• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Hasil Penelitian Semester Genap 2018/2019-ISSN : VOLUME VII / NO. 2 /AGST. 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prosiding Seminar Hasil Penelitian Semester Genap 2018/2019-ISSN : VOLUME VII / NO. 2 /AGST. 2019"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

/AGST. 2019

====================================================================================================================================================

========================

(2)

/AGST 2019

(3)

/AGST 2019

PROSIDING SEMINAR HASIL PENELITIAN SEMESTER GENAP 2018/2019

UNIVERSITAS DARMA PERSADA

Pelindung : Rektor Universitas Darma Persada Penangung Jawab : Wakil Rektor I

Pimpinan Redaksi : Kepala Lembaga Penelitian, Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan

Anggota Redaksi : Prof.Dr. Kamaruddin Abdullah, IPU.

Dr. Gatot Dwi Adiatmojo Dr. Aep Saepul Uyun, M.Eng Dra. Irna N. Djajadiningrat, M.Hum.

Drs. Rusydi M. Yusuf, M.Si.

Alamat Redaksi : Lembaga Penelitian, Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Universitas Darma Persada Jl. Taman Malaka Selaltana) Pondok Kelapa - Jakarta Timur (14350)

Telp. (021) 8649051, 8649053, 8649057 Fax.(021) 8649052

E-Mail : [email protected]

Home page : http://www.unsada.ac.id

(4)

/AGST 2019

(5)

DAFTAR ISI

i iii 1 - 9

10 - 22

23 - 24 35 – 42 43 – 52

53 – 61 62 - 73

74 - 82

83 - 92 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

Penggunaan Buku Dekiru Nihongo-Chuukyu dalam Matakuliah Jissen Kaiwa III

Bertha Nursari, Zainur Fitri, Irawati Agustine, Yunita Hapsari

Fungsi dan Penggunaan Kalimat Kondisional Bahasa Jepang ―shidai‖ dan

―kagiri‖ Berdasarkan Modalitas dan Teori Teritori Informasi Ari Artadi, Hari Setiawan, Arienda Nur Alif Oktavia Fenomena Ikumen dalam Masyarakat Jepang

Indun Roosiani, Septa Nursetianingsih

Makna Fukugoudoushi dalam Buku New Approach Chuukyuu Nihonggo Herlina, Ni Luh Suparwati, Alya Fauziyah

Analisis Fungsi dan Penggunaan Setsuzokujoshi Kara dan Node dalam Kalimat Bahasa Jepang

Hermansyah Djaya, Hargo Saptaji

Asimilasi Imigran Jepang di Brazil antara Nasionalisme dan Estado Novo Erni Puspitasari,

Gambaran Kehidupan Masyarakat Jepang tahun 1928-1945 dalam Novel Nijusshi no Hitomi Karya Sanae tsuboi

Metty Suwandhany, Tia Martia, Dila Rismayanti, Sicka Melinda, Ai Nuraini

Peranan Abraham Lincoln dalam Perlindungan Hak Azasi Manusia (Studi Kasus Perbudakan di Amerika)

Rusydi M. Yusuf

Analisis Performa Panel Akustik Berbasis Serbuk Gergaji dengan Perekat PVC

Shahrin Febrian

Studi Kelayakan Penggunaan Kapal Pinisi Wisata Bahari di Indonesia Arif Fadillah, Putra Pratama, Rizky Irvana, Bondan Kartika , Rizqi H.

93 – 102

(6)

===================================================================================================================================================

Analisa Keunggulan Refrijeran R-32 sebagai Fluida Kerja yang Ditetapkan untuk Pembangkit Listrik Sistem Organic

Muswar Muslim

103 - 111

Analisa Bahan Ajar Marugoto A1 pada Matakuliah Bahasa Jepang Program Trilingual

Kun M. Permatasari, Riri Hendriati, Juariah

112 - 117

Identification Of 'Miko' In Japan And Their Religious Roles

Rima Novita Sari, Herlina Sunarti, Ni Luh Suparwati, M. Egi Wardana 118 - 128 Analisis Kesulitan Pelajar Indonesia dalam Mempelajari Gramatika Bahasa Jepang

Andi Irma Sarjani, C. Dewi Hartati 129-141

Perkembangan Islam di Jepang Dalam Prespektif Ekonomi Pada Era Pemerintahan Shinzo Abe

Nabila Ayu, Indun Roosiani, Erni Puspitasari

142 - 156

(7)

/AGST 2019

KATA PENGANTAR

Seminar hasil penelitian para dosen Unsada semester genap tahun akademik 2018/2019 dengan tema ―MENINGKATKAN MUTU DAN PROFESIONALISME DOSEN MELALUI PENELITIAN‖ telah dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2019 di Universitas Darma Persada. Seminar hasil penelitian para dosen tersebut diadakan dengan harapan dapat menghasilkan inovasi-inovasi teori maupun inovasi-inovasi teknologi tepat guna dan juga menyampaikan hasil penelitiannya kepada sesama dosen dilingkungan sivitas akademika Unsada.

Prosiding ini disusun dengan menghimpun hasi-hasil penelitian para dosen yang telah diseminarkan dan telah diperbaiki berdasarkan masukan-masukan pada seminar tersebut.

Tujuan disusunnya prosiding seminar ini adalah untuk mendokumentasikan dan mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian para dosen yang telah diseminarkan. Pada prosiding edisi semester genap tahun akademik 2018/2019 ini berisi 8 makalah, bidang Humaniora.

Pada kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih kepada para peneliti, penyaji dan para penulis makalah, penyunting serta panitia yang telah bekerja sama, sehingga prosiding ini dapat diterbitkan. Selanjutnya harapan kami semoga prosiding ini dapat bermanfaat bagi para pihak yang berkepentingan.

Jakarta, 27 Agustus 2019

Kepala

Lembaga Penelitian, Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan

(8)

Abstrak

Penggunaan Buku Dekiru Nihongo – Chuukyuu di kelas Jissen Kaiwa III

Bertha Nursari, Zainur Fitri, Irawati Agustine, Yunita Hapsari

Penelitian ini dilakukan dengan metode Classrom Action Research (Penelitian Tindakan Kelas) menggunakan buku teks Dekiru Nihongo Chukyuu untuk kelas Jissen Kaiwa III yang merupakan kelas percakapan (kemampuan berbicara). Subyek penelitian adalah mahasiswa program D3 Bahasa Jepang semester VI. Hasil yang ditemukan adalah informasi tentang penggunaan buku teks Dekiru Nihongo yang cukup baik dalam upaya meningkatkan kemampuan mahasiswa dan sejalan dengan penguasaan kemampuan Can-do di kelas. Dari penelitian diperoleh input bahwa dengan menggunakan buku teks ini yang sejalan dengan capaian Can-do di kelas Jissen Kaiwa III, ada beberapa hasil positif dan negatif yang didapatkan. Hasil positif dan negatif ini membutuhkan analisis yang lebih mendalam lagi dalam upaya meningkatkan kemampuan pemelajar di kelas kemampuan berbicara.

kata kunci : bahasa Jepang, percakapan, dekiru nihongo, can-do, action research Pendahuluan

Pembelajaran bahasa Jepang yang dilakukan saat ini tidak hanya berpusat pada silabus tata bahasa melainkan juga menganggap penting silabus Can-do. Menurut buku panduan JF Standard (2017), Can-do sendiri menunjukkan tingkat kematangan pencapaian bahasa yang dinyatakan dengan format ―Mampu..‖. Can-do memiliki perbedaan dengan penangkapan tingkat kematangan yang telah mengetahui pola kalimat dan gramatika apa yang sudah dipelajari, berapa kata atau kanji yang sudah diketahui oleh pemelajar, karena Can-do merupakan indikator yang menunjukkan contoh aktivitas bahasa yang mampu dilakukan pada tingkat kematangan bahasa atau pemahaman bahasa yang dimiliki. Bagi mata kuliah kaiwa (percakapan), salah satu aktivitas yang dilakukan di kelas adalah melakukan komunikasi antar dua pihak atau lebih. Kemampuan pemelajar untuk memahami apa yang disampaikan oleh lawan bicara baik yang tersirat maupun tersurat adalah sesuatu yang harus dikuasai oleh pemelajar terutama pada level menengah. Kesulitan yang dihadapi oleh pemelajar adalah pengajaran yang memiliki fokus pada tata bahasa dan cenderung sedikit mengabaikan praktik langsung dari kemampuan bahasa yang telah dikuasai oleh pemelajar, karenanya kami sebagai peneliti tertarik untuk mengulas buku teks ―Dekiru Nihongo Chukyu‖ karena dianggap menggambarkan tentang aktivitas Can-do yang menjadi daya tarik dari pengajaran ini.

Selain itu, dengan mengadakan penelitian menggunakan sumber buku teks ini, diharapkan dapat menjadi suatu masukan bagi proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas.

(9)

Tinjauan Pustaka 1. JF Standard

JF Standard memiliki konsep ―Bahasa Jepang untuk Pemahaman Lintas Budaya‖

yang bertujuan memposisikan bahasa Jepang sebagai salah satu bahasa di dunia yang hidup dalam kondisi masyarakat dengan berbagai kebudayaan yang berbeda-beda (Buku Panduan JF Standard, 2017). Konsep ―Bahasa Jepang untuk Pemahaman Lintas Budaya‖

ini memiliki 4 karakteristik sebagai berikut:

1. Menganggap komunikasi sebagai aksi bersama

2. Ada wadah dan wilayah untuk melakukan aksi bersama

3. Mendorong komunikasi anatara pengguna bahasa Jepang melewati batas negara dan suku

4. Dengan mempelajari dan menggunakan ―Bahasa Jepang untuk Pemahaman Lintas Budaya‖ memberikan kesempatan pemelajar untuk bersinggungan dengan bahasa dan kebudayaan yang berbeda dari bahasa ibunya.

Selain empat karakteristik di atas, JF Standard juga membagi kemampuan bahasa menjadi tiga unsur yaitu:

1. Kemampuan Linguistik adalah kemampuan yang berhubungan dengan kosakata, tata bahasa, pelafalan, huruf, penulisan, dan seterusnya. Kemampuan ini mencakup kemampuan penguasaan kosakata dan tata bahasa, kemampuan pemahaman makna, kemampuan pelafalan, serta kemampuan membaca dan ortografi (kemampuan menulis huruf, kata, dan kalimat).

2. Kemampuan Sosiolinguistik adalah kemampuan menggunakan bahasa secara tepat dengan menaati berbagai peraturan dalam berinteraksi dengan memperhatikan hubungan dengan lawan bicara ataupun situasi pembicaraan yang dilakukan.

3. Kemampuan Pragmatik adalah dua kategori kemampuan yaitu kemampuan diskursus (wacana) dan kemampuan fungsional. Kemampuan diskursus adalah kemampuan untuk menyusun dan mengontrol diskursus. Kemampuan fungsional adalah kemampuan yang digunakan dengan benar setelah mengetahui peran dan tujuan (contoh: memberitahu suatu peristiwa, membujuk).

(10)

JF Standard (2017) kembali membagi tingkat kematangan berbahasa Jepang menjadi 6 level sesuai dengan kemampuan penyelesaian tugas (Can-do). Berikut adalah 6 level beserta penjelasannya.

1. Pengguna Bahasa Jepang Dasar (Level A1 dan A2) 2. Pengguna Bahasa Jepang Mandiri (Level B1 dan B2) 3. Pengguna Bahasa Jepang Mahir (Level C1 dan C2) Setiap level memiliki kemampuan yang berbeda-beda, yaitu:

1. Level A1, mampu membaca ungkapan yang sangat pendek, sudah disiapkan sebelumnya dan sudah berlatih mengucapkannya. Misalnya perkenalan diri pembicara atau ucapan saat bersulang

2. Level A2, mampu menyampaikan presentasi pendek dan bersifat mendasar mengenai topik yang dikenal baik setelah berlatih sebelumnya

3. Level B1, mampu menyampaikan presentasi sederhana mengenai topik yang sangat diketahui karena merupakan bidang yang dikuasai dan telah mempersiapkan sebelumnya

4. Level B2, mampu melakukan presentasi yang telah disiapkan sebelumnya dengan cara penyampaian yang tegas

5. Level C1, mampu mempresentasikan topik yang rumit, dengan struktur yang jelas 6. Level C2, mampu berkomunikasi lisan mengenai isi pembicaraan yang rumit

dengan jelas dan penuh percaya diri, termasuk mengenai topik yang tidak dikenal baik sekalipun.

2. Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif adalah pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa tujuan pembelajaran bahasa adalah kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah, tetapi juga sebagai sarana atau alat untuk berkomunikasi sehingga bahasa digunakan sesuai fungsinya yaitu komunikatif. Pada pembelajaran nomi, bahasa yang komunikatif, kegiatan lebih berpusat pada siswa. Posisi guru sebagai fasilitator memberikan siswa kebebasan otonomi, tanggung jawab dan kreativitas yang lebih besar dalam proses belajar.

Tujuan pembelajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif adalah:

(11)

1. Mengembangkan kompetensi komunikatif siswa yaitu kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajarinya itu untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks.

2. Meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi.

Selain itu, materi pelajaran utama dari pendekatan komunikatif adalah:

1. Empat keterampilan berbahasa

2. Fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan siswa seperti fungsi bertanya, menjawab, menyapa, menyangkal, mengajukan pendapat, dll.

3. Variasi-variasi bahasa, di samping variasi baku/formal, untuk memungkinkan pemelajar mampu berbahasa sesuai konteks.

4. Sistem bahasa (struktur, kosakata, fonem, ejaan, intonasi, dan lafal)

5. Sastra yang tidak dijadikan bahasan yang berdiri sendiri, tetapi diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa (Dadan, 2008).

Sumber materi yang digunakan dalam pendekatan komunikatif sedapat mungkin adalah materi otentik, berupa bahasa otentik yaitu bahasa yang digunakan dalam konteks nyata, sehingga pemelajar akan dihadapkan pada bahasa nyata yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

3. Action Research Design (Disain Penelitian Aksi/ Tindakan)

Action Research Design adalah desain penelitian yang dilakukan dengan melalui beberapa tahapan (lihat gambar). Tahapan tersebut berupa:

1. Mengindentifikasi masalah yang ada di dalam kelas 2. Menjadikan masalah tersebut sebagai pertanyaan

3. Mengumpulkan sumber, seperti pihak yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan ini.

4. Mengumpulkan informasi dan data, baik berupa data kualitatif dan kuantatif 5. Mulai menyusun informasi yang telah didapatkan

6. Menceritakan tentang penelitian yang dilakukan 7. Menanyakan pertanyaan berikutnya.

(12)

Classroom Action Research merupakan salah satu contoh dari Action Research Design. Classroom Action Research dalam bahasa Indonesia disebut dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK ini merupakan penelitian yang dilakukan oleh pengajar (pendidik) di kelas atau tempat di mana dia mengajar, dengan fokus pada penyempurnaan proses dan praksis pembelajaran. PTK memiliki fungsi sebagai alat untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di dalam kelas dan juga sebagai alat seorang pengajar untuk menggunakan keterampilan dan metode-metode baru serta mempertajam kemampuan analitisnya. Selain itu PTK juga sebagai alat untuk memperbaiki komunikasi antara guru dengan peneliti ilmiah, dan juga sebagai alat yang dapat memberikan alternatif bagi permasalahan yang terjadi di kelas. PTK sendiri dilakukan dalam suatu siklus, terdiri dari 4 tahapan, yaitu (1) perencanaan aksi, (2) aksi pembelajaran, (3) kegiatan obsevasi, (4) refleksi untuk menganalisis data yang diperoleh melalui aksi (Siti, 2013)

Pembatasan dan Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti membatasi masalah penelitian pada penggunaan buku teks Dekiru Nihongo Chuukyuu pada kelas Jissen Kaiwa III yang akan dilakukan pada mahasiswa semester VI Prodi Bahasa Jepang D3 di Universitas Darma Persada. Sedangkan untuk perumusan masalah, adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana penggunaan buku teks Dekiru Nihongo Chuukyuu dan pelaksanaan Can-do di kelas Jissen Kaiwa III dengan menggunakan buku teks ini?

2. Seperti apa hasil yang didapatkan oleh pembelajar setelah mengikuti pembelajaran

(13)

menggunakan buku teks ini?

Metodologi

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Disain Penelitian Aksi (Action Research Design). Ada dua tipe Disain Penelitian Aksi yaitu Riset Aksi Praktis (Practical Action Research) dan Riset Aksi Partisipan (Participatory Action Research). Penelitian ini akan menggunakan Riset Aksi Praktis (Practical Action Research) dengan fokus pada Classroom Research Design (Penelitian Tindakan Kelas).

Dalam riset ini pengajar mencari permasalahan dalam kelasnya sendiri sehingga akan dapat meningkatkan kemampuan pemelajar sekaligus meningkatkan kemampuan prosesional pengajar sendiri.

Pembahasan

Dalam penelitian ini, kegiatan yang dilakukan adalah tindakan kelas (classroom research). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan penelitian yang dilakukan oleh pengajar (pendidik) di kelas atau tempat di mana dia mengajar, dengan fokus pada penyempurnaan proses dan praksis pembelajaran. Dalam penelitian ini, dilakukan di kelas Jissen Kaiwa III, di institusi tempat peneliti mengajar sekaligus kelas ini adalah kelas yang diampu oleh peneliti sendiri. PTK memiliki fungsi sebagai alat untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di dalam kelas dan juga sebagai alat seorang pengajar untuk menggunakan keterampilan dan metode-metode baru serta mempertajam kemampuan analitisnya. Selain itu PTK juga sebagai alat untuk memperbaiki komunikasi antara guru dengan peneliti ilmiah, dan juga sebagai alat yang dapat memberikan alternatif bagi permasalahan yang terjadi di kelas. PTK sendiri dilakukan dalam suatu siklus, terdiri dari 4 tahapan, yaitu (1) perencanaan aksi, (2) aksi pembelajaran, (3) kegiatan obsevasi, (4) refleksi untuk menganalisis data yang diperoleh melalui aksi (Siti, 2013).

Tahapan penelitian berikut penjelasannya :

1. Perencanaan Aksi ; dilakukan untuk mengetahui hal-hal yang perlu selama melakukan PTK. Di dalam penelitian ini, yang dilakukan adalah menentukan fokus masalah yaitu kurangnya keberanian siswa untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Jepang sedangkan ini adalah kelas kemampuan berbicara. Apakah ini karena buku teks yang dipergunakan terlalu fokus pada tata bahasa atau memang ada faktor lain yang menyebabkan siswa tidak percaya diri untuk berbicara dalam bahasa Jepang.

(14)

2. Aksi Pembelajaran ; dilakukan dengan menggunakan buku teks Dekiru Nihongo Chukyuu. Alasan kenapa menggunakan buku ini ada beberapa, yaitu a) karena buku ini termasuk terbitan baru, sehingga informasi yang ada di dalam buku ini lebih mendekati realita zaman sekarang. b) buku ini memuat bacaan singkat di setiap bab- nya, bacaan singkat menceritakan hal-hal menarik yang ada di Jepang baik budaya maupun bahasa yang sebelumnya tidak ditemukan dalam buku yang dipergunakan di semester-semester sebelumnya. c) Tata Bahasa dan kosakata yang muncul di dalam buku ini menuntut mahasiswa untuk menemukan sendiri makna dan artinya berdasarkan contoh-contoh kalimat yang diberikan, sehingga memberikan siswa kesempatan untuk belajar mandiri.

Aksi Pembelajarannya sendiri dilakukan selama dua kali dalam satu minggu, masing-masing 100 menit. Kegiatan yang dilakukan berpatokan pada materi yang ada di setiap bab-nya. Tetapi, ada kalanya peneliti melakukan sedikit modifikasi dengan meminta siswa melakukan presentasi singkat baik menggunakan powerpoint slide atau berbicara tanpa teks selama beberapa menit, tentunya menggunakan bahasa Jepang, dengan tema yang sesuai dengan bab yang sedang dibahas.

3. Kegiatan Obsevasi : kegiatan observasi ini dilakukan oleh peneliti dengan mencatat setiap hasil perkembangan siswa yang melakukan kegiatan di kelas. Apakah mereka sudah berhasil atau sudah mampu melakukan tugas (task) sesuai yang diminta.

Apakah mereka sudah menunjukkan level kemampuan berbahasa sesuai dengan yang diharapkan. Observasi berlangsung selama mata kuliah ini berlangsung yaitu 28 kali tatap muka. Tentunya, tidak semua kegiatan berupa presentasi atau melakukan pidato singkat, ada kalanya sebagai pengajar sekaligus peneliti meminta mereka untuk mencoba menjelaskan kalimat-kalimat yang ada di dalam buku guna memastikan apakah pemahaman mereka sudah tepat dengan yang dituju.

4. Refleksi untuk menganalisis data yang diperoleh melalui aksi, dari hasil observasi ditemukan beberapa hal yang menjadi perhatian peneliti dan juga para subjek dalam penelitian ini. Berikut hasil refleksi tersebut :

Sisi positif (+)

1) Buku ini membantu pemelajar bukan hanya dari bahasanya tetapi juga budaya dan kebiasaan yang ada di Jepang

2) Untuk materi bacaan informasi yang diberikan cukup baru

(15)

3) Buku ini pun banyak pola kalimat beserta contohnya yang memudahkan mahasiswa belajar.

4) Di setiap bab, terdapat informasi menarik masa kini tentang Jepang, sehingga menambah pengetahuan

5) Adanya latihan melakukan percakapan secara spontan, dengan menggunakan gambar tanpa ada dialog

6) Buku ini secara tidak langsung melatih kepercayaan diri mahasiswa dalam percakapan bahasa Jepang.

7) Ada banyak kosakata dan tata bahasa yang bisa membantu mahasiswa mengikuti JLPT

Sisi Negatif (-)

1) Terlalu banyak tulisan daripada gambar, sehingga mahasiswa tidak mendapatkan gambaran materi secara jelas.

2) Di bagian latihan percakapan, kurangnya detilnya penjelasan apa yang harus dilakukan, terget apa yang ingin dicapai, membuat mahasiswa bingung untuk memahami secara cepat.

3) Akibat mahasiswa terbiasa terpaku dengan pola tata bahasa, ketika mendapatkan bacaan informasi yang bahasanya informal atau bahasa masa kini terkadang masih ada sedikit kesulitan untuk memahami materi yang tertulis di dalam buku ini.

Kesimpulan

Penggunaan Buku Teks Dekiru Nihongo – Chukyuu yang dilakukan di kelas D3 Bahasa Jepang, ternyata memberikan efek positif pada mahasiswa dengan terpajannya mereka akan info tentang Jepang yang relatif baru. Tetapi ada juga kekurangan yang disadari oleh peneliti dan juga subjek penelitian, yaitu kemampuan setiap siswa di dalam kelas yang berbeda-beda. Ini perlu diperhatikan oleh pengajar agar tugas yang akan diberikan dan dikerjakan oleh siswa benar-benar dipahami, dan akhirnya mampu menyelesaikan tugas tersebut sesuai dengan target yang diinginkan. Sebagai contoh, informasi yang ada di dalam buku, tidak semua siswa mampu mencerna dengan baik, dikarenakan kemampuan berbahasa yang terkadang tidak atau belum mencapai level yang sesuai dengan bacaan tersebut. Sehingga sebagai pengajar perlu memikirkan alat bantu bagi siswa yang tepat sehingga mereka bisa mengatasi kekurangan tersebut.

(16)

Buku ini memang dapat memancing siswa untuk menggunakan bahasa Jepang secara spontan, karena ada bebarapa bagian dari buku ini yang memberikan gambar- gambar tanpa ada dialog, sehingga siswa dipancing untuk membuat dialog berdasarkan imajinasi sendiri, sesuai dengan tema yang diberikan. Hal ini baik untuk dilakukan karena akan menjadikan siswa paham apa yang ingin dikatakan, apa yang akan dikatakan, tidak hanya sekadar menghafal rentetan kalimat sehingga terkesan membeo. Tetapi, perlu diperhatikan, konteks dari gambar tersebut harus diperjelas oleh pengajar sehingga mahasiswa mampu mencapai target yang dituju. Kembali lagi, pengajar perlu melakukan banyak evaluasi terhadap cara penggunaan buku ini sehingga tujuan yang sudah dirancang sedari awal dapat tercapai.

Kendala lain yang dihadapi oleh pengajar terutama di dalam kelas adalah keterbatasan waktu. Diperlukan tindakan atau perlakuan tertentu oleh pengajar dan pemelajar, dapat berupa melakukan pemilihan materi yang akan dilakukan di kelas dan materi yang bisa dikerjakan di rumah, sehingga target pembelajaran tercapai. Selain itu, buku ini memang memuat banyak tata bahasa yang berkaitan dengan pembelajaran di level menengah. Tentu saja ini juga perlu untuk dibahas, tetapi karena kelas ini adalah kelas kemampuan berbicara maka sebaiknya memilih sub bab yang memiliki aktivitas berbicara agar siswa tidak lagi merasa ragu dan merasa takut salah untuk berbicara.

Daftar Pustaka

2017. . JF Standard bagi pendidikan bahasa jepang – Petunjuk pemakaian bagi pengguna (edisi terbaru). Japan Foundation : Jakarta

2012. Creswell, John W. Planning, conducting, and evaluating quantitave and qualitative Research. 4th ed. Pearson : Boston.

2008. Dadan Djuand. Studi tentang penerepan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa indonesia di kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang. Jurnal Pendidikan Dasar No.10 – Oktober 2008.

2013. Siti, Khasinah. Classroom action research. Jurnal Pionir. Vol 1. No 1. Juli –

Desember 2013. https://jurnal.ar-

raniry.ac.id/index.php/Pionir/article/viewFile/159/140 diakses 02 Juli 2019

(17)

Fungsi dan Pengunaan Kalimat Kondisional Bahasa Jepang

“kagiri” dan “shidai” berdasarkan Modalitas dan Teori Teritori Informasi Ari Artadi, Hari Setiawan, Arienda Nur Alif Oktavia

[email protected] Abstrak

Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis fungsi dan penggunaan pola kalimat ―shidai‖ dan

―kagiri‖ sebagai kalimat kondisional. Untuk itu, dengan mengunakan metode kualitatif, penelitian ini mengolah data contoh kalimat yang diambil dari surat kabar Jepang. Kemudian dianalisis berdasarkan modalitas pada akhir kalimat dan teori teritori informasi. Hasil analisis adalah, fungsi dan penggunaan kalimat kondisional yang muncul dari pola ―kagiri‖ dan ―shidai‖ adalah kalimat kondisional yang berupa hipotesis/asumsi/ dugaan (kateijoukenbun dan kalimat kondisional yang merupakan kejadian atau perihal yang berulang (jojutsujokenbun. Kemudian baik pola ―kagiri‖

maupun ―shidai‖ dapat memunculkan pola kalimat kondisional yang menunjukan kejadian lampau yang berunutan ( jijitsujoukenbun , namun pola ―kagiri‖ memunculkan kalimat kondisional yang menunjukan suatu temuan, sedangkan ―shidai‖ menunjukan kalimat kondisional yang merupakan kegiatan lampau berunutan. Penggunaan pola kalimat "shidai" pada dasarnya didominasi oleh kalimat kondisional hipotetis/asumsi/dugaan (kateijoukenbun. Dari sudut pandang modalitas, modalitas keinginan dapat digunakan diakhir kalimat. Sebaliknya, penggunaan bentuk "kagiri" oleh dapat berupa kalimat kondisional faktual berulang (jojutsujokenbun atau kalimat kondisional hipotesis (kateijoukenbun. Modalitas pada kalimat kondisional pola ―kagiri‖ sebagian besar adalah modalitas naratif, pertanyaan, penilaian, kesadaran, dan penjelasan. Modalitas yang menunjukan keinginan sulit ditemukan. Berdasarkan penggunaan modalitas dan teori teoritori informasi, dapat diambil kesimpulan bahwa isi informasi kalimat kondisional pola ―kagiri‖ dan ―shidai‖ dapat berupa informasi yang hanya diketahui oleh penutur (hanashitenochuushin,dan juga informasi yang diketahui oleh penutur , mitra tutur dan khalayak umum (kikitenochuushin .

Keyword: Kalimat Kondisional, Modalitas, Teori Teritori Informasi, kikitenochushin, hanashitenochushin

Pendahuluan

Bahasa Jepang memiliki beberapa pola kalimat yang dapat digunakan untuk mengungkapkan Kalimat Kondisional. Pola Kalimat ― to‖ , ― tara‖ , ―reba‖ , dan ―nara‖

merupakan pola kalimat yang umum digunakan untuk mewakili Kalimat Kondisional bahasa Jepang. Namun, selain 4 pola kalimat tersebut bahasa Jepang juga memiliki pola kalimat yang penggunaan dan fungsinya mirip, seperti kalimat kondisional pola

―shidai‖dan ―kagiri‖ di bawah ini.

(1 来年も⼟俵に上がる 限 り 、 最後まで優勝争いをしたい。( 朝⽇新聞

2000/11/20)

Rainen mo dohyou ni agaru kagiri, saigo made yushu arasoi wo shitai.

Tahun depan juga selama bisa naik ring, (saya) ingin bersaing menjadi yang terbaik hingga akhir.

(2) 社⺠が結論を出し次第、党本部から改めて話があるだろう。(朝⽇新聞

2012/11/19)

(18)

Shamin ga ketsuron wo dashi shidai, touhoubu kara aratemete hanashi ga aru darou.

Selama orang-orang membuat kesimpulan, mungkin akan ada lagi pembicaraan dari kantor pusat partai.

Dapat dilihat dari dua kalimat di atas sama seperti pola ―kagiri‖ dan ―shidai‖

merupakan kalimat – kalimat majemuk bertingkat yang digunakan untuk menyatakan kalimat kondisional dapat diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi ―selama‖ . Pada akhir kalimat tersebut ~ たい( tai ) adalah modalitas yang menyatakan keinginan penutur, dan ~だろう( darou) adalah modalitas yang menyatakan dugaan penutur, sehingga kedua kalimat kondisional tersebut menunjukan hipotesis/asumsi/ dugaan.

Terkait dengan modalitas, Charles Bally ( 1942 ) dalam Hasan Alwi ( 1992 ) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan modalitas adalah ― bentuk bahasa yang menggambarkan penilaian berdasarkan nalar, penilaian berdasarkan rasa, atau keinginan pembicara sehubungan dengan persepsi atau pengungkapan jiwanya‖, sehingga dapat dikatakan bahwa modalitas adalah penilaian berdasarkan nalar, rasa, atau keinginan dari penutur terhadap suatu perihal. Kemudian berkaitan modalitas pada perihal yang diungkapkan atau dituliskan dalam sebuah kalimat, Nihongokijutsubunpokenkyukai (2003) menjelaskan yang dimaksud modalitas dalam sebuah kalimat adalah bahwa

― Kalimat terdiri dari 2 bagian yaitu Inti kalimat dan Modalitas. Inti Kalimat adalah isi dari yang kalimat tersebut, sedangkan modalitas adalah bagaimana cara penyampaian isi dari kalimat tersebut.‖. Jadi yang dimaksud modalitas dalam sebuah kalimat adalah ragam pilihan penutur menyampaikan isi kalimat kepada mitra tutur.

Modalitas yang berbeda pada pola kalimat kondisional bahasa Jepang di atas menunjukan bagaimana penggunaan pola – pola kalimat tersebut. Sehingga, untuk melihat bagaimana perbedaan pengunaan pola – pola kalimat tersebut dapat digunakan modalitas sebagai acuan untuk menganalisis cara penggunaan dan fungsi masing-masing pola tersebut.

Selain modalitas, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa modalitas berfungsi menyampaikan isi dari kalimat. Disisi lain modalitas juga yang menentukan bahwa informasi yang terkandung dalam kalimat tersebut merupakan informasi yang diketahui hanya oleh penutur saja, informasi tersebut diketahui oleh penutur dan mitra tutur, dan bersifat pengetahuan umum, atau informasi tersebut tidak diketahui oleh penutur maupun mitra tutur. Untuk dapat menjelaskan penggunaan pola kalimat

(19)

Prosiding Seminar Hasil Penelitian Semester Genap 2018/2019-ISSN : 2337-7976 VOLUME VII / NO. 2 /AGST. 2019

===================================================================================================================================================

kondisional bahasa Jepang sehingga dapat digolongkan dengan sederhana, maka pada penelitian ini selain modalitas juga digunakan teori teritori informasi.

Teori Teritori Informasi yang dikemukan oleh Kamio (1999) adalah upaya melihat isi dari informasi yang disampaikan dalam sebuah kalimat adalah informasi yang hanya diketahui oleh penutur, diketahui hanya oleh keduanya, atau merupakan informasi umum yang diketahui tidak hanya oleh penutur dan mitra tutur namun juga khalayak umum.

Perumusan Masalah

Dari kedua pola kalimat kondisional bahasa Jepang di atas dan contoh pola kalimat kondisional ―kagiri‖ dan ―shidai‖, dapat dilihat bahwa kedua pola tersebut sama-sama berfungsi untuk menunjukan kalimat kondisional. Namun, kedua pola kalimat ini memiliki arti dan fungsi yang nampaknya berbeda seperti pada contoh kalimat nomer 1 dan 2. Oleh sebab itu, penelitian ini berupaya mencari persamaan dan perbedaan penggunaan dan fungsi pola kalimat kondisional ―kagiri‖ dan ―shidai‖.

Bagaimana penggunaan dan fungsi kalimat kondisional ―kagiri‖ dan ―shidai‖ dalam bahasa Jepang berdasarkan modalitas yang digunakan dan teori teritori informasi.

Tinjauan Pustaka

Penelitian pola kalimat kondisional Jepang telah dilakukan, oleh peneliti seperti Kuno (1973), Masuoka (1997), Hazunuma (2001), Tanaka (2005) dan Maeda (2009) memiliki pendapat yang hampir sama tentang kalimat kondisional bahasa Jepang. Mereka menjelaskan bahwa kalimat kondisional yang dibentuk dengan mengunakan partikel sambung ―kagiri‖ sebagai besar kalimat tersebut menunjukan kejadian yang berulang dan kalimat yang menunjukan hipotesis /asumsi/dugaan. Karena kalimat kondisional pola

―kagiri‖ sebagian besar adalah kalimat kondisional berulang, maka ada pembatasan dalam penggunaan modalitas akhir kalimat yang dapat digunakan. Kemudian, kalimat kondisional yang dibentuk oleh partikel sambung ―shidai‖, merupakan kalimat kondisional yang menunjukan pengandaian atau dugaan yang dapat mengunakan berbagai macam modalitas untuk menyampaikan maksud dari penutur.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat dari sisi modalitas pola kalimat kondisional

―kagiri‖ dan ―shidai‖ memiliki aturan penggunaan yang mirip, namun ada penggunaan yang berbeda dari sisi modalitas. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa ada pembatasan pemakaian modalitas pada pola kalimat kondisional ―kagiri‖. Sedangkan pada pola kalimat kondisional ―shidai‖ belum dijelaskan lebih dalam apakah ada pembatasan dalam

(20)

pemakaian modalitas atau tidak. Dari penjelasan ini digunakan, dan teritory informasi agar memudahkan penggolongan.

Tujuan Penelitian

Dari penjelasan bagian sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah mencari dan mengetahui perbedaan penggunaan pola kalimat kondisional ―kagiri‖ dan ―shidai‖ dalam bahasa Jepang melalui acuan modalitas dan teori teritori informasi. Kemudian menggolongkan kondisional pola ―kagiri‖ dan ―shidai‖ berdasarkan apakah isi informasi merupakan informasi yang dimiliki oleh penutur, mitra tutur, atau khalayak luas.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah menemukan kejelasan perbedaan penggunaan pola kalimat kondisional yang mengunakan partikel sambung ―kagiri‖ dan ―shidai‖, dengan melihat secara jelas pemakaian modalitas, dan menggolongkannya dengan mengunakan teori teritori informasi. Dengan memperjelas penggunaan modalitas dan dimana informasi isi kalimat beraada berdasarkan teritori informasi, maka pembalajar bahasa Jepang dapat memahami lebih baik dan mampu menggunakan pola kalimat kondisional yang mengunakan partikel sambung ―kagiri‖ dan ―shidai‖ dengan lebih baik.

Metodelogi Penelitian

Dalam penelitian ini metodelogi yang dipakai adalah metode kualitatif, dimana data utama adalah kalimat-kalimat kondisional pola ―kagiri‖ dan ―shidai‖ bahasa Jepang yang dikumpulkan dari media surat kabar online Jepang (Surat Kabar Asahi Shimbun, Majalah AERA, dan Majalah Shukan Asahi) periode 2011 - 2013. Data yang terkumpul dianalisis dan digolongkan dengen acuan modalitas dan teori teritori informasi. Penjelasan hasil analisis didukung oleh data berupa angka yang dimunculkan untuk memperkuat argumentasi.

Jenis Kalimat Kondisional, Modalitas, dan Teori Teritori Informasi Jenis – Jenis Kalimat Kondisional

Penelitian ini menetapkan jenis-jenis kalimat kondisonal berdasarkan Teori Realitas yang disampaikan oleh Maeda Naoko (2009). Teori Realitas pada dasarnya melihat isi frase pada anak kalimat dan isi frase Induk kalimat, apakah informasi yang ada pada anak kalimat dan induk kalimat adalah perihal yang telah selesai atau belum. Berdasarkan Teori ini, kalimat kondisional dibagi menjadi 3 jenis:

(21)

a. Kalimat Kondisional Hipotesis/Asumsi/ Dugaan ( Katei jokenbun )

Pada Kalimat Kondisional ini isi anak kalimat adalah kejadian yang belum terjadi atau kejadian yang sudah terjadi, namun isi informasi induk kalimat nya adalah kejadian yang belum terjadi.

Diagram 1

Kalimat Kondisional Hipotesis / Asumsi / Dugaan

(Anak Kalimat) (Induk Kalimat )

Perihal yang belum terjadi / sudah terjadi Kejadian yang belum terjadi

Belum Terjadi / Sudah terjadi Belum Terjadi

Contoh kalimat kondisional hipotetis / asumsi / dugaan

(3) もし核 戦争が 起こ った ら 、⽇本はあっという間に消えてしまうだろう。

(Hazunuma:8)

Moshi kakuseso ga okottara, nihon wa attoiumani kieteshimau darou.

Jika terjadi perang nuklir, Jepang mungkin akan lenyap dalam sekejap.

Kalimat (3) di atas, menunjukan hipotesis/asumsi/dugaan yang kemungkinan akan terjadi. Informasi pada anak kalimat ―perang nuklir‖, maupun informasi pada induk kalimat ―Jepang mungkin akan lenyap‖ adalah informasi yang merupakan hipotesis atau dugaan.

b. Kalimat Kalimat Kondisional Faktual Berulang ( Kojo jokenbun )

Pada kalimat ini adalah kalimat kondisional yang menujukan pengetahuan yang bersifat umum atau kalimat yang menunjukan kejadian berulang. Pada kalimat kondisional ini isi informasi anak kalimat, maupun induk kalimat adalah kejadian yang berulang dan diketahui oleh umum.

Diagram 2

Kalimat Kondisional Faktual Berulang

(Anak Kalimat) (Induk Kalimat)

Jika kejadian ini terjadi Pastinya Kejadian ini juga terjadi Contoh kalimat kondisional faktual berulang:

(4) 東京の中⼼部を掘ると、江⼾時代のゴミが出てくる。(AERA 1992/10/27)

Tokyo no chuushinbu wo horuto, Edo Jidai no gomi ga detekuru.

Jika anda menggali di Pusat kota Tokyo, maka muncul sampah jaman Edo.

Kalimat (4) di atas, menunjukan informasi yang biasa bagi orang Jepang. Informasi pada anak kalimat ―anda menggali dipusat kota Tokyo‖, maupun informasi pada induk kalimat ―muncul sampah jaman Edo‖ adalah informasi yang merupakan

(22)

diketahui oleh orang Jepang, karena Tokyo pada jaman dahulu diberi nama Edo, sama seperti Jakarta dahulu namanya Batavia.

c. Kalimat Kondisional Kejadian Berunut Lampau (Jijitsu jokenbun)

Pada kalimat kondisional ini isi informasi anak kalimat dan induk kalimat adalah kejadian berunut yang telah terjadi dimasa lalu dan hanya sekali terjadi.

Diagram 3

Kalimat Kondisional Lampau Berunutan (Anak Kalimat)(Induk Kalimat)

Kejadian yang telah terjadi Kejadian yang terlah terjadi

Sudah terjadi Sudah terjadi

Contoh kalimat kondisional Kejadiaan Berunut Lampau

(5) 震災から約1カ⽉後に⼀時帰宅すると、周囲の住⺠の多くは戻っていた。

Kasai kara ikkagetsu go ni ichiji kitaku suruto, shuuhen no jumin no ookuwa modotteita.

Ketika (saya) kembali ke rumah 1 bulan setelah musibah, banyak penduduk sekitar yang telah kembali.(Asahi Shinbun 2011/07/17)

Kalimat (5) di atas, menunjukan informasi lampau yang telah terjadi. Informasi pada anak kalimat ―kembali ke rumah 1 bulan setalah musibah‖, maupun informasi pada induk kalimat ―banyak penduduk sekitar yang telah kembali‖ adalah informasi lampau yang menunjukan fakta yang didapatkan oleh penutur.

Dari 3 jenis kalimat kondisional di atas, dapat dikatakan bahwa jenis ketai jokenbun dan kojo jokenbun adalah kalimat kondisional yang sesungguhnya. Namun, jijitsu jokenbun dapat dikatakan salah satu jenis kalimat kondisional, namun dapat dikatakan juga jenis kalimat yang menyatakan hubungan waktu. Oleh sebab itu, kalimat jijitsu jokenbun pada penelitian ini tidak digolongkan dalam salah satu jenis kalimat kondisional.

Jenis – Jenis Modalitas

Untuk mengklasifikasikan kalimat kondisional dengan lebih akurat, pada penelitian ini ditambahkan analisis terhadap modalitas. Jenis-jenis modalitas yang digunakan sebagai instrumen analisis dalam penelitian ini adalah modalitas yang ada dalam buku Nihongokijutsubunpokenkyukai (2003). Buku ini menjelaskan bahwa ada 4 modalitas dasar yang ada dalam bahasa Jepang: 1. Modalitas Ragam Wacana (hyogenruikei

(23)

Modariti) 2. Modalitas Penilaian dan Kesadaran (hyouka – ninshiki Modariti) 3.

Modalitas Penjelasan (Sestumei Modariti), 4. Modalitas Cara Penyampian Isi Kalimat kepada Lawan Bicara (dentatsu modariti).

1. Modalitas Ragam Wacana (hyougenruikei modariti) adalah Modalitas yang berfungsi menunjukan / menyampaikan isi kalimat kepada lawan bicara, yaitu: (1) Modalitas Infomasi adalah modalitas yang menunjukan penyampaian informasi antara penutur dan mitra tutur. Seperti: Modalitas Naratif (jojutsu modariti) dan Modalitas Pertanyaan (gimon modariti). (2) Modalitas Tindakan (koiyokyu modariti) adalah modalitas yang berfungsi untuk menyatakan keinginan penutur dan membuat mitra tutur mengerjakan sesuatu. Seperti: Modalitas Keinginan, modalitas Ajakan, dan modalitas menuntut perbuatan. (3) Modalitas Kekaguman adalah modalitas yang menunjukan kekaguman dari penutur.

2. Modalitas Penilaian dan Kesadaran (hyouka – ninshiki modariti) adalah modalitas yang merupakan tanggapan atau penilaian penutur terhadap isi kalimat, yaitu: (1) Modalitas Penilaian (hyouka modariti) adalah modalitas yang menunjukan penilaian penutur terhadap isi kalimat, seperti: modalitas keharusan, memberi izin, ketidakharusan, dan modalitas tidak memberi izin. (2) Modalitas Kesadaran (ninsihiki modariti) adalah modalitas yang menunjukan kesadaran penutur terhadap isi kalimat, seperti: modalitas keputusan, modalitas dugaan, modalitas kemungkinan, dan modalitas yang menunjukan bukti.

3. Modalitas Penjelasan (setsumei modariti) adalah modalitas yang menunjukan adanya keterkaitan dengan isi dari kalimat sebelumnya.

4. Modalitas yang menunjukan cara penyampaian kepada lawan bicara (dentatsu modariti) adalah modalitas yang menunjukan cara menyampaikan isi kalimat kepada mitra tutur.

Teori Teritori Informasi

Teori Teritori Informasi pertama kali dijelaskan oleh Akio Kamio (1990). Kamio menggunakan teori teritori (nawabari riron) sebagai landasan untuk menganalisa partikel akhir kalimat bahasa Jepang. Menurut Kamio (1990:21), penutur dan mitra tutur masing- masing memiliki teritori informasi. Pada hakikatnya teori teritori menjelaskan 3 hal: (1) Jika informasi hanya diketahui oleh penutur, maka infomasi tersebut berada dalam teritori penutur. (2) Jika informasi tersebut diketahui oleh penutur dan mitra tutur, maka informasi tersebut merupakan informasi bersama atau informasi yang bersifat umum. (3)

(24)

Jika informasi tersebut hanya diketahui oleh mitra tutur, maka informasi tersebut berada dalam teritori mitra tutur.

Berkaitan dengan modalitas dan teori informasi di atas, jika ditanyakan hubungan kedua hal tersebut adalah sebagai berikut. Kalimat yang merupakan informasi yang bersifat umum yang diketahui oleh penutur, mitra tutur dan khalayak banyak, memiliki kecenderung tidak dapat mengunakan modalitas yang menunjukan keinginan penutur.

Sedangkan kalimat yang informasinya hanya diketahui oleh penutur, memiliki kecenderungan menggunakan beragam modalitas tindakan ( koiyokyu modariti ) yang terdiri dari : ajakan, keinginan, penolakan, dan sebagainya yang menunjukan keinginan dari penutur.

Hasil Analisis Kalimat Kondisional “kagiri” dan “shidai”

Pada bagian ini akan dijelaskan hasil analisis kalimat kondisional pola ―kagiri‖ dan

―shidai‖ dengan mengunakan acuan yaitu, 3 jenis kalimat kondisional, modalitas dan teori teritori Informasi. Data yang digunakan untuk analisis adalah 1167 kalimat kondisional

―kagiri‖ dan 175 kalimat kondisional ―shidai‖ yang diambil dari kalimat surat kabar, majalah mingguan dan bulanan kelompok Asahi Shimbun (Kelompok Surat Kabar Asahi) yang kumpulkan periode 2011-2013.

1. Hasil Analisis Kalimat “kagiri”

Hasil analisis kalimat kondisional pola ―kagiri‖ menunjukan bahwa dari 1167 kalimat terdapat 981 (84%) kalimat kondisional hipotesis/dugaan, 178 (15%) kalimat kondisional faktual berulang, 12 (1%) kalimat kondisional lampau berunutan. Hasil analisis seperti grafik di bawah ini.

Grafik 1

(25)

Hasil analisis fungsi dan kegunaan kalimat kondisional pola ―kagiri‖ menunjukan bahwa, fungsi dan pengunaan yang dominan dari pola ―kagiri‖ adalah kalimat kondisional hipotesis / dugaan / asumsi, seperti contoh kalimat nomer (6) dan kalimat kondisional faktual berulang seperti kalimat nomer (7).

(6) 来年も⼟俵に上がる限り、最後まで優勝争いをしたい。(朝⽇新聞

2000/11/20)

Rainen mo dohyou ni agaru kagiri, saigo made yushou arasoi wo shitai.

Selama saya akan menjadi wakil ke tahun berikutnya Saya ingin berjuang sampai akhir dibabak final.

(7) 我々は⼈間である限り、間違う可能性はつねにある。( 朝⽇新聞

2010/10/18)

Wareware wa ningen de aru kagiri, machigau kanousei wa tsune ni aru.

Selama kita manusia, kemungkinan melakukan kesalahan pasti ada.

Namun demikian, ada kalimat kondisional pola ―kagiri‖ yang berfungsi untuk menunjukan peristiwa lampau berunut yang mennjukan suatu temuan, seperti contoh kalimat nomer (8)

(8) 6⽇の競艇場は⾒渡す限り、客のほとんどは中⾼年の男性だった。(朝⽇新聞

2011/11/11)

muika no kyoteiba wa miwatasukagiri, kyaku no hotondo wa chuukounen no danseidatta.

Selama mengamati selama 6 hari, rata-rata pengunjungnya adalah laki-laki setengah baya.

Kemudian berkaitan dengan modalitas yang ada pada kalimat kondisional pola ―kagiri‖, untuk kalimat kondisional hipotesis /asumsi/ dugaan pola ―kagiri‖ penggunaan modalitas akhir kalimatnya tidak terbatas. Fungsi, penggunaan, dan modalitas akhir kalimat ―kagiri‖

bila disimpulkan seperti ditabel 1 di bawah ini.

Tabel 1

Fungsi, Pengunaan dan Modalitas Akhir Kalimat ―kagiri‖

No Jenis No Fungsi & Penggunaan Modalitas Induk Kalimat 1 Kalimat

Kondisional Hipotesis / Asumsi/ Dugaan

1 Kalimat Hipotesis / Asumsi / Dugaan

(1) Modalitas Naratif & Tanya (2) Modalitas Keinginan (3) Modalitas Penilaian (4) Modalitas Penjelasan (5) Modalitas Penyampaian 2 Kalimat yang menunjukan

Hipotesis/Asumsi yang

(1) Modalitas penilaian, kesadaran, dan perkiraan

(26)

berlawanan dengan kenyataan 2 Kalimat

Kondisional Faktual Berulang

3 Kalimat yang menunjukan

kejadian yang umum (1) Modalitas Naratif (2) Modalitas Penjelasan 4 Kalimat yang menunjukan

Kebiasaan 3 Kalimat

Kondisional Lampau Berunutan

5 Kalimat Kondisional Lampau berunutan yang menunjukan

temuan (3) Modalitas naratif

(Ari Artadi, Hari Setiawan)

Dari penjelasan dan tabel mengenai ―kagiri‖, dapat disimpulkan bahwa selain berfungsi untuk digunakan membuat kalimat kondisional hipotesis/dugaan/ asumsi, fungsi utama lain dari kalimat kondisonal pola ―kagiri‖ adalah menunjukan kalimat kondisional faktual berulang yang menunjukan peristiwa atau pemikiran yang umum dan suatu kebiasaan. Kemudian, ternyata dalam kalimat kondisional pola ―kagiri‖, kalimat kondisional lampau berunutan yang menunjukan temuan dapat ditemukan. Meskipun hanya 1%, sehingga tidak terlalu signifikan. Berikutnya penjelasan hasil analisis kalimat pola ―shidai‖.

Hasil Analisis Kalimat “shidai”

Hasil analisis kalimat kondisional pola ―shidai‖ menunjukan bahwa dari 175 kalimat terdapat 169 (96.6%) kalimat kondisional hipotesis/asumsi, 5 (2.9%) kalimat kondisional faktual berulang, dan 1 (0.5%) kalimat kondisional lampau berunutan. Dapat dilihat bahwa fungsi utama dari kalimat kondisional pola ―shidai‖ adalah kalimat kondisional hipotesis/ asumsi yang menunjukan dugaan penutur tentang peristiwa yang akan terjadi, dan kalimat kondisonal faktual berulang yang menunjukan peristiwa umum dan kebiasaan. Hasil analisis bila diperlihatkan dalam grafik seperti di bawah ini.

Grafik 2

(27)

Sebagai contoh kalimat kondisional ―shidai‖ yang menunjukan kalimat kondisonal hipotesis/dugaan/asumsi dan kalimat kondisional faktual berulang seperti di bawah ini.

(9) 衆議院が許諾請求を認め次第、逮捕が現実となる。 (朝⽇新聞 2002/06/18)

Shuugiin ga kyodakuseikyuu wo mitomeshidai, taihou ga genjitsu to naru.

Begitu dewan perwakilan rakyat memberikan ijin, penangkapan akan menjadi kenyataan.

(10) ⼊⾦が確認され次第、ネットを介してゼニーは5分以内に届けられるのがウリだ。

(アエラ 2012/03/26)

Nyukin ga kakunisare shidai, netto wo kaishishite zeni wa 5 fun inai ni todokeraru no ga uri da.

Begitu transfer nya masuk, keuntungan yang muncul diinternet akan dikirim dalam waktu 5 menit.

Kalimat (9) menunjukan kalimat kondisional hipotesis/asumsi yang isinya belum terjadi atau merupakan hipotesis atau dugaan dari penutur. Kemudian, kalimat (10) adalah kalimat kondisonal faktual berulang yang menunjukan sesuatu yang biasanya terjadi.

Fungsi, penggunaan, dan modalitas akhir kalimat ―shidai‖ bila disimpulkan seperti ditabel 2 di bawah ini.

Tabel 2

Fungsi, Pengunaan dan Modalitas Akhir Kalimat ―shidai‖

No Jenis No Fungsi & Penggunaan Modalitas Induk Kalimat 1 Kalimat

Kondisional Hipotesis / Asumsi/ Dugaan

1 Kalimat Hipotesis / Asumsi / Dugaan

(1) Modalitas Naratif &

Tanya

(2) Modalitas Tindakan (2) Modalitas Penilaian (3) Modalitas Penjelasan (4) Modalitas Penyampaian (1) Modalitas penilaian,

kesadaran, dan perkiraan 2 Kalimat

Kondisional Faktual Berulang

2 Kalimat yang menunjukan kejadian

yang umum (1) Modalitas Naratif (2) Modalitas Penjelasan 3 Kalimat yang menunjukan

Kebiasaan 3 Kalimat

Kondisional Lampau kejadian berunutan

4 Kalimat yang menunjukan kegiatan

berurutan (1) Modalitas Naratif

(Ari Artadi, Hari Setiawan )

Dari penjelasan dan tabel mengenai ―shidai‖, dapat disimpulkan bahwa fungsi utama kalimat kondisonal pola ―shidai‖ adalah kalimat kondisional hipotesis dan

(28)

kondisional faktual berulang. Kalimat kondisional lampau berunutan hanya dapat ditemukan 1 kalimat, namun berbeda dengan pola ―kagiri‖, pada pola ―shidai‖ kalimatnya menunjukan kalimat kondisional lampau yang menunjukan kegiatan yang berunutan.

4. Simpulan

Hasil analisis kalimat kondisional bahasa Jepang dengan pola ―kagiri‖ dan ―shidai‖

memiliki fungsi dan penggunaan sebagai berikut: (1) Pertama, kalimat kondisional pola

―kagiri‖ dan ―shidai‖ berfungsi dan digunakan terutama untuk menunjukan hal yang bersifat hipotesis/asumsi/dugaan (kateijokenbun) dan hal yang bersifat faktual berulang (jojutsujokenbun). Kemudian, penelitian ini menemukan kemungkinan pola ―kagiri‖ dan

―shidai‖ berfungsi dan digunakan untuk menunjukan kalimat kondisional lampau berunutan (jijitsujoukenbun) yaitu kalimat kondisional yang menunjukan temuan (hakken) untuk pola ―kagiri‖, dan kegiatan yang berunutan (keizokudousa) untuk pola

―shidai‖. (2) Modalitas yang digunakan untuk kalimat kondisional pola ―kagiri‖ dan

―shidai‖ tidak dibatasi, artinya baik kalimat kondisional pola ―kagiri‖ dan ―shidai‖ tidak ada pembatasan dalam penggunaan modalitas. (3) Berdasarkan penggunaan modalitas dan teori teoritori informasi, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian isi informasi kalimat kondisional pola ―kagiri‖ dan ―shidai‖ adalah informasi yang diketahui oleh penutur saja (hanashitenochuushin) dan juga bisa informasi yang diketahui oleh penutur, mitra tutur dan khalayak umum (kikitenochuushin).

Daftar Pustaka

Arita Setsuko, 2007, Nihongo no Jokenbun to Jikasetsusei, Kuroshio, Tokyo, Japan.

Hazunuma Akiko, Arita Setsuko, Maeda Naoko, 2001, Jokenhyougen, Kuroshiosuppan Kamio Akio, 1990, Joho no nawabari riron, Taishukanshoten, Tokyo, Japan

Kuno Susumu 1973, Nihonbunpo Kenkyuu, Taishukanshoten, Tokyo, Japan

Kobayashi Kenji 1996, Nihongo no Jokenhyougen no Kenkyu, Hitsujishobo, Tokyo, Japan

Masuoka Takeshi, 1991, Modariti, Kuroshio Suppan, Tokyo, Japan

Masuoka Takeshi, 1993, Nihongo Jokenhyougen, Kuroshiosuppan, Tokyo, Japan Masuoka Takeshi, 1997, Fukubun, Kuroshio, Tokyo, Japan

Maeda Naoko, 2009, Nihongo no fukubun, Kuroshio, Tokyo, Jepang

Morita Yoshio, 2002, Nihongo Bunpou no Hyougen, Hitsujishobo, Tokyo, Japan Nihonkijutsubunpoukennkyukai, 2003, Gendai nihongo bunpou 4 dai 8 bu Modarity,

(29)

KuroshioSuppan, Tokyo, Japan

Tanaka Hiroshi, 2004, Nihongofukubunhyougen no kenkyu – Setsuzoku to joujutsu no kouzo -, Hakuteisha, Tokyo, Japan

Tanaka Hiroshi, 2010, Fukugoji kara mita nihongobunpou no Kenkyu Hitsuji shobo, Tokyo, Japan

Yoshiyuki Morita, Masaki Matsuki, Nihongohyougen Bunkei, 1989, Aruku, Tokyo, Japan Sumber Contoh Kalimat: Asahi Shinbun ( Surat Kabar ) , AERA ( majalah bulanan), dan

Asahi Shukan ( majalah mingguan )

(30)

Fenomena Ikumen dalam Masyarakat Jepang Indun Roosiani, M.Si, Septa Nursetianingsih Abstrak

Negara Jepang dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung nilai-nilai patriarki, dimana pria menduduki peran yang dominan daripada wanita. Konsep ayah sebagai seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap keamanan finansial keluarga, dan ibu sebagai pengelola urusan rumah tangga dan pengasuhan anak serta memenuhi kebutuhan anak terus melekat hingga sekarang. Konseptualisasi bahwa otoko wa soto, onna wa uchi (pria di luar dan wanita di dalam semakin menyulitkan wanita untuk mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan ―di luar rumah‖.

Hal inilah yang menyebabkan seorang ayah Jepang tidak dapat terlibat dalam peran pengasuhan anak, karena seluruh waktu dan energinya habis tercurah untuk urusan pekerjaan.

Istilah ikumen pertama kali muncul tahun 2000 an. Kemudian pada tahun 2010 pada 2010 Menteri Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan meluncurkan Proyek Ikumen nasional untuk mengumumkan gagasan itu sebagai cara mendorong keterlibatan ayah yang lebih besar dalam kehidupan keluarga.

Ikumen berasal dari kata ikuji (pengasuhan anak dan ikemen (sebongkah, sebuah istilah yang mengacu kepada keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Selama bertahun-tahun ―ayah Jepang‖ selalu diidentikkan dengan seorang ayah yang ―gila kerja‖ dan tidak terlalu peduli dengan urusan pengasuhan anak. Proyek ikumen pemerintah dimaksudkan untuk memperbaiki situasi ini, menghasilkan ―gerakan masyarakat di mana laki-laki dapat terlibat secara proaktif dalam pengasuhan anak‖. Proyek ini memberikan simposium dan lokakarya, dan para ayah juga diberikan 'Buku Pegangan Keseimbangan hidup-kerja' untuk membantu mereka menangani tuntutan bersaing antara kantor dan rumah.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang lahirnya ikumen di Jepang, mengetahui gerakan ikumen dalam konsep kesetaraan gender di Jepang serta bagaimana dampak gerakan ikumen terhadap ikatan keluarga di Jepang. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, dimana data diperoleh dengan cara studi literatur.

Gerakan ikumen meninggalkan beberapa permasalahan mengenai konsep kesetaraan gender tradisional di Jepang. Secara tradisional, pria Jepang memiliki kedudukan yang tinggi sebagai kepala rumah tangga dan penentu keputusan. Ungkapan otoko wa soto, onna wa uchi, rupanya masih menyisakan image yang melekat pada sebagian masyarakat Jepang. Berdasarkan latar belakang inilah maka dalam penelitian ini akan diungkap bagaimana fenomena ikumen dalam masyarakat Jepang.

Kata kunci: ikumen, pengasuhan anak, peran gender Pendahuluan

Sepanjang periode sejarah, Jepang telah melewati masa transisi pertukaran budaya dan ekspansi imperialis ke berbagai negara, yang selanjutnya diikuti oleh periode isolasi dari pengaruh negara-negara Asia dan negara barat lainnya. Selama periode ini (disebut sebagai era Edo, kehidupan keluarga di antara kelas-kelas yang lebih kaya mengambil bentuk rumah tangga yang diperluas, yaitu yang mencakup kepala keluarga, istri dan anak-anaknya, dan orang tuanya serta kerabat lainnya. Keluarga dianggap terutama sebagai unit ekonomi serta sarana untuk menjaga kelangsungan keluarga dengan menghormati leluhur dan menghasilkan keturunan.

(31)

Selama periode Edo, wanita muda yang sudah menikah di rumah tangga kaya diharapkan untuk mengurus suami dan ibu mertuanya. Mereka tidak dipercayakan dengan perawatan eksklusif anak-anak mereka, terutama anak-anak yang dianggap sebagai pewaris ie. Para ayah diharapkan bertanggung jawab untuk melatih dan mendidik anak- anak mereka, khususnya anak laki-laki. Selama era Edo, wanita muda yang sudah menikah di rumah tangga kaya diharapkan untuk mengurus suami dan ibu mertuanya.

Mereka tidak dipercayakan dengan perawatan eksklusif anak-anak mereka, terutama anak-anak yang dianggap sebagai pewaris ie. Para ayah diharapkan bertanggung jawab untuk melatih dan mendidik anak-anak mereka, khususnya anak laki-laki. Ayah Jepang di era pra-modern kadang-kadang digambarkan sebagai sosok yang ditakuti, meskipun tulisan-tulisan lain menunjukkan bahwa mereka tidak pernah menjadi anggota kuat dari lingkaran keluarga (Azuma 1986, dalam Htun, 2018). Membesarkan anak adalah usaha berbasis komunitas di mana pengasuhan anak didistribusikan tidak hanya di antara anggota keluarga dekat tetapi juga di seluruh penduduk desa (Imano 1988, dalam Htun, 2018). Dengan demikian, penekanan Jepang modern pada ibu sebagai satu-satunya pengasuh yang tepat bagi anak-anak mereka tidak didasarkan pada tradisi berbasis budaya, seperti yang mungkin dipikirkan beberapa orang, tetapi lebih merupakan penyimpangan dari norma-norma yang berlaku di Jepang pada abad-abad sebelumnya.

Dalam konsep ikatan sosial, pengasuhan dibentuk oleh institusi sosial serta norma budaya. Dalam hal ini pemerintah Jepang berusaha untuk mengatasi masalah yang terkait dengan angka kelahiran yang menurun, yaitu kurangnya keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan dan kehidupan keluarga. Hal yang paling utama di antara masalah ini adalah bahwa keluarga tidak lagi memberikan dukungan kuat yang sama untuk anak-anak muda seperti yang terjadi pada dekade sebelumnya, ketika prestasi akademik anak-anak Jepang dan penyesuaian sosial menjadi kecemburuan negara-negara Barat. Kekhawatiran lain yang menonjol adalah penurunan angka kelahiran, yang turun ke level rendah 1,26% pada tahun 2005 (Departemen Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan 2008).

Andersen (2009) menyatakan bahwa peran dan hubungan gender lambat laun mengalami perkembangan di abad ke-20 karena perubahan makna pekerjaan dalam kehidupan perempuan. Pekerjaan tidak lagi menjadi sarana untuk menambah pendapatan keluarga atau memastikan kelangsungan hidup, namun semakin menjadi mekanisme untuk mendefinisikan identitas pribadi dan perjalanan hidup. Prestasi pendidikan wanita menyamai pria dan kesenjangan upah, setidaknya di antara pria dan wanita lajang, mulai

(32)

berkurang. Namun kegagalan negara-negara maju dalam mengikuti perubahan norma sosial, dan organisasi kapitalis untuk beradaptasi dengan peran perempuan yang berubah, telah berkontribusi pada rendahnya angka kelahiran dan populasi yang menua, karena perempuan dan keluarga didorong untuk memasuki angkatan kerja (dalam Htun, 2018:3 ).

Seiring waktu, upaya pemerintah berkembang dari penekanan awal mereka pada fasilitas partisipasi pasar tenaga kerja perempuan, menjadi desakan perubahan peran laki- laki dan keseimbangan kerja-kehidupan yang lebih besar baik untuk pria maupun wanita. Proyek Ikumen, yang diluncurkann pada tahun 2010 oleh Kementrian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan adalah salah satu upaya tersebut. Proyek ini berusaha untuk memproyeksikan cita-cita keseragaman untuk memerangi populasi yang menyusut dan untuk membujuk lebih banyak orang untuk mengambil cuti.

Gerakan ikumen meninggalkan beberapa permasalahan mengenai konsep ketidaksetaraan gender secara tradisional di Jepang. Secara tradisional, pria Jepang memiliki kedudukan yang tinggi sebagai kepala rumah tangga dan penentu keputusan.

Ungkapan otoko wa soto, onna wa uchi, rupanya masih menyisakan image yang melekat pada sebagian masyarakat Jepang. Berdasarkan latar belakang inilah maka dalam penelitian ini akan diungkap bagaimana fenomena ikumen dalam masyarakat Jepang.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pertama, apa yang melatarbelakangi lahirnya gerakan ikumen di Jepang?, kedua, bagaimana kaitan gerakan ikumen dengan konsep kesetaraan gender di Jepang?, ketiga, bagaimana dampak gerakan ikumen terhadap ikatan keluarga di Jepang?

Dalam penelitian ini metodologi yang digunakan adalah metodelogi kualitatif, yakni dengan teknik mengumpulkan data-data kepustakaan yang akan dicari masing- masing variabelnya. Dari data-data yang sudah ditemukan variabelnya tersebut maka akan dicari relevansinya.

Hasil dan Pembahasan

1. Pola Pengasuhan Anak di Jepang

Setelah Restorasi Meiji (1868) Pemerintah berusaha menghidupkan kembali norma- norma budaya tertentu yang berkaitan dengan sentralitas keluarga. Pemerintah memandang keluarga sebagai metafora yang efektif untuk menggambarkan pentingnya

"negara keluarga" yang baru; sehingga mereka mencoba untuk menekankan aturan keluarga secara patriarki, atas dasar posisi sosial dan gender (White 2002, dalam

(33)

Holloway&Nagase, 2016:66). Para ayah semakin terdefinisi dalam hal kemampuan mereka untuk mendukung keluarga secara finansial, dan para ibu sebagai sosok yang bertugas melakukan perawatan dan pekerjaan rumah tangga. Istilah istri yang baik dan ibu yang bijaksana (ryosai kenbo) diciptakan untuk menyampaikan gagasan bahwa perempuan harus berhenti berpartisipasi dalam kegiatan kewarganegaraan dan pencari nafkah, dan paling cocok untuk berfokus secara eksklusif pada keluarga (Kojima 1996, dalam Holloway&Nagase, 2016:66).

Selama masa transisi budaya ini, laki-laki masih dianggap sebagai peserta aktif dalam kehidupan keluarga. Namun, dengan dimulainya Perang Dunia II, peran keluarga mengalami redefinisi dan polarisasi, karena tanggung jawab militer pria membuat mereka jauh dari rumah. Citra ayah yang ketat dan jauh semakin ditekankan, sementara para ibu diharapkan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengurus masalah keluarga (Fukaya 2008; Kashiwagi 2008, dalam Holloway&Nagase, 2016:68). Pada masa ini anak-anak bergerak melampaui masa kanak-kanak, dan orang tua biasanya mulai mengajar anak- anak secara lebih eksplisit disposisi dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bergaul dengan orang lain di komunitas mereka. Orang tua Jepang biasanya menempatkan penekanan khusus pada pentingnya mengembangkan hubungan interpersonal yang lancar dan berharap agar anak-anak mereka menjadi terampil dalam berinteraksi dengan orang lain. Untuk itu, para ibu berusaha untuk memelihara kualitas seperti kebaikan (yasashisa), empati (omoiyari), kepekaan (sensai), dan kesopanan (reigi tadashii) pada anak-anak mereka, dan membantu mereka belajar untuk tidak mengganggu orang lain (meiwaku kakenai youni) dan agar sesuai dengan norma masyarakat . Untuk mengembangkan keterampilan sosial ini pada anak-anak mereka, orang tua Jepang cenderung menghindari konflik langsung dengan anak-anak mereka. Studi komparatif yang dilakukan oleh oleh Hess dan Azuma pada tahun 1970-an menemukan bahwa sementara para ibu Amerika tidak ragu-ragu untuk menghadapi anak-anak usia prasekolah mereka jika mereka melakukan kesalahan, para ibu Jepang cenderung menghindarinya karena takut mempermalukan anak-anak mereka (Hess et al. 1980, dalam Holloway&Nagase, 2016).

Para peneliti ini menemukan bahwa alih-alih menghukum anak-anak atau menggunakan bentuk-bentuk penegasan kekuasaan lainnya, para ibu Jepang cenderung meminta perhatian anak-anak mereka pada konsekuensi dari perilaku yang tidak pantas, dan seringkali merangsang perasaan empati mereka dengan menunjukkan dampak emosional pada orang lain atau bahkan pada benda mati. Dalam contoh yang kuat dari strategi ini,

(34)

Hess dan rekannya menggambarkan seorang ibu yang mengatakan kepada mereka bahwa jika anaknya menggambar di dindingnya, dia akan memberitahunya bahwa tembok itu terasa sedih karena tidak terlihat bagus lagi.

Strategi sosialisasi lain yang digunakan oleh banyak ibu Jepang adalah memprioritaskan pemahaman anak tentang alasan melakukan sesuatu, sebagai lawan dari sekadar membutuhkan kepatuhan. Penelitian yang dilakukan pada 1950-an dan 1960-an menunjukkan bahwa orang tua Jepang menekankan pentingnya wakaraseru (memiliki anak yang mengerti), percaya bahwa kepatuhan tanpa keinginan sukarela pada anak itu tidak ada nilainya. Untuk mendapatkan pemahaman anak, ibu berhati-hati untuk menjelaskan alasan perlunya perilaku yang baik (seperti yang kita lihat dalam contoh yang melibatkan anak yang merusak dinding). Mereka juga mengambil pandangan jangka panjang, menoleransi kepatuhan yang tidak sempurna dalam jangka pendek karena mereka bekerja dengan hati-hati membantu anak melihat alasan perilaku yang baik.

Namun demikian, bukan berarti bahwa para ibu ingin anak-anak mereka menjadi sangat tunduk. Anak yang ideal kadang-kadang digambarkan sebagai sunao, sebuah istilah yang berkonotasi dengan penerimaan yang bahagia terhadap bimbingan orang dewasa. Anak- anak yang sunao cenderung memperhatikan orang lain, bukan karena mereka dipaksa untuk melakukannya, tetapi karena mereka mengerti mengapa perhatian adalah penting dan karena memberi mereka rasa senang memperlakukan orang lain dengan baik.

2. Latar Belakang Munculnya Ikumen

Sepanjang dekade pertama abad kedua puluh satu, angka kelahiran terus turun, mencapai rekor terendah 1,26% pada tahun 2005 (Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan 2008; 2010). Undang-undang Cuti Perawatan Anak dan Cuti Perawatan Keluarga yang ditetapkan oleh pemerintah dimaksudkan untuk memungkinkan laki-laki dalam mengambil cuti ayah, akan tetapi hal ini memiliki sedikit pengaruh pada keterlibatan laki-laki di tempat kerja (Departemen Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan 2005). Ayah Jepang kontemporer mungkin lebih terlibat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi mereka masih lebih kecil kemungkinannya daripada pria di negara lain untuk menunjukkan minat yang kuat dalam mengasuh anak.

Dalam Holloway&Nagase (2016) dikatakan bahwa Ayah Jepang juga memiliki pandangan yang relatif sempit tentang apa artinya menjadi seorang ayah. Dalam satu penelitian, hanya sepertiga yang berpikir bahwa berinteraksi dengan anak-anak mereka adalah sebuah bagian penting dari peran pihak ayah.

Gambar

Tabel Fukugoudoushi Grup 2-1
Tabel Fukugoudoushi Grup 2-3  No  Fukugoudoushi  Verba  awal  Verba  Belakang  arti  1  ⾶び上がる  ⾶ぶ  上がる  Terbang + Naik:  ―Melompat‖  2  振り向く  振る  向く  Mengguncang+Menoleh:  ―Berbalik‖  3  浮き上がる  浮く  上がる  Melayang+Naik:  ―Melayang‖  4  思う  付く  思い付く  Pikir +
Diagram Perbandingan Substitusi から dan ので
GRAFIK PERBANDINGAN FUNGSI SETSUZOKUJOSHI から
+7

Referensi

Dokumen terkait

4 Pelayanan yang profesional, artinya pelayanan publik yang dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan (aparatur pemerintah) Dengan

Gambar 2.1 Bagan Konseptual Menuju Produk Yang Optimal 28 Gambar 2.2 Struktur Anyaman Polos Dengan Rapot Paling Sederhana 2/1 29 Gambar 2.3 Visualisasi Fabric Cover Pada

Dari penelitian melalui survei dengan kuisioner didapatkan kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mungkin menyebabkan gangguan kecemasan adalah faktor keluarga yang

Tujuan yang diharapkan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan protein tepung daun lamtoro gung ( Leucaena leucocephala ) yang difermentasi dengan Aspergillus niger

Tujuan pembelajaran make a match menurut Febriana (2011) yaitu untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, menumbuhkan sikap tanggung jawab, meningkatkan percaya diri

Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar VCAM-1 dengan ketebalan tunika intima arteri karotis komunis pada remaja berusia 15-18 tahun.. Kata Kunci:

Dari uraian berdasarkan analisis fisika kimia tersebut menunjukkan bahwa minyak nilam dari Kolaka Utara memiliki potensi kualitas yang baik dan memenuhi seluruh

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pengembangan kompetensi Pegawai di Kantor Dinas Perhubungan Kalimantan Timur yang jelaskan melalui sub fokus