• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ulama Indonesia menyadari betul bahwa mereka merupakan pewaris tugas-tugas para Nabi, oleh karenanya mereka terpanggil untuk berperan aktif dalam membangun masyarakat melalui wadah MUI, seperti halnya yang pernah dilakukan oleh para ulama pada masa penjajahan dan perjuangan kemerdekaan. Umat islam Indonesia di sisi lain sedang menghadapi tantangan global yang sangat berat dengan adanya kemajuan sains dan teknologi yang dapat menggoyahkan batas etika dan moral. Hawa nafsu yang dapat melunturkan religiusitas masyarakat serta meremehkan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Selain itu keragaman umat Islam di Indonesia baik itu dalam hal alam pikiran keagamaan, organisasi sosial, dan aliran politik sering menyebabkan kelemahan dan juga menjadi sumber pertentangan dikalangan umat Islam sendiri. Oleh karena itu kehadiran MUI sangat dibutuhkan, sebagai sebuah organisasi kepemimpinan umat Islam yang bersifat kolektif dalam rangka mewujudkan silaturahmi demi kebersamaan umat Islam.30

Pada pembukaan muktamar ulama dalam rangka pembentukan MUI, Presiden Soeharto menyampaikan amanatnya yang menggambarkan tentang fungsi MUI di dalam masyarakat. Salah satu tugas MUI adalah memberi nasihat, oleh karena itu MUI tidak perlu untuk melakukan program praktis31, karena kegiatan

fatwa tentang penggunaan hewan cicak, tokek dan kadal sebagai bahan obat. Lihat pada M.

Atho’ Mudzhar, Islam and Islamic Law in Indonesia...,h. 131, dan juga Khozainul Ulum,

Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Pemikiran Hukum Islam di Indonesia.., h. 68.

29Mohammad Atho Mudzhar, Esai-Esai Sejarah Sosial Hukum Islam..., h. 204.

30Majelis Ulama Indonesia, ‚Sekilas berdirinya MUI...‛

http://mui.or.id/sekilas-mui

31Program paktis yang dimaksudkan yaitu seperti menyelenggarakan madrasah,

57

tersebut telah dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam lainnya. MUI juga tidak perlu terjun dalam hal politik praktis, karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan partai politik. 32

Pasal 3 Pedoman Dasar MUI yang disahkan pada Musyawarah Nasional (Munas) I pada 26 Juli 1975, menyebutkan bahwa MUI bertujuan untuk turut serta mewujudkan masyarakat yang aman sesuai dengan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Pada Munas ke II, pasal 3 Pedoman Dasar tersebut disempurnakan menjadi: ‚ MUI bertujuan ikut serta mewujudkan masyarakat yang aman, damai, adil dan makmur rohaniah dan jasmaniah sesuai dengan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Garis-Garis Besar Haluan Negara yang diridoi oleh Allah SWT. Pada Munas III yang berlangsung pada 23 Juli 1985, Pasal Pedoman Dasar MUI disempurnakan menjadi:‛ MUI bertujuan untuk mengamalkan ajaran Islam untuk ikut serta dalam mewujudkan masyarakat yang aman, damai adil dan makmur rohaniah dan jasmaniah yang diridhoi oleh Allah SWT dalam negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.33

Pedoman Pokok Majelis Ulama Indonesia menegaskan bahwa fungsi MUI adalah sebagai berikut:

1. Memberikan Fatwa dan Nasihat mengenai masalah sosial keagamaan kepada pemerintah dan Umat Islam sebagai amar ma’ruf nahi munkar;

2. Memperkuat ukhuwah Islamiah dan melaksanakan kerukunan antarumat beragama;

3. Mewakili umat Islam dalam dialog antar umat beragama;

4. Penghubung antara ulama dan pemerintah serta penerjemah antara pemerintah dan umat;

5. Tidak berpolitik dan tidak bersifat operasional.34

Jadi fungsi MUI sebagaimana yang dirumuskan oleh Munas I dalam Pedoman Dasar Pasal 4 tersebut yaitu berfungsi dalam mengeluarkan fatwa dan nasihat kepada pemerintah dan umat Islam dalam masalah yang berhubungan dengan masalah keagamaan dan kemaslahatan bangsa, menjaga kesatuan umat,

32Majelis Ulama Indonesia ,Sejarah Majelis Ulama Indonesia, (Jakara: Sekretariat

Majelis Ulama Indonesia, 1975), h. 5

33Ahyar A. Gayo, Kedudukan Fatwa MUI dalam Upaya Mendorong Pelaksanaan

Ekonomi Syariah, (Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, 2011), h. 40.

34Pedoman Pokok Majelis Ulama Indonesia yang disahkan pada saat pembentukan

58

institusi representasi umat Islam dan sebagai perantara yang mengharmonisasikan hubungan antara umat beragama.35

Sebagaimana telah ditegaskan di atas dalam pasal 4 Anggaran Dasar MUI tersebut bahwa salah satu fungsi MUI adalah memberikan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan umat Islam pada umumnya. Fatwa-fatwa MUI tersebut dikeluarkan untuk memenuhi permintaan fatwa perseorangan ataupun lembaga. Selain itu juga MUI mengeluarkan fatwa, nasihat, rekomendasi untuk merespons berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat yang menurut MUI dipandang perlu untuk difatwakan.36 Dengan demikian, terlihat jelas bahwa MUI adalah salah satu lembaga pemberi fatwa di Indonesia. Berdasarkan seperti yang telah disebutkan di atas, MUI dapat memberikan fatwa yang dialamatkan secara khusus kepada umat Islam maupun pemerintah baik fatwa tersebut diminta maupun tidak diminta dalam urusan yang berkaitan dengan umat Islam. Yang artinya , fatwa MUI tersebut dapat diberikan, karena diminta oleh umat Islam maupun pemerintah atau karena berhubungan dengan permasalahan atau peristiwa nyata yang memerlukan jawaban yang muskil secara syari’at atau hukum Islam.

Kemudian pada hasil MUNAS VI Juli 2000 MUI, beberapa ayat dan hadis yang menjelaskan pentingnya peran ulama dalam masyarakat dan beberapa hal yang berkaitan dengan peran ulama sebagai pewaris nabi, bekerja sama dengan berbagai unsur yang ada di masyarakat saling bahu membahu dalam membangun masyarakat yang maju dan memiliki akhlak mulia, sekaligus mengantisipasi berbagai perkembangan yang terjadi, baik di dalam negeri maupun dalam tingkat internasional, sehingga mewujudkan masyarakat Indonesia yang baru, yaitu masyarakat madani, yang menekankan nilai-nilai kebersamaan, keadilan, dan demokrasi.37

Untuk mewujudkan itu semua, MUI kemudian membuat lima perannya dalam masyarakat, yaitu:

1. sebagai pewaris tugas-tugas para nabi; 2. sebagai pemberi fatwa;

3. sebagai pembimbing dan pelayan umat;

35Ahyar A. Gayo, Kedudukan Fatwa MUI dalam Upaya Mendorong Pelaksanaan

Ekonomi Syariah..., h. 40.

36Wahiduddin Adams, ‚Fatwa MUI dalam Perspektif Hukum dan

Perundang-Undangan,‛ dalam Choirul Fuad (eds.), Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam

Perspektif Hukum dan Perundang-Undangan, (Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, 2012), h. 3.

37Majelis Ulama Indonesia, Wawasan dan PD/PRT Majelis Ulama Indonesia,

59 4. sebagai gerakan isla>h wa al-tajdi>d;

5. sebagai penegak amar ma’ruf dan nahyi munkar.38

Berdasarkan Surat Keputusan Musyawarah Nasional VII MUI Nomor: Kep-02/Munas-VI/MUI/VII/2005 yang diadakan di Jakarta tanggal 19-22 Jumadil Akhir 1426 H bertepatan dengan tanggal 26-29 Juli 2005 tentang Perubahan atau Penyempurnaan Wawasan, Pedoman Dasar, dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia. Telah dirumuskan lima peran MUI dalam khittah pengabdiannya yaitu39: Pertama, sebagai pewaris tugas-tugas para nabi, MUI menjalankan fungsi profetik yakni memperjuangkan fungsi perubahan kehidupan agar sesuai dengan ajaran Islam, dengan konsekuensi akan dikritik, ditekan dan mendapatkan ancaman karena perjuangannya bertentangan dengan tradisi dan peradaban manusia. Kedua, sebagai pemberi fatwa, MUI berperan sebagai pemberi fatwa bagi masyarakat. Sebagai lembaga pemberi fatwa, MUI mengakomodasikan dan menyalurkan aspirasi umat Islam Indonesia yang memiliki beragam aliran dan paham dan pemikiran serta organisasi keagamaan. Ketiga, sebagai pembimbing dan pelayan umat (ri’ayat wa khodim al-ummah). MUI berperan sebagai pelayan umat yaitu melayani umat Islam dan masyarakat luas dalam memenuhi harapan, aspirasi dan tuntutan mereka. Dalam kaitan ini, MUI senantiasa berikhtiar memenuhi permintaan umat Islam, baik langsung maupun tidak langsung, akan bimbingan dan fatwa keagamaan. MUI berusaha selalu maju di depan dalam melindungi dan mengupayakan harapan umat Islam dan masyarakat luas dalam hal hubungannya dengan pemerintah. Keempat, sebagai gerakan al-Isla>h wa al-Tajdi>d, yaitu MUI berperan sebagai pelopor islah yang merupakan gerakan pemurnian Islam serta tajdid yang seandainya terjadi selisih paham di kalangan umat Islam, maka Majelis MUI dapat menempuh jalan talfi>q (kompromi) dan tarji>h} (mencari hukum yang lebih kuat), dengan begitu diharapkan tetap terjaganya semangat persaudaraan di kalangan umat Islam Indonesia. Kelima, sebagai penegak Amar bi al- Ma’ru>f wa al- Nahy ‘an al-Munkar, yaitu menegaskan hal yang benar sebagai kebenaran dan hal yang batil sebagai kebatilan dengan penuh hikmah Dalam menjalankan fungsi ini, MUI tampil di barisan terdepan sebagai kekuatan moral bersama potensi bangsa lainnya untuk melakukan perubahan sosial.40

Pemberian fatwa adalah salah satu bentuk dari bimbingan dan pembinaan kepada umat sebagai penjabaran dari tanggung jawab ulama terhadap pembinaan masyarakat. Bentuk-bentuk lain dari jenis tanggung jawab ini adalah upaya

38Majelis Ulama Indonesia, Wawasan dan PD/PRT Majelis Ulama Indonesia..., h.

12-14.

39Majelis Ulama Indonesia, ‚Sekilas berdirinya MUI...‛ http://mui.or.id/sekilas-mui

40Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII

60

penyatuan umat, pemberdayaan umat melalui program ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan, serta membentengi umat dari akidah yang menyimpang dan menurut K.H. Ma’ruf Amin ada dua tanggung jawab lainnya yang juga diemban oleh ulama, yaitu tanggung jawab mengawal konsensus nasional dalam bingkai NKRI dengan membangun kerangka pikir keagamaan dalam konteks kebangsaan.41

Peran ini, dirumuskan dalam era Reformasi, menunjukkan dua hal. Pertama, MUI kini menjauhkan diri dari pemerintah dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan aspirasi umat Islam. Kedua, menggunakan strategi reformis Islam untuk membawa MUI dan masyarakat muslim Indonesia lebih dekat dengan ajaran Islam. Kedua hal tersebut terlihat jelas pada fatwa dan tausiyah MUI.42

Dalam teori peranan terdapat dua macam harapan di dalamnya, yaitu harapan-harapan yang berasal dari masyarakat terhadap pemegang peran, dan harapan-harapan pemegang peran terhadap masyarakat. Dengan demikian yang dilihat dari teori peranan sebagaimana keterangan sebelumnya, MUI secara garis besar meliputi dua macam peranan. Peranan pertama adalah harapan-harapan masyarakat terhadap MUI. Hal tersebut meliputi hal-hal berikut: 1) MUI diharapkan berperan sebagai pemersatu umat dalam hal ukhuwah Islamiah; 2) MUI diharapkan mewakili umat Islam dalam hal yang berhubungan dengan umat lain; dan 3) MUI diharapkan berperan sebagai penghubung dan penerjemah timbal balik antara umat Islam dan pemerintah. Peranan kedua ialah harapan-harapan MUI dalam memberi fatwa dan nasihat kepada pemerintah maupun umat tentang masalah agama dan kemasyarakatan.43

Peranan yang luas tersebut dapat dibagi menjadi sektor-sektor peranan, dan kemudian dibagi lagi menjadi subsektor-subsektor peranan. Sektor peranan yang pertama ialah pemberi fatwa dan penasehat, kedua pemersatu umat dalam kerangka al-ukhuwwah Isla>miyyah, ketiga ialah wakil umat dalam menghadapi umat lain, dan keempat berperan sebagai penghubung antara pemerintah dan umat. Sektor pertama itu memiliki subsektor fatwa, penelitian dan pengembangan, pendidikan dan kebudayaan, kaderisasi ulama, dakwah, organisasi, dan bidang khusus. Sektor kedua memiliki subsektor ukhuwah Islamiah, peranan wanita, pembinaan generasi muda. Sektor ketiga meliputi subsektor kerukunan antar umat beragama hubungan

41Muhammad Atho Mudzhar, Esai-Esai Sejarah Sosial Hukum Islam ..., h. 107.

42Moch. Nur Ichwan, ‚Ulama, State and Politics: Majelis Ulama Indonesia after

Suharto‛..., h. 48-49.

43Ali Mufrodi, ‚Peranan Majelis Ulama Indonesia (MUI): Perspektif Sosial Politik

61

luar negeri. Sektor keempat mencakup subsektor kerja sama ulama umara. Pembangunan, dakwah dan pembangunan.44

Terkait peranan MUI dalam memberi fatwa dan nasihat kepada pemerintah maupun umat tentang masalah agama dan kemasyrakatan, MUI telah mampu menjadi lembaga yang paling otoritatif di Indonesia dalam hal memproduksi fatwa.45 Peran ini telah terbukti sejak sepuluh tahun terakhir ini. Sebagai tambahan, selama dekade terakhir ini, fatwa MUI ini telah berhasil menarik perhatian baik itu dikalangan muslim Indonesia maupun non-muslim Indonesia, yang mendorong mereka untuk berbicara tentang interpretasi lembaga ini dari dua sisi yaitu positif dan negatif.46

MUI merupakan salah satu institusi yang memiliki kompetensi untuk melakukan penetapan fatwa. MUI dibentuk bermaksud supaya dapat melakukan ijtihad yang bertujuan untuk mengeluarkan fatwa-fatwa dalam hukum Islam, utamanya dalam menghadapi persoalan-persoalan yang timbul di Indonesia. Komisi Fatwa (Fatwa Committe) mempunyai tugas membahas masalah-masalah hukum Islam aktual dalam masyarakat atau merespons pertanyaan-pertanyaan hukum Islam yang berasal dari masyarakat. Dikarenakan anggota Komisi Fatwa MUI merupakan representasi semua unsur ulama yang ada di Indonesia dan mencerminkan perwakilan dari berbagai ormas Islam, pada akhirnya dalam mengeluarkan fatwa MUI berdiri di atas semua golongan, sehingga dapat diterima oleh masyarakat yang lebih luas.47

Berkaitan dengan kedudukan hukum atau legal standing MUI tercatat sebagai organisasi masyarakat yang dibentuk berdasarkan Piagam MUI hasil Munas 1 MUI pada tahun 1975. Artinya, secara yuridis fatwa MUI tidak mengikat secara umum tanpa melalui tindak lanjut dari pemerintah. Oleh sebab itu, fatwa MUI juga dapat diartikan hanya sebagai rekomendasi bagi pemerintah terhadap suatu permasalahan yang sedang dihadapi umat muslim. Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI sebagai lembaga hanya bersifat pendapat atau rekomendasi yang akan menjadi

44Ali Mufrodi, ‚Peranan Majelis Ulama Indonesia (MUI): Perspektif Sosial Politik

di Indonesia‛..., h. 96-97.

45Paling tidak terdapat tiga organisasi Islam yang memberikan fatwa di Indonesia,

yaitu MUI, NU dan Muhammadiyah. Diantara ketiganya, NU dapat dikatakan sebagai organisasi pertama yang memberikan fatwa. Tidak lama setelah berdirinya, NU segera mendirikan sebuah lembaga fatwa yang diberi nama Bahsul Masail. Musyawarah bahsul Masail pertama kali dilakukan pada Oktober 1926. Kira-kira satu tahun setelah berdirinya Bahsul Masail, Muhammadiyah yang telah berdiri sejak 1912 baru mendirikan lembaga fatwa pada tahun 1927 dengan nama Majelis Tarjih.

46Syafiq Hasyim, ‚The Council of Indonesian Ulama (Majelis Ulama Indonesia,

MUI) and Religious Freedom‛...,h. 8.

47Hamdan Rasyid, ‚Optimalisasi Peran MUI Sebagai Mufti Resmi Indonesia di

Tengah Benturan Liberalisme dan Fundamentalisme,‛ dalam Choirul Fuad Yusuf (eds.), Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam Perspektif Hukum dan Perundang-Undangan. (Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, 2012), h. 133.

62

hukum positif apabila ditindaklanjuti oleh pemerintah menjadi undang-undang.48 Sehingga, selama belum ditetapkan sebagai hukum positif, maka fatwa MUI adalah hukum aspiratif dalam konteks hukum nasional. Fatwa MUI secara hukum (rechtgeldig) tidak punya kemampuan yang mengikat yang artinya bahwa fatwa MUI tidak bersifat memaksa dan untuk itu masyarakat muslim juga tidak dapat dipaksakan menerimanya dan apabila mereka tidak patuh terhadap fatwa tersebut maka hal tersebut tidak dapat dikenakan sangsi. Dengan demikian fatwa MUI tidak dapat digunakan oleh aparat penegak hukum, seperti Hakim, Polisi, ataupun Jaksa untuk menuntut seseorang ke pengadilan dan menjadikannya seorang tersangka, ataupun juga menjatuhkan hukuman. Untuk itu, dapat dipahami bahwa fatwa MUI hanya mampu mengikat secara moral (moral binding) saja. Masyarakat muslim yang mematuhi dan mentaati fatwa MUI lebih berdasarkan pada kepercayaan, bahwa fatwa yang diputuskan MUI tersebut dalam pandangan Islam memiliki unsur kebenaran. Dalam hal ini fatwa MUI termasuk dalam pendapat atau ide seorang ahli (professional opinion), ataupun juga digolongkan kepada sumber hukum yang bersifat tidak mengikat (nonbinding sources of law) pada literatur ilmu Hukum.49 Namun, MUI tidak hanya berperan sebagai pemberi saran saja, sejak tahun 1990 tujuan MUI telah berubah lebih dari itu, MUI secara bertahap mengeluarkan program sendiri, semisal program praktis yang meliputi pengiriman pendakwah ke daerah-daerah transmigrasi, membuat Bank Mu’amalat Indonesia, mendirikan Badan Arbitrasi Indonesia untuk kasus-kasus mu’amalah, dan juga membentuk Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetik yang telah mengeluarkan lebih dari tiga ratus sertifikat halal untuk produk makanan domestik maupun internasional.50

Keberadaan MUI pada masa sekarang ini dikenal sebagai tempat perhimpunan para ulama dalam melaksanakan perannya merespons dinamika persoalan-persoalan di Indonesia, merupakan hal yang baik. Usaha memberikan fatwa-fatwa yang telah dibuat tentu saja memberikan pengaruh bagi keberlanjutan sistem negara Indonesia beserta elemen-elemen di dalamnya baik tatanan sosial maupun politik. Hal tersebut dikarenakan dengan terbentuknya MUI sebagai lembaga yang mempunyai peran dalam menghasilkan fatwa maka Indonesia dapat

48Isi keputusan Fatwa MUI dapat ditampung dan diubah menjadi aturan

perundang-undangan. Telah banyak fatwa MUI yang terserap dalam berbagai peraturan perundang-undangan, diantaranya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, PP Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dan masih banyak lagi. Lihat Wahiduddin Adams, ‚Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam Perspektif Hukum dan Perundang-Undangan,‛h. 3-7.

49Slamet Suhartono, ‚Eksistensi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam Perspektif

Negara Hukum Pancasila,‛dalam Al-Ihkam 12. no. 2, Desember 2017,h. 457, diakses pada

22 Februari 2018 dari http://ejournal. stainpamekasanac.id/index.php/alihkam/

50Khozainul Ulum, ‚Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam

63

digolongkan sebagai Negara yang berusaha untuk mencari jalan tengah antara hukum sekular dengan hukum syariat.51

Perjalanan MUI sebagai tempat bermusyawarah para ‘ulam>a, serta sarjana-sarjana muslim berupaya untuk memberikan arahan dan panduan bagi masyarakat muslim supaya terwujudnya hidup beragama yang diridoi Allah SWT. Menyampaikan fatwa dan nasihat terhadap suatu permasalahan bagi Pemerintah dan masyarakat, merupakan aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan terwujudnya ukhuwwah Islamiah serta keharmonisan anta rumat beragama untuk memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa.52