BAB II GAMBARAN UMUM FEMINISME PADA MASA MEIJI DI
3. Gender dalam Pandangan Budha
2.5. Perkembangan Feminisme Jepang pada Masa Meiji
Lahirnya feminisme di Jepang berawal dari dirubahnya sistem pendidikan yang lama menjadi sistem pendidikan modern yang mencontoh dari sistem pendidikan barat. Paham-paham tentang konteks feminisme mulai menunjukkan eksistensinya dengan memotori pendidikan sebagai penghubung yang kuat dalam
pencerahan bagi bangsa Jepang. Dengan lahirnya sistem pendidikan baru ini turut dimanfaatkan oleh para intelektual Jepang untuk menyumbangkan pemikirannya dalam mempengaruhi dan mengembangkan pendidikan di Jepang. Tokoh intelektual yang turut memberikan warna dalam pendidikan Jepang adalah Fukuzawa yukichi, Mori Arinori dan Ueki Emori. Mereka adalah sedikit dari banyaknya tokoh yang perduli terhadap dunia pendidikan di Jepang terutama dengan masalah pendidikan wanita Jepang. Aksi yang ditonjolkan oleh para intelektual ini adalah menuntut persamaan gender serta dibuatnya sistem monogami di Jepang. Ketiga tokoh ini pada hakekatnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memperjuangkan persamaan gender dan memperjuangkan posisi setiap wanita Jepang dalam masyarakat.
Fukuzawa yukichi (1835-1901) dikenal sebagai pendidik yang terkemuka dan juga merupakan seorang kritikus sosial. Fukuzawa memiliki cita-cita untuk melepaskan wanita dari ketidakadilan sosial masyarakat Jepang dengan menyuarakan persamaan gender di setiap kesempatannya dalam berbicara diberbagai situasi. Baginya posisi wanita Jepang pada masa ini belum ditempatkan pada posisi yang semestinya.
Dalam membuka pikiran bangsa Jepang akan pentingnya persamaan gender dituangkannya dalam karya tulisnya yang berjudul Gakumon no Susume.
Dalam karyanya ini ia menegaskan persamaan gender dan sistem monogami dalam masyarakat dan mengkritik konsep patriarki yang dianut oleh bangsa Jepang. Baginya konsep patriarki merupakan norma yang telah membelenggu wanita terhadap hak dan kebebasannya. Di era meiji yang dikenal sebagai awal
dari masa pencerahan bagi bangsa Jepang telah memberi kesaksian akan kesalahan bangsa Jepang dalam menjauhkan diri dari bangsa asing. Sikap tertutup yang dulunya dimiliki bangsa Jepang, pada zaman ini kini telah berubah menjadi negara yang terbuka terhadap pengaruh asing. Dan pemikiran menjauhi orang asing dinyatakan oleh fukuzawa sebagai kekeliruan. Untuk memperkuat pemikiran yang dituangkannya dalam karya tulisnya fukuzawa mengadopsi pemikiran John Stuart Mill dalam memaparkan dengan jelas bagaimana seharusnya wanita diberi hak dan kebebasan dalam kehidupannya.
Tak jauh berbeda dengan Fukuzawa Yukichi, Ueki Emori dan Mori Arinori pun turut melakukan hal yang sama untuk mengampanyekan persamaan gender dan memperjuangkan kemerdekaan bagi wanita Jepang.
Dengan hadirnya para feminis seperti Fukuzawa Yukichi, Ueki Emori dan Mori Arinori dalam menyuarakan persamaan gender dan sistem monogami, turut membuka mata para intelektual lainnya yang ingin memperjuangkan hak-hak wanita Jepang. Banyak dari para intelektual berpikiran bahwa sangatlah penting untuk menambah jumlah pejuang hak-hak wanita di Jepang. Dengan demikian, dengan misi yang dipimpin oleh Iwakura Tomomi dengan persetujuan dari pemerintah pada saat itu dikirimlah lima orang gadis ke Amerika dan Eropa untuk belajar disana. Adapun dari sekelompok gadis yang dikirim dalam misi tersebut yaitu, Yamakawa Sutematsu, Nagai Shigekoi, Yoshimasu Ryo, Ueda Tei dan Tsuda Umeko. Dan dari antara kelima gadis tersebut hanya menyisahkan tiga
ini juga dimaksudkan untuk mengabdi kepada Jepang sepulangnya dari misinya di luar negeri. Mereka diharapkan dapat menyalurkan apa yang mereka dapat dari negara tersebut untuk dibawa pulang ke Jepang.
Kepedulian terhadap nasib wanita Jepang saat itu dikampayekan oleh para feminis untuk mendesak pemerintah memecahkan permasalahan bias gender di tengah masyarakat Jepang. Tak hanya sampai disitu saja, paham feminisme turut disuarakan oleh kaum misionaris dan kaum wanita kristen Jepang untuk menentang pergundikan dan pelacuran di Jepang. Penerbitan Jogaku Zasshi atau majalah wanita pertama Jepang yang diterbitkan oleh Iwamoto Yoshiharu yang merupakan seorang kristen dan setuju dengan sistem monogami dan mendukung persamaan gender di Jepang. Majalah ini dijadikan sebagai wadah untuk memberikan aspirasi dan pandangan tentang pentingnya memperjuangkan hak-hak serta kemerdekaan wanita. Tujuan lain dari lembaga ini adalah untuk menuntut pendidikan wanita dan penghapusan prostitusi di Jepang.
Eksistensi kaum wanita kristen Jepang ini juga dapat terlihat dari sosok Yamuro Kieko dan Hayashi Utako yang merupakan aktivis yang bekerja untuk menolong dan merehabilitasi para mantan pelacur. Kehidupan wanita Jepang yang sangat keras telah menyadarkan kaum feminis untuk menolong mereka keluar dari ketidakadilan tersebut.
Menurut para feminis, salah satu cara yang dapat membebaskan wanita Jepang dari ketidakadilan tersebut adalah dengan memberikan mereka kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan merupakan wadah yang sangat tepat
untuk membantu para feminis mengeluarkan wanita dari jeratan pemikiran tradisional masyarakat Jepang. Dengan pendidikan mereka dapat mendidik orang untuk berpikiran lebih terbuka terhadap modernisasi. Maka dari itu sebagian besar dari misi dari para feminis maupun organisasi yang berhubungan dengan perjuangan hak-hak wanita menjadikan pendidikan sebagai poin penting dalam gerakan pembebasan wanita. Pendidikan yang telah ditawarkan oleh pemerintah meiji terhadap wanita Jepang telah sedikit memberi ruang bagi wanita untuk menunjukkan kemampuannya di tengah masyarakat.
Lahirnya undang-undang dasar pendidikan tahun 1872 mewajibkan semua orang untuk mengenyam pendidikan dasar tanpa memandang jenis kelamin.
Maka dibuatlah sistem pendidikan Gakusei sebagai sistem pendidikan modern Jepang yang diadopsi dari sistem pendidikan barat. Pada sistem ini diwajibkan mengenyam pendidikan Sekolah Dasar 6 tahun (tanpa memandang jenis kelamin), namun setelah memasuki pendidikan kesekolah menengah terdapat perbedaan dimana bagi anak laki-laki melanjutkan pendidikan kesekolah menegah (5 tahun) atau pendidikan keterampilan sedangkan anak perempuan memasuki sekolah khusus bagi mereka (4 atau 5 tahun). Pada tingkatan ini mulai terdapat pula perbedaan pelajaran-pelajaran yang di berikan. (Okamura, 1983:53)
Dilihat dari sistem pendidikan yang dianut oleh sekolah-sekolah di Jepang tersebut terdapat dua jalur pendidikan yang berbeda antara pendidikan pria dan wanita. Seperti pendapat (Okamura, 1983:54) mengatakan bahwa :
Sistem ganda dalam penddikan ini telah menimbulkan banyak kemungkinan bagi pelaksanaaan diskriminasi antara kaum pria dan wanita, yakni praktek yang telah merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam masyarakat Jepang.
Dari pendapat Okamura tersebut dapat dengan jelas ditarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan yang dibentuk oleh pemerintah Jepang tidak sepenuhnya memberikan persamaan hak antara pria dan wanita. Adanya perbedaan metode pendidikan antara pria dan wanita menunjukkan bahwasanya diskriminasi masih terlihat dengan jelas pada zaman meiji. Hal ini semakin dipertegas lagi setelah kaisar menetapkan bahwa ideologi bangsa Jepang berlandaskan sistem Ie.
Pandangan tentang Kazokukokkakan (pandangan negara keluarga) diartikan sebagai sebuah negara sebagai kelompok keluaarga besar dimana kaisar sebagai kepala keluarga/orangtua sementara rakyat dianggap sebagai anak. Dengan diberlakukannya sistem Ie sebagai ideologi negara maka unsur-unsur serta pandangan yang ada di dalamnya turut terbawa kedalam sistem pemerintahan meiji. Sistem Ie yang dikenal sebagai produk dari Konfusius semakin kuat pengaruhnya ditengah masyarakat Jepang pada zaman meiji, dan dengan berlandaskan ini maka tidak heran jika peran wanita masih terasa sulit pada zaman meiji.
Meskipun wanita diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan, namun pendidikan yang mereka anut diatur berlandaskan konsep ryousaikenbo yang ditetapkan pemerintah meiji sebagai landasan pendidikan wanita. Konsep ryousaikenbo atau istri yang baik dan ibu yang bijaksana ini dimaksudkan untuk mendidik wanita agar mempunyai pemikiran bahwa mereka menghormati negara seperti keluarga dan melakukan yang terbaik untuk anggota keluarga. Dasar
pikirannya adalah tidak ada pasangan yang sederajat tapi melainkan sebuah keluarga patriarki yang mana bahwa seorang istri lebih rendah posisinya daripada seorang suami. Maka pepatah yang dulunya terkenal pada zaman feodal kembali tercipta pada masa meiji yang adalah “pendidikan tidak perlu bagi kaum wanita”
yang berlanjut pada versi baru yang berbunyi “tiada memiliki pendidikan bagi kaum wanita merupakan kebaikan” (Okamura, 1983:54). Pepatah ini sangat sesuai sebagai acuan untuk menggambarkan sosok istri yang baik dan ibu yang bijaksana dalam mendedikasikan dirinya untuk kepentingan keluarga dan negaranya. Sejak munculnya paham ryousaikenbo, wanita yang terdidik atau dengan kata lain
“berpendidikan” dipandang sebagai sesuatu yang aneh dan tak lazim. Pada masa meiji, wanita Jepang yang ideal merupakan wanita yang menjadi istri yang baik dan ibu yang bijaksana, sementara wanita yang tidak memenuhi pola dasar ini hanya dianggap sebagai orang yang berbahaya bagi diri mereka sendiri dan orang lain.
Dengan melihat sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan tujuan dari para feminis tersebut membuat mereka mencari cara untuk menyadarkan wanita jepang akan kekeliruan konsep ryousaikenbo. Para feminis mulai melakukan gerakan-gerakan feminisme dengan gencar ke seluruh penjuru jepang. Segala cara mereka praktekkan untuk mengambil simpati para wanita yang telah terdoktrin oleh pemikiran tradisional dan konsep ryousaikenbo.
Para feminis melakukan kampanye dengan berbagai cara seperti:
dilakukan para feminis untuk menunjang gerakan feminisme di Jepang adalah dengan menuangkan isi pikirannya tentang persamaan gender kedalam karya tulis.
Pada Restorasi Meiji banyak bermunculan sastrawan yang sebagian diantaranya merupakan kaum feminis yang menuangkan pendapatnya tentang pembebasan wanita kedalam karya tulis mereka. Karya tulis yang sangat terkenal di masa meiji ditulis oleh kelompok meirokusha yang menuangkan pemikirannya kedalam majalah Meiroku Zasshi. Bahkan banyak dari antara feminis juga membuat sekolah untuk wanita seperti Tsuda Umeko, Fukuda Hideko dan yang lainnya.
Kaum feminis juga mendesak pemerintah untuk memberikan hak suara kepada wanita. Wanita merupakan sebagain besar dari populasi bangsa Jepang, maka dari itu mereka menekankan bahwa sangat tidak lazim mengesampingkan wanita dalam pembangunan bangsa Jepang. Wanita juga memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti pria untuk diakui kehadiran dan perannya dalam mendukung pemerintah.
Namun menurut Sharon Shivers dalam karya tulis Bruce (2014:9) mengatakan bahwa setelah satu dekade orang Jepang memonopoli perdebatan mengenai hak-hak perempuandan gaya modernisasi Jepang, banyak wanita sangat ingin menunjukkan pandangan mereka sendiri tentang masa depan negara dan potensinya dalam peran itu.Orang mungkin berpendapat bahwa sudah lama bagi wanita untuk berdiri dan menuntut suara pada pemerintahan Jepang. Namun, periode meiji dikenal sebagai masa yang penuh dengan kemunafikan. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi dimana kaum pria memiliki hak pilih sementara wanita tidak dikarenakan fokus utama wanita hanya diperuntukkan sebagai ibu
rumah tangga. Wanita semakin dipersulit kesempatannya dalam memperoleh hak suara dengan ditetapkannya negara Jepang menjadi negara imperialis Shinto yang menjadi unsur utama yang menjauhkan wanita dari dunia politik dan membuatnya hanya fokus menjadi seorang ibu. Masalah-masalah inilah yang pada masa meiji menjadi tugas utama dari para feminis untuk dicari jalan keluarnya. Gerakan feminisme pada masa meiji telah menjadi gambaran awal bagi para feminis untuk melangkah terus dalam menyuarakan keadilan terhadap wanita Jepang serta mejadi langkah awal dalam menunjukkan eksistensi gerakan feminisme di Jepang seiring perubahan zaman.
2.6. Tokoh-Tokoh Feminis Pada Zaman Meiji
Munculnya gerakan feminisme di Jepang pada masa meiji tidak terlepas dari kerja keras yang dilakukan oleh para kaum feminis untuk memperjuangkan nasib wanita Jepang. Tokoh-tokoh feminis yang turut mengabdikan dirinya untuk menuntut kebebasan dan hak-hak kaum wanita Jepang adalah sebagai berikut:
2.6.1. Fukuzawa Yukichi (1835-1901)
Fukuzawa Yukichi merupakan seorang pendidik dan kritikus sosial yang terkemuka di zamannya. Sosok fukuzawa yukichi dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan tanpa memandang status maupun gender.
Atas partisipasinya dalam memperjuangkan posisi wanita Jepang di tengah
pentingnya pendidikan bagi wanita serta perlunya penghargaan terhadap posisi wanita di dalam masyarakat Jepang. Fukuzawa Yukichi dikenal sebagai sosok yang telah berjasa atas munculnya sistem pendidikan baru “Gakusei”yang merupakan salah satu pencapaian dari kebijakan Bunmei Kaika pada masa meiji.
Pemikiran fukuzawa tentang pemberdayaan wanita adalah yang cukup berpengaruh di masyarakat. Dia menegaskan pentingnya penghapusan kelas-kelas khas feodal yang sarat akan diskriminasi sosial. Dia menuntut persamaan gender dan sistem monogomi agar diberlakukan di Jepang. Hal ini ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul Gakumon no susume yang terkenal dengan kata-katanya seperti :
Langit tidak menakdirkan seseorang pada tempat diatas atau dibawah seseorang yang lain. Ini berarti bahwa kalau orang-orang dilahirkan dari langit, mereka sama derajatnya. Tidak terdapat perbedaan yang hakiki antara yang tinggi dan yang rendah. Tiap-tiap manusia itu duduk sama rendah dan tegak sama tinggi.
Tiap-tiap manusia mempunyai hak hidup dalam keadaan bebas dan merdeka tanpa menghiraukan perbedaan kedudukan yang timbul. Hak-hak asasi manusia adalah hakikat moril yang agung yang memberikan martabat kepada kehidupan seorang manusia. Pada waktu langit melahirkan manusia, kepadanya diberikan perangkat-perangkat badan pikiran dan kekuatan-kekuatan untuk menegakkan hak-haknya masing-masing. Oleh sebab itu dalam keadaan bagaimanapun juga, seseorang tidak boleh dirampas hak-haknya (Dalam Wulandari, 2003:17).
Pemikiran-pemikiran fukuzawa yang didominasi tentang masalah wanita dan menekankan tentang kemerdekaan wanita, telah turut membawa dirinya sebagai tokoh feminis yang cukup berpengaruh di zamannya.
2.6.2. Tsuda Umeko (1865-1929)
Tsuda umeko adalah salah satu tokoh feminis Jepang yang turut menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk memajukan kehidupan wanita Jepang. Kepeduliannya terhadap kehidupan wanita Jepang telah timbul setelah keikutsertaannya dalam misi iwakura Tomomi. Ketika mengikuti misi tersebut dia baru berusia 9 tahun dan menjadi salah satu kandidat yang sukses dalam misi tersebut. Dia belajar dan tinggal di amerika. Dia juga memiliki seorang ibu angkat selama disana. Dari negeri barat tersebut dia belajar banyak dan memperhatikan bahwa ada perbedaan keadaan sosial di Amerika dengan di Jepang. Di negara adidaya tersebut wanita mendapat tempat dan posisi yang penting dalam masyarakat, sementara di Jepang hal ini cukup sulit untuk bisa dijangkau.
Kesadarannya akan pentingnya menaikkan taraf kehidupan wanita Jepang, sepulangnya dari misi tersebut pada tahun 1882, tsuda umeko aktif bekerja di bidang pendidikan dan karena kepeduliannya terhadap pendidikan wanita ia mendirikan Joshi Eigaku Juku atau Sekolah Bahasa Inggris bagi Wanita.
Pendidikan yang diterapkan dalam Joshi Eigaku Juku tersebut berkaca dari sistem pendidikan modern. Tujuan dari didirikannya Sekolah bahasa inggris bagi wanita Jepang ini adalah untuk mempersiapkan wanita Jepang yang handal dalam menggunakan bahasa inggris serta setelah lulus dari sekolah ini para wanita dapat berdiri sendiri secara ekonomi dengan mengajar sebagai guru bahasa inggris.
Dedikasinya dalam memperbaiki posisi wanita Jepang dapat terlihat dengan jelas
2.6.3. Kishida Toshiko (1863-1901)
Kishida toshiko merupakan orator wanita pertama di Jepang, dia merupakan pembicara yang paling menonjol terhadap gerakan pembebasan hak-hak wanita. Sejak berusia 15 tahun ia sudah tinggal dilingkungan istana sebagai dayang dari istri kaisar meiji ratu Shooken. Namun pada tahun 1882 ia meninggalkan istana dan bergabung dengan partai liberal. Ia mendeklarasikan dirinya sebagai pejuang dari gerakan pembebasan wanita dan menjadi salah satu aktivis dari Jiyuu Minken Undou atau Gerakan Hak dan Kebebasan. Ia mulai terjun ke lapangan dengan tur keberbagai daerah untuk melakukan orasinya tentang posisi kaum wanita dalam masyarakat. Semangatnya yang berapi-api membuatnya ditawari kesempatan untuk berorasi di atas podium oleh partai liberal untuk menuntut diakhirinya budaya patriarki dimana kaum pria selalu dipuja-puja sebagai sosok yang mendominasi dalam kehidupan sementara wanita diperolok dan dijuluki sebagai pelayan dari kaum pria.
Dalam setiap pidato maupun orasi yang dilakukannya mendorong semua wanita untuk memperjuangkan hak-haknya dan orasinya tersebut telah membuka pikiran masyarakat Jepang untuk meraih apa yang telah menjadi hak mereka.
Kishida juga menuntut agar wanita diberi hak suara untuk bergabung dalam dunia politik Jepang. Baginya, tidaklah benar mengesampingkan wanita dalam tugas-tugas pembangunan bangsa sebab wanita juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum pria dalam memajukan bangsa. Orasi yang cukup terkenal yang dilakukan oleh kishida adalah Hako Iri Musume/Gadis Dalam Kotak dan salah satu judul pidatonya yang paling terkenal berjudul "The goverment lords it
overs the people; men lord it over women”. Meskipun ia sepakat dengan paham akan kebebasan hak-hak wanita yang bersumber dari negara barat, tetapi baginya tidak semua paham yang bersumber dari barat dapat diadopsi. Tentu saja segala sesuatu yang akan diterapkan di negara jepang harus dikaji terlebih dahulu apakah paham tersebut tidak menyimpang dari paham dan tradisi bangsa jepang.
2.6.4. Fukuda Hideko (1865-1927)
Fukuda Hideko atau yang juga deikenal sebagai Kageyama Hideko merupakan salah satu tokoh wanita yang terkenal pada zaman meiji dengan gerakan-gerakannya dalam menuntut persamaan gender dan sistem monogami.
Fukuda Hideko merupakan putri dari seorang samurai rendahan yang bernama Kageyama Katashi dan ibunya adalah Umeko yang merupakan seorang guru sekoalh dasar.
Karena rasa kagumnya akan gerakan-gerakan feminis yang dikobarkan secara terus-menerus oleh para feminis terdahulunya seperti Kishida Toshiko, menumbuhkan niat dalam benaknya untuk turut berkontribusi akan gerakan pembela kaum wanita tersebut.
Joukou Gakusha merupakan sekolah swasta wanita yang didirikan oleh keluarga kageyama pada tahun 1883. Tetapi sekolah tersebut tidak bertahan lama, ditahun berikutnya tepatnya pada tahun 1884 sekolah tersebut ditutup oleh
bila ia memiliki akses dalam perpolitikan dengan cara berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan politik. Maka dari itu dengan pandangan yang kuat akan cita-citanya dalam memberikan kembali kebebasan dan hak-hak wanita ia bergabung pada gerakan hak dan kebebasan atau Jiyuu Minken.
Fukuda menuntut agar wanita diberikan hak pilih sama seperti kaum pria dan diberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam pemerintahan. Namun pada tahun 1885, Fukuda Hideko dipenjarakan atas partisipasinya dalam menuntut pembebasan hak-hak semua orang tanpa memandang jenis kelamin. Meski demikian, ia mencurahkan hasratnya terhadap persamaan gender yang berjudul Prison Recollection yang berisi sebagai berikut :
Jika hak-hak wanita adalah ditingkatkan dan persamaan diantara gender diterima, sebanyak 37 juta wanita akan berpartsisipasi dalam politik, tentunya menyelamatkan keadaan, menghapus kesalahan politik, dan hukum. Selain itu, wanita barangkali mendatangkan lebih banyak cinta akan negara jika wanita mengemukakan kebudayaan bersama pria. Jadi, saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam tuntutan terhadp pembebasan. Saya sangat berharap hal seperti ini (Kiguchi, 2005:135).
BAB III
DAMPAK-DAMPAK FEMINISME PADA MASA MEIJI
Kemunculan gerakan feminisme di jepang yang diusung oleh para feminis dan kaum intelektual telah memberikan semangat serta perasaan emosional bagi kaum wanita jepang untuk lebih berpikiran terbuka dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai kaum yang dinomor duakan dalam masyarakat. Gerakan besar-besaran yang dimunculkan kepermukaan oleh para feminis telah menghasilkan sebuah warna baru dalam peran serta kehidupan wanita Jepang. Dampak yang diakibatkan dari munculnya paham feminisme di Jepang telah menyebar ke segala elemen kehidupan bangsa Jepang dan telah menciptakan sebuah peradaban baru bagi negara Jepang.
3.1. Dampak Terhadap Keluarga
Masyarakat Jepang adalah komunitas yang dikenal sangat berbudaya.
Banyak tradisi yang telah tercipta sebelum bangsa ini terbentuk menjadi sebuah bangsa besar dan masih dijalankan hingga saat ini. Budaya merupakan warisan yang diturunkan dan dijadikan simbol dari pribadi bangsa maupun sekelompok orang. Budaya yang tercipta tentu telah membentuk pola pikir masyarakat yang menerimanya sebagai sebuah panduan. Kehadiran budaya sebagai elemen penting dalam masyarakat telah membuat masyarakat menciptakan sebuah
Perkawinan merupakan salah satu produk dari kebudayaan, dimana perkawinan dianggap oleh sebagian besar orang sebagai sentral daripada jalan hidup seseorang dalam menjalani kehidupan. Bagi wanita perkawinan merupakan salah satu kewajiban yang sudah disiratkan dalam garis kehidupannya. Didalam tradisi dan budaya yang ada di tengah masyarakat Jepang,tercipta stereotip tentang nilai perkawinan yang dipandang sebagai hal yang sakral dan diwajibkan untuk dilaksanakan terutama oleh kaum wanita. Perkawinan dianggap sebagai cara yang tepat untuk menjalin kekerabatan dengan anggota keluarga lainnya dalam memperluas hubungan kekerabatan. Dengan adanya perkawinan maka akan terbentuk yang namanya keluarga.
Di Jepang keluarga adalah unit dasar dari masyarakat. Dari keluarga Jepang dapat terlihat seperti apa gambaran jati diri bangsa Jepang yang sebenarnya dalam artian yang sempit. Kehidupan rumah tangga di Jepang diatur oleh sebuah sistem keluarga yang disebut sistemIe. Sistem Ie merupakan sistem kekeluargaan yang bersumber dari ajaran Konfusius yang menganut konsep budaya patriarki. Konsep yang dibuat oleh keegoisan kaum pria tersebut telah menjadikannya sebagai sosok yang superior dan berbanding terbalik dengan kaum wanita yang berada dibawah otoritas mereka. Sebelumnya pada zaman edo sistem Ie hanya diperuntukkan pada wanita yang berada dikalangan samurai dan
Di Jepang keluarga adalah unit dasar dari masyarakat. Dari keluarga Jepang dapat terlihat seperti apa gambaran jati diri bangsa Jepang yang sebenarnya dalam artian yang sempit. Kehidupan rumah tangga di Jepang diatur oleh sebuah sistem keluarga yang disebut sistemIe. Sistem Ie merupakan sistem kekeluargaan yang bersumber dari ajaran Konfusius yang menganut konsep budaya patriarki. Konsep yang dibuat oleh keegoisan kaum pria tersebut telah menjadikannya sebagai sosok yang superior dan berbanding terbalik dengan kaum wanita yang berada dibawah otoritas mereka. Sebelumnya pada zaman edo sistem Ie hanya diperuntukkan pada wanita yang berada dikalangan samurai dan