ISLAM DAN GERAKAN SOSIAL BARU DI INDONESIA SUATU KERANGKA TEORITIK
B. Agama dan Gerakan Sosial Baru
2. Fungsi dan Peran Agama
telah menghasilkan dan berkontribusi, langsung maupun tidak langsung, terhadap politik Islam, termasuk kemunculan Islam publik26.
Di Indonesia sendiri, keberadaan agama tidak pernah berhasil diprivatisasikan oleh agen-agen modernism atau sekularisme. Sejak periode kolonialisme dan pasca kolonialisme yang ditandai oleh dinamika modernisasi dalam berbagai sector kehidupan masyarakat, fungsi dan peran agama semakin vital tidak saja dalam ruang publik, melainkan juga dalam ranah politik. Para sarjana Islam seperti Azyumardi Azra, Robert Hefner, Asef Bayat, John Esposito, dan masih banyak lagi telah menguji dan menemukan bukti kuat terhadap kaitan antara Islam, gerakan social, dan demokrasi di negara-negara Muslim, termasuk di Indonesia27.
2. Fungsi dan Peran Agama
Agama selalu terbuka untuk diinterpretasikan dan sekaligus dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok social tertentu, termasuk agen agama itu sendiri. Satu sisi, agama kerap dimanfaatkan oleh kalangan status quo untuk memberikan legitimasi dan justifikasi terhadap kekuasaan. Agama kerap dimanipulasi oleh pihak-pihak berkepentingan untuk tujuan politik praktis seperti perebutan dan pelanggengan kekuasaan. Apa yang dilakukan oleh rezim Suharto ketika memanfaatkan kalangan konservatif Muslim guna men-support kekuasaannya dan sekaligus melawan agen-agen Islam reformis yang berusaha mendesakkan perubahan, merupakan contoh nyata bagaimana agama dimanipulasi sedemikian rupa untuk kepentingan status
quo28. Dalam konteks ini, agama kerap menjadi –meminjam istilah Marx— candu bagi masyarakat kelas bawah. Alih-alih agama dapat membangkitkan kesadaran kritis untuk bangkit melawan ketidakberdayaan dan ketidakadilan, justru menjadikan mereka semakin tidak berdaya akibat ideologisasi dan mitologisasi agama yang diinjeksikan oleh elit agama yang berorientasi pada status quo.
26 Sumanto Al Qurtuby, “Public Islam in Southeast Asia…………., 2013.
27 Baca Azyumardi Azra, Indonesia, Islam and Democracy: Dynamics in a Global Context, Denver, CO: Soltice Publishing, 2004; Asef Bayat, Making Islam Democratic: Social Movement and
the Post-Islamist Turn, Stanford, CA: Stanford University Press, 2007; Robert Hefner, Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia, Princeton and Oxford: Princeton University Press, 2000.
26
Dalam cara pandang Marxisme ortodoks, agama memang kerap dianggap kurang mampu berperan dalam mendobrak ketidakadilan sosial, terutama yang disebabkan oleh sistem kapitalisme. Alih-alih berfungsi sebagai counter-capitalism, agama justru dapat dimanfaatkan secara efektif oleh agen kapitalisme untuk meracuni kesadaran kritis masyarakat bawah. Disfungsionalisme agama dikaitkan dengan kenyataan bahwa para pemuka agama di Eropa saat itu, telah menjadi bagian dari oligarki yang menindas. Karena penindasan itulah (yang diberikan melalui pemberian dukungan politik kepada penguasa maupun hegemoni kesadaran), rakyat menjadi semakin pasif, pasrah dan tidak tergerak untuk mengubah keadaan yang buruk tersebut dengan cara memperjuangkan nasibnya melalui kekuatan dan energi yang dimilikinya29.
Menurut Michael Lowy, dalam buku yang ditulisnya Teologi Pembebasan, kajian Marx yang kritis tentang agama dipahami sebagai suatu kenyataan sosial dan sejarah yang baru dimulai. Kata-kata Marx “agama adalah candu rakyat” merupakan penggalan kalimat yang sering dikutip dengan dipisahkan dari konteks yang ada. Sebagai catatan, kalimat yang kontroversial itu ditulis oleh Marx saat ia masih muda dan berposisi sebagai sayap kiri pemikir neo-Hegelian di bawah pengaruh Feurbach. Dalam bukunya Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1844), Marx melihat adanya dualism dalam praktek agama di Eropa. Satu sisi, agama sebatas menjadi alat legitimasi penguasa, di sisi lain, agama mempunyai dimensi penentangan atas kekuasaan yang mapan30.
Cara pandang lebih progresif terhadap agama dikemukakan oleh sejumlah pemikir neo-Marxisme seperti Engels. Tokoh ini melihat adanya kesamaan dalam pola pendukung gerakan antara agama Kristen primitif dengan sosialisme modern, agama sebagai alat perjuangan bagi kaum tertindas dan teraniaya. Keduanya
29 Dalam konteks relasi antar kekuasaan yang menindas dan kesadaran para korban itulah, Marx menjelaskan posisi agama. Pengetahuannya yang terbatas soal agama, membuat Marx mengambil kesimpulan yang sederhana pula bahwa agama tidak saja menjadi relasi spiritual yang kodrati dan abstrak, tetapi juga terkait dengan relasi kekuasaan yang nyata dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari umat manusia. Dalam German Ideology, Marx menyatakan bahwa agama merupakan ideologi yang ‘dibentuk’ oleh produksi material dan berkaitan erat dengan hubungan-hubungan sosial yang ada di dalam masyarakat. Luthfi J. Kurniawan dan Hesti Puspitosari, Negara,
Civil Society dan Demokratisasi………., hal., 82.
30 Luthfi J. Kurniawan dan Hesti Puspitosari, Negara, Civil Society dan
27
bertujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu ketertindasan dan ketidakadilan. Perbedaannya, Kristen primitif mengalamatkan pembebasan pada kehidupan alam akherat kelak. Sedangkan sosialisme cenderung menempatkannya pada kehidupan di dunia saat ini31.
Mengikuti cara pandang kedua, agama kerap dimanfaatkan oleh sebagian umat beragama untuk kepentingan gerakan transformasi sosial. Dalam banyak kasus, agama bisa dimanfaatkan oleh sebagian umat beragama sebagai sumber pengetahuan, sistem nilai, etika dan bahkan ideologi yang mampu menjadi suatu ‘kontra diskursus’ atau ‘kontra hegemoni’ terhadap ideologi dan tindakan-tindakan dominatif32. Selama periode kolonial, agama terbukti mampu menjadi simbol, spirit dan bahkan teologi perlawanan rakyat dari segala bentuk penindasan yang dilakukan rezim negara kolonial. Terbaru, agama cukup efektif digunakan agen-agen agama berhaluan progresif dalam menggerakkan aksi-aksi sosial-politik untuk menentang rezim otoritarianisme Orde Baru. Hasilnya, gerakan reformasi 1998 yang mendapatkan dukungan kuat dari elemen-elemen sipil Islam, berhasil melengserkan Suharto.
Dalam kasus gerakan sosial di Paseban, agama juga berperan penting dalam merangsang aksi-aksi kolektif yang dilakukan oleh warga masyarakat desa bersama-sama elemen masyarakat sipil lainnya, dalam menolak tambang. Keterlibatan agen-agen agama, baik di tingkat lokal pedesaan maupun di tingkat regional, menjadi kata kunci bagi keberhasilan aksi protes masyarakat dalam menolak kepentingan investor yang telah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah kabupaten Jember. Bagaimanapun, keterlibatan agen-agen agama dalam gerakan social, sebagaimana terjadi di Paseban, tidak bisa dikosongkan dari ide-ide keagamaan. Keberhasilan agen-agen agama dalam meyakinkan warga masyarakat Paseban, untuk bersama-sama menolak tambang karena dinilai banyak madharat-nya dibandingkan
maslahat-nya, bukan tanpa ada kaitkan dengan ajaran agama. Saat bersamaan,
ketika warga masyarakat menjelaskan bahwa tindakan mereka dalam menolak
31 Luthfi J. Kurniawan dan Hesti Puspitosari, Negara, Civil Society dan
Demokratisasi………., hal., 83.
32 Ignas Kleden, Agama dan Perubahan Sosial dalam Agama dan Tantangan Zaman:
28
tambang dan sekaligus melindungi kawasan pesisir yang menjadi ekologi kehidupan sosial-kultural mereka, sebagai bagian dari pengamalan ajaran agama, maka agama pun telah menjelma menjadi seperangkat struktur makna yang berfungsi sebagai penjelas dan pengonstruk kenyataan sosial33.