BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Fungsi-fungsi
Pelayanan sosial dapat dikategorikan dalam berbagai cara tergantung dari tujuan klasifikasi. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengemukakan fungsi pelayanan sosial sebagai berikut:
1. Peningkatan kondisi kehidupan masyarakat 2. Pengembangan sumber-sumber manusiawi
3. Orientasi masyarakat terhadap perubahan-perubahan sosial dan penyesuaian sosial
4. Mobilisasi dan pencipta sumber-sumber masyarakat untuk tujuan pembangunan.
5. Penyediaan dan penyelenggaraan struktur kelembagaan untuk tujuan agar pelayanan-pelayanan yang terorganisasi dapat berfungsi (Muhidin, 1992: 42).
Richard M. Titmuss dalam Muhidin (1992: 43) mengemukakan fungsi pelayanan sosial ditinjau dari persfektif masyarakat sebagai berikut:
1. Pelayanan-pelayanan atau keuntungan-keuntungan yang diciptakan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan individu, kelompok dan masyarakat untuk masa sekarang dan untuk masa yang akan datang. 2. Pelayanan-pelayanan atau keuntungan-keuntungan yang diciptakan
untuk melindungi masyarakat.
3. Pelayanan-pelayanan atau keuntungan-keuntungan yang diciptakan sebagai program kompensasi bagi orang-orang yang tidak mendapat pelayanan sosial misalnya kompensasi kecelakaan industri dan sebagainya.
4. Pelayanan-pelayanan atau keuntungan-keuntungan yang diciptakan sebagai suatu investasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial.
Alfred J. Khan dalam Muhidin (1992: 43) menyatakan fungsi utama pelayanan sosial adalah :
1. Pelayanan sosial untuk sosialisasi pengembangan
2. Pelayanan sosial untuk penyembuhan, perlindungan dan rehabilitasi 3. Pelayanan akses
Pelayanan sosial untuk sosialisasi dan pengembangan dimaksudkan untuk mengadakan perubaha-perubahan dalam diri anak dan pemuda melalui program-program pemeliharaan, pendidikan (non formal) dan pengembangan. Tujuannya yaitu untuk menanamkan nilai-nilai masyarakat dalam usaha pengembangan kepribadian anak.
Bentuk-bentuk pelayanan sosial tersebut antara lain : 1. Program Penitipan Anak
2. Program-program kegiatan remaja dan pemuda
3. Program-program pengisian waktu terluang bagi anak dan remaja dalam keluarga (Muhidin, 1992: 43).
Pelayanan sosial untuk penyembuhan, perlindungan dan rehabilitasi mempunayi tujuan untuk melaksanakan pertolongan kepada seseorang, baik secara individual maupun di dalam kelompok/keluarga dan masyarakat agar mampu mengatasi masalah-masalahnya.
Bentuk-bentuk pelayanan sosial itu antara lain : 1. bimbingan sosial bagi keluarga
2. program asuhan keluarga dan adopsi anak
3. program bimbingan bagi anak nakal dan bebas hukuman 4. program-program rehabilitasi bagi penderita cacat 5. program-program bagi lanjut usia
7. program-program bimbingan bagi anak-anak yang mengalami masalah dalam bidang pendidikan
8. program-program bimbingan bagi para pasien di Rumah Sakit Kebutuhan akan program pelayanan akses disebabkan oleh karena :
1. adanya birokrasi modern
2. perbedaan tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap hal-hal dan kewajiban/tanggung jawabnya
3. diskriminasi
4. jarak geografi antara lembaga-lembaga pelayanan dari orang-orang yang memerlukan pelayanan sosial (Muhidin, 1992: 44).
Dengan adanya berbagai kesenjangan tersebut, maka pelayanan sosial disini mempunyai fungsi sebagai “akses” untuk menciptakan hubungan bimbingan yang sehat antara berbagai program, sehingga program-program tersebut dapat berfungsi dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkannya. Pelayanan akses bukanlah semata-mata memberikan informasi, tetapi juga termasuk menghubungkan seseorang dengan sumber-sumber yang diperlukan dengan melaksanakan program-program referral.
Fungsi tambahan dari pelayanan sosial ialah menciptakan partisipasi anggota masyarakat untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Tujuannya dapat berupa terapi individual dan sosial (untuk memberikan kepercayaan pada diri individu dan masyarakat) dan untuk mengatasi hambatan-hambatan sosial dalam pembagian politis, yaitu untuk mendistribusikan sumber-sumber dan kekuasaan.
Partisipasi mungkin merupakan konsekuensi dari bagaimana program itu diorganisir, dilaksanakan dan disusun. Partisipasi kadang-kadang merupakan alat, kadang-kadang merupakan tujuan. Ada yang memandang bahwa partisipasi dan pelayanan merupakan dua fungsi yang selalu konflik, karenanya harus dipilih salah satu. Karena itu harus dipilih partisipasi sebagai tanggung jawab masyarakat dan pelayanan sebagai tanggung jawab program. Pada umumnya suatu program sulit untuk meningkatkan kedua-duanya sekaligus.
2.5.1. Peranan Pekerja Sosial dalam Penanganan Pembinaan Waria
Menurut Walter A Friedlander dalam Muhidin (1992: hal 7), Pekerjaan Sosial adalah suatu pelayanan professional yang dilaksanakan pada ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam relasi kemanusiaan yang bertujuan untuk membantu, baik secara perseorangan maupun di dalam kelompok untuk mencapai kepuasan dan etidaktergantungan secara pribadi dan sosial.
Pekerjaan sosial berusaha untuk membantu individu, kelompok dan asyarakat mencapai tingkat kesejahteraan sosial, mental dan psikis yang setinggi-tingginya. Permasalahan dalam bidang pekerjaan sosial erat kaitannya dengan masalah fungsi sosial, yaitu kemampuan seseorang untuk menjalankan peranannya sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Oleh karena itu, usaha-usaha untuk memberikan pelayanan sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung, juga diarahkan untuk membantu individu, kelompok ataupun masyarakat dalam menjalankan fungsi sosialnya.
Menurut pandangan Zastrow, setidaknya ada beberapa peran yang biasa dilakukan oleh pekerja sosial, yaitu:
1. Enabler
Sebagai enabler seorang pekerja sosial membantu masyarakat agar dapat mengartikulasikan kebutuhan mereka, mengidentifikasikan masalah mereka dan mengembangkan kapasitas mereka agar dapat menangani masalah yang mereka hadapi secara lebih efektif.
2. Broker
Peranan sebagai broker yaitu berperan dalam menghubungkan individu ataupun kelompok dalam masyarakat yang membutuhkan bantuan ataupun layanan masyarakat (community services) tetapi tidak tahu dimana dan bagaimana mendapatkan bantuan tersebut. Broker dapat juga dikatakan menjalankan peran sebagai mediator yang menghubungkan pihak yang satu dengan pemilik sumber daya.
3. Educator
Dalam menjalankan peran sebagai educator (pendidik), pekerja sosial diharapkan mempunyai keterampilan sebagai pembicara dan pendidik. Pekerja sosial harus mampu berbicara di depan publik untuk menyampaikan informasi mengenai beberapa hal tertentu, sesuai dengan bidang yang ditanganinya.
Dalam pelayanan sosial anak, umumnya peran pekerja sosial adalah sebagai enabler dimana mereka membantu anak agar dapat mengidentifikasikan masalah mereka dan mengembangkan kapasitas mereka agar dapat menangani masalah secara
efektif, disamping itu juga sebagai educator (pendidik) yang diharapkan membantu anak dalam hal pendidikannya (Adi, 1994: 26-28).
2.6 Definisi Konsep dan Operasional