Masyarakat Indonesia dikenal dengan jumlah pemeluk Islam mayoritas terbesar di dunia, masyarakat Indonesia dikenal dengan masyarakat yang religius, karena hampir pada semua desa dan kelurahan dapat ditemukan masjid apalagi di daerah yang penduduk muslimnya mayoritas. Hal ini juga terbukti dari hasil survei yang dilakukan Alvara Research pada tahun 2016 yang menyatakan 95% masyarakat Islam di Indonesia memandang peran agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.53 Seiring tumbuh dan berkembangnya berbagai masalah kehidupan keagamaan umat Islam di Indonesia maka masyarakat berharap mendapatkan pencerahan dari para ulama.
Namun di Indonesia sulit untuk menemukan seseorang yang memiliki kemampuan secara individu untuk menjadi mufti. Di Indonesia saat ini pihak yang dianggap mempunyai kemampuan untuk menjadi mufti adalah berupa lembaga keagamaan, salah satunya adalah MUI. MUI adalah salah satu lembaga keagamaan di Indonesia yang mengeluarkan dan menetapkan fatwa keagamaan yang menjadi tempat rujukan bagi masyarakat muslim Indonesia. Fatwa-fatwa MUI memiliki makna yang penting dalam masyarakat muslim Indonesia. Walaupun pada teori secara hukum fatwa MUI tidak memiliki kemampuan untuk mengikat tetapi dalam pelaksanaannya fatwa MUI selalu dijadikan bahan rujukan dalam berperilaku baik oleh masyarakat muslim maupun pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan
51Fatroyah Asr Himsyah, ‚Eksistensi dan Partisipasi Majelis Ulama Indonesia
dalam Pengembangan Hukum Islam‛..., h.53.
52Fatroyah Asr Himsyah, ‚Eksistensi dan Partisipasi Majelis Ulama Indonesia
dalam Pengembangan Hukum Islam‛....,h.56.
53Aditya Budiman, ‚Survei Alvara, 95 Persen Muslim Indonesia Religius,‛ diakses
12 Agustus 2017,
64
berbangsa dan bernegara.54 Fatwa MUI sangat dibutuhkan untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Indonesia.
Urgensi fatwa MUI bisa diterjemahkan menjadi dua hal yaitu peran dan pengaruh. Peran fatwa MUI maksudnya bahwa fatwa MUI memiliki peran mendeskripsikan respons MUI terhadap kejadian dan silang pendapat yang terjadi pada masyarakat berkaitan dengan dinamika sosial budaya ataupun juga kebijakan pemerintah dari sudut pandang agama. Dalam hal ini MUI merespons dengan cara memberikan saran kepada masyarakat muslim dan pemerintah terkait nilai budaya Indonesia yang mana dikuatkan dengan dalil-dalil syar’i, memberi dukungan serta masukan kepada program pemerintah dalam batasan yang sesuai dengan hukum Islam, meluruskan akidah masyarakat muslim terkait dengan aturan toleransi yang benar, memberi penjelasan tentang halal atau haramnya suatu tindakan baik karena adanya perkembangan zaman atau karena adanya konflik di masyarakat. Serta merespons kebutuhan masyarakat muslim terkait kepastian hukum suatu hal saat terjadi dharu>ra>t.55 Hal ini menjadikan fatwa MUI untuk responsif atas dinamika dan kecenderungan yang ada di masyarakat, sehingga diharapkan fatwa yang dikeluarkan selalu sejalan dengan kemaslahatan masyarakat.
Kemudian fatwa MUI memberikan pengaruh bagi aturan sosial kemasyarakatan Indonesia. Fatwa MUI menjelaskan dampak dan tindak lanjut dari fatwa yang dikeluarkan MUI. Fatwa MUI juga memiliki dampak meningkatnya keterlibatan masyarakat muslim pada program pemerintah. Serta fatwa MUI juga memiliki pengaruh untuk memberi kekuatan dan melindungi masyarakat muslim dari perubahan sosial budaya yang bertentangan dengan nilai Islam.56
MUI mempunyai komite khusus yang merundingkan berbagai permasalahan yang ditanyakan sebelum fatwa dikeluarkan, yaitu Komisi Fatwa dan Hukum. Tugas komisi ini adalah mempertimbangkan dan memutuskan fatwa yang berhubungan dengan permasalahan-permasalahan Hukum Islam yang ditemui masyarakat. Komisi ini mempunyai tujuh orang anggota pada awal pembentukannya tahun 1975, namun jumlah tersebut dapat berganti yang disebabkan karena matinya anggota atau bergantinya anggota. Setiap 5 tahun sekali diadakan pengangkatan anggota baru dan pembaruan komisi ini.57 Ilmu
54Qomaratul Huda, ‚Otoritas Fatwa dalam Konteks Masyarakat Demokratis:
Tinjauan atas Fatwa MUI Pasca Orde Baru‛ dalam Choirul Fuad Yusuf (eds.), Fatwa
Majelis Ulama Indonesia dalam Perspektif Hukum dan Perundang-Undangan (Jakarta: Puslitbang Hukum dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, 2012), h 76.
55Muhammad Maulana Hamzah, ‚Peran dan Pengaruh Fatwa MUI dalam Arus
Transformasi Sosial Budaya di Indonesia‛ dalam Millah: Jurnal Studi Agama XVII, no.1
2017, h 135 diakses pada 7 Juni 2019 dari https://www.jurnal.uii.ac.id/ Millah/article
/viewFile /10055/8051
56Muhammad Maulana Hamzah, ‚Peran dan Pengaruh Fatwa MUI dalam Arus
Transformasi Sosial Budaya‛...,h 150
57Mohammad Atho Mudzhar, Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia: Sebuah
65
pengetahuan, kemajuan teknologi dan pembangunan dapat menimbulkan perubahan sosial yang berakibat masyarakat muslim sangat membutuhkan saran atau nasihat keagamaan dari ulama agar masyarakat tidak melenceng dari nilai agama Islam. Hal tersebut menjadikan komisi fatwa menjadi salah satu komisi di MUI yang mendapat perhatian khusus. Oleh karenanya Komisi fatwa sangat produktif dalam memutuskan fatwa, banyak fatwa yang diputuskan baik atas pertanyaan pemerintah maupun masyarakat muslim serta hal yang menurut MUI perlu untuk ditetapkan.58
MUI dalam hal menetapkan fatwa berpedoman pada tata cara penetapan fatwa yang pertama kali dibuat pada tahun 1975. Fatwa-fatwa MUI pada periode 1975-1980 dan 1980-1985, dirundingkan oleh Komisi Fatwa yang memimpin perundingan ini adalah Ketua dan Sekretaris Komisi Fatwa. Kemudian pada sidang Pleno MUI yang diselenggarakan 18 Januari 1989 diputuskan terdapat pergantian pada hal tersebut, yang menyatakan bahwa selanjutnya keputusan yang berhubungan dengan fatwa yang berasal dari Komisi Fatwa akan dialihkan kepada pimpinan pusat MUI dalam bentuk ‚Sertifikat Keputusan Penetapan Fatwa‛ yang akan memimpin perundingan adalah Ketua Umum dan Sekretaris Umum bersama-sama dengan Ketua Komisi Fatwa MUI.59 Selain Komisi Fatwa dan Hukum MUI ada salah satu bagian dari MUI yang juga menunjukkan perhatian pada penetapan fatwa yaitu Dewan Syariah Nasional (DSN), yang didirikan pada tahun 1999. Pembentukan DSN ini berlandaskan pada pandangan lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia semakin berkembang, yang tentu saja akan memerlukan bermacam perspektif dari Hukum Islam tentang produk-produk perbankan.60 Dari kedua bagian ini kita akan lebih fokus membahas Komisi Fatwa dan Hukum saja.
Komisi fatwa secara kelembagaan diidentifikasi sebagai mujtahid, yang berijtihad untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang berhubungan dengan masalah hukum. Ijtihad yang dilakukan MUI tergolong sebagai ijtihad jama’i (kolektif), karena mereka menggantungkan kecakapan ulama yang telah memenuhi syarat secara jama’i sebagai mujtahid.61
Persidangan-persidangan yang diadakan komisi fatwa tergantung pada keperluan atau apabila pendapatnya diminta oleh masyarakat muslim ataupun oleh pemerintah berkenaan dengan permasalahan-permasalahan tertentu yang memiliki hubungan dengan hukum Islam.62 Ketua, anggota komisi dan para undangan yang di
58Agus Mahfudin, ‚Majelis Ulama Indonesia dan Metode Fatwa,‛ dalam Religi:
Jurnal Studi Studi Islam 6, no. 1 , April 2015, h. 155 diakses pada 31 Oktober 2017 dari
http://donwload.portalgaruda.org/articlephp?article
59MB. Hooker, Islam Mazhab Indonesia : Fatwa-Fatwa dan Perubahan Sosial..., h.
93.
60 Rusli, ‚Tipologi Fatwa di Era Modern‛...,h. 291.
61Agus Mahfudin, ‚Majelis Ulama Indonesia dan Metode Fatwa‛...,h.155.
62MUI memiliki kewenangan untuk memutuskan fatwa mengenai persoalan
syari’ah secara umum, baik itu dalam bidang akidah, ibadah maupun akhlak. Kewenangan tersbut meliputi: doktrin keagamaan yang timbul di masyarakat, masalah yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, persoalan mengenai pangan obat-obatan dan kosmetika
66
dalamnya termasuk ulama bebas, ilmuwan yang memiliki keilmuan yang berhubungan dengan masalah yang dibicarakan hadir pada persidangan ini. Persidangan ini biasanya diperlukan hanya sekali untuk mengeluarkan satu fatwa, tetapi kadangkala perlu enam kali persidangan untuk menetapkan satu fatwa akan tetapi, beberapa fatwa juga dapat dihasilkan dalam sekali persidangan.63 Kemudian Ketua dan Wakil Ketua Komisi akan memimpin persidangan atas izin dari Ketua Komisi dan didampingi oleh Sekretaris dan/atau Wakil Sekretaris Komisi. Namun jikalau Ketua dan Wakil Ketua Komisi memiliki halangan untuk datang maka salah satu pimpinan Komisi yang hadir akan memimpin rapat. Selanjutnya sekretaris ataupun wakil sekretaris selama rapat tersebut berjalan akan mencatat segala bentuk usulan, saran dan gagasan anggota komisi untuk dijadikan Risalah Rapat dan bahan Fatwa Komisi.64
Kajian komprehensif akan dilakukan terlebih dahulu sebelum fatwa diputuskan guna mendapatkan penjelasan lengkap tentang: objek masalah (tashawwur al-masalah), perumusan masalah dan dampak sosial keagamaan yang akan timbul dan titik kritis dari bermacam aspek hukum (norma syari’ah) yang berhubungan dengan persoalan tersebut.65
Dalam Pedoman Penetapan Fatwa MUI Nomor: U-596/MUI/X/1997 yang ditetapkan pada tanggal 2 Oktober 1997 dirumuskan dasar-dasar dan prosedur penetapan fatwa yang dilakukan oleh MUI.66 SK tersebut menyatakan bahwa pedoman tata cara penetapan fatwa yang telah diputuskan pada 18 januari 1986 telah dicabut dan pedoman penetapan fatwa MUI yang baru diberlakukan. Terdapat di dalamnya tiga bagian proses utama dalam menetapkan fatwa, dan teknik serta kewenangan organisasi dalam penetapan fatwa.
Pertimbangan yang melatarbelakangi perubahan pedoman itu diantaranya: pertama, banyaknya persoalan baru yang timbul karena berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi dan berhasilnya pembangunan di bermacam aspek yang memiliki dampak banyaknya sikap dan permasalahan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Kedua, banyaknya pertanyaan dalam berbagai bidang yang muncul dikarenakan berkembangnya kesadaran beragama di kalangan umat Islam, mereka menemukan berbagai macam hal baru dan mereka tidak tau bagaimana pendapat hukum Islam terhadap permasalahan tersebut. Ketiga, boleh jadi pertanyaan tersebut sudah memiliki jawaban pada masa lalu, mulai dari Al-Qur’an
(POM), persoalan yang berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta masalah ekonomi syari’ah.
63Mohammad Atho Mudzhar, Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia: Sebuah
Studi Tentang Pemikiran..., h. 79-82.
64Majelis Ulama Indonesia, ‚Pedoman Penetapan Fatwa Majelis Ulama
Indonesia,‛ dalam Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (Jakarta: BMI&PH Depag
RI, 2003) , h. 716
65Asrorun Ni’am Sholeh, ‚Pedoman dan Prosedur Penetapan Fatwa‛, artikel
diakses pada diakses 5 Mei 2017 http://mui.or.id/index.ph /2017/02/03/Pedomanprosedurpe
66Penyempurnaan dari pedoman berdasarkan keputusan Sidang Pengurus Paripurna
67
sampai pendapat para ulama yang terdapat di berbagai kitabnya. Keempat, jika jawabannya tidak ditemukan, para ulama yang memiliki kemampuan pengetahuan yang baik pada MUI hendaknya mengupayakan jawaban tersebut karena MUI sebagai lembaga tempat para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim bermusyawarah, sudah sepatutnya menjadi pembimbing seluruh masyarakat muslim Indonesia. Kelima, oleh karena itu, MUI merupakan lembaga yang sangat berkompetensi memberikan jawaban bagi persoalan dalam bidang sosial keagamaan yang sedang dihadapi oleh masyarakat muslim. Keenam, perlu adanya pembaharuan pedoman tata cara menetapkan fatwa yang telah diputuskan pada tanggal 18 Januari 1986 karena dianggap sudah tidak mencukupi lagi.67
Pedoman penetapan fatwa tersebut tertuang dalam 9 pasal. Fatwa yang akan dikeluarkan harus sejalan dengan petunjuk prosedur penetapan fatwa yang telah ditetapkan MUI. Dalam pasal satu disebutkan tentang ketentuan umum yang menerangkan berbagai istilah-istilah yang secara khusus perlu didefinisikan, supaya jangan timbul kesalah pahaman yang diakibatkan oleh definisi yang tidak sama. Dalam pasal dua disebutkan tentang dasar-dasar umum penetapan fatwa yang menyatakan bahwa setiap putusan fatwa harus berupa pendapat hukum yang mempunyai dasar-dasar (al-adillah al-ah}ka>m) yang paling kuat. Dasar-dasar yang dimaksud adalah Al-Qur’an, Hadis, Ijma, Qiyas dan dalil-dalil hukum lainnya. Kemudian pada pasal tiga, empat, lima, enam, tujuh dan delapan merupakan prosedur penetapan fatwa, pada pasal tiga disebutkan bahwa rapat komisi harus diadakan untuk membahas setiap masalah yang akan difatwakan, sehingga duduk permasalahannya diketahui dengan jelas. Kejelasan tersebut diperoleh dengan cara mendengar dan mempertimbangkan pendapat para ahli dalam bidang yang berkaitan dengan masalah tersebut. Pada pasal empat kemudian disebutkan dalam membahas setiap masalah komisi harus memperhatikan dan mempertimbangkan pendapat para imam mazhab dan fukaha terlebih dahulu. Jika hanya terdapat satu pendapat pada permasalahan yang sedang dibahas tersebut, maka komisi fatwa dapat mengambil pendapat tersebut sebagai keputusan fatwa. Jika terdapat lebih dari satu pendapat, komisi fatwa dapat melakukan pemilihan pendapat dengan menggunakan tarjih untuk dijadikan sebagai keputusan fatwa. Jika hal-hal pada pasal empat tersebut tidak bisa terpenuhi, maka komisi dapat menggunakan metode ilhaq al-masail bi maza’iriha. Ilhaq dilakukan dengan secara saksama memperhatikan mulhaq bih, mulhaq ilaih, dan wajh al-ilhaqnya. Jika ketentuan pada pasal lima tersebut tidak dapat terpenuhi, maka komisi melakukan ijtihad jama’i, yang dilakukan dengan menggunakan al-qawa>’id al-us{uliyyat dan al-qawa>’id al-fiqhiyyat dalam rangka menggali hukum. Pada pasal tujuh disebutkan pembahasan dilakukan secara mendalam dan menyeluruh, serta pendapat-pendapat yang berkembang pada saat rapat terjadi juga harus diperhatikan. Komisi kemudian menentukan pendapat yang akan dijadikan sebagai Keputusan Fatwa yang mana harus mencantumkan dasar-dasar hukum dan disertai dengan uraian analisis
67Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, Himpunan Fatwa Majelis Ulama
68
masalah, serta sumber yang dikutip dalam pengambilan pendapat ulama. Keputusan Fatwa tersebut selanjutnya ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris komisi. Pada pasal delapan disebutkan bahwa Dewan Pimpinan harus mentanfizkan setiap Keputusan Fatwa dalam bentuk Surat Keputusan Penetapan Fatwa yang perumusannya harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Setiap Keputusan Penetapan Fatwa sebisa mungkin disertai dengan rumusan tindak lanjut dan rekomendasi.68
Pada tahun 2003 diadakan ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia dalam pertemuan tersebut dihasilkan lagi Prosedur Penetapan fatwa baru yang menggantikan prosedur sebelumnya. Pada bab dua yang merupakan dasar umum dan sifat fatwa disebutkan bahwa penetapan fatwa didasarkan pada Al-Qur’an, Hadis, ijma>’ dan qiya>s serta dalil lain yang mu’tabar. Kegiatan penetapan fatwa ini dilakukan secara kolektif oleh Komisi Fatwa yang sifatnya responsif, proaktif dan antisipatif. Pada bab ketiga yang merupakan metode penetapan fatwa disebutkan sebelum penetapan fatwa hendaknya pendapat para imam mazhab dan Ulama mengenai masalah yang akan difatwakan ditinjau terlebih dahulu. Masalah yang hukumnya telah jelas hendaknya disampaikan sebagaimana adanya. Jika pada masalah yang terjadi khilafiyah pada kalangan mazhab maka dilakukan metode al-jam’u wa al-taufiq yaitu usaha menemukan titik temu di antara pendapat-pendapat ulama mazhab. Jika usaha tersebut tidak berhasil maka penetapan fatwa didasarkan pada hasil tarji>h} melalui metode muqaranah dengan menggunakan kaidah-kaidah Us}u>l Fiqh Muqa>ran. Kemudian pada permasalahan yang tidak ditemukan pendapat hukumnya di kalangan mazhab, maka penetapan fatwanya didasarkan pada hasil ijtihad jama’i (kolektif) melalui metode bayani, ta’lili (qiya>si, istih}sa>ni, ilhaqi dan sadd al-dhari>’ah). Selanjutnya penetapan fatwa selalu harus memperhatikan maqa>s}id al-shari>’ah.69 Adapun prosedur rapat dirinci pada bab empat, dalam bab tersebut terdapat delapan poin mengenai prosedur rapat ini yaitu rapat harus dihadiri oleh anggota Komisi yang jumlahnya dianggap cukup oleh pimpinan rapat. Rapat dapat menghadirkan tenaga ahli yang berhubungan dengan masalah yang dibahas. Rapat akan diadakan apabila ada pertanyaan yang berasal dari masyarakat yang menurut Dewan Pimpinan perlu dibahas dan diberikan fatwanya, kemudian jika ada permintaan atau pertanyaan dari pemerintah atau lembaga atau MUI sendiri, kemudian jika adanya perkembangan dan temuan masalah-masalah keagamaan yang muncul akibat perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rapat akan dipimpin oleh Ketua dan Wakil Ketua Komisi. Jika Ketua dan Wakil Ketua Komisi tidak dapat hadir maka rapat dipimpin oleh seorang anggota komisi. Selama rapat berlangsung, Sekretaris dan/atau Wakil Sekretaris Komisi mencatat pendapat, usul dan saran anggota Komisi untuk dijadikan Risalah Rapat. Setelah melakukan pembahasan secara saksama dan menyeluruh serta memperhatikan pendapat yang berkembang, maka selanjutnya
68Pedoman Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor:U-596/MUI/X/1997
69Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia Pertama Tahun 2003
69
rapat menetapkan fatwa. Keputusan Komisi tersebut secepat mungkin dilaporkan kepada Dewan Pimpinan untuk diberitahukan kepada pihak-pihak yang terkait.70
Kemudian pada Musyawarah Nasional ke- XI tahun 2015, pedoman dan prosedur penetapan fatwa yang ditetapkan dan disempurnakan pada ijtima ulama komisi fatwa tanggal 16 Desember 2003 sebelumnya ditetapkan ulang atas dasar meningkatkan kualitas peran dan kinerjanya dan untuk memenuhi kepercayaan masyarakat Islam Indonesia yang semakin tanggap dan memiliki kesadaran keberagamaan yang semakin tinggi. Atas dasar tersebut, MUI mengeluarkan pedoman baru dengan prinsip sistematis, argumentatif dan aplikatif.71
Metode penetapan fatwanya terdapat pada pasal 5, 6 dan 7, pada pasal 5 disebutkan sebelum fatwa ditetapkan perlu adanya kajian komprehensif terlebih dulu agar diperoleh gambaran yang menyeluruh tentang objek persoalan, perumusan masalah dan akibat sosial keagamaan yang timbul berkenaan dengan persoalan tersebut. Kajian komprehensif yang dimaksud meliputi kajian atas pendapat para ahli fikih pada masa lalu, juga pendapat para imam mazhab dan ulama yang mu’tabar serta fatwa-fatwa yang memiliki kaitan persoalan yang akan difatwakan dengan cara penulisan makalah oleh anggota komisi atau ahli yang memiliki kompetensi pada bidang tersebut. Pasal 6 menyatakan bahwa persoalan yang hukumnya telah jelas akan disampaikan apa adanya. Persoalan yang terdapat perbedaan pendapat di kalangan mazhab maka diusahakan pencarian titik temu dengan menggunakan cara al-jam’u wa al- taufi>q, apabila tidak sukses maka dilanjutkan dengan menggunakan tarjih dengan cara us}u>l fiqh muqa>ran. Persoalan yang tidak terdapat pendapat hukum dikalangan mazhab atau ulama akan dilakukan ijtihad bersama dengan menggunakan cara bayani dan ta’lili (qiya>si, istih}sa>niy, ilhaqy, dan sadd al-dhari>’ah). Apabila di antara anggota komisi terdapat perbedaan pendapat dan titik temu tidak tercapai, maka disampaikan tentang adanya perbedaan pendapat tersebut dengan menyertakan penerangan serta alasan masing-masing. Pada pasal 7 disampaikan penetapan fatwa harus selalu memperhatikan otoritas pengaturan hukum oleh syariat dan juga mempertimbangkan kemaslahatan umum dan maqa>s{id al-shari>’ah.72
Sistem dan prosedur penetapan fatwa MUI pada dasarnya dilakukan melalui pendekatan nas} qat{’i, qauli, dan manhaji. Diharapkan melalui tiga cara tersebut setiap persoalan yang muncul akan dapat terjawab. Karena nas} memiliki sifat yang terbatas, kita tidak mungkin menjawab semua persoalan yang timbul dengan nas
}
sedangkan permasalahan yang terjadi semakin berkembang. Tidak memungkinkan
70Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia Pertama Tahun 2003
tentang Pedoman Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia.
71Majelis Ulama Indonesia, ‚Pengaturan Organisasi Majelis Ulama Indonesia
Tentang Pedoman Penetapat Fatwa Majelis Ulama Indonesia‛, h. 75-77 diakses pada 22
Februari 2017,
http://mui.or.id/wp-content/uploads/2016/04/5.-PO-Pedoman-Penetapan-Fatwa
72Majelis Ulama Indonesia, ‚Pengaturan Organisasi Majelis Ulama Indonesia
70
juga berpedoman pada perkataan yang terdapat pada al-kutub al-mu’tabarah karena sejak seratus tahun yang lalu penulisannya sudah terhenti. Masalah-masalah baru yang terus bermunculan dan berkembang membutuhkan respons dan masalah-masalah tersebut tidak mungkin kita biarkan tanpa adanya jawaban dengan alasan tidak adanya nas} atau tidak terdapat pada kitab yang mu’tabarah. Jika sikap kita demikian, masalah yang dibiarkan tanpa jawaban akan semakin banyak. Padahal, tidak dibenarkan membiarkan persoalan tanpa jawaban baik secara i’tiqadi maupun syar’i. Untuk menyelesaikan persoalan-persoalan baru tersebut diperlukan manhaj yang dijadikan acuan sehingga penumpukan permasalahan yang tidak terjawab tidak terjadi. Manhaj juga dimaksudkan agar tidak timbul pemberian jawaban tanpa panduan. Karena sering suatu permasalahan diberikan jawaban hanya dengan berdasarkan lil maqa>s{id al-shari>’ah.73
Pendekatan nas{ qat{’i adalah menetapkan hukum suatu persoalan dengan berpedoman kepada nas{ Al-Qur’an atau Hadis. Melihat apakah persoalan yang akan ditetapkan tersebut sudah terdapat ketentuan hukumnya di dalam nas} Al-Qur’an maupun Hadis. Jika tidak terdapat jawabannya di dalam Al-Qur’an dan Hadis, maka dilakukan dengan pendekatan qauli dan manhaji. Apabila jawaban dapat dicukupi oleh pendapat yang terdapat dalam al-kutub al-mu’tabarah dan hanya terdapat satu pendapat saja maka pendekatan qauli dapat dilakukan, kecuali apabila pendapat yang ada tersebut diduga sudah tidak sesuai lagi untuk dijadikan pegangan dikarenakan illatnya berubah atau hal lainnya. Dalam hal ini perlu dilakukan telaah ulang, hal tersebut merupakan kebiasaan ulama terdahulu, mereka tidak terpaku pada teks-teks hukum yang ada bila teks-teks tersebut sudah tidak tepat lagi untuk dijadikan pegangan. Namun apabila jawaban terhadap suatu masalah tidak dapat dicukupi oleh nas{ qat{’i dan pendapat yang terdapat dalam kitab-kitab yang mu’tabarah, maka untuk memberikan jawaban terhadap