SIKAP PROFESI PENDIDIKAN
B. Fungsi Administrasi Pendidikan 1.Tujuan Pendidikan Menengah
Tujuan institusional sekolah menengah adalah tujuan yang dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional .Didalam UUD Pasal 31 Ayat 2, disebutkan bahwa “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.”Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 disebutkan bahwa tujuan nasional pendidikan adalah mencerdaskan kkehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 89 terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Tujuan nasional tersebut kemudian dijabarkan dalam tujuan institusional, yaitu tujuan untuk tiap jenjang pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 adalah peraturan yang mengatur institusi pendidikan menengah. Dalam peraturan pemerintah tersebut dinyatakan bahwa tujuan pendidikaan menengah adalah:
meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenajang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, dan menigkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal-balik dengan lingkungan sosial,budaya, dan alam sekitarnya. Di dalam Pasal 3 peraturan tersebut juga disebutkan nahwa pendidikan menengah umum mengutamakan penyiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi,pendidikan kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional, pendidikan menengah keagamaan mengutamakan penyiapan siswa dalam penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan, pendidikan menengah kedinasan mengutamakan peningkatan pegawai negeri atau calon pegawai negeri dalam pelaksanaan tugas kedinasan ,dan pendidikan menengah luar biasa diselennggarakan khusus untuk siswa yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental.
Tujuan sekolah menengah merupakan bagian dari tujuan pendidikan diatas. Didalam PPNo .29 Tahun 1990 itu, tidak kita temui tujuan dari berbagai jenis sekolah menengah secara rinci. Namin demikian, kita dapat menemukan contoh rincian tujuan sekolah menengah itu didalam kurikulum sekolah menengah tahun 1975.
Sebagai contoh tujuan khusus Sma dalam kurikulum 1975 berdasarkan keputusan Menteri No.008-E/U/1975 yang untuk keperluan pemahaman sekolah menengah,tujuan ini masih relevan untuk kita kemukakan.
Tujuan itu khusus SMA mencakup bidang pengetahuan,keterampilan,serta nilai dan sikap. Menurut kurikulum itu, tujuan khusus SMA ialah agar lulusan SMA dapat memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Di bidang pengetahuan:
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 90 1) Memiliki pengetahuan tentang agama dan atau kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2) Memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar kenegaraan dan pemerintahan sesuai dengan undang-undang Dasar 1945.
3) Memiliki pengetahuan yang fungsional tentang fakta dan kejadian penting aktual,baik lokal ,regional,nasional maupun internasional.
4) Menguasai pengetahauan dasar dalam bidang matematika,ilmu pengetahuan alam,ilmu pengetahuan sosial ,dan bahasa (khususnya bahasa indonesia dan bahasa inggris),serta mengausai pengetahuan lanjutan yang cukup dalam satu atau beberapa dari bidang pengetahuan tersebut diatas.
5) Memiliki pengetahuan tentang berbagai jenis dan jenajng pekerjaan yang ada dimasyarakat serta syarat-syaratnya.
6) Memilikipengetahuan tentang berbagai unsur kebudayaan dan tradisi nasional.
7) Memiliki pengetahuan dasar tentang kependudukan ,kesejahteraan keluarga,dan kesehatan.
b. Di bidang keterampilan:
2) Menguasai cara blejar yang baik.
3) Memiliki keterampilan memecahkan masalah dengan sistematik.
4) Mampu membaca/memahami isi bacaan yang agak lanjut dalam bahasa Indonesia dan bacaan sederhana dalam bahasa inggris yang berguna baginya.
5) Memiliki keterampilan mengadakan komunikasi sosial dengan orang lain, lisan maupun tulisan, dan keterampilan mengekspresi diri sendiri ,lisan maupun tertulis.
6) Memiliki keterampilan olah raga dan kebiasaan olah raga.
7) Memliki keterampilan sekurang-kurangnya dalam satu cabang kesenian.
8) Memiliki keterampilan dalam segi kesejahteraan keluarga dan segi kesehatan.
9) Menguasau sekurang-kurangnya satu jenis keteampilan untuk bekerja sesua dengan minat dan kebutuhan lingkungan.
c. Di bidang nilai dan sikap:
1) Menerima dan melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 91 2) Menerima dan melaksanakan ajara agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dianutnya ,serta menghormati ajaran agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dianut orang lain.
3) Mencintai sesama manusia ,bangsa,dan lingkungan sekitarnya.
4) Memiliki sikap demokratis dan tenggang rasa.
5) Memiliki rasa tanggung jawab dalam pekerjaaan dan masyarakat.
6) Dapat mengpresiasikan kebudayaan dan tradisi nasional.
7) Percaya pada diri sendiri dan bersikap mahakarya.
8) Memiliki minat dan sikap positif terhadap ilmu pengetahuan.
9) Memiliki kesadaran akan displin dan patuh pada peraturan yang berlaku bebas dan jujur.
10) Memiliki inisiatif,daya kreatif,sikap kritis,rasional dan objektif dalam memecahkan persoalan.
11) Memiliki sikap hemat dan produktif.
12) Memiliki minat dan sikap yang postif dan konstruktif terhadap olah raga dan uharus hidup sehat.
13) Menghargai setiap jenis pekerjaan dan prestasi kerja di masyrakat tanpa memandang tinggi rendahnya nilai sosial/ekonomi masing-masing jenis pekerjaaan tersebut dan berjiwa pengabdian pada masyarakat.
14) Memiliki kesadaran menghargai waktu.
Tujuan nasional serta tujuan institusionalitu harus selalu dijadikan pedoman sekolah dan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Untuk guru, tujuan-tujusn tersebut perlu dijabarkan lagi ke dalam tujuan yang lebih sempit sehingga dijadikan pedoman operasional dalam mengajar. Berturut-turut institusional itu dijabarkan secara hierarki menjadi tujuan: kurikuler, instruksional umum, dan instruksional khusus.
Adapun penjelasan masing-masing tujuan itu adalah:
1) Tujuan kurikuler, yaitu tujuan suatu mata pelajaran dalam suatu institusi ,misalnya tujuan pengajaran sejarah disekolah menengah umum.
2) Tujuan instruksional umum, yaitu tujuan suatu pokok bahasan tertentu suatu mata pelajaran dalam satu tingkat dan dalam suatu jenjang institusi; misalnya tujuan pengajaran sejarah kelas dan sekolah menengah umum.
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 92 3) Tujuan instruksional khusus,yaitu tujuan suatu mata pelajaran
dalam suatu periode atau unit waktu tertentu dalam suatu tingkat pada jenjang institusi; misalnya tujuan pengajaran sejarah selama tiga minggu masing-masing tiga jam pengajaran dikelas satu sekolah menengah umum.
2. Proses sebagai Fungsi Administrasi Pendidikan Menengah a. Perencanaan
Perencanaan adalah pemilihan dari sejumlah alternatif tentang penetapan prosedur pencapaian, serta perkiraan sumber yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan tersebut. Yang dimaksud dengan sumber meliputi sumber manusia, material, uang, dan waktu.Dalam perencanaan, kita mengenal beberapa tahap, yaitu tahap : identifikasi masalah, perumusan masalah, penetapan tujuan, identifikasi alternatif, pemilihan alternatif dan elaborasi alternatif.
Proses perencanaan disekolah hars dilaksanakan secara kolaboratif, artinya dengan mengikutsertakan personel sekolah dalam semua tahap perencanaan itu. Pengikutsertaan ini akan menimbulkan perasaan ikut memiliki yang dapat memberikan dorongan kepada guru dan personel sekolah yang lain untuk berusaha agar rencana tersebut berhasil. Lingkup perencanaan meliputi semua komponen administrasi pendidikan seperti yang telah disebutkan dimuka, yaitu perencanaan kurikulum, kemuridan, keuangan, prasarana dan sarana, kepegawaian, layanan khusus, hubungan masyarakat, proses belajar-mengjar, dan ketatausahaan sekolah.
Perencanaan pendidikan di pendidikan menengah dapat dibedakan atas beberapa kategori menurut: jangkauan waktunya, timbulnya, besarnya, pendekatan serta pelakunya.
Menurut jangkauan waktunya ,perencanaan dipendidikan menengah dapat dibagi menjadi perencanaan jangka pendek yaitu perencanaan yang dibuat untuk dilaksanakan dalam waktu seminggu,sebulan sampai dua tahun; perencanaan jangka menengah yaitu perencanaan yang dbuat untuk jangka waktu 3 sampai tujuh tahun; dan perencanaan jangka panjang, yaitu perencanaan yang dibuat untuk jangka waktu 8 sampai 25 tahun.P embagian waktu ini bersifat kira-kira, dan tiap ahli dapat saja memberikan batas yang berlainan. Jadi pemengalan waktu ini hanya merupakan ancar-ancar.
Menurut timbulnya, perencanaan dapat dibedakan atas perencanaan yang berasal dari bawah, misalnya mulai dari
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 93 kepala sekolah-dinas pendidikan kabupaten/kota, dinas pendidikan provinsi, kementrian pendidikan dan kebudayaan sampai kepada guru.
Dari sudut besarannya ,perencanaan dapat dibedakan atas perencanaan makro, yaitu perencanaan pada tingkat nasional atau tingkat departemen; perencanaan meso, yaitu pada tingkat direktorat jendral, direktorat atau provinsi sampai tingkat kantor departemen kecamatan; dan perencanaan mikro, yaitu yang dilaksanakan pada tingkat sekolahan atau kelas.
Menurut pendekatannya perencanaan dapat dibedakan menjadi perencanaan terpadu, yaitu perencanaan yang menyatukan semua sumber dalam rangka mencapai tujuan serta melihat penggunaan sumber itu dalam kaitannya dengan pengelolaan sekolah secara menyeluruh; dan perecanaan tercerai, yaitu hanya melihat sumber secara terpisah-pisah untuk tujuan tertentu. Disamping itu,juga dapat dibedakan antara perencanaan berdasarkan program, yaitu yang didasarkan atas program yang dibuat secara menyeluruh (komprehensif) dan perencanaan tambal sulam, yaitu perencanaan yang dbuat berdasarkan kecendrungan pengalaman sebelumnya saja, tanpa dilihat adanya kemungkinan perubahan, misalnya diperlukan program baru atau dihapuskannya program lama. Misalnya, dalam pengembangan kurikulum, isi kurikulum dapat dirombak dan diganti yang baru atau hanya sekadar ditambah disana-sini pada bagian yang dianggap kurang. Menurut pelakunya perencanaan dapat dibedakan atas perencanaan individual, yang dilakukan guru secara sendiri-sendiri ,perencanaan kelompok, dan perencanaan lembaga, yaitu perencanaan yang berlaku dan dibuat oleh sekolah.
b.Pengorganisasian
Pengorganisasian di sekolah dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses untuk memilih dan memilah orang-orang (guru dan pesonel sekolah lainnya) serta mengalokasikan prasarana dan sarana untuk menunjung tugas orang-orang itu dalam rangka mencapai tujuan sekolah. Termasuk didalam kegiatan pengorganisasian adalah penetapan tugas, tanggung jawab, dan wewenang orang-orang tersebut serta mekanisme kerjanya sehingga dapat menjadi tercapainya tujuan sekolah itu.
Ada beberapa hal pokok yang dapat dipedomani dan diperhatikan dalam hubungannya dengan pengorganisasian ini.
Seringkali orang menamakan hal pokok tersebut sebagai prinsip
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 94 pengorganisasian itu adalah: organisasi itu mempunyai tujuan yang jelas, tujuan organisasi harus dipahami oleh setiap anggota organisasi, tujuan organisasi harus dapat diterima oleh setiap orang dalam organisasi, adanya kesatuan arah dari berbagai bagian organisasi, adanya kesatuan perintah, adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang dalam melaksanakan tugasnya, adanya pembagian tugas yang jelas,struktur organisasi permanen, adanya jaminan terhadap jabatan-jabatan dalam organisasi itu, adanya balas jasa yang setimpal yang diberikan kepada setiap anggota organisasi, dan penempatan orang yang bekerja dalam organisasi itu hendaknya sesuai dengan kemampuannya.
c.Pengarahan
Pengarahan diartikan sebagai suatu usaha untuk menjaga agar apa yang telah direncanakan dapat berjalan seperti yang dikehendaki.
Suharsimi Arikunto (1988) memberikan definisi pengarahan sebagai penjelasan, petunjuk,serta pertimbangan dan bimbingan terhadap para petugas yang terlibat, baik secara struktural maupun fungsional agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan lancar.
Kegiatan pengarahan dapat dilakukan dengan berbagai cara,antara lain dengan: melaksanakan orientasi tentang pekerjaan yang akan dilakukan individu atau kelompok, dan memberikan petunjuk umum dan petunjuk khusus, baik secara lisan maupun tertulid, secara langsung maupun tidak langsung (Suharsimi,1988).
d.Pengkoordinasian
Pengkoordinasian di sekolah diartikan sebagai usaha untuk menyatupadukan kegiatan dari berbagai individu atau unit disekolah agar kegiatan mereka berjalan selaras dengan anggota atau unit-unit lainnya dalam usaha mencapai tujuan sekolah. Usaha pengkoordinasian dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti:
melaksanakan penjelasan singkat ,mengadakan rapat kerja,memberikan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis,dan memberikan balikan tentang hasil suatu kegiatan .
e.Pembiayaan
Pembiayaan sekolah adalah kegiatan mendapatkan biaya serta mengelola anggaran pendapatan dan belanja pendidikan menengah.
Kegiatan ini dimulai dari perencanaan biaya, usaha untuk
STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 95 mendapatkan dana yang mendukung rencana itu, penggunaan, serta pengawasan penggunaan anggaran tersebut.
f.Penilaian
Dalam sewaktu-waktu tertentu, sekolah pada umumnya atau anggota organisasi sekolah seperti guru,kepala sekolah, dan murid pada khususnya harus melakukan penilaian tentang seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan tercapai, serta mengetahui kekuatan dan kelemahan program yang dilaksanakan. Secara lebih rinci maksud penilaian adalah untuk: memperoleh dasar bagi pertimbangan apakah pada akhir suatu periode kerja pekerjaan tersebut berhasil, menjamin cara bekerja yang efektif dan efisien,memperoleh fakta-fakta tentang kesukaran-kesukaran dan untuk menghindarkan situasi yanng dapat merusak ,serta memajukan kesanggupan para guru dan orang tua murid dalam mengembangkan organisasi sekolah. Penilaian dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian atau pengamatan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam lembaga pendidikan.
C.Lingkup Bidang Garapan Administrasi Pendidikan Menengah