• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fungsi dan Penggunaan Setsuzokujoshi Kara dan Node

盛りつける

3. Fungsi dan Penggunaan Setsuzokujoshi Kara dan Node

ので 23%

3. Fungsi dan Penggunaan Setsuzokujoshi Kara dan Node

Terdapat kalimat yang dapat disubstitusikan berdasarkan kesamaan ciri pada fungsi dari setsuzokujoshi ( 接続助詞) から dan ので. Banyaknya kalimat yang menggunakan setsuzokujoshi ( 接 続 助 詞 ) から dan の で yang bisa disubstitusi ini sebanyak 92 kalimat (23%), dan sisanya hanya penggunaan か ら saja 243 kalimat (60%), serta penggunaan の で saja 69 kalimat (17%).

Diagram Perbandingan Substitusi から dan ので

/AGST 2019

TABEL PERBANDINGAN FUNGSI SETSUZOKUJOSHI から

教科書 接続助詞「から」の機能

A1 A2 A3 A4 A5

Minna No Nihongo 1 20 24 31 0 10

Minna No Nihongo 2 23 96 7 3 30

New Approach 7 27 8 3 4

JUMLAH 50 147 46 6 44

TOTAL SAMPEL 293

GRAFIK PERBANDINGAN FUNGSI SETSUZOKUJOSHI から

TABEL DAN GRAFIK PERBANDINGAN PENGGUNAAN ので TABEL PERBANDINGAN FUNGSI SETSUZOKUJOSHI ので

教科書 接続助詞「ので」の機能

B1 B2 B3 B4 B5 B6

Minna No Nihongo 1 0 0 0 0 0 0

Minna No Nihongo 2 2 4 15 22 12 3

New Approach 1 6 6 23 13 4

JUMLAH 3 10 21 45 25 7

TOTAL SAMPEL 111

/AGST 2019

GRAFIK PERBANDINGAN FUNGSI SETSUZOKUJOSHI ので

Kesimpulan

Setsuzokujoshi か ら menekankan pada alasan yang ingin disampaikan, sedangkan の

で menekankan pada efek / hasil dari alasan yang disampaikan. Oleh karenanya から sering digunakan untuk menyampaikan kemauan. Penilaian dan perintah, sedangkan の で digunakan untuk meminta izin dan alasan menolak terhadap suatu ajakan secara sopan.

Menurut hasil analisis data, か ら (50%) sering digunakan dalam alasan yang menunjukan kemauan yang kuat seperti perintah, dasar dalam memberikan saran terhadap hal lain. Karena banyak dipengaruhi oleh pemikiran / penilaian pribadi pembicara maka dikatakan から bersifat subjektif dalam menyampaikan alasan.

Menurut hasil analisis data, の で (41%) banyak digunakan untuk mengungkapkan sebab terjadinya suatu hal dan alasan atas permintaan lawan bicara. の で digunakan untuk mengutarakan sebab dari peristiwa atau situasi yang bersifat objektif tanpa dipengaruhi oleh pendapat atau pandangan pribadi.

/AGST 2019

か ら dan の で dapat saling menggantikan apabila digunakan untuk menyatakan alasan berupa fenomena fisik dan alam (menyatakan alasan yang diambil berdasarkan fakta atau peristiwa yang terjadi secara alamiah). Hal tersebut didasarkan pada kemiripan fungsi か ら yaitu digunakan untuk menunjukan sebab yang diambil berdasarkan fakta atau kejadian yang terjadi secara alamiah (Iori Isao) dengan fungsi の で yaitu digunakan untuk menggambarkan fenomena alam dan fenomena fisik (Miyajima).

か ら dan の で dapat saling menggantikan apabila digunakan untuk menyatakan alasan yang berkaitan dengan unsur emosi atau perasaan. Hal tersebut diambil berdasarkan kemiripan fungsi dimana か ら yang diletakan setelah kata benda abstrak dari ekspresi emosi, menunjukan aktivitas yang berkaitan dengan faktor emosional dari klausa sebelumnya (Kawashima), memiliki ciri yang sama dengan の で yang digunakan untuk menggambarkan objektifitas perasaan yang mengandung unsur emosi (Miyajima).

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Bandung: Rineka Cipta.

Iori, Isao. 2000. Shokyuu Wo Oshieru Hito No Tame No Nihongo Bunpou Handobukku.

Tokyo: Suriiee Nettowaaku.

Miyajima. et al. (Ed). 1995. Nihongo Ruigi Hyougen No Bunpou. Tokyo: Kuroshio Shuppan.

Oyanagi, Noboru. 2004. New Approach Japanese Intermediate Course. Tokyo: Nihongo Kenkyuusha.

Ogawa, Iwao. 2008. Minna No Nihongo I. Surabaya: International Mutual Activity Foundation (IMAF) Press.

. 2008. Minna No Nihongo II. Surabaya: International Mutual Activity Foundation (IMAF) Press.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis bahasa ( Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik). Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sudjianto dan Ahmad Dahidi. 2004. Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta: Kesaint Blanc.

Sutedi, Dedi. 2003. Dasar-Dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora Utama Press (UPI Press).

Tomita, Takayuki. 1991. Bunpou No Kiso Chisiki To Sono Oshiekata.

Toshiko, Tanaka. 1990. Tanaka Toshiko no Nihongo Bunpou. Tokyo: Kindai Bungeisha.

Umabuchi, Kazuo. 1963. Koubun Bunpou. Tokyo: Musashino Shoin.

/AGST 2019

Asimiliasi Imigran Jepang di Brasil antara Nasionalisme dan Estado Novo Erni Puspitasari

Abstrak

Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis asimilasi imigran Jepang di Brasil yang berkaitan dengan nasionalisme imigran Jepang dan kebijakan estado novo yang dibuat oleh Gestulio Vargas. Estado novo adalah sebuah kebijakan yang ingin menjadikan semua etnis memiliki nasionalisme Brasil.

Metode yang digunakan adalah metode kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa nasionalisme imigran Jepang yang kuat menjadi penghambat untuk melakukan asimilasi di Brasil. Pemberlakukan kebijakan estado novo memaksa imigran Jepang untuk menerima pembatasan pembatasan yang diterapkan oleh pemerintah Brasil. Pembatasan dilakukan di berbagai bidang, mulai dari pelarangan penggunaan bahasa Jepang di tempat umum, penutupan sekolah sekolah Jepang, dan pembredelan media berbahasa Jepang. Pembatasan ini menjadi lebih ekstrim ketika masa perang dunia kedua, ketika Brasil berada di blok sekutu, maka terjadi deportasi, pemaksaan masuk kamp interniran, penyitaan aset perusahaan Jepang dan imigran, hingga penyiksaan, pemenjaraan dan pembunuhan.Setelah perang dunia kedua pemerintah Brasil secara resmi meminta maaf kepada kaum imigran yang selamat, tetapi tidak memberikan konpensasi dan tidak mengembalikan aset aset milik Jepang yang tersimpan rapi di bank sentral Brasil hingga kini.

Kata kunci : Asimilasi, imigran Jepang, nasionalisme, estado novo Pendahuluan

Para imigran Jepang pada umumnya tidak terlalu perduli untuk belajar bahasa Portugis atau berintegrasi dengan masyarakat Brasil, tidak seperti bangsa lain pada umumnya. Mereka hanya berupaya pada upaya komunal yang berpusat kepada pemeliharaan adat istiadat budaya yang mereka lakukan semenjak dari negara asal. Karena imigrasi ke Brasil berorientasi kepada keluarga, maka pertumbuhan masyarakat secara normal dapat berjalan dengan baik. Mereka membesarkan anak anak mereka sebagaimana mereka membesarkan anak mereka di Jepang, terutama di daerah pedesaan. Masyarakat Jepang juga mendirikan sekolah sendiri. Hal ini berbeda dengan imigrasi ke Amerika Serikat yang bukan berasal dari imigrasi keluarga

Sementara itu keadaan pemukiman Jepang di Brasil tidak selalu kondusif, tetapi bahasa Jepang, Karakteristik Kaisar dan Sistem kepercayaan Shinto diajarkan di sekolah tersebut ( Shoji, 2008). Pada tahun 1927 Asosiasi Pendidikan Jepang di selenggarakan di Brasil oleh Konsul Jenderal Jepang di Sao Paolo. Pada tahun 1929 asosiasi ini diganti menjadi Asosiasi Orang Tua Siswa di Sekolah Jepang di Sao Paolo. Dalam beberapa kasus komunitas Jepang dapat mengelola sekolah umum dengan bekerjasama dengan pemerintah Brasil. Kurikulum yang digunakan adalah gabungan dari pendidikan Jepang dengan kurikulum Brasil. Sejak tahun 1936 pemerintah Jepang menawarkan dukungan bantuan keuangan langsung kepada sekolah sekolah melalui Asosiasi Penyebaran Pendidikan Jepang di Brasil ( Burjiru Nihonjin Kyouiku Fukyuukei). Ciri dari pendidikan Jepang pasca periode Meiji adalah nasionalisme,

/AGST 2019

yang menghasilkan interpretasi ritual etnis Jepang melalui kultus temporal atau perasaan dari asal yang sama. (Shoji 2008)

Di lain pihak gelombang besar imigran Jepang, dengan latar belakang invasi Jepang ke Cina timur laut pada tahun 1931, menimbulkan kekhawatiran di antara orang Brasil, yang dirangsang oleh nasionalisme mereka sendiri, dan berkembang menjadi kampanye anti-Jepang pada tahun 1933-34. Para pendukung kampanye ini berpendapat bahwa Jepang bukanlah komponen rasial yang ideal untuk Brasil karena budaya mereka terlalu berbeda dan orang orang Jepang cenderung terlalu kuat sistem kekeluargaannya, mandiri dan tidak mau berasimilasi dengan masyarakat Brasil. "Orang Jepang tidak larut seperti belerang," klaim Oliveira Vianna, ilmuwan sosial terkemuka Brasil, pada tahun 1932. "Tidak larut seperti belerang" menjadi frasa yang sering digunakan oleh pendukung anti-Jepang. Mereka juga curiga bahwa Jepang militeristik. Yang paling radikal di antara pendukung anti-Jepang, anggota Kongres Xavier de Oliveira, menyebut imigrasi Jepang ke Amerika Latin sebagai

"imigrasi untuk penaklukan," dan berpendapat bahwa setiap imigran adalah seorang prajurit yang menyamar. "Brasil adalah Manchuria di Amerika Selatan," katanya. Dalam suasana seperti itu, maka Undang Undang untuk membatasi imigrasi disahkan pada tahun 1934, dengan Jepang sebagai target khususnya.

Presiden Getulio Vargas selama 1937 sampai tahun 1945 bertindak secra kontradiktif, di satu sisi dia mendorong pembatasan imigran Jepang, di sisi yang lain mengambil langkah untuk membawa Jepang ke Brasil. Sementara itu pada awal kedatangan imigran Jepang pada awal abad 20 kelompok yang menentang imigrasi Jepang menguatkan argument mereka dengan teori rasial. Para elit Brasil beragumen bahwa lambatnya kemajuan Brasil karena Negara tersebut dihuni oleh ras yang lebih rendah yakni kulit hitam dan India, dan Negara tersebut hanya akan berkembang karena populasinya berubah, yakni menjadi lebih putih, ketika siklus imigrasi orang kulit hitam berakhir ke Brasil. Sehingga mereka focus kepada imigran Jepang yang mulai berdatangan. Sementara itu para petani di Sao Paolo bersikap pragmatis, karena mereka hanya butuh pekerja dan tidak perduli dengan ras. Asallkan mereka dapat bekerja dengan baik

Menjelang Perang Dunia II, guna menciptakan nasionalisme Brasil yang berdasarkan asimaialasi, maka dalam bidang pendidikan mulai diterapkan penggunaan bahasa Portugis sebagai bahasa pengantar. Kepala sekolah juga harus orang Brasil. Pelarangan media cetak dalam bahasa asing untuk komunitas tertentupun diterapkan oleh pemerintah Brasil.

/AGST 2019

Pembatasan pembatasan pembatasan yang dilakukan pemerintah Brasil pada tahun 1939 , dianggap sebagai permusuhan oleh komunitas Jepang di Brasil, hal ini berakibat banyaknya orang Jepang yang ingin kembali ke Jepang. Sementara itu Tindakan tindakan kekerasan terhadap warga Jepang juga terus berlanjut hingga Perang dunia kedua. Kekerasan yang diterima berupa kekerasan fisik dan verbal.

Kajian Pustaka