BAB II GAMBARAN UMUM FEMINISME PADA MASA MEIJI DI
3. Gender dalam Pandangan Budha
2.6. Tokoh-Tokoh Feminis pada Masa Meiji
2.6.4. Fukuda Hideko
Fukuda Hideko atau yang juga deikenal sebagai Kageyama Hideko merupakan salah satu tokoh wanita yang terkenal pada zaman meiji dengan gerakan-gerakannya dalam menuntut persamaan gender dan sistem monogami.
Fukuda Hideko merupakan putri dari seorang samurai rendahan yang bernama Kageyama Katashi dan ibunya adalah Umeko yang merupakan seorang guru sekoalh dasar.
Karena rasa kagumnya akan gerakan-gerakan feminis yang dikobarkan secara terus-menerus oleh para feminis terdahulunya seperti Kishida Toshiko, menumbuhkan niat dalam benaknya untuk turut berkontribusi akan gerakan pembela kaum wanita tersebut.
Joukou Gakusha merupakan sekolah swasta wanita yang didirikan oleh keluarga kageyama pada tahun 1883. Tetapi sekolah tersebut tidak bertahan lama, ditahun berikutnya tepatnya pada tahun 1884 sekolah tersebut ditutup oleh
bila ia memiliki akses dalam perpolitikan dengan cara berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan politik. Maka dari itu dengan pandangan yang kuat akan cita-citanya dalam memberikan kembali kebebasan dan hak-hak wanita ia bergabung pada gerakan hak dan kebebasan atau Jiyuu Minken.
Fukuda menuntut agar wanita diberikan hak pilih sama seperti kaum pria dan diberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam pemerintahan. Namun pada tahun 1885, Fukuda Hideko dipenjarakan atas partisipasinya dalam menuntut pembebasan hak-hak semua orang tanpa memandang jenis kelamin. Meski demikian, ia mencurahkan hasratnya terhadap persamaan gender yang berjudul Prison Recollection yang berisi sebagai berikut :
Jika hak-hak wanita adalah ditingkatkan dan persamaan diantara gender diterima, sebanyak 37 juta wanita akan berpartsisipasi dalam politik, tentunya menyelamatkan keadaan, menghapus kesalahan politik, dan hukum. Selain itu, wanita barangkali mendatangkan lebih banyak cinta akan negara jika wanita mengemukakan kebudayaan bersama pria. Jadi, saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam tuntutan terhadp pembebasan. Saya sangat berharap hal seperti ini (Kiguchi, 2005:135).
BAB III
DAMPAK-DAMPAK FEMINISME PADA MASA MEIJI
Kemunculan gerakan feminisme di jepang yang diusung oleh para feminis dan kaum intelektual telah memberikan semangat serta perasaan emosional bagi kaum wanita jepang untuk lebih berpikiran terbuka dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai kaum yang dinomor duakan dalam masyarakat. Gerakan besar-besaran yang dimunculkan kepermukaan oleh para feminis telah menghasilkan sebuah warna baru dalam peran serta kehidupan wanita Jepang. Dampak yang diakibatkan dari munculnya paham feminisme di Jepang telah menyebar ke segala elemen kehidupan bangsa Jepang dan telah menciptakan sebuah peradaban baru bagi negara Jepang.
3.1. Dampak Terhadap Keluarga
Masyarakat Jepang adalah komunitas yang dikenal sangat berbudaya.
Banyak tradisi yang telah tercipta sebelum bangsa ini terbentuk menjadi sebuah bangsa besar dan masih dijalankan hingga saat ini. Budaya merupakan warisan yang diturunkan dan dijadikan simbol dari pribadi bangsa maupun sekelompok orang. Budaya yang tercipta tentu telah membentuk pola pikir masyarakat yang menerimanya sebagai sebuah panduan. Kehadiran budaya sebagai elemen penting dalam masyarakat telah membuat masyarakat menciptakan sebuah
Perkawinan merupakan salah satu produk dari kebudayaan, dimana perkawinan dianggap oleh sebagian besar orang sebagai sentral daripada jalan hidup seseorang dalam menjalani kehidupan. Bagi wanita perkawinan merupakan salah satu kewajiban yang sudah disiratkan dalam garis kehidupannya. Didalam tradisi dan budaya yang ada di tengah masyarakat Jepang,tercipta stereotip tentang nilai perkawinan yang dipandang sebagai hal yang sakral dan diwajibkan untuk dilaksanakan terutama oleh kaum wanita. Perkawinan dianggap sebagai cara yang tepat untuk menjalin kekerabatan dengan anggota keluarga lainnya dalam memperluas hubungan kekerabatan. Dengan adanya perkawinan maka akan terbentuk yang namanya keluarga.
Di Jepang keluarga adalah unit dasar dari masyarakat. Dari keluarga Jepang dapat terlihat seperti apa gambaran jati diri bangsa Jepang yang sebenarnya dalam artian yang sempit. Kehidupan rumah tangga di Jepang diatur oleh sebuah sistem keluarga yang disebut sistemIe. Sistem Ie merupakan sistem kekeluargaan yang bersumber dari ajaran Konfusius yang menganut konsep budaya patriarki. Konsep yang dibuat oleh keegoisan kaum pria tersebut telah menjadikannya sebagai sosok yang superior dan berbanding terbalik dengan kaum wanita yang berada dibawah otoritas mereka. Sebelumnya pada zaman edo sistem Ie hanya diperuntukkan pada wanita yang berada dikalangan samurai dan bangsawan namun ketika memasuki awal zaman meiji eksistensi Ie semakin menonjol dan diperuntukkan untuk semua masyarakat akibat dijadikannya sistem Ie menjadi ideologi negara oleh kaisar.
Ditempatkannya sistem Ie sebagai poin penting dalam menjalankan kehidupan berbangsa turut semakin menekan posisi wanita ke posisi yang paling rendah. Konsep ryousaikenbou yang diterapkan oleh sistem Ie didalam menjalankan peranan wanita Jepang telah mematikan langkah mereka untuk bangkit. Secara tidak langsung dapat terlihat dengan jelas bahwa zaman meiji adalah masa yang semakin menegaskan tempat wanita selayaknya berada adalah rumah dan keluarga.
Masuknya pengaruh barat telah menimbulkan perubahan sikap di pihak pemerintahan. Masa meiji adalah masa dimana Jepang mewesternisasikan negaranya untuk kemajuan Jepang kearah yang lebih modern. Paham feminisme yang berasal dari barat turut dibawa masuk dan menjadi landasan pikiran kaum feminismeJepang untuk bertindak dan melakukan gerakan. Para kaum feminis Jepang menolak dengan keras budaya patriarki yang bersembunyi dibalik ajaran konfusius serta sistem keluarga tradisional Jepang/Ie.Dengan berubahnya masyarakat Jepang secara bertahap menuju masyarakat industri membuat kondisi ekonomi Jepang semakin membaik dan merembes pula kepada kehidupan ekonomi masyarakatnya menjadi lebih baik. Dan dengan pertimbangan atas kebijakan-kebijakan dari barat serta gerakan feminisme yang dilakukan oleh kaum feminis telah memberikan sedikit udara segar terhadap wanita. Pada masa Jepang masih mengisolasi diri ruang gerak wanita relatif sempit namun setelah westernisasi Jepang posisi wanita dalam masyarakat sedikit demi sedikit lebih dihargai. Pada masa ini wanita menerima waktu luang sebagai seorang istri, selain
1889 dan hukum perdata tahun 1898 yang membuat kepatuhan wanita kepada kepala keluarga, dan pria sacara umum telah diberi justifikasi secara legal.
Selain itu secara tegas memberikan jaminan terhadap persamaan hak di dalam hukum dan menentang adanya pembedaan hukum diantara jenis kelamin.
Undang-undang Dasar Jepang juga memberikan tempat kepada hak perseorangan dan kepada persamaan hak antara pria dan wanita dilingkungan kehidupan keluarga. ketetapan-ketetapan ini telah memberikan dorongan terhadap usaha untuk mengubah bagian-bagian tertentu dalam bab-bab tentang “Keluarga dan Warisan” berdasarkan hukum sipil yang dianggap bertentangan dengan undang-undang dasar tersebut (Okamura, 1983:4). Namun usaha yang dilakukan tersebut tidak membuahkan hasil yang begitu baik akibat masih diterimanya pemahaman bahwa wanita memang sepantasnya tunduk kepada suaminya seumur hidupnya.
Perceraian atas dasar persetujuan bersama pun telah dilegalkan secara hukum pada tahun 1898 dan dapat ditempuh dengan mudah hanya dengan mengajukan formulir resmi yang sesuai kepada pejabat sensus. Akan tetapi, meskipun prosedur ini disebut “perceraian dengan persetujuan bersama”, dalam kenyataannya seorang suami atau keluarganya sering menempuhnya untuk menyingkirkan seorang isteri, dan ketetapan-ketetapan sistem ini kurang memberikan perlindungan bagi kepentingan seorang istri. Meskipun demikian, perubahan-perubahan hukum tersebut terutama yang masih dalam tahap rancangan, dapat diartikan sebagai pertanda kemajuan baik daripada kesadaran masyarakat maupun perkembangan nyata.
3.2. Dampak Terhadap Masyarakat
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah yang sama dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya sertamenghasilkan suatu tradisi atau budaya. Dalam pandangan sosiologi,masyarakat tidak dipandang sebagai suatu kumpulan individu-individu semata.Masyarakat merupakan suatu pergaulan hidup, oleh karena manusia hidup bersama. Masyarakat merupakan suatu sistem yang terbentuk karena hubungan anggota-anggotanya. Dengan kata lain,masyarakat adalah suatu sistem yang terwujud dari kehidupan bersama manusia, yang lazimdisebut dengan sistem kemasyarakatan.
Masyarakat jepang dikenal sebagai masyarakat yang homogen, yang masyarakatnya memiliki ciri atau karakter yang hampir sama disetiap wilayahnya.
Dengan persamaan dan kemiripan karakter yang dimiliki oleh masyarakat jepang tersebut membentuk terciptanya suatu persamaan budaya di hampir seluruh wilayah Jepang.
(file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR.../pengertian_masyarakat.pdf )
Pandangan akan gerakan feminisme yang lahir di Jepang dianggap oleh sebagian besar masyarakat Jepang sebagai gerakan radikal yang dipaksa masuk ke Jepang. Gerakan tersebut bertolakbelakang dengan tradisi yang dianut oleh masyarakat Jepang. Diawal gerakan ini digencarkan, gerakan ini mengalami penolakan oleh kaum konservatif yang berpegang pada sistem Ie dan budaya
batas yang telah menjadi penghalang berkembangnya paham feminisme di tengah masyarakat Jepang. Dan dampaknya dapat terlihat dengan jelas dalam beberapa bidang yang berhubungan langsung dengan kegiatan masyarakat secara keseluruhan.
3.2.1. Pendidikan
Sejak dibuatnya undang-undang dasar pendidikan pada tahun 1872 atas keputusan kaisar Jepang, dimulailah suatu sistem pendidikan modern di Jepang yang merupakan perpaduan antara sistem pendidikan barat dan ajaran Konfusius.
Dengan adanya pengakuan atas persamaan hak masing-masing orang tanpa memandang gender telah memberikan wanita kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan pria.
Menurut cara pandang pemerintah pada zaman ini, untuk mencapai negara yang modernisasi terlebih dahulu harus mendidik masyarakatnya tentang apa itu modernisasi dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Tujuan pemerintahan meiji mengadakan pembaharuan dalam bidang pendidikan adalah untuk mencapai slogan Fukoku Kyohei(negara kaya tentara kuat). Dari kebijakan ini terlihat bahwa Jepang telah berusaha untuk bisa memperbaiki sistem pendidikan yang dibuat pada masa Tokugawa.
Pendidikan merupakan jalan utama yang dibidik oleh para feminis dalam menyebarkan paham feminisme. Pendidikan yang berkaca dari negara barat telah memberi keuntungan oleh para feminis untuk leluasa dalam melancarkan aksinya.
Banyak kaum intelektual dan kaum feminis telah berpartisipasi dalam dunia
pendidikan Jepang, baik sebagai pendidik secara langsung dalam menerapkan paham feminisme maupun mendirikan lebih banyak sekolah wanita.
Pada masa meiji wanita dijadikan sebagai target utama dalam mencoba sistem pendidikan modern sebab di masa sebelumnya wanita hanya memperoleh pendidikan rumahan. Diberinya kesempatan menjalankan pendidikan wajib 6 tahun dengan ilmu yang sama dengan pria telah menjadi kebahagiaan bagi wanita Jepang. Sekolah wanita didirikan satu per satu pada masa meiji yaitu Tokyo Joshi Shihan Gakkō (Sekolah Wanita Tokyo) pada tahun 1875 yang merupakan pemberian dari universitas ochanomizu. Terdapat juga Meiji Jyogakko (Universitas Wanita Meiji) yang telah menghasilkan banyak lulusan wanita-wanita berbakat. Setelah itu muncul pula sekolah-sekolah swasta sebagai tempat wanita untuk melanjutkan pendidikannya. Jisen jogakko merupakan sebuah universitas kejuruan wanita yang didirikan pada tahun 1899 oleh Shimoda Utako.
Selanjtunya muncul Nihon Josshi Daigaku“ Universitas Wanita Jepang” pada tahun 1901. Sekolah itu merupakan tempat pendidikan yang baik bagi wanita Jepang karena sistem pendidikannya meniru secara langsung sistem pendidikan barat dan tanpa terfokus pada asas pendidikan yang telah dibuat pemerintah yanitu ryousaikenbo.Seiring dengan banyaknya bermunculan sekolah-sekolah wanita di jepang telah turut berperan aktif untuk menghasilkan wanita-wanita berbakat dan profesional pada berbagai bidang yang kedepannya diharapkan mampu untuk bersaing dengan kaum pria di tengah masyarakat jepang.
3.2.2. Perekonomian
Setelah hampir 250 tahun Jepang mengisolasi diri dari dunia luar dan memutuskan untuk membuka diri diawal masa meiji telah menjadi langkah awal terbentuknya negara Jepang yang industrialis. Diawal masa meiji, perdagangan antar negara terjalin dengan ditandai banyaknya kapal-kapal para pedagang dari dunia luar yang menginjakkan kaki ke Jepang. Dengan keadaan baru yang dirasakan Jepang saat ini telah membuka mata bangsa Jepang untuk memajukan perekonomian bangsanya dan bersaing dengan negara lain dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang dimiliki.Salah satu kebijakan yang di gencarkan oleh pemerintah pada masa meiji adalah Shokusan Kogyo (mendorong munculnya industri baru)..
Jepang menyadari bahwa negaranya tidak dapat mengharapkan SDA yang ada sebab letak geografisnya yang tidak memadai dan alam yang tidak memiliki hasil yang berlimpah. Maka dari itu, setidaknya Jepang harus memikirkan bagaimana menciptakan SDA yang baik untuk menjalankan misi ini.
Pada revolusi industri di Jepang (1886-1889), banyak bermunculan pabrik-pabrik tekstil dan pabrik-pabrik sutera. Pabrik-pabrik-pabrik tersebut rata-rata mempekerjakan tenaga kerja wanita.Dengan diberikannya kesempatan bagi wanita untuk bekerja di luar rumah, membuat mereka mengambil kerja sampingan untuk membantu suami mereka dalam membiayai kebutuhan keluarga. Masuknya wanita ke dunia kerja menjadikannya memiliki tugas ganda yaitu mengurus keperluan rumah tangga dan bekerja di luar rumah. Kesempatan untuk bekerja di luar rumah
tidaklah sebuah bentuk kebebasan dari wanita melainkan kewajibannya untuk membantu mencari nafkah keluarga. Pada masa meiji, Jepang mempekerjakan ratusan ribu wanita di pabrik-pabrik yang dibuat oleh Inggris. Di tahun 1900, sebanyak 250.000 wanita bekerja di industri tekstil dan mereka terhitung sekitar 63 persen dari seluruh pekerja industri di Jepang saat itu.Dengan direkrutnya banyak tenaga kerja wanita pada saat itu telah memajukan perekonomian Jepang secara signifikan. Seiring dengan munculnya banyak tenaga kerja wanita di pabrik tekstil, muncul pula pekerja wanita yang berasal dari kaum cendikiawan Jepang yang memiliki keahlian (Shokugyo Fujin). Mereka bekerja diantaranya sebagai guru, perawat, dan sebagai operator telepon.
Dengan peran wanita yang begitu penting dalam kemajuan ekonomi Jepang membuat pemerintah Jepang merekrut lebih banyak lagi tenaga kerja wanita untuk ditempatkan di beberapa sektor. Namun keadaan dimana wanita mulai diterima dalam dunia pekerjaan tidak semata-mata dihargai dengan upah yang sesuai. Upah yang diperoleh wanita sangat sedikit bila dibanding dengan upah pria. Perbedaan upah yang diberikan antara pria dan wanita dalam dunia kerja telah menggambarkan bagaimana diskriminasi gender di dunia kerja sarat terjadi di Jepang pada masa meiji.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.Kesimpulan
Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan diatas, maka dapat diambil kesimpulan yaitu :
1. Munculnya gerakan feminisme di Jepang bermula dari kesadaran kaum intelektual dan kaum feminismeJepang untuk mencari keadilan atas hak-hak wanita Jepang. Pengaruh tradisi dan sejarah yang telah menjadi tolak ukur di dalam menjalankan struktur sosial masyarakat Jepang telah menghambat jalan bagi wanita untuk berkembang dan menunjukkan potensinya. Pengaruh perpolitikan Jepang juga telah menjadi salah satu pencipta dari aturan yang membatasi ruang lingkup dan peran kaum wanita Jepang. Budaya patriarki dan sistem keluarga Jepang telah menjadi faktor penghambat daripada kebebasan wanita dalam menjalani kehidupan.
2. Gerakan feminisme mulai bangkit setelah semakin banyaknya pihak-pihak yang bergabung dengan gerakan ini dan melakukan doktrin pada masyarakat pada segala kesempatan baik dibidang pendidikan maupun media massa. Doktrin-doktrin yang disebarkan secara implusif telah menunjukkan hasilnya dengan bertambahnya jumlah wanita yang terdidik di Jepang.
3. Dampak feminisme dalam keluarga dapat dilihat dari dikeluarkannya hukum perdata yang mengatur tentang kepatuhan wanita terhadap kepala
keluarga dan lelaki secara umum telah dijustifikasi legal. Undang-undang Dasar Jepang juga memberikan tempat kepada hak perseorangan dan kepada persamaan hak antara pria dan wanita dilingkungan kehidupan keluarga. Perceraian atas dasar persetujuan bersama pun telah dilegalkan secara hukum pada tahun 1898.
4. Dampak terhadap masyarakat adalah terlihat akan adanya kesadaran untuk memberikan wanita kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan untuk bekerja. Wanita yang ideal pada masa meiji adalah wanita yang mampu menerapkan paham ryousaikenbo dengan baik. Para feminis banyak tidak sependapat dengan paham ryousaikenbo dan berusaha untuk menangkalnya dengan cara mendirikan sekolah-sekolah wanita yang bermodelkan pendidikan barat. Dan juga pada masa meiji, wanita mulai diperkenankan oleh permerintah untuk bekerja diluar rumah setelah menyelesaikan urusan rumah tangganya. Kebanyakan wanita bekerja dibidang kerajinan tangan seperti pabrik tekstil dan pabrik sutera.
Perbedaan upah antara wanita dan pria juga telah membuktikan masih banyaknya tindakan diskriminasi yang dialami wanita pada periode meiji.
4.2. Saran
Berdasarkan hasil analisa tentang feminisme pada masa meiji di jepang, maka dapat diambil pembelajaran positif. Maka dari itu, melalui tulisan ini penulis menberikan beberapa saran:
1. Dari pengalaman sejarah gerakan feminismeJepang, kaum wanita indonesia dapat menjadikannya acuan untuk lebih berani berpikiran terbuka dan menunjukkan potensi yang dimiliki tanpa adanya keraguan.
2. Dari gerakan feminisme Jepang kaum wanita indonesia juga dapat mengutip nilai semangat dan keteguhan para kaum wanita Jepang untuk bisa berperan dan diakui posisinya dalam masyarakat.
3. Sejarah Jepang membuktikan bahwa wanita adalah sosok yang paling berperan dalam memajukan suatu bangsa. Maka dari itu, wanita tidak harus berkutat pada kodrat yang ditetapkan untuknya melainkan harus berani keluar dari zona nyamannya dan berjuang bersama pria untuk menciptakan kemajuan bangsa.
4. Skripsi ini memiliki banyak kekurangan baik dari segi isi, pemahaman konsep, penulisan dan analisis data. Bagi rekan-rekan yang ingin melanjutkan pembahasan mengenai Feminisme Jepang alangkah lebih baik apabila mempersempit ruang lingkup pembahasan agar kekurangan dalam pembahasan semakin berkurang.
DAFTAR PUSTAKA
Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial : Yogyakarta : Pustakabelajar
Hubeis. 2010. Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa : Bogor : IPB Press
Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitet Dan Pembangunan : Jakarta : PT.
Gramedia
Idrus, M. 2009. Metode Penelitian Sosial ( Edisi Kedua ) :Yogyakarta : PT.
Gelora AksaraPratama
Nitobe, Inazo. Bushido The Soul Of Samurai : Diterjemahkan oleh: Endang Sulistyowati.Jakarta : Daras Books
Listiani, dkk. 2002. Gender dan Komunitas Perempuan Pedesaan : Medan : Bitra Indonesia
Okamura, masu. 1983. Peranan Wanita Jepang : Jakarta : Gajah Mada University Press
Pujiono, M dkk. 2017. Permasalahan Gender di Jepang Ditinjau dari Berbagai Perspektif :Medan : USU Press
Prastowo, Andi. 2014. Memahami Metode-Metode Penelitian : Yogyakarta : Ar- Ruzz Media
Tessa, Morris. 1998. Re-inventing Japan: Armonk, NY: ME Sharpe
Wolfman,Brunetta. 1992. Peran Kaum Wanita: BagaimanaMenjadi Cakap dan Seimbangdalam Aneka Peran : Kanisius
Hartono, Mudji. 2007. Wanita Jepang Dalam Perspektif Historis (Online), Vol. 2, No. 1.
Yusuf, Muri. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabgungan : Jakarta : Prenadamedia Group
www.jurnal uny.ac.id
Pratita, Ina Ika. 2005. Menguak Kehidupan Kaum Wanita Jepang ( Online ), Vol.
1, No. 2.
(Diakses 19 Maret 2017)
https://pt.scribd.com( Diakses 19 Maret 2017 )
Wulandari, Endah H. 2003. Gerakan Feminisme Jepang, ( Online ), Vol. 5, No. 1.
wacana.ui.ac.id/index.php/wjhi/article/viewFile/317/300. (Diakses 19 Maret 2017 )
http://kamusbahasaindonesia.org
repositoryusu.ac.id
http://etydwiyantari.blogspot.co.id/2011/12/masalah-dalam-kehidupan-jepang.html
digilib.unisby.ac.id/544/6/Bab%203.pdf
www.jamal83.com/2016/10/pendekatan-historis.html
https://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2012-2-00801-JP%20Bab2001.pdf repository.maranatha.edu/7392/2/0542047_Chapter1.pdf
ABSTRAK 要旨
FEMINISME PADA MASA MEIJI DI JEPANG 日本で明治時代の女権論
Feminisme adalah gerakan pembebasan wanita untuk menuntut persamaan hak antara pria dan wanita.
女権論は男女同権を催促するための女性開放放運動である。
Pada hakekatnya feminisme terbentuk sebagai akibat dari adanya ketidakadilan sosial yang terjadi di tengah masyarakat antara kaum pria dan wanita akibat adanya permasalahan gender..
本質的に、女権論は社会の中で男性と女性あいだに社会的の不公平ことが あるのが性別問題の結果として形成される。
Feminisme lahir dijepang ketika jepang membuka diri terhadap pengaruh dari luar pada restorasi meiji (1886-1912).
女権論は明治時代に日本が外国からの影響へ開放した時に日本で生まれた。
Feminisme jepang merupakan salah satu kebijakan yang diadopsi dari negara barat.
日本の女権論は西側諸国から採択された対策の一つである。
Itu merupakan bagian dari kebijakan bunmei kaika untuk menjadikan jepang sebagai negara modern.
それは近代国家として日本国を作るためのは文明開化の対策のひとつであ る。
Kehadiran feminisme di jepang diharapkan dapat membantu wanita jepang untuk bebas dari tekanan tradisi sistem ie dan budaya patriarki.
日本で女権論の存在は家制度の圧力と家父長系文化から自由のために日本 の女性を手伝うことができて期待される。
日本知者に先導された日本の女権論のは日本の女性の生活の中で変更を与
日本知者に先導された日本の女権論のは日本の女性の生活の中で変更を与