• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP PROFESI PENDIDIKAN TERHADAP ORGANISASI PENDIDIKAN

Dalam dokumen DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR (Halaman 84-96)

SIKAP PROFESI PENDIDIKAN

F. SIKAP PROFESI PENDIDIKAN TERHADAP ORGANISASI PENDIDIKAN

Sesuai dengan hakikat profesi dan ciri-cirinya, dapatlah diterima bahwa jabatan kependidikan atau keguruan merupakan suatu profesi.

Pekerjaan sebagai guru muncul dari kepercayaan masyarakat dan mengabdikan diri pada masyarakat. Pekerjaan itu menuntut keterampilan tertentu yang dipersiapkan melalui proses pendidikan dan latihan yang relatif lama, serta dilakukan dalam lembaga tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan. Seperti IKIP, FKIP di pelbagai universitas dan sekolah tinggi serta LPTK lainnya. Profesi keguruan didukung oleh suatu disiplin ilmu, yaitu ilmu keguruan dan ilmu pendidikan. Profesi ini juga memiliki kode etik dan organisasi

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 77 profesinya. Dari pekerjaan ini seroang guru memperoleh imbalan finansial dari masyarakat sebagai konsekuensi dari layanan yang diberikannya. Organisasi profesi kependidikan berfungsi sebagai pemersatu seluruh anggota profesi dalam kiprahnya menjalankan tugas keprofesiannya, dan memiliki fungsi peningkatan kemampuan profesional profesi ini.

Macam-macam organisasi pendidikan di Indonesia, secara kuantitas, tidak berlebihan jika banyak kalangan pendidik menyatakan bahwa organisasi profesi kependidikan di indonesia berkembang pesat bagaikan tumbuhan di musim penghujan. Sampai sampai ada sebagian pengemban profesi pendidikan yang tidak tahu menahu tentang organisasi kependidikan itu. Yang lebih dikenal kalangan umum adalah PGRI.

Disamping PGRI yang satu-satunya organisasi yang diakui oleh pemerinta juga terdapat organisasi lain yang disebut Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang didirikan atas anjuran Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. Sayangnya, organisasi ini tidak ada kaitan yang formal dengan PGRI. Selain itu ada juga organisasi profesional guru yang lain yaitu ikatan serjana pendidikan indonesia (ISPI), yang sekarang suda mempunyai nanyak devisi yaitu Ikatan Petugas Bimbingan Belajar (IPBI), Himpunan Serjana Administrasi Pendidikan Indonesia (HSPBI), dan lain-lain, hubungannya secara formal dengan PGRI juga belum tampak secara nyata, sehingga belum didapatkan kerjasama yang saling menunjang dalam meningkatkan mutu anggotanya dan tujuan peran profesi pendidikan terhadap organisasi pendidikan sebagaimana dijelaskan dalam PP No. 38 tahun

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 78 1992, pasal 61, ada lima misi dan tujuan organisasi kependidikan, yaitu: meningkatkan dan atau mengembangkan. Sedangkan visinya secara umum ialah terwujudnya tenaga kependidikan yang profesional.

1. Meningkatkan dan mengembangkan karier anggota 2. Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan anggota.

3. Meningkatkan dan mengembangkan kewenangan profesional anggota.

4. Meningkatkan dan atau mengembangkan martabat anggota.

5. Meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan

SIMPULAN

Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi, baik organisasi guru maupun organisasi yang lebih besar (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) guru akan selalu berada dalam bimbingan dan pengawasan pihak atasan. Dari organisasi guru, ada strata kepemimpinan mulai dari pengurus cabang, daerah, sampai ke pusat. Begitu juga sebagai anggota keluarga besar Dipdikbud, ada pembagian pengawasan mulai dari kepala sekolah, kakandep, dan seterusnya sampai ke menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudah jelas bahwa pemimpin suatu unit atau organisasi akan mempunyai kebijaksanaan dan arahan dalam memimpin organissasinya, dimana tiap anggota organisasi dituntut berusaha untuk bekerja sama dalam melaksanakan tujuan organisasi tersebut.

Seorang guru juga harus mampu mengembangkan sikap prfesionalnya baik itu pada masa prajabatan maupun pada masa jabatan.

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 79 Profesi adalah suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan atau menuntut keahlian, menggunakan teknik-teknik, serta dedikasi yang tinggi. Pendidikan adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang. Jadi pengertian profesi pendidikan adalah satu kegiatan atau pekerjaan sesuai keahliannya yang diberikan atau diajarkan kepada peserta didik agar bisa berperan aktif dalam hidupnya sekarang dan masa datang.

Guru memiliki kode etik karena guru merupakan salah satu profesi yang ada di Indonesia berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Pasal 1) yang berbunyi: “Guru adalah pendidikan profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.

Sasaran sikap keprofesional guru yaitu: Sikap terhadap peraturan perundang-undangan, Sikap terhadap organisasi profesi, Sikap terhadap teman sejawat, Sikap terhadap anak didik, Sikap terhadap tempat kerja, Sikap terhadap pemimpin, Sikap terhadap pekerjaan.

Dan tujuan peran profesi pendidikan terhadap organisasi pendidikan sebagaimana dijelaskan dalam PP No. 38 tahun 1992, pasal 61, ada lima misi dan tujuan organisasi kependidikan, yaitu: meningkatkan dan atau mengembangkan.

Sedangkan visinya secara umum ialah terwujudnya tenaga kependidikan yang profesional. 1. Meningkatkan dan mengembangkan karier anggota; 2. Meningkatkan dan

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 80 mengembangkan kemampuan anggota; 3. Meningkatkan dan mengembangkan kewenangan profesional anggota; 4. Meningkatkan dan atau mengembangkan martabat anggota; 5. Meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Azhar. Sikap profesional seorang guru. yogyakarta: UII. 2011 Hasan, Ani M.2004. Profesi Keguruan.

Htpp://www.Profesi-Kependidikan.wordpress.com

http://seldiorcc.blogspot.com/2011/09/sikap-profesi-guru-terhadap-peraturan.html

http://ifzanul.blogspot.com/2010/06/hakikat-fungsi-dan-tujuan-organisasi.html

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 81 ADMINISTRASI PENDIDIKAN DALAM PROFESI KEPENDIDIKAN A. Pengertian dan Konsep Administrasi Pendidikan

Untuk memahami peranan administrasi pendidikan dalam sistem pendidikan nasional ,perlu dibahas:

1.Pengertian Administrasi Pendidikan

Administrasi pendidikan seringkali disalahartikan sebagai semata-mata ketatausahaan pendidikan. Namun dari uraian berikut ini akan diketahui bahwa pengertian admnisitrasi pendidikan sebenarnya adalah bukan sekedar itu. Mendefinisikan administrasi pendidikan tidak begitu mudah, karena ia menyangkut pengertian yang luas.

Culbertson (1982), mengatakan bahwa Schwab pada tahun enam puluhan telah mendiskusikan bagaimana kompleksnya admnistrasi pendidikan sebagai ilmu.Ia memperkirakan bahwa ada sekitar 50.000 masalah yang mungkin timbul dalam pelaksanaan administrasi pendidikan. Angka ini ia perkirakan dari berbagai fenomena yang ada kaitannya dengan administrasi pendidikan, seperti masyarakat, sekolah guru, murid, orang tua, dan variabel yang berhubungan dengan itu.

Kajian tentang administrasi pendidikan secara mendalam bukan menjadi tujuan penulisan buku ini, karena hal itu menyangkut masalah pembicaraan yang lebih mendalam tentang pendekatan, objek, dan etika dalam ilmu itu. Oleh karena itu, perlu dicari upaya pemahaman tentang pengertian administrasi pendidikan sesuai dengan maksud penulisan buku ini. Barangkali pengertian itu akan lebih mudah dipahami kalau kita mencoba melukiskan administrasi pendidikan dari berbagai sudut pandang, dan mencoba memahaminya dari sudut pandang itu.

Administrasi pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan .Seperti kita ketahui,tujuan pendidikan itu merentang dari tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks,tergantung lingkup dan tingkat pengertian pendidikan yang dimaksud.Tujuan pendidikan dalam satu jam pelajaran dikelas satu sekolah menengah pertama,misalnya,lebih mudah dirumuskan dan dicapai dibandingkan dengan tujuan pendidikan luar sekolah untuk orang dewasa, atau tujuan pendidikan nasional.Jika tujuan itu kompleks, maka cara mencapai tujuan itu juga kompleks,dan seringkali tujuan yang demikian itu tidak dapat dicapai oleh satu orang

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 82 saja,tetapi harus melalui kerja sama dengan orang lain,dengan segala aspek kerumitannya.

Pada tingkat sekolah, sebagai salah satu bentuk kerja sama dengan pendidikan misalnya ,terdapat tujuan sekolah.Untuk mencapai tujuan pendidikan disekolah itu diperlukan kerja sama diantara semua personel sekolah (guru,murid ,kepala sekolah,staf tata usaha),dan orang diluar sekolah yang ada kaitannya dengan sekolah (orang tua,kepala kantor departemen P dan K,dokter puskesmas,dan lain-lain).Kerja sama dalam menyelenggarakan sekolah harus dibina sehingga semua yang terlibat dalam urusan sekolah tersebut memberikan sumbangannya secara maksimal.Kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan dengan berbagai aspeknya ini dapat dipandang sebagai administrasi pendidikan.

Admnistrasi pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan .Proses itu dimulai dari perencanaan ,pengorganisasian,pengarahan,pemantauan,dan

penilaian.Perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai ,bagaimana mencapainya ,berapa lama,berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biayanya.Perencanaan ini dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan.

Pengorganisasian diartikan sebagai kegiatan membagi tugas-tugas kepada orang yang terlibat dalam kerja sama pendidikan tadi.Karena tugas-tugas ini demikian banyak dan tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja,maka tugas-tugas ini dibagi untuk dikerjakan masing-masing anggota organisasi.

Pengkoordinasian mengandung makna menjaga agar tugas-tugas yang telah dibagi itu tidak dikerjakan menurut kehendak yang mengerjakannya saja,tetapi menuruti aturan sehingga menyumbang terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan atau disepakati.Tiap-tiap orang harus mengetahui tugas masing-masing sehingga tumpang tindih yang tidak perlu dapat dihindarkan.Di samping itu,dalam menjalankan tugas pendidikan ,pengaturan waktu merupakan hal penting.Ada kegiatan yang harus didahulukan,ada yang harus dilakukan kemudian dan ada pula yang harus dikerjakan secara berbarengan.

Pengarahan diperlukan agar kegiatan yang dilakukan bersama itu tetap melalui jalur yang telah ditentukan,tidak terjadi penyimpangan yang dapat menimbulkan terjadinya pemborosan .Semua orang yang bekerja untuk mencapsi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 83 ,harus tetap ingat dan secara konsisten menuju tujuan itu.Kadang-kadang karena beberapa faktor ,perumusan tujuan itu tidak jelas ,sehingga cara mencapainya pun tidak jelas.Dalam keadaan demikian ,diperlukan pula adanya pengarahan .Agar pengarahan ini sesuai dengan apa yang telah ditetapkan,diperlukan pengarah yang mempunyai kemampuan kepemimpinan ,yaitu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar mereka mau bekerja sebaik-baiknya dalam mencapai tujuan bersama.

Disamping pengarahan,suatu kerja sama juga memerlukan proses pemantauan (monitoring) ,yaitu suatu kegiatan untuk mengumpulkan data dalam usaha mengetahui sudah sampai seberapa jauh kegiatan pendidikan telah mencapai tujuannya, dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksananaan itu.Pemantauan dilakukan untuk mendapatkan bukti-bukti atau data dalam menetapkan apakah tujuan tercapai atau tidak.Dengan perkataan lain ,kegiatan pemantauan atau monitoring adalah kegiatan untuk mengumpulkan data tentang penyelenggaraan suatu proses pencapaian tujuan.Data itu dipakai untuk mengidentifikasi apakah proses pencapaian tujuan berjalan dengan baik,apakah ada penyimpangan dalam kegiatan itu,serta kelemahan apa yang didapatkan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Proses kerja sama pendidikan itu akhirnya harus dinilai untuk melihat apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai,dan kalau tidak apakah hambatan-hambatannya.Penilaian ini dapat berupa penilaian proses kegiatan atau penilaian hasil kegiatan itu.

Administrasi pendidikan dapat dilihat dengan kerangka berpikir sistem.Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran.

Mutu lulusan akan sangat tergantung kepada mutu masukan ,masukan instrumental,dan proses itu sendiri.Dengan demikian ,kemampuan awal murid ,latar belakang murid,dan keadaan orang tua murid sebagai masukan mentah.Mutu juga sangat tergantung kepada mutu guru,mutu sarana dan prasarana,mutu dan iklim kerja sama antara guru dengan murid ,guru dengan guru,serta guru dengan kepala sekolah ,sebagai masukan instrumental .Kesemuanya ini menentukan kualitas proses belajar-mengajar ,yang pada gilirannya sangat menentukan kulaitas lulusan itu.Hal tersebut dapat diketahui dari berbagai hasil penelitian tentang unjuk kerja sekolah dan murid.

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 84 Jika kita melihat administrasi pendidikan sebagai sistem,maka kita berusaha melihat bagian-bagian sistem itu serta interaksinya satu sama lain.Bagian-bagian itu sering juga disebut dengan komponen .Dengan meninjau komponen-komponen tersebut serta hubungannya satu dengan lainnya ,diharapkan kita dapata menemukan kekurangan-kekurangannya,sehingga dapat menetapkan apa yang sebaiknya dilakukan untuk memperbaiki komponen itu atau mengembangkannya.

Admnistrasi pendidikan juga dapat dilihat dari segi manajemen.Jika administrasi dilihat dari sudut ini,perhatian tertuju kepada usaha untuk melihat apakah pemanfaatan sumber-sumber yang ada dalam mencapai tujuan pendidikan sudah mencapai sasaran yang ditetapkan dan apakah dalam pencapaian tujuan itu tidak terjadi pemborosan.Sumber yang dimaksud dapat sumber manusia,uang,sarana,dan prasarana maupun waktu.

Administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari segi kepemimpinan.Administrasi pendidikan dilihat dari kepemimpinan merupakan usaha untuk menjawab pertanyaan bagaiamana kemampuan administrator pendidikan itu,apakah ia dapat melaksanakan tut wuri handayani,ing madyo mangun karso,dan ing ngarso sungtulodo dalam pencapaian tujuan pendidikan.Dengan perkataan lain ,bagaimana ia menggerakkan orang lain untuk bekerja lebih giat dengan mempengaruhi dan mengawasi ,bekerja bersama-sama ,dan memberi contoh.Sudah barang tentu administrator yang ingin berhasil harus memahami teori dan praktek kepemimpinannya,serta mampu dan mau untuk melaksanakan pengetahuan dan kemauannya itu.

Administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari proses pengambilan keputusan .Kita tahu bahwa melakukan kerja sama dan memimpin kegiatan sekelompok orang bukanlah pekerjaan yang mudah.Setiap kali,administrator dihadapkan kepada bermacam-macam masalah,dan ia harus memecahkan masalah itu.Untuk memecahkan masalah tersebut diperlukan kemampuan dalam mengambil keputusan,yaitu memilih kemungkinan tindakan yang terbaik dari sejumlah kemungkinan-kemungkinan tindakan yang dapat dilakukAN.Setiap hari kita sebagai individu pun harus juga mengambil keputusan ,sebab memang untuk setiap aspek kehidupan kita dihadapkan kepada banyak pilihan ,apalagi kalau kita mempunyai tugas menjadi guru atau memimpin organisasi.Dalam melaksanakan tugasnya,setiap guru harus mengambil keputusan apa yang terbaik

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 85 bagi muridnya.Karena mengambil keputusan selalu ada risikonya ,maka guru harus mempelajari bagaimana mengambil keputusan yang baik .Administrasi pendidikan merupakan ilmu yang dapat menuntun pengambilan keputusan pendidikan yang baik.

Administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari segi komunikasi.Komunikasi dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha untuk membuat orang lain mengerti apa yang kita maksudkan,dan kita juga mengerti apa yang dimaksudkan orang lain itu.Jika dalam kerja sama pendidikan tidak ada komunikasi ,maka orang yang bekerja sama itu saling tidak mengetahui apa yang dikerjakan atau apa yang dimaui teman sekerjanya .Bila hal ini terjadi sebenarnya kerja sama itu tidak ada dan oleh karena itu administrasipun tidak ada.

Administrasi pendidikan seringkali diartikan dalam pengertian yang sempit yaitu kegiatan ketatausahaan yang intinya adalah kegiatan rutin catat-mencatat, mendokumentasikan kegiatan, menyelenggarakan surat-menyurat dengan segala aspeknya, serta mempersiapkan laporan. Pengertian yang demikian tidak terlalu salah, karena setiap aspek kegiatan administrasi dengan pengertian diatas, selalu memerlukan kegiatan pencatatan. Hanya yang perlu diingat, kegiatan tata usaha itu tidak seluruhnya mencerminkan pengertian administrasi dalam arti seperti yang diapaprkan pada butir-butir diatas.

Uraian diatas mencoba menjelaskan pengertian administrasi pendidikan,tanpa mengemukakan definisi dengan satu pengertian saja.Seperti telah disinggung di muka,satu definisi saja tidak dapat menjelaskan dengan gamblang administrasi pendidikan,karena administrasi pendidikan mempunyai banyak muka (dimensi). Perlu pula dicatat, bahwa administrasi pendidikan dapat pula ditinjau dari cakupannya. Ada administrasi pendidikan pada satuan pendidikan seperti administrasi pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi serta kursus-kursus.; dan ada pula administrasi pendidikan yang dilihat dari cakupan wlayah, yaitu tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional. Pusat perhatian bab ini adalah administrasi pendidikan pada tingkat sekolah menengah.

2.Konsep Administrasi Pendidikan a.Sistem Pendidikan Nasional

Barangkali cara yang paling baik untuk memahami sistem pendidikan nasional adalah dengan membaca definisi sistem

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 86 pendidikan nasional itu dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Supaya o tentik dan tidak keliru, ada baiknya dikutip langsung Bab 1 Pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang tersebut sebaga berikut: “Sistem pendidikan nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional.”

Dalam penjelasan undang-undang tersebut,dikemukakan bahwa sebutan sistem pendidikan nasional merupakan perluasan dari pengertian sistem pengajaran nasional yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab XIII Pasal 31 Ayat 2. Perluasan ini memungkinkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tidak membatasi pada pengajaran saja, melainkan meluas kepada masalah yang berhubungan dengan pembentukan manusia indonesia.

Beberapa hal lain yang kita temukan mengenai sistem pendidikan nasional dalam undang-undang itu adalah : (a) sistem pendidikan nasionla merupakan alat dan sekaligus tujuan yang sangat penting dalam mencapai cita-cita nasional; (b) sistem pendidikan nasional dilaksanakan secara semeseta, menyeluruh dan terpadu.Ssemesta diartikan sebagai terbuka bagi seluruh rakyat dan berlaku diseluruh wilayah negara:menyeluruh diartikan sebagai mencakup semua jalur ,jenjang,dan jenis pendidikan naisonal itu dengan seluruh usaha pembangunan nasional; (c) pengelolaan sistem pendidikan nasional adalah tanggung jawab menteri P dan K (UUSPN No 2/89 Pasal 49).

Pertama,sistem pendidikan nasional mempunyai satuan dan kegiatan.Satuan pendidikan adalaha lembaga kegiatan belajar-mengajar yang dapat mempunyai wujud sekolah, kursus, kelompok belajar, ataupun bentuk lain yang berlangsung dalam bangunan tertentu atau tidak.Yang terakhir ini misalnya satuan pendidikan yang penyelenggaraannya menggunakan sistem jarak jauh. Dengan kegiatan pendidikan yang dimaksudkan untuk semua usaha yang ditujukan dalam mencapai tujuan pendidikan.Kegiatan itu dapat berlangsung dalam satuan pendidikan atau dalam unit lain yang terkait, seperti yayasan. Dengan perkataan lain ,kegiatan yang dimaksud merupakan kegiatan yang dilakukan oleh unsur atau komponen sistem dalam mencapai tujuan pendidikan baik sendiri-sendiri atau melalui interaksi dengan sesamanya .

Kedua,Sistem pendidikan nasional adalah alat dan tujuan dalam mencapai cita-cita pendidikan nasional. Sebagai alat berarti sistem itu

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 87 merupakan wadah yang dialaminya terdapat kegiatan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sebagai tujuan, sistem pendidikan nasional memberikan rambu-rambu ke mana arah dan bagaimana seharusnya pendidikan nasional itu dikelola.

Ketiga, sebagai suatu sistem ,pendidikan nasional harus dilihat sebagai keseluruhan unsur atau komponen dan kegiatan pendidikan yang ada di nusantara ini.Unsur-unsur yang membentuk sistem ini saling berkaitan satu sama lain dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional. Jika kita mengacu kepada penjelasan Undang-Undang Nomor 2/1989, maka dapat kita temukan bahwa ciri sistem pendidikan nasional itu adalah: (a) berakar kepada kebudayaan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, (b) merupakan suatu kebulatan yang dikembangkan dalam usaha mencapai tujuan nasional, (c) mencakup jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah, dan (d) mengatur jenjang, kurikulum, penetapan kebijaksanaan (terpusat dan tak terpusat), tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan, kriteria dan kedudukan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah dan masyarakat, kebebasan penyelenggaraan pendidikan, serta kemudahan untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan peserta didik dan lingkungan.

Unsur-unsur sistem pendidikan nasional menurut Undang-undang Nomor 2/1989 itu dapat dibedakan atas:

a. Unsur I : Dasae, fungsi, dan tujuan sistem (Bab I)

b. Unsur II : Norma yang dipakai dalam sistem (Bab III, X, XI,XII, XII, Bab XVIII, XV, Bab XIX, XX)

c. Unsur III : Jenjang pendidikan (Bab V) d. Unsur IV : Peserta didik (Bab VI)

e. Unsur V : Tenaga kependidikan (Bab VII) f. Unsur VI : Sumber daya pendidikan (Bab VIII) g. Unsur VII : Kurikulum (Bab IX)

h. Unsur VII : Organisasi (Bab XIV,XV)

b.Sekolah sebagai Bagisn Sitem Pendidikan Nasional

Telah disebutkan bahwa jenjang pendidikan adalah unsur atau komponen sistem pendidikan nasional,yaitu termasuk dalam komponen organisasi.Jenjang pendidikan terdiri atas pendidikan dasar,pendidikan menengah,pendidikan tinggi.Pendidikan dasar

STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Buku Ajar Profesi Kependidikan 88 merupakan pendidikan sembilan tahun,terdiri dari program pendidikan enam tahun disekolah dasar dan program tiga tahun disekolah lanjutan tingkat pertama.Bentuk satuan pendidikan dasar terdiri atas sekolah dasar dan sekolah dasar luar biasa.Jika kita bebrbicara tentang sekolah menengah,maka kita berbicara tentang dua jenjang sekolah,karena sekolah menengah pertama berada dijenjang dasar ,sedangkan sekolah diatas sekolah menengah pertama berada pada jenjang pendidikan menengah.Program pendidikan S1 dan LPTK ,dirancang untuk mengajar pada jenjang pendidikan menengah,meskipun dengan kurikulum yang fleksibel (luwes) lulusan S1 itu juga mampu mengajar pada pendidikan dasar.

Didalam peraturan pemerintah republik indonesia Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menangah ,pendidikan menengah didefinisikan sebagai pendidikan yang diselenggarakan bagi lulusan pendidikan dasar.Pendidikan menengah mempunyai bentuk satuan pendidikan yang terdiri atas : sekolah menengah umum,sekolah menengah kejuruan,sekolah menengah keagaaman,sekolah menengah kedinasan,dan sekolah menengah luar biasa.Sebagai suatu unsur atau komponen nasional,sekolah menengah harus ikut menyumbang terhadap tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Berikut ini diberikan bagan yang melihat sistem pendidikan dari unsur-unsur yang ada didalamnya .Sebagai suatu proses sistem,pendidikan mempunyai masukan yang diolah melalui proses tertentu untuk dijadikan keluaran.Peserta didik sebagai masukan,diolah dalam proses pendidikan dan keluaran sebagai lulusan.Untuk memudahkan unsur-unsur sistem pendidikan itu

Berikut ini diberikan bagan yang melihat sistem pendidikan dari unsur-unsur yang ada didalamnya .Sebagai suatu proses sistem,pendidikan mempunyai masukan yang diolah melalui proses tertentu untuk dijadikan keluaran.Peserta didik sebagai masukan,diolah dalam proses pendidikan dan keluaran sebagai lulusan.Untuk memudahkan unsur-unsur sistem pendidikan itu

Dalam dokumen DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR (Halaman 84-96)