan cuaca harian atau musiman, dan proses reproduksi. Selanjutnya dikemukakan juga bahwa pola penyebaran ini akan meningkatkan kompetisi di antara individu untuk memeroleh nutrien dan ruang, namun mempunyai mortalitas yang rendah selama kondisi lingkungan yang memburuk atau adanya predasi.

Dokumen terkait