BAB IV DESKRIPSI PROYEK
4.3 Fungsi Sekitar/ Eksisting
Lokasi yang akan di bangun Ekologikal Resort yaitu di Jalan K.H Agus Salim, Kecamatan Ie Meulee. Perkiraan Luasan Tapak : ± 35.000 m 2 (± 3.5 Ha). dan Batas-Batas Tapak yaitu: Utara = Lahan kosong (kontur), Timur = Laut Andaman, Selatan = Cottage, Barat = Permukiman.
Gambar 4.1 Lokasi Pantai Sumur Tiga (sumber: google maps. Pantai sumur tiga)
SITE
24 Gambar 4.2 Eksisting Pantai Sumur Tiga
(sumber: google maps. Pantai sumur tiga)
Gambar 4.3 Daerah wisata di Sabang (Sumber : Arsip Budpar Kota Sabang, 2014)
Permukiman
Site
Perkantoran Perkantoran
25 BAB V
ANALISIS DAN KONSEP PERANCANGAN
5.1 Analisis dan Konsep Sistem Kegiatan/Program Ruang
Gambar 5.1 Struktur Organisasi Palm Beach Resort Jepara (Sumber : Survey Lapangan)
Tabel 5.1 Pendekatan Aktivitas Resort
No Pelaku Aktivitas
1 Pengunjung yang tidak nginap - Datang.
- Parkir.
- Membeli tiket.
- Bersantai, makan, rekreasi - Menggunakan toilet.
- Parkir.
- Pulang.
2 Pengunjung yang nginap - Datang.
- Parkir.
- Check-in - Menginap.
26
4 Asisten manager - Mengatur dalam
penyediaan kamar.
- Mengatur kelancaran house keeping.
- Menggunakan toilet.
- Istirahat.
5 Bagian front Office - Melayani pemesanan
kamar resort.
- Melayani penanganan barang – barang tamu
resort.
- Melayani informasi resort.
- Melayani check-in dan check-out tamu resort.
- Melayani pembayaran kamar. - Menggunakan
toilet.
- Istirahat.
6 Bagian Housekeeping - Membersihkan kamar
tamu resort.
- Membersihkan ruang publik resort.
- Menyediakan linen untuk operasional resort.
27 - Melayani pemeliharaan linen. - Menggunakan toilet.
- Istirahat.
7 Bagian Food and Beverage - Melayani pemesanan makanan dan minuman.
- Menyediakan makanan dan minuman resort.
- Menggunakan toilet.
- Istirahat.
8 Bagian Engineering - Memeriksa Mechanical
Electrical Resort.
9 Bagian Accounting - Membuat laporan
pembukuan resort.
- Memeriksa pembukuan resort.
- Menggunakan toilet.
10 Bagian Human Resource departement - Mengelola dan mengatur kepegawaian resort.
- Melatih karyawan resort.
- Menggunakan toilet.
- Istirahat.
Sumber : Analisa Penulis 2021
5.2 Analisis dan Konsep Perancangan Ruang Luar/Tapak 5.2.1 Lokasi Tapak
Lokasi yang akan di bangun Ekologikal Resort yaitu di Jalan K.H Agus Salim, Kecamatan Ie Meulee. Perkiraan Luasan Tapak : ± 35.000 m 2 (± 3,5 Ha). dan
28 Batas-Batas Tapak yaitu: Utara = Lahan kosong (kontur), Timur = Laut Andaman, Selatan = Cottage, Barat = Permukiman.
Gambar 5.2 Bloklan Site (Sumber : Penulis)
5.2.2 Analisa Matahari
Gambar 5.3 Analisa Matahari (Sumber : Penulis)
29 Cahaya Matahari tidak dapat masuk secara langsung ke tapak, dikarenakan terdapat beberapa pohon dan Bangunan sekitar yang menghalangi masuknya cahaya ke tapak.
5.2.3 Analisa Kebisingan
Kebisingan pada tapak dapat memengaruhi konsep pada perancangan Resort. Kebisingan terbesar berasal dari Jalan KH Agus Salim dikarenakan jalan tersebut adalah jalan utama untuk meangakses ke tapak.
Gambar 5.4 Analisa Kebisingan (Sumber : Penulis)
5.2.4 Analisa View
Gambar 5.5 Analisa View (Sumber : Penulis)
30 Analisa view pada tapak dapat memengaruhi konsep pada perancangan Resort. View dapat memengaruhi konsep fasad Bangunan, orientasi dan juga bukaan terhadap Bangunan resort yang akan di rancang.
5.2.5 Analisa Akses
Untuk menuju ke tapak, maka jalan yang dapat diakses yaitu melalui Jalan KH Agus Salim.
Gambar 5.6 Analisa Akses (Sumber : Penulis)
5.2.6 Potensi Tapak
I. Terletak di lokasi kawasan yang cukup strategis.
II. Lokasi yang memiliki potensi wisata yang alami seperti laut dangkal sepanjang 30 meter, karang dan ikan dengan jenis yang beranekaragam.
III. Lokasi yang diperuntukan untuk Pariwisata.
IV. Lokasi dekat dengan fasilitas umum seperti jalan utama dan pusat kota.
V. Lokasi dekat dengan daerah wisata lainnya seperti Pantai Anoi Itam, Benteng Jepang, Danau Aneuk Laot dan pemandian air panas.
VI. Kondisi dan luas lahan yang cukup besar untuk mengembangkan kegiatan dan masih berupa lahan kosong yang besar.
VII. Berada di lingkungan pemukiman yang bersahabat yang ikut menjaga dan melestarikan kawasan pariwisata ini.
VIII. Pemukiman warga yang ada dikota Sabang sekarang menggunakan bahan material rumah biasa seperti batu bata, semen, keramik dan genteng.
31 5.3 Analisa dan Konsep Tata Ruang Dalam
Diagram Analisa Ruang Dalam
Gambar 5.7 Analisa Ruang Dalam (Sumber : Penulis)
5.4 Analisa dan Konsep Massa dan Perwajahan
Tatanan massa dan Perwajahan adalah perletakan massa bangunan majemuk pada suatu site,yang ditata berdasarkan zona dan tuntutan lain yang menunjang Tata letak massa bangunan ini berdasarkan zonasi, juga harus dibuat berdasarkan alur sirkulasi yang saling terkait. Massa sebagai elemen site dapat tersusun dari massa berbentuk bangunan dan vegetasi; kedua – duanya baik secara individual maupun kelompok menjadi unsur pembentuk ruang out door.
(Sumber : Kustianingrum, Dwi. 2012)
Gambar 5.8 Gubahan Massa dan Perwajahan 1 (Sumber : Penulis)
32 Gambar 5.9 Gubahan Massa dan Perwajahan 2
(Sumber : Penulis)
Gambar 5.10 Gubahan Massa dan Perwajahan 3 (Sumber : Penulis)
Bangunan Resort tersebut berbentuk multi massa dengan ada Bangunan utama di antara Bangunan villa resort. Orientasi resort menghadap ke pantai untuk mendapatkan view yang indah.
33 5.5 Analisa Sistem Struktur dan Konstruksi
5.5.1 Struktur dan Konstruksi
Jenis struktur dan konstruksi yang digunakan sesuai dengan fungsi dan kebutuhan bangunan. Jenis struktur ada 3 jenis, yaitu :
I. Struktur bangunan massif II. Struktur pelat dinding sejajar III. Struktur bangunan rangka
Gambar 5.11 Jenis Struktur
(Sumber : Frick, H. (2005). Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Kanisius)
Konstruksi lantai, konstruksi dasarnya berupa pelat beton memiliki kapasitas penyimpan panas yang tinggi sehingga dapat mempengaruhi iklim dan kenyamanan di dalam ruang. Pada konstruksi dinding, sebaiknya disertai dengan perlindungan atap sengkuap atau tanaman peneduh untuk terhindar pemanasan dari luar, selain itu dapat pula digunakan second skin atau dinding masif tebal untuk menyerap dan mereduksi panas. Pada konstruksi atap, sebaiknya berbentuk pelana sederhana (tanpa adanya jurai luar dan dalam) untuk mengalirkan air hujan dengan mudah. Selain itu pada bagian atap juga disertai dengan adanya rongga udara untuk mengeluarkan suhu panas dari dalam ruangan.
34 Gambar 5.12 Lubang Atap/ Sirkulasi Udara
(Sumber : Frick, H. (2005). Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Kanisius)
Perlindungan gedung terhadap matahari yang paling sederhana adalah dengan cara menanam pohon peneduh di sekitar gedung. Perlindungan pembukaan dinding dapat dilakukan dengan penonjolan atap atau dengan menggunakan sirip tetap yang horizontal, tegak, atau keduanya.
Gambar 5.13 Sirip Dinding
(Sumber : Frick, H. (2005). Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Kanisius)
Pembukaan dinding terhadap matahari dapat pula dilakukan dengan penggunaan loggia (serambi yang tidak menonjol, melainkan mundur ke dalam gedung) sehingga jendela tidak terkena sinar matahari secara langsung. Di sisi lain, perlindungan yang bergerak dapat berbentuk kerai, jendela krepyak, atau konstruksi lamel.
35 Gambar 5.14 Jendela Krepyak
(Sumber : Frick, H. (2005). Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Kanisius)
Fentilasi udara secara aktif dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip angin bergerak dan pengudaraan ruang (cross-ventilation). Hal ini perlu diketahui bahwa udara akan bergerak langsung melalui jalan terpendek dari lubang masuk ke lubang keluar. Penyegaran udara dalam ruang dapat pula memanfaatkan peralatan penangkap angin sederhana seperti kincir angin, cerobong angin yang bergerak, atau cerobong angin yang mati, atau bahkan dapat menggunakan menara angin yang berfungsi seperti cerobong angin skala besar yang dapat menangkap angin dari segala arah.
5.5.2 Klasifikasi Bahan Bangunan Ekologis
Klasifikasi bahan bangunan dapat dikatakan ekologis jika memenuhi syaratsyarat sebagai berikut :
I. Eksploitasi dan pembuatan (produksi) bahan bangunan menggunakan energi sesedikit mungkin.
II. Tidak mengalami perubahan bahan (transformasi) yang tidak dapat dikembalikan kepada alam.
III. Eksploitasi, pembuatan (produksi), penggunaan dan pemeliharaan bahan bangunan sesedikit mungkin mencemari lingkungan.
IV. Bahan bangunan berasal dari alam lokal (berasal dari tempat yang dekat).
Dalam proses pembangunan tidak dapat dipungkiri bahwa membutuhkan kecanggihan teknologi masa kini. Namun demikian, teknologi yang ekologis selalu mengutamakan keseimbangan antara teknologi dan lingkungan. Penyusunan sistem struktur dan konstruksi bangunan dapat dirancang dengan memperhatikan
36 masa pakai bagian-bagian bangunan sehingga bangunan dapat dibangunan kembali atau diubah setiap saat sesuai dengan kebutuhan.
Gambar 5.15 Penyusunan Struktur dan Konstruksi Bangunan Berdasarkan Masa Pakai Bahan (Sumber : Frick, H. (2005). Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Kanisius)
5.6 Analisa Sistem Utilitas
Sistem utilitas bangunan menerapkan utilitas transportasi verticalutilitas lampu / penerangan buatan, utilitas air bersih dan kotor, sistem keamanan, dan sistem penanggulangan kebakaran.
A. Sistem Air Bersih
Air bersih yang digunakan diperoleh dari PAM, system water treatment maupun sumur artesis yang ditampung dalam ground reservoir. Untuk pendistribusian air bersih ke seluruh ruangan ada dua macam alternatif, yaitu:
I. Up Feed distribution. Pada sistem ini pendistribusian air diperoleh dari air yang ditampung pada ground reservoir yang kemudian dipompa untuk didistribusikan ke seluruh ruangan.
Sistem ini baik jika diterapkan dalam bangunan bertingkat rendah dan sedang yang terletak pada tapak yang cukup luas.
II. Down feed distribution Pada sistem ini air dari ground reservoir dipompa ke atas dan ditampung pada roof reservoir untuk kemudian didistribusikan ke bawah dengan memanfaatkan gravitasi bumi. Sistem ini efektif diterapkan untuk bangunan bertingkat banyak, karena dalam sistem ini penzoningannya lebih mudah jika dilakukan dalam satu bangunan.
37 B. Sistem Air Kotor Pada jaringan air kotor, terdapat pemisahan antara grey water dan black water. Grey water merupakan air kotor yang berasal dari air hujan. Air ini akan disalurkan langsung ke sistem kepembuangan kota.
Sedangkan sistem pada black water yaitu dari WC dan dari kegiatan service.
Air dari WC akan dialirkan ke septitank untuk diendapkan. Sedangkan air dari kegiatan service akan mendapat perlakuan sama seperti air hujan, yaitu disalurkan ke sistem pembuangan kota.
C. Sistem Pemadam Kebakaran Instalasi pemadam api pada bangunan ini menggunakan peralatan pemadam api instalasi tetap. Sistem deteksi awal bahaya (Early Warning Fire Detection), yang secara otomatis memberikan alarm bahaya atau langsung mengaktifkan alat pemadam. Terbagi atas dua bagian, yaitu system otomatis dan sistem semi otomatis. Pada sistem otomatis, manusia hanya diperlukan untuk menjaga kemungkinan lain yang terjadi. Sistem deteksi awal terdiri dari:
I. Sistem Pendeteksi Sistem deteksi awal terdiri dari: o Alat deteksi asap (smoke detector) Mempunyai kepekaan yang tinggi dan akan memberikan alarm bila ada asap di ruang tempat alat tersebut dipasang. o Alat deteksi nyala api (flame detector) Dapat mendeteksi adanya nyala api yang tidak terkendali dengan cara menangkap sinar ultraviolet yang dipancarkan nyala api tersebut.
II. Sistem Perlawanan Sistem ini menggunakan alat-alat seperti:
Sprinkle, yang menyemprotkan air jika ada kenaikan suhu ruangan yang disebabkan oleh kebakaran, bekerja dengan sistem pompa otomatis dan dipasang pada jarak tertentu di dalam ruangan. Karena beberapa kelompok bangunan merupakan bangunan yang memiliki arsip maka digunakan dua macam jenis sprinkle, yaitu : dengan air (dari roof tank) dan dengan dry chemical.
Hydrant box/hose reel, yang merupakan pipa penyiram yang ditempatkan pada kotak kaca yang dipasang pada dinding dengan jangkauan pelayanannya 15-30 meter.
Hydrant pillar, yaitu alat pemadam kebakaran yang berada di luar bangunan dan dapat melayani seluas 400
38 m2. Hidran di ruang luar menggunakan katup pembuka dengan diameter 4” untuk 2 kopling, diameter 6” untuk 3 kopling dan mampu mengalirkan air 250 galon/menit atau 950 liter/menit untuk setiap kopling.
Fire Extinghuiser, berupa tabung yang berisi zat kimia, penempatan setiap 20-25 meter dengan jarak jangkauan seluas 200-250 cm
D. Jaringan Sampah
Untuk banguan Hotel Resort, biasanya karyawan kebersihan mengambil sampah dari tiap unit ruangan dan titik – titik peletakan kantung sampah untuk dimasukkan ke tempat penampungan sampah sementara, setelah itu sampah-sampah tersebut akan dialihkan ke luar tapak oleh Dinas Kebersihan Kota yang selanjutnya dibuang ke TPA. Perletakan titik Tempat Pembuangan Sampah Sementara diletakkan dekat dengan jalur servis.
E. Sistem Keamanan Bangunan
Sistem keamanan bangunan yang diterapkan terhadap bangunan dan penghuni adalah dengan penggunaan Building Management System (BMS) yaitu suatu software sistem jaringan terintegrasi dimana yang dapat digunakan untuk mengitegrasikan seluruh sistem yang ada di dalam bangunan. Adapun penerapan BMS pada bangunan ini antara lain fire alarm system, Buliding Automated System, dan CCTV.
F. Sistem Transportasi Bangunan
Sistem transportasi yang ada pada bangunan ini terdiri dari dua, yaitu sistem horizontal dan vertikal. Untuk sistem horizontal antara masa bangunan dihubungkan dengan selasar atau koridor, sedangkan untuk sistem vertikal dengan menggunakan tangga, dan ramp.
Berikut persyaratan anak tangga yang dianjurkan:
I. Lebar tangga minimal 120 cm setiap jalur II. Lebar anak tangga minimal 30 cm.
III. Tinggi anak tangga 18 cm.
IV. Terdapat bordes sebagai area istirahat setiap 10 anak tangga.
39 Untuk difable terdapat ramp sebagai sistem transportasi dalam bangunan, perancangan ramp memiliki persyaratan sebagai berikut :
I. Lebar ramp minimal 125 cm.
II. Sudut kemiringan 12 derajat
III. Ketinggian handrail minimal 80 cm.
G. Sistem Penyediaan dan Distribusi Listrik
Distribusi listrik berasal dari energy yang dihasilkan oleh panel surya dan PLN yang disalurkan ke gardu utama. Setelah melalui transformator (trafo), aliran tersebut didistribusikan ke tiap-tiap unit ruang dan fasilitas, melalui meteran yang letaknya jadi satu ruang dengan ruang panel (hal ini dimaksudkan untuk memudahkan monitoring). Untuk keadaan darurat disediakan generator set yang dilengkapi dengan automatic switch system yang secara otomatis (dalam waktu kurang dari 5 detik) akan langsung menggantikan daya listrik dari sumber utama PLN yang terputus.
H. Sistem Pencahayaan
Sistem Pencahayaan yang digunakan adalah sistem pencahayaan alami dan buatan. Sistem pencahayaan alami dilakukan dengan pemanfaatan cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan melalui lubang-lubang cahaya.
Sedangkan sistem pencahayaan buatan menggunakan system general lighting dan spotlight. General lighting digunakan untuk memberikan pencahayaan yang merata dan spotlight digunakan pada spot-spot sculpture dan pajangan-pajangan.
I. Sistem Pengkondisian Udara
Sistem pengkondisian udara menggunakan sistem pengkondisian udara alami dan buatan. Penghawaan alami dilakukan dengan memanfaatkan hawa dingin dataran tinggi tersebut dengan membuka jendela yang dilindungi kasa agar tidak termasuki nyamuk. Sedangkan pengkondisian udara buatan menggunakan tungku perapian kayu bakar karena di sekitar Wonosobo terdapat beberapa penghasil kayu.
J. Sistem Komunikasi Berdasarkan penggunaannya, system telekomunikasi dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu:
Komunikasi Internal Komunikasi yang terjadi dalam satu bangunan. Alat komunikasi ini antara lain intercom, handy talky (untuk penggunaan individual dua arah). Biasanya digunakan
40 untuk komunikasi antar pengelola atau bagian keamanan.
Untuk sistem ini menggunakan PABX (Private Automatic Branch Exchange).
Komunikasi Eksternal Komunikasi dari dan keluar bangunan.
Alat komunikasi ini dapat berupa telepon maupun faximile.
Biasanya digunakan untuk komunikasi keluar oleh pengelola.
41 BAB VI
KONSEP PERANCANGAN
6.1 Konsep Dasar
Konsep perancangan Resort di Sabang ini adalah hasil analisis pada bab sebelumnya yang kemudian disimpulkan. Kesimpulan diperoleh berdasarkan kesesuaian dengan tema Arsitektur Ekologi, kesesuaian dengan objek rancangan serta kesesuaian dengan kondisi tapak. Resort Sabang terletak di jalan KH. Agus Salim Kecamatan Ie Meulee Perkiraan Luasan Tapak : ± 35.000 m 2 (± 6,1 Ha)
Gambar 6.1 Site Perancangan Resort (Sumber : Penulis)
6.2 Konsep Sistem Kegiatan/Program Ruang Tabel 6.1 Konsep Kegiatan Program Ruang
No Pelaku Aktivitas
1 Pengunjung yang tidak nginap - Datang.
- Parkir.
2 Pengunjung yang nginap - Datang.
- Parkir.
- Check-in
SITE
42
4 Asisten manager - Mengatur dalam
penyediaan kamar.
- Mengatur kelancaran house keeping.
- Menggunakan toilet.
- Istirahat.
5 Bagian front Office - Melayani pemesanan
kamar resort.
- Melayani penanganan barang – barang tamu
resort.
- Melayani informasi resort.
- Melayani check-in dan check-out tamu resort.
- Melayani pembayaran kamar. - Menggunakan
toilet.
- Istirahat.
6 Bagian Housekeeping - Membersihkan kamar
tamu resort.
- Membersihkan ruang publik resort.
43 - Menyediakan linen untuk
operasional resort.
- Melayani pemeliharaan linen. - Menggunakan toilet.
- Istirahat.
7 Bagian Food and Beverage - Melayani pemesanan makanan dan minuman.
- Menyediakan makanan dan minuman resort.
- Menggunakan toilet.
- Istirahat.
8 Bagian Engineering - Memeriksa Mechanical
Electrical Resort.
9 Bagian Accounting - Membuat laporan
pembukuan resort.
- Memeriksa pembukuan resort.
- Menggunakan toilet.
10 Bagian Human Resource departement - Mengelola dan mengatur kepegawaian resort.
- Melatih karyawan resort.
- Menggunakan toilet.
- Istirahat.
Sumber : Analisa Penulis 2021
44 6.3 Konsep Perancangan Ruang Luar/Tapak
6.3.1 Konsep Vegetasi
Menerapan konsep vegetasi pada tapak yaitu pemilihan jenis vegetasi yang disesuaikan dengan fungsi masing-masing, maka diharapkan dapat menjadi pengontrol terhadap kebisingan, polusi, angin dan debu pada tapak selain itu juga dapat mengambarkan tema dari perancangan yaitu Arsitektur Ekologi. Dan pada akhirnya dapat mendukung penerapan konsep pada bangunan. Pohon yang digunakan yaitu pohon kelapa dan pohon ketapang kencana.
Gambar 6.2 Pohon pada Resort (Sumber: Penulis, 2021)
6.3.2 Konsep Pencapaian Tapak
Lokasi site dapat ditempuh melalui darat yaitu dengan kendaraan pribadi. Posisi main entrance di letakkan dan di arahkan pada area sirkulasi lalu lintas jalan raya, sehingga memudahkan keluar masuknya kendaraan yang akan memasuki area tapak.
Gambar 6.3 Pencapaian Tapak
45 (Sumber: Penulis, 2021)
6.3.3 Konsep Zoning
Pembagian zona menjadi tiga bagian yaitu:
I. Bagian Publik II. Bagian Private III. Bagian Service
Gambar 6.4 Konsep Zoning (Sumber: Penulis, 2021)
6.3.3 Konsep Ruang Luar
Penggunaan tanaman sebagai pagar dari site guna mengambarkan sifat dan sikap dari Arsitektur Ekologi yang menjaga alam tetap terjaga.
Penggunaan paving stone sebagai perkerasan sehingga air dapat meresap kedalam tanah, dengan demikian konsep Arsitektur Ekologi terwakili oleh mejaga kelestarian alam. Berdasarkan SNI 03-0691-1996 paving block (bata beton) adalah suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air dan agregat dengan atau tanpa bahan lainnya yang tidak mengurangi mutu bata beton
46 Gambar 6.5 Paving Block
(Sumber: SNI 03-0691-1996)
6.4 Konsep Tata Ruang Dalam Tabel 6.2 Konsep Ruang Dalam
NO NAMA FUNGSI TIPE
1 Kamar Kamar berfungsi sebagai tempat penginapan bagi para pengunjung yang telah memesan kamar untuk menikmati fasilitas yang ada diResort.
Berfungsi sebagai tempat para pengelola bangunan.
Biasa terdiri dari ruang manajer, ruang sekretaris, ruang arsip, lemari arsip
Semi Publik, Private
4 Restoran Berfungsi sebagai tempat pertemuan dalam urusan makanan bagi para pengunjung Resort. Biasa
Semi Publik
47 terdiri dari meja makan, kasir
Ruang penitipan barang, dapur, pantry basar, pantry kering, toilet, dan gudang.
5 Taman bermain
Berfungsi sebagai penjamu anak anak para pengunjung Resort.
Publik
Sumber: Penulis, 2021
6.5 Konsep Massa Dan Perwajahan
Gambar 6.6 Massa dan Perwajahan 1 (Sumber: Penulis,2021)
Gambar 6.7 Massa dan Perwajahan 2 (Sumber: Penulis,2021)
48 Gambar 6.8 Massa dan Perwajahan 2
(Sumber: Penulis,2021)
Gambar 6.9 Massa dan Perwajahan 2 (Sumber: Penulis,2021)
6.6 Konsep Struktur/Konstruksi
Struktur utama yang digunakan pada Resort ini menggunakan system struktur beton bertulang biasa sebagai struktur utama. Pemilihan system struktur ini karena kemudahan dalam pembuatan struktur serta keawetan strukturnya.
49 Penggunaan Pondasi Umpak
Pondasi umpak merupakan pondasi yang dijumpai pada rumah kayu, rumah-rumah adat, atau rumah jaman dulu
Gambar 6.10 Pondasi Umpak (Sumber: http://www.google.com)
Pada Bangunan Resort ini dinding yang digunakan adalah dinding bata ekspose yang dikombinasi dengan ornamen kayu
Gambar 6.11 Dinding (Sumber: http://www.google.com)
Sebagai penutup atap adalah genting tanah liat dan galvalum sebagai rangka atap pada bangunan Resort.
50 Gambar 6.12 Penutup Atap
(Sumber: www.Google.com)
Penggunaan kayu sebagai lantai untuk memperlihatkan atau memperkental nuansa Arsitektur Ekologi
Gambar 6.13 Lantai Kayu (Sumber : www.google.com)
51 6.7 Konsep Sistem Utilitas
A. Sistem Elektrikal
Sistem tenaga listrik pada bangunan Resort di Sabang mengandalkan sumber tenaga utama dari PLN dan sebagai cadangan adalah generator set.
Gambar 6.14 Sistem Elektrikal
Sumber : Soesilo Boedi Leksono, “Diktat Kuliah Struktur Konstruksi 4”, Yogyakarta, 2002.
B. Sistem Fire Protection
Upaya perlindungan atau pencegahan terhadap bangunan Resort di Sabang dari kebakaran, digunakan sistem penanggulangan berupa :
I. Detector (fire alarm, fire detection, smoke & heat venting) II. Alat pemadam (sprinkler, water supply, chemical extinguiser).
III. Sistem lain (hydrant pillar, unit PK) C. Jaringan Air Bersih
Air bersih yang digunakan pada Resort di Sabang ini berasal dari dua sumber yakni dari Perusahaan Air Minum ( PAM ) dan dari Deep Well. Dari kedua sumber ini, air ditampung di dalam reservoir di atas gedung dengan menggunakan pompa untuk kemudian dialirkan ke ruang-ruang yang membutuhkan air bersih dengan menggunakan gaya gravitasi. Sistem ini dikenal dengan nama sistem Down-Feed.
52 Gambar 6.15 Jaringan Air Bersih
Sumber : perkuliahan Utilitas, 2005
D. Sistem Sanitasi dan Drainase
Air kotor yang harus ditanggulangi pada kompleks gedung ini terdiri daribeberapajenis, sehingga penyelesaiannya juga harus dengan cara yang berbeda. Jenis-jenis air kotor dan penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
I. Air Bekas
Air Bekas adalah air kotor yang tidak berbahaya bagi lingkungan sehingga dapat langsung dibuang ke roil kota, sungai atau sumur resapan dengan menggunakan jaringan pipa PVC.
II. Air Limbah
Air limbah diolah dulu di septic tank baru kemudian dapat dialirkan ke roil kota, sungai atau sumur resapan.
III. Air Limbah Khusus
Air Limbah Khusus padahotels ini berasal dari restoran dan cukup berbahaya bagi lingkungan sehingga harus diolah dulu di fasilitas Sawage Treatment Plan kompleks baru dapat dialirkan ke lingkungan atau sumur resapan.
IV. Air Hujan
Air Hujan yang berada di lokasi hotel ini tidak akan dibuang begitu saja.
Sebagian dari air hujan ini akan diresapkan ke tanah melalui sumur-sumur resapan air hujan agar debit air tanah pada lokasi tetap terjaga. Jika sumur-sumur ini tidak mampu menampung lagi volume air, baru air hujan dibuang ke roil kota atau ke sungai di sekelilling site. Sistem jaringan sanitasi dan drainase ini akan dialirkan melalui shaft bangunan agar jaringan menjadi sederhana dan mudah dalam melakukan perawatan jaringan.
53 V. Konsep Penghawaan Sistempen
gudaraan pada Bangunan Resort di Sabang menggunakan pengudaraan alami hal ini sesuai dengan konsep arsitektur ekologis yang menjaga keseimbangan alam dengan memanfaatkan potensi alam. Penghawaan disiasati dengan bukaan yang optimal pada ruangan.
54 DAFTAR PUSTAKA
1. “Pantai sumur tiga”. http://disbudpar.acehprov.go.id/ 11 Maret 2015.
http://disbudpar.acehprov.go.id/pantai-sumur-tiga/
2. “Kota Sabang”. https://id.wikipedia.org/ 6 November 2020.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Sabang
3. “Peraturan Menteri Pariwisata”. 09 Agustus 2016.
https://www.kemenparekraf.go.id/post/peraturan-menteri-pariwisata-nomor-10-tahun-2016
4. CD, oleh marketing The Ubud Village Resort& Spa (2017). Bali
5. Frick, Heinz dan Mulyani, Tri Hesti. 2006. Arsitektur Ekologis. seri eko-arsitektur 2. Yogyakarta: Kanisius
6. Feriadi, Henry dan Frick, Heinz. 2008. Atap Bertanaman Ekologis dan
6. Feriadi, Henry dan Frick, Heinz. 2008. Atap Bertanaman Ekologis dan