• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Produksi Immunoglobulin

Antibodi merupakan suatu bentuk dari reseptor antigen yang disekresikan

sel limfosit B. Antibody ini diproduksi dalam jumlah yang sangat besar dalam

respon terhadap antigen. Struktur antibodi yang dikenal saat ini terdiri dari dua

region yang berbeda. Satu bagian adalah daerah yang konstan yang hanya dapat

menerima satu dari empat atau lima bentuk yang dapat dibedakan secara

biokimiawi, satu bagian lagi adalah daerah variabel yang dapat menerima

berbagai bentuk sehingga memungkinkan berikatan secara spesifik terhadap

berbagai jenis antigen berbeda. Antibodi merupakan molekul berbentuk Y,

memiliki daerah variable (V region) yang identik pada satu molekul antibodi, dan

menentukan spesifitas pengikatan antigen dari antibodi ini, dan daerah konstan (C

region) menentukan bagaimana antibodi mengatur pathogen setelah berikatan

(Liu, 1991).

16

Setiap molekul antibody memiliki dua rangkap aksis simetris dan terdiri

dari dua rantai berat dan dua rantai ringan yang identic. Rantai ringan dan berat ,

keduanya memiliki daerah variable dan konstan. Lengan variable dari rantai

ringan dan berat, bersatu untuk membentuk tempat pengikatan antigen, sehingga

kedua rantai berkontribusi terhadap spesifitas pengikatan antigen dari molekul

antibody. Batang dari molekul Y ini, akan menentukan kelas (isotype) dari

antibody dan menentukan sifat-sifat fungsionalnya, mengambil satu dari lima

bentuk utama atau isotype yakni immunoglobulin G, A, M, D, dan E. Tiap-tiap

kelas dari antibody, menentukan mekanisme efektor yang berbeda untuk

menghilangkan antigen setelah dikenali (Liu, 1991).

Antibodi diproduksi oleh limfosit B yang telah teraktivasi. Limfosit B

naïve yang mengenali antigen spesifiknya, akan berhenti untuk bermigrasi dan

kemudian membesar. Kromatin dalam nukleus menjadi kurang padat, nucleoli

muncul, terjadi peningkatan volume nucleus dan sitoplasma, dan terjadi sintesis

RNA dan protein baru. Dalam beberapa jam, sel akan terlihat sangat berbeda dan

dikenal sebagai limfoblast. Limfoblast kemudian mulai membelah diri, secara

normal menduplikasi dirinya 2-4 kali tiap 24 jam selama 3-5 hari, sehingga

sebuah limfosit naive akan menghasilkan sekitar 1000 sel klon dengan spesifitas

yang identik. Sel-sel klon ini akan berdifferensiasi menjadi sel plasma yang

mensekresikan antibody. Sel limfosit B hasil klon ini hanya memiliki usia yang

terbatas, dan setelah antigen dihilangkan, sebagian besar sel-sel yang dihasilkan

dari ekspansi klonal ini mengalami apoptosis. Meski demikian, beberapa dari sel

17

dikenal dengan nama sel memori, yang menjadi dasar memori immunologi yang

memastikan respon yang lebih cepat dan efektif pada saat antigen yang sama dari

pathogen memasuki tubuh dan oleh karenanya memberikan kekebalan yang

bertahan lama (Janeway, 2001).

Jaringan limfoid perifer termasuk lien, merupakan jaringan yang khusus

tidak hanya untuk menangkap sel fagosit yang membawa antigen, namun juga

untuk meningkatkan interaksinya dengan limfosit yang dibutuhkan untuk memulai

respon imun adaptif. Lien dan limfonodi adalah organ yang sangat terorganisir

untuk fungsi ini. Semua limfosit yang merespon antigen, tidak hanya memerlukan

sinyal yang dihasilkan pengikatan antigen terhadap reseptornya, namun juga

memerlukan sinyal kedua yang diberikan oleh sel lainnya. Sel limfosit B yang

menghasilkan antibody, memperoleh sinyal dari sel efektor limfosit T (Rajewsky,

1996).

Pathogen paling sering memasuki tubuh melalui barrier mukosa yang

melapisi traktus respirasi, digestif, dan urogenital, atau melalui kulit yang rusak,

sehingga menyebabkan terjadinya infeksi pada jaringan tersebut. Cara lain yang

lebih jarang adalah melalui luka tusukan atau gigitan binatang yang membawa

mikroorganisme langsung ke aliran darah. Seluruh permukaan mukosa dari tubuh,

jaringan dan darah dilindungi oleh antibody dari infeksi seperti ini. Antibody ini

berperan untuk menetralisir pathogen atau mempromosikan eliminasinya.

Antibody dari isotipe yang berbeda beradaptasi untuk berfungsi pada

kompartemen berbeda dari tubuh. Karena daerah variable dari suatu antibody

18

isotipe, maka seluruh turunan dari sel limfosit B tunggal dapat memproduksi

antibody, yang seluruhnya spesifik terhadap antigen pencetus yang sama,

sehingga menyediakan seluruh fungsi perlindungan yang sesuai untuk tiap-tiap

kompartemen tubuh (Janeway, 2001).

IgM adalah antibody pertama yang dihasilkan dari respon imun humoral

dan selalu menjadi yang pertama karena IgM dapat diekspresikan langsung tanpa

melalui pengalihan isotipe. IgM awal yang dihasilkan ini diproduksi sebelum sel

B mengalami hipermutasi somatic dan karenanya memiliki afinitas rendah.

Molekul IgM, bagaimanapun juga dapat membentuk pentamer dimana 10 lokasi

pengikatan antigennya dapat berikatan secara simultan dengan antigen multivalent

seperti misalnya polisakarida dari kapsul bakteri. Hal ini mengkompensasi

rendahnya secara relative, afinitas IgM monomer. Sebagai akibat dari ukuran

pentamer yang besar, IgM terutama ditemukan di darah dan sebagian pada cairan

limfe. Struktur pentamer dari IgM membuatnya secara khusus efektif dalam

mengaktifkan system komplemen. Infeksi pada aliran darah memiliki konsekuensi

serius, kecuali dapat dikontrol dengan cepat, dan produksi yang cepat dari IgM

dan aktivasi komplemen yang efisien merupakan hal yang sangat penting dalam

infeksi semacam ini. Beberapa IgM juga dihasilkan pada respon sekunder dan

lanjutan, dan setelah hipermutasi somatic, meski isotipe lain mendominasi fase

berikutnya dari respon antibody (Janeway, 2001).

Antibodi dari isotipe lainnya, IgG dan IgA memiliki ukuran yang lebih

kecil dan dapat berdifusi dengan mudah keluar dari aliran darah menuju jaringan.

19

Affinitas dari tiap-tiap lokasi pengikatan antigen oleh karenanya lebih tinggi dari

antibody tipe ini, dan kebanyakan dari sel limfosit B penghasil antibody ini

mengekspresikan isotipe yang telah dipilih untuk memiliki daya ikat yang lebih

tinggi untuk antigen yang spesifik di pusat germinal.

IgG merupakan isotipe utama pada darah dan cairan ekstrasel. IgG secara

efisien dapat mengopsonisasi pathogen untuk dapat dicerna oleh fagosit dan

mengaktivasi system komplemen.

IgA sendiri paling banyak ditemukan di sekresi tubuh, dimana yang paling

penting adalah dari epitel saluran cerna dan pernafasan. Daya aktivasi komplemen

dan opsonisasi IgA lebih rendah dibandingkan IgG, karena memang tempat kerja

IgA terutama pada permukaan epitel dimana komplemen dan sel fagosit

normalnya tidak ada, dan oleh karenanya fungsi utamanya adalah sebagai

antibody penetral (neutralizing antibody) (Janeway, 2001).

Tabel 2.1. Karakteristik tiap immunoglobulin dan rata-rata kadar dalam serum (Janeway, 2001) Aktifitas fungsional Distribusi Transpor epitel Melewati plasenta Difusi ekstravaskular Mean serum mg/ml Netralisasi Aktifitas fungsional Opsonisasi Aktifasi komplemen Sensitisasi oleh NK Sensitisasi oleh sel Mast

Dokumen terkait