• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPACARA MUNCANG DALAM KONTEKS BUDAYA

UPACARA MUNCANG

4.2 Kronologis Jalannya Upacara Muncang di Dusun III Namo Rindang

4.3.4 Penggunaan dan Fungsi Gendang Lima Sidalanen pada Upacara

4.3.4.6 Fungsi pengintegrasian (pemersatu) masyarakat

Penggunaan musik Gendang Lima Sidalanen memiliki fungsi

pengintegrasian (pemersatu) masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat pengaruh yang diberikan kepada para pendengar. Dengan dilakukannya upacara Muncang yang menggunakan musik Gendang Lima Sedalanen maka seluruh masyarakat Namo Rindang berkumpul bersama di Balai Desa Namo Rindang.

Dalam pertemuan dalam upacara Muncang ini, dimanmfaatkan untuk

bersilaturahmi dan menjalin komunikasi diantara masyarakat yang satu dengan yang lainnya di Namo Rindang. Mereka terlihat saling membantu di dalam melaksanakan semua kegiatan upacara yang dilakukan dari awal hingga akhir upacara.

Upacara Muncang yang dilakukan di Namo Rindang adalah sebuah

kesepakatan yang dilakukan oleh seluruh masyarakat. Hal ini dikarenakan mereka merasa memiliki persamaan sebagai satu kesatuan masyarakat di Namo Rindang. Selain itu, leluhur mereka telah memiliki hubungan yang erat yang ditunjukkan dari awal pembentukan Kuta dan melindungi Kuta dari hal-hal yang mengganggu dan membahayakan masyarakat di Namo Rindang.

90

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Muncang adalah sebuah upacara ritual pada masyarakat Karo yang dilakukan sebagai wujud penghormatan masyarakat Karo kepada roh leluhur. Maksud dari diadakannya upacara Muncang ini adalah untuk menjaga agar keharmonisan antara masyarakat dengan leluhur mereka tetap terkalin dengan erat sehingga dengan demikian roh leluhur tersebut sudi untuk menjaga dan melindungi masyarakat desa dari gangguan-gangguan yang berasal dari roh-roh jahat dan juga membantu masyarakat dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari mereka.

Ada dua bagian besar dari upacara Muncang ini. Bagian pertama adalah kegiatan pra-upacara. Kegiatan yang dilakukan dalam pra-upacara ini adalah membersihkan tempat yang disakralkan dan dianggap merupakan tempat beradanya roh-roh leluhur yang disebut dengan tembun-tembunen, yaitu Mabar. Selain itu ada pula makam dari seorang panglima sakti yang dahulunya banyak membantu masyarakat desa untuk melawan penjajah. Makam tersebut diberi nama makam Dibata Porling.

Bagian kedua adalah kegiatan upacara. Kegiatan ini dimulai dengan meminta izin kepada roh leluhur agar upacara berlangsung dengan baik yang dilakukan oleh Guru Sibaso. Setelah itu pihak sukut dan juga mediator yang akan dijadikan sebagai mediator disucikan Lau Penguras yang terdiri dari air yang berisi jeruk purut dan jera. Acara selanjutnya adalah Ndahi Tembun-tembunan,

91

yaitu sebuah kegiatan mendatangi roh leluhur yang bertempat di Mabar dan makam Dibata Porling. Kegiatan ndahi Tembun-tembunen ini dilakukan dengan cara arak-arakan yang diiringi oleh reportoar Gendang Siarak-araki Guru yang merupan bagian dari repertoar Gendang Guru.

Acara selanjutnya dari upacara ini adalah acara Perumah Begu. Perumah Begu adalah kegiatan pemanggilan roh leluhur ke dalam tubuh mediator, agar masyarakat dapat melakukan komunikasi dengan roh leluhur tersebut. Ada 4 roh yang dipanggil dalam upacara ini. Roh yang pertama adalah roh Nini Petir, yaitu roh yang dipercayai masyarakat mampu mengatur cuaca. Masyarakat meminta kepada roh Nini Petir agar diberikan cuaca yang baik untuk mendukung kegiatan pertanian. Roh selanjutnya adalah roh Situa-tua. Roh Situa-tua ini merupakan sebutan masyarakat kepada roh-roh orang yang dituakan dan dianggap memiliki kebijaksanaan. Diharapkan dengan datangnya roh Situa-tua ini, masyarakat dapat meminta nasehat dan petuah dari roh ini dalam menjalani kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Roh yang ketiga adalah roh Dibata Porling. Dibata Porling adalah roh yang semasa hidupnya adalah seorang panglima yang sakti dan berjuang untuk Kuta. Untuk mengiringi pemanggilan, musik yang dimainkan adalah lagu Gendang Siadang Adangi, Gendang Pengelimbei, Gendang Sabung Tukuk, dan Gendang Peselukken yang merupakan bagian dari repertoar Gendang Guru. Dan roh selanjutnya adalah si Jogal. Si Jogal merupakan roh yang dianggap

sebagai penjaga kampung dari gangguan-gangguan roh jahat. Si Jogal

mengelilingi desa dan masuk ke rumah-rumah penduduk untuk mengusir roh-roh jahat yang ingin mengganggu kenyamanan desa.

92

Upacara ini diakhiri dengan pemberian pukulen, yaitu imbalan berupa amak mentar, beras, ayam kampung, kelapa, gula aren, dan sejumlah uang kepada pemusik dan Guru Sibaso.

Selain beberapa hal diatas maka dapat diuraikan pembahasan dari analisa musikal dan fungsi musik pada upacara Muncang di Namo Rindang.

1. Dari sisi analisa musikal, Gendang Lima Sedalanen adalah musik yang

digunakan dalam kegiatan upacara Muncang di Namo Rindang. Gendang

Guru adalah reportoar yang dimainkan untuk mengiringi upacara

Muncang. Terdapat beberapa komposisi dalam reportoar gendang Guru yaitu Gendang Siarak-araki Guru, Gendang Siadang-adangi, Gendang Pengelimbei, Gendang Sabung Tukuk dan Gendang Peselukken. Melihat fungsinya di dalam upacara maka komposisi Gendang Siarak-araki Guru hanya digunakan untuk mengiringi proses arak-arakan Ndahi Tembunen.

Sedangkan komposisi seperti Gendang Siadang-adangi, Gendang

Pengelimbei, Gendang Sabung Tukuk, dan Gendang Peselukken berfungsi

sebagi iringan mengahantarkan Guru Sibaso untuk mencapai suatu

suasana trance. Dalam proses iringan tersebut terjadi perpindahan dari satu komposisi ke komposisi berikutnya yang dimana dalam setiap perpindahannya mengalami perubahan tempo yang semakin cepat.

2. Dari sisi fungsi musik, seperti yang diungkapkan oleh Alan. P. Merriam bahwa terdapat sepuluh fungsi musik yang mungkin tidak semua berlaku dibeberapa wilayah. Pada Upacara Muncang di Namo Rindang terdapat enam fungsi musik yang ditemukan yaitu

93

(a) Fungsi pengungkapan emosional, dimana musik dapat mempengaruhi emosional Guru Sibaso dan masyarakat Namo Rindang yang begitu bersemangat melakukan gerakan-gerakan tubuh.

(b) Fungsi komunikasi, dimana adanya hubungan timbal balik antara musik dan Guru Sibaso. Musik memberikan pesan yang dimengerti dan kemudian diikuti dengan gerakan-gerakan yang dilakukan Guru Sibaso mengikuti ritme musik.

(c) Fungsi reaksi jasmani, dimana musik dapat mempengaruhi reaksi jasmani Guru Sibaso

(d) Fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara keagamaan, dimana musik Gendang Lima Sedalanen sangat berperan penting didalam upacara Muncang. upacara Muncang tidak dapat dilaksanakan jika tidak ada musik Gendang Lima Sedalanen.

(e) Fungsi kesinambungan kebudayaan, dimana pada upacara Muncang

penggunaan Gendang Lima Sedalanen adalah proses keberlangsungan

aktivitas dari budaya Karo.

(f) Fungsi Pengintegrasian masyarakat, dimana musik dapat

mempersatukan masyarakat Namo Rindang pada saat kegiatan upacara Muncang berlangsung.

5.2 Saran

Muncang merupakan sebuah upacara tradisional yang mengandung nilai nilai kearifan lokal masyarakat kebudayaan Karo. Salah satunya adalah musik

94

tradisional Gendang Lima Sedalanen. Dengan diadakannya upacara ini, secara otomatis keberadaan Gendang Lima Sedalanen tetap terjaga.

Hal ini harus disadari oleh pemerintah dan masyarakat saat ini. Kepada pemerintah khususnya, agar memperhatikan dan menjaga keberadaan upacara ini. Jika dikemas dengan lebih menarik, upacara ini dapat dimanfaatkan dengan cara dijual sebagai produk pariwisata budaya dalam kemasan seni pertunjukan.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini belumlah mampu dikatakan sebagai tulisan yang baik. Penulis sangat mengharapkan partisipasi dari rekan-rekan pecinta budaya, khususnya budaya Karo demi memperbaiki tulisan ini. Tulisan ini hanyalah sebuah awal dari tujuan untuk menjaga eksistensi kebudayaan Nusantara, terkhususnya budaya Karo. Kritik dan saran dari kawan-kawan sekalian sangatlah penulis harapkan.

95

Dokumen terkait