• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Fungsi Immunologis Lien

Lien terdiri dari tiga kompartemen yang saling berhubungan, pulpa merah,

pulpa putih, dan zona marginal. Pulpa merah merupakan suatu struktur seperti

spon yang terisi oleh darah yang mengalir melalui sinus dan kordae. Pulpa putih

terdistribusi sepanjang arteriol sentral yang merupakan percabangan dari arteri

6

dan juga mengelilingi folikel sel limfosit B. Lapisan tipis ini dibentuk oleh zone

gelap di bagian luar, disebut zona mantle, yang mengandung sebagian besar

limfosit B, dan bagian tengah yang berwarna lebih cerah, zona germinal yang

merupakan daerah seleksi sel limfosit B. Zona marginal, yang mengandung sel

limfosit B memori, adalah daerah paling tepi dari pulpa putih yang berbatasan

langsung dengan daerah perifollicular, dimana makrofag dan fibroblas yang

memiliki molekul adhesi sel adressin mukosa tipe 1 berada (Mebius dan Kraal,

2005).

Gambar 2.1. Struktur, fungsi dan populasi sel dari tiga kompartemen fungsional (Di Sabbatino et al., 2011)

Lien berfungsi sebagai filter fagositik, yang menghilangkan sel-sel yang

sudah tua dan rusak, partikel-partikel padat dari sitoplasma eritrosit (pitting), dan

mikroorganisme yang terbawa oleh darah, dan juga memproduksi antibodi. Saat

7

menuju sinus vena, aliran darah melambat, yang membantu menghilangkan

eritrosit yang rusak dan bakteri oleh makrofag lien (Di Sabbatino, et al. 2011).

Pulpa putih lien merupakan suatu akumulasi terbesar dari jaringan limfoid

pada tubuh dan berfungsi sebagai tempat produksi dan aktivasi limfosit, dimana

kemudian sel limfosit akan bermigrasi menuju pulpa merah untuk mecapai lumen

sinusoid-sinusoid lien. Sel-sel dendritic dan makrofag yang ada di zona marginal,

terlibat dalam proses penangkapan, pengolahan dan presentasi dari antigen.

Makrofag lien khususnya, beradaptasi untuk dapat mengenali dan menghancurkan

bakteri yang telah teropsonisasi. Kedua sel dendritic dan limfosit T di dalam lien

menunjukkan aktivitas immunologis yang kuat (Katz et al., 2006).

Berdasarkan studi eksperimental, lokalisasi antigen di organ limfoid

tergantung dari beberapa faktor, contohnya adalah port d’ entry dari antigen, menentukan lokalisasi dari antigen di jaringan limfoid, khususnya untuk

partikel-partikel asing, protein dan makromolekul seperti lipopolisakarida (LPS). Lebih

jauh lagi, pemberian antigen secara intravena, berakibat terkumpulnya antigen ini

di lien, yang oleh karenanya disebutkan sebagai organ utama yang berespon

terhadap antigen yang terbawa darah (Jirillo, et al., 2003).

Antigen memasuki lien melalui arteriol sentral, yang berakhir di zona

marginal dan dari sini darah akan mengalir di dalam sinusoid vascular dari pulpa

merah. Di zona marginal dan pulpa merah, antigen akan diproses oleh makrofag,

dan fraksi dari antigen dapat ditemukan pada periarteriolar lymphoid sheath

(PALS), yang kaya akan sel-sel dendritic, dan limfosit T. Pada kasus antigen

8

marginal, kemudian dibawa menuju folikel-folikel limfoid dimana disini terjadi

produksi antibody. Di dalam folikel limfoid ini, antigen disimpan oleh sel

dendritic folikular selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Depot

antigen ini menghasilkan stimulus jangka panjang untuk sel limfosit B memori.

Pada individu yang telah terpapar antigen, reinokulasi dengan antigen yang sama

akan mengalami pembentukan kompleks imun yang lebih cepat, untuk kemudian

segera difagositosis dan dihancurkan (Katz, et al. 2006).

Beberapa bakteri dikenali secara langsung oleh makrofag, namun

kebanyakan terlebih dahulu memerlukan opsonisasi. Selama opsonisasi ini,

permukaan bakteri diliputi oleh komplemen atau molekul opsonisasi lien lainnya

seperti properdin dan tuftsin, yang kemudian berinteraksi dengan reseptor pada

fagosit. Bakteri-bakteri yang telah mengalami opsonisasi dapat secara efisien

dihilangkan oleh makrofag yang ada pada lien maupun hepar. Meski demikian,

bakteri yang sulit untuk diopsonisasi, seperti bakteri berkapsul, khususnya

Streptococcus pneumonia, memiliki kemampuan untuk mencegah terikatnya

komplemen atau menghambat komplemen yang ada pada kapsul untuk

berinteraksi dengan reseptor makrofag. Bakteri semacam ini hanya dapat

dihilangkan pada lien yang normal. Untuk menghancurkan bakteri berkapsul ini

pada saat infeksi awal, dibutuhkan antibodi alamiah berupa pentamerik

immunoglobulin M yang mampu memfasilitasi fagositosis baik secara langsung

ataupun melalui deposisi komplemen pada kapsul bakteri. Antibodi ini diproduksi

oleh suatu populasi sel B memori yang ada di zona marginal lien (Weller, et al.

9

Antigen yang memasuki aliran darah akan ditangkap oleh sel dendritic

yang bertindak sebagai antigen presenting cell (APC). Sel ini akan mengaktivasi

limfosit T yang ada di dalam PALS. Limfosit T yang telah aktif akan bermigrasi

ke zona marginal dan membentuk suatu kluster, dan dibuktikan dengan adanya

kluster sel limfosit yang memproduksi sitokin yang berdekatan dengan sel B. sel

limfosit B kemudian berespon terhadap antigen atas bantuan limfosit T helper

yang aktif di PALS. Pada langkah berikutnya, sel B yang telah diaktifkan akan

bermigrasi ke folikel-folikel limfoid dan mulai untuk berproliferasi dan

membentuk suatu struktur yang disebut dengan germinal centre (Di Sabatino et

al., 2006).

Setelah respon antibodi terbetuk, sel limfosit B akan mengekspresikan

reseptor immnuglobulin dengan afinitas yang lebih tinggi secara progresif

terhadap antigen. Sel B yang tidak mampu mengenali antigen akan mengalami

apoptosis. Akhirnya sel-sel limfosit ini akan meninggalkan germinal centre dan

menjadi sel-sel yang memproduksi antibody dengan kecepatan tinggi di lokasi

ekstra folikel, seperti misalnya di pulpa merah lien dan pada medulla dari

limfonodi. Di pusat germinal pula, ada beberapa sel limfosit B yang tidak

mensekresikan antibodi, namun dapat bertahan hidup untuk jangka waktu yang

lama walau tanpa stimulus dari antigen. Sel-sel ini akan bersirkulasi secara bebas

antara darah dan jaringan limfoid dan berespon secara cepat jika terjadi

reinokulasi dengan antigen yang sama. Sel ini adalah sel-sel memori, yang

dipertahankan oleh suatu antigenic stimulasi oleh sel dendritic folikular selama

10

Makrofag lien memainkan peran penting dalam proses penghancuran

bakteri dari darah. Contohnya polisakarida pneumokokal yang dapat dihilangkan

dengan cara yang sangat efektif di dalam lien, namun dalam keadaan telah

mengalami spenektomi, berakibat terakumulasinya polisakarida di limfonodi pada

percobaan terhadap tikus. Terdapat bukti bahwa makrofag zona germinal dapat

berperan sebagai APC terhadap polisakarida, dan mempresentasikannya kepada

sel limfosit B untuk menginduksi antibody Ig M spesifik anti polisakarida. Yang

cukup mengejutkan adalah, pada tikus yang displenektomi dan diberikan

immunisasi dengan polisakarida, sel yang mengandung antibody Ig A didapatkan

pada limfonodi mesenterika. Ini sangat mungkin menunjukkan sel klon limfosit B

yang diaktifkan oleh eksposur sebelumnya atau polisakarida kapsul alami atau

reaksi silang antigen, memproduksi IgA (Jirillo, et al. 2003).

Studi eksperimental lainnya menunjukkan bahwa tikus yang asplenia,

memiliki aktivitas bakterisidal dan fagositik dari makrofag alveolar yang

menurun, yang juga didukung dengan adanya bukti dari limfonodi pulmonal yang

terisi oleh bakteri hidup. Temuan ini menunjukkan bahwa lien dapat

memproduksi sitokin, mis. Interleukin (IL)-1 dan granulocyte colony stimulating

factor, yang dapat meningkatkan fungsi makrofag alveolar (Hebert, et al. 1994).

Peran kunci lien dalam memulai respon imun terhadap bakteri berkapsul,

diindikasikan oleh berkurangnya secara signifikan jumlah sel B memori IgM ini

setelah pengangkatan lien (Di Sabatino, 2011). Hal ini mungkin disebabkan oleh

adanya penurunan kadar interferon (IFN)- gamma dan IL-4 pada pasien-pasien

11

berbahaya bagi host oleh karena baik respon imun seluler dan humoral menurun.

Faktanya, ketiadaan dari produksi IFN gamma dapat membantu masuknya bakteri

intrasel dan/atau virus oleh karena defisiensi aktivasi dari makrofag dan/atau sel T

sitotoksik. Di lain pihak, berkurangnya pembentukan IL-4 dapat mempengaruhi

produksi antibody dalam hal pertukaran kelas isotipe dan survival limfosit B pada

lien, yang ditunjukkan pada berbagai eksperimen pada murine (Erb, 2007).

Sel limfosit B memori IgM ini memerlukan organ lien untuk kelangsungan

hidup dan regenerasinya. Jaringan limfoid perifer termasuk lien, bekerja dengan

prinsip yang sama, menangkap antigen dari lokasi infeksi dan membawanya untuk

ditunjukkan kepada limfosit, sehingga menginduksi respon imun adaptif. Lien

juga mengeleluarkan sinyal kepada limfosit yang tidak bertemu dengan antigen

spesifiknya. Hal ini penting untuk mempertahankan jumlah limfosit T dan B yang

cukup dan memastikan hanya limfosit dengan potensi untuk berespon terhadap

antigen asing, yang dipertahankan. Sel limfosit B ini memiliki kemampuan unik

yang dapat memproduksi antibodi alamiah yang diperlukan untuk menghadapi S.

pneumoniae, Neisseria meningitidis, dan Haemophilus influenzae type B, dan

dapat mengawali respon imun independen sel T terhadap adanya infeksi ataupun

vaksinasi dengan antigen kapsul polisakarida. Penurunan jumlah sel B memori

IgM ini telah dilaporkan pada anak-anak berusia kurang dari 2 tahun oleh karena

immaturitas zona marginal, pasien dengan immunodefisiensi, pasca splenektomi

dan individu dengan asplenia kongenital atau hiposplenisme, dan pasien usia

12

Dokumen terkait