ISSN : 2355
–
1976
Volume 2, Nomor 1.
Oktober 2014
JURNAL
TEKNOLOGI PERTANIAN
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani dalam Upaya
Rehabilitasi Lahan Terkena Tsunami di Kecamatan Jaya
Kabupaten Aceh Jaya
Umar HA , Romano, Hairul Basri
Pengaruh Alkalinitas terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup dan
Pertumbuhan Benih Ikan Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii)
Dini Islama, Kukuh Nirmala, Maria Ulfah
Pelaksanaan Gema Palagung di Kecamatan Suka Makmur Aceh
Besar
Umar HA, Sofyan
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan
Sawah menjadi Lahan Nonpertanian Di Kabupaten Aceh Besar
Ida Nursanti, Umar HA, Agussabti, dan SugiantoAnalisis Nilai Tambah Usaha Pengolahan Cabai Merah Kering
Bubuk (Studi Kasus: Wilayah Bogor)
Endiyani, Emmy Darmawati, Y. Aris Purwanto
Penghambat Aktivitas Enzim Pengubah Angiotensin dari Protein
Whei
Amhar Abubakar
Penerbit
: Politeknik Indonesia Venezuela
Penanggung Jawab : Direktur Politeknik Indonesia Venezuela
Dewan Redaksi
Ketua
: Edy Miswar, S.Si
Anggota
: Iko Imelda Arissa, S.Kel., M.Si
Yassier Anwar, SP., M.Si
Reza Salima, SP., MP
Chairil Anwar, M.Sc
Dewan Editor
Ketua
: Prof. Dr. Ir. Amhar Abubakar, MS
Anggota
: Dr. Musri, M.Sc
Dr. Ir. Elly Kesumawati, M.Agric.Sc
Dr.nat.techn. Safruddin, SP, MP
Dr.Rita Hayati, SP, M.Si
Teknisi IT/Web Master
: Muzakir, SP
Hazful Maizi, ST
Sirkulasi dan Dokumentasi : Novita Sari, S.Pi
No
Judul Artikel
Halaman
1
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani dalam Upaya
Rehabilitasi Lahan Terkena Tsunami di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh
Jaya
Umar HA , Romano, Hairul Basri
1
–
11
2
Pengaruh Alkalinitas terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup dan
Pertumbuhan Benih Ikan Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii)
Dini Islama, Kukuh Nirmala, Maria Ulfah
12
–
15
3
Pelaksanaan Gema Palagung di Kecamatan Suka Makmur Aceh Besar
Umar HA, Sofyan16
–
20
4
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan Sawah menjadi
Lahan Nonpertanian Di Kabupaten Aceh Besar
Ida Nursanti, Umar HA, Agussabti, dan Sugianto
21
–
34
5
Analisis Nilai Tambah Usaha Pengolahan Cabai Merah Kering Bubuk (Studi
Kasus: Wilayah Bogor)
Endiyani, Emmy Darmawati, Y. Aris Purwanto
35
–
43
6
Penghambat Aktivitas Enzim Pengubah Angiotensin dari Protein Whei
Amhar Abubakar44
–
48
1
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani dalam Upaya Rehabilitasi
Lahan Terkena Tsunami di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya
(Factors Affecting Farmer Motivation in Land Rehabilitaton Effort of Tsunami-Affected Land
in Sub-District of Jaya, District of Aceh Jaya)
Umar H. A
1, Romano
2, Hairul Basri
21 Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Jurusan Pertanian, Politeknik Indonesia Venezuela, Aceh Besar –
23372, Indonesia
2 Dosen Pascasarjana Jurusan Konservasi Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala,
Darussalam-Banda Aceh
Abstract
This studi was aimed to determine the level of community motivation in rehabilitation of tsunami-affected land and the factors influencingthe community motivation in rehabilitation of tsunami-affected land in Jaya sub District of Aceh Jaya Distict. This study used survey methode by using purposive sampling with two-stage sampling. The study took place in sub-District of Jaya, District of Aceh Jaya. Data were analyzed using Chi Square and Multiple Linear Regression. The result showed that farmer motivation for rehabilitation of by the farmer expectation, farmer participation in social and economic institutions and the role of NGOs. The value of Chi Square to test different levels of motivation in the three areas of reseach showed the value of x2 = 0.585
and x2 005= 16.507. This value indicates that there is no significant difference of motivation level among the three areas of
research.
Keywords: Farmer motivation, Rehabilitation, tsunami-affected land
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi masyarakat dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya, mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi motivasi masyarakat dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan tehnik penentuan sampel dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling) dengan dua tahap pengambilan sampel. Penelitian berlangsung di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya. Data dianalisis dengan menggunakan Chi Square dan Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi petani terhadap rehabilitasi lahan yang terkena tsunami di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya secara parsial dipengaruhi oleh harapan petani, partisipasi petani dalam kelembagaan sosial dan ekonomi serta peranan NGO. Sedangkan nilai Chi Square untuk uji beda tingkat motivasi di tiga
daerah penelitian menunjukkan nilai χ2 = 0,585 dan χ2 tabel 0,05 = 16,507. Nilai ini menunjukkan bahwa tidak
ada beda tingkat motivasi di daerah penelitian.
Kata Kunci: motivasi petani, rehabilitasi, lahan terkena tsunami.
Pendahuluan
Bencana gempa bumi dan tsunami telah melanda beberapa wilayah Provinsi Aceh dan Sumatera Utara pada tanggal 26 Desember 2004. Bencana tersebut menyebabkan lebih dari 200 ribu orang meninggal dan lebih dari 100 ribu lainnya dinyatakan hilang. Bencana ini telah mengubah situasi dan kondisi fisik maupun non-fisik penduduk dan lingkungan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Bencana alam yang menelan puluhan ribu jiwa ini dan menghancurkan seluruh wilayah pantainya pada akhir 2004, tidak menyurutkan keinginan penduduk untuk tetap membuka permukiman kembali sepanjang garis pantai. Jumlah desa yang berbatasan langsung dengan bibir pantai pada tahun 2006 sebanyak 43 desa atau 25 persen dari seluruh desa yang berjumlah sebanyak 172 desa (Anonimous, 2006).
Dampak spesifik yang terjadi setelah bencana alam tersebut adalah menambah memperburuk sumber daya lahan. Lahan merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting kegunaannya bagi kelangsungan hidup manusia. Selain sebagai tempat dimana manusia berpijak dan hidup, sumber daya lahan juga merupakan faktor input dalam berbagai aktivitas ekonomi seperti untuk kegiatan pertanian, perikanan, sektor kehutanan, tempat tinggal, eksplorasi mineral, industri dan kegiatan komersial lainnya.
2
lahan yang terjadi antara lain lahan sawah (termasuk subsektor hortikultura) seluas 20.101 ha, ladang tegalan (tanaman palawija dan horti) 31.345 ha, dan perkebunan diperkirakan 56.500 s/d 102.461 ha (Anonimous, 2005). Infrastruktur usaha tani, seperti jaringan irigasi, bangunan irigasi, jaringan saluran tingkat usaha tani, jalan usaha tani, pematang, terasering (lahan kering) serta bangunan petakan lahan usahatani pun tak luput dari kerusakan. Disamping itu juga berbagai peralatan, seperti hand traktor, pompa air, traktor besar, alat pengolah nilam, karet, minyak kelapa, dan pengolah dendeng ikut rusak.Rehabilitasi lahan dan pemulihan produksi pertanian di daerah yang terkena dampak tsunami berkaitan erat dengan kerusakan infrastruktur untuk drainase dan irigasi, serta kesuburan tanah. Danish Red Cross mengumpulkan pendapat petani lokal di 16 desa di Kecamatan Teunom, Aceh Jaya mengenai daftar prioritas yang mereka anggap penting dalam pemulihan produksi pertanian. Kebanyakan petani lokal tersebut menyatakan bahwa perbaikan drainase dan pintu air adalah masalah infratruktur utama yang berkaitan dengan produksi pertanian. Kadar garam yang tinggi di tanah yang terendam air laut setelah tsunami di Aceh telah tercuci dengan cepat. Pencucian yang cepat ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan sifat-sifat tanah yang lain seperti permeabilitas tanah. Jadi hubungan antara infrastruktur drainase yang baik dan potensi pencucian garam sangat jelas. Biaya produksi melalui saluran drainase setara dengan USD 60/ha, jadi lebih murah dibandingkan dengan metode rehabilitasi lahan yang lain seperti pencucian permukaan tanah yang dapat mencapai USD 1000/ha (Anonimous, 2007).
Motivasi adalah suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya. Sedangkan kata motif adalah suatu alasan/dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu/melakukan tindakan/bersikap tertentu. Pembagian motif menjadi motif intristik dan motif ekstrinsik didasarkan pada datangnya penyebab suatu tindakan. Tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab yang datang dari luar diri individu disebut tindakan yang bermotif ekstrinsik. Sedangkan tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab dari dalam diri individu disebut tindakan yang bermotif intristik (Handoko, 1992).
Faktor produksi dalam usaha pertanian mencakup tanah, modal, tenaga kerja dan manajemen atau pengelolaan. Adapun yang tergolong ke dalam faktor pendukung dalam kelancaran usaha pertanian antara lain
kelembagaan, kemitraan dan kebijaksanaan (Daniel, 2004).
Pengelolaan usaha tani, dimana saja dan kapan saja dalam hakekatnya dipengaruhi oleh perilaku petani yang mengusahakan. Perilaku orang itu nyata tergantung dari banyak faktor, diantaranya watak, suku dan kebangsaan dari petani itu sendiri, tingkat kebudayaan bangsa dan masyarakat dan juga dari kebijakan pemerintah (Tohir, 1991).
Di dalam usaha rehabilitasi lahan terkena tsunami sangat diharapkan peran aktif masyarakat. Tanpa peran masyarakat. program rehabilitasi lahan tsunami sulit mencapai sasaran yang diharapkan. Oleh sebab itu, motivasi masyarakat merupakan salah satu indikasi terhadap keberhasilan program tersebut. Sehubungan dengan penelitian ini, ingin mengkaji sejauh mana motivasi masyarakat terhadap program rehabilitasi lahan yang terkena tsumani di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya, penting untuk diteliti.
Metodologi Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Aceh Jaya di Kecamatan Jaya. Penelitian ini direncanakan mulai bulan April 2011 sampai selesai. Lokasi penelitian akan dilakukan di tiga desa lahan yang terkena tsunami dalam kategori rusak berat.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Survey yang dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan. Untuk melihat realisasi rehabilitasi lahan juga dilakukan observasi ke lahan petani.
Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada hal- hal yang berkaitan dengan motivasi petani dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami dan faktor- faktor yang mempengaruhinya di Kecamatan Aceh Jaya di tiga desa yang terkena dampak tsunami dalam kategori rusak berat.
Metode Pengumpulan Data
3
terkait dan artikel–artikel yang berhubungan dengan penelitian ini.Model Analisis dan Pengujian Hipotesis Pengujian Hipotesis I
Untuk mengetahui pengukuran motivasi petani dengan jalan menilai dengan skor. Masing – masing pertanyaan terdiri atas tiga alternatif jawaban dengan skor satu sampai tiga. Jawaban dengan skor tiga mengarah kepada motivasi petani yang tinggi, sedangkan skor dua mengarah kepada motivasi yang sedang dan skor satu mengarah kepada motivasi yang rendah (penilaian positif). Adapun orientasi variabel dalam mengukur tingkat motivasi petani dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami adalah : (1) Pengolahan tanah, (2) Pemberian pupuk kandang (3) Pemberian bahan organik, (4) Pembuatan drainase dan (5) Penanaman tanaman yang toleran terhadap garam. Untuk menguji hubungan variable-variabel motivasi dalam rehabilitasi petani terhadap pemilihan tingkat motivasi rendah, sedang dan tinggi diukur dengan uji kuadrat Chi tentang ketidaktergantungan dalam bentuk tabel kontigensi yaitu :
X2 =
i j
eij
eij
cij
)
2(
Dimana : cij = nilai yang diharapkan
eij = nilai yang diamati
X2 = Chi Square
Dasar pengambilan kesimpulan : - Tolak H0, terima HA, jika : X2 > X2α0,1; df
- Terima H0, tolak HA, jika : X2≤ X2α0,1; df
2. Pengujian Hipotesis II
Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani terhadap usaha rehabilitasi lahan tsunami digunakan regresi linier berganda, dengan model sebagai berikut :
Y = a0 + a1X1 + a2X2 + a3X3 + a4X4 +a5X5 + a6X6 + a7X7 + a8X8 + a9X9
Dimana : Y = Motivasi petani dalam rehabilitasi lahan
X1 = Tujuan
X2 = Harapan
X3 = Penghargaan
X4 = Tanggungjawab
X5 = Keterlibatan
X6 = Intensitas penyuluhan (Skor)
X7 = Partisipasi petani dalam lembaga sosial &
ekonomi
X8 = Peranan NGO (stake holder) dalam
rehabilitasi lahan X9 = Pendapatan (Rp)
Selanjutnya untuk menguji hipotesis kedua akan digunakan uji serempak dan koefisien determinasi sebagai berikut :
Fhit =
1
Re
k
n
Sisa
JK
k
gressi
JK
Dengan kriteria keputusan sebagai berikut : - Terima H0 tolak HA bila Fhitung < Ftabel
- Tolak H0 terima HA bila Fhitung > Ftabel
Koefisien determinasi akan dihitung dengan rumus:
R2 =
Total
JK
gressi
JK
Re
Hasil dan Pembahasan
Karakteristik Petani
Pengamatan terhadap karakteristik petani meliputi : (1) tujuan, (2) harapan, (3) penghargaan, (4) tanggung jawab, (5) keterlibatan, (6) intensitas penyuluhan (7) partisipasi petani dalam lembaga sosial dan ekonomi, (8) peranan NGO dalam rehabilitasi lahan, (9) pendapatan usahatani.
1. Tujuan dalam usaha rehabilitasi lahan
yang terkena tsunami
4
Gambar 1. Frekuensi menurut Tujuan Petani
2. Harapan dalam usaha rehabilitasi lahan
yang terkena tsunami
Teori harapan menggambarkan tentang teori motivasi yang mengatakan bahwa kuatnya kecendrungan seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu tergantung kepada kekuatan harapan bahwa tindakan tindakan tersebut akan diikuti oleh sesuatu hasil tertentu dan pada daya tarik dari hasil itu bagi orang yang bersangkutan (Siagian, 2004).
Terlihat bahwa penyebaran harapan petani dalam berusahatani bervariasi, dengan harapan petani yang rendah sebanyak 0 orang (0%), harapan petani yang sedang sebanyak 19 orang (41,3%), dan harapan petani yang memiliki harapan yang tinggi sebanyak 27 orang (58,7%). Pada Lampiran 1 terlihat rata-rata harapan petani adalah sebesar 4,82. Dari Gambar 2 dan Lampiran 1 terlihat bahwa petani mengarah kepada harapan yang tinggi dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Dari hasil pengamatan dilapangan terlihat bahwa petani padi di daerah penelitian mempunyai harapan yang tinggi terhadap lahan usahataninya. Harapan-harapan itu dapat berupa agar lahan yang terkena tsunami dapat kembali seperti yang diharapkan sehingga menghasilkan produksi yang optimal.
Frekuensi menurut Harapan Petani
Gambar 2. Frekuensi menurut Harapan Petani
3. Penghargaan dalam usaha rehabilitasi
usahatani
Penghargaan merupakan sesuatu rangsangan yang sangat kuat dalam memotivasi petani untuk melakukan kegiatan rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami tersebut. Penghargaan petani di bagi dalam tiga kategori yaitu : rendah (skor 2 - 3), sedang (skor 4) dan tinggi (skor 5 - 6).
Unsur-unsur penggerak motivasi antara lain kinerja, penghargaan, tantangan, tanggung jawab, pengembangan, keterlibatan, dan kesempatan kerja. Penghargaan, pengakuan, atau recognition atas suatu kinerja yang telah dicapai seseorang akan merupakan perangsang yang kuat (Sastrohadiwiryo, 2002).
Terlihat bahwa petani dalam penelitian ini memiliki rata- rata skor penghargaan 2,3. Ini menunjukkan bahwa penghargaan petani dalam usaha rehabilitasi rata-rata dalam kategori rendah.
Penyebaran penghargaan petani dalam berusahatani bervariasi dengan rincian adalah: penghargaan petani yang rendah sebanyak 40 orang (86,95%), penghargaan petani yang sedang sebanyak 4 orang (8,69%), dan penghargaan petani yang tinggi sebanyak 2 orang (4,36%). Ini menunjukkan bahwa harapan petani dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami mengarah kepada kategori rendah. Dari hasil pengamatan dilapangan terlihat bahwa di daerah penelitian penghargaan yang diterima petani sangat rendah. Hal ini disebabkan karena petani melakukan usaha taninya tanpa pamrih sehingga faktor penghargaan di dalam motivasi petani terhadap rehabilitasi lahan yang terkena tsunami bukan merupakan faktor yang utama di daerah penelitian.
Gambar 3. Frekuensi menurut Penghargaan Petani
Frekuensi menurut Penghargaan Petani
86,95 8,69 4,36
rendah sedang tinggi
0
41,3 58,7
rendah sedang tinggi
Frekuensi menurut Tujuan Petani
0 0
100
5
4. Tanggung Jawab dalam usaha rehabilitasi
lahan yang terkena tsunami
Tanggung jawab adalah adanya rasa ikut memiliki yang menimbulkan stimulasi dan motivasi petani untuk turut merasa bertanggung jawab dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Adanya rasa ikut memiliki (sense of belonging) akan menimbulkan motivasi untuk turut merasa bertanggung jawab (Sastrohadiwiryo, 2002).
Terlihat bahwa penyebaran tanggung jawab petani dalam berusahatani bervariasi, dengan perinciannya adalah: tanggung jawab petani yang rendah sebanyak 24 orang (52,17%), tanggung jawab petani yang sedang sebanyak 0 orang (0%), dan petani yang memiliki tanggung jawab yang tinggi sebanyak 22 orang (47,83%). Rata-rata tanggung jawab petani adalah sebesar 3,91. Sehingga dapat digambarkan bahwa petani mengarah kepada tanggung jawab yang sedang dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa kepentingan petani terhadap lahannya. Umumnya pemilik memiliki tanggung jawab yang besar, sedangkan penyewa memiliki tanggung jawab yang rendah di dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami.
Gambar 4. Frekuensi menurut Tanggungjawab Petani
5. Keterlibatan dalam usaha rehabilitasi lahan
yang terkena tsunami
Keterlibatan adalah suatu proses pengambilan keputusan petani, yang memberikan rasa keikutsertaan dalam proses pengambilan keputusan dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Rasa terlibat akan menumbuhkan rasa ikut bertanggung jawab, rasa
dihargai yang merupakan “tantangan” yang harus
dijawab, melalui peran serta berkinerja untuk pengembangan usaha dan pengembangan pribadi (Sastrohadiwiryo, 2002).
Pada gambar 5, terlihat bahwa tidak terjadi variasi dalam keterlibatan petani dalam berusahatani dan hanya mengarah kepada persentase keterlibatan petani yang tinggi (100%). Secara rinci adalah: keterlibatan petani yang rendah sebanyak 0 orang (0%), keterlibatan petani yang sedang sebanyak 0 orang (0%), dan petani yang memiliki keterlibatan yang tinggi sebanyak 46 orang (100%). Rata-rata keterlibatan petani adalah sebesar 5,34. Sehingga terlihat bahwa petani mengarah kepada keterlibatan yang tinggi dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Di daerah penelitian ini, seluruh petani ikut berpartisipasi di dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami. Keterlibatan ini sangat penting bagi petani, karena dengan keterlibatan keseluruhan petani diharapkan proses rehabilitasi cepat terlaksana dan dapat dilakukan usahatani kembali sesuai dengan yang diharapkan.
Gambar 5. Frekuensi menurut Keterlibatan Petani
6. Pendapatan dalam usaha rehabilitasi
lahan yang terkena tsunami
Keseluruhan teori motivasi yang dikembangkan oleh Maslow berintikan pendapat yang mengatakan bahwa kebutuhan manusia itu dapat diklasifikasikan pada lima hirarkhi kebutuhan, salah satunya adalah kebutuhan fisiologis. Perwujudan paling nyata dari kebutuhan fisiologis ialah kebutuhan-kebutuhan pokok manusia seperti sandang, pangan dan perumahan. Dalam hal ini pendapatan merupakan sumber dari pemuas kebutuhan fisiologis dari teori motivasi (Siagian, 2004).
Terlihat bahwa penyebaran pendapatan petani dalam berusahatani terjadi variasi dengan perinciannya adalah: pendapatan petani yang rendah sebanyak 14 orang (30,43%), pendapatan petani yang sedang sebanyak 26 orang (56,52%), dan petani yang memiliki pendapatan yang tinggi sebanyak 6 orang (13,05%). Rata-rata pendapatan
Frekuensi menurut Keterlibatan Petani
0 0
100
tinggi
Frekuensi menurut Tanggung Jawab Petani
52,17 0
47,83 rendah
6
petani adalah sebesar Rp. 714.673,91. Dari Gambar 6, dan Lampiran 1, terlihat bahwa petani mengarah kepada pendapatan yang sedang dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Hal ini disebabkan karena petani di daerah penelitian tidak melakukan usaha taninya secara sendiri bagi yang mempunyai lahan dan melakukan bagi bagi hasil atau sewa lahan sehingga pendapatan yang diperoleh tidak optimal. Hal-hal lain seperti ketersediaan pupuk dan drainase turut berpengaruh kepada pendapatan petani di daerah penelitian.Gambar 6. Frekuensi menurut Pendapatan Petani
7. Intensitas Penyuluhan dalam usaha
rehabilitasi lahan yang terkena tsunami
Pengembangan kemampuan seseorang, baik dari pengalaman kerja atau kesempatan untuk maju, dapat merupakan perangsang kuat bagi tenaga kerja untuk bekerja lebih giat atau lebih bergairah. Pengembangan merupakan salah-satu unsur penggerak dalam motivasi (Sastrohadiwiryo, 2002). Dalam hal ini, intensitas penyuluhan merupakan salah satu wadah bagi petani untuk mangaplikasikan motif intrinsiknya seperti motif ingin tahu, motif bergiat dan motif memanipulasi di dalam pengembangan usaha tani padinya (Handoko, 1992).
Pada gambar 7, terlihat bahwa tidak terjadi variasi dalam intensitas penyuluhan kepada petani dalam berusahatani dan hanya mengarah kepada prosentase intensitas penyuluhan kepada petani yang tinggi (100%). Secara rinci adalah: intensitas penyuluhan kepada petani yang rendah sebanyak 0 orang (0%), intensitas penyuluhan kepada petani yang sedang sebanyak 0 orang (0%), dan petani yang memiliki intensitas penyuluhan yang tinggi sebanyak 46 orang (100%). Rata-rata intensitas penyuluhan kepada petani adalah sebesar 12,93. Dari Gambar 7, dan Lampiran 1, terlihat bahwa petani mengarah kepada intensitas penyuluhan yang tinggi dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Hal ini menunjukkan bahwa
petani di daerah penelitian mempunyai kesadaran yang sangat tinggi untuk peningkatan kualitas usahataninya sehingga proses rehabilitasi berjalan dengan cepat dan lancar.
Gambar 7. Frekuensi menurut Intensitas Penyuluhan Petani
8. Partisipasi petani dalam lembaga-lembaga
sosial ekonomi
Dalam teori motivasi yang dikembangkan oleh Maslow yang mengatakan bahwa kebutuhan manusia itu dapat diklasifikasikan pada lima hirarkhi kebutuhan, salah satunya ialah kebutuhan sosial. Dalam kehidupan organisasional manusia sebagai insan sosial mempunyai berbagai kebutuhan yang berkisar pada pengakuan akan keberadaan seseorang dan penghargaan atas harkat dan martabatnya (Siagian, 2004).
Gambar 8, terlihat penyebaran variasi pada partisipasi petani dalam lembaga-lembaga sosial dan ekonomi hanya mengarah kepada persentase sedang (26,09%) dan tinggi (73,91%). Sebagai perinciannya adalah: partipasi petani yang rendah sebanyak 0 orang (0%), partisipasi petani yang sedang sebanyak 12 orang (26,09%), dan petani yang memiliki partisipasi tinggi sebanyak 34 orang (73,91%). Pada Lampiran 1, terlihat rata-rata partisipasi petani adalah sebesar 5,28. Dari Gambar 8 dan Lampiran 1 terlihat bahwa petani mengarah kepada partisipasi lembaga-lembaga sosial dan ekonomi yang tinggi dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Hal ini menunjukkan partisipasi petani dalam lembaga sosial dan ekonomi mempunyai kesadaran yang tinggi di daerah penelitian, sehingga proses rehabilitasi lahan dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan.
Frekuensi menurut Intensitas Penyuluhan Petanii
0 0
100
tinggi
Frekuensi menurut Pendapatan Petani
30,43
56,52 13,05
7
Fre k ue ns i m e nurut Partis ipas i Pe tani
0 26,09
73,91
rendah sedang tinggi
Gambar 8. Frekuensi menurut Partisipasi Petani
9. Peranan NGO dalam usaha rehabilitasi
lahan usahatani yang terkena tsunami
Tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab yang datang dari luar diri individu disebut tindakan yang bermotif ekstrinsik (Handoko, 1992). Dalam hal ini peranan NGO termasuk ke dalam motivasi ekstrinsik pada petani dalam pengembangan usahataninya.
Dari Gambar 9, terlihat terjadi variasi dalam penyebaran peranan NGO kepada petani dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani. Adapun sebagai perinciannya adalah: peranan NGO yang rendah sebanyak 8 orang (17,39%), peranan NGO yang sedang sebanyak 4 orang (8,7%), dan peranan NGO yang tinggi sebanyak 34 orang (73,91%). Rata-rata peranan NGO kepada petani adalah sebesar 9,06. Dari gambar 9, dan Lampiran 1, terlihat bahwa peranan NGO kepada petani mengarah kepada yang tinggi dalam usaha rehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Hal ini menunjukkan peranan NGO sangat tinggi di dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami di daerah penelitian. Petani mempunyai harapan dan kepercayaaan yang tinggi kepada pihak-pihak NGO yang ada sehingga proses rehabilitasi lahan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dengan adanya bantuan-bantuan bantuan-bantuan berupa pupuk, benih, alat mekanisasi serta penyuluhan-penyuluhan tentang rehabilitasi lahan yang terkena tsunami.
Fre k ue ns i m e nurut Pe ranan NGO
17,39 8,7
73,91
rendah sedang tinggi
Gambar 9. Frekuensi menurut Peranan NGO
Tingkat Motivasi Petani
8
Fre k ue ns i m e nurut Motivas i Pe tani
0
36,95
63,05
rendah sedang tinggi
Gambar 10. Frekuensi menurut Motivasi Petani
1. Faktor yang berpengaruh terhadap
motivasi petani.
Regresi linear berganda adalah regresi dimana variabel terikatnya (Y) dihubungkan/dijelaskan lebih dari satu variabel, mungkin dua, tiga dan seterusnya variabel bebas (X1, X2, X3, …, Xn)
namun masih menunjukkan diagram hubungan yang linier. Pada persamaan linier lebih dari dua variabel, variabel Y dipengaruhi oleh lebih dari dua variabel, yaitu variabel X1, X2,…, Xk. Dalam hal
demikian, variabel Y disebut variabel terikat (dependent variable) dan variabel-variabel X1, X2,…,
Xk disebut variable bebas (independent variable),
artinya nilai-nilai variabel Y dapat ditentukan berdasarkan nilai-nilai dari variabel-variabel X1, X2,
…, Xk (Hasan, 1999).
Analisis regresi juga digunakan untuk menentukan bentuk (dari) hubungan antar variabel. Tujuan utama dalam penggunaan analisis itu adalah untuk meramalkan atau memperkirakan nilai dari satu variabel dalam hubungannya dengan variabel yang lain yang diketahui melalui melalui persamaan garis regresinya (Hasan, 1999).
Analisis regresi merupakan analisis yang bertujuan untuk menentukan model yang paling sesuai untuk pasangan data serta dapat digunakan untuk membuat model dan menyelidiki hubungan antara dua variabel atau lebih. Untuk menetukan model tersebut digunakan alat bantu dengan melakukan visualisasi data sehingga model pendekatan regresi dapat diprediksi dari visualisasi tersebut (Wahyono, 2009).
Motivasi masyarakat terhadap usaha rehabilitasi lahan tsunami dipengaruhi oleh tujuan (X1), harapan (X2), penghargaan (X3), tanggung
jawab (X4), keterlibatan (X5), intensitas penyuluhan
(X6), partisipasi petani dalam lembaga sosial dan
ekonomi (X7), peranan NGO dalam rehabilitasi
lahan (X8) dan pendapatan usahatani (X9). Sesuai
dengan penelitian di atas bahwa model yang digunakan dalam analisis motivasi petani ini dituangkan dalam bentuk Regresi Linier Berganda dengan fungsi sebagai berikut:
Y = a0 + a1X1 + a2X2 + a3X3 + a4X4 + a5X5 + a6X6 + a7X7 + a8X8 + a9X9
Hasil penelitian menunjukkan model motivasi masyarakat terhadap usaha rehabilitasi lahan terkena tsunami tanpa standarisasi (Unstandarized ) adalah sebagai berikut :
Y= 22,045 – 0,739X1 – 0,013X3 + 0,099X6 + 1,390X7– 0,545X8 + 0,184X9
Untuk menghindari terjadinya multikolinier, maka akan dilakukan remove variabel x yang mempunyai nilai VIP yang paling besar. Remove
dilakukan secara bertahap sehingga didapatkan rata-rata nilai VIP mendekati 1. Variabel yang di remove
adalah x4 = tanggung jawab dengan nilai VIP =
23,578 dan significant = 0,784 (tidak berpengaruh nyata), x2 = harapan dengan nilai VIP = 6,320 dan significant = 0, 092 (berpengaruh nyata), x5 =
intensitas penyuluhan dengan nilai VIP = 3,881 dan
significant = 0,105 (tidak berpengaruh nyata). Sehingga hasil akhirnya didapatkan rata – rata nilai VIF mendekati 1.
Pengujian secara serempak menunjukkan model pertama sangat berarti dengan koefisien korelasi (R) = 84,2 % dan koefisien determinasi (R2) = 71 %. Ini artinya bahwa 71 % variasi
motivasi petani terhadap usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami ditentukan sekurang-kurangnya oleh tiga variabel di atas. Sedangkan sisanya 29 % ditentukan oleh faktor lain di luar model. Dari hasil pengujian (penghitungan) diperoleh nilai F sebesar 15,879, sedangkan F pada tingkat kepercayaan 95% (F tabel) sebesar = 2,15. Dengan kata lain F hitung > F tabel α= 0,05 artinya secara statistik berpengaruh nyata. Maka terima HA
9
Tabel 1. Matriks Koefisien Regresi
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
Model B Std. Error Beta
1 Constant X1 X3 X6 X7 X8 X9 22. 045 -.739 -.013 .099 1.390 -.545 .184 5.651 0.929 .176 .134 .198 .082 .215 -.072 -.007 .078 .792 -.638 .077 3.901 -.795 -.075 .743 7.037 -6.650 .855 .000 .431 .940.462 .000 .000 .398
Pengujian secara parsial menunjukkan bahwa hanya tiga dari sembilan variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap variabel terikat, yaitu : harapan petani (X2), partisipasi petani dalam
kelembagaan sosial & ekonomi (X7) dan peranan
NGO (X8). Sedangkan tujuan petani (X1),
penghargaan petani (X3), tanggung jawab petani
(X4), keterlibatan petani (X5), intensitas penyuluhan
(X6), dan Pendapatan petani (X9) tidak berpengaruh
nyata terhadap motivasi petani dalam usaha rehabilitasi lahan terkena tsunami.
Harapan petani mempengaruhi motivasi petani terhadap usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami. Teori harapan memberikan penekanan bahwa pentingnnya kemampuan membantu seperti petani, dalam menentukan hal – hal yang diinginkannya serta dibarengi dengan usaha menunjukkan cara yang paling tepat untuk merealokasikannya (Siagian, 2002). Berdasarkan dari hasil wawancara terlihat bahwa petani- petani di daerah penelitian mempunyai harapan-harapan yang besar kepada pihak pemerintah/NGO di dalam usaha merehabilitasi lahan usahatani yang terkena tsunami. Harapan-harapan itu dapat berupa pemberian bantuan dana rehabilitasi seperti: pupuk dan perbaikan saluran–saluran irigasi yang telah ada seperti di desa Mukhan kecamatan Jaya Aceh Jaya. Serta harapan petani sangat tinggi terhadap lahan usahataninya karena mereka mengharapkan agar lahan yang terkena tsunami tersebut bisa menjadi lebih baik dan diolah dengan optimal sehingga menghasilkan produksi yang diinginkan oleh petani. Seperti diketahui bahwa usahatani padi di daerah penelitian merupakan sumber pendapatan utama bagi petani tersebut.
Partisipasi petani dalam kelembagaan sosial & ekonomi mempengaruhi motivasi petani dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami. Peranan kelembagaan dalam membina pembangunan desa sangatlah komplit dan memegang peranan penting dan ikut berkiprah dalam pembangunan pedesaan. Upaya
pengembangan pedesaan memang diharapkan oleh semua pihak terutama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan sesuai dengan keadaan
perekonomian mereka (Su’ud, 1997).
Dengan adanya keikutsertaan petani di dalam kelembagaan sosial dan ekonomi maka petani mempunyai perencanaan tentang hal-hal yang akan dilakukan pada lahannya di masa yang akan datang sehingga timbul motivasi petani untuk segera melakukan rehabilitasi lahan bagi kebutuhannya di masa akan datang. Dalam hal ini koperasi usaha tani (KUT) merupakan pencerminan dari partisipasi petani dalam kelembagaan ekonomi desa.
Peranan NGO mempengaruhi motivasi petani dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami. Menurut Burton, motif ekstrinsik adalah motif yang timbul dari luar/lingkungan. Motivasi ekstrinsik dalam belajar antara lain berupa penghargaan, pujian, hukuman atau celaan. Peran pihak lembaga swadaya masyarakat dalam memotivasi petani untuk melakukan usaha rehabilitasi lahan terkena tsunami termasuk ke dalam motivasi yang bersifat ekstrinsik.
Dengan adanya bantuan NGO maka proses rehabilitasi lahan yang terkena tsunami semakin cepat. Pada awal-awal pasca rehabilitasi lahan terkena tsunami, pihak World Vision pernah melakukan penyuluhan tentang bagaimana cara melakukan rehabilitasi lahan dengan baik dan tepat. Penyuluhan ini biasa dilakukan dalam rentang waktu tiga bulan sekali. Kemudian pihak FAO pernah menyediakan sarana produksi usahatani berupa bibit padi, pupuk dan juga menyediakan bantuan berupa Hand Traktor kepada kelompok tani yang ada pada daerah penelitian. Sehingga dengan adanya bantuan langsung yang diberikan pihak NGO kepada petani dapat meningkatkan motivasi petani dalam upaya rehabilitasi lahan yang terkena tsunami di daerah penelitian.
10
Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya dipengaruhi oleh harapan petani, partisipasi petani dalam kelembagaan sosial & ekonomi dan peranan NGO.2. Uji Beda Tingkat Motivasi di Tiga Daerah
Penelitian
Uji ini untuk mengetahui perbedaan tingkat motivasi di tiga daerah penelitian seperti: desa
Mukhan, Alue Mie dan Mudheun. Adapun parameter yang dibandingkan adalah: (1) pengolahan tanah, (2) pemberian pupuk kandang, (3) pemberian bahan organik, (4) pembuatan drainase, (5) penanaman tanaman yang toleran terhadap garam. Untuk lebih jelasnya , maka nilai pengamatan dan nilai yang diharapkan disusun dalam Tabel kontigensi sebagai berikut:
Tabel 2. Tabel Kontigensi antara Parameter Motivasi Rehabilitasi di Tiga Daerah Penelitian
No Desa Pengolahan Tanah Pemberian Pupuk Kandang Pemberian Bahan Organik Pembuatan Drainase Penanaman Tan Toleran Total
1 Mukhan 7,400 (7,232) 6,400 (6,820) 3,000 (2,873) 2,000 (1,716) 2,400 (2,559) 21,200
2 Mudhen 7,235 (7,766) 7,765 (7,324) 2,765 (3,085) 2,235 (1,843) 2,765 (2,748) 22,765
3 Alue Mie 7,429 (7,066) 6,643 (6,664) 3,000 (2,807) 1,000 (1,677) 2,643 (2,501) 20,715
22,064 20,808 8,765 5,235 7,808 64,680
Karena nilai χ2 yang dihitung pada
lampiran 10 adalah 0,58547, dan χ2< χ20,05 maka
kita dapat menarik kesimpulan bahwa H0 diterima.
Dengan perkataan lain data menunjukan bahwa tidak ada beda tingkat motivasi petani dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami di desa Mukhan, Mudhen dan Alue Mie.
Dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami, umumnya di daerah penelitian ini ketersediaan pupuk kandang cukup berkurang berkisar rata - rata 1Ton/Ha. Sedangkan pupuk kandang yang dibutuhkan secara optimal berkisar 1,5 - 2 Ton/Ha.
Untuk irigasi yang selalu dilalui air hanya terdapat di desa Mudhen. Sedangkan di desa Mukhan saluran irigasi ada tetapi hanya berupa bak penampung yang mengandalkan air hujan. Untuk di desa Alue Mie tidak ada saluran irigasi dan hanya mengandalkan air hujan langsung. Jadi untuk daerah Mudhen bisa dilakukan penanaman setahun dua kali, sedangkan di daerah Mukhan dan Alue Mie hanya dilakukan penanaman setahun sekali.
Secara umum petani di daerah penelitian ini sudah memahami cara pengolahan tanah yang baik, pemberian bahan organik sudah dilakukan. Penanaman tanaman yang toleran terhadap garam dapat dilihat dengan adanya penanaman tanaman kacang tanah dan tanaman kacang kedelai pada lahan yang terkena tsunami.
Kesimpulan
Tingkat motivasi petani dalam usaha rehabilitasi lahan yang terkena tsunami di kecamatan Jaya kabupaten Aceh Jaya termasuk dalam kategori tinggi dengan rata-rata tingkat motivasi sebesar = 21,63.
Motivasi petani dalam upaya rehabilitasi lahan yang terkena tsunami di kecamatan Jaya kabupaten Aceh Jaya dipengaruhi oleh harapan petani, partisipasi petani dalam kelembagaan sosial dan ekonomi serta peranan NGO.
Tidak ada beda tingkat motivasi petani diantara desa Mukhan, Mudheun dan Alue Mie di kecamatan Jaya kabupaten Aceh Jaya.
Daftar Pustaka
Anonimous. 2005. Panduan Kerangka Peta 3. Monitoring and Evaluating the Social Protection Sector Development Program Loan. ADB. BRR NAD & NIAS, Badan Pusat Statistik. P.T Insan Hitama Sejahtera Banda Aceh.
Anonimous. 2006. Aceh Jaya dalam Angka. Badan Pusat Statistik. Jakarta – Indonesia.
Anonimous. 2007. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.
Daniel, M. 2004. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
Handoko, M. 1992. Motivasi Daya Penggerak dan Tingkah Laku. Kanisius. Jakarta.
11
Sastrohadiwiryo, B.S. 2002. Manajemen TenagaKerja Indonesia. Pendekatan Administratif & Operasional. Penerbit Bumi Aksara. Siagian, S.P. 2002. Manajemen Sumber Daya
Manusia. Penerbit Bumi Aksara.
Siagian, S.P. 2004. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Su’ud, M.H. 1997. Pengenalan Pembangunan
Pertanian dan Keterkaitannya. Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
Tohir, K.A. 1991. Usaha Tani Indonesia. Rineka Cipta. Jakarta.
Wahyono, T. 2009. 25 Model Analisis Statistik dengan SPSS 17. Elex Media Komputindo. Jakarta.
12
Pengaruh Alkalinitas terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan
Benih Ikan Tengadak (
Barbonymus schwanenfeldii
)
(
Effect of Alkalinity on Survival and Growth Rate of Tinfoil Barb (Barbonymus
schwanenfeldii))
Dini Islama
1,
Kukuh Nirmala
2,
Maria Ulfah
11Prodi Teknologi Produksi Benih dan Pakan Ikan, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Politeknik Indonesia
Venezuela (POLIVEN), Aceh Besar – 23372, Indonesia
2Departemen Budidaya Perairan, FPIK IPB, Jln. Agatis Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680
Abstract
This study was conducted to examine the effect of alkalinity on survival rate of Tinfoil barb (Barbonymus schwanenfeldii). The experiment design was arranged in completely randomized design with three replications. Water alkalinity examined was 15 ppm CaCO3 as control, and 25, 50, and 75 ppm CaCO3 as treatments. Fish stocking density was 1 individu L-1 with an average
length of 2 ± 0.03 cm and an average initial weight of 0.33 ± 0.05 g. The culture period for one cycle of fish farming was 30 days. The results of study showed that higher survival rate was obtained in treatment 50 ppm CaCO3 (95.43%). Higher daily growth
rate (4,25%) and growth of absolute length (1,82 cm) was also achieved by that treatment.
Keywords: Alkalinity, growhth, survival rate, tinfotil barb
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh alkalinitas terhadap tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan meliputi empat alkalinitas media yaitu alkalinitas air yang digunakan adalah 15 ppm CaCO3 sebagai kontrol, perlakuan alkalinitas media 25 ppm CaCO3, 50 ppm
CaCO3 dan 75 ppm CaCO3. Padat penebaran ikan adalah 1 ekor L-1 dengan rata-rata panjang total 2±0,05 cm
dan bobot rata-rata awal 0,33±0,08 g. Masa pemeliharaan ikan berlangsung selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup benih ikan tengadak tertinggi diperoleh pada perlakuan alkalinitas media 50 ppm CaCO3 (95,43%). Laju pertumbuhan bobot harian tertinggi juga diperoleh pada
perlakuan alkalinitas 50 ppm CaCO3 yaitu 4,25% serta pertumbuhan panjang total yaitu 1,82 cm.
Kata Kunci: Alkalinitas, benih ikan tengadak, pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup
Pendahuluan
Ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) merupakan komoditas lokal daerah Kalimantan dan Sumatera yang memiliki potensi untuk dijadikan sebagai ikan budidaya. Umumnya ikan tengadak dijadikan sebagai salah satu komoditas ikan hias karena bentuk tubuh dan warnanya yang indah, namun pada ukuran dewasa ikan tengadak juga dijadikan sebagai ikan konsumsi. Habitat ikan tengadak adalah sungai dan rawa banjiran (Huwoyon et al., 2010).
Gambar 1. Ikan Tengadak (Barbonymus
schwanenfeldii)
Keberhasilan usaha pembesaran ikan sangat dipengaruhi oleh kondisi benih itu sendiri. Kualitas induk, pakan dan kondisi lingkungan berpengaruh besar pada tingginya tingkat kematian larva dan benih terutama pada masa kritisnya. Dalam rangka menunjang keberhasilan budidaya ikan tengadak, maka kualitas air baik dari segi fisika dan kimianya perlu diperhatikan.
Salah satu parameter kualitas air yang dapat mempengaruhi kehidupan ikan adalah alkalinitas. Alkalinitas merupakan kuantitas anion dalam perairan yang dapat menetralkan kation hidrogen sehingga tingkat keasaman suatu perairan dapat dinetralisir. Alkalinitas juga didefinisikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) yang menetralkan perubahan pH perairan yang sering terjadi (Effendi, 2003). Alkalinitas selain berhubungan dengan pH air tentunya sangat berpengaruh pada tingkat produktivitas perairan.
13 serta dapat mendukung kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh alkalinitas media pemeliharaan terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii).
Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai februari 2014 di Pusat Pengembangan dan Pemasaran (Raiser) Ikan Hias Cibinong-Kabupaten Bogor (Jawa Barat). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Faktor yang diteliti yaitu alkalinitas media dengan masing-masing taraf 15 ppm CaCO3 sebagai kontrol, perlakuan 25 ppm CaCO3, 50 ppm CaCO3 dan 75 ppm CaCO3.
Wadah penelitian yang digunakan adalah akuarium kaca berukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm berjumlah 12 buah dan dilengkapi dengan instalasi aerasi. Larutan alkalinitas yang digunakan diperoleh dari serbuk kalsium karbonat (CaCO3) yang dilarutkan dalam 1000 L air. Setelah larut dan mengendap, dilakukan pengukuran terhadap tingkat alkalinitas yang dihasilkan dari pelarutan tersebut. Pengenceran dilakukan untuk mendapatkan tingkat alkalinitas sesuai dengan perlakuan yaitu 25, 50 dan 75 ppm CaCO3.
Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) dengan panjang rata-rata 2±0,05 cm dan bobot rata-rata 0,33±0,08 g. Ikan ditebar pada masing-masing wadah akurium dengan kepadatan 1 ekor L-1. Masa pemeliharaan
ikan berlangsung selama 30 hari. Pakan uji yang digunakan berupa cacing sutera (Tubifex sp.) segar dengan kandungan gizi: protein 47,23%, lemak 10,52%, karbohidrat 2,04%, kadar abu 3,32%, kadar air 81,37% dan serat kasar 1,03%. Pakan diberikan secara ad libitum sebanyak tiga kali sehari yaitu pagi, siang, dan sore hari.
Pengaruh perlakuan terhadap benih ikan tengadak ditentukan melalui evaluasi terhadap parameter tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Pengamatan tingkat kelangsungan hidup dilakukan setiap hari dengan mencatat jumlah ikan yang mati. Pengukuran pertumbuhan dilakukan dengan cara pengukuran panjang total ikan dengan penggaris dan penimbangan bobot dengan timbangan digital setiap lima hari sekali. Tingkat kelangsungan hidup merupakan persentase jumlah ikan hidup pada akhir pemeliharaan dibandingkan dengan jumlah ikan pada awal tebar yang dihitung berdasarkan formula Ricker (1979), sebagai berikut :
SR = x 100
SR = Tingkat kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah benih ikan pada akhir percobaan (ekor)
No = Jumlah benih ikan pada awal percobaan (ekor)
Laju pertumbuhan rerata harian merupakan laju pertumbuhan bobot individu dalam persen dan dinyatakan dalam formula (Anonimous, 1977):
α = x 100
α = Pertumbuhan bobot rerata harian (%) Wt = Bobot rata-rata ikan akhir (g)
Wo = Bobot rata-rata ikan awal (g) t = Lama percobaan (hari)
Pertumbuhan panjang total dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
Pm =
Pm = Pertumbuhan panjang total (cm) Lt = Panjang rata-rata akhir (cm) Lo = Panjang rata-rata awal (cm)
Hasil dan Pembahasan
Tingkat kelangsungan hidup
Tingkat kelangsungan hidup benih ikan tengadak yang dipelihara selama 30 hari berkisar antara 77,05-95,43% (Gambar 2). Tingkat kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan alkalinitas media 50 ppm CaCO3 yaitu
95,43 %, sedangkan terendah pada perlakuan alkalinitas media 15 ppm CaCO3 yaitu 77,05 %.
Faktor alkalinitas berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup benih ikan tengadak (p<0,05). Uji lanjut Duncan pada selang kepercayaan 95% menunjukkan hasil yang berbeda nyata antara perlakuan kontrol (15 ppm CaCO3)
dengan perlakuan alkalinitas media 25 ppm CaCO3,
50 ppm CaCO3 dan 75 ppm CaCO3. Namun, tidak
berbeda nyata antara perlakuan alkalinitas media 25 ppm CaCO3 dan 75 ppm CaCO3.
Peningkatan alkalinitas pada media pemeliharaan dengan konsentrasi alkalinitas sebesar 50 ppm CaCO3 terbukti dapat meningkatkan
kelangsungan hidup sampai 95,43% dalam waktu 30 hari pemeliharaan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Herdiansyah (1999) bahwa, alkalinitas dengan konsentrasi 50 ppm CaCO3 yang
14 hidup tertinggi pada benih ikan patin siam (Pangasius sp.) yaitu 94,16%.
Tingkat kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan media alkalinitas 50 ppm CaCO3 diduga
terjadi karena konsentrasi alkalinitas tersebut optimal pada media pemeliharaan dan mampu menyangga perubahan pH perairan sehingga masih berada pada selang pH normal untuk kehidupan ikan. Pulungan (1987) dalam Huwoyon et al. (2010), secara umum ikan tengadak dapat hidup baik pada suhu 25–30 oC dengan kisaran pH 5 – 7.
Gambar 2. Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan Tengadak (Barbonymus
schwanenfeldii)
Pertumbuhan
Laju pertumbuhan bobot harian dan pertumbuhan panjang total benih ikan tengadak yang dipelihara selama 30 hari berkisar antara 2,80-4,25% (Gambar 3) dan 1,05-1,85 cm (Gambar 4). Laju pertumbuhan bobot harian dan pertumbuhan panjang total tertinggi diperoleh pada perlakuan alkalinitas media 50 ppm CaCO3 yaitu 4,25 % dan
1,82 cm, sedangkan terendah pada perlakuan alkalinitas media 15 ppm CaCO3 yaitu 2,80 % dan
1,05 cm. Faktor alkalinitas berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan bobot harian dan pertumbuhan panjang total benih ikan tengadak (p<0,05). Uji lanjut Duncan pada selang kepercayaan 95% menunjukkan hasil yang berbeda nyata antara perlakuan kontrol (15 ppm CaCO3)
dengan perlakuan alkalinitas media 25 ppm CaCO3,
50 ppm CaCO3 dan 75 ppm CaCO3. Namun, tidak
berbeda nyata antara perlakuan alkalinitas media 25 ppm CaCO3 dan 75 ppm CaCO3.
Gambar 3. Laju Pertumbuhan Bobot Harian Benih Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii)
Gambar 4. Pertumbuhan Panjang Total Benih Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii)
Alkalinitas yang optimal akan mampu menyangga perubahan pH perairan sehingga pH perairan tetap stabil dan dapat mendukung laju pertumbuhan yang optimum. Media pemeliharaan dengan tingkat alkalinitas 50 ppm CaCO3 diduga
15 Pertumbuhan setiap organisme, termasuk ikan dapat dianggap berasal dari dua proses metabolisme yang berlawanan; proses pertama cenderung untuk rnenurunkan energi tubuh (katabolisme) dan proses yang lain cenderung untuk menaikkan energi tubuh (anabolisme) (Zonneveld et al., 1991). Pertumbuhan terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari pakan. Sebelum digunakan untuk pertumbuhan, energi terlebih dahulu digunakan untuk memenuhi seluruh aktivitas dan pemeliharaan tubuh melalui proses metabolisme (Anonimous, 1993).
Kesimpulan
Alkalinitas media 50 ppm CaCO3 merupakan
media pemeliharaan optimal untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan tengadak dengan nilai kelangsungan hidup (95,43 %), laju pertumbuhan bobot harian (4,25 %) dan pertumbuhan panjang total (1,82 cm).
Daftar Pustaka
Anonimous. 1977. Nutrient requirements of warm-water fishes. National Research Council (NRC). National Academy of Sciences, Washington, D.C. 76 p.
Anonimous. 1993. Nutrient requirements of fish. National Research Council (NRC).
National Academic of Science, Washington, D.C. 115 pp.
Djokosetiyanto, D., R.K. Dongoran dan E. Supriyono. 2005. Pengaruh alkalinitas terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan patin siam (Pangasius sp.). Jurnal Akuakultur Indonesia, 4 (2): 53–55.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius, Yogyakarta. Herdiansyah, H. 1999. Pengaruh alkalinitas dan
kalsium karbonat terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan jambal Siam (Pangasius sutchi F.) Tesis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Huwoyon, G.H., I.I. Kusmini, A.H. Kristanto. 2010. Keragaan Pertumbuhan Ikan Tengadak (Alam) dan Tengadak Budidaya (Merah) (Barbonymus schwanenfeldii) dalam Pemeliharaan Bersama Pada Kolam Beton. Dalam: Sudrajat, A., Rachmansyah, A. Hanafi, Z.I. Azwar, Imron, A.H. Kristanto dan I. Insan (Penyunting). Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Bandar Lampung, Indonesia. hlm. 501-505.
16
Pelaksanaan Gema Palagung di Kecamatan Suka Makmur Aceh Besar
(Implementation of the Gema Palagung Program In Suka Makmur Subdistrict Aceh Besar
Regency)
Umar HA
1, Sofyan
21 Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Jurusan Pertanian, Politeknik Indonesia Venezuela, Aceh Besar –
23372, Indonesia
2 Dosen Fakultas Pertanian Jurusan Agribisnis, Universitas Syiah Kuala, Darussalam-Banda Aceh
Abstract
This research discusses the Indonesian government program in increasing of paddy, soybean and corn production (Gema Palagung) in crop cycles of 1988 –2001. The Gema Palagung program is purposed to increase farmer’s income through increasing economic centre production at village levels. This research contains discussion on how the Gema Palagung can be used as an instrument for farmers to increase their productions. The data that are used in this research are primary data and secondary data. Primary data are collected through interviews of head of Sukamakmur subdistrict, coordinators of Agriculture Counselling Centre (BPP), Field Agriculture Counsellors (PPL) and other institutions. Secondary data source from statistical data at BPP, the Office of Suka Makmur subdistrict, the Office of Crops Production (Dinas Tanaman Pangan) and the Bureau of Statistic (BPS). The aims of this research can be used to improve of Gema Palagung implementations in Suka Makmur subdistrict
Keywords: Gema Palagung, Agriculture Counsellors, farmer
Abstrak
Penelitian tentang usaha pemerintah untuk meningkatkan gerakan mandiri Palagung pada musim tanam 2011 sampai tahun 2012. Program ini berguna untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pendapatan petani, pertumbuhan pusat-pusat perekonomian di tingkat pedesaan. Adapun masalah yang ingin ditelitia ialah: Bagaimana gema palagung mengatasi hambatan yang sering terjadi pada petani dalam meningkatkan hasil pertanian, seperti jagung, beras dan kedelai di Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan Camat Sukamakmur, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan instansi-instansi yang terkait lainnya, sedangkan data sekunder diperoleh dari Balai Penyuluhan Pertanian, Kantor Camat Sukamakmur, Kantor Dinas Tanaman Pangan, Kantor Biro Statistik dan instansi yang berhubungan dengan praktek lapangan. Hasil penelitian ini dalam pelaksanaan gema palagung di Kecamatan Sukamakmur mengalami kesuksesan memberikan swadaya kepada petani, namun perlu diberikan perhatian untuk memperbaiki hambatan yang dapat dikatakan sebagai tantangan ke depan bagi para petani.
Kata Kunci: Gema palagung, Penyuluh Pertanian, Petani
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara agraris terbesar di dunia. Hal ini didukung oleh potensi luas lahan yang besar untuk digarap serta keadaan tanah yang subur. Struktur pertanian Indonesia yang masih bercorak agraris dapat ditandai dengan adanya:
a. Sektor pertanian menampung jumlah terbesar dari tenaga kerja yaitu 55, 5%
b. Sektor pertanian memberikan kontribusi yang cukup besar dalam Produk Domestik Brutto. Hal lain yang menyebabkan sektor pertanian memegang peran penting dalam perekonomian Indonesia adalah karena hasil-hasil pertanian, terutama beras adalah sangat sensitif terhadap tingkat harga, stabilitas dan ketahanan nasional (Su’ud, 1997).
Indonesia berhasil mewujudkan swasemabada beras pada tahun 1984, yakni 25 tahun setelah diloancarkan program intensifikasi
pertama oleh padi sentra tahun 1959. Peningkatan produksi beras tersebut terutama disebabkan oleh adanya usaha intensifikasi melalui Bimas, Inmas dan Opsus, perluasan areal, peningkatan pengetahuan petani dan kemauan politik yang dituangkan dalam GBHN (Anonymous, 1998).
17
Tabel 1. Data Ekspor-Impor Beras dari Tahun 1981-1996 di Indonesia
No Tahun Tingkat Ekspor (Ton) Tahun Tingkat Impor (Ton) 1 1986 205.864, 389 1981 538.277, 822
2 1987 50.345, 764 1982 309.640, 840 3 1990 1.945, 920 1983 1.168. 827, 384
4 1991 642,763 1992 611.697, 284
5 1992 42.491, 579 1993 24.317, 295
6 1993 350.606, 512 1994 663,042, 934 7 1994 173.907, 209 1995 2.149. 758, 130
8 1995 5,0117 1996 349.680, 714
Sumber: Biro Pusat Statistik (1998)
Dari data statistik terlihat bahwa neraca perdagangan ekspor dan impor 1992 terjadi pergeseran titik keseimbangan, di mana nilai ekspor sebesar 42.492, 579 ton lebih kecil dibandingkan dengan nilai impor sebesar 611. 697, 284 ton. Pada tahun 1994 nilai ekspor sebesar 173. 907, 209 ton lebih dibandingkan dengan nilai impor sebesar 663.047, 964 ton.
Daerah Aceh merupakan salah satu provinsi yang memberikan kontribusi besar bagi penyediaan pangan nasional. Pada tahun 1998 daerah Aceh
memberikan kontribusi kontribusi pada penyediaan pangan nasional untuk tanaman padi sebesar 3, 02 %, tanaman jagung sebesar 0, 65 % dan tanaman kedelai sebesar 7, 12 %. Peresentase penyediaan pangan untuk tanaman padi, kedelai dan jagung tahun 1998 mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena mulai adanya respon positif dari petani dan pemerintah guna menggalakkan program gerakan mandiri padi, kedelai dan jagung.
Tabel 2. Produksi Tanaman Padi, Kedelai dan Jagung di D. I Aceh pada Tahun 1993-1997
No Tahun Padi (Ton) Kedelai (Ton) Jagung (Ton)
1 1993 1.410. 624 219.864 57. 221
2 1994 1.487. 068 224.567 58. 678
3 1995 1.582. 427 239.825 68. 238
4 1996 1.609. 310 183.192 68. 402
5 1997 1.388.560 93.683 100. 027
Sumber: Distan Aceh (1997) Tabel 2, terlihat secara umum produksi
tanaman padi, kedelai dan jagung terjadi penurunan produksi hal ini disebabkan karena terjadinya
perubahan iklim yang sangat drastis serta terbatasnya ketersediaan pupuk sehingga menyebabkan produksi berkurang.
Tabel 3. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Padi, Kedelai dan Jagung Tahun 1994-1998 Di Kabupaten Aceh Besar.
No Komoditi Tahun Luas Panen (Ton) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
1 Padi 1994 1995 1996 1997 1998
31.734 36.625 41.446 45.752 16.471
137.733 163.045 189.700 217.802 73.378
4.34 4.45 4.17 4.76 4.45
2 Kedelai 1994 1995 1996 1997 1998
199 502 585 2371 592
337 800 1.159 778.11 795
1.69 1.59 1.98 1.66 1.3 3 Jagung 1994
1995 1996 1997 1998
527 1.131 1.694 2.740 835
1.092 2.230 3.458 5.962 1.714
18
Tabel 3, terlihat bahwa luas panen, produksi dan produktivitas tanaman padi, kedelai dan jagung pada tahun 1998 terjadi penurunan. Mengapa bisa terjadi penurunan seperti dalam tabel 3 di atas. Sebagai jawabannya tentang hal itu ialah disebabkan oleh terjadinya perubahan iklim yang sangat drastis sekali serta adanya pergeseran komoditas yang ditanam di Kabupaten Aceh Besar. Pergeseran ini terjadi karena para petani yang juga banyak menanam komoditi lainnya, belum fokus pada yang dikerjakannya.
Salah satu cara pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini dilakukan gerakan mandiri Palagung pada musim tanam 1998 sampai tahun 2001. Program ini berguna untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pendapatan petani, pertumbuhan pusat-pusat perekonomian di tingkat pedesaan serta menumbuhkan swadaya petani untuk menangani usaha tani melalui pemberdayaan koperasi (KUT).
Metodologi Penelitian
Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data dalam penelitian ini dikumpulkan data primer dan data sekunder: Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan Camat Sukamakmur, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan instansi-instansi yang terkait lainnya, sedangkan data sekunder diperoleh dari Balai Penyuluhan Pertanian, Kantor Camat Sukamakmur, Kantor Dinas Tanaman Pangan, Kantor Biro Statistik dan instansi yang berhubungan dengan penelitian ini. Data sekunder adalah data-data yang ditemukan dilapangan selain yang peneliti sebutkan, seperti data buku tentang organisasi dan informasi dari internet.
Metode Analisis
Dalam praktek lapangan ini, penulis menggunakan metode analisis secara deskriptif. Data yang diambil di lapangan ditulis dan dijabarkan langsung ke dalam penelitian ini. Metode analisis deskriptif di mana peneliti juga melibatkan diri dalam penelitian ini.
Hasil dan Pembahasan
Struktur Organisasi dan Pelaksanaan Gema Palagung
Struktur organisasi dari pelaksanaan gerakan mandiri padi, kedelai dan jagung terdiri dari dua badan pemerintahan daerah, seperti Camat serta badan dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Kecamatan Sukamakmur yang dibantu oleh delapan petugas Penyuluh Pertanian Lapangan
(PPL). Tiap-tiap petugas PPL bertanggungjawab kepada 8-9 kelompok tani yang ada. Hubungan Kepala BPP dengan petugas PPL bersifat langsung menurut jenjang hirarki, sedangkan mantri tani dan sekretaris Bimas di bawah pimpinan langsung Camat dan kesemuanya mereka mempunyai hubungan koordinasi dengan kepala BPP. Di dalam pelaksanaan gema pelagung ini kepala desa turut mengawasi keadaan di lapangan dan bertanggungjawab kepada Camat. Kepala Desa mempunyai hubungan koordinasi dengan kepala BPP.
Secara umum pihak BPP bersama-sama dengan badan-badan pemerintah daerah (Camat dan Kepala Desa) mantri tani serta sekretaris Bimas berperan penting dalam pelaksanaan gema palagung ini. Di dalam pelaksanaanya, peran serta masyarakat desa juga menentukan berhasilnya program ini.
Adapun salah satu upaya yang dilakukan oleh BPP yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah daerah dengan melaksanakan pola tanam IP-300, yaitu suatu pola tanam yang dilakukan selama tiga kali dalam setahun di mana dilakukan penanaman padi selam dua kali dalam setahun yang diselingi dengan penanaman tanaman lainnya, serta mengupayakan penenaman yang bervariasi untuk mencukupi kebutuhan masyarakat Kecamatan Sukamakmur.
Di dalam pelaksanaan gema palagung di Kecamatan Sukamakmur sudah dilakukan sekali pemanenan. Secara umum segmen pasar untuk tanaman padi dan palawija hanya untuk kebutuhan lokal sedangkan untuk tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan sebahagiannya untuk kebutuhan di luar lokal. Struktur pasar untuk tanaman pangan di Kecamatan Sukamakmur bersifat persaingan sempurna dan dijumpai struktur pasar monopolistik, oligopoli dan monopoli.
Dalam rangka pelestarian swasembada beras dan pencapaian swasembada jagung dan kedelai maka kegiatan gema palagung ini dilakukan. Program ini diarahkan melalui perluasan areal tanam padi, jagung dan kedelai guna mendukung pencapaian sasaran produksi tahun 1998 dan antisipasi produksi 1999 maka perlu dilakukan pemberdayaan/pembinaan kepada sasaran. Target yang ingin dicapai pada musim tanam yang akan datang, pada musim tanam 1998/1999 perluasan areal yang ditargetkan untuk tanaman padi seluas 40. 900 Ha.
19
tanam. Umumnya tanaman jagung diusahakan hanya untuk dikonsumsi sendiri, bukan untuk dipasarkan. Oleh karena itu, petani tidak menanam tanaman jagung dalam intensitas yang tinggi. Keperluan pupuk dalam mendukung gema palagung terjadi peningkatan jumlah dari musiman tanam 1998/1999.
Sasaran yang ingin dicapai pada pelaksanaan gema palagung di kecamatan Sukamakmur adalah untuk mempertahankan swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional, pemberdayaan ekonomi mesyarakat tani, meningkatkan hasil produksi masyarakat di pedesaan dan menghasilkan tambahan areal tanam per panen (padi, jagung dan kedelai).
Hambatan yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Gema Palagung
Dalam hal pelaksanaan gema palagung ini terdapat berbagai hambatan yang dihadapi. Adapun masalah-masalah yang timbul adalah:
1. Sarana Alat Mesin Pertanian
Dalam rangka perluasan areal tanaman guna meningkatkan produksi pangan dalam waktu singkat maka diperlukan sarana pertanian yang memadai. Keberadaan sarana alat pertanian, seperti traktor sangat diperlukan, namun di sisi lain, penggunaan tenaga manusia di dalam pengelolaan tanaman pangan sangat besar di pedesaan.
Kurangnya tenaga ahli di dalam mengadopsisarana alat pertanian yang baru, seperti traktor serta kurangnya keahlian petani terutama mengenai perawatan traktor tersebut.
2. Saluran Irigasi
Perlunya kesadaran petani yang tinggi guna melakukan kegiatan gotong-royong dan perbaikan-perbaikan pada saluran tersier. Dan kalau diperlukan diadakannya koordinasi yang lebih erat dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk mengkonservasi pada saluran primer dan tersier dengan pemerintah daerah, pihak BPP serta masyarakat setempat.
3. Penyiapan Pupuk
Hal ini diperlukan dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu. Guna meningkatkan produksi pangan dalam waktu yang relatif singkat, maka jumlah intensitas pupuk harus tinggi. Oleh karena itu timbul beberapa masalah, yaitu:
a.Kurangnya ketersediaan pupuk dalam jumlah yang memadai dan tepat waktu
b.Tingkat pengetahuan dan keterampilan petani relatif masih rendah dalam penggunaan pupuk.
4. Teknologi Tingkat Petani
Kurangnya presentase penerapan teknologi petani, terutama untuk tanaman pangan palawija,
sayur-sayuran dan buah-buahan. Kurangnya modal petani di dalam menerapkan teknologi baru.
5. Penyediaan Modal Usaha Tani
Keterlambatan di dalam penyaluran kredit usaha tani (KUT) kepada petani dari pihak BRI Kurangnya kesadaran petani dalam pembayaran kredit usaha tani
6. Pemasaran Hasil Usaha tani
Kurangnya presentase pasar terutama untuk tanaman pangan padi dan palawija di luar wilayah Kecamatan Sukamakmur. Kurangnya informasi pasar bagi petani sehingga pada saat pemanenan menyebabkan harga menurun.
Upaya yang Dilakukan untuk Mengatasi Hambatan dalam Pelaksanaan Gema Palagung
Ketersediaan sarana alat pertanian sangat diperlukan. Pihak BPP bersama-sama dengan Distan Tk-1 dan II terus mengupayakan tersedianya traktor dalam jumlah yang tercukupi. Berdasarkan luas areal tanam, diperlukan 15 buah traktor yang terdiri dari 10 ukuran besar dan lima ukuran kecil guna mengolah tanah dalam waktu yang relatif singkat. Jumlahnya terus disesuaikan dengan kemampuan pemerinah untuk penyediaan sarana alat pertanian tersebut.
Mengenai penyaluran irigasi, pihak BPP bersama-sama dengan instansi pemerintah daerah serta masyarakat desa terus melakukan koordinasi. Setiap sebulan sekali dilakukan pergiliran gotong-royong dan perbaikan-perbaikan di saluran tersier. Diharapkan pihak BPP melakukan koordinasi dengan dinas Pekerjaan Umum terutama bagi penyediaansaluran primer dan tersier.
Di dalam penyediaan pupuk, petani diharapkan mampu mempergunakan dosis pupuk yang sesuai. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemborosan penggunaan pupuk. Penggunaan pupuk alternatif dilakukan guna mengantisipasi kekurangan pupuk nasional dari pemberian subsidi. Penyuluhan dan pelatihan pada petani di dalam penggunaan pupuk yang berimbang terus ditingkatkan.
Pelatihan dan penyuluhan terus ditingkatkan agar petani mampu mengadopsi teknologi baru dengan mempertimbangkan biaya pengeluaran serta penerimaan dari pengelolaan tanaman pangan tersebut.
20
Segmen pasar untuk tanaman pangan padi dan palawija harus diperluas serta peningkatan informasi pasar kepada petani sehingga tidak menyebabkan harga komoditi mengalami penurunan pada saat pemanenan.
Kesimpulan
Wilayah kecamatan Sukamakmur memiliki potensi pengembangan di dalam pelaksanaan gema palagung. Hal ini dimungkinkan oleh tersedianya lahan pertanian yang cukup subur dan luas, serta ditunjang oleh keadaaniklim yang sesuai. Komoditi pertanian tanaman pangan yang paling banyak diusahakan di Kecamatan Sukamakmur adalah tanaman padi.
Tingkat pendidikan penduduk sudah cukup memadai ditambah lagi dengan sarana dan prasarana yang ada, desa ini dapat berkembang lebih maju. Penuduk Kecamatan Sukamakmur sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, selebihnya berprofesi sebagai pegawai negeri, pedagang, tukan dan profesi lainnya.
Pelaksaan gema palagung di Kecamatan Sukamkmur di bawah pengawasan BPP yang
bekerjasama dengan instansi pemerintah daerah lainnya, seperti Camat dan Kepala Desa.
Tanaman padi dan kedelai diusahakan pada lahan sawah dan tidak ada yang diusahakan pada lahan kering. Upaya yang dilakukan guna terlaksananya gema palagung yaitu dengan memperluas areal tanam, peningkatan produksi disertai dengan peningkatan intensitas pupuk serta penambahan tenaga kerja atau dengan menggunakan mesin-mesin pertanian yang memadai.
Daftar Pustaka
Anonimous. 1997. Penuntun Pelaksaan Gema Palagung di Aceh. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Tingkat-I Aceh.
Anonimous. 1998. Diktat Ekonomi Pengairan, Fakultas Pertanian Universitas Kuala Banda Aceh.
Anonimous. 1998. Indonesia dalam Angka. Badan Pusat Statistik. Jakarta-Indonesia.
Su’ud, M.H. 1997. Pengenalan Pembangunan
21
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan Sawah menjadi
Lahan