BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KONSEPTUAL
D. Pendidikan Agama Islam (PAI)
3. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Menurut Abdul Majid dan Dian Andayani bahwa fungsi Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/madrasah sebagai berikut:
43
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1997), cet.3, h.86
44
a. Pengembangan
Pengembangan merupakan upaya peningkatan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT, yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Sekolah berfungsi untuk mengembangkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan sehingga nilai keimanan dan ketakwaannya terus berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
b. Penanaman Nilai
Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.
c. Penyesuaian Mental
Penyesuaian mental yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannnya sesuai dengan ajaran agama Islam.
d. Perbaikan
Perbaikan yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pencegahan
Pencegahan berfungsi untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannnya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
f. Pengajaran
Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir nyata), sistem, dan fungsionalnya.
Penyaluran yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus dibidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.45
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, fungsi Pendidikan Agama Islam di sekolah atau madrasah, yakni untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai ajaran agama Islam sehingga nilai-nilai agama bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang merancukan pengertian istilah “ Pendidikan agama Islam” dan “ pendidikan Islam”. Kedua istilah ini dianggap sama, sehingga ketika seseorang berbicara tentang pendidikan Islam ternyata isinya terbatas pada pendidikan agama Islam, atau sebaliknya ketika seseorang berbicara tentang Pendidikan agama Islam justru yang dibahas di dalamnya adalah tentang pendidikan Islam. Padahal kedua istilah itu memiliki substansi yang berbeda.
Tafsir (2004) membedakan antara pendidikan agama Islam (PAI) dan pendidikan Islam. PAI sebagai mata pelajaran seharusnya dinamakan “Agama Islam”, karena yang diajarkan adalah agama Islam bukan pendidikan agama Islam. Nama kegiatannya atau usaha-usaha dalam mendidikkan agama Islam disebut sebagai pendidikan agama Islam. Sedangkan menurut Muhaimin (2003), bahwa pendidikan agama Islam merupakan salah satu bagian dari pendidikan Islam. Istilah “pendidikan Islam” dapat dipahami dalam beberapa perspektif, yaitu:
a. Pendidikan Menurut Islam, atau pendidikan yang berdasarkan Islam, dan atau sistem pendidikan yang Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu al-Quran dan al-Sunnah/Hadis.
45
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi... h. 130
b. Pendidikan ke-Islaman atau pendidikan agama Islam, yakni upaya mendidik agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life(pandangan dan sikap hidup) seseorang. c. Pendidikan dalam Islam, atau proses dan praktik penyelenggaraan
pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam.46
Jadi berdasarkan penjelasan di atas, Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat diartikan sebagai proses pendidikan terhadap nilai-nilai ajaran Islam kepada pemeluknya untuk dipelajari, dihayati dan diamalkan segala peraturan yang terkandung di dalamnya yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah, sebagai pedoman hidup menuju jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.
Adapun yang menjadi permasalahan urgent bagi ilmu pendidikan agama Islam ialah:
a. Bagaimana seharusnya pendidikan Islam dapat menjawab tantangan kebutuhan kependidikan generasi muda bagi kehidupannya masa depan secara sistematis berencana, mengingat ciri khas agama Islam adalah sifat aspiratif dan kondusif kepada kebutuhan hidup sesuai dengan human nature (fitrah).
b. Bagaimana agar pendidikan Islam mampu mendasari kehidupan generasi muda dengan iman dan takwa dalam berilmu pengetahuan yang sekaligus memotivasi daya kreativitasnya dalam kegiatan pengembangan dan pengamalan ilmu pengetahuan tersebut sejalan dengan tuntutan Al-Quran.
c. Bagaimana pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu dapat melestarikan dan memajukan tradisi dan budaya moral yang Islamic-Ethik dalam komunikasi sosial dan interpersonal dalam masyarakat yang semakin industrial-teknologis.
46
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
d. Bagaimana agar pendidikan Islam tetap mampu berkembang dalam jalur input environmental di lembaga pendidikan dalam proses pencapaian tujuan akhirnya, baik dalam upaya membentuk pribadi, maupun anggota masyarakat dan warga negara yang berkualitas baik.
Semboyan yang menjadi etos kerja kita antara lain adalah firman Allah yang menyatakan:
) * + , - . /01 2 3 45 6 7 8 Artinya:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi
mereka selain Dia.”(Q.S. Ar-Ra’du,11)47
Penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah penuh tantangan, karena secara formal penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah hanya 2 jam pelajaran per minggu. Jadi apa yang bisa mereka peroleh dalam pendidikan yang hanya 2 jam pelajaran. Jika sebatas hanya memberikan pengajaran agama Islam yang lebih menekankan aspek kognitif, mungkin guru bisa melakukannya, tetapi kalau memberikan pendidikan yang meliputi tidak hanya kognitif tetapi juga sikap dan keterampilan, guru akan mengalami kesulitan. Kita tahu bahwa sekarang
47
di kota-kota pada umumnya mengandalkan pendidikan Islam di sekolah saja, karena orang-orangnya sibuk dan jarang sekali tempat-tempat yang memungkinan mereka belajar agama Islam. Jadi guru ini kalau dipercaya untuk mendidik pendidikan agama Islam di sekolah, keislaman mereka ini adalah tanggung jawab moral. Oleh karena itu jangan hanya mengandalkan guru-guru yang hanya mengajar di sekolah saja, akan lebih baik apabila menciptakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang memungkinkan mereka bisa belajar agama Islam lebih banyak lagi.