GERAKAN SOSIAL DAN DEMOKRATISASI DI TINGKAT LOKAL
C. Kebijakan Berubah, Relasi Kekuasaan Tetap
2. Kepentingan Kaum Santri dalam Gerakan Sosial Baru
148
Motif dan kepentingan kaum santri untuk terlibat dan melibatkan diri dalam aksi protes atas tambang di Paseban, tidaklah tunggal, melainkan beragam. Sebagaimana perspektif teori gerakan sosial baru, aksi kolektif kaum santri tidak hanya berkorelasi dengan pertimbangan dan kepentingan yang bercorak materialistik dan politis, melainkan juga ideologis. Hal ini cukup bisa dimaklumi mengngat fakta sosiologis bahwa kaum santri yang berperan menjadi aktor aksi protes berasal dari beragam kelompok dengan latar sosial, ekonomi, dan politik yang tidak tunggal. Aktivis santri yang berlatar mahasiswa, elit agama, pengurus ormas, LSM, dan politisi, merupakan sejumlah elemen kaum santri yang terlibat aktif dalam aksi-aksi protes tersebut.
Secara garis besar, pertimbangan dan kepentingan kaum santri dalam menolak tambang didasarkan pada sejumlah variable sosial penting. Pertama, kekecewaan terhadap kebijakan negara dalam pengelolaan sumberdaya alam tambang. Hampir semua elemen santri berpendapat bahwa rencana pemerintah kabupaten memberikan izin kepada pihak swasta untuk eksplorasi tambang dinilai sebagai kebijakan yang tidak pro-rakyat, suatu kebijakan yang dinilai sarat dengan kepentingan pasar (neo-liberalisme). Dalam banyak kasus, pengelolaan tambang sebatas menyejahterakan sekelompok elit penguasa dan pemodal semata, serta membawa kesengsaraan bagi warga masyarakat, terutama mereka yang berada di lapisan paling bawah. Kalaupun industri tambang dapat memberi akses pekerjaan kepada warga masyarakat desa, bisa dipastikan, jenis pekerjaan yang mereka dapatkan tidak lain adalah pekerjaan di sector informal, sebagai pekerja kasar (hard worker) dengan upah yang minim.
Kedua, membela kepentingan publik. Aktivisme kaum santri dalam aksi protes
diorientasikan pula pada usaha untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat idealistik. Pembentukan masyarakat madani yang berdaya, mandiri dan otonom serta memiliki kemampuan dalam membangun pola relasi kekuasaan dengan negara maupun pasar, masih tetap menjadi cita-cita yang diidealkan dan hendak dibumikan oleh segenap aktivis santri dalam kenyataan. Semua ini tidak akan pernah terwujud kalau tidak ada kepedulian dan keberpihakan terhadap masyarakat yang sejauh ini masih subordinatif.
149
Negara agar tetap berpijak pada posisi dan perannya sebagai institusi politik tertinggi yang harus bertanggung jawab dalam mensejahterakan dan memberdayakan warganya secara partisiatif, harus terus dikontrol agar tidak melenceng dari khittah-nya. Bagaimanapun, negara rentan dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh rezim-rezim aparaturnya untuk memenuhi kepentingan sekelompok kecil dan mengabaikan kelompok besar warga negara. Atas dasar pertimbangan inilah, kaum santri bangkit untuk berperan serta dalam melakukan pembelaan terhadap perjuangan warga masyarakat Paseban yang tengah menuntut keadilan soal tambang.
Ketiga, pertimbangan ekologis. Sekalipun aksi protes tidak mengusung satu isu
seperti ekologi (deep ecology maupun eco sosialisme), namun wacana lingkungan tetap mewarnai aktivisme kaum santri. Komitmen kaum santri untuk terlibat dalam gerakan perlawanan di Paseban, berkaitan erat dengan pertimbangan dan kepentingan untuk menjaga eksistensi ekologi pesisir. Bagaimanapun, kawasan pesisir pantai selatan Jember itu, telah menjadi denyut nadi kehidupan warga masyarakat Paseban. Sekalipun tidak semua warga Paseban hidup di sekitar dan menggantungkan hidupnya dari kawasan pesisir, sebagian besar dari mereka, termasuk warga yang ajuh dari pesisir, tetap saja memiliki kesadaran ekologi pesisir tinggi. Dalam alam kesdaran mereka, pesisir merupakan bagian dari kawasan sosio-kultural dan geografis Paseban. Tidak sedikit dari warga Paseban yang berprofesi sebagai petani sawah, ikut terlibat dalam melakukan ritual petik laut yang diselenggarakan oleh para nelayan dan warga di sekitar pesisir. Demikian halnya dalam perawatan dan peruwatan kawasan pesisir melalui penghijauan, warga Paseban ikut serta terlibat di dalamnya. Hal ini mengindikasikan bahwa warga masyarakat desa Paseban, tanpa terkecuali masih memiliki perhatian dan kesadaran ekologis terhadap kawasan pesisir pantai Paseban. Gambaran lebih jauh tentang kesadaran ekologis warga masyarakat Paseban dapat dibaca pada sub-bab ekologi pesisir Paseban.
Keempat, kalkulasi ekonomi-politik. Tuntutan kaum santri yang terlibat aksi
protes agar sumberdaya alam tambang di Paseban dikelola secara demokratis, dengan mempertimbangkan aspirasi publik secara luas dan menghitung dampak ekologisnya,
150
sesungguhnya beririsan pula dengan tujuan-tujuan yang bersifat politik dan materialistik. Sebagaimana sudah diuraikan sebelumnya, tidak seluruh elemen santri yang terlibat dalam aksi protes, menolak total semua bentuk tambang. Sebagian dari mereka menyatakan tidak masalah dengan industri tambang di Paseban, asalkan dilakukan dengan melibatkan peran partisipatif masyarakat. Jika prosesnya sudah dilakukan melalui mekanisme yang benar, berwawasan ekologis, dan hasil produksinya diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran warga masyarakat Jember, mereka pun well come dengan tambang. Persoalannya, industri tambang selama ini hanya menjadi kapling sejumlah kecil elit ekonomi-politik (rezim negara dan pasar) dengan mengabaikan kepentingan mayoritas masyarakat. Sejumlah aktivis santri pernah berseoroh bahwa andaikata 0,5 persen saja dari hasil pengelolaan tambang yang diperkirakan milyaran bahkan triyunan rupiah,itu, diperuntukkan untuk warga nahdliyin ataupun umat Islam di Jember, pasti dampak perkembang dan kemajuannya sangat luar biasa. Biar kecipratan (mendapat bagian dari hasil produksi), mau tidak mau kaum santri harus terlibat dalam gerakan. Kalau hanya berharap budi baik dan mengandalkan bantuan dari pemerintah kabupaten, hasilnya tidak seberapa. Maksimal, bantuan dirupakan dalam bentuk dana sosial untuk organisasi keagamaan, pesantren, masjid, guru ngaji dan sejensinya, yang jumlahnya tidak cukup signifikan.
3. Gerakan Sosial Baru dan Demokratisasi
Tidak dalam semua hal, kaum santri bersama elemen-elemen masyarakat sipil di Jember dapat bergumul dan bersatu padu untuk terlibat di dalamnya. Kekecualian, dalam kasus tambang di Paseban –dan juga tambang emas di Silo— elemen-elemen masyarakat sipil bertemu, menjalin aliansi sosial (kendatipun bersifat longgar dan tidak permanen ataupun berjangka panjang), dan membangun kohesivitas untuk sama-sama terlibat dalam gerakan sosial menolak kebijakan rezim pemerintah yang dinilai berwatak neo-kapitalistik. Dalam kasus ini pula, elemen masyarakat santri seolah mampu menunjukkan identitas dan jati dirinya sebagai organisasi civil society yang mandiri, otonom, dan independen dalam berhadap-hadapan dengan kekuasaan negara.
151
Tidak sebatas mampu mengimbangi kekuatan intervensif negara, elemen civil society juga memiliki kemampuan dan kapasitas politik untuk memperjuangkan agendanya dan memaksa negara untuk mengubah kebijakannya soal pengelolaan sumberdaya alam yang selama ini dilakukan secara tidak demokratis.
Hanya saja, kohesivitas dan kapasitas civil society yang melibatkan kekuatan kaum santri tersebut, tidak berlangusng pasca keberhasilan kekuatan sipil tersebut dalam menggagalkan rencana penambangan pasir besi di Paseban. Kenyataannya, pasca gerakan protes, elemen-elemen civil society kembali terpolarisasi dan terfragmentasi ke dalam berbagai kelompok dengan orientasi dan tujuan perjuangannya yang tidak seragam. Dalam berbagai kasus yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti reformsi birokrasi dan penegakan korupsi, elemen-elemen
civil society sulit untuk menjalin kesatupaduan dan kohesivitasnya dalam
memperjuangkan berbagai agenda reformasi.
Jadi, sekalipun kaum santri bersama elemen civil society cukup berhasil membangun kohesivitas dan kapasitasnya dalam menolak tambang, namun tidak berarti mereka memiliki kekuatan yang berimbang dalam berhadapan dengan kekuasaan negara di sepanjang kesempatan. Terfragmentasinya kembali civil society pasca tambang, menjadikan kekuatan sosial ini tidak lagi memiliki kapasitas dan independensi tinggi dalam berhadapan ataupun mempengaruhi kekuasaan negara. Sekalipun tidak selalu berhasil memaksakan kehendaknya, negara pasca Orde Baru tetap menjadi kekuatan dominan dibandingkan civil society. Mengikuti pandangan Daniel S. Lev, negara, siapa pun yang mengendalikannya, secara tidak seimbang merupakan kontestan yang lebih kuat dan tampaknya akan tetap demikian untuk jangka waktu lama. Pandangan Lev ini terbukti masih menemukan relevansinya dalam kasus relasi kekuasaan antara civil society dan pemerintah daerah (negara) di Jember.
B. Saran-saran
Kajian mengenai gerakan sosial memiliki ruang lingkup dan berkaitan dengan banyak hal yang sangat luas dan kompleks. Penelitian ini sendiri membatasi diri pada
152
aktivisme kaum santri dalam aksi-aksi protes –bersama-sama elemen masyarakat sipil lainnya dan masyarakat kelas bawah— atas rencana penambangan pasir besi di Paseban, Jember. Identifikasi aktor, motif dan jenis kepentingan aktor, dan dampak gerakan terhadap demokratisasi yang bertitik tolak dari perspektif gerakan sosial baru berbasis civil society, merupakan sejumlah segmen persoalan dan pendekatan kajian yang digunakan dalam studi ini. Banyak hal yang belum diungkap secara spesifik oleh studi ini seperti perubahan-perubahan dalam jalinan kekuatan civil society, pola relasi kekuasaan yang berlangsung di kalangan civil society dan dalam interaksinya dengan kekuasaan, peran negara dalam gerakan protes, posisi agama dalam gerakan protes (apakah sebagai simbol, sumber nilai, spirit, ideologi, ataukah teologi perlawanan atau bahkan sudah meningkat ke pembebasan), penting untuk dieksplorasi lebih lanjut.
Karena itu, disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan terkait dengan agama dan gerakan sosial dilihat dari sudut pandang dan ruang lingkup topik kajian yang lebih variatif. Kajian-kajian lanjutan diperlukan untuk bisa memberikan sumbangan baik teoritis maupun praktis. Secara teoritis, kajian-kajian ini akan dapat meningkatkan wawasan konseptual-teoritis dan paradigmatic tentang agama dan gerakan sosial di era kontemporer dan dalam konteks Indonesia pasca reformasi. Secara praktis, penelitian serupa akan dapat membantu untuk ikut memperbaiki kondisi-kondisi sosial masyarakat, terutama dalam menentukan arah perubahan sosial secara lebih demokratis.
Harus diakui bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam waktu singkat ini, sekitar 3 (tiga) bulan, masih membutuhkan pengayaan data tambahan dari lapangan. Banyak data yang masih butuh diperdalam dan diperluas serta dikonfirmasi dengan berbagai naras umber, agar lebih akurat. Oleh karena itu, pekerjaan rumah tabahan bagi peneliti adalah tidak menganggap hasil penelitiannya sudah cukup akuntabel, melainkan perlu ditindaklanjuti lagi dengan terjun ke kancah dan dengan mendialogkan hasil kajian terlebih dahulu unutk mendapatkan feed back, masukan dan kritik dari berbagai pihak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman terhadap gerakan sosial kontra tambang di Paseban.
153