BAB I PENDAHULUAN
2.3. Televisi sebagai Media Massa
2.3.3. Fungsi Televisi sebagai Media Massa
Televisi sebagai media komunikasi pandang – dengar pada pokoknya mempunyai tiga fungsi. Sebagai sub sistem dari negara dan pemerintah dimana suatu stasiun televisi beroperasi maka sifat informasi / penerangan, pendidikan dan hiburan yang disiarkan sudah tentu berbeda, tergantung
komunikasi.
Seperti halnya dengan media massa lainnya, televisi pada pokoknya mempunyai fungsi – fungsi sebagai berikut ( Effendy, 1990 : 28 – 32 ) yaitu 1. Fungsi penerangan Dalam menjalankan fungsinya sebagai sarana
penerangan televisi selain menyiarkan informasi dalam bentuk siaran pandangan mata atau berita, dilengkapi gambar – gambar yang sudah tentu faktual.
2. Fungsi pendidikan. Sebagai media komunikasi massa, televisi merupakan sarana yang ampuh untuk menyiarkan acara pendidikan kepada khalayak yang jumlahnya begitu banyak secara simultan. Sesuai dengan makna pendidikan, yakni meningkatkan pengetahuan dan penalaran masyarakat, stasiun televisi menyiarkan acara – acara tertentu secara teratur.
3. Fungsi hiburan. Fungsi hiburan yang melekat pada televisi tampaknya dominan. Sebagian besar dari alokasi waktu masa siaran diisi oleh acara – acara hiburan. Hal ini dapat dimengerti karena pada layar televisi dapat ditampilkan gambar hidup beserta suaranya bagaikan kenyataan dan dapat dinikmati di rumah oleh seluruh anggota keluarga. Harus dapat dimaklumi bila sebagian besar masyarakat umum bertumpu pada televisi ketika mencari hiburan. Hiburan menjadi idola utama bagi industri televisi. Disatu sisi berarti segala sesuatu yang akan dijadikan
menikmati acara hiburan.
2.3.4. Pola tayangan televisi
Secara umum pola tayangan siaran televisi di setiap negara adalah sama. Kalau pun ada perbedaan tidaklah terlalu prinsipil.
Di Indonesia, antara televisi milik pemerintah dan televisi swasta memiliki banyak kesamaan dalam materi maupun pola tayangannya. Perbedaaan yang sangat menyolok hanya terletak pada siaran iklan. Kalau pada televisi swasta pemirsa bisa menjadi jengkel karena terllu banyaknya produk iklan yang disiarkan. Ketidaksennangan sering muncul pada acara – acara yang paling disenangi pemirsa.Semakin disenangi suatu acara maka akan semakin banyak iklan yang disiarkan.
Materi siaran yang umum dapat dijumpai pada stasiun televisi adalah film, baik film asing maupun film nasional. Masing-masing televisi berlomba-lomba menayangkan film-film yang menarik dan berkualitas. Untuk memudahkan pemirsa dalam memilih acara, masing-masing stasiun televisi mempunyai film unggulan seperti mega emas layar unggulan, mega sinema dan berbagai film menarik lainnya.
Dengan demikian, untuk televisi swasta biasanya lebih banyak menyiarkan acara hiburan dari informasi / penerangan dan pendidikan. Hal ini dapat dimengerti karena bagaimanapun televisi swasta mengutamakan bisnis dari sekedar sarana sosial.
Munculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang melahirka suatu peradapan, khususnya dalam proses komunikasi dan infrmasi yang bersifat massa. Globalisasi informasi dan komunikasi dan komunikasi setiap media massa. Globalisai informasi dan komunikasi setiap media massa jelas melahirkan suatu efek sosial yang bermuatan perubahan nilai – nilai sosial dan budaya manusia.
Televisi sebagai media yang muncul belakangan dibanding media cetak dan radio, ternyata memberikan nilai yang sangat spetakuler dalam sisi – sisi pergaulan hidup manusia saat ini. Kemampua televisi dalam menarik perhatian massa menunjukkan bahwa media tersebut dalam menguasai jara secara geografis dan sosiologis.
Sementara tiga dasawarsa belakangan ini merupakan kurun waktu yang memadai bagi kita untuk menilai diri sendiri, mental, moral,prlaku, wawasan, cita – cita, dan sebagainya. Kesemuanya itu adalah dampak dari media televisi yang berhasil menampilkan realitas sosial melalui perangka elektronik cangih (kamera dan mikrofon). Pemirsa dapat menikmati gambar dan suara yang nyata atas suatu kejadian dibelahan bumi lain.
Media televisi pun pada akhirnya melahirkan istilah baru dalam pola peradapan manusia yang lebih dikenal dengan “mass culture” (kebudayaan massa). Manusia cenderung menjadi konsumen budaya massa melalui “kotak ajaib” yang menghasilkan suara dan gambar. Individu juga dihadapkan kepada realitas sosial yang tertayang di media media.
media. Padahal untuk melakukan rehumanisasi, remoralisasi dan resakralisasi diperlukan waktu yang sangat lama.
Siaran televisi saat ini dapat dilakukan dimana saja dan dapat pula dipantau dari mana saja. Terbukti pada 20 Juli 1969 melalui pesawat televisi, manusia di bumi dapat menyaksikan Neil Amstrong ( pimpinan misi Apollo XI ) pertama kali menginjakkan kaki di bulan, (JB. Wahyudi, komunikasi jurnalistik,1991).
Daya tarik televisi sedemikian besar, sehingga pola – pola kehidupan rutinitas manusia sebelum muncul telvisi, berubah total sama sekali. Media televisi menjadi panutan baru (news religius) bagi kehidupan manusia. Menonton televisi,sama saja dengan makhluk buta yang hidup dalam tempurung.
Pada akhinya, media televisi menjadi alat atau sarana mencapai tujuan hidup manusia, baik untuk kepentingan politik maupun perdagangan bahkan melakukan perbahan ideologi serta tatanan nilai budaya manusia yang suda ada sejak lama.
Tetapi walaupun demikian, media televisi juga mempunyai banyak kelebihan disamping berbagai kelemahan. Kekuatan media televisi ialah menguasai jarak da ruang teknlogi televisi telah mengunakan elektromagnetik, kabel dan fiber yang dipancarkan (transmisi) melalui satelit. Sasaran yang dicapai untuk menjangkau media, cukup besar. Nilai
disebabkan oleh kekuatan suara dan gambarnya yang bergerak (ekspresif). Satu hal yang paling berpengaruh dari daya tari televisi ialah bahwa informasi atau berita-berita yang disampaikan lebih singkat, jelas dan sistematis, sehingga pemirsa tidak perlu lagi mempelajari isi pesan dalam menangkap siaran televisi.
Ada kekuatan tentu saja ada kelemahan. Kekurangan televisi adalah karena bersifat “transitory” maka isi pesannya tidak dapat di ‘memori’ oleh pemirsa (lain halnya dengan media cetak, informasi dapat disimpan dalam bentuk klpingan koran). Media televisi terikat ole waktu dan tontonan, sedangkan media cetak dapat dibaca kapan dan dimana saja. Teleisi tidak dapat melakukan kritik sosial dan pengawasan sosial secara langsung dan vulgar seperti halnya media cetak.. Hal ini terjadi karena faktor penyebaran siaran televisi yang begitu luas kepada massa yang heterogen (status sosial ekonominya), juga karena kepentingan politik dan stabilitas keamanan negara. Pengaruh televisi lebih cenderung menyentuh aspek psikologis massa, sedangkan media cetak lebih mengandalkan efek rasionalitas.
Kelebihan dan kekurangan itu tidak menjadi persoalan, karena dalam operasionalisasinya, televisi didukung dua media lain, yaitu media cetak dan radio. Pada prinsipnya, dalam tugas “journalism” mereka, ketiga media tersebut sama-sama memberikan suatu informasi kepada masyarakat agar “well informed”.
teknologi satelit, teknologi elektronika, pengetahuan tentang penyutradaraan serta trik – trik dalam menayangkan gambar di kamera.
Selain itu televisi juga mempersiapkanmateri –materi hiburan yang lebih banyak dibandingkan media cetak, karena pada umumnya pemirsa televisi lebih tertarik menyaksikan televisi dari unsur hiburannya dibanding pemberitaan – pemberitaan analisis, hanya terbatas pada masyarakat yang mempunyai status sosial tinngi, baik dari segi materi maupun pendidikan.
Perkembangan media televisi saat ini mencapai tingkat yang paling tingi, yaitu dengan munculnya liputan-liputan investigasi yang tajam dengan menayangkan bukti-bukti peristiwa kepada pemirsa terutama kalau sistem politik negara tempat televisi itu siaran bersifat liberalisme.
Posisi dan peran media televisi dalam operasionalisasinya di masyarakat, tidak berbeda dengan cetak dan radio. Robert K. Avery dalam bukunya “Communication and The Media” dan Sanford B. Wienberg dalam “Message - A Reader In Human Communication”. Rando House, New York 1980, mengungkapkan 3 ( tiga ) fungsi media :
1. The surveilence of the environment , yaitu mengamati lingkungan. 2. The correlation of the part of society in responding to the
environment, yaitu mengadakan korelasi antara informasi yang diperoleh dengan kebutuhan khalayak sasaran, karena komunikator lebih menekankan pada seleksi evaluasi dan interpretasi.
generasi ke generasi berikutnya.
Ketiga fungsi diatas pada dasarnya memberikan satu penilaian pada media massa sebagai alat atau sarana yang secara sosiologis menjadi perantara untuk menyambung atau menyampakan nilai – nilai tertentu kepada masyarakat. Tepatlah apabila ketiga fungsi yang dinyatakan oleh Harold Laswell terseut menjai kewajiban yang perlu dilakukan oleh media massa pada umumnya.
Charles Wright menambahkan fungsi media massa. Hal ini jelas sebagai salah satu fungsi yang lebih bersifat human interest. Maksudnya agar pemirsa tidak merasa jenuh dengan berbagai isi pesan yang disajikan oleh media televisi (“overload”). Selain itu, fungsi hiburan media massa juga berdaya guna sebagai sarana pelarian (esapism) pemirsa / khalayak sasaran terhadap satu masalah.
2.5. Sinetron
2.5.1. Kualitas, kuantitas, dan objektivitas sinetron televisi.
Menjamurnya sinetron di televisi, bukan hal luar biasa. Kehadiran sinetron merupakan suatu bentuk aktualitas komunikasi dan interaksi manusia yang diolah berdasarkan alur cerita, untuk mengangkat permasalahan hidup manusia sehari – hari. Dalam membuat sinetron, kru televisi (sutradara, pengarah acara, dan produser) haarus memasukkan isi
Memang belum ada metode atau ukuran yang jelas dan pasti dalam membuat sinetron yang baik dan berkualitas serta memenuhi selera pemirsa. Semua masih relatif, tergantung masing – masing penilaian pemirsa. Tetapi para kru televisi dituntut untuk bertanggun jawab dalam membuat paket sinetron. Ini merupakan beban moral yang harus diterima.
Banyaknya sinetron yang menggambarkan sisi – sisi sosial dan moral dalam kehidupan masyarakat, tentu sangat bermanfaat bagi pemirsa dalam menentukan sikap. Pesan – pesan sinetron terkadang terungkap secara simbolis dalam alur ceritanya. Kalau isi sinetron tidak mencerminkan realitas sosial yang objektif dalam kehidupan pemirsa, maka yang tampak dalam cerita sinetron tersebut hanya gabaran semu.
Akibat fatal yang muncul apabila isi pesan sinetron berlawanan dengan kondisi sosial, yakni pemirsa tidak mendapatkan manfaat secara khusus bagi kehidupannya, menyangkut aspek hubungan dan pergaulan sosial. Sinetron-sinetron yang hanya “menjual” kemiskinan dan menonjolkan doktrin tertentu (menggurui), akan membuat pemirsa jenuh untuk menontonnya.
Tema-tema seperti diatas, dalam cerita sinetron, lebih banyak terlahir karena unsur kesengajaan dan subjekvitas para pembuat dan penggarap sinetron. Bukan lagi sebagai ekspresi lingkungan sosial sebenarnya. Untuk
1. Terdapat permasalahan sosial dalam cerita sinetron yang mewakili realitas sosial dalam masyarakat.
2. Menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam sinetron secara positif dan responsif ( ending cerita ).
Sebelum membuat sinetron, ada baiknya kru televisi mengenal dan memahami situasi serta kondisi budaya masyarakat. Jadi kesimpulannya, isi pesan sinetron televisi harus dapat mewujudkan dan mengekspresikan kenyataan sosial masyarakat, tanpa melepaskan diri dari lingkaran budaya pemirsa yang heterogen.