• Tidak ada hasil yang ditemukan

Frekuensi menurut Jarak dengan Pusat Kecamatan

Dalam dokumen Jurnal Teknologi Pertanian Volume 2 Nomo (Halaman 34-38)

rendah sedang tinggi

32

maka responden tidak begitu mempertimbangkan lagi harga, baik harga mahal atau murah. Selain itu daerah penelitian yaitu Kecamatan Baitussalam dan Kecamatan Krueng Barona Jaya merupakan daerah yang dekat dengan Kota Banda Aceh sehingga harga jual lahan sawah tidak jauh perbedaannya.

Hubungan konversi lahan sawah dengan permintaan terhadap lahan (X4) adalah berpengaruh

secara nyata dan bentuk hubungan adalah positif. Hal ini bermakna bahwa apabila permintaan lahan tinggi maka akan semakin tinggi pula terjadi alih fungsi lahan sawah. Atau jika permintaan lahan rendah maka akan rendah pula terjadi alih fungsi lahan. Fenomena ini menunjukkan bahwa di daerah penelitian permintaan terhadap lahan sawah tinggi. Peningkatan jumlah penduduk setiap tahun merupakan salah satu hal yang menyebabkan terjadi peningkatan permintaan lahan, selain itu daerah penelitian merupakan daerah dekat dengan Kota Banda Aceh yang merupakan daerah pengembangan kota.

Hubungan konversi lahan sawah dengan kondisi lahan (X5) adalah tidak berpengaruh secara

nyata dan bentuk hubungannya adalah negatif. Hal ini bermakna bahwa semakin tinggi atau baik kondisi lahan maka akan sedikit terjadi konversi lahan. Atau dengan kata lain semakin rendah kondisi lahan maka semakin tinggi terjadinya konversi lahan sawah. Fenomena ini menunjukkan bahwa tinggi dan rendahnya kondisi lahan di daerah penelitian tidak mempengaruhi masyarakat untuk menjual lahannya. Umumnya lahan kurang produktif yang disebabkan karena rusaknya jaringan irigasi dan lahan tidak dibersihkan pasca tsunami, sehingga dibeberapa desa masyarakat tidak bisa memfaatkan lagi lahan sawahnya.

Hubungan konversi lahan sawah dengan dorongan untuk konversi (X6) adalah tidak

berpengaruh secara nyata dan bentuk hubungannya adalah positif. Hal ini bermakna bahwa semakin tinggi dorongan untuk konversi lahan sawah maka akan semakin tinggi pula terjadinya konversi lahan sawah. Atau dengan kata lain semakin banyak yang mempengaruhi untuk konversi lahan sawah maka akan semakin banyak lahan sawah yang di konvesi. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat terdesak untuk menjual lahan karena kebutuhan hidup maka masyarakat langsung menjualnya. Jadi agen, tetangga dan tokoh

masyarakat tidak mempengaruhi masyarakat yang ingin menjual lahannya.

Hubungan konversi lahan sawah dengan jarak ke pusat kecamatan (X7) adalah tidak

berpengaruh secara nyata dan bentuk hubungannya adalah negatif. Hal ini bermakna bahwa semakin dekat lahan sawah dengan pusat kecamatan maka akan semakin tinggi terjadinya konversi lahan. Atau dengan kata lain semakin jauh lahan dengan pusat kecamatan maka akan sedikit terjadi konversi lahan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ke dua daerah penelitian merupakan daerah yang sama-sama dekat dengan pusat kecamatan yaitu maksimal 6 Km, dan dekat dengan Kota Banda Aceh.

Perkembangan suatu wilayah tidak terlepas dari adanya kegiatan pembangunan di wilayah tersebut. Hal ini terlihat dari distribusi keuangan dan kegiatan manusia yang bertumpu pada faktor jarak dan pusat kecamatan.

Pengaruh Secara Serempak Antara Variabel Bebas dan Terikat

Pengaruh secara serempak variabel bebas (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7) terhadap variabel terikat

(Y) dapat dilihat dengan analisis uji F. Dari hasil pengujian diperoleh nilai F hitung sebesar 8,134 sedangkan F pada tingkat kepercayaan 95 % (F tabel) sebesar 2,24. Dengan kata lain F hitung > F

tabel α = 0,05 artinya secara statistik berpengaruh

nyata. Maka terima Ha tolak H0 artinya faktor-

faktor yang mempengaruhi konversi lahan terhadap pendapatan, kebutuhan hidup, harga jual, permintaan lahan, kondisi lahan, dorongan konversi lahan dan jarak dengan pusat kecamatan berpengaruh terhadap luas konversi lahan sawah.

Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7) dalam menjelaskan

terhadap variabel tak bebas (Y) dapat dilihat pada Koefisien determinasi (R2). Hasil analisis

menunjukkan bahwa (R2) diperoleh sebesar 0,576

(57,6). Angka ini memberikan makna bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah menjadi lahan nonpertanian didaerah penelitian dapat dijelaskan oleh faktor pendapatan, kebutuhan hidup, harga jual, permintaan lahan,kondisi lahan, dorongan konversi dan jarak dengan pusat kecamatan 57,6 % sedangkan 42,4 % di uji oleh faktor lain di luar penelitian ini. Pengaruh masing- masing variabel bebas terhadap variabel terikat secara rinci dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini:

33

Tabel 5. Matrik Koefisien Regresi

Model Ustandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig B Std. Erro 1 X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 Constant Pendapatan Kebutuhan hidup Harga jual Permintaan lahan Kondisi lahan Dorongan konversi Jarak ke pusat kec.

1.853 -.004 .009 .014 .313 -.347 .070 -.065 1.862 .002 .003 .032 .132 .380 .333 .181 -.259 .341 .069 .372 -.102 .022 -.061 .995 -2.212 2.830 .427 2.368 -.912 .209 -.361 .325 .032 .007 .671 .023 .367 .835 .720

Pengaruh Secara Parsial antara Variabel Bebas dan Terikat

Pengaruh variabel bebas (X1, X2, X3, X4, X5,

X6, dan X7) terhadap variabel terikat (Y) sacara

parsial (terpisah) menggunakan analisis uji t. Hasil perhitungan terhadap analisis uji t untuk setiap variabel dapat dilihat pada tabel 8 diatas. Sedangkan nilai ttabel pada tingkat kepercayaan 99 % adalah

2,01. Ini artinya bahwa bahwa hanya tiga dari tujuh variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap variabel terikat, yaitu : Pendapatan (X1), kebutuhan

hidup (X2), permintaan lahan (X4). Sedangkan harga

jual (X3), kondisi lahan (X5), dorongan konversi

(X6) dan jarak dengan pusat kecamatan (X7) tidak

berpengaruh nyata terhadap konversi lahan sawah menjadi lahan nonpertanian.

Pendapatan berpengaruh secara parsial terhadap luas konversi lahan sawah didaerah penelitian. Hal ini memiliki makna bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin rendah terjadinya konversi lahan sawah. Atau dengan kata lain semakin rendah pendapatan maka akan semakin tinggi tingkat konversi lahan sawah.

Kebutuhan hidup berpengaruh secara parsial terhadap luas konversi lahan sawah. Semakin tinggi kebutuhan hidup responden maka akan semakin tinggi pula upaya untuk melakukan konversi lahan sawah. Atau dengan kata lain semakin banyak kebutuhan hidup maka akan semakin banyak pula terjadinya konversi lahan sawah. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi masyarakat ingin hidup lebih baik dengan cara membuka usaha, modal usaha didapat dari hasil penjualan lahan sawah.

Permintaan lahan berpengaruh secara parsial terhadap luas konversi lahan sawah. Semakin tinggi permintaan terhadap lahan maka akan semakin tinggi pula terjadi konversi lahan sawah. Atau dengan kata lain semakin rendah permintaan lahan maka semakin rendah pula terjadinya konversi lahan sawah. Tingginya permintaan lahan sawah di

dua kecamatan penelitian karena daerah dekat dengan Kota Banda Aceh yang merupakan daerah pengembangan kota. Konversi lahan sawah menjadi lahan non pertanian umumnya terjadi di wilayah perkotaan sebagai konsekwensi perluasan kota yang didorong oleh perbedaan pertumbuhan ekonomi yang terlalu besar antara wilayah perkotaan dengan wilayah pedesaan. Pertumbuhan ekonomi wilayah perkotaan yang berbasis pada sektor nonpertanian jauh melebihi pertumbuhan ekonomi di wilayah pedesaan yang berbasis sektor pertanian. Pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan berkembangnya industri, prasarana ekonomi, fasilitas umum, dan pemukiman dimana semuanya memerlukan lahan telah meningkatkan permintaan lahan untuk memenuhi kebutuhan nonpertanian

Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa konversi lahan sawah menjadi lahan nonpertanian di Kabupaten Aceh Besar dipengaruhi oleh pendapatan, kebutuhan hidup dan permintaan lahan.

Analisis Multikolinier

Analisis multikolinier dilakukan untuk menghindari satu atau beberapa variabel bebas yang memiliki korelasi yang tinggi dari model regresi. Uji multikolinier dilakukan dengan cara meregresi model analisis dan melakukan uji korelasi antara variabel independen dengan menggunakan torelance dan Varians Infloating Factor (VIF). Hasil analisis multikulinier menunjukkan bahwa nilai toleransi pada tiap variabel < 10 untuk semua variabel bebas dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam regresi antara variabel bebas pendapatan (X1), kebutuhan hidup (X2), harga jual

(X3), permintaan lahan (X4), kondisi Lahan (X5),

dorongan konversi (X6) dan jarak dengan pusat

kecamatan (X7) terhadap luas konversi lahan (Y)

34

Kesimpulan

Karakteristik masyarakat yang cenderung melakukan konversi lahan adalah masyarakat dengan umur dewasa, pendidikan menengah, dan memiliki tanggungan 4 sampai 6 orang.

Hubungan konversi lahan sawah dengan pendapatan (X1), Kebutuhan hidup (X2), dan

Permintaan terhadap lahan (X4) adalah

berpengaruh secara nyata. Sedangkan hubungan konversi lahan dengan harga jual (X3), kondisi lahan

(X5), dorongan untuk konversi (X6), dan Jarak

dengan pusat kecamatan (X7) adalah tidak

berpengaruh secara nyata.

Bentuk hubungan Konversi lahan sawah (Y) dengan pendapatan (X1), kondisi lahan (X5), dan

jarak dengan pusat kecamatan (X7) adalah negatif.

Sedangkan bentuk hubungan kebutuhan hidup (X2), harga jual (X3), permintaan terhadap lahan

(X4), dan dorongan untuk konversi (X6) adalah

positif.

Daftar Pustaka

Anonimous. 2009. Krueng Barona Jaya Dalam Angka. Laporan Tahunan Kecamatan Krueng Barona Jaya.

Moesa, S. 2002. Ilmu Lingkungan: Ekosistem, Manusia dan Pembangunan Berwawasan

Lingkungan Berkelanjutan. Syiah Kuala University Press. Darussalam-Banda Aceh. Pujiati, S.A. 1997. Analisis Regresi Linier Berganda

Untuk Mengetahui Hubungan Antara Beberapa Aktivitas Promosi dengan Penjualan Produk.PDF.Pasca Sarjana Jurusan Statistika. FMIPA ITS Surabaya.

Siagian, S.P. 2004. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Singarimbun, M dan S. Effendi. 1989. Metode

Penelitian Survey. Midus Surya Grafindo. Jakarta

Sekaran, U. 2006. Research Method For Bussiness, Metodologi Penelitian untuk Bisnis, Third Edition. Salemba Empat, Jakarta

Slamet, Y. 1989. Konsep-konsep Dasar Partisipasi Sosial, Pusat Antar Universitas Studi Sosial. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Sudjana. 2002. Metode Statistik, Tarsito. Bandung Sukirno, S. 1981. Beberapa Aspek Persoalan dalam

Pembangunan Daerah. FEUI. Jakarta. Utomo, Muhajir, E. Rifai dan A. Thahar. 1992.

Pembangunan dan Pengendalian Alih Fungsi Lahan. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Wahyono, T. 2009. 25 Model Analisis Statistik dengan SPSS 17. Elex Media Komputindo. Jakarta.

35

Analisis Nilai Tambah Usaha Pengolahan Cabai Merah Kering Bubuk (Studi

Dalam dokumen Jurnal Teknologi Pertanian Volume 2 Nomo (Halaman 34-38)

Dokumen terkait