• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PENGARUH AGAMA ISLAM DAN HINDU DALAM UPACARA

4.1.2. Fungsi Terhadap Masyarakat

Pelaksanaan acara peutron aneuk pada anak bisa berarti mengajarkan anak melaksanakan aturan-aturan dan pelestarian tradisi turun menurun sebagai adat dalam masyarakatnya sebagaimana yang di ucapkan oleh salah seorang informan yang bernama Tgk Ali Basyah, Usia 56 Tahun mengatakan sebagai berikut :

“Upacara Peutron Aneuk bukan hanya sebagai syarat saja , tetapi untuk melestarikan tradisi di gampong Perlak Asan karena orang-orang tua di kampung ini sudah sejak dari dulu selalu membuat upacara ini bila lahir anaknya sebagai bentuk proses perkenalan bayi dengan lingkungan dan dengan sanak saudaranya”.

Dengan melaksanakan suatu tradisi budaya secara terus menerus hal itu berarti bahwa masyarakat turut melestarikan budaya tersebut. Demikian juga dengan upacara-upacara tradisional yang masih dilakukan di gampong perlak asan seperti upacara peutron aneuk . Upacara peutron aneuk yang masih dilakukan masyarakat Aceh umumnya dan masyarakat Perlak Asan khususnya pada saat ini dapat tetap memperkokoh norma- norma dan nilai-nilai budaya yang telah berlaku secara turun temurun .

Masyarakat beranggapan bahwa hidup ini di tuntun oleh Adat ,Oleh karena itu upacara peutron aneuk harus tetap dilaksanakan maka akan timbul suatu perasaan tidak puas terhadap dambaan hati. Disamping itu pula apabila upacara ini tidak dilaksanakan ,hal ini berarti masyarakat telah melanggar adat.

Adat istiadat yang dimiliki suatu Masyarakat harus di timbulkan kepermukaan, sehingga masyarakat yang berasal dari suku bangsa lain akan mengenal dan menghormati kebudayaan suatu masyarakat tersebut. Dengan di

menimbulkan perasaan bangga pada masyarakat Aceh juga selalu dikenal dan di hormati, kebudayaan tersebut harus di riwariskan kepada generasi-generasi sealnjutnya dengan cara terus melaksanakan tradisi-tradisi budaya Perlak Asan, maka generasi-generasi berikut mengetahui dan mengerti tentang adatnya sendiri. Apabila mereka telah mengetahui dan mengerti maka akan timbul suatu perasaan bangga memiliki kebudayaan Aceh dengan demikian diharapkan mereka akan juga tetap melaksanakan serta nempertahankan serta mereka tanam nilai-nilai tersebut kepada generasi-generasi setelah mereka. Hal ini berarti bahwa rasa kebanggaan akan tradisi kebudayaan Aceh akan tetap bertahan sepanjang masa, bukan hanya untuk memperkokoh norma- norma dan nilai-nilai budaya tetapi juga melestarikannya.

b. Meningkatkan Hubungan Silaturahmi

Dengan dilaksanakan upacara peutron Aneuk ini oleh sebuah keluarga, anggota-angota keluarga dari kedua belah pihak suami istri akan turut berperan serta didalamnya. Bukan hanya keluarga dari kedua suami istri tersebut saja ,tetapi juga tetangga- tetangga juga turut ambil bagian.

Keluarga-keluarga Aceh yang berada di gampong Perlak Asan umumnya mempunyai hubungan persaudaraan satu sama lain sehingga apabila sebuah keluarga akan mengadakan kenduri/selamatan maka dengan segera mereka akan membantu.

Di dalam kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan suatu upacara dalam hal ini upacara Peutron aneuk, terjadi suatu kerja sama diantara mereka yang melakukan segala persiapan tersebut. Karena ketika itu mereka satu sama lain

saling berkomunikasi, saling membantu, bercanda dan sebagainya. Sehingga menimbulkan suasana yang akrab, bahkan bertambah meriah karena adanya gelak tawa mereka. Situasi yang demikian dapat mempererat hubungan kekeluargaan maupun bertetangga. Hal ini tidak terlepas darin sifat kegotong royongan yang dimiliki oleh masyarakat Aceh di desa Perlak Asan. Sehingga dengan perasaan rela dan iklas mereka saling membantu dalam setiap upacara yang dilaksanakan.

Gambar 6. Kebersamaan warga pada hajatan

Setelah fungsi-fungsi yang terdapat dalam upacara Peutron aneuk, dapat dikatakan bahwa fungsi- fungsi tersebut sesuai dengan teori fungsionalisme yang dipergunakan. Diantara fungsi- fungsi tersebut yang dapat disesuaikan adalah :

Fungsi upacara sebagai sarana pendidikan dimana sianak dituntut untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai serta norma-norma yang terdapat dalam masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa upacara Peutron aneuk yang dijalani oleh sianak menjadi objek orientasinya dalam bertindak dan bertingkah laku. Hal ini sesuai dengan teori C.kluckhohn, yang mengatakan

bahwa upacara berfungsi sebagai objekorientasi tindakan dan tingkah laku (Variation in Value Orientation, Evanston,: 1961, 111)

Fungsi upacara Peutron aneuk untuk membangkitkan semangat hidup si anak yaitu sebelum ia menjalani kehidupannya terlebih dahulu ia harus dipersiapkan sehingga ia mempunyai kekuatan dan dan ketabahan dalan menjalani hidupnya fungsi ini dapat disesuaikan dengan teori A.Van gennep yang mengatakan bahwa secara universal upacara berfungsi untuk menimbulkan kembali semangat kehidupan sosial antar warga masyarakat. (koentjaraningrat: 1980, 75)

Fungsi Upacara Peutron aneuk sebagai suatu cara untuk melaksanakan tanggung jawab orang tua sehingga menimbulkan kepuasan di dalam batin mereka. fungsi ini dapat disuaikan dengan teori dari B.malinowski, yang mengatakan bahwa secara keseluruhan aktivitas upacara berfungsi untuk memuaskan kebutuhan naluri manusia. (koentjaraningrat: 1980, 167). Dalam hal ini adalah kebutuhan naluri orang tua akan adanya kepuasan batin mereka setelah melaksanakan upacara Peutron aneuk tersebut.

Fungsi upacara Peutron aneuk untuk meningkatkan hubungan silaturrahmi diantara keluarga serta tetanga-tetangga tersebut. Karena mereka inilah yang telah turut serta berperan dalam mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk upacara. Dengan adanya kerja sama diantara mereka hal ini juga dapat mempererat hubungan antara mereka. Fungsi ini dapat disesuaikan dengan teori W.R.Smith yang mengatakan bahwa upacara berfungsi untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat (koentjaraningrat: 1980, 67).

4.2. Pengaruh Agama Islam dalam Pelaksanaan Upacara Peutron Aneuk. Sebagaimana telah dijelaskan suku bangsa Perlak Asan merupakan pemeluk agama Islam yang taat. Kita juga telah mengenal bidal yang mengatakan bahwa “masuk Perlak Asan berarti masuk lslam “. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Perlak Asan identik dengan lslam. Yang mula-mula sekali memeluk agama lslam dalam masyarakat Perlak Asan adalah golongan raja-raja dan keluarganya. Mereka banyak bergaul dengan para saudagar-saudagar dari Gujarat dan parsi yang tidak hanya berdagang tetapi juga menyebarkan agama lslam.

Dengan predikat sebagai pemeluk agama Islam yang taat, maka dapat dikatakan dahwa hukum lslam seluruhnya diambil alih menjadi hukum masyarakat Perlak Asan, seperti anak lahir ,bersunat, kawin, meninggal, pembagian harta dan lain-lain dengan dibumbui oleh beberapa hukum adatnya.

Seperti telah dikemukakan bahwa pertumbuhan adat dan budaya Perlak Asan disesuaikan dengan kaedah-kaedah agama lslam, maka timbullah satu falsafat : Hukum ngon adat lagei zat ngon sifeut artinya Hukum Ajaran Islam dengan Hukum adat tidak dapat dipisahkan.

Namun harus diakui bahwa tidaklah 100% dari perubahan adat itu dapat dilaksanakan sejalan denga ajaran agama lslam, sudah tentu ada antara bagian-bagian adat yang lama yang dibawa orang Hindu itu terus dipakai dan hidup dalam kebiasaan sehari-hari, karena adat tersebut telah menjadi kebiasaan ratusan tahun lamanya dalam kehidupan masyarakat Perlak Asan sebelum memeluk agama islam.

Demikian juga halnya dengan adat-istiadat upacara Peutron aneuk yang dalam pelaksanaannya selalu disesuaikan dengan kaedah-keadah agama islam. Bahagian-bahagian yang tidak sesuai lagi dengan ajaran-ajaran agama Islam sudah tidak dilaksanakan oleh mereka. Meskipun beberapa bahagian kecil masih dilakukan oleh mereka.

Dalam pembahagian-pembahagian di atas telah dapat diketahui unsur-unsur agama lslam yang mempengaruhi upacara Peutron aneuk ini. Secara rinci akan dijelaskan seperti dibawah ini.

Dalam setiap memuali sesuatu acara terlebih dahulu harus diawali dengan ‘Bismillah ‘ bukan hanya oleh yang memimpin sesuatu perkerjaan ,tetapi dahulu harus memohon ridha dari Allah tujuanya adalah supaya Allah merestui segala yang di kerjakan sehingga apa yang diharapkan akan di kabulkan tuhan.

Membaca shalawat nabi ketika hendak mencukur rambut si Bayi , tidak lain memohon Syafa’at dari Nabi Besar Muhammad Saw. Karena apabila seorang manusia selalu memohon syafa’at dari Nabi Muhammad, mudah-mudahan Nabi akan selalu ingat kepadanya. Terutama sekali apabila kehidupan di dunia telah berakhir, bagi manusia yang selama hidupnya selalu ingat akan junjungan Nabi Muhammad saw, InsyaAllah di alam akhirat ia akan memperoleh bantuan dari Rasullullah.

Upacara mencukur rambut juga merupakan suatu hal yang dialami oleh Nabi Muhammad, dimana semasa kecilnya ia juga dicukurkan. Oleh sebab itu umat Islam sebagai pengikut Nabi Muhammad, sebaik-baiknya mencontoh segala perilakunya. Upacara mencukur rambut ini juga mengandung nilai kebersihan sesuai dengan yang diajarkan Islam, dimana rambut kotor yang dibawa sejak lahir

sebaiknya dibuang.. Hal itu supaya rambut yang akan tumbuh menjadi lebih bersih dan lebih sehat.

Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menjaga kebersihan dirinya baik kebersihan lahiriah maupun bathiniah. Oleh sebab itu dianjurkan sebelum umat Islam menghadap kepada Tuhan yaitu ketika menunaikan shalat, sebaiknya mandi terlebih dahulu. Kemudian dianjurkan untuk mengenakan pakaian bersih dan indah. Demikian juga makna yang terkandung dalam acara memandikan si bayi yaitu untuk mengajarkan kepadanya agar selalu menjaga kebersihan dirinya baik lahir maupun bathin.

Ketika si bayi dimandikan maka popoknya tidak turut dibuka, maksudnya adalah mengajarkan kepada si bayi supaya ia tidak pernah lupa untuk menjaga kehormatan dan auratnya dari pandangan orang lain. Karena apabila ia menyia-yiakan kehormatan dan aurat sendiri berarti dia sudah melanggar perintah Tuhan. Disamping itu juga merendahkan dirinya dihadapan orang lain. Karena Allah telah berfirman kepada umat-nya agar mempergunakan pakaian yang sebaik-baiknya dan sesuai dengan yang diperintahkan Allah.

Di dalam upacara Peutron aneuk ini dibacakan doa-doa dalam bahasa arab, seperti doa selamat, doa puji syukur dan sebagainya. Karena dalam berdoa tidak hanya satu hal saja yang dimohonkan kepada Allah, tetapi bermacam-macam hal yang menyangkut kehidupan manusia. Misalnya kesehatan, keselamatan, mudah rezeki, panjang umur, keberhasilan dalam hidup dan sebagainya. Doa-doa tersebut dibacakan dengan khusus dan bersungguh-sungguh serta dengan perasaan ikhlas. Karena sebagai makhluk hidup ciptaan Allah, manusia tidak boleh bersikap sombong ketika memohon kepada Allah. Sebab

Dia-lah Yang Maha kuasa di dunia dan akhirat, oleh sebab itu manusia harus tunduk pada perintah-nya. Sedangkan marhaban dan berjanzi di baca adalah sebagai puji-pujian kepada Muhammad, sebagai tanda bahwa manusia benar-benar menjunjung tinggi kemulian Nabi Muhammad. Marhaban dan berjanzi yang dibacakan itu berupa syair-syair dalam bahasa Arab, dimana ketika membacakannya dengan berlagu.

4.3. Pengaruh Agama Hindu dalam Pelaksanaan Upacara Peutron Aneuk

Dokumen terkait